
Author POV
Indah masih betah
berada di ruang kerja. Hasil dari konsultasi dengan dua dosen beberapa hari
yang lalu menyebabkannya berkutat dengan kertas – kertas di ruang kerja. Kesibukan
yang luar biasa ini menyebabkan komunikasinya dengan Kenan sedikit terbatas.
Apalagi Kenan lebih banyak pulang di malam hari. Otomatis mereka berdua bertemu
hanya ketika saat berada di tempat tidur. Itu pun dalam kondisi salah satu
telah tertidur, entah Indah atau Kenan terlebih dahulu.
Arloji di tangan kanan
Indah telah menunjukkan pukul 10 malam. Belum ada tanda-tanda ia akan
menyelesaikan pekerjaannya sebentar lagi. Makan malam pun diantarkan ke ruang
kerja oleh Bik Janet. Jika saja Bik Janet tidak perhatian, tentu Indah akan
melewatkan makan malamnya.
Indah bertekad akan
menyelesaikan skripsinya ini secepat mungkin. Ia sangat fokus mengerjakannya.
Mata kuliah yang ia ulang pun telah selesai diikuti. Pekerjaan paruh waktunya
yaitu memberi les privat kepada anak-anak pun telah dihentikannya karena tidak
mau terganggu. Dengan demikian hanya ada
kata skripsi di otaknya saat ini. Bahkan keberadaan suaminya pun tergeser dengan
tumpukan kertas.
Beberapa hari ini
bahkan Indah lupa untuk lebih dahulu menyapa Kenan melalui telepon. Kalau saja
Kenan tidak menghubunginya terlebih dahulu, ia tidak akan berinisiatif
mengubungi suaminya. Ternyata Indah parah kalau sudah fokus dengan sesuatu.
Menjelang pukul sebelas
Indah mendengar derap langkah menaiki tangga. Ia menghentikan aktivitasnya
sejenak dan keluar dari ruangan. Ia melihat Kenan yang melangkahkan kaki
menaiki tangga dengan langkah gontai. Terlihat sekali kelelahan terpancar dari
wajahnya.
“Habis dari cafe, Ken?”
Indah menyapa Kenan.
Mendengar sapaan
istrinya, Kenan mendongakkan wajahnya dan menemukan wajah Indah yang tak kalah
lelah dari dirinya. “Ia.” Jawabnya singkat.
Kenan melangkah gontai
melewati Indah berjalan menuju kamar. Ia tidak mengatakan suatu apapun.
Sejujurnya ia merindukan istrinya. Beberapa hari ini pikiran istrinya sangat
terfokus pada penyelesaian skripsi sehingga mengabaikan kehadirannya. Namun,
agaknya Indah tidak cukup peka dengan perasaan Kenan.
Kenan memasuki kamar
dan segera mengambil handuk juga pakaian ganti menuju kamar mandi. Sepuluh
menit kemudian ia telah selasai membersihkan diri. Ia menuju saklar lampu dan
menyalakan lampu tidur. Sekarang ruangan kamar temaram karena hanya diterangi
oleh sebuah lampu tidur.
Kenan didera rasa
lelah. Sepanjang siang hari, kegiatannya dipenuhi dengan perkuliahan, sore hari
ada praktikum, dan malam hari ia bekerja di cafe.
__ADS_1
Di balik kelelahan yang
ia rasakan, ia sangat bersyukur karena bisa melaluinya dengan baik, tanpa
saling bertabrakan. Bahkan kini cafenya semakin ramai karena makin terkenal.
Tidak hanya anak muda yang berkunjung ke sana. Anak-anak pun senang berada di
sana karena dekorasi unik yang mengusung tema dari Film Harry Potter.
Kenan membaringkan
tubuhnya di ranjang. Busa empuk yang menyangga tubuhnya membuatnya mulai
diserang rasa kantuk.
“Sudah tidur Bi?”
Tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkannya. Membuatnya kembali lagi ketika ia
hampir saja masuk ke alam mimpi.
“Ehm belum.” Jawab
Kenan. Ia bangkit dan menarik tubuhnya, menyandarkan punggungnya di kepala
ranjang. “Kamu sudah selesai?” Tanyanya.
“Belum selesai sih.
Tapi aku ngantuk. Bisa diteruskan besok.” Indah mendudukkan pantatnya di tepi
ranjang. Ia menatap Kenan seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Ada apa?” Kenan sadar,
tatapan mata Indah menyiratkan keingintahuan tentang sesuatu.
“Kamu sudah cerita ke
Mas Danu tentang kita?” Tanya Indah dengan tatapan datar.
