THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
32. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


 


Author POV


“Jadi Indah, semuanya


sudah saya acc. Persiapkan diri untuk seminar besok. Semoga lancar.” Kata-kata


Pak Danu, dosen pembimbing Indah menutup sesi konsultasi hari ini. Indah lega


karena materi untuk presentasi besok telah disetujui oleh dosen pemimbingnya.


“Terima kasih mas. Saya


permisi.” Kata Indah berpamitan dari ruangan Danu.


“Sebentar In. Kamu


sudah pindah kostnya?” Sejenak Danu menghentikan Indah yang hanedak beranjak


dari kursinya. Perkataan Danu mengunci Indah di tempat duduknya. Ia menatap ke


arah dosen di depannya. Apakah Danu pernah mampir ke kostnya yang lama,


baru-baru ini? Indah ingat, sejak pernyataan cinta Danu di depan kostnya


beberapa tahun yang lalu, Danu tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kost


Indah.


“Mas Danu pernah ke kostku?”


“Kemarin aku lewat


sana. Terus iseng aja, aku mampir ingin menanyakan kesiapan seminar kamu.


Ternyata kamu sudah tidak tinggal di sana. Teman kamu yang menemuiku. Siapa


itu?”


“Oh, Luthvia, mas.”


Indah merutuki sahabatnya dalam hati. Kenapa juga Upil tidak bercerita


kepadanya mengenai kedatangan Danu.


“Mas, aku sudah pindah,


tak lama setelah ayah dan bunda meninggal.” Indah menghela nafas. Danu masih


menatap lekat ke arahnya. Indah tak tahu, apa yang ada dalam pikiran sang


dosen.


“Pindah ke mana?”


Pertanyaan Danu mengusik Indah. Ia berpikir, apa yang akan terjadi jika ia


memberikan alamat rumahnya yang baru. Jika Danu berani datang ke rumahnya,


tentu saja akan menimbulkan masalah baru baginya dan Kenan. Tetapi ia merasa


tidak enak jika tidak jujur. Bagaimanapun, Indah pernah dekat dengan Danu,


bahkan dekat dengan keluarga Danu. Indah juga berhutang budi terhadap Danu


untuk kejadian di masa lampau. Ia tidak akan sampai hati berbohong kepada Danu.


“Pindah ke Perumahan


Sawit Sari, mas.” Akhirnya Indah berani menyampaikan alamat rumahnya.


“Sawit Sari? Di blok


berapa?” Duh, kenapa Mas Danu jadi bertanya lebih detil seperti ini sih? Batin


Indah.


“Blok I, mas.” Lanjut


Indah. Kaki Indah bergoyang tidak tenang, sementara bibir bawahnya digigit


karena merasa tidak nyaman.


“I berapa?” Danu


kembali mencecar Indah mengenai alamat lengkapnya.


“I 3, mas.” Akhirnya


Indah menyerah dengan memberikan detil alamat rumahnya kepada dosen di


hadapannya. Jelas sekali ia tidak berani mengelak karena saat ini, beliaulah


dosennya. Ia jelas kalah kedudukan dan kalah kuasa.


“Kok aku nggak pernah


lihat ya? Berati kita bertetangga, In. Kamu penghuni yang baru pindah itu? Yang


salah satu penghuninya bawa mobil Honda C*V hitam kan?” Indah terhenyak dengan

__ADS_1


apa yang dikatakan Danu. Ia tidak mengira Danu akan mengetahui sejauh itu.


Apakah Danu tahu tempat ia tinggal sekarang?


“Mas Danu tahu tempat


tinggalku?” Indah ingin tahu.


“Iya. Berarti kita satu


komplek. Lain kali kita bisa berangkat bersama ke kampus.” Danu menegaskan.


Sementara Indah bergetar kaget. Seketika ia merasa tidak ada darah yang


mengalir ke kepalanya. Tangannya menjadi dingin dan sedikit takut dengan apa


yang dipikirkannya. Ia takut jika perkiraannya akan menjadi nyata. Matilah aku


kalau sampai mas Danu datang ke rumah. Apa kata Kenan nanti.


“Mas Danu tinggal di


sana juga? Di blok mana?”


“Kalau kamu I 3, aku I


2.” Jawab Danu dengan santai. Sementara Indah tercekat dengan jawaban Danu.


Berarti mereka bersebelahan rumahnya. Tiba-tiba saja perutnya manjadi mulas


ingin ke toilet. Tanpa menunggu lama, Indah segera berpamitan dari hadapan


Danu. Ia ingin segera berlalu dari hadapan pria itu.


***


Author POV


Bella Ananda, wanita


cantik dengan bola mata keabu-abuan dan berambut lurus sebahu berdiri gelisah


di lorong kampus. Angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ia


berdiri memain-mainkan tas yang berada di tangan kanannya. Sementara satu


kakinya melangkah ke depan, lalu mundur, dan diulang-ulang. Tanpa sengaja Indah


yang berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi menyenggol lengan Bella.


“Eh, maaf. Nggak


sengaja.” Uft, untung saja orang yang ditabraknya dapat menyeimbangkan diri


terkunci.


Ini kan cewek ganjen yang sering nempel-nempel ke Kenan itu yah? Duh,


cantik banget sih anak ini? Bisa luluh lama-lama Kenan kalau ditempel terus


sama ini cewek. Namanya Bella kayaknya. Batin Indah bergejolak.


