
SELAMAT MEMBACA
KENAN POV
Kedatangan kami berdua
di rumah Mami disambut dengan gembira. Walaupun kami datang ketika waktu sudah
menunjukkan pukul 7 malam, mami dan papi masih terlihat ceria. Mereka berdua
yang berada di rumah, karena Jenny, adikku satu-satunya itu sedang mengikuti
study tour ke Bali.
Pelukan Mami ditujukan
pertama kali untuk Indah. Mami memberondong kami dengan berbagai macam
pertanyaan. Tentu saja ia ditujukan kepada Indah. Hampir saja papi tidak
kebagian pelukan dari Indah karena mami mendominasi sekali. Sedangkan aku,
seperti diabaikan oleh mami. Sebenarnya yang anak kandung siapa sih?
“Diajak masuk dulu,
Mi.” Papi mengingatkan keagresifan mami yang berlebihan. Ia merangkul kami
semua untuk masuk.
“Hehe... mami sampai
lupa. Habisnya kangen berat, Pi. Kalau sampai dua hari lagi nggak ketemu Kenan
dan Indah, bakal masuk rumah sakit mami ini, kena asam lambung.” Mulai deh,
mami bikin drama.
“Hus, mami jangan
ngomong begitu lho. Nggak baik. Masa mengkhayalkan diri sendiri masuk rumah
sakit. Jangan sampai nanti kejadian.” Papi mengingatkan mami.
“Mami kangen banget
sih, Pi. Mereka berdua juga jarang menelepon mami.”Mami memutar bola matanya
dan memejukan bibirnya.
“Maaf mi. Besok-besok
aku bakal lebih sering menelepon mami.” Jawabku sekenanya.
“Sudah sudah. Lebih
baik anak-anak diajak makan dulu, Mi.” Lagi-lagi papi mengingatkan mami. Kami
pun mengekori papi masuk ke ruang makan.
“Nih, mami masak besar
untuk menyambut kedatangan kalian.” Mami telah menyiapkan berbagai macam
hidangan di meja. Sepertinya sejak siang tadi mami berjibaku di dapur untuk
menyiapkan masakan sebanyak ini. Aku pun sangat merindukan masakan mami.
Setelah menyelesaikan
makan malam, kami mengobrol di ruang keluarga. Terlihat sekali papi dan mami
sangat gembira dengan kehadiran kami. Indah pun terkadang mengobrol dengan mami
sembari berbisik-bisik dengan air muka yang berubah-ubah. Sementara mami
sesekali tertawa menanggapi jawaban Indah. Sebenarnya aku sedikit penasaran
dengan apa yang mereka bicarakan. Tetapi melihatnya saling berbisik, berarti
aku dan papi tidak diperkenankan untuk ambil bagian dalam pembicaraan tersebut.
“Ken, bisa nggak
kuliahmu itu dipercepat? Papi sangat membutuhkan bantuanmu di perusahaan.”Papi
menatapku dengan binar mata penuh harap.
“Aku usahakan
secepatnya, Pi. Akan kuambil SKS yang maksimal setiap semesternya agar cepat
selesai.”
“Kamu tidak keberatan
kan, bergabung dengan perusahaan papi, kelak?” mana mungkin aku menolaknya. Aku
tahu jerih payah yang dilakukan papi sejak merintis perusahaan itu dan
bagaimana beliau mempertahankannya sampai sekarang. Perusahaan itu juga yang
__ADS_1
telah memberi kami banyak hal.
“Tentu saja aku tidak
keberatan, Pi.”
“Cafemu yang di sana,
bisa di-handle oleh Ferry, kan?”
“Iya, Pi. Jangan
khawatir. Ferry bisa menangani dengan baik.”
“Bagaimana
perkembangannya?”
“Semakin baik, Pi.
Bahkan kami harus menambah pegawai baru untuk memberikan pelayanan kepada
pelanggan. Aku optimis menjalankannya, Pi.”
“Syukurlah, Papi senang
telah memberikan kepercayaan kepadamu. Jadi pengalaman yang baik untukmu yang
bisa digunakan kelak ketika bekerja. Papi sangat bangga padamu, Ken.”
***
Ketika aku keluar dari
kamar mandi, setelah membersihkan badan, aku menemukan Indah yang berjalan
mondar mandir di dalam kamarku. Wajahnya tampak bingung dan menunduk. “Ken,
celaka ini.” Wajah paniknya memandangku.
“Ada apa?” Aku sedikit
panik melihat perubahan wajahnya.
Tangannya dilipat di
depan dada dan berhenti tepat di hadapanku. “Tas jinjing warna biru tertinggal.
Di dalamnya ada baju gantiku.”
“Jadi kamu nggak bawa
baju ganti?” Ternyata ini yang membuat wajahnya berubah menjadi panik.
tidur pakai apa coba?” Ia mengedikkan bahunya, menatapku dengan tatapan
bingung.
