THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
13. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴


Indah POV :


Setelah kuparkirkan


motorku, aku berjalan hendak ke bagian akademik. Aku ingin


mengecek tentang jadwalku untuk melakukan seminar proposal. Tiba-tiba aku


melihat sosok sahabatku Arif yang berada di lorong. Aku melambaikan tangan ke


arahnya. Kangen rasanya setelah dua bulan tidak bertemu dengannya. Ia menarik


lenganku agar mengikutinya ketika aku telah berada di dekatnya.


“Pelan dong, apaan sih


narik-narik begini? Sakit tahu?” Aku protes karena cengkeraman tangannya di


lenganku terasa sangat kencang. Ia sedikit melonggarkannya dan melepas


tangannya ketika kami telah sampai pada lorong yang sepi.


“Sssttt... kamu putus


sama Ben?” Tanyanya. Matanya melotot tajam ke arahku. Ketika aku tidak segera


menjawab, wajahnya semakin didekatkan ke arahku. “Hei... malah melamun.”


Tadi perasaanku masih


biasa saja. Tetapi mendengar pertanyaan Arif, perasaanku mendadak melow.


Seperti ada beban yang menimpa dadaku. Ini membuatku sesak dan sulit bernafas.


Aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari tubuhku. Tubuhku terasa ringan dan


sedikit melayang. Aku segera tersadar akan rasanya kehilangan. Yah, kehilangan


Ben yang menemaniku selama setahun terakhir ini.


“Hei... tahan. Jangan


menangis.” Arif segera memelukku. Ia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.


Oh sial, air mata ini


tidak dapat aku tahan. Aku pun menumpahkannya menjadi isak tangis. Aku menangis


di pelukan Arif.


“Cep... cep....”


Punggungku diusap hangat oleh sahabatku. Yah, ini yang kubutuhkan sekarang,


sebuah pelukan. Hatiku menjadi sedikit lebih hangat.


Cukup lama aku


menenangkan diri dalam pelukan Arif. Tangisku pun semakin mereda. Sampai sebuah


tangan lain kurasakan mengusap lenganku. Aku melepaskan diri dari pelukan Arif


dan melihat Upil berdiri di dekat kami. Ia kemudian memelukku erat. Kali ini tidak


ada lagi isakan tangis. Aku tersenyum lega.


“Sudah selesai?” Tanya


Upil. Ia terlihat lega karena sunggingan senyum di wajahku.


“Akhirnya berakhir


sudah.” Kataku pelan.


“Waktunya move on.


Kembali ke skripsimu, kawan.” Ia menepuk-nepuk pundakku. Kami bertiga berjalan


beriringan meninggalkan lorong kampus.


***


Indah POV


Setelah mendengar


penjelasan dari bidang akademik tadi, pikiranku semakin kacau. Katanya dosen


pembimbingku tidak bisa melanjutkan bimbingan karena tugas belajar di luar


negeri. Kini yang menggantikan beliau adalah dosen baru yang baru saja


menyelesaikan tugas belajarnya, Danu Prasetyo. Dulu aku biasa memanggilnya mas


Danu.


Mas Danu pernah menjadi


tetanggaku dulu. Kemudian ketika aku SMP, mas Danu dan keluarganya pindah ke

__ADS_1


kota ini karena tugas ayahnya pindah. Sejak itu aku tidak pernah bertemu


dengannya lagi. Sampai ketika aku mulai kuliah di kampus ini, aku bertemu


dengannya lagi. Ternyata ia adalah salah satu dosen muda. Tetapi kemudian


setahun kemudian mas Danu pergi untuk tugas belajar. Kini ia telah kembali lagi


ke sini.


Yang aku khawatirkan


adalah tentang perasaan mas Danu. Ia pernah menyatakan cinta kepadaku sebelum


meninggalkan kampus. Tentu saja aku terkejut. Aku tidak mengira hal itu. Yang


aku tahu, sejak dulu mas Danu selalu baik kepadaku. Sejak jadi tetangga, ia


sering membantuku dalam hal pelajaran sekolah. Mas Danu yang pintar, bisa


membuatku memahami pelajaran-pelajaran yang sulit. Mungkin lebih seperti guru


privat bagiku. Ketika aku menjadi mahasiswa baru, ia pun membantuku untuk


mendapatkan buku-buku acuan untuk kuliah. Tak kusangka sebelum


keberangkatannya, ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Saat itu, ia memaklumi


dengan keterkejutanku. Katanya, ia hanya berusaha menyampaikan perasaannya saja


sebelum berangkat, agar tidak ada lagi rasa yang mengganjal di hatinya. Ia


tidak mempermasalahkan aku akan menerima atau menolaknya.


“Inem, itu soto diaduk


aja dari tadi. Kamu kenapa? Banyak pikiran? Mikir yang tadi? Belum move on dari


mantan?” Tanya Arif yang duduk di sebelahku. Saat ini kami sedang berada di


kantin kampus. Aku makan siang bersama Arif. Aku pesan soto, sedangkan Arif


pesan nasi pecel. Kulihat makanan di piring Arif telah habis setengah sedangkan


punyaku masih utuh. Agaknya soto ini juga sudah dingin karena terlalu lama aku


aduk.


“Bukan mantan, Rif.


