
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Di dalam kamar Kenan dan
Indah, di Perumahan Sawit Sari ....
“In, barang-barangmu
sudah semua dipindahkan? Segini doang?”
“Iyalah. Segini doang.
Memangnya kamu? Bawa barang seabreg-abreg. Menuh-menuhin rumah aja. Tuh, lihat
kamar penuh dengan barang-barangmu. Bisa nggak digeser ke mana gitu. ”
“Iya, gampang. Nanti
aku beresin.”
Indah dan Kenan
menempati rumah baru mereka. Rumah baru yang dibelikan oleh papi dan maminya
Kenan. Mereka berdua mengambil barang-barang yang ada di kost lama dan
memindahkannya ke rumah baru.
“Ken, papi mami beli
rumahnya gede banget.”
“Iya. Katanya nanti
kalau ada anak-anak sudah nggak bingung lagi.” Kenan berbicara dengan wajah
datar. Namun ketika menyadarinya, ia pura-pura tidak melihat Indah. Ia beranjak
berdiri membereskan buku-buku kuliah untuk disusun di lemari.
Ups.... Kenan
keceplosan. Kenapa mulutnya kelepasan bicara tentang anak-anak? Mereka menikah
baru beberapa hari. Apalagi keduanya belum begitu akrab. Bagaimana bisa dirinya
tiba-tiba membicarakan tentang hadirnya anak di tengah-tengah mereka.
Indah POV
Apaan sih Kenan. Baru juga pindahan, sudah ngomongin anak. Aku dan dia
aja nggak pernah ngobrol akrab, kencan, atau apalah. Memangnya anak bisa nongol
sendiri gitu?Dasar anak kecil menyebalkan.
***
Indah menyapu
pandangannya ke seluruh sudut kamar tidurnya. Kini kamar tidur yang tidak terlalu
besar itu sudah tampak rapi. Perjanjiannya, ia tidur di sebelah Timur sedangkan
Kenan tidur di sisi Barat. Kamar mereka menghadap ke arah Selatan. Letaknya di
lantai dua. Jendela kaca yang besar membatasi kamar dengan area luar rumah
sehingga cahaya matahari dapat bebas masuk ke dalam ruangan.
Merasa pekerjaannya
telah selesai, Indah merebahkan tubuhnya yang penat di atas kasur. Sudah sejak
tadi Kenan meninggalkannya seorang diri di dalam kamar karena tidak banyak yang
dibereskan suaminya itu di dalam kamar. Barang-barang Kenan yang berada di luar
kamar, yang harus dirapikan sangatlah banyak. Oleh sebab itu Kenan
membereskannya bersama dengan Bik Janet dan pak Idrus. Bik Janet adalah salah
satu asisten rumah tangga yang telah lama bekerja pada kelaurga Kenan. Karena
Kenan dan Indah mempunyai rumah baru, maka Bik Janet diminta untuk membantu di
rumah Kenan. Bik Janet mempunyai nama asli Janah. Tapi teman-temannya
memanggilnya dengan sebutan Janed, atau Janah Edan. Jadilah ia terbiasa
dipanggil dengan Janet. Sedangkan pak Idrus adalah sopir yang mengantarkan
mereka berdua ke rumah baru. Jarak antara rumah orang tua Kenan dan rumah baru
sekitar empat jam. Maka mereka bertiga diantar oleh pak sopir. Esok hari pak
Idrus akan kembali ke kediaman orang tua Kenan.
Hari telah sore, Kenan
dibantu Bik Janet dan Pak Idris telah selesai membereskan barang-barang di
dalam rumah. Kemudian Bik Janet mempersiapkan makanan untuk dimakan pada malam
hari nanti. Pak Idris keluar untuk menyirami tanaman di halaman kecil yang
__ADS_1
terletak di depan rumah.
Kenan menaiki tangga
menuju ke lantai atas, hendak ke kamarnya. Sesampainya di kamar yang pintunya
terbuka itu, ia mendapati istrinya sedang tertidur. Wajahnya lelah, namun masih
terlihat cantik dan menarik.
“In, bangun. Ini sudah
sore. Mandi dulu.” Kenan menggoyang-goyangkan kaki Indah dengan perlahan. Indah
hanya sedikit menggeliat dan tidak ada tanda-tanda untuk bangun.
Kenan POV
Indah, untung saja orang tua kamu mempercayakan kamu kepadaku sebelum
mereka pergi. Memilikimu sebagai istriku di umur yang masih muda ini adalah
keajaiban. Aku merasa seperti kejatuhan durian runtuh, ketiban rejeki nomplok.
Tanpa usaha keras, aku sudah memiliki wanita cantik seperti kamu. Kini waktunya
untuk bekerja keras membuat kamu jatuh cinta kepadaku.
***
Kenan beranjak ke kamar
mandi dan membersihkan diri sejenak. Tak membutuhkan waktu lama, ia telah
menyegarkan tubuhnya. Ketika keluar, ia masih mendapati Indah yang meringkuk di
atas tempat tidur.
Kenan duduk di tepi
tempat tidur. Ia melihat Indah yang tergeletak di atas kasur. Ia mengamati
istrinya itu dari dekat. Rambut lurusnya yang sebahu, berwarna hitam legam.
Sebagian rambut menutupi wajahnya. Ia merapikan rambut Indah agar dapat menatap
wajah cantik istrinya dengan lebih jelas. Alis yang tersusun rapi bak iringan
semut, bulu mata panjang nan lentik, hidung mancung, dan bibir merah muda yang menggoda.