Tantu saja aku tidak
dapat menahan tawaku mendengar ucapan Indah. “Hehehe...Kenapa nggak diperiksa
waktu menurunkan barang tadi, sayang? Sekarang sudah malam, mana mungkin kita
keluar membeli baju. Sudah terlalu malam. Hehehe...” Lagi-lagi aku terkekeh
mengetahui kecerobohan Indah.
Ia menepuk lenganku
karena jengkal melihatku tertawa. “Ya, malah ketawa. Aku nggak ngecek lagi
tadi. Apes deh. Ke kamarnya Adel yuk, mungkin masih ada baju-bajunya di sini.”
“Mana mungkin, kamarnya
sudah berubah jadi tempat penyimpanan barang-barang mami.” Ucapku lagi.
“Kalau begitu, ke
kamarnya Jeny.”
“Pasti dikunci kalau
pergi. Dia nggak mau rahasianya ketahuan.” Aku mengusap handuk di rambutku yang
masih basah.
“Yah, jadi pakai apa
dong.”
“Pakai bajuku saja,
sayang.” Sebenarnya aku ingin meledakkan tawaku saat ini karena membayangkan
Indah dengan bajuku yang kedodoran di tubuh kecilnya.
Indah keluar dari dalam
kamar mandi dengan kausku yang cukup panjang hingga menutupi pantatnya.
__ADS_1
Indah menunjuk-nunjuk
perutnya. “Celana dalam kamu, aku ikat kencang di sini, Ken. Tapi rasanya masih
gampang melorot.” Bibirku sampai berkedut-kedut menahan tawa. “Semoga saja
pakaian yang aku cuci tadi kering besok ya, jadi bisa dipakai lagi.”
“Indah... Indah. Lain
kali kalau mau pergi-pergi, lebih baik kamu menyiapkan list barang apa saja
yang hendak dibawa. Seperti waktu penelitian kemarin. Tuh, karena dilist
terlebih dahulu, peralatan lab yang ribet itu tidak terlewatkan bukan?”
“Iya sih.” Ia menggigit
bibir bawahnya.
Aku duduk di tepi
ranjang yang lebih kecil dibandingkan dengan ranjang kami di rumah. Kamar ini
memang kamar cowok single, jadi tidak terlalu luas. Berbeda ketika kini aku
sudah beristri, tentu saja ranjang ini akan terasa lebih sempit.
Aku menepuk tepi
ranjang di sampingku, memberi isyarat agar ia duduk di sampingku. Indah
memegang-megang dadanya dengan tangan kanan dan tangan yang lain menarik ujung
kaosnya agar menutupi pantatnya.
“Mau pakai celana
pendekku?” Tanyaku. Sangat terlihat, ketidaknyamanannya memakai pakaianku.
“Aku sudah mencoba
beberapa celana kamu. Kebesaran semua. Makin nggak enak pakainya.” Ia
menghempaskan pantatnya di ranjang, duduk di sampingku. “Begini aja deh.” Kini
tangan kanannya menarik ujung kaosnya berusaha menutupi pahanya sampai ke
lutut.
“Itu kenapa dadanya
dipegang-pegang?” Tanyaku dengan heran.
“Risih nih, kulitnya
langsung menyentuh kaos. Nggak enak rasanya, geli-geli gitu.” Katanya dengan
meringis. Aku semakin tidak bisa menahan tawa yang sedari tadi hendak meledak.
“Ih Kenan... ketawanya
itu lho. Senang sekali melihatku tersiksa begini.” Ia memukul-mukul lenganku
dengan kuat.
Kutarik bahunya dan
kurengkuh dalam pelukanku. Ia menghentikan aksi bar-barnya memukuliku. “Tidur
aja. Biar kamu nggak merasa risih lagi. Tapi sebentar lagi ya.” Aku menikmati
kedekatan ini. Sangat bahagia rasanya memeluk istri yang sangat kucintai.
Kuhirup semua aroma yang menguar dari tubuhnya... hem wangi dan manis. Aku pun
menciumi puncak kepalanya. “Aku suka, memeluk kamu lama-lama seperti ini.”
Kataku lagi.
Indah mendongakkan
kepalanya dan menatap lekat ke arahku. Tangan kanannya terulur membelai daguku
yang mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis. Geli, tetapi membuatku kecanduan. Lalu
tangannya menelusuri leherku, turun ke dadaku. Ia menunduk dan menulis
pola-pola abstrak di dadaku. Aku menikmatinya. Dan sesuatu di bawah sana
tampaknya ingin dibelai juga. Ah, mulai bergerak membesar. Pisang raja ini
agaknya sudah berubah menjadi pisang ambon.
“Kenan, aku juga suka
dipeluk begini.” Kata Indah masih dengan menunduk.
***
Ini dia wajah Kenan dengan tawa tertahan ketika melihat Indah
__ADS_1