
❤ SELAMAT MEMBACA ❤
“Eh Non Indah sudah
pulang. Itu kenapa Non? Ya ampun.” Bik Janet terkejut dengan keadaan Indah.
Tangannya dibalut dengan kain kasa dan di perutnya juga, walaupun tidak terlalu
jelas karena tertutup oleh kemeja. Dan
seperti biasa, Bik Janet pasti lebih heboh daripada Kenan.
“Nggak apa-apa kok Bik.
Tadi sudah diantar ke dokter sama Kenan.” Indah berusaha menghalau bik Janet
yang ingin memeriksa lukanya. Ia juga menenangkan Bik Janet agar tidak bersikap
berlebihan. Indah menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga
merangkap ruang makan itu. Tapi rasa lapar menggelitiknya.
“Bik, masak apa siang
ini? Aku mau makan.” Kata Indah.
“Iya, bibik masak ayam
goreng sama sayur bening. Sebentar yah, bibik siapkan.” Bik Janet kemudian
berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tak lama kemudian Indah sudah
menyantap makan siangnya dengan lahap. Makan siang yang kesiangan karena sudah
lewat waktu makan siang.
Ting tong... ponsel yang
tergeletak di meja makan berbunyi. Ternyata ponselnya tertinggal di meja makan
tadi pagi. Indah segera memeriksa dan membuka layar ponselnya.
Arif : Gimana nduk,
udah ke dokter? (itu panggilan spesial Arif kepada dirinya apabila dalam
suasana yang serius. Berarti Arif serius menanyakan kondisi Indah. Dan pasti ia
khawatir dengan Indah.)
Indah : Sudah ke dokter.
Nggak apa-apa kok.
Arif : Kami mau
nengokin. Sekalian mau lihat tempat kost kamu yang baru.
Indah : Sama Tengklik
dan Upil?
Arif : Sama Upil aja.
Tengklik masih kasmaran sama pacar dapat di KKN.
Indah : Pantes tidak
beredar di kampus.
Arif : Mau dibawain
apa?
Indah : Dibawain cinta
dan kasih sayang.
Arif : Semprul kamu.
Indah : Nanti aku share
location.
“Bik, aku ke atas dulu
yah. Nanti kalau teman-temanku datang, aku dipanggil yah.” Indah melongok ke ruang
laundry, melihat bik Janet yang sedang menyetrika di sana.
“Iya non.” Bik Janet
kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Namun Indah kembali
__ADS_1
memutar tubuhnya menghadap bik Janet. “Bik, kunci Omernya ketemu nggak?”
“Ketemu non. Tadi bibik
nemu di atas tutup panci. Pasti tadi pagi Non lupa naro di sana sewaktu bikin
kopi untuk Den Kenan.” Kepala bik Janet bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.
Lucu seperti di film India. Kebiasaan bik Janet kalau berbicara, kepalanya
tidak bisa diam. Perlu waktu bagi Indah untuk menahan tawanya. Ia tidak ingin
mentertawakan bik Janet. Itu hanya kebiasaan.
“Duh, kok bisa di sana
ya bik? Nggak lumer kan kuncinya kepanasan?” Kata Indah. Jangan-jangan kunci
Omer sempat terpanggang juga di atas kompor.
“Nggak Non. Pancinya
bukan yang di atas kompor. Udah bibik taro kuncinya di meja rias di kamar
atas.” Kata Bik Janet.
“Ya sudah, bik.” Indah
memutar tubuhnya meninggalkan bik Janet. Ia segera naik ke kamarnya setelah
tadi meminum obat pereda rasa sakit yang didapat dari dokter.
***
Indah POV
Aku merasa lebih segar
sekarang. Setelah meluangkan waktu untuk tidur, perasaanku menjadi lebih baik.
“Non Indah, ada tamu di
bawah.” Bik Janet mengetuk pintu kamarku dan berucap dari luar.
“Iya bik. Disuruh
tunggu sebentar ya.” Aku berteriak dari dalam kamar. Pasti Arif dan Upil sudah
ada di bawah. Aku segera membasuh wajahku di wastafel. Baju yang kugunakan
masih baju yang tadi pagi ketika aku berangkat ke kampus. Sedikit kusut, tapi
berapa ini? Aku melihat ke arah jam tangan yang masih melingkar di tangan
kiriku. Jam empat sore, ternyata aku tertidur hampir selama dua jam.
Dengan berlari-lari
kecil aku menuruni tangga. Dari atas aku bisa melihat sosok dua orang sahabatku
itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan.
Kira-kira apa yang akan mereka tanyakan nanti ya?
