
Cerita ini dimulai dari awal semester ganjil di sebuah universitas negeri, tempat Indah berkuliah. Indah, sosok mahasiswa cantik tingkat empat Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pangan dan Pertanian (PHPP) Fakultas Teknologi Pertanian di salah satu universitas negeri. Ia menjadi populer ketika setahun yang lalu mulai berpacaran dengan Bennedict Neil, pria paling populer seangkatannya di jurusan dan fakultas yang sama. Pria tajir nan populer itu berkencan dengan Indah sejak tingkat tiga perkuliahan. Keadaan itu membuat keduanya bak amplop dan perangko yang selalu menempel ke mana pun.
Indah mempunyai tiga orang sahabat yang satu angkatan Luthvia Nara (dipanggi Upil) , Tricia Ambar (dipanggil Tengklik), dan Arif Rahmat (satu-satunya lelaki dalam sekawanan). Di antara mereka berempat, Indah sering
dipanggil dengan sebutan Inem. Mereka berempat satu fakultas dan juga satu jurusan. Maka tidak heran jika mereka terlihat sebagai empat sekawan yang selalu terlihat bersama sejak semester satu. Persahabatan mereka dimulai sejak masa Ospek sampai dengan sekarang, memasuki semester tujuh atau tingkat empat. Itu semua karena keempatnya bertempat tinggal saling bedekatan. Bahkan Indah dan Luthvia tinggal dalam satu kost.
Empat sekawan itu sedang makan siang di salah satu kantin yang berada di Fakultas Sastra. Kantin Fakultas
Sastra sangat terkenal, sehingga langganannya berasal dari berbagai fakultas. Bahkan bukan hanya mahasiswa saja, dosen, dan pembeli umum juga ada di sana. Suasananya selalu seperti ini jika menginjak waktu makan siang. Sangat ramai, tetapi tidak antri dan terlihat menyenangkan. Kantin ini berada di salah satu sudut fakultas, berada di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau oleh kendaraan. Kursi dan meja untuk makan diletakkan di sekeliling pepohonan yang ada di sana. Walaupun siang hari, namun tetap terasa sejuk karena angin sepoi-sepoi
yang bertiup dari sela-sela pepohonan.
“Yah, ternyata nggak ada satu pun dari kita yang KKN di tempat yang sama.” Kata Upil memulai pembicaraan setelah empat es ge pe ce (sego pecel) terhidang di depan mereka berempat.
“Nggak papa Pil...hitung-hitung dapet teman baru. Nggak bosen apa kamu lihat wajah-wajah ini terus?” Tengklik menjawab santai.
“Dua bulan, bayangkan. Dua bulan nggak ketemu kalian bertiga itu rasanya...kek makan nasi tanpa lauk dan sayur. Hambar, bikin lemas.” Indah berbicara dengan mulut penuh. Membuat mulutnya yang mungil itu belepotan bumbu pecel.
“Ih, jorok banget deh. Nggak hilang kebiasaan buruk kamu.” Kata Arif dengan mengusap mulut Indah dengan selembar tissue dari dalam kantung kemejanya. Arif ini tipe cowok yang suka bersih-bersih. Apapun dibersihkan termasuk wajah temannya. Gayanya yang jauh dari kata cool membuat tiga wanita itu merasa nyaman bersahabat dengan manusia setipe Arif.
“Itulah Rif. Gunanya dekat-dekat kamu. Wajahku jadi bersih seperti sedia kala. Bayangkan kalau dua bulan nanti nggak ada kamu. Sekotor apa wajahku coba. Hehehe....” Indah terkekeh geli.
“Satu lagi In. Kamar kost kita juga bakalan kek kapal pecah karena si tukang komen nggak nongol. Hahaha....” Upil menimpali perkataan Indah. Selama ini, Arif memang selalu cerewet mengomentari kamar kost ketiga sahabatnya itu. Komentarnya keluar jika dirasa kamar itu berantakan atau tidak wangi. Arif sangat memperhatikan segala
sesuatu yang berkaitan dengan kebersihan.
“Nggak kerasa, dua hari lagi kita berangkat. Aku merasa penasaran dengan teman-teman baruku nanti. Kemarin kami sempat ketemuan. Memilih ketua, sekretaris, bendahara, juga pembagian tugas. Sepertinya mereka menyenangkan. Empat cewek dan lima cowok.” Indah bercerita dengan tatapan berbinar. Sekali lagi dengan mulut penuh yang meninggalkan bekas bumbu pecel di sekitar mulut. Tetapi kali ini Arif cuek, tidak membersihkan sisa bumbu pecel itu karena ia kini sibuk dengan ponselnya.
“Aku juga sudah bertemu dan berkenalan dengan calon teman-teman satu kelompok. Kebetulan ada Dean yang
satu fakultas dengan kita.” Kata Tengklik.
