
🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹
Kenan POV
Suasana hening menemani
kami di saat mengerjakan tugas di dalam ruang kerja. Hanya suara ketikan dari
jari jemari indah dan suara kertas yang bergesekan menghiasi malam kami. Ketika
satu jam telah berlalu, aku teringat akan sesuatu. Aku rasa ini saat yang tepat
untuk membicarakannya dengan Indah. Aku ingin membicarakan tentang pernikahan
kami. Agar tidak ada lagi yang mengganjal. Agar kami mempunyai tujuan yang sama
dalam pernikahan ini.
Kuputar kursiku
menghadap Indah yang masih duduk membelakangiku. Mendengar kursiku bergerak, ia
pun segera mengalihkan pekerjaaannya dan segera memutar kursinya. Kami jadi
berhadapan. Ia menatapku, menungguku yang akan mengucapkan sesuatu.
“Indah, aku mau
ngomong.” Kataku kemudian.
“Serius banget. Mau
ngomong apa sih?”
“Iya, ini serius.
Begini In, aku mau bicara tentang pernikahan kita.” Aku memperhatikan air muka
istriku yang berubah menjadi lebih bersungguh-sungguh.
“Silahkan Ken.” Katanya.
“In, aku tahu,
pernikahan ini bukan pernikahan seperti yang kamu impikan. Bahkan aku bukan
pria yang kamu impikan menjadi pendamping hidupmu. Sebelumnya kamu pasti punya
mimpi akan mempunyai pendamping hidup seperti apa. Aku jauh dari harapan kamu
ya In?” Tiba-tiba aku mencelos. Seperti orang yang merasa rendah diri. Hilang
kepercayaan diriku, entah ke mana. Apalagi di depan sosok yang penuh pesona
ini. Sosok yang bening kata Ferry. Di mana sebagian besar pria ingin
merengkuhnya manjadi pendamping hidup.
“Kenan, jangan ngomong
begitu deh.” Kata-katanya lebih tepat terdengar menghiburku.
Aku melanjutkan
kembali, “Tapi kita telah berjanji In, di hadapan Tuhan, saksi, dan juga
orang-orang yang hadir dalam pernikahan kita. Aku mau pernikahan ini untuk
selamanya. Aku mau belajar menjadi orang yang bisa kamu ciantai.”
“Kenan ....” Indah
terlihat akan mengucapkan sesuatu, tetapi aku tahan dengan memberikan isyarat
sebuah jari telunjuk di mulutku.
Aku berkata lagi, “Aku
akan berusaha menepati janjiku In, untuk mencintaimu dan setia sampai maut
memisahkan kita. Juga akau mau belajar menjadi orang yang bisa kamu cintai. Aku
akan belajar mencintaimu hari demi hari. Akan kutambah kadarnya sampai nafasku
terhenti, In.”
Indah kini terdiam
mendengar penuturanku. Mungkin ia sedang mencerna perkataanku.
“Ken, aku juga tidak
menganggap pernikahan kita hanya permainan karena orang tua kita yang
menjodohkan. Sejujurnya aku keberatan dengan perjodohan ini pada awalnya. Tapi
setelah melalui banyak hal, aku rasa kamu datang pada waktu yang tepat. Paling
tidak didalam hidupku, kedatanganmu cukup tepat.” Ia menghentikan perkataannya
sejenak.
__ADS_1
Aku masih menduga, ia
akan berbicara apa.
“Aku rasa kamu bukan
orang yang sulit untuk dicintai, Ken. Aku juga akan selalu berusaha yang
terbaik untuk perkawinan kita, Ken. Terima kasih kamu mau menerima aku sebagai
istrimu. Kita sama-sama belajar okay?” Indah menjawab dengan wajah
bersungguh-sungguh. Aku sangat lega mendengarnya.
Aku jadi teringat
dengan sikap manjanya kepada teman-temannya, terutama teman lelakinya. Muncullah
sikap posesifku kini. Ia adalah milikku saat ini. Aku tidak ingin berbagi
dengan yang lain. “Jaga hatimu ya In, dari cowok-cowok yang mendekatimu. Ada
satu yang sering bikin aku nggak suka. Yaitu saat kamu dengan mudahnya
nggelendot kesana kesini. Apalagi dengan temanmu mas Arif itu.”
Indah tertawa keras
mendengar ucapanku kali ini. “Oh, ini sudah mulai cemburu-cemburu gitu ya?
Nggak perlu cemburu kalau sama dia. Nggak mungkin dia nafsu sama aku. Hehe...
iya nanti aku kurangin gelendotannya. Soalnya kebiasaan, Ken. Aku ngerasa
seperti dia itu kakakku. Aku merasa nyaman.”
“Masa nggak nafsu In?
Is he straight?”
“Of course. Dia nggak
belok kok. Orientasinya normal. Hanya dia nggak melihat aku sebagai wanita.”
Katanya menyakinkanku.
