
SELAMAT MEMBACA
Author POV
“Jadi Indah, semuanya
sudah saya acc. Persiapkan diri untuk seminar besok. Semoga lancar.” Kata-kata
Pak Danu, dosen pembimbing Indah menutup sesi konsultasi hari ini. Indah lega
karena materi untuk presentasi besok telah disetujui oleh dosen pemimbingnya.
“Terima kasih mas. Saya
permisi.” Kata Indah berpamitan dari ruangan Danu.
“Sebentar In. Kamu
sudah pindah kostnya?” Sejenak Danu menghentikan Indah yang hanedak beranjak
dari kursinya. Perkataan Danu mengunci Indah di tempat duduknya. Ia menatap ke
arah dosen di depannya. Apakah Danu pernah mampir ke kostnya yang lama,
baru-baru ini? Indah ingat, sejak pernyataan cinta Danu di depan kostnya
beberapa tahun yang lalu, Danu tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kost
Indah.
“Mas Danu pernah ke kostku?”
“Kemarin aku lewat
sana. Terus iseng aja, aku mampir ingin menanyakan kesiapan seminar kamu.
Ternyata kamu sudah tidak tinggal di sana. Teman kamu yang menemuiku. Siapa
itu?”
“Oh, Luthvia, mas.”
Indah merutuki sahabatnya dalam hati. Kenapa juga Upil tidak bercerita
kepadanya mengenai kedatangan Danu.
“Mas, aku sudah pindah,
tak lama setelah ayah dan bunda meninggal.” Indah menghela nafas. Danu masih
menatap lekat ke arahnya. Indah tak tahu, apa yang ada dalam pikiran sang
dosen.
“Pindah ke mana?”
Pertanyaan Danu mengusik Indah. Ia berpikir, apa yang akan terjadi jika ia
memberikan alamat rumahnya yang baru. Jika Danu berani datang ke rumahnya,
tentu saja akan menimbulkan masalah baru baginya dan Kenan. Tetapi ia merasa
tidak enak jika tidak jujur. Bagaimanapun, Indah pernah dekat dengan Danu,
bahkan dekat dengan keluarga Danu. Indah juga berhutang budi terhadap Danu
untuk kejadian di masa lampau. Ia tidak akan sampai hati berbohong kepada Danu.
“Pindah ke Perumahan
Sawit Sari, mas.” Akhirnya Indah berani menyampaikan alamat rumahnya.
“Sawit Sari? Di blok
berapa?” Duh, kenapa Mas Danu jadi bertanya lebih detil seperti ini sih? Batin
Indah.
“Blok I, mas.” Lanjut
Indah. Kaki Indah bergoyang tidak tenang, sementara bibir bawahnya digigit
karena merasa tidak nyaman.
“I berapa?” Danu
kembali mencecar Indah mengenai alamat lengkapnya.
“I 3, mas.” Akhirnya
Indah menyerah dengan memberikan detil alamat rumahnya kepada dosen di
hadapannya. Jelas sekali ia tidak berani mengelak karena saat ini, beliaulah
dosennya. Ia jelas kalah kedudukan dan kalah kuasa.
“Kok aku nggak pernah
lihat ya? Berati kita bertetangga, In. Kamu penghuni yang baru pindah itu? Yang
salah satu penghuninya bawa mobil Honda C*V hitam kan?” Indah terhenyak dengan
__ADS_1
apa yang dikatakan Danu. Ia tidak mengira Danu akan mengetahui sejauh itu.
Apakah Danu tahu tempat ia tinggal sekarang?
“Mas Danu tahu tempat
tinggalku?” Indah ingin tahu.
“Iya. Berarti kita satu
komplek. Lain kali kita bisa berangkat bersama ke kampus.” Danu menegaskan.
Sementara Indah bergetar kaget. Seketika ia merasa tidak ada darah yang
mengalir ke kepalanya. Tangannya menjadi dingin dan sedikit takut dengan apa
yang dipikirkannya. Ia takut jika perkiraannya akan menjadi nyata. Matilah aku
kalau sampai mas Danu datang ke rumah. Apa kata Kenan nanti.
“Mas Danu tinggal di
sana juga? Di blok mana?”
“Kalau kamu I 3, aku I
2.” Jawab Danu dengan santai. Sementara Indah tercekat dengan jawaban Danu.
Berarti mereka bersebelahan rumahnya. Tiba-tiba saja perutnya manjadi mulas
ingin ke toilet. Tanpa menunggu lama, Indah segera berpamitan dari hadapan
Danu. Ia ingin segera berlalu dari hadapan pria itu.
***
Author POV
Bella Ananda, wanita
cantik dengan bola mata keabu-abuan dan berambut lurus sebahu berdiri gelisah
di lorong kampus. Angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ia
berdiri memain-mainkan tas yang berada di tangan kanannya. Sementara satu
kakinya melangkah ke depan, lalu mundur, dan diulang-ulang. Tanpa sengaja Indah
yang berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi menyenggol lengan Bella.
“Eh, maaf. Nggak
sengaja.” Uft, untung saja orang yang ditabraknya dapat menyeimbangkan diri
terkunci.
Ini kan cewek ganjen yang sering nempel-nempel ke Kenan itu yah? Duh,
cantik banget sih anak ini? Bisa luluh lama-lama Kenan kalau ditempel terus
sama ini cewek. Namanya Bella kayaknya. Batin Indah bergejolak.
