THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
17. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Di dalam kamar Kenan dan


Indah, di Perumahan Sawit Sari ....


“In, barang-barangmu


sudah semua dipindahkan? Segini doang?”


“Iyalah. Segini doang.


Memangnya kamu? Bawa barang seabreg-abreg. Menuh-menuhin rumah aja. Tuh, lihat


kamar penuh dengan barang-barangmu. Bisa nggak digeser ke mana gitu. ”


“Iya, gampang. Nanti


aku beresin.”


Indah dan Kenan


menempati rumah baru mereka. Rumah baru yang dibelikan oleh papi dan maminya


Kenan. Mereka berdua mengambil barang-barang yang ada di kost lama dan


memindahkannya ke rumah baru.


“Ken, papi mami beli


rumahnya gede banget.”


“Iya. Katanya nanti


kalau ada anak-anak sudah nggak bingung lagi.” Kenan berbicara dengan wajah


datar. Namun ketika menyadarinya, ia pura-pura tidak melihat Indah. Ia beranjak


berdiri membereskan buku-buku kuliah untuk disusun di lemari.


Ups.... Kenan


keceplosan. Kenapa mulutnya kelepasan bicara tentang anak-anak? Mereka menikah


baru beberapa hari. Apalagi keduanya belum begitu akrab. Bagaimana bisa dirinya


tiba-tiba membicarakan tentang hadirnya anak di tengah-tengah mereka.


Indah POV


Apaan sih Kenan. Baru juga pindahan, sudah ngomongin anak. Aku dan dia


aja nggak pernah ngobrol akrab, kencan, atau apalah. Memangnya anak bisa nongol


sendiri gitu?Dasar anak kecil menyebalkan.


***


Indah menyapu


pandangannya ke seluruh sudut kamar tidurnya. Kini kamar tidur yang tidak terlalu


besar itu sudah tampak rapi. Perjanjiannya, ia tidur di sebelah Timur sedangkan


Kenan tidur di sisi Barat. Kamar mereka menghadap ke arah Selatan. Letaknya di


lantai dua. Jendela kaca yang besar membatasi kamar dengan area luar rumah


sehingga cahaya matahari dapat bebas masuk ke dalam ruangan.


Merasa pekerjaannya


telah selesai, Indah merebahkan tubuhnya yang penat di atas kasur. Sudah sejak


tadi Kenan meninggalkannya seorang diri di dalam kamar karena tidak banyak yang


dibereskan suaminya itu di dalam kamar. Barang-barang Kenan yang berada di luar


kamar, yang harus dirapikan sangatlah banyak. Oleh sebab itu Kenan


membereskannya bersama dengan Bik Janet dan pak Idrus. Bik Janet adalah salah


satu asisten rumah tangga yang telah lama bekerja pada kelaurga Kenan. Karena


Kenan dan Indah mempunyai rumah baru, maka Bik Janet diminta untuk membantu di


rumah Kenan. Bik Janet mempunyai nama asli Janah. Tapi teman-temannya


memanggilnya dengan sebutan Janed, atau Janah Edan. Jadilah ia terbiasa


dipanggil dengan Janet. Sedangkan pak Idrus adalah sopir yang mengantarkan


mereka berdua ke rumah baru. Jarak antara rumah orang tua Kenan dan rumah baru


sekitar empat jam. Maka mereka bertiga diantar oleh pak sopir. Esok hari pak


Idrus akan kembali ke kediaman orang tua Kenan.


Hari telah sore, Kenan


dibantu Bik Janet dan Pak Idris telah selesai membereskan barang-barang di


dalam rumah. Kemudian Bik Janet mempersiapkan makanan untuk dimakan pada malam


hari nanti. Pak Idris keluar untuk menyirami tanaman di halaman kecil yang

__ADS_1


terletak di depan rumah.


Kenan menaiki tangga


menuju ke lantai atas, hendak ke kamarnya. Sesampainya di kamar yang pintunya


terbuka itu, ia mendapati istrinya sedang tertidur. Wajahnya lelah, namun masih


terlihat cantik dan menarik.


“In, bangun. Ini sudah


sore. Mandi dulu.” Kenan menggoyang-goyangkan kaki Indah dengan perlahan. Indah


hanya sedikit menggeliat dan tidak ada tanda-tanda untuk bangun.


Kenan POV


Indah, untung saja orang tua kamu mempercayakan kamu kepadaku sebelum


mereka pergi. Memilikimu sebagai istriku di umur yang masih muda ini adalah


keajaiban. Aku merasa seperti kejatuhan durian runtuh, ketiban rejeki nomplok.


Tanpa usaha keras, aku sudah memiliki wanita cantik seperti kamu. Kini waktunya


untuk bekerja keras membuat kamu jatuh cinta kepadaku.


***


Kenan beranjak ke kamar


mandi dan membersihkan diri sejenak. Tak membutuhkan waktu lama, ia telah


menyegarkan tubuhnya. Ketika keluar, ia masih mendapati Indah yang meringkuk di


atas tempat tidur.


Kenan duduk di tepi


tempat tidur. Ia melihat Indah yang tergeletak di atas kasur. Ia mengamati


istrinya itu dari dekat. Rambut lurusnya yang sebahu, berwarna hitam legam.


Sebagian rambut menutupi wajahnya. Ia merapikan rambut Indah agar dapat menatap


wajah cantik istrinya dengan lebih jelas. Alis yang tersusun rapi bak iringan


semut, bulu mata panjang nan lentik, hidung mancung, dan bibir merah muda yang menggoda.


