THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
45. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Indah POV


Hari masih pagi, waktu


belum menunjukkan pukul delapan pagi. Kami berada di ruangan kamar kami. Posisi


kami berdua, berada di tepi tempat tidur, dengan aku yang duduk di pangkuannya.


Bibir dan lidah kami saling bertautan seolah melepaskan dahaga yang tak


terpuaskan. Suara decakan bibir dan lidah kami menghiasi kamar kecil kami


bersahutan dengan suara nafas yang berhembus.


Deru nafasku semakin


memburu karena kerja jantungku yang semakin cepat. Mataku terpejam menikmati


bibir dan lidah Kenan yang semakin dalam mengeksplor mulutku. Ciuman itu


terhenti. Kenan menatapku dengan tatapan tajam dan gelap, seolah aku ini


mangsanya. Sedikit aku bergidik tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi.


Perlahan bibir tebal


suamiku mengecup rahangku, turun ke arah leher dengan hati-hati, membelai dan mengginggit. Aku rasa ia meninggalkan beberapa jejak kemerahan


di sana. Rasa ini bercampur antara geli, nikmat, dan nyeri mengalirkan aliran


listrik yang menyentak-nyentak ke dalam tubuhku. Tubuhku memanas dan aku merasa


gemetar menahan rasa baru yang aku alami.


Jari-jari Kenan


membelai punggungku, lalu masuk ke dalam kausku sehingga kulitnya langsung


bersentuhan dengan kulitku. Sentuhan itu membuat bulu kudukku


meremang.


Sentuhan bibir Kenan


turun ke arah tulang selangkaku. Pelan-pelan ia menarik kausku ke atas dan


meloloskannya dari tubuhku. Kini bagian atas tubuhku hanya ditutupi penutup


dada berwarna pink. Tangannya mulai menelusuri perutku yang polos. Untunglah


perutku rata sehingga tidak perlu malu memperlihatkannya kepada Kenan. Kembali


rasa geli dan nikmat menyelubungiku, membangkitkan sesuatu yang tersembunyi di bawah yang


mulai berkedut-kedut.


Kenan menghentikan


sejenak, melihat lekat kepadaku. “Boleh sayang?” Tanyanya sebelum bertindak


lebih jauh.


Aku mengangguk dengan


mantap, “I’m yours. Do it whatever you want.”


Ia membuka


penutup tubuh atasku yang terakhir sehingga tubuh atasku polos menghadapnya. Ia tersenyum miring menatap asetku. Sontak aku


merasa malu dan menarik kedua tanganku untuk menutupinya. Ia menangkap kedua


tanganku sebelum tanganku menutupi aset terpenting milikku.

__ADS_1


“Nggak usah ditutup. You look beautiful, Babe.” Ucapannya sungguh


membuatku malu. Ini adalah pengalaman pertama aku menampilkan tubuh atasku di hadapan seorang


pria. Wajahku terasa panas.


“Malu, Bi.” Aku


menundukkan kepala sedalam-dalamnya.


Ia menangkup ujung daguku


dengan kedua jarinya dan mengangkat wajahku sehingga menatap matanya. “You are so beautiful, Babe. I love you.”


Bibir tebalnya yang merah muda kembali membungkam bibirku.


Kenan berhenti sejenak, membuat sedikit jarak di antara kami. Jarinya bergerak mengambil helaian rambutku dan menyelipkannya ke telingaku.


Aku mendekat ke tubuhnya. Tanganku memeluk


lehernya, kemudian tanpa sadar, jari-jari nakal ini melolosi kaus dari tubuh


Kenan. Sehinga kini aku melihat tubuh topless milik Kenan. Dada bidangnya dan perut sixpacknya terpampang jelas di


hadapanku, sangat dekat. Aku tergoda untuk menyentuhnya.


Perlahan jari-jariku


menelusuri dadanya turun ke perutnya. Kurasakan kenyal dan keras. Lalu aku


membuat pola pola lingkaran dengan jemariku. Kenan memenjamkan mata dan loloslah sebuah erangan dari mulut Kenan.


Aku seperti


membangunkan macan tidur. Tiba-tiba saja Kenan bergerak menghentakkanku memutar tubuhku


sehingga kini aku terbaring di bawahnya. Kini tubuhku terbaring tak berdaya.


