THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
24. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴


Indah POV


Aku bangun pagi-pagi


sekali, sebelum Kenan bangun. Aku masih merasa malu dengan sikap bodohku


semalam. Dengan seenaknya aku memeluknya di atas tempat tidur. Sekarang, dengan


membayangkan kejadian tadi malam, sudah membuat wajahku panas. Aku segera masuk


ke ruang kerja dan menenggelamkan diri dalam tugas-tugasku. Semakin cepat


kukerjakan tugas ini, akan semakin baik hasilnya. Aku jadi punya kesempatan


lebih banyak berkonsultasi memperbaiki skripsiku.


“In, mau ikut lari pagi


nggak?” Kenan telah siap dengan pakaian olahraganya. Ia berdiri di pintu dan


memandang lurus ke arahku, menanti jawabanku. Ia memakai kaus hitam berlengan


tiga per empat dan celana training hitam. Kepalanya dibungkus dengan topi beani


(sejenis kupluk) berwarna hitam. Padahal Kenan baru bangun tidur. Tapi pancaran


keseksiannya maksimal, apa karena pengaruh pakaian yang dikenakannya ya? Gleg,


kurasa wajahku memerah lagi. Aku segera berdiri hendak berganti pakaian. Tidak


mungkin aku membiarkan suami tampanku lari pagi tanpa pengawalan. No... jangan


sering sedekah ke cewek jomblo kamu, Ken.


“Aku ikut. Tunggu ya.”


Aku segera berlari kecil menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara


Kenan telah turun menungguku di bawah.


Pakaian seperti apa ya,


yang kira-kira pantas untuk menemani cowok seksi seperti Kenan? Ups, Kenapa


pikiranku jadi kotor seperti ini?


***


Kenan POV


Seperti biasanya aku


bangun pukul lima pagi. Aku tidak menemukan Indah berada di sebelahku.


Tampaknya ia lebih dulu bangun. Sejenak aku mengingat kejadian semalam. Indah


tampak malu-malu ketika menyadari sikap spontannya merangkulku di atas tempat


tidur. Kubalas dengan dekapanku, tetapi ia terus menundukkan wajahnya dan tidak


berani menatapku. Lalu semalam, kami tidur tanpa pembatas guling. Ia diam saja


ketika kubelai rambutnya sebelum tidur. Tak lama kemudian kudengar nafasnya


yang teratur, menandakan bahwa ia telah terlelap. Sementara aku menenangkan


diri dengan mengatur nafas karena pisangku bergerak-gerak, membuatku gerah.


Perlu waktu cukup lama untuk kembali menjadi normal dan mehadirkan kantuk di


kepalaku.


Aku keluar dari kamar


dan menemukan lampu ruang kerja menyala. Berarti Indah sedang berada di sana.


Mungkin ia ingin segera menyelesaikan tugasnya. Aku tahu, dia wanita pekerja


keras. Pasti ia ingin menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin.


Kubasuh wajahku dengan


air dingin dan menyikat gigiku. Setelah aku berganti pakaian, kuhampiri Indah


yang berada di ruang sebelah.


“In, mau ikut lari pagi


nggak?”  Aku bertanya kepadanya. Ia


mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di atas meja. Tidak seperti


biasanya. Indah menatap lama ke arahku, mengamatiku dari atas ke bawah.  Kemudian ia menunduk dan mengatakan akan ikut.


Aku meninggalkannya dan menunggunya di bawah.

__ADS_1


***


Indah POV


Aku masih bolak-balik


dari ruang atas, ke ruang bawah, kemudian kembali lagi. Seperti biasa, penyakit


lupa ini kembali datang di saat aku sedang sibuk. Penyakit lupa datang di saat


yang tidak tepat. Padahal aku sedang terburu-buru hendak berkangkat ke kampus.


Ada kuliah pagi hari ini.


“Bik, lihat kunci Omer


nggak ya?” akhirnya aku mencari bantuan dengan bertanya kepada bik Janet. Aku


lupa meletakkan kunci Omer, kunci motor kesayanganku.


“Bibik belum lihat lho


Non. Tapi nanti bibik cari deh. Sudah, Non Indah sarapan dulu aja. Sudah


ditunggu Den Kenan.” Bik Janet segera mencari kunci dimulai dari sudut-sudut di


dapur. Mungkin salah masuk ke dalam wadah gula atau garam yah. Hihi... bik Janet


ada – ada saja.


“Iya Bik.” Aku kemudian


beranjak menuju meja makan. Kulihat Kenan sudah duduk menghadap meja sembari


membaca koran pagi. Kebiasaannya setiap pagi seperti ini. Aku pun mendudukkan


pantatku di atas kursi.


