
SELAMAT MEMBACA
Indah POV
Hari masih pagi, waktu
belum menunjukkan pukul delapan pagi. Kami berada di ruangan kamar kami. Posisi
kami berdua, berada di tepi tempat tidur, dengan aku yang duduk di pangkuannya.
Bibir dan lidah kami saling bertautan seolah melepaskan dahaga yang tak
terpuaskan. Suara decakan bibir dan lidah kami menghiasi kamar kecil kami
bersahutan dengan suara nafas yang berhembus.
Deru nafasku semakin
memburu karena kerja jantungku yang semakin cepat. Mataku terpejam menikmati
bibir dan lidah Kenan yang semakin dalam mengeksplor mulutku. Ciuman itu
terhenti. Kenan menatapku dengan tatapan tajam dan gelap, seolah aku ini
mangsanya. Sedikit aku bergidik tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi.
Perlahan bibir tebal
suamiku mengecup rahangku, turun ke arah leher dengan hati-hati, membelai dan mengginggit. Aku rasa ia meninggalkan beberapa jejak kemerahan
di sana. Rasa ini bercampur antara geli, nikmat, dan nyeri mengalirkan aliran
listrik yang menyentak-nyentak ke dalam tubuhku. Tubuhku memanas dan aku merasa
gemetar menahan rasa baru yang aku alami.
Jari-jari Kenan
membelai punggungku, lalu masuk ke dalam kausku sehingga kulitnya langsung
bersentuhan dengan kulitku. Sentuhan itu membuat bulu kudukku
meremang.
Sentuhan bibir Kenan
turun ke arah tulang selangkaku. Pelan-pelan ia menarik kausku ke atas dan
meloloskannya dari tubuhku. Kini bagian atas tubuhku hanya ditutupi penutup
dada berwarna pink. Tangannya mulai menelusuri perutku yang polos. Untunglah
perutku rata sehingga tidak perlu malu memperlihatkannya kepada Kenan. Kembali
rasa geli dan nikmat menyelubungiku, membangkitkan sesuatu yang tersembunyi di bawah yang
mulai berkedut-kedut.
Kenan menghentikan
sejenak, melihat lekat kepadaku. “Boleh sayang?” Tanyanya sebelum bertindak
lebih jauh.
Aku mengangguk dengan
mantap, “I’m yours. Do it whatever you want.”
Ia membuka
penutup tubuh atasku yang terakhir sehingga tubuh atasku polos menghadapnya. Ia tersenyum miring menatap asetku. Sontak aku
merasa malu dan menarik kedua tanganku untuk menutupinya. Ia menangkap kedua
tanganku sebelum tanganku menutupi aset terpenting milikku.
__ADS_1
“Nggak usah ditutup. You look beautiful, Babe.” Ucapannya sungguh
membuatku malu. Ini adalah pengalaman pertama aku menampilkan tubuh atasku di hadapan seorang
pria. Wajahku terasa panas.
“Malu, Bi.” Aku
menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
Ia menangkup ujung daguku
dengan kedua jarinya dan mengangkat wajahku sehingga menatap matanya. “You are so beautiful, Babe. I love you.”
Bibir tebalnya yang merah muda kembali membungkam bibirku.
Kenan berhenti sejenak, membuat sedikit jarak di antara kami. Jarinya bergerak mengambil helaian rambutku dan menyelipkannya ke telingaku.
Aku mendekat ke tubuhnya. Tanganku memeluk
lehernya, kemudian tanpa sadar, jari-jari nakal ini melolosi kaus dari tubuh
Kenan. Sehinga kini aku melihat tubuh topless milik Kenan. Dada bidangnya dan perut sixpacknya terpampang jelas di
hadapanku, sangat dekat. Aku tergoda untuk menyentuhnya.
Perlahan jari-jariku
menelusuri dadanya turun ke perutnya. Kurasakan kenyal dan keras. Lalu aku
membuat pola pola lingkaran dengan jemariku. Kenan memenjamkan mata dan loloslah sebuah erangan dari mulut Kenan.
Aku seperti
membangunkan macan tidur. Tiba-tiba saja Kenan bergerak menghentakkanku memutar tubuhku
sehingga kini aku terbaring di bawahnya. Kini tubuhku terbaring tak berdaya.