Tulang-tulangku terasa seperti jelly, tak bisa bergerak. Kedua tangan Kenan menopang tubuhnya


“I can’t stop it, Babe.” Ucapnya dengan suara berat dan serak.


“Just do it, Bi. I want you.”  Aku mengatakannya dengan suara lirih, hampir


tak terdengar karena sulit untuk mengatur nafasku saat ini.


Kenan mulai membelai


kembali leherku, turun menuju ke dada dan perutku. Ia memainkan bibir, lidah dan jemarinya bersamaan. Astaga, ini rasanya nikmat sekali.


Punggungku seketika melengkung ke atas membuat Kenan lebih mudah untuk


menyentuh bagian yang lain. Aku tak sanggup lagi menahan rasa yang


bergejolak di dalam tubuhku. Tanganku meremas rambutnya, dan mulutku


mengeluarkan suara-suara erangan.  Bersamaan dengan gemuruh di dadaku yang


semakin menguat. Oh God, sangat nikmat.


Tubuhku mulai


berkeringat, begitu pula dengan tubuh Kenan yang mulai tampak semakin


mengkilat. Kilatan pada kulit Kenan membuatnya terlihat semakin seksi.


“Jangan ditahan,


sayang. Bersuaralah dan nikmatilah.” Ucapnya lembut. Aku kembali mengeluarkan


suara dari mulutku. Sementara tanganku masih mencengkeram punggung


polosnya.


Mataku terpenjam,

__ADS_1


semakin menikmati permainan Kenan tubuhku. Sesuatu di dalam intiku semakin


berkedut dan linu.


Tangan Kenan mulai


bergerak turun semakin ke bawah. Ia menarik penutup tubuh bawahku. Jemari Kenan beraksi menelusuri


pinggulku, menuju ke bawah.


Punggungku tiba-tiba


menegang. Otot-otot bagian bawahku juga mengencang. Perasaan takut muncul dan


membuat keringatku mulai bercucuran. Aku merasa gugup dan tak sanggup


meneruskannya.


Kenan yang semula ingin


meneruskan, tiba-tiba berhenti karena melihat perubahan mendadak yang terjadi.


“Sayang, ada apa? Wajahmu


pucat. Tubuhmu menegang. Kamu berkeringat.” Kenan menghentikan aktivitasnya. Ia


menatap lekat ke arah wajahku. “Sayang, kamu pucat sekali.”


Aku mengeleng dengan


kuat. Setetes air mata meluncur di ujung mataku. “Aku tidak bisa meneruskannya,


Kenan.” Kini aku terisak-isak, menutup wajahku dengan kedua tanganku.


“Hei... it’s okay. Nggak apa-apa sayang.”


Dengan lembut, Kenan


menarik selimut dan menutupi tubuh polosku. Ia membaringkan dirinya di samping


tubuhku. Kemudian tangannya terlulur dan memelukku dengan erat.


“Maafkan aku. Maafkan


aku, Bi.” Kataku lagi di sela isakan. Aku tak berani menatapnya. Aku takut


melihat kekecewaan terpampang di wajahnya.


“Enggak apa-apa sayang.”


Kenan mengecupi wajahku, kening, mata, hidung, dan pipiku.


Ah, ada apa dengan tubuhku? Kenapa tiba-tiba tubuhku menolak? Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak dapat mengontrol reaksi tubuhku.


Tahu bagaimana


perasaanku? Ah, aku mengecewakan Kenan. Aku telah membuatnya kecewa. Aku tak


pantas untuknya. Sedihkah Kenan?


“Apa ada cara lain?”


Tanyaku lagi. Aku tahu, Kenan sedang berada di puncak hasratnya. Tidak adil


rasanya jika membiarkannya. Mungkin ada cara lain untuk memuaskannya. Mungkin ada yang bisa kulakukan untuk menuntaskan hasratnya.


“Cara lain seperti apa?


Sudahlah sayang. Lain kali kita melakukannya lagi. Mungkin kamu belum siap.”


Kenan menatapku dengan tatapan yang menyiratkan kesabaran. Justru itu membuatku


semakin terisak dan merasa bersalah.


***

__ADS_1


Duh, ngetik beginian bikin panas dingin. Versi aslinya lebih detil, tapi tidak diperbolehkan pihak MT. Disensor, beib. Moga-moga kali ini lolos ya.


__ADS_2