THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
27. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

❤ SELAMAT MEMBACA ❤


“Eh Non Indah sudah


pulang. Itu kenapa Non? Ya ampun.” Bik Janet terkejut dengan keadaan Indah.


Tangannya dibalut dengan kain kasa dan di perutnya juga, walaupun tidak terlalu


jelas karena tertutup oleh kemeja.  Dan


seperti biasa, Bik Janet pasti lebih heboh daripada Kenan.


“Nggak apa-apa kok Bik.


Tadi sudah diantar ke dokter sama Kenan.” Indah berusaha menghalau bik Janet


yang ingin memeriksa lukanya. Ia juga menenangkan Bik Janet agar tidak bersikap


berlebihan. Indah menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga


merangkap ruang makan itu. Tapi rasa lapar menggelitiknya.


“Bik, masak apa siang


ini? Aku mau makan.” Kata Indah.


“Iya, bibik masak ayam


goreng sama sayur bening. Sebentar yah, bibik siapkan.” Bik Janet kemudian


berlalu ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tak lama kemudian Indah sudah


menyantap makan siangnya dengan lahap. Makan siang yang kesiangan karena sudah


lewat waktu makan siang.


Ting tong... ponsel yang


tergeletak di meja makan berbunyi. Ternyata ponselnya tertinggal di meja makan


tadi pagi. Indah segera memeriksa dan membuka layar ponselnya.


Arif : Gimana nduk,


udah ke dokter? (itu panggilan spesial Arif kepada dirinya apabila dalam


suasana yang serius. Berarti Arif serius menanyakan kondisi Indah. Dan pasti ia


khawatir dengan Indah.)


Indah : Sudah ke dokter.


Nggak apa-apa kok.


Arif : Kami mau


nengokin. Sekalian mau lihat tempat kost kamu yang baru.


Indah : Sama Tengklik


dan Upil?


Arif : Sama Upil aja.


Tengklik masih kasmaran sama pacar dapat di KKN.


Indah : Pantes tidak


beredar di kampus.


Arif : Mau dibawain


apa?


Indah : Dibawain cinta


dan kasih sayang.


Arif : Semprul kamu.


Indah : Nanti aku share


location.


“Bik, aku ke atas dulu


yah. Nanti kalau teman-temanku datang, aku dipanggil yah.” Indah melongok ke ruang


laundry, melihat bik Janet yang sedang menyetrika di sana.


“Iya non.” Bik Janet


kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Namun Indah kembali

__ADS_1


memutar tubuhnya menghadap bik Janet. “Bik, kunci Omernya ketemu nggak?”


“Ketemu non. Tadi bibik


nemu di atas tutup panci. Pasti tadi pagi Non lupa naro di sana sewaktu bikin


kopi untuk Den Kenan.” Kepala bik Janet bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan.


Lucu seperti di film India. Kebiasaan bik Janet kalau berbicara, kepalanya


tidak bisa diam. Perlu waktu bagi Indah untuk menahan tawanya. Ia tidak ingin


mentertawakan bik Janet. Itu hanya kebiasaan.


“Duh, kok bisa di sana


ya bik? Nggak lumer kan kuncinya kepanasan?” Kata Indah. Jangan-jangan kunci


Omer sempat terpanggang juga di atas kompor.


“Nggak Non. Pancinya


bukan yang di atas kompor. Udah bibik taro kuncinya di meja rias di kamar


atas.” Kata Bik Janet.


“Ya sudah, bik.” Indah


memutar tubuhnya meninggalkan bik Janet. Ia segera naik ke kamarnya setelah


tadi meminum obat pereda rasa sakit yang didapat dari dokter.


***


Indah POV


Aku merasa lebih segar


sekarang. Setelah meluangkan waktu untuk tidur, perasaanku menjadi lebih baik.


“Non Indah, ada tamu di


bawah.” Bik Janet mengetuk pintu kamarku dan berucap dari luar.


“Iya bik. Disuruh


tunggu sebentar ya.” Aku berteriak dari dalam kamar. Pasti Arif dan Upil sudah


ada di bawah. Aku segera membasuh wajahku di wastafel. Baju yang kugunakan


masih baju yang tadi pagi ketika aku berangkat ke kampus. Sedikit kusut, tapi


berapa ini? Aku melihat ke arah jam tangan yang masih melingkar di tangan


kiriku. Jam empat sore, ternyata aku tertidur hampir selama dua jam.


Dengan berlari-lari


kecil aku menuruni tangga. Dari atas aku bisa melihat sosok dua orang sahabatku


itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan.


Kira-kira apa yang akan mereka tanyakan nanti ya?


