THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
47. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

Author POV


Indah masih betah


berada di ruang kerja. Hasil dari konsultasi dengan dua dosen beberapa hari


yang lalu menyebabkannya berkutat dengan kertas – kertas di ruang kerja. Kesibukan


yang luar biasa ini menyebabkan komunikasinya dengan Kenan sedikit terbatas.


Apalagi Kenan lebih banyak pulang di malam hari. Otomatis mereka berdua bertemu


hanya ketika saat berada di tempat tidur. Itu pun dalam kondisi salah satu


telah tertidur, entah Indah atau Kenan terlebih dahulu.


Arloji di tangan kanan


Indah telah menunjukkan pukul 10 malam. Belum ada tanda-tanda ia akan


menyelesaikan pekerjaannya sebentar lagi. Makan malam pun diantarkan ke ruang


kerja oleh Bik Janet. Jika saja Bik Janet tidak perhatian, tentu Indah akan


melewatkan makan malamnya.


Indah bertekad akan


menyelesaikan skripsinya ini secepat mungkin. Ia sangat fokus mengerjakannya.


Mata kuliah yang ia ulang pun telah selesai diikuti. Pekerjaan paruh waktunya


yaitu memberi les privat kepada anak-anak pun telah dihentikannya karena tidak


mau terganggu.  Dengan demikian hanya ada


kata skripsi di otaknya saat ini. Bahkan keberadaan suaminya pun tergeser dengan


tumpukan kertas.


Beberapa hari ini


bahkan Indah lupa untuk lebih dahulu menyapa Kenan melalui telepon. Kalau saja


Kenan tidak menghubunginya terlebih dahulu, ia tidak akan berinisiatif


mengubungi suaminya. Ternyata Indah parah kalau sudah fokus dengan sesuatu.


Menjelang pukul sebelas


Indah mendengar derap langkah menaiki tangga. Ia menghentikan aktivitasnya


sejenak dan keluar dari ruangan. Ia melihat Kenan yang melangkahkan kaki


menaiki tangga dengan langkah gontai. Terlihat sekali kelelahan terpancar dari


wajahnya.


“Habis dari cafe, Ken?”


Indah menyapa Kenan.


Mendengar sapaan


istrinya, Kenan mendongakkan wajahnya dan menemukan wajah Indah yang tak kalah


lelah dari dirinya. “Ia.” Jawabnya singkat.


Kenan melangkah gontai


melewati Indah berjalan menuju kamar. Ia tidak mengatakan suatu apapun.


Sejujurnya ia merindukan istrinya. Beberapa hari ini pikiran istrinya sangat


terfokus pada penyelesaian skripsi sehingga mengabaikan kehadirannya. Namun,


agaknya Indah tidak cukup peka dengan perasaan Kenan.


Kenan memasuki kamar


dan segera mengambil handuk juga pakaian ganti menuju kamar mandi. Sepuluh


menit kemudian ia telah selasai membersihkan diri. Ia menuju saklar lampu dan


menyalakan lampu tidur. Sekarang ruangan kamar temaram karena hanya diterangi


oleh sebuah lampu tidur.


Kenan didera rasa


lelah. Sepanjang siang hari, kegiatannya dipenuhi dengan perkuliahan, sore hari


ada praktikum, dan malam hari ia bekerja di cafe.

__ADS_1


Di balik kelelahan yang


ia rasakan, ia sangat bersyukur karena bisa melaluinya dengan baik, tanpa


saling bertabrakan. Bahkan kini cafenya semakin ramai karena makin terkenal.


Tidak hanya anak muda yang berkunjung ke sana. Anak-anak pun senang berada di


sana karena dekorasi unik yang mengusung tema dari Film Harry Potter.


Kenan membaringkan


tubuhnya di ranjang. Busa empuk yang menyangga tubuhnya membuatnya mulai


diserang rasa kantuk.


“Sudah tidur Bi?”


Tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkannya. Membuatnya kembali lagi ketika ia


hampir saja masuk ke alam mimpi.


“Ehm belum.” Jawab


Kenan. Ia bangkit dan menarik tubuhnya, menyandarkan punggungnya di kepala


ranjang. “Kamu sudah selesai?” Tanyanya.


“Belum selesai sih.


Tapi aku ngantuk. Bisa diteruskan besok.” Indah mendudukkan pantatnya di tepi


ranjang. Ia menatap Kenan seperti hendak mengatakan sesuatu.


“Ada apa?” Kenan sadar,


tatapan mata Indah menyiratkan keingintahuan tentang sesuatu.


“Kamu sudah cerita ke


Mas Danu tentang kita?” Tanya Indah dengan tatapan datar.


