
🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺
Kenan POV
Tadi pagi, ketika aku
hendak menuju ruang kelasku, aku melihatnya terisak-isak, memeluk Arif,
temannya. Sekarang aku melihatnya lagi di kantin. Ia makan sembari bergelayut
manja dengan lelaki yang sama. Sayup-sayup aku mendengar percakapan mereka,
sepertinya Indah sudah putus dengan pacarnya. Kemudian aku dengar juga bahwa
dosen pembimbingnya diganti dengan dosen muda yang menaruh hati kepadanya.
Mereka tidak menyadari kehadiranku yang hanya berselisih beberapa meter dari
tempat duduk mereka. Pada saat mereka berdua berbicara agaknya mereka tidak
menyadari kehadiranku di kantin.
Aku melihat Indah
sebagai sosok yang manja, gampang mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya.
Bahkan ia terlihat sangat nyaman menempel kepada lelaki itu. Heran ya, sebegitu
nyamannya nemplok sana nemplok sini. Padahal Arif kan laki-laki. Senang banget
pastinya tuh cowok ditempel terus sama Indah.
“Hei bro... udah nggak
ada kuliah hari ini?” Adi datang menepuk bahuku. Kemudian dia duduk di
sampingku. Kantin semakin sepi karena jam makan siang telah lewat.
“Ada kuliah nanti jam
2.” Kataku.
“Kemana Tino? Nggak
kelihatan seharian ini.” Adi menyesap kopi hitamnya yang baru saja diantarkan
oleh pelayan kantin.
Aku mengendikkan kedua
bahuku.
“Ken, kamu mau pindah
kost ya? Tino kemarin cerita.”
“Iya. Mau pindah ke
tempat yang lebih besar.”
“Ye... aku ikutan dong.
Kita satu kost aja. Biar enak kalo main.”
“Enggaklah. Aku mau
tinggal sama istri.”
“Halah... ngaco. Pacar
aja nggak punya, sok punya istri. Jangan-jangan kamu mau pindah karena takut
dengan terornya Bella ya?”
Aku tidak menjawab, kupasang
wajah cemberut menanggapi pertanyaannya, malas membahas tentang mak lampir yang
satu itu.
“Dih, ditanya malah
pasang tampang bete. Bener kan? Eh, lihat tuh. Yang diomongin dateng. Panjang
umur dia.” Adi memandang jauh ke arah pintu.
“Siapa juga yang
ngomongin, Di.” Jawabku dengan ketus.
Aku melihat ke arah
pandangan Adi. Benar, Bella datang dengan gaya berjalan ala model di catwalk.
Ia seperti biasanya ditemani dua dayang – dayangnya yang tak kalah hebohnya,
bejalan lenggak-lenggok.
“Aku cabut dulu deh.
__ADS_1
Mau ke perpust.” Kataku berpamitan kepada Adi.
“Ye... takut dia. Takut
diteror.” Adi terkekeh melihatku yang berjingkat segera pergi dari kantin. Aku
sengaja memilih jalan melalui pintu sebelah Selatan sehingga tidak bertemu
dengan Bella.
“Hai Adi. Mana Kenan?”
Sayup-sayup masih kudengar suara centilnya menyapa Adi, menanyakan keberdaanku.
Semoga saja Adi tidak memberitahukan keberadaanku. Tapi aku percaya dengan
sahabatku yang satu ini, bisa diandalkan. Aku segera menjauhkan diri dari kantin.
Badanku tiba-tiba merasa gatal-gatal. Mungkin aku sedikit alergi mendengar
suaranya.
***
Indah POV
Barang-barang yang
tidak terlalu aku perlukan sudah aku packing ke dalam beberapa kardus. Hanya
tinggal beberapa barang lagi yang masih sering aku pergunakan dalam beberapa
minggu lagi. Sebentar lagi aku akan pindah kost. Pindah untuk tinggal dengan
suamiku. Suamiku yang brondong. Aku terkekeh sendiri membayangkan Kenan.
Rasanya sangat tidak mungkin, adik dari sahabatku itu akan menjadi suamiku.
Aku bahkan tidak akrab
dengannya. Aku sendiri heran, kenapa Kenan dengan santainya menerima perjodohan
ini. Apakah ada maksud terselubungnya? Tapi rasanya tidak mungkin. Kenan adalah
lelaki yang serius dan kurasa dia bukan lelaki yang nakal. Lalu apa tujuannya
mau meneruskan rencana pernikahan ini? Semoga saja dia baik, bisa menerimaku.
Tok tok tok...
Pintu kamarku diketuk
dari luar.
Upil memanggilku.
“Masuk Pil, nggak
dikunci.”
