THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
41. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


KENAN POV


Kedatangan kami berdua


di rumah Mami disambut dengan gembira. Walaupun kami datang ketika waktu sudah


menunjukkan pukul 7 malam, mami dan papi masih terlihat ceria. Mereka berdua


yang berada di rumah, karena Jenny, adikku satu-satunya itu sedang mengikuti


study tour ke Bali.


Pelukan Mami ditujukan


pertama kali untuk Indah. Mami memberondong kami dengan berbagai macam


pertanyaan. Tentu saja ia ditujukan kepada Indah. Hampir saja papi tidak


kebagian pelukan dari Indah karena mami mendominasi sekali. Sedangkan aku,


seperti diabaikan oleh mami. Sebenarnya yang anak kandung siapa sih?


“Diajak masuk dulu,


Mi.” Papi mengingatkan keagresifan mami yang berlebihan. Ia merangkul kami


semua untuk masuk.


“Hehe... mami sampai


lupa. Habisnya kangen berat, Pi. Kalau sampai dua hari lagi nggak ketemu Kenan


dan Indah, bakal masuk rumah sakit mami ini, kena asam lambung.” Mulai deh,


mami bikin drama.


“Hus, mami jangan


ngomong begitu lho. Nggak baik. Masa mengkhayalkan diri sendiri masuk rumah


sakit. Jangan sampai nanti kejadian.” Papi mengingatkan mami.


“Mami kangen banget


sih, Pi. Mereka berdua juga jarang menelepon mami.”Mami memutar bola matanya


dan memejukan bibirnya.


“Maaf mi. Besok-besok


aku bakal lebih sering menelepon mami.” Jawabku sekenanya.


“Sudah sudah. Lebih


baik anak-anak diajak makan dulu, Mi.” Lagi-lagi papi mengingatkan mami. Kami


pun mengekori papi masuk ke ruang makan.


“Nih, mami masak besar


untuk menyambut kedatangan kalian.” Mami telah menyiapkan berbagai macam


hidangan di meja. Sepertinya sejak siang tadi mami berjibaku di dapur untuk


menyiapkan masakan sebanyak ini. Aku pun sangat merindukan masakan mami.


Setelah menyelesaikan


makan malam, kami mengobrol di ruang keluarga. Terlihat sekali papi dan mami


sangat gembira dengan kehadiran kami. Indah pun terkadang mengobrol dengan mami


sembari berbisik-bisik dengan air muka yang berubah-ubah. Sementara mami


sesekali tertawa menanggapi jawaban Indah. Sebenarnya aku sedikit penasaran


dengan apa yang mereka bicarakan. Tetapi melihatnya saling berbisik, berarti


aku dan papi tidak diperkenankan untuk ambil bagian dalam pembicaraan tersebut.


“Ken, bisa nggak


kuliahmu itu dipercepat? Papi sangat membutuhkan bantuanmu di perusahaan.”Papi


menatapku dengan binar mata penuh harap.


“Aku usahakan


secepatnya, Pi. Akan kuambil SKS yang maksimal setiap semesternya agar cepat


selesai.”


“Kamu tidak keberatan


kan, bergabung dengan perusahaan papi, kelak?” mana mungkin aku menolaknya. Aku


tahu jerih payah yang dilakukan papi sejak merintis perusahaan itu dan


bagaimana beliau mempertahankannya sampai sekarang. Perusahaan itu juga yang

__ADS_1


telah memberi kami banyak hal.


“Tentu saja aku tidak


keberatan, Pi.”


“Cafemu yang di sana,


bisa di-handle oleh Ferry, kan?”


“Iya, Pi. Jangan


khawatir. Ferry bisa menangani dengan baik.”


“Bagaimana


perkembangannya?”


“Semakin baik, Pi.


Bahkan kami harus menambah pegawai baru untuk memberikan pelayanan kepada


pelanggan. Aku optimis menjalankannya, Pi.”


“Syukurlah, Papi senang


telah memberikan kepercayaan kepadamu. Jadi pengalaman yang baik untukmu yang


bisa digunakan kelak ketika bekerja. Papi sangat bangga padamu, Ken.”


***


Ketika aku keluar dari


kamar mandi, setelah membersihkan badan, aku menemukan Indah yang berjalan


mondar mandir di dalam kamarku. Wajahnya tampak bingung dan menunduk. “Ken,


celaka ini.” Wajah paniknya memandangku.


“Ada apa?” Aku sedikit


panik melihat perubahan wajahnya.


Tangannya dilipat di


depan dada dan berhenti tepat di hadapanku. “Tas jinjing warna biru tertinggal.


Di dalamnya ada baju gantiku.”


“Jadi kamu nggak bawa


baju ganti?” Ternyata ini yang membuat wajahnya berubah menjadi panik.


tidur pakai apa coba?” Ia mengedikkan bahunya, menatapku dengan tatapan


bingung.


