THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
25. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺


Indah POV


Kegiatan perkuliahanku


pada hari ini selesai. Banyak yang menanyakan mengapa aku mengambil mata kuliah


Biokimia ini lagi. Padahal nilaiku cukup bagus, yaitu B. Ketiga sahabatku juga


mempertanyakan hal ini kepadaku. Mereka menganggap sia-sia. Untuk apa diulang


jika sudah mendapatkan nilai yang bagus. Begitu pikir mereka. Tetapi tidak


denganku.


Pertama karena hanya di


semester ini aku berkesempatan untuk memperbaiki nilai. Semester depan, aku


tidak dapat mengulang teori lagi karena harapanku semester depan aku sudah


lulus. Aku tidak perlu mengikuti semseter ganjil lagi untuk yang kelima kali. Hanya


inilah kesempatanku jika ingin mengulang teori.


Kedua karena ingin


mendapatkan nilai yang maksimal. Selama masih ada kesempatan untuk menaikkan


nilai, akan kulakukan. Kebetulan mata kuliah ini mempunyai SKS (Sistem Kredit


Semester) yang banyak, yaitu 6 SKS. Jika aku dapat meningkatkannya menjadi A,


maka tentu saja IP  (Indeks Prestasi) Kumulatifku


akan bergerak naik. Lumayan kan untuk mencapai lulus dengan predikat cumlaude.


Siapa tahu berhasil.


Tapi bohong. Itu semua


hanya modus. Motifku yang utama adalah untuk lebih sering menatap pak dosen


pujaanku. Pak Wiseso yang sudah membuat hatiku cenat cenut sejak semester


pertama. Pertemuan kami pada awal tahun pelajaran, dilanjutkan dengan


keramahannya yang selalu menyapaku, membuatku terbang. Setiap perlakuannya


kepadaku membuatku berbunga-bunga. Entahlah itu karena memang aku yang


terlampau ge er atau memang Pak Wiseso yang senang tepe tepe (tebar pesona)


kepada mahasiswanya. Aku bahkan merasa dekat dengan pak dosen yang selalu


membantuku dengan buku acuan serta jurnal-jurnal pendukung sehingga aku lebih


mudah dalam mengerjakan tugas-tugas dari dosen yang lain.


Setelah aku merasa


terbang tinggi ke atas awan, angin kencang menghempas kesadaranku. Ketika kami


sedang mengikuti Praktikum Biokimia, seorang wanita cantik selevel dengan


Tamara Bleszynski datang menuju ke laboratorium biokimia. Wanita tinggi


semampai dengan rambut ikal kecokelatan, kulit putih pucat, hidung mancung, berdagu


belah, bulu mata lentik, dan senyum dari bibirnya yang merah merona datang


menyapa Pak Wiseso. Aku syok melihat pak Wiseso memeluk sang wanita cantik.


Mereka kemudian keluar dari ruangan. Sementara aku megap-megap hampir pingsan


kehabisan nafas karena pemandangan itu. Untung saja Arif dan Upil berada di


dekatku.


Wanita cantik blasteran


itu adalah Ibu Sania. Beliau juga dosen di kampus sebelah, di Fakultas


Kehutanan. Ternyata beliau adalah istri dari pak Wiseso. Aku terhenyak

__ADS_1


mengetahui kenyataan itu. Sejak itu aku tidak lagi berharap kepada pak dosen


tampan itu dan perlahan-lahan menjauh darinya.


Kini, aku hanya ingin


mengenang wajah Pak Wiseso sebelum aku mengakhiri kuliah di kampus ini. Semoga


saja bisa menjadi kenangan yang indah, seindah namaku. Jadi aku putuskan untuk


mengulang kembali mata kuliah ini.


Ketika waktu sudah


menunjukkan tengah hari, aku berjalan menuju kantin kampus. Kantin kampus ini


jarang aku kunjungi jika aku bersama dengan sahabar-sahabatku. Kami lebih


sering makan di kantin Fakultas Sastra, sambil tepe tepe pastinya. Berhubung tadi


pagi Kenan berjanji menungguku di kantin setelah aku menyelesaikan semua


urusanku di kampus, maka kulangkahkan kakiku ke kantin kampus tercinta.


Kulihat suasana kantin


tidak begitu ramai. Ada Kenan di sana, sedang duduk berbicara dengan Adi,


sahabatnya. Aku putuskan nanti akan menghampirinya setelah selesai mkan.


Sekarang aku tidak ingin mengganggu pembicaraannya dengan Adi. Kupilih kursi di


sudut yang berlawanan dengannya. Tiba-tiba datang dua orang manusia


mengejutkanku.


“Haiiiii...” Kata Upil


dan Arif hampir bersamaan. Mereka berdua langsung memelukku. Tidak menghiraukan


tatapan mata yang mengarah kepada kami.


