THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
28. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Kenan POV


Aku baru saja selesai


mengikuti praktikum sore. Segera saja kuarahkan langkahku menuju tempat parkir


mobilku. Sore ini aku berencana mengunjungi Hogwarts Cafe dan menyelesaikan


pekerjaanku di sana. Aku masuk ke dalam mobilku. Hari ini cuaca cerah sejak pagi,


tetapi mendadak ikut mendung karena peristiwa kecelakaan kecil di kantin tadi.


Aku yang menumpahkan air panas ke tubuh Indah. Sore ini, ketika keadaan sudah


lebih baik, cuaca kembali cerah seperti tadi pagi. Ini nyata atau hanya


perasaanku saja?


Ketika aku telah


meletakkan pantatku pada posisi yang pas di bangku kemudi, tiba-tiba saja


ponsel yang berada di saku celanaku bergetar. Kuambil ponsel dari saku


celanaku. Kulihat nama Indah di sana. Ia melakukan video call. Tidak biasanya


ia menghubungiku melalui video call. Apa ia tidak percaya bahwa aku sedang di


kampus? Ingatanku kembali pada pembicaraan kami tadi siang yang menunjukkan


ketidaksukaan Indah kepada Bella yang menempel kepadaku. Apa Indah ingin


membuktikan bahwa tidak ada wanita di dekatku?


“Hai Kenan.” Sesosok


wanita cantik tanpa make up terpampang di layar ponselku. Tangannya


menggaruk-garuk kepalanya dan ia sedikit menggigit bibir bawahnya.


“Hai In. Ada apa?” Aku


menangkap lengkungan bibirnya yang siap hendak mengucapkan sesuatu.


“Kamu ingat nggak, aku


taro flash disk yang semalam itu, yang warna pink itu di mana? Aku sudah cari


di ruang kerja nggak ada.” Wajahnya yang cantik itu kini terlihat muram.


Sepertinya ia telah lelah mencari sehingga akhirnya menghubungiku. Satu yang


aku pahami dari Indah sekarang, sifatnya yang sering lupa meletakkan barang.


“Kamu sudah cari di


pouch tempat kamu menyimpan alat tulis?” Tanyaku kemudian. Seingatku ia


memasukkan benda mungil itu ke sana.


“Oh, di sana ya?” Alis


matanya terlihat bergerak-gerak seperti memikirkan sesuatu, “Tapi aku juga


nggak ingat, di mana itu.” Oh God, aku ingin mengacak-acak rambutnya. Tampangnya


sungguh menggemaskan.


“Coba bawa ponselnya ke


ruang kerja.” Kataku dengan sabar. “Sekarang, arahkan kameranya ke rak biru.”


Indah mengarahkan kamera seturut arahanku. Tak lama kemudian terpampang gambar


rak biru yang ada di ruang kerja. “ Kamu arahkah ke atas In, sepertinya kamu

__ADS_1


meletakkan di sana semalam.” Tak lama kemudian terlihatlah sebuah pouch


berwarna cokelat muda, benda yang aku maksudkan tadi.


“Ketemu deh tempat alat


tulisnya.” Kemudian tidak tampak apa-apa di ponselku. Hanya ada suara-suara


berisik. “Ye... sudah ketemu, Kenan. Terima kasih.” Kali ini tampak wajah Indah


di layar ponselku dengan raut wajah yang ceria. “Muach...” Ia mengerucutkan


bibirnya ke arah layar ponsel. Begini deh, Indah berani menggodaku jika aku


tidak ada di dekatnya. Tetapi ketika aku dekat, justru ia tidak akan berani


melakukan itu. Kulihat layar ponsel sudah gelap. Aku pun meletakkan ponselku di


atas dashboard mobil. Kuhidupkan mobil dan melajukan kendaraanku menuju cafe.


Jalan yang aku lalui


sedikit padat, sehingga kendaraanku berjalan merayap untuk sampai ke tempat


tujuan. Rasanya membutuhkan waktu setengah jam lebih lama daripada bisaanya.


Tempat parkir kendaraan di depan cafeku terlihat mulai ramai. Biasanya semakin


malam, semakin banyak orang yang mengunjungi cafeku. Aku menengok jam yang


bertengger di tangan kiriku. Pukul lima lebih dua puluh menit. Pantas saja,


orang-orang sudah mulai berdatangan ke cafe.


