THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
30. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Waktu masih menunjukkan


pukul setengah enam pagi. Ketika aku melirik ke arah jam dinding yang terpaku


di hadapan tempat tidurku. Sinar mentari yang masih malu-malu menerobos melalui


celah-celah tirai kamar kami yang tidak tertutup secara sempurna. Memberikan


sedikit tambahan sinar ke dalam ruang tidur kami yang hanya diterangi sebuah


lampu tidur temaram.


Sebenarnya sejak


setengah jam yang lalu aku sudah terjaga. Kebiasaanku bangun pukul lima pagi


dan dilanjutkan dengan jogging di sekitar area tempat tinggal kami. Tetapi


khusus pagi ini, aku masih ingin berlama-lama di kasur nan empuk ini. Istri


cantikku masih terlelap di pelukanku. Bahkan aku tidak dapat bangun karena


lengan kiriku terkunci di ceruk lehernya.


Sejak mataku terbuka


tadi pagi, aku tak berhenti mengagumi keindahan wajahnya. Lekuk wajahnya yang


sempurna terpatri di pengelihatanku. Aku bersyukur pemandangan indah ini


menyambutku ketika membuka mataku. Wajahnya tampak damai dan tenang di dalam


pelukanku. Mungkin ia merasa nyaman dengan dekapanku. Ini kemajuan yang sangat


besar, setelah beberapa minggu ini kami hidup sebagai suami istri. Dan tidak


terjadi apapun.


Aku merasakan sedikit


gerakan di tubuhnya. Aku rasa ia akan segera terbangun. Sepertinya ia kan


merasa malu jika mendapati dirinya sedang berada di dalam pelukanku. Segera


saja kukatupkan kembali kedua mataku. Berpura-pura tidur kembali, rasanya


pilihan yang tepat.


Selama beberapa detik


aku merasakan geliat tubuhnya. Namun ia masih mempertahankan posisinya seperti


ini. Mungkin ia takut jika memindahkan tanganku yang berada di atas tubuhnya,


otomatis akan membangunkanku. Sedetik dua detik... mungkin lebih dari semenit,


tidak ada lagi pergerakan dari tubuhnya. Aku hanya mengira-ngira, apa yang dia


lakukan. Apakah ia sedang mengagumi wajah tampanku?


Tiba-tiba ada


pergerakan cepat dan cup.... hidungku seperti menyentuh sesuatu yang lembut.


Yah, ia baru saja mencium hidungku. Kenapa di hidung, Indah? Bukan di bibir


atau di pipi? Aku segera membuka mataku, meyakinkan diri akan perkiraanku tadi.


Ketika kubuka mata ini, aku mendapati wajahnya yang tersenyum menatapku. Tidak,


ia tidak malu menatapku setelah perbuatannya tadi. Ia tersenyum sangat cantik.


“Selamat pagi Kenan.” Sapanya dengan cepat. Tapi kenapa wajahku yang terasa

__ADS_1


memanas? Untung saja kulit kecoklatanku ini menutupi perubahan warna wajah,


sehingga aku tidak perlu malu mengakuinya.


Menyadari gerak


cepatnya tadi yang menciumku, aku merasa sangat bahagia. Walaupun hanya


hidungku yang diciumnya. Ini kemajuan beberapa langkah. Mungkin ia sudah mulai


membuka hatinya untuk menerimaku sebagai suaminya. Atau kalau boleh aku lebih


berbesar hati, aku rasa ia sudah mulai jatuh cinta kepadaku. Aku pun tidak


ingin mengakhiri momen seperti ini. Melihat lengkungan senyumannya di


hadapanku, membuatku semakin enggan melepaskan pelukanku. Bahkan kini aku


semakin mengeratkan pelukanku.


Indah merasakan


pelukanku yang mengerat di tubuhnya. Agaknya ia pun menikmatinya. Kalau boleh,


aku ingin lebih berlama-lama lagi merasakannya. Ia menyentuh ujung hidungku


dengan ujung jari telunjukknya. Jari telunjuknya bergerak menuju ke dahiku,


kemudian mengusap alis kananku dengan lembut. “Kita kesiangan, Ken. Sudah


hampir jam enam pagi. Kamu nggak ada waktu untuk jogging lagi. Oh ya, kamu


sudah beli alat olah raga, jadi bisa olah raga di dalam rumah saja. Ayo bangun.


Kamu ada kuliah pagi kan? Aku juga ada kuliah pagi di kampus.” Fix, perkataannya


menghentikan suasana romantis pagi ini. Uh... aku jadi teringat bahwa aku harus


ke kampus.


