THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
7. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Di kamar kost Kenan, tampak tiga orang lelaki sendang menghadap layar televisi sembari memegang joystick. Kegiatan bermain play station ini sangat sering dilakukan mereka bertiga. Paling sering dilakukan di tempat Kenan. Alasannya karena tempat parkirnya luas, sehingga tidak masalah jika Adi membawa mobil. Kalau Tino biasanya menumpang di mobil Adi. Takut kehujanan, katanya. Takut ketampanannya luntur. Ah, lebay....


“Di...siapa tuh cewek tadi siang?” Tanya Tino menyelidik.


“Cewek mana?"


"Tadi siang kamu pergi berduaan."


"Kata siapa aku pergi sama cewek?” Adi mengelak.


“Noh... kata Ken.” Tino mendorong kepala Adi dengan jari telunjuknya.


“Uh, tukang ngadu.” Adi mengendus kesal.


“Gara-gara itu juga kan, kamu ninggalin aku di kantin?” Tino bertanya lagi.


“Iya, iya...itu cewek baru dalam tahap pedekate.”


“Teman kita?” Kini Ken merasa perlu bertanya.


“Ye...akhirnya mau tahu juga dia.” Tino menepuk pundak Adi, tapi dengan tatapan ke arah Kenan.


“Iya, teman kita. Nantilah kalau sudah lampu hijau, baru aku kasih tahu. Sabar eperibade.” Adi menanggapi dengan santai.


“Kasih tahu deh, ceweknya Di. Kamu nggak takut apa, kalau kami nggak tahu, tiba-tiba kami nikung kamu dari belakang?” Kata Tino, masih berusaha mengorek keterangan dari Adi.


“Haha... nggak mungkinlah. Kamu kan Mbak Indah mania, kalau Kenan... kayaknya cocok sama Bella.” Kata Adi melirik Kenan.


Kenan melotot mendengar


nama mak lampir itu disebut.


“Benar kan? Kamu bukan tipe orang yang mau menikung sahabat sendiri kan?” Kata


Adi lagi.


Kenan tidak menjawab.


Tapi ia mengendus kesal. Adi tak lagi melanjutkan ejekannya ia beralih kepada


Tino.


“Lha terus, kamu Tin. Kenapa uring-uringan banget? Apalagi hari ini. Kalau kemarin – kemarin pasti karena nggak ketemu Mbak Indah kan? Nah kalau dua hari ini kenapa?” Tanya Adi.


“Yah, masih ada kaitannya dengan Mbak Indah juga sih.” Ia mendengar tentang sesuatu yang menyedihkan, pacarnya mbak Indah selingkuh. Pasti Mbak Indah patah hati kalau dengar berita ini.


“Ha? Mbak Indah lagi. Heran aku. Kamu dikasih apa sama Mbak Indah sampai bisa bucin gini?” Tanya Adi.


“Aku kangen....” Tino duduk merosot di karpet.


“Ya elah... kangen sama pacar orang.” Adi menepuk dahinya dengan punggung tangannya. “Kamu nggak punya


fotonya apa?” Tanya Adi penasaran. Ia tak habis pikir dengan kebucinan


sahabatnya ini.


“Eh iya, aku punya. Nih aku tunjukkan.” Tino terlihat sumringah dan menunjukkan ponselnya.


Kedua sahabatnya yang penasaran segera mendekati Tino.


“Wih...foto apa itu?


Itu jemuran doang.” Adi berdecak sebal. Dikiranya ia akan melihat foto cantik


Mbak Indah. Tapi yang ia temukan malah ini ....


“Eh, ini yang lagi


ngangkat jemuran itu Mbak Indah. Mukanya aja yang ketutupan tiang jemuran.” Tino


berkilah.


“Etdah... gila kamu


Tin. Masa foto badan sebelah kanan aja, nggak kelihatan muka lagi. Kamu simpan


foto begini?” Kata Adi.  “Udah berapa


lama kamu simpan foto itu? Dan, kenapa bisa fotonya pas lagi ngangkat jemuran?


Kamu nyatronin kostnya Mbak Indah?”


“Itu foto dari awal


kita kuliah. Aku kan punya akses untuk dekat dengan tempat tinggal Mbak Indah.”


“Wow...pake detektif


kali yak. Tin, kamu nggak sadar apa, kamu dan Mbak Indah itu beda keyakinan.”

__ADS_1


Adi menasihati Tino yang mengerucutkan mulutnya.


“Beda keyakinan


bagaimana maksudmu?” Tino menggeleng tanda tidak mengerti. Mana mungkin dirinya


dan Mbak Indah berbeda keyakinan.


“Ya iyalah. Kamunya


yakin, Mbak Indahnya nggak mungkin yakin. Itu namanya beda keyakinan... hehe.”


Adi terkekeh.


“Dasar, dodol....” Tino


membekap mulut Adi dengan jengkal. Mereka berduapun  bergulingan di lantai kamar.


“Lagi pula, sebelum


janur kuning melambai, aku nggak akan menyerah.” Tino yang telah bangkit dari


aksi pergulatan dengan Adi, berkata-kata dengan yakin.


