THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
14. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺


Kenan POV


Tadi pagi, ketika aku


hendak menuju ruang kelasku, aku melihatnya terisak-isak, memeluk Arif,


temannya. Sekarang aku melihatnya lagi di kantin. Ia makan sembari bergelayut


manja dengan lelaki yang sama. Sayup-sayup aku mendengar percakapan mereka,


sepertinya Indah sudah putus dengan pacarnya. Kemudian aku dengar juga bahwa


dosen pembimbingnya diganti dengan dosen muda yang menaruh hati kepadanya.


Mereka tidak menyadari kehadiranku yang hanya berselisih beberapa meter dari


tempat duduk mereka. Pada saat mereka berdua berbicara agaknya mereka tidak


menyadari kehadiranku di kantin.


Aku melihat Indah


sebagai sosok yang manja, gampang mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya.


Bahkan ia terlihat sangat nyaman menempel kepada lelaki itu. Heran ya, sebegitu


nyamannya nemplok sana nemplok sini. Padahal Arif kan laki-laki. Senang banget


pastinya tuh cowok ditempel terus sama Indah.


“Hei bro... udah nggak


ada kuliah hari ini?” Adi datang menepuk bahuku. Kemudian dia duduk di


sampingku. Kantin semakin sepi karena jam makan siang telah lewat.


“Ada kuliah nanti jam


2.” Kataku.


“Kemana Tino? Nggak


kelihatan seharian ini.” Adi menyesap kopi hitamnya yang baru saja diantarkan


oleh pelayan kantin.


Aku mengendikkan kedua


bahuku.


“Ken, kamu mau pindah


kost ya? Tino kemarin cerita.”


“Iya. Mau pindah ke


tempat yang lebih besar.”


“Ye... aku ikutan dong.


Kita satu kost aja. Biar enak kalo main.”


“Enggaklah. Aku mau


tinggal sama istri.”


“Halah... ngaco. Pacar


aja nggak punya, sok punya istri. Jangan-jangan kamu mau pindah karena takut


dengan terornya Bella ya?”


Aku tidak menjawab, kupasang


wajah cemberut menanggapi pertanyaannya, malas membahas tentang mak lampir yang


satu itu.


“Dih, ditanya malah


pasang tampang bete. Bener kan? Eh, lihat tuh. Yang diomongin dateng. Panjang


umur dia.” Adi memandang jauh ke arah pintu.


“Siapa juga yang


ngomongin, Di.” Jawabku dengan ketus.


Aku melihat ke arah


pandangan Adi. Benar, Bella datang dengan gaya berjalan ala model di catwalk.


Ia seperti biasanya ditemani dua dayang – dayangnya yang tak kalah hebohnya,


bejalan lenggak-lenggok.


“Aku cabut dulu deh.

__ADS_1


Mau ke perpust.” Kataku berpamitan kepada Adi.


“Ye... takut dia. Takut


diteror.” Adi terkekeh melihatku yang berjingkat segera pergi dari kantin. Aku


sengaja memilih jalan melalui pintu sebelah Selatan sehingga tidak bertemu


dengan Bella.


“Hai Adi. Mana Kenan?”


Sayup-sayup masih kudengar suara centilnya menyapa Adi, menanyakan keberdaanku.


Semoga saja Adi tidak memberitahukan keberadaanku. Tapi aku percaya dengan


sahabatku yang satu ini, bisa diandalkan.  Aku segera menjauhkan diri dari kantin.


Badanku tiba-tiba merasa gatal-gatal. Mungkin aku sedikit alergi mendengar


suaranya.


***


Indah POV


Barang-barang yang


tidak terlalu aku perlukan sudah aku packing ke dalam beberapa kardus. Hanya


tinggal beberapa barang lagi yang masih sering aku pergunakan dalam beberapa


minggu lagi. Sebentar lagi aku akan pindah kost. Pindah untuk tinggal dengan


suamiku. Suamiku yang brondong. Aku terkekeh sendiri membayangkan Kenan.


Rasanya sangat tidak mungkin, adik dari sahabatku itu akan menjadi suamiku.


Aku bahkan tidak akrab


dengannya. Aku sendiri heran, kenapa Kenan dengan santainya menerima perjodohan


ini. Apakah ada maksud terselubungnya? Tapi rasanya tidak mungkin. Kenan adalah


lelaki yang serius dan kurasa dia bukan lelaki yang nakal. Lalu apa tujuannya


mau meneruskan rencana pernikahan ini? Semoga saja dia baik, bisa menerimaku.


Tok tok tok...


Pintu kamarku diketuk


dari luar.


Upil memanggilku.


“Masuk Pil, nggak


dikunci.”