“Hei, lama banget nggak


ketemu. Pindah kost juga nggak bilang-bilang. Tahu-tahu, pulang liburan,


ke kost barumu dong.” Upil langsung menyerbuku dengan perkataannya. Aku hanya


terkekeh menanggapinya. Aku tidak sempat memberitahunya karena pada saat


pindahan, Upil dan Arif sedang mudik. Waktu itu memang masih liburan semester.


Tidak banyak anak di kost ketika aku memindahkan barang-barangku.


Upil dan Arif duduk di


sebelah kanan dan kiriku. Kini aku seperti anak kecil yang sedang ditanya ayah


dan ibunya.


“In, kamu agak gemukan


yah, liburan ini. Lihat nih, pipinya tambah montok.” Arif tiba-tiba mencubit


pipiku. Aku juga merasakan kalau akhir-akhir ini berat bubuhku bertambah.


Mungkin karena enak yah, tidak perlu masak, bersih-bersih, beberes, hanya makan


tidur dan belajar. Ditambah lagi keuanganku cukup terjamin sehingga hidupku


terasa lebih mudah.


“Aku traktir deh.


Sebentar, kalian mau makan apa?” Aku segera berdiri hendak memesan makanan ke


ibu kantin.


“Soto ya jeng.” Kata


Upil


“Aku nasi pecel aja.


Pakai telur yah.” Kata Arif.

__ADS_1


Ketika aku menuju ke


tempat ibu kantin berdiri, bersamaan dengan itu, Kenan juga sudah berdiri di


sana. Seperti biasa dia hendak mengambil kopi hitam yang telah dipesan


sebelumnya. Kami berdiri bersisian. Mata kami bertemu, tetapi kami diam.


“Kenan.” Terdengar


suara seorang wanita memanggil namanya. Kemudian kulihat seorang wanita cantik


berambut lurus sebahu datang menghampiri Kenan. Kenan terlihat cuek. Ia lebih


memilih mengambil kopi pahitnya daripada menengok ke arah sumber suara itu.


“Ken, data Praktikum


Fisika kemarin hilang.” Wanita itu menepuk pundak Kenan, mengamit lengannya, lalu


mengusapnya dengan genit. Bersamaan dengan itu, Kenan yang terkejut dengan


sentuhan itu, hendak membalikan tubuhnya. Akhirnya, terjadilah kecelakaan itu. Padahal


Kenan sedang memegang kopi panas, dari air yang baru saja mendidih. Aku lihat


tadi ibu kantin baru saja menuangkan air mendidih ke dalam gelas berisi kopi


dan gula. Gelas kopi itu pun terlepas dari pegangan Kenan. Apesnya, tumpahan


air kopi panas itu mengenai tangan dan perutku. Kenapa tumpahnya ke arahku sih?


Semesta sedang becanda nih.


Aww...panas...panas....


“Kenan....” aku


menjerit tertahan. Kulit tangan dan perutku terasa perih dan panas. Kenan


sejenak tertegun dengan kejadian tadi. Namun ia segera menarik tangan kananku


yang tidak terkena tumpahan air kopi. Ia manarikku ke arah kamar mandi wanita.


“In, maaf. Maaf.” Sorot


matanya terlihat sangat khawatir. Ia meletakkan tanganku di bawah wastafel dan


mengucurinya dengan air dari kran. Kemudian ia membuka dua  kancing kemejaku yang berada di perut. Ia


memeriksa kulit perutku. Aku tidak lagi malu karena perutku tersingkap karena


yang kurasakan kini hanyalah perih.


“Jangan sampai kain


kemejamu menempel di kulit perut In. Bisa sakit kalau sampai menempel. Kita ke


dokter sekarang. Tunggu aku di sini. Aku ambil tasku dan barang-barangmu.


Tanganmu tetap harus dikucuri dengan air sampai aku datang.” Katanya memaksa.


“Mbak, kalau mau


pacaran jangan di kamar mandi dong. Kayak nggak ada tempat lain aja.” Seorang


mahasiswi masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati kami yang sedang melakukan


adengan yang awkawk.


“Istri saya ketumpahan


air panas. Maaf, saya keluar dulu.” Kenan yang tidak mau ribut, segera keluar


dari ruangan. Ia meninggalkanku yang meringis di depan wastafel. Sementara


mahasiswi yang menegur kami tadi menatapku dengan sinis. Ia kemudian


mencebikkan bibirnya dan mengendus ke arahku. Aku pun diam saja tidak


menghiraukannya. Aku tidak mau memperpanjang urusan dengannya.


Apa kata Kenan tadi,


‘istri saya’. Aku jadi berdebar mendengarnya.

__ADS_1


***


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2