Tantu saja aku tidak


dapat menahan tawaku mendengar ucapan Indah. “Hehehe...Kenapa nggak diperiksa


waktu menurunkan barang tadi, sayang? Sekarang sudah malam, mana mungkin kita


keluar membeli baju. Sudah terlalu malam. Hehehe...” Lagi-lagi aku terkekeh


mengetahui kecerobohan Indah.


Ia menepuk lenganku


karena jengkal melihatku tertawa. “Ya, malah ketawa. Aku nggak ngecek lagi


tadi. Apes deh. Ke kamarnya Adel yuk, mungkin masih ada baju-bajunya di sini.”


“Mana mungkin, kamarnya


sudah berubah jadi tempat penyimpanan barang-barang mami.” Ucapku lagi.


“Kalau begitu, ke


kamarnya Jeny.”


“Pasti dikunci kalau


pergi. Dia nggak mau rahasianya ketahuan.” Aku mengusap handuk di rambutku yang


masih basah.


“Yah, jadi pakai apa


dong.”


“Pakai bajuku saja,


sayang.” Sebenarnya aku ingin meledakkan tawaku saat ini karena membayangkan


Indah dengan bajuku yang kedodoran di tubuh kecilnya.


Indah keluar dari dalam


kamar mandi dengan kausku yang cukup panjang hingga menutupi pantatnya.

__ADS_1


Indah menunjuk-nunjuk


perutnya. “Celana dalam kamu, aku ikat kencang di sini, Ken. Tapi rasanya masih


gampang melorot.” Bibirku sampai berkedut-kedut menahan tawa. “Semoga saja


pakaian yang aku cuci tadi kering besok ya, jadi bisa dipakai lagi.”


“Indah... Indah. Lain


kali kalau mau pergi-pergi, lebih baik kamu menyiapkan list barang apa saja


yang hendak dibawa. Seperti waktu penelitian kemarin. Tuh, karena dilist


terlebih dahulu, peralatan lab yang ribet itu tidak terlewatkan bukan?”


“Iya sih.” Ia menggigit


bibir bawahnya.


Aku duduk di tepi


ranjang yang lebih kecil dibandingkan dengan ranjang kami di rumah. Kamar ini


memang kamar cowok single, jadi tidak terlalu luas. Berbeda ketika kini aku


sudah beristri, tentu saja ranjang ini akan terasa lebih sempit.


Aku menepuk tepi


ranjang di sampingku, memberi isyarat agar ia duduk di sampingku. Indah


memegang-megang dadanya dengan tangan kanan dan tangan yang lain menarik ujung


kaosnya agar menutupi pantatnya.


“Mau pakai celana


pendekku?” Tanyaku. Sangat terlihat, ketidaknyamanannya memakai pakaianku.


“Aku sudah mencoba


beberapa celana kamu. Kebesaran semua. Makin nggak enak pakainya.” Ia


menghempaskan pantatnya di ranjang, duduk di sampingku. “Begini aja deh.” Kini


tangan kanannya menarik ujung kaosnya berusaha menutupi pahanya sampai ke


lutut.


“Itu kenapa dadanya


dipegang-pegang?” Tanyaku dengan heran.


“Risih nih, kulitnya


langsung menyentuh kaos. Nggak enak rasanya, geli-geli gitu.” Katanya dengan


meringis. Aku semakin tidak bisa menahan tawa yang sedari tadi hendak meledak.


“Ih Kenan... ketawanya


itu lho. Senang sekali melihatku tersiksa begini.” Ia memukul-mukul lenganku


dengan kuat.


Kutarik bahunya dan


kurengkuh dalam pelukanku. Ia menghentikan aksi bar-barnya memukuliku. “Tidur


aja. Biar kamu nggak merasa risih lagi. Tapi sebentar lagi ya.” Aku menikmati


kedekatan ini. Sangat bahagia rasanya memeluk istri yang sangat kucintai.


Kuhirup semua aroma yang menguar dari tubuhnya... hem wangi dan manis. Aku pun


menciumi puncak kepalanya. “Aku suka, memeluk kamu lama-lama seperti ini.”


Kataku lagi.


Indah mendongakkan


kepalanya dan menatap lekat ke arahku. Tangan kanannya terulur membelai daguku


yang mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis. Geli, tetapi membuatku kecanduan. Lalu


tangannya menelusuri leherku, turun ke dadaku. Ia menunduk dan menulis


pola-pola abstrak di dadaku. Aku menikmatinya. Dan sesuatu di bawah sana


tampaknya ingin dibelai juga. Ah, mulai bergerak membesar. Pisang raja ini


agaknya sudah berubah menjadi pisang ambon.


“Kenan, aku juga suka


dipeluk begini.” Kata Indah masih dengan menunduk.


***


Ini dia wajah Kenan dengan tawa tertahan ketika melihat Indah

__ADS_1



__ADS_2