THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
48. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Indah POV


Tidak terasa dua minggu


lagi aku dijadwalkan mengikuti sidang skripsi. Inilah jadwal yang paling aku


tunggu karena merupakan langkah terakhir sebelum kelulusan. Kedua orang


temanku, yaotu Arif dan Upil juga akan menghadapi sidang skripsi dalam waktu


hampir bersamaan denganku. Upil dijadwalkan sehari sebelum aku, dan Arif


dijadwalkan dua hari setelah aku.


“Nem, nanti temani aku


dong ke gedung pusat Antar Universitas. Ada literatur yang kucari di sana.”


Upil berbicara setelah mengelap mulutnya yang berminyak dengan selembar tissue.


Kami berdua berada di kost Upil, kostku dulu sebelum menikah dengan Kenan. Kami


makan siang di sana sepulang dari kampus.


Kost Upil letaknya


lebih dekat dengan kampus dibandingkan dengan rumahku, sehingga kami


memanfaatkan waktu makan siang dan istirahat di sana.


Aku meneguk botol air


mineral yang ada di hadapanku. “Iya. Aku belum pernah ke sana lho, Pil.


Kayaknya eksklusif gitu. Tempat orang-orang pintar. Hanya kalangan mahasiswa S2


yang ke sana. Yang di dekat Fakultas Teknik itu kan?”


“Iya, benar di sana.


Halah, sama aja kok. Banyak juga yang mahsiswa S1 seperti kita ke sana. Biasa


aja, perpustakaannya seperti yang lain. Nggak ada bedanya.”


“Oh, belum-belum aku


merasa minder nih.” Kataku lagi.


Tok tok tok... “Mbak


Luthvia....” Tiba-tiba terdengar suara berat pria dari luar kamar.


“Iya, sebentar, Tino.”


Oh, ternyata Tino adiknya Upil yang datang.


Upil beranjak berdiri


dan membukakan pintu.


“Mbak, aku numpang


makan dong. Nggak sempat ke kostku nih. Sebentar lagi sudah masuk ke kelas.”


Tino menatap kakaknya dengan tampang memohon.


“His, kamu ini. Ada-ada


aja. Masuk sana, ambil sendiri di dalam magic com. Sayur dan lauknya ada di


meja.” Tino segera masuk. Ia terlihat terkejut melihatku di sana.


“Eh, ada mbak Indah.”


Tino mengangguk ke arahku dengan tatapan kikuk. Ia cepat-cepat mengalihkan


pandangannya menuju magic com.


“Tin, kok lama nggak ke


rumah lagi? Di kampus juga jarang ketemu ya sama Kenan? Kamu sibuk banget gitu?


Kenan kesepian lho, biasanya kan kalian bertiga, tetapi beberapa bulan ini


Kenan hanya ditemani Adi. Kayaknya kurang lengkap kalau nggak lihat kalian


bertiga.” Aku penasaran kesibukan apa yang sedang digeluti oleh Tino. Dari


cerita Kenan, hanya Adi yang sering bersamanya akhir-akhir ini. Kalau


diingat-ingat, sejak Adi dan Tino menginap di rumah. Setelah itu aku tidak

__ADS_1


pernah lagi melihat Tino bersama Kenan. Padahal biasanya mereka selalu bertiga


di kampus.


“Eh, anu mbak. Lagi


nggak bareng aja jadwal kuliahnya. Jadi jarang ketemu.” Jawabnya. Ia


cepat-cepat membawa piring nasi yang sudah terisi, hendak keluar kamar.


“Heh, mau makan di


mana?” Upil menarik kerah baju adiknya sehingga Tino memundurkan langkahnya.


“Di luar aja.”


“Sudah, makan di sini


aja. Biar gampang kalau mau nambah. Aku sama Indah nggak lagi ngomongin


aneh-aneh kok.” Ucap Upil. Tino akhirnya mengalah, sebuah mengambil kursi


plastik dari tumpukannya dan makan menghadap magic com.”


“Eh, aneh banget kamu,


makan menghadap ke sana. Ngelihatin apa?” Upil bertanya lagi.


“Biar gampang kalau mau


nambah, mbak.” Kata Tino.


Upil terdiam dan


membiarkan adiknya menikmati makanannya. Sementara itu, aku menangkap sikap


Tino seperti menghidari tatapanku. Biasanya ia ramah dan mengjakku mengobrol


terlebih dahulu kan? Bahkan terkadang mengajakku bercanda ria. Kenapa sekarang


jadi kaku begini?


“Kamu sekarang aneh deh


No, jadi sok nggak ramah gitu sama aku. Biasanya kamu ngajakin becandaan aku.


