
🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲
Kenan baru saja menyelesaikan dua mata kuliahnya. Ia bermaksud akan keluar dari ruangan setelah separuh mahasiswa meninggalkan ruangan. Beberapa mahasiswi berbicara dengan berbisik-bisik di samping Kenan. Ada Bella, Shania, Utari, dan beberapa yang lain. Ken tidak terlalu akrab dengan para mahasiswi. Jarang sekali ia terlibat
pembicaraan dengan mahasiswi, kecuali dalam urusan perkuliahan. Ia sering
terlihat bertiga dengan Tino dan Adi, dua sahabatnya sejak masa Ospek.
***
Kenan POV :
Aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kananku. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Pantas saja perutku sudah minta diisi. Siang ini aku tida adak kuliah lagi. Hanya saja nanti sore aku ada praktikum Fisika di Fakultas MIPA. Masih ada waktu sekitar tiga jam. Lebih baik kugunakan untuk makan dan memeriksa administrasi di cafeku. Jadi nanti malam aku tidak perlu ke sana lagi.
Kuambil tas ranselku yang tergeletak di atas meja. Tak lupa, kuambil buku Statistik yang teronggok di atas meja, lalu kumasukkan ke dalam tas ranselku. Kupikir semua sudah masuk ke dalam tasku. Tidak ada yang tertinggal. Kini kucari dengan sudut mataku,
kedua sahabatku yang biasanya selalu mengekoriku. Tak kutemukan mereka. Tapi
aku mendapati gerombolan mahasiswi yang sedang berbicara lirih dengan sesekali
melirik ke arahku. Dari gerak tubuh mereka, aku bisa tahu pastilah mereka sedang membicarakanku. Aku tidak tertarik dengan bahan pembicaraan mereka. Biarlah saja mereka sibuk menilaiku. I don’t care.
Segera kutinggalkan ruangan karena kedua sahabatku itu tidak ada di dalam kelas. Kemungkinan mereka sudah berada di kantin. Tapi tidak biasanya mereka berdua meninggalkanku sendiri. Baiklah, aku langsung saja menuju cafe. Aku akan makan siang di sana.
“Ken... Kenan.” Tiba-tiba suara seorang wanita menahanku keluar dari ruangan. Bella Ananda, mahasiswi seangkatanku, yang tadi juga mengikuti kuliah Statistik bersamaku,
memanggilku.
“Ken, makan siang bareng yuk.” Ajaknya ketika ia sudah berada satu meter dariku.
“Makan siang?” Aku terbengong dengan ajakannya. Belum pernah ada seorang mahasiswi yang berani mengajakku makan siang bersama. Ini masih di dalam kelas lho. Coba lihat, berapa pasang mata yang menatap kami?
“Iya. Di kantin. Sekalian ngobrol tentang Praktikum Fisika untuk nanti sore. Kamu kan satu kelompok praktikum denganku.” Katanya lagi. Tatapan wajahnya terlihat berharap
agar aku setuju dengan ajakannya.
“Emmm... maaf Bella, aku ada keperluan yang lain. Lain waktu yah.” Kataku lagi.
“Ok. Lain waktu yah Ken. Kamu sudah berjanji.” Katanya lagi dengan girang.
Berjanji katanya? Ups, aku yang salah berbicara. Tampaknya otakku agak lemot karena perut lapar. Harusnya aku tidak memberi kesempatan lagi kepadanya untuk menawariku lagi makan bersama. Ah, sudahlah. Itu bisa dipikir nanti.
Aku segera meninggalkan ruangan kuliah.
Dalam waktu lima menit aku telah sampai ke tempat aku memarkirkan mobil. Aku mengambil kunci mobil yang berada di dalam saku celana panjangku. Ketika hendak memasuki mobil, aku mendengar ponselku berbunyi. Kuambil ponsel dan kulihat layarnya. Tampak wajah Mami di sana.
“Hallo Mi.”
....
“Di kampus, Mi. Mau
__ADS_1
makan siang.”
....
“Iya Mi. Pasti.”
....
“A...apa? Dijodohkan?”
....
“Mami... ini zaman modern, ngapain juga dijodohkan. Apa anak mami ini kurang ganteng gitu, sampai dicarikan jodoh? Gini-gini aku laku jugalah Mi. Plis deh. Masa dijodohin sih Mi.”
....
“Harus banget ya Mi, dicarikan jodoh? Dulu mbak Adel nyari sendiri itu Mi.”
....
“Kenapa beda Mi? Ken anak Mami juga.”
....
