
🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴
Indah POV :
Setelah kuparkirkan
motorku, aku berjalan hendak ke bagian akademik. Aku ingin
mengecek tentang jadwalku untuk melakukan seminar proposal. Tiba-tiba aku
melihat sosok sahabatku Arif yang berada di lorong. Aku melambaikan tangan ke
arahnya. Kangen rasanya setelah dua bulan tidak bertemu dengannya. Ia menarik
lenganku agar mengikutinya ketika aku telah berada di dekatnya.
“Pelan dong, apaan sih
narik-narik begini? Sakit tahu?” Aku protes karena cengkeraman tangannya di
lenganku terasa sangat kencang. Ia sedikit melonggarkannya dan melepas
tangannya ketika kami telah sampai pada lorong yang sepi.
“Sssttt... kamu putus
sama Ben?” Tanyanya. Matanya melotot tajam ke arahku. Ketika aku tidak segera
menjawab, wajahnya semakin didekatkan ke arahku. “Hei... malah melamun.”
Tadi perasaanku masih
biasa saja. Tetapi mendengar pertanyaan Arif, perasaanku mendadak melow.
Seperti ada beban yang menimpa dadaku. Ini membuatku sesak dan sulit bernafas.
Aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari tubuhku. Tubuhku terasa ringan dan
sedikit melayang. Aku segera tersadar akan rasanya kehilangan. Yah, kehilangan
Ben yang menemaniku selama setahun terakhir ini.
“Hei... tahan. Jangan
menangis.” Arif segera memelukku. Ia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
Oh sial, air mata ini
tidak dapat aku tahan. Aku pun menumpahkannya menjadi isak tangis. Aku menangis
di pelukan Arif.
“Cep... cep....”
Punggungku diusap hangat oleh sahabatku. Yah, ini yang kubutuhkan sekarang,
sebuah pelukan. Hatiku menjadi sedikit lebih hangat.
Cukup lama aku
menenangkan diri dalam pelukan Arif. Tangisku pun semakin mereda. Sampai sebuah
tangan lain kurasakan mengusap lenganku. Aku melepaskan diri dari pelukan Arif
dan melihat Upil berdiri di dekat kami. Ia kemudian memelukku erat. Kali ini tidak
ada lagi isakan tangis. Aku tersenyum lega.
“Sudah selesai?” Tanya
Upil. Ia terlihat lega karena sunggingan senyum di wajahku.
“Akhirnya berakhir
sudah.” Kataku pelan.
“Waktunya move on.
Kembali ke skripsimu, kawan.” Ia menepuk-nepuk pundakku. Kami bertiga berjalan
beriringan meninggalkan lorong kampus.
***
Indah POV
Setelah mendengar
penjelasan dari bidang akademik tadi, pikiranku semakin kacau. Katanya dosen
pembimbingku tidak bisa melanjutkan bimbingan karena tugas belajar di luar
negeri. Kini yang menggantikan beliau adalah dosen baru yang baru saja
menyelesaikan tugas belajarnya, Danu Prasetyo. Dulu aku biasa memanggilnya mas
Danu.
Mas Danu pernah menjadi
tetanggaku dulu. Kemudian ketika aku SMP, mas Danu dan keluarganya pindah ke
__ADS_1
kota ini karena tugas ayahnya pindah. Sejak itu aku tidak pernah bertemu
dengannya lagi. Sampai ketika aku mulai kuliah di kampus ini, aku bertemu
dengannya lagi. Ternyata ia adalah salah satu dosen muda. Tetapi kemudian
setahun kemudian mas Danu pergi untuk tugas belajar. Kini ia telah kembali lagi
ke sini.
Yang aku khawatirkan
adalah tentang perasaan mas Danu. Ia pernah menyatakan cinta kepadaku sebelum
meninggalkan kampus. Tentu saja aku terkejut. Aku tidak mengira hal itu. Yang
aku tahu, sejak dulu mas Danu selalu baik kepadaku. Sejak jadi tetangga, ia
sering membantuku dalam hal pelajaran sekolah. Mas Danu yang pintar, bisa
membuatku memahami pelajaran-pelajaran yang sulit. Mungkin lebih seperti guru
privat bagiku. Ketika aku menjadi mahasiswa baru, ia pun membantuku untuk
mendapatkan buku-buku acuan untuk kuliah. Tak kusangka sebelum
keberangkatannya, ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Saat itu, ia memaklumi
dengan keterkejutanku. Katanya, ia hanya berusaha menyampaikan perasaannya saja
sebelum berangkat, agar tidak ada lagi rasa yang mengganjal di hatinya. Ia
tidak mempermasalahkan aku akan menerima atau menolaknya.
“Inem, itu soto diaduk
aja dari tadi. Kamu kenapa? Banyak pikiran? Mikir yang tadi? Belum move on dari
mantan?” Tanya Arif yang duduk di sebelahku. Saat ini kami sedang berada di
kantin kampus. Aku makan siang bersama Arif. Aku pesan soto, sedangkan Arif
pesan nasi pecel. Kulihat makanan di piring Arif telah habis setengah sedangkan
punyaku masih utuh. Agaknya soto ini juga sudah dingin karena terlalu lama aku
aduk.
“Bukan mantan, Rif.
