
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Kenan POV
Aku baru saja selesai
mengikuti praktikum sore. Segera saja kuarahkan langkahku menuju tempat parkir
mobilku. Sore ini aku berencana mengunjungi Hogwarts Cafe dan menyelesaikan
pekerjaanku di sana. Aku masuk ke dalam mobilku. Hari ini cuaca cerah sejak pagi,
tetapi mendadak ikut mendung karena peristiwa kecelakaan kecil di kantin tadi.
Aku yang menumpahkan air panas ke tubuh Indah. Sore ini, ketika keadaan sudah
lebih baik, cuaca kembali cerah seperti tadi pagi. Ini nyata atau hanya
perasaanku saja?
Ketika aku telah
meletakkan pantatku pada posisi yang pas di bangku kemudi, tiba-tiba saja
ponsel yang berada di saku celanaku bergetar. Kuambil ponsel dari saku
celanaku. Kulihat nama Indah di sana. Ia melakukan video call. Tidak biasanya
ia menghubungiku melalui video call. Apa ia tidak percaya bahwa aku sedang di
kampus? Ingatanku kembali pada pembicaraan kami tadi siang yang menunjukkan
ketidaksukaan Indah kepada Bella yang menempel kepadaku. Apa Indah ingin
membuktikan bahwa tidak ada wanita di dekatku?
“Hai Kenan.” Sesosok
wanita cantik tanpa make up terpampang di layar ponselku. Tangannya
menggaruk-garuk kepalanya dan ia sedikit menggigit bibir bawahnya.
“Hai In. Ada apa?” Aku
menangkap lengkungan bibirnya yang siap hendak mengucapkan sesuatu.
“Kamu ingat nggak, aku
taro flash disk yang semalam itu, yang warna pink itu di mana? Aku sudah cari
di ruang kerja nggak ada.” Wajahnya yang cantik itu kini terlihat muram.
Sepertinya ia telah lelah mencari sehingga akhirnya menghubungiku. Satu yang
aku pahami dari Indah sekarang, sifatnya yang sering lupa meletakkan barang.
“Kamu sudah cari di
pouch tempat kamu menyimpan alat tulis?” Tanyaku kemudian. Seingatku ia
memasukkan benda mungil itu ke sana.
“Oh, di sana ya?” Alis
matanya terlihat bergerak-gerak seperti memikirkan sesuatu, “Tapi aku juga
nggak ingat, di mana itu.” Oh God, aku ingin mengacak-acak rambutnya. Tampangnya
sungguh menggemaskan.
“Coba bawa ponselnya ke
ruang kerja.” Kataku dengan sabar. “Sekarang, arahkan kameranya ke rak biru.”
Indah mengarahkan kamera seturut arahanku. Tak lama kemudian terpampang gambar
rak biru yang ada di ruang kerja. “ Kamu arahkah ke atas In, sepertinya kamu
__ADS_1
meletakkan di sana semalam.” Tak lama kemudian terlihatlah sebuah pouch
berwarna cokelat muda, benda yang aku maksudkan tadi.
“Ketemu deh tempat alat
tulisnya.” Kemudian tidak tampak apa-apa di ponselku. Hanya ada suara-suara
berisik. “Ye... sudah ketemu, Kenan. Terima kasih.” Kali ini tampak wajah Indah
di layar ponselku dengan raut wajah yang ceria. “Muach...” Ia mengerucutkan
bibirnya ke arah layar ponsel. Begini deh, Indah berani menggodaku jika aku
tidak ada di dekatnya. Tetapi ketika aku dekat, justru ia tidak akan berani
melakukan itu. Kulihat layar ponsel sudah gelap. Aku pun meletakkan ponselku di
atas dashboard mobil. Kuhidupkan mobil dan melajukan kendaraanku menuju cafe.
Jalan yang aku lalui
sedikit padat, sehingga kendaraanku berjalan merayap untuk sampai ke tempat
tujuan. Rasanya membutuhkan waktu setengah jam lebih lama daripada bisaanya.
Tempat parkir kendaraan di depan cafeku terlihat mulai ramai. Biasanya semakin
malam, semakin banyak orang yang mengunjungi cafeku. Aku menengok jam yang
bertengger di tangan kiriku. Pukul lima lebih dua puluh menit. Pantas saja,
orang-orang sudah mulai berdatangan ke cafe.