“Mi, Ken baru umur sembilan belas tahun. Berasa perjaka tua kalau sampai Mami yang cariin jodoh.”
....
....
“Mami gitu. Tapi siapa yang Mami pilih, sampai maksa banget begini?”
....
“A...apa? Mami nggak salah? Indah anaknya Om Hendra dan Tante Ayunda?”
....
“Tapi Mi....”
....
“Iya, tapi Indah itu sudah....”
....
“Tapi Mi....”
....
“Tapi Indah temannya Mbak Adel, Mi.”
__ADS_1
....
“Tapi Mi....”
....
“MAMI....HALLOOOOO.”
Aku berteriak ke arah ponselku yang tiba-tiba saja dimatikan oleh mami. Fix , otak Mami agak bermasalah.
Beberapa pasang mata menatap heran ke arahku, tidak aku perdulikan. Terserah
mau mikir apa kalian.
Apa-apaan sih Mami ini. Apa yang kurang dariku coba? Tampan, pintar, sudah punya usaha sendiri, dan banyak yang naksir. Tapi kenapa Mami malah menjodohkan aku. Sepertinya aku ini bujang lapuk gitu. Apalah yang ada di pikiran Mami.
Sebentar, pikiran Mami sepertinya sedang error deh. Pengen banget Indah jadi anak menantunya. Aku sudah curiga dari dulu, mami itu sayang banget sama Indah. Perlakuannya kepada Mbak Adel sama dengan ke Indah. Jangan-jangan ini hanya keinginan Mami untuk menjadikan Indah sebagai anaknya.
Lalu bagaimana denganku? Mami merelakan anak kandungnya untuk menikah dengan Indah hanya untuk mengubah status agar Indah menjadi anaknya. Ini Mami mikirnya bagaimana sih? Apa jangan-jangan aku ini bukan anak kandungnya ya? Sepertinya tidak mungkin. Aku dan Papi mirip sekali. Aku ini Papi versi mudanya. Aku sudah lihat di
foto-fotonya Papi zaman mahasiswa. Tidak ada keraguan. Aku ini anak kandung Papi.
Atau jangan-jangan Indah yang anak kandung Mami, terus dititipkan ke Om Hendra dan Tante Ayunda? Tapi nggak mungkin juga deh. Kulit Indah berbeda dengan keluarga kami. Indah mempunyai kulit yang terang. Sedangkan keluarga kami berkulit gelap walaupun Papi ada keturunan orang bule. Lagipula Indah sangat mirip dengan Tante Ayunda. Atau jangan-jangan Tante Ayunda selingkuhan Papi? Ah, apa pula ini? Kenapa
pikiranku menjadi semakin tidak karuan?
Lalu apa kira-kira yang membuat Mami memaksaku? Atau jangan-jangan Mami yang kurang sehat. Yang kurang sehat apanya ya? Dari nada bicaranya, sepertinya Mami sehat-sehat saja. Mami yang kurang sehat atau aku yang kurang sehat? Atau aku ketularan Mami yang
sedang tidak sehat ? Huft....
Kulanjutkan kegiatanku yang terhenti tadi. Kulajukan mobil H*nda C*V ku ke arah cafe. Aku menghidupkan lagu di dalam mobil guna menghalau pikiranku yang agak kacau karena menerima telepon dari Mami tadi.
Ketika keluar dari pelataran Fakultasku, kulihat Adi sedang menggandeng seorang mahasiswi. Sepertinya mahasiswi seangkatanku. Aku tidak tahu namanya, aku tidak hafal nama teman-taman seangkatanku. Pantas saja dia pergi meninggalkanku, rupanya ia sendang berkencan. Adi memang jarang bercerita tentang wanita yang menjadi
incarannya. Berbeda dengan Tino yang bermulut ember. Belum juga pacaran, tapi
sudah cerita ke mana-mana. Dan parahnya, wanita incaran Tino kini akan dijodohkan denganku. Uft... perang dunia dimulai.
Timbul keisenganku untuk mengganggu sepasang sejoli yang sedang begandengan tangan ini. Aku sedikit menepikan mobil yang kukendarai, melajukan dengan pelan ketika barada di samping sejoli itu. Lalu tiba-tiba kutekan klakson mobil dengan keras.
Keduanya terkejut mendengar suara klakson mobil. Adi menyadari bahwa mobilku
yang berada di sampingnya. Ia pun mengacungkan jari tengahnya ke arahku.
Hahaha... aku terkekeh senang melihatnya. Aku pun meninggalkan mereka berdua
dan melajukan mobilku membelah jalan raya.
***
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1
Siapa ya, gandengannya Adi?