***


Tidurku cukup lelap


sehingga tidak menyadari ketika suasana kamar kami berbah menjadi sedikit


terang karena sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah di


jendela kamar kami. Ketika aku membuka mataku, kudapati tubuhku yang dipeluk


oleh Kenan. Aroma maskulin menguar membawaku menuju kesadaran.


Aku teringat dengan apa


yang terjadi tadi malam. Ketakutanku yang membuat Kenan melakukan hal ini. Entahlah


apa sebenarnya yang aku dengar tadi malam. Bahkan Kenan tidak mendengar suara


apapun. Benarkah? Apakah memang hanya perasaanku saja? Mengingat suara-suara itu


membuatku sedikit meremang. Aku menjadi semakin takut berada di kamar atas jika


Kenan tidak ada di rumah.


Wajah tampan yang


kecokelatan, hidung mancung, alis tebal, rahang yang tegas, dan jangan lupa


dagu belah serta bibir seksinya menyambutku pagi ini. Aku sangat tergoda untuk


menyentuh bibirnya dan merasakannya. Namun sepertinya tidak untuk pagi ini.


Terlalu cepat bagi kami. Lebih baik kami terbiasa dahulu, baru melangkah ke


arah berikutnya. Tapi sumpah, aku gatal ingin menciumnya.


Astaga, ini hampir jam

__ADS_1


enam pagi. Biasanya ia sudah siap dengan pakaian olahraganya untuk berangkat


jogging. Tetapi pagi ini, ia masih memelukku dengan erat. Apakah kamu merasa


nyaman, tidur berdekatan denganku, suami brondongku?


Hem... Kenan sudah


menydiakan alat olah raga yang diletakkan di samping tempat tidur kami. Area


kosong itu kini telah disulap menjadi ruang olah raga. Selain treadmill dan


sepeda statis, ada beberapa alat yang lain juga di sana seperti *dumbel*l, tali


skipping, pull up bar, dan bahkan ia akan melengkapinya dengan gym ball. Aku


sendiri belum pernah menggunakan gym ball.


Sebelum aku tinggal


bersama Kenan, aku bukan termasuk wanita yang gemar jogging. Olahraga yang kau


ikuti hanya aerobik seminggu dua kali bersama Upil dan Tengklik di tempat


emak-emak aerobik langganan kami. Instrukturnya biasanya mahasiswa jurusan


olahraga dari universitas keguruan jurusan olah raga yang letaknya tidak jauh


dari dari kampusku. Namun beberapa minggu ini aku meninggalkan kebiasaan itu


karena mengikuti Kenan jogging di pagi hari. Lama kelamaan, melihat mbak-mbak


kost di depan rumah yang semakin semangat jogging karena mengikuti kebiasaan


Kenan, aku jadi merasa jengkel. Dia suamiku lho, jangan dikecenging lagi deh.


Beruntungnya aku karena Kenan menyetujui usulku untuk membeli alat-alat oleh


raga sehingga tidak perlu lagi setiap hari jogging di luar. Cukup seminggu


sekali jogging di luar rumah, katanya. Baiklah, aku menurut saja. Tak apalah


sehari mengawal suami jogging di komplek perumahan kami.


Kembali ke wajah tampan


di hadapanku ini. Menggoda sekali untuk disentuh. Akhirnya, kucium ujung


hidungnya dengan cepat. Tak lama kemudian Kenan bereaksi dengan membuka


matanya. Lalu ia semakin mengeratkan pelukannya. Aku masih ingin berlama-lama,


tetapi kami harus kembali kepada realita hari ini. Ada kuliah pagi, jam setengah


delam. Jadi kami harus segera bersiap diri. Aku menyentuh ujung hidung Kenan


dengan ujung jari telunjukku. Jari telunjukku bergerak menuju ke dahi, kemudian


aku mengusap alis kanannya , “Kita kesiangan, Ken. Sudah hampir jam enam pagi.


Kamu nggak ada waktu untuk jogging lagi. Oh ya, kamu sudah beli alat olah raga,


jadi bisa olah raga di dalam rumah saja. Ayo bangun. Kamu ada kuliah pagi kan?


Aku juga ada kuliah pagi di kampus.”


Kenan segera melepaskan


pelukannya. Ia merenggangkan tubuhnya dan beranjak duduk. Kemudian matanya


menatap ke arahku. Sejenak aku terkunci dengan tatapannya yang dalam. Tidak ada


senyum di sana, tapi wajahnya terlihat ingin mengatakan sesuatu. “Selamat pagi


Indah.” Aku terkejut dengan kecupannya di pucuk kepalaku. Tanpa menungguku ia


segera beranjak dari kasur dan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong

__ADS_1


di sini. Oh tolong, dadaku kemali berdesir dengan perlakuan manisnya.


***


__ADS_2