THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
15. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲


Kenan POV


Aku mengantarkan Tino


ke kost kakaknya sore ini. Ada barang yang diambilnya dari kakaknya. Katanya


titipan dari orang tuanya. Kuparkirkan mobilku di halaman kost. Tino segera


keluar dari mobil dan menghampiri kamar kakaknya.


Oh, astaga.... Di


sebelah kamarnya Mbak Luthvia itu kamarnya Indah bukan? Kenapa ada laki-laki


itu lagi di sana? Oh, ada Mbak Luthvia juga di dalam kamarnya. Kulihat Tino


yang bercakap-cakap dengan mereka. Dengan Indah juga tentunya.


Tak berapa lama


kemudian Tino kembali masuk ke mobilku sembari membawa satu buah kantung yang


berisi barang-barang. Aku tidak tahu barang apa saja yaang ada di dalamnya. Aku


menjalankan mobilku keluar dari halaman kost. Kulajukan mobil menuju kostku.


Hari ini Tino hendak menginap di kostku karena ada tugas yang harus kami


selesaikan bersama. Kebetulan aku satu kelompok dengan Tino. Jadi nanti malam


teman-teman yang lain juga akan datang ke kostku.


Kulihat Tino mendesah


seperti sedang memikirkan sesuatu. “Ada apa bro, sepetinya ada sesuatu?”


Tanyaku.


“Mbak Indah. Katanya


mau pindah kost. Tapi aku belum tahu, di mana tempatnya.” Katanya dengan wajah


kesal.


“Terus?”


“Katanya mau tinggal


sama suaminya. Padahal baru putus dari pacarnya. Aneh kan? Berkhayal kok parah. Jangan-jangan mau


menghilang dia karena patah hati. Aku takut aja dia mau bunuh diri.”


Aku tertawa mendengar


penuturan Tino. Ada-ada saja pemikiran sahabatku tadi.


“Malah ketawa. Ini


serius. Tadi Mas Arif dan Mbak Luthvia juga nggak percaya lho kalau Mbak Indah


mau pindah ke rumah suaminya. Aduh, patah hati aku.”


“Terus kamu yang mau


bunuh diri?” Tanyaku.


“Yah nggak gitu juga. Kayak


nggak ada cewek lain aja.” Katanya.


“Tuh sadar juga. Cari


cewek lain, bro. Yang satu keyakinan, kata Adi. Sama-sama yakin jatuh cinta.”


Terus terang, aku tidak


berani bercerita apapun kepada Tino. Tino tidak tahu bahwa akulah calon suami


Indah. Bagaimana jika ia tahu bahwa rumah yang dimaksudkan Indah adalah rumah


kami berdua? Harusnya aku berterus terang ya. Tapi aku rasa belum saatnya.


“Ini memangnya bulan


apa sih,  lagi musim pindahan apa yak?


Kamu juga mau pindah kan? Ke mana?” Ketika sampai di kostku, Tino berkomentar


melihat barang-barangku yang sudah mulai aku susun rapi, sehingga saat pindahan


nanti aku lebih mudah membawanya.


“Besok kalo pindahan


aku kasih tahu. Sekalian, biar kalian bantuin aku mindahin barang.”


“Kenapa Ken, kamu mau


pindah? Takut sama Bella ya? Ya ampun, segitunya kamu takut.”


“Haha... ternyata


pikiranmu sama seperti Adi.”Aku mendorong bahunya dengan telapak tanganku. Otak


mereka berdua mungkin sama besarnya sehingga apa yang dipikirkan juga sama.


“Lebih besar kostnya


ya? Bisa main bareng lagi dong.”


Aku tidak menanggapi.

__ADS_1


Kulihat Tino juga tidak terlalu berharap dengan jawabanku. Bagaimana mungkin


nanti mereka menginap di rumahku sementara ada Indah di sana?


***


Sebulan sebelum hari


pernikahan, ponsel Indah berbunyi. Nomor asing tertera di layarnya. Indah


semula ragu hendak menerima telepon tersebut. Namun ia akhirnya mengangkatnya


setelah panggilan yang ketiga.


“Hallo.”


“Hallo... Indah. Ini


Kenan.” Deg... ada desiran halus di dada Indah mendengar nama itu. Nama yang


disebut Bundanya akan menjadi pendamping hidupnya. Bunda sempat membicarakan


tentang perjodohannya dengan Kenan sebelum Bunda menghembuskan nafas


terakhirnya.


“Iya. Ada apa Ken?”


“Dua minggu lagi kamu


diminta pulang oleh mami. Kita akan melakukan fitting baju pengantin.”


“Iya.” Sedetik...dua


detik...hening ... sampai pada detik kelima belas Indah bertanya lagi. “Ada


lagi Ken?”


“Tidak ada.” Suara


telepon ditutup. Tidak ada lagi sapaan ‘kakak jelek’ yang ada kecanggungan di


antara mereka. Padahal mereka berbicara di telepon. Bagaimana nanti jika mereka


berdua bertemu langsung.