Aku memarkirkan
kendaraan di sudut, agar mobil lain tidak terganggu dengan keberadaan mobilku.
Karena hari ini aku berencana akan berada di sini sampai cafe ini tutup. Aku
tergeletak di atas dashboard dan menatap layarnya.
Ternyata, sejak tadi
ponsel ini belum terputus hubungannya dengan Indah. Kini yang tampak di layar
adalah seorang wanita tanpa pakaian, hanya menggunakan pakaian dalam sedang
berada di sana. Astaga, sepertinya Indah lupa mematikan hubungan video call
tadi. Mungkin ponselnya tergeletak di atas tempat tidur kami, sehingga aku
dapat melihat Indah dengan jelas. Kini ia terlihat sedang berdiri di depan
cermin dan memegang kain kasa penutup luka di perutnya. Indah terlihat
memutar-mutar tubuhnya sembari melihat ke arah cermin. Aku sendiri tidak sadar
dengan mulutku yang terbuka sejak tadi dan kini terasa tenggorokanku kering.
Aku bukan lelaki suci
yang tidak pernah melihat wanita tanpa pakaian. Beberapa kali aku nonton blue film
sendiri atau bersama teman-teman priaku. Dalam film itu tentu saja para
wanita berpakaian seadanya atau bahkan tidak menggunakan pakaian sama sekali.
Terus terang aku saat ini seperti melihat film porno dengan pemerannya adalah
orang yang sangat aku kenal. Wanita itu adalah Indah. Dan Indah adalah istriku
yang belum pernah kulihat tubuhnya tanpa pakaian seperti sore ini.
Kualihkan mataku ke
arah luar jendela mobil. Kuhirup udara sebanyak mungkin. Aku melihat kembali ke
__ADS_1
layar ponsel. Kali ini Indah terlihat membuka seluruh pakaian dalamnya. Astaga,
ia telanjang bulat. Aku dapat melihat jelas lekuk tubuhnya tanpa pakaian itu,
walaupun terlihat agak jauh. Kemudian ia mengambil jubah mandi yang tergantung
di pintu kamar , lalu menutup tubuhnya dengan jubah mandi.
Cepat-cepat kumatikan
hubungan telepon. Aku tidak mau kepergok Indah sedang melihatnya dalam keadaan
telanjang. Darahku berdesir, jantungku hendak melompat keluar. Tubuhku bergejolak menahan perasaan aneh yang
hendak meledak. Wajahku terasa merah dan pisangku bergerak hendak melepaskan
diri dari tempat sempit di sana. Sejenak kutenangkan diriku. Sadar Kenan,
inhale exhale... inhale exhale.... Aku hanya perlu menahan diri. Sekali lagi
....
Setelah perasaanku agak
tenang, kubuka pintu mobil dan berjalan menuju cafe. Kutemui Ferry dan beberapa
karyawan di sana.
“Hallo bos.” Kata Ferry
dari tempat duduknya di dalam kantor kami. Ia melihatku sekilas dan kembali
menekuni pekerjaannya.
“Hallo, Fer.” Jawabku
singkat. Kuhempaskan pantatku di atas kursi kerjaku. Aku harus berkonsentrasi
ke pekerjaanku hari ini. Kucoba untuk menghalau pikiran kotor dan bayangan
Indah dari kepalaku. Namun sulit. Aku menundukkan kepala dan memijat pelipisku. Sepertinya aku butuh secangkir
cokelat panas dan pelukan hangat. Aku
rasa ingin cepat pulang dan memeluk istri cantikku malam ini. Astaga, apa pula
yang aku pikirkan ini.
***
Indah POV
Bagaimana cara mandinya
ya, agar perutku tidak terkena air? Kuputar-putar tubuhku di depan cermin
setelah kutanggalkan pakaianku. Luka ini cukup besar, kalau ditutup menggunakan
plastik juga pasti akan terkena air. Baiklah aku mandi di bagian bawah saja.
Untuk bagian atas, cukup dilap saja. Semoga saja lukanya tidak meninggalkan
bekas di kulit tangan dan perutku.
Acara mandi terasa
lebih lama karena aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Waktu menunjukkan
pukul enam sore ketika aku selesai berpakaian. Sementara, sebelum Kenan pulang
lebih baik aku mengerjakan tugasku di bawah ditemani Bik Janet. Aku tidak
nyaman berada di lantai atas seorang diri... horor deh rasanya.
***
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1