“Kamu kalau mau
gelendotan, sama aku aja.” Entah dari mana aku berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Yang jelas aku merasa wajahku
memanas. Untunglah kulitku cokelat sehingga tidak mungkin rona merah terlihat
Lalu tanpa kuduga Indah
datang menghampiriku dan memelukku. Mendadak punggungku menegang. Gimana nggak tegang, suasananya pas
sekali, dingin – dingin, malam-malam, hanya berdua di dalam kamar lagi.
Jantungku rasanya ingin melocat keluar lagi.
“Terima kasih.” Katanya
sekali lagi.
***
Indah POV
Aku melihat sosok yang
lain dari Kenan pada malam hari ini. Ia lebih banyak bicara. Topik yang kami
bicarakan cukup serius, yaitu tentang pernikahan kami. Sebagai kepala keluarga,
ia tentunya ingin memimpin pernikahan kami menuju ke arah yang bahagia.
Sifatnya yang tertutup menjadi lebih terbuka kepadaku. Ia menyampaikan
pandangannya mengenai pernikahan kami. Kami sama-sama berharap agar kami bisa
saling membahagiakan di dalam pernikahan kami.
Melihat perubahan ini,
membuatku sangat senang. Kami bisa menjadi lebih akrab. Walaupun kami belum
bisa bersikap sebagaimana layaknya suami istri, tetapi pintu pertemanan di
antara kami telah terbuka. Dengan kedekatan kami, aku yakin kami bisa belajar
saling mencintai.
Cinta adalah anugerah.
Bagi sebagian orang, katanya cinta tidak bisa diarahkan dan tidak bisa
dipaksakan. Cinta tidak juga bisa memilih. Tapi dalam kehidupanku, jika aku
bertemu dengan orang yang good looking, baik, mau menerima aku apa adanya, dan
belajar untuk menjadi orang yang bisa aku cintai, tentu saja aku tidak akan
__ADS_1
menyia-nyiakan orang itu. Aku akan berusaha untuk mencintainya. Jarang sekali
ada pria yang seperti itu di dunia ini bukan? Aku sendiri akan berusaha menjadi
wanita yang bisa dicintai oleh Kenan.
Malam semakin larut.
Kami telah menyelesaikan tugas-tugas kami. Belum selesai sebenarnya, tetapi
harus disudahi karena sudah pukul 12 malam. Saatnya kami beristirahat.
“Ken....” Aku memanggil
pria yang terbaring di sebelahku. Tampaknya ia belum tidur. Kulihat nafasnya
belum teratur.
“Hem....” Benar
dugaanku, ia belum tidur.
“Ken, kalau besok aku
nggak ikut olehraga, nggak apa-apa ya?”
“Kenapa?”
“Nggak enak kalau
setiap hari keluar maraton. Seminggu sekali aja deh.” Sebenarnya aku tidak
senang dengan mbak-mbak cantik penjual nasi kuning yang menggoda Kenan, juga
dengan mbak-mbak yang kost di depan rumah. Mbak-mbak yang kost di depan rumah
itu sekarang jadi ikut-ikutan mengekori kami lari pagi. Bukan mengekori kami,
lebih tepatnya mengekori Kenan. Jadi was-was kan. Punya laki yang suami-able gini jadi incaran mbak-mbak cantik.
“Sehat lho kalau
olahraga setiap hari.”
“Beli treadmill atau
sepeda statis aja deh. Jadi nggak perlu keluar rumah. Bisa olah raga kapan
aja.”
“Besok aku beli. Nanti
alatnya diletakkan di sebelah kamar kita.”
“Beneran Ken?” Aku
tidak menyangka, secepat itu proposalku diterima. Senang sekali rasanya.
“Iya. Aku jadi
terpikir, kalau mau olahraga sore atau malam jadi lebih enak. Tidak perlu
keluar rumah. Lagipula kita tidak selalu punya waktu di pagi hari. Suatu saat
mungkin sibuk dan tidak sempat bangun pagi.”
“Ye... terima kasih
Ken.” Aku sontak menggeser dua buah guling yang membatasi kami dan memeluknya.
Oh, aku bodoh sekali,
kenapa aku melakukan hal ini? Untuk yang pertama kalinya aku memeluknya di atas
tempat tidur. Kini aku berada di atas tubuhnya. Aku tidak sengaja melakukannya,
tanpa persiapan. Aroma maskulin menguar dari tubuhnya. Aku tersentak sadar
ketika menghirup aroma tubuhnya. Segera saja kutarik tubuhku dan aku terduduk
diam. Malu, itulah yang kurasakan saat ini. Wajahku mungkin merona merah.
Melihat aku yang
canggung, Ken kembali menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhku kembali terjatuh
di atas tubuhnya. Ia memelukku erat. “Nggak apa-apa Indah, nggak perlu malu.
Aku suami kamu.” Bisiknya. Mungkin itu caranya untuk menepis rasa malu yang
kurasakan. Tak lama kemudian kutarik tubuhku dari pelukannaya. Aku segera
merebahkan tubuh di sampingnya. Kali ini tanpa pembatas guling. Aku
membelakanginya, masih berusaha menghilangkan rasa malu ini. Kurasakan
tangannya mengelus rambutku. Tak lama kemudian aku pun terlelap ke alam mimpi.
***
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1