“Hei..... bangun.....
bangun....” Kali ini Kenan mengguncang-guncangkan bahu Indah dengan lebih kuat.
“Hoah.....” Indah mengerjap-ngerjapkan
yang dipakaipun tertarik sehingga sebagian perut Indah terekspos menampilkan
perut rata dan pusarnya. Kenan menelan ludahnya melihat pemandangan itu.
“In, bangun. Ini sudah
jam empat sore. Aku mau keluar. Mau ikut nggak?”
“Sebentar lagi Ken,
lima menit lagi ya.” Indah kembali meringkuk.
“Hei, mau ikut nggak.
Kalau nggak mau ikut, aku pergi sendiri saja.”
“Eh, ikut. Aku mau
ikut. Sebentar.” Indah segera bangkit dan berjalan menuju lemari. Dengan
tergesa-gesa dicarinya baju ganti dan handuk. Ia melirik ke arah Ken yang telah
rapi. “Jangan tinggalin ya. Aku ikut.”
“Ya. Jangan lama-lama.
Aku tunggu di bawah. Aku mau ke
supermaket, menyetok kebutuhan mingguan kita.” Kenan berlalu pergi dari
pandangan Indah.
Indah POV
Kita? Kebutuhan kita? Uh, aku risih mendengar bocah kecil ini.Berbicara tentang
‘kita’ dengan wajah datarnya, tanpa ekspresi. Walaupun kami sudah menjadi suami
istri, bagiku ini seperti mimpi.
Kenan POV
Aku naik ke kamarku yang berada di lantai dua. Aku berencana ingin
membeli beberapa kebutuhan dan juga untuk di rumah kami. Ingin kuajak Indah
agar kami lebih akrab. Seminggu ini tidak banyak percakapan yang kami lakukan.
Kami harus lebih saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang, bukan?
__ADS_1
Kudapati istri cantikku tertidur pulas. Kugoyangkan kakinya untuk membangunkannya. Ia tidak juga terbangun. Lalu kugoncangkan bahunya. Aku
masih belum berani memegang bagian tubuh yang lain, walaupun dia istriku. Aku
akan melakukannya jika ia sudah dapat menerimaku sebagai suaminya, bukan
sebagai anak kecil. Ia menggeliat. Tanpa disadarinya, ia membuat sebagian
perutnya terbuka. Aku melihat perutnya yang rata sampai batas ke pusarnya. Ia
tampak seksi dan menarik. Apa kupeluk saja tubuh seksi itu?Ia terbangun dan
mengusap kedua matanya, melihatku tanpa ekspresi. Katanya dia ingin ikut.
Baiklah, lebih baik aku segera bersiap-siap di bawah. Menghindarkanku dari
pikiran ingin menyentuhnya.
***
Indah turun dari menuju
ke dapur. Ia melihat Bik Janet sedang mempersiapkan masakan. Ia menghangatkan
makanan yang tadi dibawa. Mami Helena telah mempersiapkan bekal bagi pasangan
muda itu. Hal itu tentunya memudahkan mereka. Bik Janet tidak perlu lagi susah
memasak, tinggal menghangatkannya saja. Mengingat tadi mereka berempat telah
cukup lelah membereskan rumah.
“Bik Janet, lagi masak
apa?”
“Ini Non, ngangetin
sayur yang dibawain Bu Helen tadi.”
“Kok mata Bibik agak
merah, sakit mata ya?”
“Eh, enggak Non. Tadi
Bibik streaming nonton drakor yang sedih. Jadi Bibik nangis.”
“Ya ampun Bik.... aku
kirain Bibik sakit mata.”
Indah menepuk pundak
Bik Janet sembari tersenyum geli. Ada-ada saja kelakuan asisten rumah tangganya
itu. Bik Janet adalah seorang janda berumur sekitar 35 tahun. Suaminya telah
meninggal karena sakit. Ia telah bekerja di keluarga Smith sejak berumur 25
tahun. Kini ia bekerja untuk keluarga Kenan dan Indah.
“Bik, kami pergi dulu
yah, mau belanja. Bibik mau nitip apa?” Tanya Indah.
“Itu Non, semuanya
sudah dicatat sama Den Kenan.” Bik Janet menunjuk ke arah Kenan dengan kedua bola
matanya yang mengarah ke sana. Kenan yang sedang duduk memainkan ponsel melihat
ke arah Bik Janet dan menganggukkan kepala.
“Oh, ya sudah. Kami
pergi dulu ya Bik.”
“Nggak diantar pak
Idrus Non?”
“Enggak Bik. Pak Idrus
lagi istirahat. Dia kecapekan. Besok mau berkendara jauh lagi.”
“Oh, iya, berdua ajalah
ya Non... sekalian pacaran.” Bik Janet menggoda majikannya itu.
“Ish...si Bibik mah,
ada-ada aja.”
“Hati-hati ya, Den
Kenan dan Non Indah.”
“Ya Bik.” Indah segera
berlalu dan mengikuti langkah Kenan menuju garasi mobil. Mereka berdua menuju
mobil H*onda C*V yang terparkir di garasi. Beruntung mobil yang dibawa Pak
Idrus terparkir di pinggir jalan sehingga Kenan dapat segera mengeluarkan
__ADS_1
mobilnya dari dalam garasi.
🌹🌹🌹🌹🌹