
SELAMAT MEMBACA
KENAN POV
Indah telah selesai
dengan presentasi proposalnya. Hari ini kulihat ia keluar dari ruangan dengan
wajah ceria. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya menyunggingkan senyum,
bajunya kemeja biru dengan lengan digulung hingga siku, kalung entik berwarna
hitam menjuntai panjang sampai ke dadanya, rok hitam di bawah lutut, dan sepatu
sneakers biru. Tampilannya yang kasual hari ini membuatnya terlihat semakin
segar.
Tadi pagi ia tidak
membawa Omernya karena aku bersikeras mengantarkannya. Oh ya, hari ini kami
belum juga meluruskan kesalahpahaman kemarin karena ia berkutat dengan persiapannya
untuk hari ini. Aku sangat memakluminya, maka terpikir olehku untuk mengajaknya
keluar hari ini. Kami belum pernah berkencan seperti pasangan yang lainnya.
Melihat wajahnya hari ini, semoga saja moodnya sedang baik, sehingga ia dapat
menerima penjelasanku.
Indah masih berbincang
dengan Arif di lorong menuju ruang dosen. Aku menghampiri Indah. Mulutku masih
terkunci, bingung menyapa Indah dengan sapaan yang tepat ketika berada di
kampus. Panggil nama atau mbak ya? Ia masih belum mau membuka diri kepada
teman-temannya. Maka aku melangkahkan kakiku sampai berdiri di hadapan Indah,
bersisian dengan Arif. Melihat kehadiranku, Indah membalas tatapanku. Kemudian
ia mendekatiku dan berbisik.
“Ada apa Ken?”
“Bisa bicara berdua di
tempat lain? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Indah mengangguk. Tampaknya
semesta sedang berpihak kepadaku. Tatap matanya tidak ada kekesalan ataupun
kemarahan. Hanya ada binar gembira yang kudapati.
“Maaf ya Rif, aku
tinggal dulu. Ada perlu sama Kenan.” Ia berpamitan kepada Arif. Tangannya
menepuk pundak lelaki itu dan tak lupa memberikan senyuman manisnya.
“Yah, gara-gara
ketumpahan kopi nih, jadi akrab kalian. Hati-hati lho Kenan, dia sudah punya
suami.” Arif memberi peringatan kepadaku. Aku pun hanya mengangguk kecil.
Dengan santainya Indah menggenggam tanganku dan mengikuti langkahku. Aku pun
sempat melirik tatapan Arif yang melihat dengan binar penuh tanya. Ah, perduli amat, aku ini suaminya.
“Bagaimana tadi
seminarnya, sukses?” Tanyaku ketika telah duduk di bangku kemudi di dalam
mobil.
“Lancar. Tiga hari lagi
aku mulai penelitian, Ken. Selama dua minggu ke depan kemungkinan aku akan
sering berada di laboratorium. Bahkan bisa sampai malam.” Ia menatap kepadaku.
“Besok kalau sudah
mulai sibuk di laboratorium, aku antar dan jemput. Jangan merasa tidak enak
karena merepotkan, Indah. Mau jam berapa pun, aku siap mengantar.”
“Kamu juga sibuk,
Kenan.” Kepalanya dimiringkan menghadapku yang sedang mengemudikan mobil.
“Nah, mulai lagi.
Jangan nggak enakan gitu dong, In. Yakinlah, aku senang mengantarmu. Aku bisa
mengatur jadwalku menyesuaikan denganmu.”
“Iya deh.”
“Aku nggak mau ya kamu
pulang malam-malam sendirian sama Omer atau malah diantar Arif.”
“Hehe... iya Kenan. BTW
kita mau ke mana sih?”
“Kencan.”
“Eh, apa? Gimana?”
“Kencan, Indah. Sejak
menikah kita tidak pernah berkencan. Kita tidak seperti pasangan normal
lainnya.” Sedikit aku meliriknya. Ia tersenyum tipis.
