
SELAMAT MEMBACA
Indah POV
Tidak terasa dua minggu
lagi aku dijadwalkan mengikuti sidang skripsi. Inilah jadwal yang paling aku
tunggu karena merupakan langkah terakhir sebelum kelulusan. Kedua orang
temanku, yaotu Arif dan Upil juga akan menghadapi sidang skripsi dalam waktu
hampir bersamaan denganku. Upil dijadwalkan sehari sebelum aku, dan Arif
dijadwalkan dua hari setelah aku.
“Nem, nanti temani aku
dong ke gedung pusat Antar Universitas. Ada literatur yang kucari di sana.”
Upil berbicara setelah mengelap mulutnya yang berminyak dengan selembar tissue.
Kami berdua berada di kost Upil, kostku dulu sebelum menikah dengan Kenan. Kami
makan siang di sana sepulang dari kampus.
Kost Upil letaknya
lebih dekat dengan kampus dibandingkan dengan rumahku, sehingga kami
memanfaatkan waktu makan siang dan istirahat di sana.
Aku meneguk botol air
mineral yang ada di hadapanku. “Iya. Aku belum pernah ke sana lho, Pil.
Kayaknya eksklusif gitu. Tempat orang-orang pintar. Hanya kalangan mahasiswa S2
yang ke sana. Yang di dekat Fakultas Teknik itu kan?”
“Iya, benar di sana.
Halah, sama aja kok. Banyak juga yang mahsiswa S1 seperti kita ke sana. Biasa
aja, perpustakaannya seperti yang lain. Nggak ada bedanya.”
“Oh, belum-belum aku
merasa minder nih.” Kataku lagi.
Tok tok tok... “Mbak
Luthvia....” Tiba-tiba terdengar suara berat pria dari luar kamar.
“Iya, sebentar, Tino.”
Oh, ternyata Tino adiknya Upil yang datang.
Upil beranjak berdiri
dan membukakan pintu.
“Mbak, aku numpang
makan dong. Nggak sempat ke kostku nih. Sebentar lagi sudah masuk ke kelas.”
Tino menatap kakaknya dengan tampang memohon.
“His, kamu ini. Ada-ada
aja. Masuk sana, ambil sendiri di dalam magic com. Sayur dan lauknya ada di
meja.” Tino segera masuk. Ia terlihat terkejut melihatku di sana.
“Eh, ada mbak Indah.”
Tino mengangguk ke arahku dengan tatapan kikuk. Ia cepat-cepat mengalihkan
pandangannya menuju magic com.
“Tin, kok lama nggak ke
rumah lagi? Di kampus juga jarang ketemu ya sama Kenan? Kamu sibuk banget gitu?
Kenan kesepian lho, biasanya kan kalian bertiga, tetapi beberapa bulan ini
Kenan hanya ditemani Adi. Kayaknya kurang lengkap kalau nggak lihat kalian
bertiga.” Aku penasaran kesibukan apa yang sedang digeluti oleh Tino. Dari
cerita Kenan, hanya Adi yang sering bersamanya akhir-akhir ini. Kalau
diingat-ingat, sejak Adi dan Tino menginap di rumah. Setelah itu aku tidak
__ADS_1
pernah lagi melihat Tino bersama Kenan. Padahal biasanya mereka selalu bertiga
di kampus.
“Eh, anu mbak. Lagi
nggak bareng aja jadwal kuliahnya. Jadi jarang ketemu.” Jawabnya. Ia
cepat-cepat membawa piring nasi yang sudah terisi, hendak keluar kamar.
“Heh, mau makan di
mana?” Upil menarik kerah baju adiknya sehingga Tino memundurkan langkahnya.
“Di luar aja.”
“Sudah, makan di sini
aja. Biar gampang kalau mau nambah. Aku sama Indah nggak lagi ngomongin
aneh-aneh kok.” Ucap Upil. Tino akhirnya mengalah, sebuah mengambil kursi
plastik dari tumpukannya dan makan menghadap magic com.”
“Eh, aneh banget kamu,
makan menghadap ke sana. Ngelihatin apa?” Upil bertanya lagi.
“Biar gampang kalau mau
nambah, mbak.” Kata Tino.
Upil terdiam dan
membiarkan adiknya menikmati makanannya. Sementara itu, aku menangkap sikap
Tino seperti menghidari tatapanku. Biasanya ia ramah dan mengjakku mengobrol
terlebih dahulu kan? Bahkan terkadang mengajakku bercanda ria. Kenapa sekarang
jadi kaku begini?
“Kamu sekarang aneh deh
No, jadi sok nggak ramah gitu sama aku. Biasanya kamu ngajakin becandaan aku.
