
SELAMAT MEMBACA
Kenan POV
Waktu masih menunjukkan
pukul setengah enam pagi. Ketika aku melirik ke arah jam dinding yang terpaku
di hadapan tempat tidurku. Sinar mentari yang masih malu-malu menerobos melalui
celah-celah tirai kamar kami yang tidak tertutup secara sempurna. Memberikan
sedikit tambahan sinar ke dalam ruang tidur kami yang hanya diterangi sebuah
lampu tidur temaram.
Sebenarnya sejak
setengah jam yang lalu aku sudah terjaga. Kebiasaanku bangun pukul lima pagi
dan dilanjutkan dengan jogging di sekitar area tempat tinggal kami. Tetapi
khusus pagi ini, aku masih ingin berlama-lama di kasur nan empuk ini. Istri
cantikku masih terlelap di pelukanku. Bahkan aku tidak dapat bangun karena
lengan kiriku terkunci di ceruk lehernya.
Sejak mataku terbuka
tadi pagi, aku tak berhenti mengagumi keindahan wajahnya. Lekuk wajahnya yang
sempurna terpatri di pengelihatanku. Aku bersyukur pemandangan indah ini
menyambutku ketika membuka mataku. Wajahnya tampak damai dan tenang di dalam
pelukanku. Mungkin ia merasa nyaman dengan dekapanku. Ini kemajuan yang sangat
besar, setelah beberapa minggu ini kami hidup sebagai suami istri. Dan tidak
terjadi apapun.
Aku merasakan sedikit
gerakan di tubuhnya. Aku rasa ia akan segera terbangun. Sepertinya ia kan
merasa malu jika mendapati dirinya sedang berada di dalam pelukanku. Segera
saja kukatupkan kembali kedua mataku. Berpura-pura tidur kembali, rasanya
pilihan yang tepat.
Selama beberapa detik
aku merasakan geliat tubuhnya. Namun ia masih mempertahankan posisinya seperti
ini. Mungkin ia takut jika memindahkan tanganku yang berada di atas tubuhnya,
otomatis akan membangunkanku. Sedetik dua detik... mungkin lebih dari semenit,
tidak ada lagi pergerakan dari tubuhnya. Aku hanya mengira-ngira, apa yang dia
lakukan. Apakah ia sedang mengagumi wajah tampanku?
Tiba-tiba ada
pergerakan cepat dan cup.... hidungku seperti menyentuh sesuatu yang lembut.
Yah, ia baru saja mencium hidungku. Kenapa di hidung, Indah? Bukan di bibir
atau di pipi? Aku segera membuka mataku, meyakinkan diri akan perkiraanku tadi.
Ketika kubuka mata ini, aku mendapati wajahnya yang tersenyum menatapku. Tidak,
ia tidak malu menatapku setelah perbuatannya tadi. Ia tersenyum sangat cantik.
“Selamat pagi Kenan.” Sapanya dengan cepat. Tapi kenapa wajahku yang terasa
__ADS_1
memanas? Untung saja kulit kecoklatanku ini menutupi perubahan warna wajah,
sehingga aku tidak perlu malu mengakuinya.
Menyadari gerak
cepatnya tadi yang menciumku, aku merasa sangat bahagia. Walaupun hanya
hidungku yang diciumnya. Ini kemajuan beberapa langkah. Mungkin ia sudah mulai
membuka hatinya untuk menerimaku sebagai suaminya. Atau kalau boleh aku lebih
berbesar hati, aku rasa ia sudah mulai jatuh cinta kepadaku. Aku pun tidak
ingin mengakhiri momen seperti ini. Melihat lengkungan senyumannya di
hadapanku, membuatku semakin enggan melepaskan pelukanku. Bahkan kini aku
semakin mengeratkan pelukanku.
Indah merasakan
pelukanku yang mengerat di tubuhnya. Agaknya ia pun menikmatinya. Kalau boleh,
aku ingin lebih berlama-lama lagi merasakannya. Ia menyentuh ujung hidungku
dengan ujung jari telunjukknya. Jari telunjuknya bergerak menuju ke dahiku,
kemudian mengusap alis kananku dengan lembut. “Kita kesiangan, Ken. Sudah
hampir jam enam pagi. Kamu nggak ada waktu untuk jogging lagi. Oh ya, kamu
sudah beli alat olah raga, jadi bisa olah raga di dalam rumah saja. Ayo bangun.
Kamu ada kuliah pagi kan? Aku juga ada kuliah pagi di kampus.” Fix, perkataannya
menghentikan suasana romantis pagi ini. Uh... aku jadi teringat bahwa aku harus
ke kampus.
