
🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴
Indah POV
Aku bangun pagi-pagi
sekali, sebelum Kenan bangun. Aku masih merasa malu dengan sikap bodohku
semalam. Dengan seenaknya aku memeluknya di atas tempat tidur. Sekarang, dengan
membayangkan kejadian tadi malam, sudah membuat wajahku panas. Aku segera masuk
ke ruang kerja dan menenggelamkan diri dalam tugas-tugasku. Semakin cepat
kukerjakan tugas ini, akan semakin baik hasilnya. Aku jadi punya kesempatan
lebih banyak berkonsultasi memperbaiki skripsiku.
“In, mau ikut lari pagi
nggak?” Kenan telah siap dengan pakaian olahraganya. Ia berdiri di pintu dan
memandang lurus ke arahku, menanti jawabanku. Ia memakai kaus hitam berlengan
tiga per empat dan celana training hitam. Kepalanya dibungkus dengan topi beani
(sejenis kupluk) berwarna hitam. Padahal Kenan baru bangun tidur. Tapi pancaran
keseksiannya maksimal, apa karena pengaruh pakaian yang dikenakannya ya? Gleg,
kurasa wajahku memerah lagi. Aku segera berdiri hendak berganti pakaian. Tidak
mungkin aku membiarkan suami tampanku lari pagi tanpa pengawalan. No... jangan
sering sedekah ke cewek jomblo kamu, Ken.
“Aku ikut. Tunggu ya.”
Aku segera berlari kecil menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara
Kenan telah turun menungguku di bawah.
Pakaian seperti apa ya,
yang kira-kira pantas untuk menemani cowok seksi seperti Kenan? Ups, Kenapa
pikiranku jadi kotor seperti ini?
***
Kenan POV
Seperti biasanya aku
bangun pukul lima pagi. Aku tidak menemukan Indah berada di sebelahku.
Tampaknya ia lebih dulu bangun. Sejenak aku mengingat kejadian semalam. Indah
tampak malu-malu ketika menyadari sikap spontannya merangkulku di atas tempat
tidur. Kubalas dengan dekapanku, tetapi ia terus menundukkan wajahnya dan tidak
berani menatapku. Lalu semalam, kami tidur tanpa pembatas guling. Ia diam saja
ketika kubelai rambutnya sebelum tidur. Tak lama kemudian kudengar nafasnya
yang teratur, menandakan bahwa ia telah terlelap. Sementara aku menenangkan
diri dengan mengatur nafas karena pisangku bergerak-gerak, membuatku gerah.
Perlu waktu cukup lama untuk kembali menjadi normal dan mehadirkan kantuk di
kepalaku.
Aku keluar dari kamar
dan menemukan lampu ruang kerja menyala. Berarti Indah sedang berada di sana.
Mungkin ia ingin segera menyelesaikan tugasnya. Aku tahu, dia wanita pekerja
keras. Pasti ia ingin menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin.
Kubasuh wajahku dengan
air dingin dan menyikat gigiku. Setelah aku berganti pakaian, kuhampiri Indah
yang berada di ruang sebelah.
“In, mau ikut lari pagi
nggak?” Aku bertanya kepadanya. Ia
mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di atas meja. Tidak seperti
biasanya. Indah menatap lama ke arahku, mengamatiku dari atas ke bawah. Kemudian ia menunduk dan mengatakan akan ikut.
Aku meninggalkannya dan menunggunya di bawah.
__ADS_1
***
Indah POV
Aku masih bolak-balik
dari ruang atas, ke ruang bawah, kemudian kembali lagi. Seperti biasa, penyakit
lupa ini kembali datang di saat aku sedang sibuk. Penyakit lupa datang di saat
yang tidak tepat. Padahal aku sedang terburu-buru hendak berkangkat ke kampus.
Ada kuliah pagi hari ini.
“Bik, lihat kunci Omer
nggak ya?” akhirnya aku mencari bantuan dengan bertanya kepada bik Janet. Aku
lupa meletakkan kunci Omer, kunci motor kesayanganku.
“Bibik belum lihat lho
Non. Tapi nanti bibik cari deh. Sudah, Non Indah sarapan dulu aja. Sudah
ditunggu Den Kenan.” Bik Janet segera mencari kunci dimulai dari sudut-sudut di
dapur. Mungkin salah masuk ke dalam wadah gula atau garam yah. Hihi... bik Janet
ada – ada saja.
“Iya Bik.” Aku kemudian
beranjak menuju meja makan. Kulihat Kenan sudah duduk menghadap meja sembari
membaca koran pagi. Kebiasaannya setiap pagi seperti ini. Aku pun mendudukkan
pantatku di atas kursi.