“Ayo sarapan.” Aku


segera menyendokkan nasi goreng ke atas piring Kenan dan piringku. Kenan


melipat korannya dan meletakkan di atas meja. Ia mendekatkan piring yang telah


kuisi nasi ke hadapannya. Hari ini Kenan memakai kemeja kotak-kotak biru dan


putih dan celana jeans hitam. Ia terlihat semakin tampan. Pikiranku mungkin


semakin aneh setelah kejadian tadi malam. Mana mungkin semakin lama Kenan


semakin tampan. Tapi, beda sekali dengan tadi pagi, lho... ia jauh lebih


mungkin. Hmm....


“Ken, lihat kunci Omer


nggak?” Aku bertanya kepada Kenan. Sebenarnya lebih lelah mencari kunci Omer


dibandingkan dengan lari pagi tadi. Entah berapa kali aku naik turun tangga


hanya untuk mencari kunci.


Kenan menggelengkan


kepalanya. “Ikut aku aja. Mau ke kampus kan?”


“Iya, mau ke kampus.”


Jawabku.


“Biar Bik Janet nyari


kuncinya.” Katanya lagi.


“Hari ini aku ada


kuliah Biokimia. Setelah kuliah, aku mau ke perpustakaan sebentar. Terus


pulang.” Kataku lagi.


“Nanti kalau sudah


selesai, kabari aja. Aku antar pulang.”


“Tapi kamu kan ada


kuliah lagi? Merepotkan kalau harus balik lagi ke kampus. Kamu nggak apa-apa?”


Aku berkata dengan bimbang. Aku tidak ingin merepotkan Kenan.


“Nanti aku antar


pulang. Kamu itu istriku.” Katanya lagi. Kali ini dengan ekspresi datarnya


menatap ke arahku. Oke deh, case closed. Aku tidak bisa membantah.


***

__ADS_1


“Bik, kami berangkat.


Tolong terus dicari yah kunci Omernya, Bik.” Indah berpamitan kepada Bik Janet


sebelum pergi. Tak lupa ia mengingatkan Bik Janet agar terus berusaha mencari


kunci motornya.


Indah mengikuti Kenan


masuk ke dalam mobil. Kemudian Kenan melajukan mobilnya keluar dari garasi


rumah. Mobil hitam itu pun melaju meninggalkan komplek Perumahan Sawitsari yang


asri.


“Kamu ngulang kuliah


Biokimia karena apa? Dulu nilainya jelek?” Kenan memecah kebisuan di dalam


mobil dengan bertanya kepada Indah. Sebenarnya ia agak curiga dengan sikap


Indah pagi hari ini yang lebih banyak menunduk dan tidak berani menatapnya


seperti biasa.


“Eh, iya. Mau


memperbaiki nilai.” Rasanya tidak mungkin Indah membeberkan alasan sebenarnya


mengulang kuliah Biokimia. Tidak mungkin ia bilang karena ingin melihat wajah


dosen pujaan hatinya bukan?


“Jam berapa kuliahnya?”


Indah bersyukur karena Kenan tidak menanyakan nilai Biokimia sebelumnya. Kalau


saja ia tahu, pasti Kenan akan bertanya-tanya, untuk apa Indah mengulang kuliah


Biokimia lagi.


“Jam delapan mulai


kuliah. Nanti selesai jam sepuluh. Terus aku ke perpustakaan.”


“Nanti kabari aku kalau


sudah mau pulang.” Kata Kenan lagi.


“Ken, kalau kamu ada


kuliah, Kuliah aja. Nanti pulangnya aku pesan ojek online saja.” Kini Indah


merasa tidak nyaman karena takut merepotkan suaminya.


Lagi-lagi Kenan


menggelengkan kepalanya. Ia melirik ke arah Indah, “Nanti aku antar. Aku ini


suami kamu.” Kenan menegaskan lagi kepada Indah mengenai statusnya. Mungkin ia


agar Indah menyadari bahwa ia adalah kepala keluarga di rumah. Dan Indah harus


taat kepada Kenan.


Okay, case closed. Indah tidak lagi membantah.


Ia kembali menunduk dan menggigit-gigit bibir bawahnya, menandakan


ketidaknyamanannya.


“Aduh Ken.” Tiba-tiba


Indah memutar bahunya ke arah Kenan. Melihat pria itu dengan pandangan


bersalah. Sementara yang dipandang masih berkonsentrasi mengendarai mobil.


“Ada apa lagi In?”


Tanya Kenan.


“Anu... eh, ponselku


ketinggalan di meja makan.” Indah menggigit-gigit bibir bawahnya.


Krik... krik... krik...


Tak ada jawaban dari


Kenan. Ia terus melajukan mobilnya menuju ke arah kampus. Ketika Kenan


memarkirkan kendaraannya di tempat parkir, ia berkata, “Nanti aku tunggu di


kantin kampus setelah kamu selesai dengan urusan di perpustakaan.”


***

__ADS_1


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2