Indah menatap layar


ponselnya lagi. Disimpannya nomor Ken di dalam kontaknya. Ia diam terduduk di


bawah pohon beringin di halaman kampusnya.


***


Indah POV


“Hei...ngelamun.” Arif


menepuk pundakku. Ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.


Aku berkilah.


“In, kamu pindahan


kapan?”


“Nanti setelah libur


semester, aku pindah.”


“Kamu mau pindah ke


mana sih? Kok nggak mau ngasih tahu?”


“Sabar Rif, pasti aku


kasih tahu.”


“Tapi beneran, kamu


kesulitan dengan biaya hidup dan biaya kuliah kamu?”


“Ehm... enggak juga


sih. Aku rasa masih sangat cukup sampai aku menyelesaikan kuliah. Aku juga


masih dapat pemasukan dari empat rumah bedengan yang dikontrakan, peninggalan


orang tuaku.”


“Beneran? Kalau mau


tambahan, aku mau nawarin pekerjaan nih. Tempatku ngajar, butuh guru privat.


Muridnya nambah banyak tapi gurunya terbatas. Kamu mau daftar nggak?” Arif


dengan antusiasnya menawarkan pekerjaan kepadaku.


“Mau dong. Lumayan


untuk tambahan.” Aku jadi bersemangat mendengar apa yang dikatakan Arif.


“Besok ya, aku antar ke


pak Broto, bagian perekrutannya.”


“Ok. Than you, ya Rif.”


“In, jadi nggak ke


Dinas Pertanian?”


“Oh iya. Untung kamu

__ADS_1


mengingatkan. Aku lupa. Jadi dong. Ayo, pakai motorku aja yah.”


“Udah, pakai motorku


aja. Nggak enak bawa motormu, kakiku kepanjangan hehe....”


Kami pun berangkat


menuju ke Dinas Pertanian.


***


Lima belas menit


kemudian, Arif dan Indah telah berada di depan Dinas Pertanian Kota dengan


menggunakan motor Arif.


“Lama nggak? Mau


ditemani masuk nggak?” Arif menerima helm dari Indah yang telah terlepas dari


kepalanya.


“Nggak usah, hanya menemui


Bapak Sekretarisnya aja, terus cari bukunya, selesai. Mungkin nggak lebih dari


setengah jam.” Jawab Indah.


“Kalau gitu aku nunggu


di seberang aja yah. Sekalian ngopi.”


“Oke. Nanti aku cari di


seberang setelah selesai.” Indah segera memasuki kantor Dinas Pertanian.


Arif menuju warung kopi


yang ada di seberang kantor. Ia memesan segelas kopi hitam dan mengambil


beberapa gorengan ke dalam piring. Sekitar dua puluh menit ia menikmati


gorengan dan kopinya, datang dua orang masuk ke dalam kedai kopi itu.


“Eh, eike lapangan bola


(Eh, aku lapar).” Kata seorang yang berlagak kemayu kepada temannya.


“Kanua lapangan bola


terus. Ember perut yeay kaya karung hihihi.... (Kamu lapar terus. Emang perut


kamu kaya karung).”


Seorang yang berkata


lapar tadi melihat ke arah Arif. “Hallo kangmas ganteng. Eike mawar kenalan


dong. (Hallo mas ganteng. Aku mau kenalan dong).” Arif melihat dengan mata


menyipit. Seorang wanita KW itu... entahlan bagaimana menyebutnya mengulurkan


tangan kanan ke arahnya, mengajaknya berkenalan. Sementara Arif tidak mengerti


sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan.


Aduh, Indah mana sih.


Lama banget. Batin Arif.


Inilah yang ia takutkan


jika ke tempat ini di siang hari. Wanita KW itu pasti sedang keluar. Bukannya


Arif pemerhati  jadwal mereka ya, tapi


memang inilah yang sudah menjadi pembicaraan umum. Bukan suatu rahasia lagi. Mereka


banyak yang bermukim di daerah ini.


“In, katanya nggak


lama. Nyatanya lebih dari setengah jam.” Arif protes kepada Indah. Ia


menyodorkan helm kepada Indah.


“Maaf, tadi bapak


sekretarisnya malah ngajakin ngobrol. Malah mau ngenalin anaknyayang baru lulus


kuliah ke aku. Eh, jadi itu rupanya yang bikin kamu takut ya? Cewek jadi-jadian


itu? Hehe... iya, aku sudah dengar rumornya tentang mereka. Tapi baru kali ini


melihat mereka langsung. Diapain kamu Rif?” Indah bertanya karena sahabatnya


itu menunjukkan wajah cemberut.


“Ye, baru juga diajak


salaman sama mereka, kamu sudah merah merona begitu Rif.” Indah terkekeh.


“Awas ya, nggak aku


temenin lagi kamu.”


“Eh, marah. Iya, maaf.


Nggak aku ledekin lagi deh.” Indah mengusap punggung Arif dan segera duduk di


kursi penumpang. “Maaf ya ... bercanda.” Katanya lagi.

__ADS_1


***


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2