“Hai teman-teman.”
Kataku menyapa mereka berdua.
“Lihat deh, yang kita
tengok bukan orang sakit. Cengar cengir... pasti mau ngeles kalau kami tanya.”
Upil berdecak melihatku yang senyum-senyum. Iya, aku tahu, mereka pasti akan
mececarku dengan banyak pertanyaan.
“Serius deh, kamu jadi
istri simpanan ya? Dapat fasilitas mewah begini. Rumah besar, garasi mobil
pasti ada mobilnya kan, terus ada asisten rumah tangga lagi. Ayo, kamu hutang
penjelasan In.” Sudah kuduga, mereka berdua pasti ingin tahu.
“Sorry yah, nggak
mungkinlah aku jadi istri simpanan. Suamiku itu pria single sebelum bertemu
aku.” Aku memulai penjelasanmu.
“Mana fotonya? Bisa
nggak kamu tunjukkan ke kami?” Kali ini Arif meminta bukti. Tapi, Oh God, aku
tidak punya foto Kenan sama sekali. Di dalam ponselku, tidak ada. Tidak mungkin
__ADS_1
menunjukkan album pernikahan kami karena menurut photografernya, fotonya bisa
kami terima sebulan setelah pernikahan. Foto yang besar pun tidak ada yang
terpasang di rumah kami karena memang belum ada. Aduh, bagaimana ini?
“Nggak usah fotonya
deh. Lain kali aku kenalkan langsung. Kalau aku tunjukkan sekarang, kalian
penasaran.” Jawabku dengan santai.
“Nah kan, pasti suamimu
jelek, jadi dia nggak berani kasih lihat ke kita, Rif. Atau jangan-jangan sudah
tua, duda beranak lima.” Kata Upil lagi.
“Eits... enggaklah Pil.
Kamu tega banget deh nuduh aku seperti itu.” Aku mencebikkan bibirku.
“Suami kamu sultan
yah?” Arif melihat lekat ke arahku.
Aku bingung harus
menjawab apa lagi. Sultan Kenan maksudnya? Iya sih, dia sultan, dalam arti
duitnya banyak hehe.... “Kalian ini mau nengok orang sakit atau cari bahan
gosip?”
“Hehe... kamu terlihat
baik-baik saja Indah. Tidak terlihat sakit. Jadi kami lebih penasaran dengan
kehidupan pribadimu sekarang. Kamu tadi diantar Kenan ke dokter?” Upil bertanya
lagi.
“Ya iyalah. Dia yang
harus tanggung jawab mengantarkanku ke dokter. Karena dia juga yang menumpahkan
air panas ke tubuhku.” Karena dia suamiku
juga, batinku. “Eh, kamu juga kenal dengan Kenan?” Tanyaku kepada Upil.
Seingatku, baru kali ini Upil menyebut nama Kenan.
“Ya tau dong. Mahasiswa
paling cool seangkatannya, yang bikin mahasiswi seangkatannya berlomba
mendekatinya. Gosip di kalangan mereka itu, pasti seputaran Kenan. Juga dia itu
sahabatnya adikku, Tino.” Upil menjelaskannya dengan panjang lebar. Dan aku
baru tahu ternyata Kenan cukup populer di mata mahasiswi seangkatannya. Mungkin
karena sikapnya yang irit bicara, membuatnya terlihat cool dan lebih menarik menarik.
Orang yang tidak banyak bicara terlihat lebih misterius dan menarik kan?
“Mungkin tadi Kenan
grogi ya, ditempel-tempel makhluk cantik seperti Bella, jadi dia nggak sengaja
menumpahkan kopi panas ke kamu In. Apes kamu dah, Bella yang bisa
nempel-nempel, kamu yang ketumpahan air panas hahaha....” Kini Arif yang
bercanda.
“Dasar... teman apaan
kalian itu. Bukannya berpihak kepadaku, malah nyukurin. Plis deh, nggak aku
kasih minum lho....” Aku melipat tanganku di depan dadaku, menampilkan air muka
serius. Tapi tampaknya tidak terlalu berpengaruh. Terbukti dari Upil dan Arif
yang terus menerus mentertawaiku. Tapi tak lama kemudian, datang Bik Janet
menyuguhkan air minum kepada kami. Tidak lupa pula ia menghidangkan somay
goreng kesukaannya. Maksudku, pedagang somay kesukaan Bik Janet, yang katanya
mirip Lee Min Ho.
Aku terus menghindari
pertanyaan mereka tentang suamiku. Lain waktu aku akan mengenalkannya secara
__ADS_1
langsung. Tidak untuk sekarang.
❤❤❤❤❤