THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
23. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹


Kenan POV


Suasana hening menemani


kami di saat mengerjakan tugas di dalam ruang kerja. Hanya suara ketikan dari


jari jemari indah dan suara kertas yang bergesekan menghiasi malam kami. Ketika


satu jam telah berlalu, aku teringat akan sesuatu. Aku rasa ini saat yang tepat


untuk membicarakannya dengan Indah. Aku ingin membicarakan tentang pernikahan


kami. Agar tidak ada lagi yang mengganjal. Agar kami mempunyai tujuan yang sama


dalam pernikahan ini.


Kuputar kursiku


menghadap Indah yang masih duduk membelakangiku. Mendengar kursiku bergerak, ia


pun segera mengalihkan pekerjaaannya dan segera memutar kursinya. Kami jadi


berhadapan. Ia menatapku, menungguku yang akan mengucapkan sesuatu.


“Indah, aku mau


ngomong.” Kataku kemudian.


“Serius banget. Mau


ngomong apa sih?”


“Iya, ini serius.


Begini In, aku mau bicara tentang pernikahan kita.” Aku memperhatikan air muka


istriku yang berubah menjadi lebih bersungguh-sungguh.


“Silahkan Ken.” Katanya.


“In, aku tahu,


pernikahan ini bukan pernikahan seperti yang kamu impikan. Bahkan aku bukan


pria yang kamu impikan menjadi pendamping hidupmu. Sebelumnya kamu pasti punya


mimpi akan mempunyai pendamping hidup seperti apa. Aku jauh dari harapan kamu


ya In?” Tiba-tiba aku mencelos. Seperti orang yang merasa rendah diri. Hilang


kepercayaan diriku, entah ke mana. Apalagi di depan sosok yang penuh pesona


ini. Sosok yang bening kata Ferry. Di mana sebagian besar pria ingin


merengkuhnya manjadi pendamping hidup.


“Kenan, jangan ngomong


begitu deh.” Kata-katanya lebih tepat terdengar menghiburku.


Aku melanjutkan


kembali, “Tapi kita telah berjanji In, di hadapan Tuhan, saksi, dan juga


orang-orang yang hadir dalam pernikahan kita. Aku mau pernikahan ini untuk


selamanya. Aku mau belajar menjadi orang yang bisa kamu ciantai.”


“Kenan ....” Indah


terlihat akan mengucapkan sesuatu, tetapi aku tahan dengan memberikan isyarat


sebuah jari telunjuk di mulutku.


Aku berkata lagi, “Aku


akan berusaha menepati janjiku In, untuk mencintaimu dan setia sampai maut


memisahkan kita. Juga akau mau belajar menjadi orang yang bisa kamu cintai. Aku


akan belajar mencintaimu hari demi hari. Akan kutambah kadarnya sampai nafasku


terhenti, In.”


Indah kini terdiam


mendengar penuturanku. Mungkin ia sedang mencerna perkataanku.


“Ken, aku juga tidak


menganggap pernikahan kita hanya permainan karena orang tua kita yang


menjodohkan. Sejujurnya aku keberatan dengan perjodohan ini pada awalnya. Tapi


setelah melalui banyak hal, aku rasa kamu datang pada waktu yang tepat. Paling


tidak didalam hidupku, kedatanganmu cukup tepat.” Ia menghentikan perkataannya


sejenak.

__ADS_1


Aku masih menduga, ia


akan berbicara apa.


“Aku rasa kamu bukan


orang yang sulit untuk dicintai, Ken. Aku juga akan selalu berusaha yang


terbaik untuk perkawinan kita, Ken. Terima kasih kamu mau menerima aku sebagai


istrimu. Kita sama-sama belajar okay?” Indah menjawab dengan wajah


bersungguh-sungguh. Aku sangat lega mendengarnya.


Aku jadi teringat


dengan sikap manjanya kepada teman-temannya, terutama teman lelakinya. Muncullah


sikap posesifku kini. Ia adalah milikku saat ini. Aku tidak ingin berbagi


dengan yang lain. “Jaga hatimu ya In, dari cowok-cowok yang mendekatimu. Ada


satu yang sering bikin aku nggak suka. Yaitu saat kamu dengan mudahnya


nggelendot kesana kesini. Apalagi dengan temanmu mas Arif itu.”


Indah tertawa keras


mendengar ucapanku kali ini. “Oh, ini sudah mulai cemburu-cemburu gitu ya?


Nggak perlu cemburu kalau sama dia. Nggak mungkin dia nafsu sama aku. Hehe...


iya nanti aku kurangin gelendotannya. Soalnya kebiasaan, Ken. Aku ngerasa


seperti dia itu kakakku. Aku merasa nyaman.”


“Masa nggak nafsu In?


Is he straight?”


“Of course. Dia nggak


belok kok. Orientasinya normal. Hanya dia nggak melihat aku sebagai wanita.”


Katanya menyakinkanku.