Tulang-tulangku terasa seperti jelly, tak bisa bergerak. Kedua tangan Kenan menopang tubuhnya
“I can’t stop it, Babe.” Ucapnya dengan suara berat dan serak.
“Just do it, Bi. I want you.” Aku mengatakannya dengan suara lirih, hampir
tak terdengar karena sulit untuk mengatur nafasku saat ini.
Kenan mulai membelai
kembali leherku, turun menuju ke dada dan perutku. Ia memainkan bibir, lidah dan jemarinya bersamaan. Astaga, ini rasanya nikmat sekali.
Punggungku seketika melengkung ke atas membuat Kenan lebih mudah untuk
menyentuh bagian yang lain. Aku tak sanggup lagi menahan rasa yang
bergejolak di dalam tubuhku. Tanganku meremas rambutnya, dan mulutku
mengeluarkan suara-suara erangan. Bersamaan dengan gemuruh di dadaku yang
semakin menguat. Oh God, sangat nikmat.
Tubuhku mulai
berkeringat, begitu pula dengan tubuh Kenan yang mulai tampak semakin
mengkilat. Kilatan pada kulit Kenan membuatnya terlihat semakin seksi.
“Jangan ditahan,
sayang. Bersuaralah dan nikmatilah.” Ucapnya lembut. Aku kembali mengeluarkan
suara dari mulutku. Sementara tanganku masih mencengkeram punggung
polosnya.
Mataku terpenjam,
__ADS_1
semakin menikmati permainan Kenan tubuhku. Sesuatu di dalam intiku semakin
berkedut dan linu.
Tangan Kenan mulai
bergerak turun semakin ke bawah. Ia menarik penutup tubuh bawahku. Jemari Kenan beraksi menelusuri
pinggulku, menuju ke bawah.
Punggungku tiba-tiba
menegang. Otot-otot bagian bawahku juga mengencang. Perasaan takut muncul dan
membuat keringatku mulai bercucuran. Aku merasa gugup dan tak sanggup
meneruskannya.
Kenan yang semula ingin
meneruskan, tiba-tiba berhenti karena melihat perubahan mendadak yang terjadi.
“Sayang, ada apa? Wajahmu
pucat. Tubuhmu menegang. Kamu berkeringat.” Kenan menghentikan aktivitasnya. Ia
menatap lekat ke arah wajahku. “Sayang, kamu pucat sekali.”
Aku mengeleng dengan
kuat. Setetes air mata meluncur di ujung mataku. “Aku tidak bisa meneruskannya,
Kenan.” Kini aku terisak-isak, menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Hei... it’s okay. Nggak apa-apa sayang.”
Dengan lembut, Kenan
menarik selimut dan menutupi tubuh polosku. Ia membaringkan dirinya di samping
tubuhku. Kemudian tangannya terlulur dan memelukku dengan erat.
“Maafkan aku. Maafkan
aku, Bi.” Kataku lagi di sela isakan. Aku tak berani menatapnya. Aku takut
melihat kekecewaan terpampang di wajahnya.
“Enggak apa-apa sayang.”
Kenan mengecupi wajahku, kening, mata, hidung, dan pipiku.
Ah, ada apa dengan tubuhku? Kenapa tiba-tiba tubuhku menolak? Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak dapat mengontrol reaksi tubuhku.
Tahu bagaimana
perasaanku? Ah, aku mengecewakan Kenan. Aku telah membuatnya kecewa. Aku tak
pantas untuknya. Sedihkah Kenan?
“Apa ada cara lain?”
Tanyaku lagi. Aku tahu, Kenan sedang berada di puncak hasratnya. Tidak adil
rasanya jika membiarkannya. Mungkin ada cara lain untuk memuaskannya. Mungkin ada yang bisa kulakukan untuk menuntaskan hasratnya.
“Cara lain seperti apa?
Sudahlah sayang. Lain kali kita melakukannya lagi. Mungkin kamu belum siap.”
Kenan menatapku dengan tatapan yang menyiratkan kesabaran. Justru itu membuatku
semakin terisak dan merasa bersalah.
***
__ADS_1
Duh, ngetik beginian bikin panas dingin. Versi aslinya lebih detil, tapi tidak diperbolehkan pihak MT. Disensor, beib. Moga-moga kali ini lolos ya.