Kenan menjawabnya


dengan anggukan kepala. Lalu ia memberi isyarat dengan gerakan kepala agar


Indah mendekat ke arahnya.


tubuhnya sehingga kini ikut menyandar di kepala ranjang. Tangan Kenan beralih


merangkul bahu istrinya.


“Kenapa?” Kata Indah


lagi.


“Aku tidak ingin mas


Danu masih berharap sama kamu. Aku ini laki-laki, bisa melihat cara mas Danu


memandang kamu, memuja.”


“Masa begitu?” Indah


heran dengan pandangan Kenan yang peka.


“Iyalah. Kamu nggak


ngerasa aja. Sebagai seorang suami juga aku nggak mau kamu didekati pria lain.


Kamu milikku, sayang.” Kenan mengeratkan pelukannya.


Indah mendongakkan


kepalanya, tangannya bergerilya membelai rahang Kenan yang baru saja dicukur.


“Mas Danu bilang apa?”


Kenan mencubit ujung


hidung Indah dengan ibu jari dan telunjuknya. “Kamu nggak nanya sama dia tadi,


nanyain ngomong apa aja ke aku.”


“Ya enggaklah. Mana aku


berani, Bi. Setiap menghadap dia kayak mau ada razia polisi rasanya. Suasananya


tegang. Sampai aku nahan pipis.”


Kenan terkekah geli


mendengar penuturan istrinya. “Dia bilang, apa kamu dan aku saling mencintai.

__ADS_1


Aku jawab iya. Ia turut bahagia dengan pernikahan kita dan berharap agar kita


bahagia.”


“Oh gitu.”


“Oh gitu doang? Nggak


ada komen apa gitu? Kamu keberatan karena aku menceritakannya terlebih dahulu?


Atau kamu punya rasa sama dia?” Alis Kenan naik dan hampir bertaut.


Dengan gemas Indah


mencubit perut Kenan. “Apaan sih? Enggaklah. Aku ini cintanya sama kamu. Aku


malah senang kamu lebih dulu bercerita kepada mas Danu. Aku nggak yakin, apa


aku bisa menjelaskan kepadanya.”


“Awas ya, main


cubit-cubit. Nanti yang di bawah ini ngamuk lho. Kamu bakal kewalahan kalau dia


ngamuk, sayang. Ditambah lagi aku senang kamu ngomong cinta-cinta begitu sama


aku.” Kenan mengusap punggung Indah dengan rasa sayang.


“Dasar mesum.” Indah


mencebik kesal. Ia melapaskan diri dari pelukan Kenan.


“Jangan menjauh dong


sayang. Aku kangen. Beberapa hari ini kamu melupakan aku.” Kenan kembali


menarik Indah ke dalam pelukannya. Kini kepala Indah bersandar pada dada


bidangnya.


Indah meringis


mendengar protes dari Kenan. “Maaf ya. Agak lupa aku sama keberadaan kamu, Bi.


Habisnya kepalaku isinya penuh sama jadwal konsultasi dan revisi skripsi.”


“Asal jangan


mengingat-ingat Mas Danu juga ya. Cukup skripsinya yang diingat. Kamu ini, suami


ganteng begini aja dilupakan. Aku ini makhluk langka lho. Jangan dicuekin dong.


Nanti disambar orang.” Tangan Kenan mengambil helaian rambut Indah dan


memainkannya.


“His, kamu mau


macem-macem ya?” Indah kembali mencubit perut Kenan kali ini dengan lebih


keras. “Aku potong pisang kamu jadi empat kalau kamu macem-macem.”


“Ih, sadis.” Kenan


bergidik. Lalu mengusap perutnya yang terasa sakit karena cubitan Indah. “Cium


aja dong sayang, jangan cubit-cubit gitu.”


“Nanti yang di bawah


ngamuk, kata kamu tadi.”


“Hehe... kamu mau lihat


nggak, kalau ngamuk dia segede apa?” Tanya Kenan dengan nada menggoda.


“Harus dibahas ya, yang


begituan?” Indah membulatkan matanya. Ia memang belum pernah melihat aset


berharga milik Kenan itu. Setelah kejadian ena-ena yang gagal tempo hari,


mereka tidak lagi mengulanginya. Kegiatannya hanya terbatas mencium, mengendus


dan menjilat , seperti kucing yah. Kenan tidak ingin menyakiti Indah karena


ketidaksiapan istrinya. Walaupun efeknya, berapa kali Kenan harus menenangkan


diri di dalam kamar mandi.


Lalu mereka mulai


saling mengeratkan pelukan dan menautkan bibir serta lidah.

__ADS_1


__ADS_2