Upil membuka pintu dan
menghampiriku ang sedang duduk di kursi belajarku.
“Ya ampun, sudah
beberes semua. Jadi kamu mau pindah?”
“Iya.” Kataku.
“Kenapa sih In? Kamu
takut diteror Ben? Kalau takut, nggak perlu pindah juga kali. Aku bisa jagain
kamu. Aku yang akan menerima setiap tamu kamu. Aku kan sedih kalau kamu jadi
pindah In.” Upil menatapku dengan pandangan minta dikasihani.
“Ah, apaan sih. Jangan
melow gitu juga kali. Aku tetap akan pindah. Ini bukan karena Ben.”
“Pindahnya ke mana In?”
“Nanti kalau sudah
pindahan, aku ajak kamu ke sana deh. Nginep di sana.”
“Bener ya In?”
Aku mengangguk pasti.
Walaupun dalam hati aku masih bingung menjelaskan tentang pernikahanku nanti.
Ah, tapi biarlah, toh nanti juga akan ada saatnya.
“Kenapa sih mau
pindah?”
__ADS_1
“Mau ngirit, pindah ke
rumah suami aja. Kan aku sudah yatim piatu, nggak ada orang tua yang ngasih aku
biaya lagi.” Kataku sekenanya.
“Ha??” Upil menutup
mulutnya dengan kedua tangannya. Tanda bahwa dia tidak percaya. Aku jadi ingat,
kelakuannya ini persis seperti adiknya. Kalau ada sesuatu yang membuatnya
kaget, pasti kedua tangannya menutup mulut. Tino juga berlaku seperti itu.
“Baru juga putus
pacaran, mana mungkin ada suami? Aku tahu deh, kamu pasti lagi halu.
Jangan-jangan kamu belum minum obat, ya In? Jadi otakmu kurang setetes.” Ia
terkekeh geli menggodaku.
Aku pun tertawa
mendengar banyolannya. Tuh kan, mana ada yang percaya kalau aku akan menikah.
Apalagi kalau tahu calon suamiku itu brondong, sahabatnya Tino. Jadi tidak
perlu menjelaskannya lagi kan. Biar saja mereka mau berpikir apa.
“In... Inem....” Sebuah
suara yang sangat kami kenali memanggilku. Aku dan Upil menengok ke arah sumber
suara itu. Kulihat Arif telh berdiri di samping sepeda motornya dan menghadap
ke arah kamarku. Setelah meletakkan helmnya di atas motor, ia menghampiri kami.
“Kamu mau ke mana In?
Kenapa barang-barangmu dipack begini? Kamu mau pindahan?” Tanyanya memeriksa
kardus-kardus yang aku tumpuk di sudut ruangan.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Ada apa pindahan?
Bukannya kamu betah di kost ini?” Ia memandangku menyelidik, kemudian
pandangannya mengarah kepada Upil, menuntut jawaban. Upil mengendikkan kedua
bahunya.
“Mau nyari laki
katanya. Yang bisa menjamin hidupnya. Secara dia kan udah yatim piatu.” Kata
Upil dengan asal.
“Ih, nggak gitu kali
Pil.” Aku mendorong kepalanya dengan ujung telunjukku. Aku tidak setuju dengan
pilihan kata-katanya. Maskudku tadi kan bukan seperti itu.
“Haa??” Kini Arif yang
terlihat terkaget-kaget dengan ucapan Upil. Ia pun merosot terduduk di lantai
kamar kost ku. “Beneran ngerasa desperate gitu ya In?” katanya lagi.
“Ih, apaan sih. Kalian
lebay. Aku hanya mau pindah. Cari suasana baru. Kalau aku sudah pindahan,
kalian aku ajak ke sana. Supaya kalian mengerti alasan kepindahanku.” Kataku.
Mau menerangkan bahwa aku akan pindah ke rumah suamiku, pasti mereka tidak akan
percaya. Lebih baik suatu saat mereka melihat sendiri bukan? Jadi aku tidak
usah bersusah payah untuk menjelaskannya lagi.
“Kamu pakai teka teki
segala sih In. Nggak bisa apa dijelaskan sekarang?” Tanya Arif lagi.
“Kalau aku jelaskan
sekarang, pasti kalian tidak akan percaya. Lain waktu aja. Kalian akan lihat
buktinya, realitanya, jadi aku tidak usah menjelaskan.” Kataku lagi.
Akhirnya kedua
sahabatku bungkam dan tidak bertanya lagi. Kini mereka turut membantuku menyusun
barang-barangku ke dalam kardus yang lain.
__ADS_1
***
🌺🌺🌺🌺🌺