Oh, Mbak Indah ini yang ketumpahan kopi panas dari gelas Kenan tempo
hari. Tapi Kenan jadi cuek sama aku gara-gara si mbak ini. Dia malah nganter si
mbak ke dokter. Habis itu lupa sama aku. Batin Bella bergemuruh cemburu.
Tak mau berlama-lama
menatap orang yang bisa membuat emosinya naik, Indah segera berlari kecil
menuju kamar mandi, seperti rencana awalnya. Ingat, perutnya masih mulas karena
ucapan dari Pak Danu dosen pembimbingnya.
***
Author POV
“Kenan, dengar dulu.
Jangan pergi. Sebentar saja.” Bella menampilkan wajah yang penuh harapan di
depan Kenan. Agaknya Bella mulai mengerti kelemahan Kenan. Jika ia memasang
wajah minta dikasihani, maka Kenan pasti merasa tidak enak hati untuk menolak
keinginannya.
“Iya, ada perlu apa?”
Kenan menghentikan langkahnya yang dicegat oleh Bella di lorong kampus itu. Ia
memutar tubuhnya menghadap Bella. Mereka berada pada jarak yang cukup dekat.
“Sebenarnya aku nggak
mau bicara di sini. Tapi ini mendesak banget.” Kata Bella lagi.
“Iya, ada apa? Aku
harus cepat nih. Ada janji.”
__ADS_1
“Ken, aku... aku ...
aku sebenarnya ada perasaan sama kamu.” Bella mengungkapkan dengan terbata-bata.
Baru kali ini ia berani mengungkapkan perasaan suka kepada seorang lelaki.
Biasanya pihak lelakilah yang mengejar-ngejarnya. Namun pesona Kenan terlalu
mengganggu hari-harinya. Dan ia merasa sudah cukup berjuang mendekati Kenan
yang terlalu sulit untuk diajak berkomunikasi dan berdekatan. Kenan terlalu
cuek dan pendiam. Itu membuatnya semakin penasaran. Sehingga ia akhirnya
memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak merasa tabu jika
seorang wanita menyampaikan perasaannya terlebih dahulu kepada pria karena
baginya pria dan wanita punya hak yang sama untuk mengungkapkan perasaannya.
Diterima atau ditolak, itu bisa dipikirkan di akhir. Walaupun tampaknya Bella
tidak terlalu berpikir bahwa apa yang ia ungkapkan akan merusak pertemanan
mereka.
Kenan menghela nafas.
Ia memejamkan matanya menenangkan diri. Ia tahu sekali bahwa Bella menaruh hati
kepadanya. Selama ini ia berusaha menghindar karena tidak mau meberikan harapan
kepada Bella. Namun tampaknya Bella tidak dapat membaca sikapnya. Atau mungkin
Bella sengaja menutup mata sehingga ia merasa harus mengungkapkan perasaannya. “Bella,
maaf aku tidak bisa menerima perasaan kamu.”
“Tapi kenapa Kenan? Apa
aku kurang menarik, kurang cantik?” Tanya Bella mencelos. Ia kecewa dengan
jawaban Kenan. Ia pikir daya tariknya ini dapat membuat seorang Kenan Restu
Smith luluh.
“Bella, itu soal
perasaan, tidak bisa dipaksakan. Aku nggak bisa menerima perasaan kamu Bella.
Maaf.”
“Tapi Kenan, aku sudah
menyimpan perasaan ini sejak awal kita bertemu. Apa kamu nggak peka dengan
sikapku? Kamu nggak bisa membuka hati kamu untukku? Aku bisa menunggu, Kenan.”
Bella kembali berjuang mendapatkan hati Kenan.
“Karena aku tahu, aku
nggak pernah ngasih harapan ke kamu, Bella. Justru seharusnya kamu yang peka
dengan sikapku yang nggak pernah ngasih harapan ke kamu. Dan sekarang, aku
nggak bisa membuka hatiku untuk siapapun. Karena hatiku sudah terikat. Aku
nggak bisa Bella. Sekali lagi maaf.”
“Kenan. Kamu tega
banget sama aku.” Bella terisak dan meninggalkan Kenan seorang diri.
Kenan masih berada di
lorong itu, mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Seharusnya ia tidak
perlu melukai Bella jika ia dan Indah lebih dulu jujur memberitahukan kenyataan
bahwa mereka berdua telah menikah. Jika mereka berdua sampai saat ini masih menutupi
kejelasan hubungan mereka di hadapan umum, Kenan yakin akan lebih banyak hati
yang terluka karena kesalahpahaman ini.
Bruk... tiba-tiba saja
sosok wanita yang sangat dikenali Kenan lewat dan menabrak bahu Kenan dari
belakang. Yah, Kenan dapat mengenalinya dari aroma yang menguar dari tubuhnya.
“Senengnya tebar pesona
sama fans di kampus.” Indah berucap sarkas. Ia pun segera berlari menjauhi
Kenan. Ia tidak memperdulikan panggilan Kenan yang mencoba menghentikannya.
Kenapa hari ini berubah mendung? Semesta sedang menusuk-nusuk hatiku.
Tadi pagi Kak Ros, sekarang Bella. Nanti siapa lagi? Batin Indah ingin
menangis.
__ADS_1