“Hai teman-teman.”


Kataku menyapa mereka berdua.


“Lihat deh, yang kita


tengok bukan orang sakit. Cengar cengir... pasti mau ngeles kalau kami tanya.”


Upil berdecak melihatku yang senyum-senyum. Iya, aku tahu, mereka pasti akan


mececarku dengan banyak pertanyaan.


“Serius deh, kamu jadi


istri simpanan ya? Dapat fasilitas mewah begini. Rumah besar, garasi mobil


pasti ada mobilnya kan, terus ada asisten rumah tangga lagi. Ayo, kamu hutang


penjelasan In.” Sudah kuduga, mereka berdua pasti ingin tahu.


“Sorry yah, nggak


mungkinlah aku jadi istri simpanan. Suamiku itu pria single sebelum bertemu


aku.” Aku memulai penjelasanmu.


“Mana fotonya? Bisa


nggak kamu tunjukkan ke kami?” Kali ini Arif meminta bukti. Tapi, Oh God, aku


tidak punya foto Kenan sama sekali. Di dalam ponselku, tidak ada. Tidak mungkin

__ADS_1


menunjukkan album pernikahan kami karena menurut photografernya, fotonya bisa


kami terima sebulan setelah pernikahan. Foto yang besar pun tidak ada yang


terpasang di rumah kami karena memang belum ada. Aduh, bagaimana ini?


“Nggak usah fotonya


deh. Lain kali aku kenalkan langsung. Kalau aku tunjukkan sekarang, kalian


penasaran.” Jawabku dengan santai.


“Nah kan, pasti suamimu


jelek, jadi dia nggak berani kasih lihat ke kita, Rif. Atau jangan-jangan sudah


tua, duda beranak lima.” Kata Upil lagi.


“Eits... enggaklah Pil.


Kamu tega banget deh nuduh aku seperti itu.” Aku mencebikkan bibirku.


“Suami kamu sultan


yah?” Arif melihat lekat ke arahku.


Aku bingung harus


menjawab apa lagi. Sultan Kenan maksudnya? Iya sih, dia sultan, dalam arti


duitnya banyak hehe.... “Kalian ini mau nengok orang sakit atau cari bahan


gosip?”


“Hehe... kamu terlihat


baik-baik saja Indah. Tidak terlihat sakit. Jadi kami lebih penasaran dengan


kehidupan pribadimu sekarang. Kamu tadi diantar Kenan ke dokter?” Upil bertanya


lagi.


“Ya iyalah. Dia yang


harus tanggung jawab mengantarkanku ke dokter. Karena dia juga yang menumpahkan


air panas ke tubuhku.” Karena dia suamiku


juga, batinku. “Eh, kamu juga kenal dengan Kenan?” Tanyaku kepada Upil.


Seingatku, baru kali ini Upil menyebut nama Kenan.


“Ya tau dong. Mahasiswa


paling cool seangkatannya, yang bikin mahasiswi seangkatannya berlomba


mendekatinya. Gosip di kalangan mereka itu, pasti seputaran Kenan. Juga dia itu


sahabatnya adikku, Tino.” Upil menjelaskannya dengan panjang lebar. Dan aku


baru tahu ternyata Kenan cukup populer di mata mahasiswi seangkatannya. Mungkin


karena sikapnya yang irit bicara, membuatnya terlihat cool dan lebih menarik menarik.


Orang yang tidak banyak bicara terlihat lebih misterius dan menarik kan?


“Mungkin tadi Kenan


grogi ya, ditempel-tempel makhluk cantik seperti Bella, jadi dia nggak sengaja


menumpahkan kopi panas ke kamu In. Apes kamu dah, Bella yang bisa


nempel-nempel, kamu yang ketumpahan air panas hahaha....” Kini Arif yang


bercanda.


“Dasar... teman apaan


kalian itu. Bukannya berpihak kepadaku, malah nyukurin. Plis deh, nggak aku


kasih minum lho....” Aku melipat tanganku di depan dadaku, menampilkan air muka


serius. Tapi tampaknya tidak terlalu berpengaruh. Terbukti dari Upil dan Arif


yang terus menerus mentertawaiku. Tapi tak lama kemudian, datang Bik Janet


menyuguhkan air minum kepada kami. Tidak lupa pula ia menghidangkan somay


goreng kesukaannya. Maksudku, pedagang somay kesukaan Bik Janet, yang katanya


mirip Lee Min Ho.


Aku terus menghindari


pertanyaan mereka tentang suamiku. Lain waktu aku akan mengenalkannya secara

__ADS_1


langsung. Tidak untuk sekarang.


❤❤❤❤❤


__ADS_2