THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
35. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


KENAN POV


Indah telah selesai


dengan presentasi proposalnya. Hari ini kulihat ia keluar dari ruangan dengan


wajah ceria. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya menyunggingkan senyum,


bajunya kemeja biru dengan lengan digulung hingga siku, kalung entik berwarna


hitam menjuntai panjang sampai ke dadanya, rok hitam di bawah lutut, dan sepatu


sneakers biru. Tampilannya yang kasual hari ini membuatnya terlihat semakin


segar.


Tadi pagi ia tidak


membawa Omernya karena aku bersikeras mengantarkannya. Oh ya, hari ini kami


belum juga meluruskan kesalahpahaman kemarin karena ia berkutat dengan persiapannya


untuk hari ini. Aku sangat memakluminya, maka terpikir olehku untuk mengajaknya


keluar hari ini. Kami belum pernah berkencan seperti pasangan yang lainnya.


Melihat wajahnya hari ini, semoga saja moodnya sedang baik, sehingga ia dapat


menerima penjelasanku.


Indah masih berbincang


dengan Arif di lorong menuju ruang dosen. Aku menghampiri Indah. Mulutku masih


terkunci, bingung menyapa Indah dengan sapaan yang tepat ketika berada di


kampus. Panggil nama atau mbak ya? Ia masih belum mau membuka diri kepada


teman-temannya. Maka aku melangkahkan kakiku sampai berdiri di hadapan Indah,


bersisian dengan Arif. Melihat kehadiranku, Indah membalas tatapanku. Kemudian


ia mendekatiku dan berbisik.


“Ada apa Ken?”


“Bisa bicara berdua di


tempat lain? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Indah mengangguk. Tampaknya


semesta sedang berpihak kepadaku. Tatap matanya tidak ada kekesalan ataupun


kemarahan. Hanya ada binar gembira yang kudapati.


“Maaf ya Rif, aku


tinggal dulu. Ada perlu sama Kenan.” Ia berpamitan kepada Arif. Tangannya


menepuk pundak lelaki itu dan tak lupa memberikan senyuman manisnya.


“Yah, gara-gara


ketumpahan kopi nih, jadi akrab kalian. Hati-hati lho Kenan, dia sudah punya


suami.” Arif memberi peringatan kepadaku. Aku pun hanya mengangguk kecil.


Dengan santainya Indah menggenggam tanganku dan mengikuti langkahku. Aku pun


sempat melirik tatapan Arif yang melihat dengan binar penuh tanya. Ah, perduli amat, aku ini suaminya.


“Bagaimana tadi


seminarnya, sukses?” Tanyaku ketika telah duduk di bangku kemudi di dalam


mobil.


“Lancar. Tiga hari lagi


aku mulai penelitian, Ken. Selama dua minggu ke depan kemungkinan aku akan


sering berada di laboratorium. Bahkan bisa sampai malam.” Ia menatap kepadaku.


“Besok kalau sudah


mulai sibuk di laboratorium, aku antar dan jemput. Jangan merasa tidak enak


karena merepotkan, Indah. Mau jam berapa pun, aku siap mengantar.”


“Kamu juga sibuk,


Kenan.” Kepalanya dimiringkan menghadapku yang sedang mengemudikan mobil.


“Nah, mulai lagi.


Jangan nggak enakan gitu dong, In. Yakinlah, aku senang mengantarmu. Aku bisa


mengatur jadwalku menyesuaikan denganmu.”


“Iya deh.”


“Aku nggak mau ya kamu


pulang malam-malam sendirian sama Omer atau malah diantar Arif.”


“Hehe... iya Kenan. BTW


kita mau ke mana sih?”


“Kencan.”


“Eh, apa? Gimana?”


“Kencan, Indah. Sejak


menikah kita tidak pernah berkencan. Kita tidak seperti pasangan normal


lainnya.” Sedikit aku meliriknya. Ia tersenyum tipis.


“Eh, iya sih. Kita nggak normal ya.”