Aku memarkirkan


kendaraan di sudut, agar mobil lain tidak terganggu dengan keberadaan mobilku.


Karena hari ini aku berencana akan berada di sini sampai cafe ini tutup. Aku


tergeletak di atas dashboard dan menatap layarnya.


Ternyata, sejak tadi


ponsel ini belum terputus hubungannya dengan Indah. Kini yang tampak di layar


adalah seorang wanita tanpa pakaian, hanya menggunakan pakaian dalam sedang


berada di sana. Astaga, sepertinya Indah lupa mematikan hubungan video call


tadi. Mungkin ponselnya tergeletak di atas tempat tidur kami, sehingga aku


dapat melihat Indah dengan jelas. Kini ia terlihat sedang berdiri di depan


cermin dan memegang kain kasa penutup luka di perutnya. Indah terlihat


memutar-mutar tubuhnya sembari melihat ke arah cermin. Aku sendiri tidak sadar


dengan mulutku yang terbuka sejak tadi dan kini terasa tenggorokanku kering.


Aku bukan lelaki suci


yang tidak pernah melihat wanita tanpa pakaian. Beberapa kali aku nonton blue film


sendiri atau bersama teman-teman priaku. Dalam film itu tentu saja para


wanita berpakaian seadanya atau bahkan tidak menggunakan pakaian sama sekali.


Terus terang aku saat ini seperti melihat film porno dengan pemerannya adalah


orang yang sangat aku kenal. Wanita itu adalah Indah. Dan Indah adalah istriku


yang belum pernah kulihat tubuhnya tanpa pakaian seperti sore ini.


Kualihkan mataku ke


arah luar jendela mobil. Kuhirup udara sebanyak mungkin. Aku melihat kembali ke

__ADS_1


layar ponsel. Kali ini Indah terlihat membuka seluruh pakaian dalamnya. Astaga,


ia telanjang bulat. Aku dapat melihat jelas lekuk tubuhnya tanpa pakaian itu,


walaupun terlihat agak jauh. Kemudian ia mengambil jubah mandi yang tergantung


di pintu kamar , lalu menutup tubuhnya dengan jubah mandi.


Cepat-cepat kumatikan


hubungan telepon. Aku tidak mau kepergok Indah sedang melihatnya dalam keadaan


telanjang. Darahku berdesir, jantungku hendak melompat keluar.  Tubuhku bergejolak menahan perasaan aneh yang


hendak meledak. Wajahku terasa merah dan pisangku bergerak hendak melepaskan


diri dari tempat sempit di sana. Sejenak kutenangkan diriku. Sadar Kenan,


inhale exhale... inhale exhale.... Aku hanya perlu menahan diri. Sekali lagi


....


Setelah perasaanku agak


tenang, kubuka pintu mobil dan berjalan menuju cafe. Kutemui Ferry dan beberapa


karyawan di sana.


“Hallo bos.” Kata Ferry


dari tempat duduknya di dalam kantor kami. Ia melihatku sekilas dan kembali


menekuni pekerjaannya.


“Hallo, Fer.” Jawabku


singkat. Kuhempaskan pantatku di atas kursi kerjaku. Aku harus berkonsentrasi


ke pekerjaanku hari ini. Kucoba untuk menghalau pikiran kotor dan bayangan


Indah dari kepalaku. Namun sulit. Aku menundukkan kepala dan memijat  pelipisku. Sepertinya aku butuh secangkir


cokelat panas dan pelukan hangat.  Aku


rasa ingin cepat pulang dan memeluk istri cantikku malam ini. Astaga, apa pula


yang aku pikirkan ini.


***


Indah POV


Bagaimana cara mandinya


ya, agar perutku tidak terkena air? Kuputar-putar tubuhku di depan cermin


setelah kutanggalkan pakaianku. Luka ini cukup besar, kalau ditutup menggunakan


plastik juga pasti akan terkena air. Baiklah aku mandi di bagian bawah saja.


Untuk bagian atas, cukup dilap saja. Semoga saja lukanya tidak meninggalkan


bekas di kulit tangan dan perutku.


Acara mandi terasa


lebih lama karena aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Waktu menunjukkan


pukul enam sore ketika aku selesai berpakaian. Sementara, sebelum Kenan pulang


lebih baik aku mengerjakan tugasku di bawah ditemani Bik Janet. Aku tidak


nyaman berada di lantai atas seorang diri... horor deh rasanya.


***


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2