Buanglah mantan pada tempatnya. Aku mikir tentang dosen pembimbingku yang kedua


diganti.” Aku menyenggol lengan Arif dengan siku tanganku.


kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Mas Danu.” Kataku


lagi.


“Uhuk....” Arif


tersedak mendengarnya. Ia pun segera meneguk air putih di hadapannya. Aku tahu,


tersedaknya Arif pasti dikarenakan ia kaget mendengar pemberitahuanku. Arif


sudah tahu dengan ceritaku dengan mas Danu.


“Kok ya Pak Kamiso itu


pas banget yah perginya. Pas kamu lagi skripsi, malah pergi. Gantinya malah Mas


Danu.”


“Gimana dong Rif, aku


kan pasti canggung nanti. Mas Danu juga sih, pakai bilang cinta sebelum pergi.


Meninggalkan pe er besar untukku.” Aku menggelendot di lengan Arif.


“Awas, jangan


gelendotan gini dong, gimana aku makannya. Jangan ge er dulu deh, Inem. Itu


beberapa tahun yang lalu. Mana mungkin dia masih memendam perasaan sama kamu.


Kemarin dia kan sibuk kuliah. Nggak sempet juga mikirin kamu. Mikir sekolahnya


aja udah penuh kepalanya. Masa kamu dia pikirin juga sih? Bakal pecah kepalanya


mikirin cewek kayak kamu. Memangnya kamu ada perasaan sama dia?” Tanya Arif


curiga.


“Enggak sih. Jadi nggak


enak kan. Kalau dia nanya jawabanku gimana? Kalau aku nolak gimana? Jangan-jangan


skripsiku nggak kelar-kelar.” Aku menepuk dahiku dengan tangan kananku.


“Udah, nggak usah

__ADS_1


berpikiran buruk begitu. Mas Danu itu orangnya profesional. Mana mungkin dia


mencampur aduk urusan pribadinya dengan urusan pekerjaan. Yakin deh, dia itu


orangnya smart. Kerjakan saja sesuai dengan prosedur. Dia kasih saran apa, kamu


nurut. Terus kerjakan saja sesuai prosedur. Pasti baik hasilnya. Bukannya itu


suatu keuntungan kalau kamu dapat dosen yang punya perasaan sama kamu? Kamu


bakalan dibantu, In.” Kata Arif. Ia menenangkan perasaanku.


“Hem... semoga saja


begitu ya.” Aku menghabiskan semangkuk soto di hadapanku. Kali ini dengan


diam.  Beberapa kali Arif menoleh ke


wajahku. Apa lagi yang dia khawatirkan, pastilah kuah yang sedikit belepotan


keluar dari bibirku. Biasa saja menurutku, tidak banyak. Biasanya juga aku


bersihkan setelah selesai makan. Tapi Arif selalu mengusapnya dengan tissue.


Sok bersih banget sih.


“Jadi bukan karena


mikirin Ben kan?” tanya Arif lagi.


“Ya enggaklah. Sudah


selesai itu. Kan udah nangis tadi. Lagian kan selalu ada kamu, jadinya aku


nggak kesepian.” Aku menyenderkan kepalaku di bahu Arif. Entahlah, aku selalu


merasa nyaman bermanja-manja kepada Arif. Rasanya ia seperti mempunyai kakak


lelaki. Kakak lelaki yang beda ibu bapak hihihi.... Arif pun tidak pernah


keberatan dengan sikapku. Tidak tahu ya kalau nanti dia sudah punya pacar.


Soal pacar Arif, aku


rasa tidak ada mahasiswi di angkatanku yang menjadi incarannya. Bukan karena ia


tidak suka dengan perempuan. Dia itu straight kok, normal seperti lelaki lain.


Hanya saja sepertinya ia punya kriteria khusus, yang aku sendiri belum tahu


seperti apa perempuan incarannya.


“Rif, nanti temenin aku


yok.” Aku menarik narik tangannya. Kami sudah menyelesaikan makan siang kami,


tetapi masih duduk di kantin.


“Ke mana, Inem?”


“Ke perpustakaan Dinas


Pertanian.” Kataku lagi.


“Yang di dekat stadion


itu?” Tanyanya lagi.


“He eh.” Aku


menganggukkan kepala.


“Mendingan pagi deh ke


sananya. Jangan sekarang. Ini sudah kesiangan.”


“Tapi kan belum tutup


kalau jam segini.” Aku melihat ke arah jam tanganku.


“Ngeri aku kalau jam


segini ke sana. Besok aja deh, aku temenin ke sana. Pagi yah.” Arif terlihat


mengendikkan bahunya. Entah apa yang dia pikirkan. Padahal ini masih jam kantor


kenapa dia bilang kesiangan? Ngeri katanya. Ngeri apanya? Itu kan bukan tempat


yang horor. Bukan tempat yang dekat kuburan juga lho. Apa maksudnya coba?


“Kenapa memangnya?” Aku


penasaran dengan jawabannya.


“Ah, kamu nggak akan


ngerti. Pokoknya besok aja. Aku temenin kok.”


“Ok deh. Kamu selalu


jadi best friend aku.” Aku mengamit lengannya. Kami segera meninggalkan kantin.

__ADS_1


***


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2