“Eh, iya sih. Kita nggak normal ya.”
__ADS_1
“Aku mau ngajak kamu
makan, tapi nggak lucu kalau ke cafe kita. Ada Ferry dan yang lain-lain di
sana. Jadi kita nanti makan di rooftop aja ya.”
Indah mengerutkan keningnya
sehingga kedua alisnya saling mendekat dan matanya sedikit menyipit. “Ke mana
itu Ken?”
“Lihat aja nanti,
sambil menikmati sunset.” Aku sudah membayangkan makan berdua dengan suasana
sunset di sebuah Skybar.
Tempat ini berada di
lantai tujuh sebuah hotel, disebut dengan Rooftop Skybar. Pakaian kami tidak
seperti beberapa pasangan yang berada di sini. Pasangan yang lain menggunakan
pakaian pantas untuk berkencan, sementara kami lebih berpakaian anak kuliahan
yang mampir untuk makan. Tapi jangan salah, istriku ini yang paling cantik dari
seluruh wanita yang berada di rooftop ini. Boleh dong sombong sedikit.
Selain resto, tempat
ini berdampingan dengan kolam renang. Dari lantai ketujuh ini, dapat dilihat
pemandangan pemukiman penduduk dan gunung merapi.
Kami memesan nasi dan
beberapa makanan lain, yaitu The Sky Grill Salmon, Chiken Wings on Fire, Tropical
Fried Calamary, Baked Cheese Cake, dan dengan minuman tentunya. Indah terlihat
sangat senang melihat makanan yang tersedia di hadapannya. Matanya memancarkan
binar bahagia dan bibirnya melengkungkan senyum cantik. Nafsu makannya juga
sedang baik. Terlihat dari caranya yang bersemangat mencicipi semua makanan,
termasuk makanan yang berada di piringku.
“Ken, cobain deh. Grill
Salmonnya enak banget, rasa asam manis, pas banget. Sausnya yummy, bercampur
enak banget di lidah. Hem....” Matanya merem melek ketika menikmati sesendok
makanan yang ia bicarakan. Aku terkekeh geli melihatnya. Melihatku tidak juga
mencoba makanan yang ia tawarkan tadi, Indah segera menyodorkan sendoknya yang
nanti ngiler, Ken.”
Akupun membuka mulutku
menerima suapan dari istri cantikku. Rasanya sudah tidak sabar untuk
mengungkapkan apa yang ada di hatiku selama ini.
Tangan dan mulut Indah
masih bergerak lincah mencicipi Tropical Fried Calamary, yaitu cumi yang berada
di atas piringku. “Gila, cuminya renyah banget Ken. Ini nggak pakai tepung roti
lho. Pasti ada trik rahasia nih. Biasanya cumi kalau digoreng terlalu lama bisa
keras. Enak, Ken...” Kembali matanya dipejamkan menikmati makanan yang telah
berada di dalam mulutnya. Aku hanya bisa tersenyum geli melihatnya. Sungguh
lucu.
“Kamu nggak coba yang
ini, In? Tapi pedas lho.” Aku menunjuk ke arah piring yang berisi Chicken wings
on fire dengan level kepedasan 10.
Lidahku tadi rasanya terbakar ketika mencicipinya. Manis dan pedas.
Garpunya diarahkan ke
makanan yang kutunjukkan tadi. Ia segera mencicipi secuil chicken wings itu.
Merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi, aku menghentikan aktivitas
makanku dan beralih menatap lurus ke arahnya. Benar saja, Indah mengerjapkan
matanya yang berkaca-kaca, sementara mulutnya terbuka dan tangannya dikibaskan
di depan mulutnya. Aku segera mengangsurkan air minum ke arahnya.
Tidak perlu membutuhkan
waktu yang lama, kami menghabiskan makanan di meja kami kurang dari setengah
jam.
Kami menikmati
pemandangan ketika langit mulai berwarna jingga dan matahari mulai terbenam di
ufuk Barat. Posisi kami menghadap ke arah Barat sehingga suasana itu tak luput
dari pandangan kami.
