
🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺
Indah POV :
Hari ini kami berangkat ke tempat KKN. Beruntung aku mendapatkan lokasi yang tidak terlalu jauh. Sekitar satu jam perjalanan dari universitas kami. Aku telah bergabung dengan teman-temanku yang akan bertugas di kecamatan yang sama. Kami semua berkumpul di gedung rektorat untuk mengikuti acara pelepasan. Kami berasal dari berbagai fakultas dan jurusan.
Setelah acara seremoni berakhir, aku mengikuti teman-temanku yang akan menuju ke kecamatan yang sama. Ada beberapa bus yang telah disiapkan. Khusus untuk kecamatan yang aku tuju, ada dua bus berukuran berukuran medium yang akan menghantarkan kami. Di kecamatan yang aku tuju ada enam desa yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa. Jalan menuju lokasi tidak terlalu lebar sehingga panitia tidak menyiapkan bus besar untuk kami.
Aku bersiap memasuki bus bersama Lena, temanku satu kelompok yang akan menjadi teman sebangkuku di dalam perjalanan. Namun tanganku ditarik oleh seseorang. Orang itu adalah Ben.
“Sayang, aku mau perpisahan sebentar sama kamu.” Ben mendekatkan wajahnya ke telingaku. Ia membisikkan sesuatu. “Give me a kiss.”
“Ben, ini tempat umum.” Kataku menolak permintaannya. Lagi pula aku bukan orang yang akan gampang memberikan ciumanku kepada lelaki ini sekalipun ia pacarku. Walaupun aku adalah orang yang senang bermanja-manja, tetapi untuk sebuah ciuman, cukup hanya untuk momen spesial. Menurut hitunganku, tidak lebih dari tiga kali kami melakukannya dalam setahun ini, yaitu saat ulang tahunnya, saat aku berulang tahun, dan saat pertama kali kami jadian.
“Ok. Aku mau dipeluk kalau begitu.” Ucapnya dengan lebih berkompromi.
Kemudian kupeluk Ben. Aku merasa ini momen perpisahan yang sedikit mengharukan. Kami akan bertemu kembali setelah dua bulan lagi. Maka kueratkan pelukanku. Aku tidak perduli dengan tatapan beberapa pasang mata ke arah kami. Pelukan hal yang biasa bukan? Ini bukan ciuman lho.
“Cie, romantisnya. Seperti mau ditinggal ke luar negeri aja.” Tiba-tiba Upil yang satu lokasi KKN dengan Ben berucap di samping kami.
“Eh...kamu Pil. Pil, aku titip my big beibie ya.” Kataku dengan kedipan mata ke arah Upil. Aku mengurai pelukan dari Ben.
“Hei, ngapain kamu nitipin aku? Aku sudah besar, sayang.”
“Haha...kali aja kamu nakal, beb.” Kataku lagi.
“Jangan khawatir, Nem. Serahkan semuanya kepadaku.” Kata Upil dengan mengacungkan jempolnya ke depan wajahku.
Aku juga teringat dengan dua orang temanku yang lain, Tengklik dan Arif. Mataku menyapu pandangan ke mahasiswa-mahasiswa dengan jaket almamater berwarna krem itu. Tapi tidak kulihat mereka di antara kerumunan mahasiswa itu. Ah, mungkin saja mereka telah berada di dalam bus.
Lena menggandeng tanganku, mengajakku masuk ke dalam bus. Di dalam bus telah dipenuhi dengan beberapa mahasiswa yang lain. Aku menyapa sebagian dari mereka. Tentu saja yang aku ingat namanya ketika berkenalan beberapa hari yang lalu. Kulihat mereka sibuk dengan percakapan masing-masing dengan teman sebangkunya, sama sepertiku yang mulai beradaptasi dengan teman sebangkuku, Lena.
***
Seminggu sudah Indah mengikuti KKN yang merupakan program wajib bagi para mahasiswa tingkat empat.
Hubungan Indah dengan teman-temannya semakin akrab. Tidak ada kesulitan dalam hal berkomunikasi. Indah tinggal dengan delapan orang temannya di sebuah rumah yang terletak di samping rumah bapak Kepala Desa yang bernama Pak Joko. Rumah itu mempunyai empat kamar. Jadi mereka bersembilan berbagi kamar.
Indah berbagi kamar dengan Lena, sedangkan Sinta dengan Widuri. Dua kamar yang lain dipakai oleh lima orang lelaki yang ada di dalam kelompok mereka. Beruntung kelompok ini cukup kompak. Mereka berbagi tugas rumah maupun tugas KKN secara bergantian. Juga mereka saling tolong menolong dalam mengerjakan tugas. Tidak ada kesulitan yang berarti selama seminggu ini. Fajar sebagai ketua kelompok sukses memimpin teman-temannya.
Hari Sabtu ini Indah akan memberikan penyuluhan untuk peningkatan gizi keluarga dengan memanfaatkan hasil panen dari pekarangan. Ia bekerja sama dengan Sinta dan Widuri yang memberikan penyuluhan tentang cara memanfaatkan barang tak terpakai menjadi barang-barang yang mempunyai nilai ekonomis. Acara akan dilaksanakan di balai desa. Letaknya tidak jauh dari rumah Kepala Desa. Cukup berjalan kaki selama sepuluh menit.