“Kamu kalau mau


gelendotan, sama aku aja.” Entah dari mana aku berani mengucapkan kata-kata  seperti itu. Yang jelas aku merasa wajahku


memanas. Untunglah kulitku cokelat sehingga tidak mungkin rona merah terlihat


Lalu tanpa kuduga Indah


datang menghampiriku dan memelukku. Mendadak punggungku  menegang. Gimana nggak tegang, suasananya pas


sekali, dingin – dingin, malam-malam, hanya berdua di dalam kamar lagi.


Jantungku rasanya ingin melocat keluar lagi.


“Terima kasih.” Katanya


sekali lagi.


***


Indah POV


Aku melihat sosok yang


lain dari Kenan pada malam hari ini. Ia lebih banyak bicara. Topik yang kami


bicarakan cukup serius, yaitu tentang pernikahan kami. Sebagai kepala keluarga,


ia tentunya ingin memimpin pernikahan kami menuju ke arah yang bahagia.


Sifatnya yang tertutup menjadi lebih terbuka kepadaku. Ia menyampaikan


pandangannya mengenai pernikahan kami. Kami sama-sama berharap agar kami bisa


saling membahagiakan di dalam pernikahan kami.


Melihat perubahan ini,


membuatku sangat senang. Kami bisa menjadi lebih akrab. Walaupun kami belum


bisa bersikap sebagaimana layaknya suami istri, tetapi pintu pertemanan di


antara kami telah terbuka. Dengan kedekatan kami, aku yakin kami bisa belajar


saling mencintai.


Cinta adalah anugerah.


Bagi sebagian orang, katanya cinta tidak bisa diarahkan dan tidak bisa


dipaksakan. Cinta tidak juga bisa memilih. Tapi dalam kehidupanku, jika aku


bertemu dengan orang yang good looking, baik, mau menerima aku apa adanya, dan


belajar untuk menjadi orang yang bisa aku cintai, tentu saja aku tidak akan

__ADS_1


menyia-nyiakan orang itu. Aku akan berusaha untuk mencintainya. Jarang sekali


ada pria yang seperti itu di dunia ini bukan? Aku sendiri akan berusaha menjadi


wanita yang bisa dicintai oleh Kenan.


Malam semakin larut.


Kami telah menyelesaikan tugas-tugas kami. Belum selesai sebenarnya, tetapi


harus disudahi karena sudah pukul 12 malam. Saatnya kami beristirahat.


“Ken....” Aku memanggil


pria yang terbaring di sebelahku. Tampaknya ia belum tidur. Kulihat nafasnya


belum teratur.


“Hem....” Benar


dugaanku, ia belum tidur.


“Ken, kalau besok aku


nggak ikut olehraga, nggak apa-apa ya?”


“Kenapa?”


“Nggak enak kalau


setiap hari keluar maraton. Seminggu sekali aja deh.” Sebenarnya aku tidak


senang dengan mbak-mbak cantik penjual nasi kuning yang menggoda Kenan, juga


dengan mbak-mbak yang kost di depan rumah. Mbak-mbak yang kost di depan rumah


itu sekarang jadi ikut-ikutan mengekori kami lari pagi. Bukan mengekori kami,


lebih tepatnya mengekori Kenan. Jadi was-was kan. Punya laki yang suami-able  gini jadi incaran mbak-mbak cantik.


“Sehat lho kalau


olahraga setiap hari.”


“Beli treadmill atau


sepeda statis aja deh. Jadi nggak perlu keluar rumah. Bisa olah raga kapan


aja.”


“Besok aku beli. Nanti


alatnya diletakkan di sebelah kamar kita.”


“Beneran Ken?” Aku


tidak menyangka, secepat itu proposalku diterima. Senang sekali rasanya.


“Iya. Aku jadi


terpikir, kalau mau olahraga sore atau malam jadi lebih enak. Tidak perlu


keluar rumah. Lagipula kita tidak selalu punya waktu di pagi hari. Suatu saat


mungkin sibuk dan tidak sempat bangun pagi.”


“Ye... terima kasih


Ken.” Aku sontak menggeser dua buah guling yang membatasi kami dan memeluknya.


Oh, aku bodoh sekali,


kenapa aku melakukan hal ini? Untuk yang pertama kalinya aku memeluknya di atas


tempat tidur. Kini aku berada di atas tubuhnya. Aku tidak sengaja melakukannya,


tanpa persiapan. Aroma maskulin menguar dari tubuhnya. Aku tersentak sadar


ketika menghirup aroma tubuhnya. Segera saja kutarik tubuhku dan aku terduduk


diam. Malu, itulah yang kurasakan saat ini. Wajahku mungkin merona merah.


Melihat aku yang


canggung, Ken kembali menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhku kembali terjatuh


di atas tubuhnya. Ia memelukku erat. “Nggak apa-apa Indah, nggak perlu malu.


Aku suami kamu.” Bisiknya. Mungkin itu caranya untuk menepis rasa malu yang


kurasakan. Tak lama kemudian kutarik tubuhku dari pelukannaya. Aku segera


merebahkan tubuh di sampingnya. Kali ini tanpa pembatas guling. Aku


membelakanginya, masih berusaha menghilangkan rasa malu ini. Kurasakan


tangannya mengelus rambutku. Tak lama kemudian aku pun terlelap ke alam mimpi.


***


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2