
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Di kamar kost Kenan, tampak tiga orang lelaki sendang menghadap layar televisi sembari memegang joystick. Kegiatan bermain play station ini sangat sering dilakukan mereka bertiga. Paling sering dilakukan di tempat Kenan. Alasannya karena tempat parkirnya luas, sehingga tidak masalah jika Adi membawa mobil. Kalau Tino biasanya menumpang di mobil Adi. Takut kehujanan, katanya. Takut ketampanannya luntur. Ah, lebay....
“Di...siapa tuh cewek tadi siang?” Tanya Tino menyelidik.
“Cewek mana?"
"Tadi siang kamu pergi berduaan."
"Kata siapa aku pergi sama cewek?” Adi mengelak.
“Noh... kata Ken.” Tino mendorong kepala Adi dengan jari telunjuknya.
“Uh, tukang ngadu.” Adi mengendus kesal.
“Gara-gara itu juga kan, kamu ninggalin aku di kantin?” Tino bertanya lagi.
“Iya, iya...itu cewek baru dalam tahap pedekate.”
“Teman kita?” Kini Ken merasa perlu bertanya.
“Ye...akhirnya mau tahu juga dia.” Tino menepuk pundak Adi, tapi dengan tatapan ke arah Kenan.
“Iya, teman kita. Nantilah kalau sudah lampu hijau, baru aku kasih tahu. Sabar eperibade.” Adi menanggapi dengan santai.
“Kasih tahu deh, ceweknya Di. Kamu nggak takut apa, kalau kami nggak tahu, tiba-tiba kami nikung kamu dari belakang?” Kata Tino, masih berusaha mengorek keterangan dari Adi.
“Haha... nggak mungkinlah. Kamu kan Mbak Indah mania, kalau Kenan... kayaknya cocok sama Bella.” Kata Adi melirik Kenan.
Kenan melotot mendengar
nama mak lampir itu disebut.
“Benar kan? Kamu bukan tipe orang yang mau menikung sahabat sendiri kan?” Kata
Adi lagi.
Kenan tidak menjawab.
Tapi ia mengendus kesal. Adi tak lagi melanjutkan ejekannya ia beralih kepada
Tino.
“Lha terus, kamu Tin. Kenapa uring-uringan banget? Apalagi hari ini. Kalau kemarin – kemarin pasti karena nggak ketemu Mbak Indah kan? Nah kalau dua hari ini kenapa?” Tanya Adi.
“Yah, masih ada kaitannya dengan Mbak Indah juga sih.” Ia mendengar tentang sesuatu yang menyedihkan, pacarnya mbak Indah selingkuh. Pasti Mbak Indah patah hati kalau dengar berita ini.
“Ha? Mbak Indah lagi. Heran aku. Kamu dikasih apa sama Mbak Indah sampai bisa bucin gini?” Tanya Adi.
“Aku kangen....” Tino duduk merosot di karpet.
“Ya elah... kangen sama pacar orang.” Adi menepuk dahinya dengan punggung tangannya. “Kamu nggak punya
fotonya apa?” Tanya Adi penasaran. Ia tak habis pikir dengan kebucinan
sahabatnya ini.
“Eh iya, aku punya. Nih aku tunjukkan.” Tino terlihat sumringah dan menunjukkan ponselnya.
Kedua sahabatnya yang penasaran segera mendekati Tino.
“Wih...foto apa itu?
Itu jemuran doang.” Adi berdecak sebal. Dikiranya ia akan melihat foto cantik
Mbak Indah. Tapi yang ia temukan malah ini ....
“Eh, ini yang lagi
ngangkat jemuran itu Mbak Indah. Mukanya aja yang ketutupan tiang jemuran.” Tino
berkilah.
“Etdah... gila kamu
Tin. Masa foto badan sebelah kanan aja, nggak kelihatan muka lagi. Kamu simpan
foto begini?” Kata Adi. “Udah berapa
lama kamu simpan foto itu? Dan, kenapa bisa fotonya pas lagi ngangkat jemuran?
Kamu nyatronin kostnya Mbak Indah?”
“Itu foto dari awal
kita kuliah. Aku kan punya akses untuk dekat dengan tempat tinggal Mbak Indah.”
“Wow...pake detektif
kali yak. Tin, kamu nggak sadar apa, kamu dan Mbak Indah itu beda keyakinan.”
__ADS_1
Adi menasihati Tino yang mengerucutkan mulutnya.
“Beda keyakinan
bagaimana maksudmu?” Tino menggeleng tanda tidak mengerti. Mana mungkin dirinya
dan Mbak Indah berbeda keyakinan.
“Ya iyalah. Kamunya
yakin, Mbak Indahnya nggak mungkin yakin. Itu namanya beda keyakinan... hehe.”
Adi terkekeh.
“Dasar, dodol....” Tino
membekap mulut Adi dengan jengkal. Mereka berduapun bergulingan di lantai kamar.
“Lagi pula, sebelum
janur kuning melambai, aku nggak akan menyerah.” Tino yang telah bangkit dari
aksi pergulatan dengan Adi, berkata-kata dengan yakin.