__ADS_1


“Aku mau ngajak kamu


makan, tapi nggak lucu kalau ke cafe kita. Ada Ferry dan yang lain-lain di


sana. Jadi kita nanti makan di rooftop aja ya.”


Indah mengerutkan keningnya


sehingga kedua alisnya saling mendekat dan matanya sedikit menyipit. “Ke mana


itu Ken?”


“Lihat aja nanti,


sambil menikmati sunset.” Aku sudah membayangkan makan berdua dengan suasana


sunset di sebuah Skybar.


Tempat ini berada di


lantai tujuh sebuah hotel, disebut dengan Rooftop Skybar. Pakaian kami tidak


seperti beberapa pasangan yang berada di sini. Pasangan yang lain menggunakan


pakaian pantas untuk berkencan, sementara kami lebih berpakaian anak kuliahan


yang mampir untuk makan. Tapi jangan salah, istriku ini yang paling cantik dari


seluruh wanita yang berada di rooftop ini. Boleh dong sombong sedikit.


Selain resto, tempat


ini berdampingan dengan kolam renang. Dari lantai ketujuh ini, dapat dilihat


pemandangan pemukiman penduduk dan gunung merapi.



Kami memesan nasi dan


beberapa makanan lain, yaitu The Sky Grill Salmon, Chiken Wings on Fire, Tropical


Fried Calamary, Baked Cheese Cake, dan dengan minuman tentunya. Indah terlihat


sangat senang melihat makanan yang tersedia di hadapannya. Matanya memancarkan


binar bahagia dan bibirnya melengkungkan senyum cantik. Nafsu makannya juga


sedang baik. Terlihat dari caranya yang bersemangat mencicipi semua makanan,


termasuk makanan yang berada di piringku.


“Ken, cobain deh. Grill


Salmonnya enak banget, rasa asam manis, pas banget. Sausnya yummy, bercampur


enak banget di lidah. Hem....” Matanya merem melek ketika menikmati sesendok


makanan yang ia bicarakan. Aku terkekeh geli melihatnya. Melihatku tidak juga


mencoba makanan yang ia tawarkan tadi, Indah segera menyodorkan sendoknya yang


nanti ngiler, Ken.”


Akupun membuka mulutku


menerima suapan dari istri cantikku. Rasanya sudah tidak sabar untuk


mengungkapkan apa yang ada di hatiku selama ini.


Tangan dan mulut Indah


masih bergerak lincah mencicipi Tropical Fried Calamary, yaitu cumi yang berada


di atas piringku. “Gila, cuminya renyah banget Ken. Ini nggak pakai tepung roti


lho. Pasti ada trik rahasia nih. Biasanya cumi kalau digoreng terlalu lama bisa


keras. Enak, Ken...” Kembali matanya dipejamkan menikmati makanan yang telah


berada di dalam mulutnya. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatnya. Sungguh


lucu.


“Kamu nggak coba yang


ini, In? Tapi pedas lho.” Aku menunjuk ke arah piring yang berisi Chicken wings


on fire  dengan level kepedasan 10.


Lidahku tadi rasanya terbakar ketika mencicipinya. Manis dan pedas.


Garpunya diarahkan ke


makanan yang kutunjukkan tadi. Ia segera mencicipi secuil chicken wings itu.


Merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi, aku menghentikan aktivitas


makanku dan beralih menatap lurus ke arahnya. Benar saja, Indah mengerjapkan


matanya yang berkaca-kaca, sementara mulutnya terbuka dan tangannya dikibaskan


di depan mulutnya. Aku segera mengangsurkan air minum ke arahnya.


Tidak perlu membutuhkan


waktu yang lama, kami menghabiskan makanan di meja kami kurang dari setengah


jam.



Kami menikmati


pemandangan ketika langit mulai berwarna jingga dan matahari mulai terbenam di


ufuk Barat. Posisi kami menghadap ke arah Barat sehingga suasana itu tak luput


dari pandangan kami.


