
🌺 SELAMAT MEMBACA 🌺
Indah POV
Kegiatan perkuliahanku
pada hari ini selesai. Banyak yang menanyakan mengapa aku mengambil mata kuliah
Biokimia ini lagi. Padahal nilaiku cukup bagus, yaitu B. Ketiga sahabatku juga
mempertanyakan hal ini kepadaku. Mereka menganggap sia-sia. Untuk apa diulang
jika sudah mendapatkan nilai yang bagus. Begitu pikir mereka. Tetapi tidak
denganku.
Pertama karena hanya di
semester ini aku berkesempatan untuk memperbaiki nilai. Semester depan, aku
tidak dapat mengulang teori lagi karena harapanku semester depan aku sudah
lulus. Aku tidak perlu mengikuti semseter ganjil lagi untuk yang kelima kali. Hanya
inilah kesempatanku jika ingin mengulang teori.
Kedua karena ingin
mendapatkan nilai yang maksimal. Selama masih ada kesempatan untuk menaikkan
nilai, akan kulakukan. Kebetulan mata kuliah ini mempunyai SKS (Sistem Kredit
Semester) yang banyak, yaitu 6 SKS. Jika aku dapat meningkatkannya menjadi A,
maka tentu saja IP (Indeks Prestasi) Kumulatifku
akan bergerak naik. Lumayan kan untuk mencapai lulus dengan predikat cumlaude.
Siapa tahu berhasil.
Tapi bohong. Itu semua
hanya modus. Motifku yang utama adalah untuk lebih sering menatap pak dosen
pujaanku. Pak Wiseso yang sudah membuat hatiku cenat cenut sejak semester
pertama. Pertemuan kami pada awal tahun pelajaran, dilanjutkan dengan
keramahannya yang selalu menyapaku, membuatku terbang. Setiap perlakuannya
kepadaku membuatku berbunga-bunga. Entahlah itu karena memang aku yang
terlampau ge er atau memang Pak Wiseso yang senang tepe tepe (tebar pesona)
kepada mahasiswanya. Aku bahkan merasa dekat dengan pak dosen yang selalu
membantuku dengan buku acuan serta jurnal-jurnal pendukung sehingga aku lebih
mudah dalam mengerjakan tugas-tugas dari dosen yang lain.
Setelah aku merasa
terbang tinggi ke atas awan, angin kencang menghempas kesadaranku. Ketika kami
sedang mengikuti Praktikum Biokimia, seorang wanita cantik selevel dengan
Tamara Bleszynski datang menuju ke laboratorium biokimia. Wanita tinggi
semampai dengan rambut ikal kecokelatan, kulit putih pucat, hidung mancung, berdagu
belah, bulu mata lentik, dan senyum dari bibirnya yang merah merona datang
menyapa Pak Wiseso. Aku syok melihat pak Wiseso memeluk sang wanita cantik.
Mereka kemudian keluar dari ruangan. Sementara aku megap-megap hampir pingsan
kehabisan nafas karena pemandangan itu. Untung saja Arif dan Upil berada di
dekatku.
Wanita cantik blasteran
itu adalah Ibu Sania. Beliau juga dosen di kampus sebelah, di Fakultas
Kehutanan. Ternyata beliau adalah istri dari pak Wiseso. Aku terhenyak
__ADS_1
mengetahui kenyataan itu. Sejak itu aku tidak lagi berharap kepada pak dosen
tampan itu dan perlahan-lahan menjauh darinya.
Kini, aku hanya ingin
mengenang wajah Pak Wiseso sebelum aku mengakhiri kuliah di kampus ini. Semoga
saja bisa menjadi kenangan yang indah, seindah namaku. Jadi aku putuskan untuk
mengulang kembali mata kuliah ini.
Ketika waktu sudah
menunjukkan tengah hari, aku berjalan menuju kantin kampus. Kantin kampus ini
jarang aku kunjungi jika aku bersama dengan sahabar-sahabatku. Kami lebih
sering makan di kantin Fakultas Sastra, sambil tepe tepe pastinya. Berhubung tadi
pagi Kenan berjanji menungguku di kantin setelah aku menyelesaikan semua
urusanku di kampus, maka kulangkahkan kakiku ke kantin kampus tercinta.
Kulihat suasana kantin
tidak begitu ramai. Ada Kenan di sana, sedang duduk berbicara dengan Adi,
sahabatnya. Aku putuskan nanti akan menghampirinya setelah selesai mkan.
Sekarang aku tidak ingin mengganggu pembicaraannya dengan Adi. Kupilih kursi di
sudut yang berlawanan dengannya. Tiba-tiba datang dua orang manusia
mengejutkanku.
“Haiiiii...” Kata Upil
dan Arif hampir bersamaan. Mereka berdua langsung memelukku. Tidak menghiraukan
tatapan mata yang mengarah kepada kami.