***
Tidurku cukup lelap
sehingga tidak menyadari ketika suasana kamar kami berbah menjadi sedikit
terang karena sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah di
jendela kamar kami. Ketika aku membuka mataku, kudapati tubuhku yang dipeluk
oleh Kenan. Aroma maskulin menguar membawaku menuju kesadaran.
Aku teringat dengan apa
yang terjadi tadi malam. Ketakutanku yang membuat Kenan melakukan hal ini. Entahlah
apa sebenarnya yang aku dengar tadi malam. Bahkan Kenan tidak mendengar suara
apapun. Benarkah? Apakah memang hanya perasaanku saja? Mengingat suara-suara itu
membuatku sedikit meremang. Aku menjadi semakin takut berada di kamar atas jika
Kenan tidak ada di rumah.
Wajah tampan yang
kecokelatan, hidung mancung, alis tebal, rahang yang tegas, dan jangan lupa
dagu belah serta bibir seksinya menyambutku pagi ini. Aku sangat tergoda untuk
menyentuh bibirnya dan merasakannya. Namun sepertinya tidak untuk pagi ini.
Terlalu cepat bagi kami. Lebih baik kami terbiasa dahulu, baru melangkah ke
arah berikutnya. Tapi sumpah, aku gatal ingin menciumnya.
Astaga, ini hampir jam
__ADS_1
enam pagi. Biasanya ia sudah siap dengan pakaian olahraganya untuk berangkat
jogging. Tetapi pagi ini, ia masih memelukku dengan erat. Apakah kamu merasa
nyaman, tidur berdekatan denganku, suami brondongku?
Hem... Kenan sudah
menydiakan alat olah raga yang diletakkan di samping tempat tidur kami. Area
kosong itu kini telah disulap menjadi ruang olah raga. Selain treadmill dan
sepeda statis, ada beberapa alat yang lain juga di sana seperti *dumbel*l, tali
skipping, pull up bar, dan bahkan ia akan melengkapinya dengan gym ball. Aku
sendiri belum pernah menggunakan gym ball.
Sebelum aku tinggal
bersama Kenan, aku bukan termasuk wanita yang gemar jogging. Olahraga yang kau
ikuti hanya aerobik seminggu dua kali bersama Upil dan Tengklik di tempat
emak-emak aerobik langganan kami. Instrukturnya biasanya mahasiswa jurusan
olahraga dari universitas keguruan jurusan olah raga yang letaknya tidak jauh
dari dari kampusku. Namun beberapa minggu ini aku meninggalkan kebiasaan itu
karena mengikuti Kenan jogging di pagi hari. Lama kelamaan, melihat mbak-mbak
kost di depan rumah yang semakin semangat jogging karena mengikuti kebiasaan
Kenan, aku jadi merasa jengkel. Dia suamiku lho, jangan dikecenging lagi deh.
Beruntungnya aku karena Kenan menyetujui usulku untuk membeli alat-alat oleh
raga sehingga tidak perlu lagi setiap hari jogging di luar. Cukup seminggu
sekali jogging di luar rumah, katanya. Baiklah, aku menurut saja. Tak apalah
sehari mengawal suami jogging di komplek perumahan kami.
Kembali ke wajah tampan
di hadapanku ini. Menggoda sekali untuk disentuh. Akhirnya, kucium ujung
hidungnya dengan cepat. Tak lama kemudian Kenan bereaksi dengan membuka
matanya. Lalu ia semakin mengeratkan pelukannya. Aku masih ingin berlama-lama,
tetapi kami harus kembali kepada realita hari ini. Ada kuliah pagi, jam setengah
delam. Jadi kami harus segera bersiap diri. Aku menyentuh ujung hidung Kenan
dengan ujung jari telunjukku. Jari telunjukku bergerak menuju ke dahi, kemudian
aku mengusap alis kanannya , “Kita kesiangan, Ken. Sudah hampir jam enam pagi.
Kamu nggak ada waktu untuk jogging lagi. Oh ya, kamu sudah beli alat olah raga,
jadi bisa olah raga di dalam rumah saja. Ayo bangun. Kamu ada kuliah pagi kan?
Aku juga ada kuliah pagi di kampus.”
Kenan segera melepaskan
pelukannya. Ia merenggangkan tubuhnya dan beranjak duduk. Kemudian matanya
menatap ke arahku. Sejenak aku terkunci dengan tatapannya yang dalam. Tidak ada
senyum di sana, tapi wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu. “Selamat pagi
Indah.” Aku terkejut dengan kecupannya di pucuk kepalaku. Tanpa menungguku ia
segera beranjak dari kasur dan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong
__ADS_1
di sini. Oh tolong, dadaku kemali berdesir dengan perlakuan manisnya.
***