“Hei..... bangun.....


bangun....” Kali ini Kenan mengguncang-guncangkan bahu Indah dengan lebih kuat.


“Hoah.....” Indah mengerjap-ngerjapkan


yang dipakaipun tertarik sehingga sebagian perut Indah terekspos menampilkan


perut rata dan pusarnya. Kenan menelan ludahnya melihat pemandangan itu.


“In, bangun. Ini sudah


jam empat sore. Aku mau keluar. Mau ikut nggak?”


“Sebentar lagi Ken,


lima menit lagi ya.” Indah kembali meringkuk.


“Hei, mau ikut nggak.


Kalau nggak mau ikut, aku pergi sendiri saja.”


“Eh, ikut. Aku mau


ikut. Sebentar.” Indah segera bangkit dan berjalan menuju lemari. Dengan


tergesa-gesa dicarinya baju ganti dan handuk. Ia melirik ke arah Ken yang telah


rapi. “Jangan tinggalin ya. Aku ikut.”


“Ya. Jangan lama-lama.


Aku tunggu di bawah. Aku  mau ke


supermaket, menyetok kebutuhan mingguan kita.” Kenan berlalu pergi dari


pandangan Indah.


Indah POV


Kita? Kebutuhan kita? Uh, aku risih  mendengar bocah kecil ini.Berbicara tentang


‘kita’ dengan wajah datarnya, tanpa ekspresi. Walaupun kami sudah menjadi suami


istri, bagiku ini seperti mimpi.


Kenan POV


Aku naik ke kamarku yang berada di lantai dua. Aku berencana ingin


membeli beberapa kebutuhan dan juga untuk di rumah kami. Ingin kuajak Indah


agar kami lebih akrab. Seminggu ini tidak banyak percakapan yang kami lakukan.


Kami harus lebih saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang, bukan?

__ADS_1


Kudapati istri cantikku tertidur pulas. Kugoyangkan  kakinya untuk  membangunkannya. Ia tidak juga terbangun. Lalu kugoncangkan bahunya. Aku


masih belum berani memegang bagian tubuh yang lain, walaupun dia istriku. Aku


akan melakukannya jika ia sudah dapat menerimaku sebagai suaminya, bukan


sebagai anak kecil. Ia menggeliat. Tanpa disadarinya, ia membuat sebagian


perutnya terbuka. Aku melihat perutnya yang rata sampai batas ke pusarnya. Ia


tampak seksi dan menarik. Apa kupeluk saja tubuh seksi itu?Ia terbangun dan


mengusap kedua matanya, melihatku tanpa ekspresi. Katanya dia ingin ikut.


Baiklah, lebih baik aku segera bersiap-siap di bawah. Menghindarkanku dari


pikiran ingin menyentuhnya.


***


Indah turun dari menuju


ke dapur. Ia melihat Bik Janet sedang mempersiapkan masakan. Ia menghangatkan


makanan yang tadi dibawa. Mami Helena telah mempersiapkan bekal bagi pasangan


muda itu. Hal itu tentunya memudahkan mereka. Bik Janet tidak perlu lagi susah


memasak, tinggal menghangatkannya saja. Mengingat tadi mereka berempat telah


cukup lelah membereskan rumah.


“Bik Janet, lagi masak


apa?”


“Ini Non, ngangetin


sayur yang dibawain Bu Helen tadi.”


“Kok mata Bibik agak


merah, sakit mata ya?”


“Eh, enggak Non. Tadi


Bibik streaming nonton drakor yang sedih. Jadi Bibik nangis.”


“Ya ampun Bik.... aku


kirain Bibik sakit mata.”


Indah menepuk pundak


Bik Janet sembari tersenyum geli. Ada-ada saja kelakuan asisten rumah tangganya


itu. Bik Janet adalah seorang janda berumur sekitar 35 tahun. Suaminya telah


meninggal karena sakit. Ia telah bekerja di keluarga Smith sejak berumur 25


tahun. Kini ia bekerja untuk keluarga Kenan dan Indah.


“Bik, kami pergi dulu


yah, mau belanja. Bibik mau nitip apa?” Tanya Indah.


“Itu Non, semuanya


sudah dicatat sama Den Kenan.” Bik Janet menunjuk ke arah Kenan dengan kedua bola


matanya yang mengarah ke sana. Kenan yang sedang duduk memainkan ponsel melihat


ke arah Bik Janet dan menganggukkan kepala.


“Oh, ya sudah. Kami


pergi dulu ya Bik.”


“Nggak diantar pak


Idrus Non?”


“Enggak Bik. Pak Idrus


lagi istirahat. Dia kecapekan. Besok mau berkendara jauh lagi.”


“Oh, iya, berdua ajalah


ya Non... sekalian pacaran.” Bik Janet menggoda majikannya itu.


“Ish...si Bibik mah,


ada-ada aja.”


“Hati-hati ya, Den


Kenan dan Non Indah.”


“Ya Bik.” Indah segera


berlalu dan mengikuti langkah Kenan menuju garasi mobil. Mereka berdua menuju


mobil H*onda C*V yang terparkir di garasi. Beruntung mobil yang dibawa Pak


Idrus terparkir di pinggir jalan sehingga Kenan dapat segera mengeluarkan

__ADS_1


mobilnya dari dalam garasi.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2