Aku ada salah ya?” Tanyaku kepo.
“Ehem... enggak kok
kepala. Berarti nggak ada apa-apa. Aku hanya lagi kelaparan, mbak.” Ucapnya
lagi.
Namun, tatap saja, ada
sedikit keraguan di hatiku mendengar nada suaranya. Tapi sudahlah, mungkin
memang dia sedang tidak mood karena kelaparan.
***
“Pil, aku nginep di
kost mu aja ya?”
Upil mengernyitkan
dahinya. Alisnya hampir bertaut. Ia berbisik kepadaku, “Kamu lagi nggak
berantem sama Kenan kan?”
Aku menghela nafas.
Berantem sih enggak. Tapi aku merasa komunikasi kami akhir-akhir ini tidak
baik. Kami tidak pernah lagi saling menyapa lewat ponsel. Ketika sampai di
rumah juga tidak saling bercerita apapun, karena Kenan pulang selalu malam,
hampir tengah malam kadang-kadang. Aku sendiri telah terlelap di dalam kamar.
Walaupun ada kemajuan sedikit, aku tidak lagi takut tidur sendirian di kamar
atas.
Hubungan kami seperti
tawar, tidak ada manis-manisnya walaupun belum terasa pahitnya.
Ketika pagi hari, Kenan
berangkat lebih pagi setiap hari. Jadi kami sama sekali tidak berkomunikasi.
__ADS_1
Entah karena apa.
Dulu, Kenan membalas
jika aku mencium dan mengendus-ngendusnya terlebih dulu. Lain ceritanya kini,
ia memilih menghindar dan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah.
Sejujurnya aku merasa
bersalah. Karena tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Namun aku
ragu, apakah memang itu yang menyebabkan Kenan bersikap dingin kepadaku.
Kepalaku rasanya
semakin berat memikirkan beban ini sendirian. Tidak mungkin aku bercerita
kepada Upil yang masih single. Apalagi ini menyangkut hubungan suami istri.
Sebagian besar diriku menyalahkan diriku sendiri karena akulah yang bersalah di
sini. Kenan hanya terkena imbasnya. Namun aku tidak tahu cara mengatasinya.
Ingin sekali aku dapat bercerita kepada seseorang yang dapat memberikan solusi
kepadaku. Apakah aku sakit? Apakah perlu bagiku untuk berobat, tetapi berobat
apa dan ke mana? Sementara Kenan sendiri tidak terbuka kepadaku. Akupun tidak
bisa berkeluh kesah kepada Kenan.
“Eh, enggak.” Aku
menjawab pertanyaan Upil dengan sedikit berbisik karena kami saat ini berada di
Perpustakaan Pusat Antar Universitas (PAU). “Aku kesepian, mau diskusi tentang
skripsi nggak bisa. Kenan pulangnya malam. Lagian kami beda jurusan, mana
nyambung.”
“Ya sudah. Jangan lupa
minta izin suamimu dulu kalau mau menginap di tempatku. Aku nggak mau ya, nanti
Kenan ngamuk datang ke rumah.”
“Heheh... nggak akan.”
Aku mengedikkan bahu.
“Nih, jurnal yang pas
untuk nambahin referensi kamu.” Imbuhku ketika menemukan sebuah jurnal
penelitian tentang mikrobiologi pangan.
“Bahasa Inggris, In.
Ada nggak yang Bahasa Indonesia?” Upil menatap ke arah jurnal yang kuulurkan
dengan enggan.
“Yah ampun. Nggak usah
alergi duluan deh Pil. Jurnal dengan tema tertentu begini, kosa kata yang
digunakan terbatas kok. Lebih susah menerjemahkan The Jakarta Post. Nanti aku
bantuin.” Kataku lagi. Upil ini agak alergi kalau mendengar Bahasa Inggris. Aku
sudah menyarankan untuk mengikuti kursus sebelum lulus kuliah agar lebih mudah
nanti jika ingin melamar pekerjaan. Selain itu, tidak ada ruginya juga. Kita
bisa memperlancar komunikasi dengan bahasa lain. Apalagi di zaman seperti ini,
bisa Bahasa Inggris merupakan keharusan.
“Melihat tulisannya
saja sudah membuatku merinding, In. Lebih merinding daripada lihat kuntilanak.”
Katanya asal.
“Heh, jangan asal
ngomong. Ntar didatengin beneran.”
Upil terkikik geli.
Namun, ia segera membekap mulutnya sendiri, tidak ingin suaranya terdengar
__ADS_1
seisi perpustakaan.
***