Oh, Mbak Indah ini yang ketumpahan kopi panas dari gelas Kenan tempo


hari. Tapi Kenan jadi cuek sama aku gara-gara si mbak ini. Dia malah nganter si


mbak ke dokter. Habis itu lupa sama aku. Batin Bella bergemuruh cemburu.


Tak mau berlama-lama


menatap orang yang bisa membuat emosinya naik, Indah segera berlari kecil


menuju kamar mandi, seperti rencana awalnya. Ingat, perutnya masih mulas karena


ucapan dari Pak Danu dosen pembimbingnya.


***


Author POV


“Kenan, dengar dulu.


Jangan pergi. Sebentar saja.” Bella menampilkan wajah yang penuh harapan di


depan Kenan. Agaknya Bella mulai mengerti kelemahan Kenan. Jika ia memasang


wajah minta dikasihani, maka Kenan pasti merasa tidak enak hati untuk menolak


keinginannya.


“Iya, ada perlu apa?”


Kenan menghentikan langkahnya yang dicegat oleh Bella di lorong kampus itu. Ia


memutar tubuhnya menghadap Bella. Mereka berada pada jarak yang cukup dekat.


“Sebenarnya aku nggak


mau bicara di sini. Tapi ini mendesak banget.” Kata Bella lagi.


“Iya, ada apa? Aku


harus cepat nih. Ada janji.”

__ADS_1


“Ken, aku... aku ...


aku sebenarnya ada perasaan sama kamu.” Bella mengungkapkan dengan terbata-bata.


Baru kali ini ia berani mengungkapkan perasaan suka kepada seorang lelaki.


Biasanya pihak lelakilah yang mengejar-ngejarnya. Namun pesona Kenan terlalu


mengganggu hari-harinya. Dan ia merasa sudah cukup berjuang mendekati Kenan


yang terlalu sulit untuk diajak berkomunikasi dan berdekatan. Kenan terlalu


cuek dan pendiam. Itu membuatnya semakin penasaran. Sehingga ia akhirnya


memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak merasa tabu jika


seorang wanita menyampaikan perasaannya terlebih dahulu kepada pria karena


baginya pria dan wanita punya hak yang sama untuk mengungkapkan perasaannya.


Diterima atau ditolak, itu bisa dipikirkan di akhir. Walaupun tampaknya Bella


tidak terlalu berpikir bahwa apa yang ia ungkapkan akan merusak pertemanan


mereka.


Kenan menghela nafas.


Ia memejamkan matanya menenangkan diri. Ia tahu sekali bahwa Bella menaruh hati


kepadanya. Selama ini ia berusaha menghindar karena tidak mau meberikan harapan


kepada Bella. Namun tampaknya Bella tidak dapat membaca sikapnya. Atau mungkin


Bella sengaja menutup mata sehingga ia merasa harus mengungkapkan perasaannya. “Bella,


maaf aku tidak bisa menerima perasaan kamu.”


“Tapi kenapa Kenan? Apa


aku kurang menarik, kurang cantik?” Tanya Bella mencelos. Ia kecewa dengan


jawaban Kenan. Ia pikir daya tariknya ini dapat membuat seorang Kenan Restu


Smith luluh.


“Bella, itu soal


perasaan, tidak bisa dipaksakan. Aku nggak bisa menerima perasaan kamu Bella.


Maaf.”


“Tapi Kenan, aku sudah


menyimpan perasaan ini sejak awal kita bertemu. Apa kamu nggak peka dengan


sikapku? Kamu nggak bisa membuka hati kamu untukku? Aku bisa menunggu, Kenan.”


Bella kembali berjuang mendapatkan hati Kenan.


“Karena aku tahu, aku


nggak pernah ngasih harapan ke kamu, Bella. Justru seharusnya kamu yang peka


dengan sikapku yang nggak pernah ngasih harapan ke kamu. Dan sekarang, aku


nggak bisa membuka hatiku untuk siapapun. Karena hatiku sudah terikat. Aku


nggak bisa Bella. Sekali lagi maaf.”


“Kenan. Kamu tega


banget sama aku.” Bella terisak dan meninggalkan Kenan seorang diri.


Kenan masih berada di


lorong itu, mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Seharusnya ia tidak


perlu melukai Bella jika ia dan Indah lebih dulu jujur memberitahukan kenyataan


bahwa mereka berdua telah menikah. Jika mereka berdua sampai saat ini masih menutupi


kejelasan hubungan mereka di hadapan umum, Kenan yakin akan lebih banyak hati


yang terluka karena kesalahpahaman ini.


Bruk... tiba-tiba saja


sosok wanita yang sangat dikenali Kenan lewat dan menabrak bahu Kenan dari


belakang. Yah, Kenan dapat mengenalinya dari aroma yang menguar dari tubuhnya.


“Senengnya tebar pesona


sama fans di kampus.” Indah berucap sarkas. Ia pun segera berlari menjauhi


Kenan. Ia tidak memperdulikan panggilan Kenan yang mencoba menghentikannya.


Kenapa hari ini berubah mendung? Semesta sedang menusuk-nusuk hatiku.


Tadi pagi Kak Ros, sekarang Bella. Nanti siapa lagi? Batin Indah ingin


menangis.

__ADS_1


__ADS_2