Kenan menjawabnya
dengan anggukan kepala. Lalu ia memberi isyarat dengan gerakan kepala agar
Indah mendekat ke arahnya.
tubuhnya sehingga kini ikut menyandar di kepala ranjang. Tangan Kenan beralih
merangkul bahu istrinya.
“Kenapa?” Kata Indah
lagi.
“Aku tidak ingin mas
Danu masih berharap sama kamu. Aku ini laki-laki, bisa melihat cara mas Danu
memandang kamu, memuja.”
“Masa begitu?” Indah
heran dengan pandangan Kenan yang peka.
“Iyalah. Kamu nggak
ngerasa aja. Sebagai seorang suami juga aku nggak mau kamu didekati pria lain.
Kamu milikku, sayang.” Kenan mengeratkan pelukannya.
Indah mendongakkan
kepalanya, tangannya bergerilya membelai rahang Kenan yang baru saja dicukur.
“Mas Danu bilang apa?”
Kenan mencubit ujung
hidung Indah dengan ibu jari dan telunjuknya. “Kamu nggak nanya sama dia tadi,
nanyain ngomong apa aja ke aku.”
“Ya enggaklah. Mana aku
berani, Bi. Setiap menghadap dia kayak mau ada razia polisi rasanya. Suasananya
tegang. Sampai aku nahan pipis.”
Kenan terkekah geli
mendengar penuturan istrinya. “Dia bilang, apa kamu dan aku saling mencintai.
__ADS_1
Aku jawab iya. Ia turut bahagia dengan pernikahan kita dan berharap agar kita
bahagia.”
“Oh gitu.”
“Oh gitu doang? Nggak
ada komen apa gitu? Kamu keberatan karena aku menceritakannya terlebih dahulu?
Atau kamu punya rasa sama dia?” Alis Kenan naik dan hampir bertaut.
Dengan gemas Indah
mencubit perut Kenan. “Apaan sih? Enggaklah. Aku ini cintanya sama kamu. Aku
malah senang kamu lebih dulu bercerita kepada mas Danu. Aku nggak yakin, apa
aku bisa menjelaskan kepadanya.”
“Awas ya, main
cubit-cubit. Nanti yang di bawah ini ngamuk lho. Kamu bakal kewalahan kalau dia
ngamuk, sayang. Ditambah lagi aku senang kamu ngomong cinta-cinta begitu sama
aku.” Kenan mengusap punggung Indah dengan rasa sayang.
“Dasar mesum.” Indah
mencebik kesal. Ia melapaskan diri dari pelukan Kenan.
“Jangan menjauh dong
sayang. Aku kangen. Beberapa hari ini kamu melupakan aku.” Kenan kembali
menarik Indah ke dalam pelukannya. Kini kepala Indah bersandar pada dada
bidangnya.
Indah meringis
mendengar protes dari Kenan. “Maaf ya. Agak lupa aku sama keberadaan kamu, Bi.
Habisnya kepalaku isinya penuh sama jadwal konsultasi dan revisi skripsi.”
“Asal jangan
mengingat-ingat Mas Danu juga ya. Cukup skripsinya yang diingat. Kamu ini, suami
ganteng begini aja dilupakan. Aku ini makhluk langka lho. Jangan dicuekin dong.
Nanti disambar orang.” Tangan Kenan mengambil helaian rambut Indah dan
memainkannya.
“His, kamu mau
macem-macem ya?” Indah kembali mencubit perut Kenan kali ini dengan lebih
keras. “Aku potong pisang kamu jadi empat kalau kamu macem-macem.”
“Ih, sadis.” Kenan
bergidik. Lalu mengusap perutnya yang terasa sakit karena cubitan Indah. “Cium
aja dong sayang, jangan cubit-cubit gitu.”
“Nanti yang di bawah
ngamuk, kata kamu tadi.”
“Hehe... kamu mau lihat
nggak, kalau ngamuk dia segede apa?” Tanya Kenan dengan nada menggoda.
“Harus dibahas ya, yang
begituan?” Indah membulatkan matanya. Ia memang belum pernah melihat aset
berharga milik Kenan itu. Setelah kejadian ena-ena yang gagal tempo hari,
mereka tidak lagi mengulanginya. Kegiatannya hanya terbatas mencium, mengendus
dan menjilat , seperti kucing yah. Kenan tidak ingin menyakiti Indah karena
ketidaksiapan istrinya. Walaupun efeknya, berapa kali Kenan harus menenangkan
diri di dalam kamar mandi.
Lalu mereka mulai
saling mengeratkan pelukan dan menautkan bibir serta lidah.
__ADS_1