Aku ada salah ya?” Tanyaku kepo.


“Ehem... enggak kok


kepala. Berarti nggak ada apa-apa. Aku hanya lagi kelaparan, mbak.” Ucapnya


lagi.


Namun, tatap saja, ada


sedikit keraguan di hatiku mendengar nada suaranya. Tapi sudahlah, mungkin


memang dia sedang tidak mood karena kelaparan.


***


“Pil, aku nginep di


kost mu aja ya?”


Upil mengernyitkan


dahinya. Alisnya hampir bertaut. Ia berbisik kepadaku, “Kamu lagi nggak


berantem sama Kenan kan?”


Aku menghela nafas.


Berantem sih enggak. Tapi aku merasa komunikasi kami akhir-akhir ini tidak


baik. Kami tidak pernah lagi saling menyapa lewat ponsel. Ketika sampai di


rumah juga tidak saling bercerita apapun, karena Kenan pulang selalu malam,


hampir tengah malam kadang-kadang. Aku sendiri telah terlelap di dalam kamar.


Walaupun ada kemajuan sedikit, aku tidak lagi takut tidur sendirian di kamar


atas.


Hubungan kami seperti


tawar, tidak ada manis-manisnya walaupun belum terasa pahitnya.


Ketika pagi hari, Kenan


berangkat lebih pagi setiap hari. Jadi kami sama sekali tidak berkomunikasi.

__ADS_1


Entah karena apa.


Dulu, Kenan membalas


jika aku mencium dan mengendus-ngendusnya terlebih dulu. Lain ceritanya kini,


ia memilih menghindar dan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah.


Sejujurnya aku merasa


bersalah. Karena tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Namun aku


ragu, apakah memang itu yang menyebabkan Kenan bersikap dingin kepadaku.


Kepalaku rasanya


semakin berat memikirkan beban ini sendirian. Tidak mungkin aku bercerita


kepada Upil yang masih single. Apalagi ini menyangkut hubungan suami istri.


Sebagian besar diriku menyalahkan diriku sendiri karena akulah yang bersalah di


sini. Kenan hanya terkena imbasnya. Namun aku tidak tahu cara mengatasinya.


Ingin sekali aku dapat bercerita kepada seseorang yang dapat memberikan solusi


kepadaku. Apakah aku sakit? Apakah perlu bagiku untuk berobat, tetapi berobat


apa dan ke mana? Sementara Kenan sendiri tidak terbuka kepadaku. Akupun tidak


bisa berkeluh kesah kepada Kenan.


“Eh, enggak.” Aku


menjawab pertanyaan Upil dengan sedikit berbisik karena kami saat ini berada di


Perpustakaan Pusat Antar Universitas (PAU). “Aku kesepian, mau diskusi tentang


skripsi nggak bisa. Kenan pulangnya malam. Lagian kami beda jurusan, mana


nyambung.”


“Ya sudah. Jangan lupa


minta izin suamimu dulu kalau mau menginap di tempatku. Aku nggak mau ya, nanti


Kenan ngamuk datang ke rumah.”


“Heheh... nggak akan.”


Aku mengedikkan bahu.


“Nih, jurnal yang pas


untuk nambahin referensi kamu.” Imbuhku ketika menemukan sebuah jurnal


penelitian tentang mikrobiologi pangan.


“Bahasa Inggris, In.


Ada nggak yang Bahasa Indonesia?” Upil menatap ke arah jurnal yang kuulurkan


dengan enggan.


“Yah ampun. Nggak usah


alergi duluan deh Pil. Jurnal dengan tema tertentu begini, kosa kata yang


digunakan terbatas kok. Lebih susah menerjemahkan The Jakarta Post. Nanti aku


bantuin.” Kataku lagi. Upil ini agak alergi kalau mendengar Bahasa Inggris. Aku


sudah menyarankan untuk mengikuti kursus sebelum lulus kuliah agar lebih mudah


nanti jika ingin melamar pekerjaan. Selain itu, tidak ada ruginya juga. Kita


bisa memperlancar komunikasi dengan bahasa lain. Apalagi di zaman seperti ini,


bisa Bahasa Inggris merupakan keharusan.


“Melihat tulisannya


saja sudah membuatku merinding, In. Lebih merinding daripada lihat kuntilanak.”


Katanya asal.


“Heh, jangan asal


ngomong. Ntar didatengin beneran.”


Upil terkikik geli.


Namun, ia segera membekap mulutnya sendiri, tidak ingin suaranya terdengar

__ADS_1


seisi perpustakaan.


***


__ADS_2