“Hei, lama banget nggak
ketemu. Pindah kost juga nggak bilang-bilang. Tahu-tahu, pulang liburan,
ke kost barumu dong.” Upil langsung menyerbuku dengan perkataannya. Aku hanya
terkekeh menanggapinya. Aku tidak sempat memberitahunya karena pada saat
pindahan, Upil dan Arif sedang mudik. Waktu itu memang masih liburan semester.
Tidak banyak anak di kost ketika aku memindahkan barang-barangku.
Upil dan Arif duduk di
sebelah kanan dan kiriku. Kini aku seperti anak kecil yang sedang ditanya ayah
dan ibunya.
“In, kamu agak gemukan
yah, liburan ini. Lihat nih, pipinya tambah montok.” Arif tiba-tiba mencubit
pipiku. Aku juga merasakan kalau akhir-akhir ini berat bubuhku bertambah.
Mungkin karena enak yah, tidak perlu masak, bersih-bersih, beberes, hanya makan
tidur dan belajar. Ditambah lagi keuanganku cukup terjamin sehingga hidupku
terasa lebih mudah.
“Aku traktir deh.
Sebentar, kalian mau makan apa?” Aku segera berdiri hendak memesan makanan ke
ibu kantin.
“Soto ya jeng.” Kata
Upil
“Aku nasi pecel aja.
Pakai telur yah.” Kata Arif.
__ADS_1
Ketika aku menuju ke
tempat ibu kantin berdiri, bersamaan dengan itu, Kenan juga sudah berdiri di
sana. Seperti biasa dia hendak mengambil kopi hitam yang telah dipesan
sebelumnya. Kami berdiri bersisian. Mata kami bertemu, tetapi kami diam.
“Kenan.” Terdengar
suara seorang wanita memanggil namanya. Kemudian kulihat seorang wanita cantik
berambut lurus sebahu datang menghampiri Kenan. Kenan terlihat cuek. Ia lebih
memilih mengambil kopi pahitnya daripada menengok ke arah sumber suara itu.
“Ken, data Praktikum
Fisika kemarin hilang.” Wanita itu menepuk pundak Kenan, mengamit lengannya, lalu
mengusapnya dengan genit. Bersamaan dengan itu, Kenan yang terkejut dengan
sentuhan itu, hendak membalikan tubuhnya. Akhirnya, terjadilah kecelakaan itu. Padahal
Kenan sedang memegang kopi panas, dari air yang baru saja mendidih. Aku lihat
tadi ibu kantin baru saja menuangkan air mendidih ke dalam gelas berisi kopi
dan gula. Gelas kopi itu pun terlepas dari pegangan Kenan. Apesnya, tumpahan
air kopi panas itu mengenai tangan dan perutku. Kenapa tumpahnya ke arahku sih?
Semesta sedang becanda nih.
Aww...panas...panas....
“Kenan....” aku
menjerit tertahan. Kulit tangan dan perutku terasa perih dan panas. Kenan
sejenak tertegun dengan kejadian tadi. Namun ia segera menarik tangan kananku
yang tidak terkena tumpahan air kopi. Ia manarikku ke arah kamar mandi wanita.
“In, maaf. Maaf.” Sorot
matanya terlihat sangat khawatir. Ia meletakkan tanganku di bawah wastafel dan
mengucurinya dengan air dari kran. Kemudian ia membuka dua kancing kemejaku yang berada di perut. Ia
memeriksa kulit perutku. Aku tidak lagi malu karena perutku tersingkap karena
yang kurasakan kini hanyalah perih.
“Jangan sampai kain
kemejamu menempel di kulit perut In. Bisa sakit kalau sampai menempel. Kita ke
dokter sekarang. Tunggu aku di sini. Aku ambil tasku dan barang-barangmu.
Tanganmu tetap harus dikucuri dengan air sampai aku datang.” Katanya memaksa.
“Mbak, kalau mau
pacaran jangan di kamar mandi dong. Kayak nggak ada tempat lain aja.” Seorang
mahasiswi masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati kami yang sedang melakukan
adengan yang awkawk.
“Istri saya ketumpahan
air panas. Maaf, saya keluar dulu.” Kenan yang tidak mau ribut, segera keluar
dari ruangan. Ia meninggalkanku yang meringis di depan wastafel. Sementara
mahasiswi yang menegur kami tadi menatapku dengan sinis. Ia kemudian
mencebikkan bibirnya dan mengendus ke arahku. Aku pun diam saja tidak
menghiraukannya. Aku tidak mau memperpanjang urusan dengannya.
Apa kata Kenan tadi,
‘istri saya’. Aku jadi berdebar mendengarnya.
__ADS_1
***
🌺🌺🌺🌺🌺