Buanglah mantan pada tempatnya. Aku mikir tentang dosen pembimbingku yang kedua
diganti.” Aku menyenggol lengan Arif dengan siku tanganku.
kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Mas Danu.” Kataku
lagi.
“Uhuk....” Arif
tersedak mendengarnya. Ia pun segera meneguk air putih di hadapannya. Aku tahu,
tersedaknya Arif pasti dikarenakan ia kaget mendengar pemberitahuanku. Arif
sudah tahu dengan ceritaku dengan mas Danu.
“Kok ya Pak Kamiso itu
pas banget yah perginya. Pas kamu lagi skripsi, malah pergi. Gantinya malah Mas
Danu.”
“Gimana dong Rif, aku
kan pasti canggung nanti. Mas Danu juga sih, pakai bilang cinta sebelum pergi.
Meninggalkan pe er besar untukku.” Aku menggelendot di lengan Arif.
“Awas, jangan
gelendotan gini dong, gimana aku makannya. Jangan ge er dulu deh, Inem. Itu
beberapa tahun yang lalu. Mana mungkin dia masih memendam perasaan sama kamu.
Kemarin dia kan sibuk kuliah. Nggak sempet juga mikirin kamu. Mikir sekolahnya
aja udah penuh kepalanya. Masa kamu dia pikirin juga sih? Bakal pecah kepalanya
mikirin cewek kayak kamu. Memangnya kamu ada perasaan sama dia?” Tanya Arif
curiga.
“Enggak sih. Jadi nggak
enak kan. Kalau dia nanya jawabanku gimana? Kalau aku nolak gimana? Jangan-jangan
skripsiku nggak kelar-kelar.” Aku menepuk dahiku dengan tangan kananku.
“Udah, nggak usah
__ADS_1
berpikiran buruk begitu. Mas Danu itu orangnya profesional. Mana mungkin dia
mencampur aduk urusan pribadinya dengan urusan pekerjaan. Yakin deh, dia itu
orangnya smart. Kerjakan saja sesuai dengan prosedur. Dia kasih saran apa, kamu
nurut. Terus kerjakan saja sesuai prosedur. Pasti baik hasilnya. Bukannya itu
suatu keuntungan kalau kamu dapat dosen yang punya perasaan sama kamu? Kamu
bakalan dibantu, In.” Kata Arif. Ia menenangkan perasaanku.
“Hem... semoga saja
begitu ya.” Aku menghabiskan semangkuk soto di hadapanku. Kali ini dengan
diam. Beberapa kali Arif menoleh ke
wajahku. Apa lagi yang dia khawatirkan, pastilah kuah yang sedikit belepotan
keluar dari bibirku. Biasa saja menurutku, tidak banyak. Biasanya juga aku
bersihkan setelah selesai makan. Tapi Arif selalu mengusapnya dengan tissue.
Sok bersih banget sih.
“Jadi bukan karena
mikirin Ben kan?” tanya Arif lagi.
“Ya enggaklah. Sudah
selesai itu. Kan udah nangis tadi. Lagian kan selalu ada kamu, jadinya aku
nggak kesepian.” Aku menyenderkan kepalaku di bahu Arif. Entahlah, aku selalu
merasa nyaman bermanja-manja kepada Arif. Rasanya ia seperti mempunyai kakak
lelaki. Kakak lelaki yang beda ibu bapak hihihi.... Arif pun tidak pernah
keberatan dengan sikapku. Tidak tahu ya kalau nanti dia sudah punya pacar.
Soal pacar Arif, aku
rasa tidak ada mahasiswi di angkatanku yang menjadi incarannya. Bukan karena ia
tidak suka dengan perempuan. Dia itu straight kok, normal seperti lelaki lain.
Hanya saja sepertinya ia punya kriteria khusus, yang aku sendiri belum tahu
seperti apa perempuan incarannya.
“Rif, nanti temenin aku
yok.” Aku menarik narik tangannya. Kami sudah menyelesaikan makan siang kami,
tetapi masih duduk di kantin.
“Ke mana, Inem?”
“Ke perpustakaan Dinas
Pertanian.” Kataku lagi.
“Yang di dekat stadion
itu?” Tanyanya lagi.
“He eh.” Aku
menganggukkan kepala.
“Mendingan pagi deh ke
sananya. Jangan sekarang. Ini sudah kesiangan.”
“Tapi kan belum tutup
kalau jam segini.” Aku melihat ke arah jam tanganku.
“Ngeri aku kalau jam
segini ke sana. Besok aja deh, aku temenin ke sana. Pagi yah.” Arif terlihat
mengendikkan bahunya. Entah apa yang dia pikirkan. Padahal ini masih jam kantor
kenapa dia bilang kesiangan? Ngeri katanya. Ngeri apanya? Itu kan bukan tempat
yang horor. Bukan tempat yang dekat kuburan juga lho. Apa maksudnya coba?
“Kenapa memangnya?” Aku
penasaran dengan jawabannya.
“Ah, kamu nggak akan
ngerti. Pokoknya besok aja. Aku temenin kok.”
“Ok deh. Kamu selalu
jadi best friend aku.” Aku mengamit lengannya. Kami segera meninggalkan kantin.
__ADS_1
***
🌴🌴🌴🌴🌴