“Janur kuning


melengkung, dodol.” Kata Adi dan Kenan hampir bersamaan. Kemudian Adi dan Kenan


sama-sama menepuk dahi masing-masing dengan tangannya karena prihatin dengan


keabsurdan Tino. Sahabatnya ini ternyata otaknya kurang seprapat ons.


“Sini gantian, giliran


aku.” Tino menggeser Adi dari tempat duduknya. Ia segera mengambil joystick


yang diletakkan oleh Adi. Kini Tino yang bermain melawan Kenan.


“Kalau hubunganmu


dengan Bella bagaimana, Ken?” Adi mulai bertanya dengan temannya yang jarang


bicara ini.


“Kok Bella sih?” Kenan


melotot ke arah Tino.


“Yah kan cewek yang


takut...hehe. Wajah selalu pasang tampang angker begitu, mana ada yang berani


mendekat. Hanya Bella yang berani.” Tino menaikkan satu alisnya.


“Tadi sudah mulai ada


kemajuan, Tin.” Adi menepuk bahu Tino. Ia berniat menggoda Kenan.


“Jangan mulai, Di....”


Kenan memperingati Adi dengan pelototan. Tino tidak tahu kejadian apa yang


menimpa Ken saat Praktikum Fisika tadi siang.


“Kemajuan Tin. Ken


sudah mulai bersentuhan dengan Bella.” Adi terkekeh.


“Catat ya, dia yang


pegang-pegang.” Kenan bergidik geli demi mengingat kejadian tadi siang.


“Hahaha... rejeki itu,


Ken.” Kata Tino.


“KENAAAANNNN... KENNAAAANNN.”


Terdengar suara yang tidak asing dari depan kamar kost Kenan.


“Mak lampir datang.


Gawat.” Kenan terkejut dan sontak berdiri. Bulu kuduknya ikut berdiri mendengar


suara itu. Duh, kayak suara mbak kunti aja, bikin bulu kuduk berdiri. Dasar Kenan....  Sementara kedua sahabatnya juga tampak


kaget melotot ke arah Kenan.


“Panjang umur banget


tuh cewek. Memangnya sering yah dia datang ke sini malam-malam?” Adi menggelengkan

__ADS_1


kepalanya.


“Itulah kenapa aku mengajak


kalian datang malam ini. Dari sikapnya tadi siang, kuduga dia bakal datang


malam ini. Ternya ta benar.” Kenan menyugar rambutnya yang acak-acakan.


“Masuk kamar mandi aja


sana. Nanti aku bilang, Kenan lagi pergi.” Adi menawarkan diri untuk menemui


Indah. Ken pun bergegas bersembunyi di kamar mandi. Adi segera berjalan menuju


pintu dan membukakan pintu.


“Eh, Bella. Cari


Kenan?” sapa Adi. Ia berusaha sopan di depan Bella.


Tatapan mata Bella


menyelidik ke dalam ruangan. Ia menyapu pandangannya ke dalam sudut-sudut kamar


Kenan, mencari keberadaan pria itu. Namun ia hanya melihat Tino yang menatap


tanpa ekspresi kepadanya. “Iya, Kenannya ada?”


Adi menggaruk-garuk


kepalanya yang tidak gatal, “Kenan baru saja pergi, ke cafe. Katanya ada


pekerjaan mendadak.”


“Oh, tapi nanti malam


dia pulang kan?” Bella tidak patah semangat. Ia mengejar dengan pertanyaan


lagi.


“Iya. Pulang. Ada perlu


apa ya?” Tanya Adi yang mulai khawatir. Jangan-jangan Bella akan mengunggu di


sini sampai Kenan menampakkan batang hidungnya.


“Ini, mau mengantarkan


kue. Tadi aku dapat kiriman paket kue dari orang tuaku. Aku ingat Kenan, jadi


sekalian aja aku antar ke sini. Tolong kasih ke Kenan ya.” Bella mengangsurkan


tas plastik yang bersisi kotak snack kepada Adi.


“Oh, iya. Nanti aku


sampaikan. Terima kasih ya Bella.” Adi mengulurkan tangannya menyambut


pemberian Bella.


“Aku pulang dulu.”


Bella berpamitan.


Yah, Adi ini kalau mau


bohong, pintar sedikit deh. Memangnya Bella tidak lihat sepatunya yang Kenan


pakai tadi masih ada di depan pintu. Terus mobilnya juga masih terparkir di


halaman. Tidak mungkin kan dia ke cafe tidak bawa mobil. Ini kan sudah malam.


Bella menggerutu kesal. Tapi ia juga tidak menemukan sosok Kenan di dalam kamar


sih. Hanya ada Adi dan Tino. Gagal deh ketemu Kenan.


“Rejeki... nggak


mungkin ditolak. Daripada malam-malam kita nyari makanan di luar. Iya nggak?”


Adi menimang-nimang kotak snack yang diterimanya dari Bella tadi.


Kenan yang telah berani


keluar dari dalam kamar mandi berkata ketus, “Makan aja tuh. Tapi cek dulu,


dikasih racun apa enggak.”


“Mana mungkin dikasih racun, Kenan. Yang ada juga


mungkin dikasih obat perangsang... hahaha.” Adi menghindar dari timpukan bantal

__ADS_1


yang dilemparkan Kenan.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2