“Ayo sarapan.” Aku
segera menyendokkan nasi goreng ke atas piring Kenan dan piringku. Kenan
melipat korannya dan meletakkan di atas meja. Ia mendekatkan piring yang telah
kuisi nasi ke hadapannya. Hari ini Kenan memakai kemeja kotak-kotak biru dan
putih dan celana jeans hitam. Ia terlihat semakin tampan. Pikiranku mungkin
semakin aneh setelah kejadian tadi malam. Mana mungkin semakin lama Kenan
semakin tampan. Tapi, beda sekali dengan tadi pagi, lho... ia jauh lebih
mungkin. Hmm....
“Ken, lihat kunci Omer
nggak?” Aku bertanya kepada Kenan. Sebenarnya lebih lelah mencari kunci Omer
dibandingkan dengan lari pagi tadi. Entah berapa kali aku naik turun tangga
hanya untuk mencari kunci.
Kenan menggelengkan
kepalanya. “Ikut aku aja. Mau ke kampus kan?”
“Iya, mau ke kampus.”
Jawabku.
“Biar Bik Janet nyari
kuncinya.” Katanya lagi.
“Hari ini aku ada
kuliah Biokimia. Setelah kuliah, aku mau ke perpustakaan sebentar. Terus
pulang.” Kataku lagi.
“Nanti kalau sudah
selesai, kabari aja. Aku antar pulang.”
“Tapi kamu kan ada
kuliah lagi? Merepotkan kalau harus balik lagi ke kampus. Kamu nggak apa-apa?”
Aku berkata dengan bimbang. Aku tidak ingin merepotkan Kenan.
“Nanti aku antar
pulang. Kamu itu istriku.” Katanya lagi. Kali ini dengan ekspresi datarnya
menatap ke arahku. Oke deh, case closed. Aku tidak bisa membantah.
***
__ADS_1
“Bik, kami berangkat.
Tolong terus dicari yah kunci Omernya, Bik.” Indah berpamitan kepada Bik Janet
sebelum pergi. Tak lupa ia mengingatkan Bik Janet agar terus berusaha mencari
kunci motornya.
Indah mengikuti Kenan
masuk ke dalam mobil. Kemudian Kenan melajukan mobilnya keluar dari garasi
rumah. Mobil hitam itu pun melaju meninggalkan komplek Perumahan Sawitsari yang
asri.
“Kamu ngulang kuliah
Biokimia karena apa? Dulu nilainya jelek?” Kenan memecah kebisuan di dalam
mobil dengan bertanya kepada Indah. Sebenarnya ia agak curiga dengan sikap
Indah pagi hari ini yang lebih banyak menunduk dan tidak berani menatapnya
seperti biasa.
“Eh, iya. Mau
memperbaiki nilai.” Rasanya tidak mungkin Indah membeberkan alasan sebenarnya
mengulang kuliah Biokimia. Tidak mungkin ia bilang karena ingin melihat wajah
dosen pujaan hatinya bukan?
“Jam berapa kuliahnya?”
Indah bersyukur karena Kenan tidak menanyakan nilai Biokimia sebelumnya. Kalau
saja ia tahu, pasti Kenan akan bertanya-tanya, untuk apa Indah mengulang kuliah
Biokimia lagi.
“Jam delapan mulai
kuliah. Nanti selesai jam sepuluh. Terus aku ke perpustakaan.”
“Nanti kabari aku kalau
sudah mau pulang.” Kata Kenan lagi.
“Ken, kalau kamu ada
kuliah, Kuliah aja. Nanti pulangnya aku pesan ojek online saja.” Kini Indah
merasa tidak nyaman karena takut merepotkan suaminya.
Lagi-lagi Kenan
menggelengkan kepalanya. Ia melirik ke arah Indah, “Nanti aku antar. Aku ini
suami kamu.” Kenan menegaskan lagi kepada Indah mengenai statusnya. Mungkin ia
agar Indah menyadari bahwa ia adalah kepala keluarga di rumah. Dan Indah harus
taat kepada Kenan.
Okay, case closed. Indah tidak lagi membantah.
Ia kembali menunduk dan menggigit-gigit bibir bawahnya, menandakan
ketidaknyamanannya.
“Aduh Ken.” Tiba-tiba
Indah memutar bahunya ke arah Kenan. Melihat pria itu dengan pandangan
bersalah. Sementara yang dipandang masih berkonsentrasi mengendarai mobil.
“Ada apa lagi In?”
Tanya Kenan.
“Anu... eh, ponselku
ketinggalan di meja makan.” Indah menggigit-gigit bibir bawahnya.
Krik... krik... krik...
Tak ada jawaban dari
Kenan. Ia terus melajukan mobilnya menuju ke arah kampus. Ketika Kenan
memarkirkan kendaraannya di tempat parkir, ia berkata, “Nanti aku tunggu di
kantin kampus setelah kamu selesai dengan urusan di perpustakaan.”
***
__ADS_1
🌴🌴🌴🌴🌴