“Janur kuning
melengkung, dodol.” Kata Adi dan Kenan hampir bersamaan. Kemudian Adi dan Kenan
sama-sama menepuk dahi masing-masing dengan tangannya karena prihatin dengan
keabsurdan Tino. Sahabatnya ini ternyata otaknya kurang seprapat ons.
“Sini gantian, giliran
aku.” Tino menggeser Adi dari tempat duduknya. Ia segera mengambil joystick
yang diletakkan oleh Adi. Kini Tino yang bermain melawan Kenan.
“Kalau hubunganmu
dengan Bella bagaimana, Ken?” Adi mulai bertanya dengan temannya yang jarang
bicara ini.
“Kok Bella sih?” Kenan
melotot ke arah Tino.
“Yah kan cewek yang
takut...hehe. Wajah selalu pasang tampang angker begitu, mana ada yang berani
mendekat. Hanya Bella yang berani.” Tino menaikkan satu alisnya.
“Tadi sudah mulai ada
kemajuan, Tin.” Adi menepuk bahu Tino. Ia berniat menggoda Kenan.
“Jangan mulai, Di....”
Kenan memperingati Adi dengan pelototan. Tino tidak tahu kejadian apa yang
menimpa Ken saat Praktikum Fisika tadi siang.
“Kemajuan Tin. Ken
sudah mulai bersentuhan dengan Bella.” Adi terkekeh.
“Catat ya, dia yang
pegang-pegang.” Kenan bergidik geli demi mengingat kejadian tadi siang.
“Hahaha... rejeki itu,
Ken.” Kata Tino.
“KENAAAANNNN... KENNAAAANNN.”
Terdengar suara yang tidak asing dari depan kamar kost Kenan.
“Mak lampir datang.
Gawat.” Kenan terkejut dan sontak berdiri. Bulu kuduknya ikut berdiri mendengar
suara itu. Duh, kayak suara mbak kunti aja, bikin bulu kuduk berdiri. Dasar Kenan.... Sementara kedua sahabatnya juga tampak
kaget melotot ke arah Kenan.
“Panjang umur banget
tuh cewek. Memangnya sering yah dia datang ke sini malam-malam?” Adi menggelengkan
__ADS_1
kepalanya.
“Itulah kenapa aku mengajak
kalian datang malam ini. Dari sikapnya tadi siang, kuduga dia bakal datang
malam ini. Ternya ta benar.” Kenan menyugar rambutnya yang acak-acakan.
“Masuk kamar mandi aja
sana. Nanti aku bilang, Kenan lagi pergi.” Adi menawarkan diri untuk menemui
Indah. Ken pun bergegas bersembunyi di kamar mandi. Adi segera berjalan menuju
pintu dan membukakan pintu.
“Eh, Bella. Cari
Kenan?” sapa Adi. Ia berusaha sopan di depan Bella.
Tatapan mata Bella
menyelidik ke dalam ruangan. Ia menyapu pandangannya ke dalam sudut-sudut kamar
Kenan, mencari keberadaan pria itu. Namun ia hanya melihat Tino yang menatap
tanpa ekspresi kepadanya. “Iya, Kenannya ada?”
Adi menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal, “Kenan baru saja pergi, ke cafe. Katanya ada
pekerjaan mendadak.”
“Oh, tapi nanti malam
dia pulang kan?” Bella tidak patah semangat. Ia mengejar dengan pertanyaan
lagi.
“Iya. Pulang. Ada perlu
apa ya?” Tanya Adi yang mulai khawatir. Jangan-jangan Bella akan mengunggu di
sini sampai Kenan menampakkan batang hidungnya.
“Ini, mau mengantarkan
kue. Tadi aku dapat kiriman paket kue dari orang tuaku. Aku ingat Kenan, jadi
sekalian aja aku antar ke sini. Tolong kasih ke Kenan ya.” Bella mengangsurkan
tas plastik yang bersisi kotak snack kepada Adi.
“Oh, iya. Nanti aku
sampaikan. Terima kasih ya Bella.” Adi mengulurkan tangannya menyambut
pemberian Bella.
“Aku pulang dulu.”
Bella berpamitan.
Yah, Adi ini kalau mau
bohong, pintar sedikit deh. Memangnya Bella tidak lihat sepatunya yang Kenan
pakai tadi masih ada di depan pintu. Terus mobilnya juga masih terparkir di
halaman. Tidak mungkin kan dia ke cafe tidak bawa mobil. Ini kan sudah malam.
Bella menggerutu kesal. Tapi ia juga tidak menemukan sosok Kenan di dalam kamar
sih. Hanya ada Adi dan Tino. Gagal deh ketemu Kenan.
“Rejeki... nggak
mungkin ditolak. Daripada malam-malam kita nyari makanan di luar. Iya nggak?”
Adi menimang-nimang kotak snack yang diterimanya dari Bella tadi.
Kenan yang telah berani
keluar dari dalam kamar mandi berkata ketus, “Makan aja tuh. Tapi cek dulu,
dikasih racun apa enggak.”
“Mana mungkin dikasih racun, Kenan. Yang ada juga
mungkin dikasih obat perangsang... hahaha.” Adi menghindar dari timpukan bantal
__ADS_1
yang dilemparkan Kenan.
🌹🌹🌹🌹🌹