
🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲
Kenan POV
Aku mengantarkan Tino
ke kost kakaknya sore ini. Ada barang yang diambilnya dari kakaknya. Katanya
titipan dari orang tuanya. Kuparkirkan mobilku di halaman kost. Tino segera
keluar dari mobil dan menghampiri kamar kakaknya.
Oh, astaga.... Di
sebelah kamarnya Mbak Luthvia itu kamarnya Indah bukan? Kenapa ada laki-laki
itu lagi di sana? Oh, ada Mbak Luthvia juga di dalam kamarnya. Kulihat Tino
yang bercakap-cakap dengan mereka. Dengan Indah juga tentunya.
Tak berapa lama
kemudian Tino kembali masuk ke mobilku sembari membawa satu buah kantung yang
berisi barang-barang. Aku tidak tahu barang apa saja yaang ada di dalamnya. Aku
menjalankan mobilku keluar dari halaman kost. Kulajukan mobil menuju kostku.
Hari ini Tino hendak menginap di kostku karena ada tugas yang harus kami
selesaikan bersama. Kebetulan aku satu kelompok dengan Tino. Jadi nanti malam
teman-teman yang lain juga akan datang ke kostku.
Kulihat Tino mendesah
seperti sedang memikirkan sesuatu. “Ada apa bro, sepetinya ada sesuatu?”
Tanyaku.
“Mbak Indah. Katanya
mau pindah kost. Tapi aku belum tahu, di mana tempatnya.” Katanya dengan wajah
kesal.
“Terus?”
“Katanya mau tinggal
sama suaminya. Padahal baru putus dari pacarnya. Aneh kan? Berkhayal kok parah. Jangan-jangan mau
menghilang dia karena patah hati. Aku takut aja dia mau bunuh diri.”
Aku tertawa mendengar
penuturan Tino. Ada-ada saja pemikiran sahabatku tadi.
“Malah ketawa. Ini
serius. Tadi Mas Arif dan Mbak Luthvia juga nggak percaya lho kalau Mbak Indah
mau pindah ke rumah suaminya. Aduh, patah hati aku.”
“Terus kamu yang mau
bunuh diri?” Tanyaku.
“Yah nggak gitu juga. Kayak
nggak ada cewek lain aja.” Katanya.
“Tuh sadar juga. Cari
cewek lain, bro. Yang satu keyakinan, kata Adi. Sama-sama yakin jatuh cinta.”
Terus terang, aku tidak
berani bercerita apapun kepada Tino. Tino tidak tahu bahwa akulah calon suami
Indah. Bagaimana jika ia tahu bahwa rumah yang dimaksudkan Indah adalah rumah
kami berdua? Harusnya aku berterus terang ya. Tapi aku rasa belum saatnya.
“Ini memangnya bulan
apa sih, lagi musim pindahan apa yak?
Kamu juga mau pindah kan? Ke mana?” Ketika sampai di kostku, Tino berkomentar
melihat barang-barangku yang sudah mulai aku susun rapi, sehingga saat pindahan
nanti aku lebih mudah membawanya.
“Besok kalo pindahan
aku kasih tahu. Sekalian, biar kalian bantuin aku mindahin barang.”
“Kenapa Ken, kamu mau
pindah? Takut sama Bella ya? Ya ampun, segitunya kamu takut.”
“Haha... ternyata
pikiranmu sama seperti Adi.”Aku mendorong bahunya dengan telapak tanganku. Otak
mereka berdua mungkin sama besarnya sehingga apa yang dipikirkan juga sama.
“Lebih besar kostnya
ya? Bisa main bareng lagi dong.”
Aku tidak menanggapi.
__ADS_1
Kulihat Tino juga tidak terlalu berharap dengan jawabanku. Bagaimana mungkin
nanti mereka menginap di rumahku sementara ada Indah di sana?
***
Sebulan sebelum hari
pernikahan, ponsel Indah berbunyi. Nomor asing tertera di layarnya. Indah
semula ragu hendak menerima telepon tersebut. Namun ia akhirnya mengangkatnya
setelah panggilan yang ketiga.
“Hallo.”
“Hallo... Indah. Ini
Kenan.” Deg... ada desiran halus di dada Indah mendengar nama itu. Nama yang
disebut Bundanya akan menjadi pendamping hidupnya. Bunda sempat membicarakan
tentang perjodohannya dengan Kenan sebelum Bunda menghembuskan nafas
terakhirnya.
“Iya. Ada apa Ken?”
“Dua minggu lagi kamu
diminta pulang oleh mami. Kita akan melakukan fitting baju pengantin.”
“Iya.” Sedetik...dua
detik...hening ... sampai pada detik kelima belas Indah bertanya lagi. “Ada
lagi Ken?”
“Tidak ada.” Suara
telepon ditutup. Tidak ada lagi sapaan ‘kakak jelek’ yang ada kecanggungan di
antara mereka. Padahal mereka berbicara di telepon. Bagaimana nanti jika mereka
berdua bertemu langsung.