“Kamu bagaimana Pil? Sepertinya nggak niat mau cerita.” Upil yang biasanya selalu bercerita terlebih dahulu, kini memilih untuk mendengarkan cerita teman-temannya.
“Ada yang surprise di kelompokku.” Tambah Upil lagi.
“Apaan?” Tanya Indah dengan penasaran.
“Kasih tahu nggak ya?” Kata Upil lagi dengan nada menggoda.
“Ye...biar teman-temannya penasaran ya?” Tengklik menyahut.
“Inem, sepertinya kamu harus kasih aku bonus sebagai pengawas deh.” Kata Upil mengarahkan pandangannya
lurus ke arah Indah. Kali ini ia berusaha memberikan sinar tatapan penasaran.
__ADS_1
“Apalagi itu Pil?” Indah masih cuek dengan perkataan Upil.
“Aku sekelompok sama zheyenknya kamu, Inem.... Ayo, kasih aku honor sebagai pengawas. Hahaha....”
“Apa? Kamu sekelompok dengan Bennedict?” Tanya Indah setengah melotot.
“Iya,” Ucap Upil.
“Kamu Pil, harus selalu monitor itu si playboy cap kampak itu. Kamu Inem, jangan mau diselingkuhin lagi. Sebentar-sebentar luluh, hanya gara-gara dikasih es krim seember. Kayak nggak ada cowok lain aja deh.” Arif menimpali ketika ia telah selesai berurusan dengan ponselnya. Ia menatap Indah sahabatnya dengan pandangan prihatin.
“Kan ada kamu, Rif. Yang selalu setia memberikan bahu untuk aku sandari.” Kata Indah dengan manja. Kemudian ia menempelkan kepalanya di bahu Arif dan pasang wajah pura-pura sedih.
“Cih...dasar. Kamu itu, cantik-cantik kok oon. Mau-maunya disakiti terus sama cowok model begitu.” Arif agak emosi melihat sahabatnya ini yang tidak pernah berpikir logis, menurutnya. Cintanya Indah kepada Ben
mengalahkan logika berpikirnya, tidak realistis.
“Ih, lebay deh kamu, Rif. Belum ngerasain aja yah. Gimana rasanya jatuh cinta. Coba deh....”Kata Indah dengan cuek.
“Nggaklah...gak bakalan bucin kayak kamu.” Arif menggoyangkan bahunya agar Indah tidak menyenderkan
kepala pada bahunya lagi.
“Hiii...hati-hati lho kalau ngomong. Nanti kemakan omongan sendiri.” Kata Indah dengan jengkel.
“Nggak mungkin, Inem.” Kata Arif dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Indah.
***
“Sayang, nanti selesai dari perpustakaan pulang sama aku aja ya. Kamu nggak berduaan dengan Omer kan?”
Tanya Ben kepada Indah yang duduk di bangku taman. Omer adalah sebutan untuk motor kesayangan Indah (motor m*o merah). Tangannnya membelai rambut Indah yang tergerai sebahu.
“Katanya kamu sibuk?” Kata Indah dengan bergelayut manja di lengan Ben.
“Enggaklah sayang. Aku mau menghabiskan waktu denganmu sepanjang hari ini. Besok kita berangkat KKN. Lama banget sayang. Aku tidak sanggup membayangkannya.”
“Ah, kamu lebay, Beb. Kita ada jadwal pulangnya kan? Bisa janjian.”
“Iya, tapi tempat aku dan kamu KKN itu jauh banget...antara utara dan selatan. Kalaupun ketemu, bakalan sebentar banget. Iya kan?” Wajah manis Ben dibuat memelas.
“Iya juga sih. Ya sudah, nanti aku minta Upil aja yang bawa Omer pulang.”
“Ok sayang. Kita ketemu lagi ya nanti, jam tiga. Aku ada janji dengan dosen pembimbingku dulu.”
__ADS_1
“Iya, Beb. Aku juga ke perpustakaan dulu. Bye...bye...Beibie.” kata Indah. Sebelum pergi, Ben mengecup puncak kepala Indah dengan mesra.
“Duh, kampus ini nggak ada tempat lain apa? Kayak koala aja. Nempel terus sama si Beben. Kok bisa sih, cantik-cantik gitu mau pacaran sama muka buaya darat ? Nggelendot terus. Panas mataku lihat mereka mesra-mesra begitu.” Tino Bastian bergumam. Bukan bergumam juga kalau dua orang di sampingnya mendengar. Kedua orang itu melihat ke arah Tino dengan heran. Kemudian mereka berdua melihat ke arah tatapan Tino yang sewot melihat sepasang manusia sedang memadu kasih di taman, depan perpustakaan.