Pukul sembilan pagi, Indah, Sinta dan Widuri bersiap hendak berangkat. Lena dan Rangga hari ini bertugas berjaga di posko. Sedangkan Fajar, Ridwan, Andi, dan Toni ada acara lain bersama para peternak kambing. Keempat lelaki itu juga telah bersiap.
__ADS_1
“Kalian acaranya di mana?” Tanya Indah kepada Fajar yang telah bersiap untuk berangkat.
“Di dekat kandang kambingnya Pak Seto.” Sahut Fajar.
“Oh ya, semoga sukses yah.” Kata Indah. Ia selalu memberi semangat untuk teman-temannya sebelum berangkat bertugas. Itulah yang membuat teman-temannya menyukai kehadiran Indah. Sikapnya yang selalu riang dan kata-katanya yang selalu memotivasi membuat mereka bersemangat.
Tiba-tiba ponsel di saku celana jeans Indah berbunyi. Indah tampak tertegun melihat layar ponselnya.
***
Indah POV :
Ada apa Bunda menelepon? Biasanya Bunda jarang menelepon. Biasanya Bunda menunggu aku menelepon. Kalau diingat-ingat, baru dua hari yang lalu aku menelepon Bunda. Jadi mungkin ini penting yah. Biar aku angkat dulu.
“Selamat pagi Bunda.”
....
“Lagi mau acara penyuluhan, Bund. Bunda kangen aku? Baru juga dua hari yang lalu dengar suara aku.”
....
“Terus?”
....
....
“Masih lama, Bund. Baru juga seminggu.”
....
“Apa? Perjodohan? Dengan siapa Bund? Bunda ini lho sepertinya aku ini nggak laku apa. Pakai acara dijodohkan.”
....
“Ih Bunda mikirnya gitu deh. Aku mau ditunggu Bunda kalau nikah nanti. Jangan mikir gitu dong Bund. Aku jadi sedih. Bunda itu akan panjang umur. Dan nanti nunggui aku sampai ketemu cucu-cucu Bunda.”
....
“Iya, aku punya Bunda dan ayah. Itu sudah cukup. Lagipula aku masih kuliah. Belum selesai. Nantilah Bund, kalau kuliahku sudah selesai.”
....
__ADS_1
“A...a...pa... dengan Kenan? Lho, Kenan baru semester satu lho Bund.”
....
“Yah nanti deh dipikirnya, nunggu Kenan selesai kuliah dulu. Nunggu Kenan kerja dulu. Nah, terus yang paling penting nunggu Kenan jatuh cinta sama aku. Hehe... Bunda bercanda deh. Bercandanya jangan keterlaluan deh Bund. Bikin aku bingung.”
....
“Iya, pernah ketemu Kenan. Kami satu fakultas.”
....
“Yah, ini pasti dealnya Bunda sama maminya Kenan deh.”
....
“Ah, Bunda. Itu masih lama. Aku berangkat dulu deh Bund. Nanti aku sambung lagi.”
....
“Iya Bund. Selamat pagi. Salam untuk ayah.”
....
Aku mematikan ponselku dan kumasukkan ke dalam saku celana kembali. Kualihkan perhatianku kepada Sinta dan Widuri yang sudah mengungguku.
“Ayo kita berangkat. Sorry yah, Bundaku kalau menelepon lama.”
“Oh, Bunda yang nelepon. Kirain pacar kamu itu. Siapa namanya?”
“Ben... namanya Ben.” Kataku lagi. Aku tersentak ketika Widuri mengingatkan aku. Kapan terakhir kali Ben menelepon? Rasanya sejak berangkat KKN, ia tidak pernah menghubungiku. Menelepon atau mingirimkan pesan lewat WA juga tidak dilakukannya. Tidak biasa-biasanya ia bersikap begini. Duh, kenapa pikiranku jadi beralih kepada Ben ya?
Bunda belum tahu kalau aku sudah punya pacar, yaitu Ben. Mungkin itu yang membuat Bunda terlalu semangat menjodohkan aku. Kalau aku bilang ke Bunda bahwa aku sudah punya pacar, pasti Bunda berubah pikiran. Baiklah Bund, lain kali aku akan bercerita tentang Ben.
Kami bertiga berjalan meninggalkan tempat tinggal kami. Ketika berjalan, aku teringat dengan obrolanku dengan Bunda. Katanya aku dijodohkan dengan Kenan. Kenan itu adiknya Adelia, sahabatku. Aku tidak akrab dengan Ken. Anak kecil yang selalu menjulukiku dengan ‘kakak jelek’. Anak kecil yang kurang ajar. Apa coba yang dipikirkan Bunda dan maminya Ken sampai kepada keinginan untuk menjodohkan aku dengan Ken.
Kalau diingat-ingat, pertemuan kami terakhir kali di kampus, Kenan sudah terlihat sebagai lelaki yang lebih dewasa. Aku lupa kapan terakhir aku melihatnya sebelum dia duduk sebagai mahasiswa. Setiap kali aku mengunjungi Adelia, Ken jarang menunjukkan batang hidungnya. Agaknya sudah cukup lama aku tidak melihatnya. Sewaktu aku bertemu dengannya di kampus, ia jauh lebih matang. Tidak terlihat anak kecil lagi. Bisa dibilang sangat macho dan terlihat menarik. Kalau dibandingkan dengan Ben.... Ah, kenapa pula aku jadi membandingkannya dengan Ben. Wajahku jadi memanas hanya dengan memikirkannya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak ya : like, komen, tip, favorite, atau vote.
Terima kasih.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