Aku sedikit berdehem

__ADS_1


untuk memulai pembicaraan dengan Indah. “Hem... In.” Ucapku.


“Ya?” Pandangannya


beralih ke arahku.


“Sudah selesai marahnya


ya, yang kemarin? Jangan diam lagi ya. Siniku sakit, lho.” Aku menepuk dada


sebelah kiri.


Bibirnya mengerucut,


“Habis kamunya aja yang genit, pagi-pagi sudah ngobrol sama cewek seksi, kakaknya


Ipin Upin. Terus di kampus berdua-dua dengan Bela. Apa karena aku nggak cantik


ya, kurang seksi ya? Apalagi perutku sekarang mengerikan karena bekas luka


bakar itu.” Tak ada lagi lengkungan senyum di sana.


“Kakaknya Ipin Upin


siapa?” Rasanya aku tidak punya kenalan Ipin dan Upin.


“Kakaknya Ipin dan Upin


itu, namanya Kak Ros, Ken.”


“Oh.” Aku menepuk


dahiku dengan punggung tanganku, baru terpikir olehku.


“Kak Ros itu, sering


menyanyi di cafe kita. Kami patner, Indah. Kalau weekend, dia selalu ada di


cafe. Nanti aku kenalkan. Nggak usah mikir macam-macam. Kalau Bela, dia


menyatakan perasaannya kemarin. Jadi aku tolak.” Kulihat bibirnya masih


mengerucut. Namun kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti dengan


penjelasanku.


“Jangan cemburu dong


In.”


“Kamu juga yang


kegenitan. Apalagi sama cewek seksi macam Kak Ros. Kalau sama cewek lain haha


haha hihi hihi. Kalau sama aku serius.” Kali ini Indah seperti merajuk manja.


Kedua tangannya ditarik dari meja dan diletakkan di atas pahanya. Pasti ia


sedang memilin-milin ujung roknya.


“Enggak begitu. Lihat


Kak Ros biasa aja, In. Tapi kalau lihat kamu, apalagi kalau dekat, nggak kuat


aku. Rasanya kalau dekat kamu beda. Jantungku mau loncat keluar.” Kulihat Indah


mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba saja kembali terbayang tubuh polos Indah yang


terpampang di layar ponselku tempo hari. Akh, dasar otak mesum.


“Masa sih?” Kursinya


digeser menuju ke dekatku. Ia duduk di sampingku. Kini ia mendekatkan wajahnya


di depan wajahku. Matanya mengerjap melihat kedua mataku. “Kalau begini? Loncat


nggak Kenan?” Tangannya memegang dadaku sebelah kiri. Aku berjengit mundur,


terkejut. Dasar dodol, ia berani


menggodaku di saat aku ingin berbicara serius.


“In, aku ... aku....”


Jantungku semakin berdegup tak karuan.


“Apa?”


“In... I love you.”


“Eh iya, apa?” tanyanya


dengan wajah terkejut.


“Nggak ada siaran ulang


deh.” Aku mengendus kesal. Tidak tahu apa, susah sekali mengucapkannya. Ketika


terucap, Indah malah tidak mendengarkannya dengan serius. Aku jadi merasa


jengkel.


“Eh, apa Kenan. Aku


nggak dengar.” Telinganya diarahkan ke depan mulutku. Ah, bagaimana mau


romantis kalau begini?


“Sudah ah, kita pulang


aja.” Ucapku menahan rasa malu. Aku ditolak ya? Segera saja aku bangkit


berdiri. Namun tangan kiri Indah menahanku, sehingga aku duduk kembali.


“Ih, nggak seru. Sunsetnya belum habis. Aku mau di


sini aja sampai gelap.” Aku pun menghela nafas mengikuti keinginannya.


***


Setelah baca ulang, sepertinya ceritanya mau saya revisi ulang. Mau diteruskan atau direvisi dulu ya?

__ADS_1


__ADS_2