“Kamu lihatin siapa sih Tin? Oh, mbak Indah. Ya ampun. Plis deh. Muka pas pasan kayak kamu jangan baper
lihat orang pacaran. Lagian siapa elu?” Adi Karya yang duduk di sebelah kirinya berkomentar.
Sementara Kenan Restu Smith yang duduk di sebelah kanannya hanya mengendus.
“Kamu jatuh cinta sama mbak Indah? Sadar, dia udah punya cowok.”Kata Adi menepuk-nepuk pundak temannya.
“Prinsipku, sebelum janur kuning melengkung, aku nggak akan menyerah deh.”
“Haha...mikir dong... mikir. Mbak Indah memangnya lihat kamu? Kamu itu hanya adik kelas yang suka nguntit dia kali. Mikir, sebelum kamu lebih dalam jatuh cintanya.” Jelas Adi lagi. Ia prihatin dengan sahabatnya yang punya kepercayaan diri luar biasa. Mungkin Tino membayangkan dirinya bak Zac Efron di film High School Musical dan merasa paling populer di kampusnya. Walaupun wajahnya lebih mirip ke arah Ringgo Agus. Jauh sih, kalau
dibandingkan dengan Zac Efron, iya nggak?
***
Kenan POV :
Kulihat Indah bergelayut manja di taman depan perpustakaan. Kalau dilihat-lihat, ia semakin cantik dibandingkan beberapa minggu yang lalu ketika kami berpapasan di koridor kampus. Ia terlihat sangat mencintai pacarnya. Yang aku dengar, mereka telah berpacaran sekitar satu tahun. Kalau dilihat-lihat, mereka merupakan pasangan yang serasi.
Tapi aku kasihan kepada Indah. Tampaknya ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dengan kelakuan pacarnya yang playboy. Bahkan kami yang terhitung masih mahasiswa baru, pernah mendapatinya merayu teman-teman perempuan seangkatan kami. Terang-terangan bahkan, tidak sembunyi-sembunyi. Wajahnya yang tampan itu menjadi modalnya untuk merayu wanita. Bisa-bisanya Indah bertahan dengan pria seperti itu sampai setahun. Dikasih apa si Indah bisa bertekuk lutut begitu.
Temanku ini, Tino Bastian agaknya kepincut banget dengan Indah. Setiap tindak tanduk Indah selalu dikomentari oleh Tino. Ia juga selalu tahu jadwal kegiatan Indah. Jangan jangan ia jadi stalker ya? Seperti hari ini, Tino tahu
bahwa hari ini jadwalnya Indah menemui dosen pembimbing. Dari mana dia tahu ya?
Kulihat Indah pergi meninggalkan pacarnya. Ia menuju ke ruang dosen. Mungkin mau bimbingan. Dia sudah masuk tingkat akhir masa kuliah. Tentu saja harus cepet-cepat mengajukan proposal penelitian sebelum KKN sehingga bisa melanjutkan penelitian setelah pulang dari KKN. Begitu kalau yang aku dengar dari curhatnya ke mbak Adel. Sejak kuliah ini hanya dua kali mereka bertemu di rumah, yaitu waktu mbak Adel pulang liburan. Indah pasti datang ke rumah kalau mbak Adel pulang. Kalau mereka ngobrol di kamar, tidak kenal waktu. Terkadang sampai pagi. Aku heran, apa saja yang mereka bicarakan sehingga bahan pembicaraan itu tidak ada habisnya. Kadang suara tertawanya juga sampai ke kamarku. Papi dan mami juga sayang sekali dengan Indah. Sepertinya anak papi
dan mami ada empat, bukan tiga. Mungkin karena sikap riang dan ramah dari Indah yang membuat ia mudah disukai banyak orang. Termasuk salah satu temanku ini, yang bucin banget sama Indah.
Sepeninggal Indah, Ben terlihat meninggalkan taman. Dan ternyata dia menuju sudut tempat parkir, di mana sudah berdiri seorang wanita berperawakan agak bule, tinggi, rambut keriting agak pirang, berkulit pucat. Ah, terserah
deh...urusan orang lain. Sebaiknya aku bersiap diri untuk mengikuti kuliah selanjutnya.
“Ayo, Bro...kita ke ruang 202. Jangan lupa. Jadwal kuliah kita hari ini padat.” Kataku menepuk bahu kedua temanku.
“Ayo.” Kata Adi dengan semangat. Ia segera bangkit dan mengikutiku menuju ruang kuliah 202.
Sementara Tino tidak ikut bersama kami, katanya mau ke kamar mandi terlebih dahulu. Pasti mau stalking Indah atau Ben. Kepo banget jadi orang. Nah, benar kan. Dia melangkah tidak menuju kamar mandi, tetapi ke arah sudut
parkir, tempat Ben bertemu dengan gadis bule itu. Dasar tuh anak. Belum aja ketahuan. Kapok kalau ketahuan.
__ADS_1
***