Indah menatap layar
ponselnya lagi. Disimpannya nomor Ken di dalam kontaknya. Ia diam terduduk di
bawah pohon beringin di halaman kampusnya.
***
Indah POV
“Hei...ngelamun.” Arif
menepuk pundakku. Ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
Aku berkilah.
“In, kamu pindahan
kapan?”
“Nanti setelah libur
semester, aku pindah.”
“Kamu mau pindah ke
mana sih? Kok nggak mau ngasih tahu?”
“Sabar Rif, pasti aku
kasih tahu.”
“Tapi beneran, kamu
kesulitan dengan biaya hidup dan biaya kuliah kamu?”
“Ehm... enggak juga
sih. Aku rasa masih sangat cukup sampai aku menyelesaikan kuliah. Aku juga
masih dapat pemasukan dari empat rumah bedengan yang dikontrakan, peninggalan
orang tuaku.”
“Beneran? Kalau mau
tambahan, aku mau nawarin pekerjaan nih. Tempatku ngajar, butuh guru privat.
Muridnya nambah banyak tapi gurunya terbatas. Kamu mau daftar nggak?” Arif
dengan antusiasnya menawarkan pekerjaan kepadaku.
“Mau dong. Lumayan
untuk tambahan.” Aku jadi bersemangat mendengar apa yang dikatakan Arif.
“Besok ya, aku antar ke
pak Broto, bagian perekrutannya.”
“Ok. Than you, ya Rif.”
“In, jadi nggak ke
Dinas Pertanian?”
“Oh iya. Untung kamu
__ADS_1
mengingatkan. Aku lupa. Jadi dong. Ayo, pakai motorku aja yah.”
“Udah, pakai motorku
aja. Nggak enak bawa motormu, kakiku kepanjangan hehe....”
Kami pun berangkat
menuju ke Dinas Pertanian.
***
Lima belas menit
kemudian, Arif dan Indah telah berada di depan Dinas Pertanian Kota dengan
menggunakan motor Arif.
“Lama nggak? Mau
ditemani masuk nggak?” Arif menerima helm dari Indah yang telah terlepas dari
kepalanya.
“Nggak usah, hanya menemui
Bapak Sekretarisnya aja, terus cari bukunya, selesai. Mungkin nggak lebih dari
setengah jam.” Jawab Indah.
“Kalau gitu aku nunggu
di seberang aja yah. Sekalian ngopi.”
“Oke. Nanti aku cari di
seberang setelah selesai.” Indah segera memasuki kantor Dinas Pertanian.
Arif menuju warung kopi
yang ada di seberang kantor. Ia memesan segelas kopi hitam dan mengambil
beberapa gorengan ke dalam piring. Sekitar dua puluh menit ia menikmati
gorengan dan kopinya, datang dua orang masuk ke dalam kedai kopi itu.
“Eh, eike lapangan bola
(Eh, aku lapar).” Kata seorang yang berlagak kemayu kepada temannya.
“Kanua lapangan bola
terus. Ember perut yeay kaya karung hihihi.... (Kamu lapar terus. Emang perut
kamu kaya karung).”
Seorang yang berkata
lapar tadi melihat ke arah Arif. “Hallo kangmas ganteng. Eike mawar kenalan
dong. (Hallo mas ganteng. Aku mau kenalan dong).” Arif melihat dengan mata
menyipit. Seorang wanita KW itu... entahlan bagaimana menyebutnya mengulurkan
tangan kanan ke arahnya, mengajaknya berkenalan. Sementara Arif tidak mengerti
sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan.
Aduh, Indah mana sih.
Lama banget. Batin Arif.
Inilah yang ia takutkan
jika ke tempat ini di siang hari. Wanita KW itu pasti sedang keluar. Bukannya
Arif pemerhati jadwal mereka ya, tapi
memang inilah yang sudah menjadi pembicaraan umum. Bukan suatu rahasia lagi. Mereka
banyak yang bermukim di daerah ini.
“In, katanya nggak
lama. Nyatanya lebih dari setengah jam.” Arif protes kepada Indah. Ia
menyodorkan helm kepada Indah.
“Maaf, tadi bapak
sekretarisnya malah ngajakin ngobrol. Malah mau ngenalin anaknyayang baru lulus
kuliah ke aku. Eh, jadi itu rupanya yang bikin kamu takut ya? Cewek jadi-jadian
itu? Hehe... iya, aku sudah dengar rumornya tentang mereka. Tapi baru kali ini
melihat mereka langsung. Diapain kamu Rif?” Indah bertanya karena sahabatnya
itu menunjukkan wajah cemberut.
“Ye, baru juga diajak
salaman sama mereka, kamu sudah merah merona begitu Rif.” Indah terkekeh.
“Awas ya, nggak aku
temenin lagi kamu.”
“Eh, marah. Iya, maaf.
Nggak aku ledekin lagi deh.” Indah mengusap punggung Arif dan segera duduk di
kursi penumpang. “Maaf ya ... bercanda.” Katanya lagi.
__ADS_1
***
🌲🌲🌲🌲🌲