Upil membuka pintu dan


menghampiriku ang sedang duduk di kursi belajarku.


“Ya ampun, sudah


beberes semua. Jadi kamu mau pindah?”


“Iya.” Kataku.


“Kenapa sih In? Kamu


takut diteror Ben? Kalau takut, nggak perlu pindah juga kali. Aku bisa jagain


kamu. Aku yang akan menerima setiap tamu kamu. Aku kan sedih kalau kamu jadi


pindah In.” Upil menatapku dengan pandangan minta dikasihani.


“Ah, apaan sih. Jangan


melow gitu juga kali. Aku tetap akan pindah. Ini bukan karena Ben.”


“Pindahnya ke mana In?”


“Nanti kalau sudah


pindahan, aku ajak kamu ke sana deh. Nginep di sana.”


“Bener ya In?”


Aku mengangguk pasti.


Walaupun dalam hati aku masih bingung menjelaskan tentang pernikahanku nanti.


Ah, tapi biarlah, toh nanti juga akan ada saatnya.


“Kenapa sih mau


pindah?”

__ADS_1


“Mau ngirit, pindah ke


rumah suami aja. Kan aku sudah yatim piatu, nggak ada orang tua yang ngasih aku


biaya lagi.” Kataku sekenanya.


“Ha??” Upil menutup


mulutnya dengan kedua tangannya. Tanda bahwa dia tidak percaya. Aku jadi ingat,


kelakuannya ini persis seperti adiknya. Kalau ada sesuatu yang membuatnya


kaget, pasti kedua tangannya menutup mulut. Tino juga berlaku seperti itu.


“Baru juga putus


pacaran, mana mungkin ada suami? Aku tahu deh, kamu pasti lagi halu.


Jangan-jangan kamu belum minum obat, ya In? Jadi otakmu kurang setetes.” Ia


terkekeh geli menggodaku.


Aku pun tertawa


mendengar banyolannya. Tuh kan, mana ada yang percaya kalau aku akan menikah.


Apalagi kalau tahu calon suamiku itu brondong, sahabatnya Tino. Jadi tidak


perlu menjelaskannya lagi kan. Biar saja mereka mau berpikir apa.


“In... Inem....” Sebuah


suara yang sangat kami kenali memanggilku. Aku dan Upil menengok ke arah sumber


suara itu. Kulihat Arif telh berdiri di samping sepeda motornya dan menghadap


ke arah kamarku. Setelah meletakkan helmnya di atas motor, ia menghampiri kami.


“Kamu mau ke mana In?


Kenapa barang-barangmu dipack begini? Kamu mau pindahan?” Tanyanya memeriksa


kardus-kardus yang aku tumpuk di sudut ruangan.


“Iya.” Jawabku singkat.


“Ada apa pindahan?


Bukannya kamu betah di kost ini?” Ia memandangku menyelidik, kemudian


pandangannya mengarah kepada Upil, menuntut jawaban. Upil mengendikkan kedua


bahunya.


“Mau nyari laki


katanya. Yang bisa menjamin hidupnya. Secara dia kan udah yatim piatu.” Kata


Upil dengan asal.


“Ih, nggak gitu kali


Pil.” Aku mendorong kepalanya dengan ujung telunjukku. Aku tidak setuju dengan


pilihan kata-katanya. Maskudku tadi kan bukan seperti itu.


“Haa??” Kini Arif yang


terlihat terkaget-kaget dengan ucapan Upil. Ia pun merosot terduduk di lantai


kamar kost ku. “Beneran ngerasa desperate gitu ya In?” katanya lagi.


“Ih, apaan sih. Kalian


lebay. Aku hanya mau pindah. Cari suasana baru. Kalau aku sudah pindahan,


kalian aku ajak ke sana. Supaya kalian mengerti alasan kepindahanku.” Kataku.


Mau menerangkan bahwa aku akan pindah ke rumah suamiku, pasti mereka tidak akan


percaya. Lebih baik suatu saat mereka melihat sendiri bukan? Jadi aku tidak


usah bersusah payah untuk menjelaskannya lagi.


“Kamu pakai teka teki


segala sih In. Nggak bisa apa dijelaskan sekarang?” Tanya Arif lagi.


“Kalau aku jelaskan


sekarang, pasti kalian tidak akan percaya. Lain waktu aja. Kalian akan lihat


buktinya, realitanya, jadi aku tidak usah menjelaskan.” Kataku lagi.


Akhirnya kedua


sahabatku bungkam dan tidak bertanya lagi. Kini mereka turut membantuku menyusun


barang-barangku ke dalam kardus yang lain.

__ADS_1


***


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2