Aku sedikit berdehem
__ADS_1
untuk memulai pembicaraan dengan Indah. “Hem... In.” Ucapku.
“Ya?” Pandangannya
beralih ke arahku.
“Sudah selesai marahnya
ya, yang kemarin? Jangan diam lagi ya. Siniku sakit, lho.” Aku menepuk dada
sebelah kiri.
Bibirnya mengerucut,
“Habis kamunya aja yang genit, pagi-pagi sudah ngobrol sama cewek seksi, kakaknya
Ipin Upin. Terus di kampus berdua-dua dengan Bela. Apa karena aku nggak cantik
ya, kurang seksi ya? Apalagi perutku sekarang mengerikan karena bekas luka
bakar itu.” Tak ada lagi lengkungan senyum di sana.
“Kakaknya Ipin Upin
siapa?” Rasanya aku tidak punya kenalan Ipin dan Upin.
“Kakaknya Ipin dan Upin
itu, namanya Kak Ros, Ken.”
“Oh.” Aku menepuk
dahiku dengan punggung tanganku, baru terpikir olehku.
“Kak Ros itu, sering
menyanyi di cafe kita. Kami patner, Indah. Kalau weekend, dia selalu ada di
cafe. Nanti aku kenalkan. Nggak usah mikir macam-macam. Kalau Bela, dia
menyatakan perasaannya kemarin. Jadi aku tolak.” Kulihat bibirnya masih
mengerucut. Namun kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti dengan
penjelasanku.
“Jangan cemburu dong
In.”
“Kamu juga yang
kegenitan. Apalagi sama cewek seksi macam Kak Ros. Kalau sama cewek lain haha
haha hihi hihi. Kalau sama aku serius.” Kali ini Indah seperti merajuk manja.
Kedua tangannya ditarik dari meja dan diletakkan di atas pahanya. Pasti ia
sedang memilin-milin ujung roknya.
“Enggak begitu. Lihat
Kak Ros biasa aja, In. Tapi kalau lihat kamu, apalagi kalau dekat, nggak kuat
aku. Rasanya kalau dekat kamu beda. Jantungku mau loncat keluar.” Kulihat Indah
mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba saja kembali terbayang tubuh polos Indah yang
terpampang di layar ponselku tempo hari. Akh, dasar otak mesum.
“Masa sih?” Kursinya
digeser menuju ke dekatku. Ia duduk di sampingku. Kini ia mendekatkan wajahnya
di depan wajahku. Matanya mengerjap melihat kedua mataku. “Kalau begini? Loncat
nggak Kenan?” Tangannya memegang dadaku sebelah kiri. Aku berjengit mundur,
terkejut. Dasar dodol, ia berani
menggodaku di saat aku ingin berbicara serius.
“In, aku ... aku....”
Jantungku semakin berdegup tak karuan.
“Apa?”
“In... I love you.”
“Eh iya, apa?” tanyanya
dengan wajah terkejut.
“Nggak ada siaran ulang
deh.” Aku mengendus kesal. Tidak tahu apa, susah sekali mengucapkannya. Ketika
terucap, Indah malah tidak mendengarkannya dengan serius. Aku jadi merasa
jengkel.
“Eh, apa Kenan. Aku
nggak dengar.” Telinganya diarahkan ke depan mulutku. Ah, bagaimana mau
romantis kalau begini?
“Sudah ah, kita pulang
aja.” Ucapku menahan rasa malu. Aku ditolak ya? Segera saja aku bangkit
berdiri. Namun tangan kiri Indah menahanku, sehingga aku duduk kembali.
“Ih, nggak seru. Sunsetnya belum habis. Aku mau di
sini aja sampai gelap.” Aku pun menghela nafas mengikuti keinginannya.
***
Setelah baca ulang, sepertinya ceritanya mau saya revisi ulang. Mau diteruskan atau direvisi dulu ya?
__ADS_1