
❤ SELAMAT MEMBACA ❤
Indah POV
Aku menekuri laptop di
dalam kamarku. Tak lupa cemilan keripik kentang dan kopi menemaniku untuk
mengerjakan persiapan skripsiku. Upil ikut menemaniku. Ia juga berkutat dengan
laptopnya.
“In, sudah bisa mengajukan
seminar proposal?” Tanya Upil. Ia mengalihkan perhatian dari laptop di
hadapannya. Ia meraih kantung keripik kentangku dan mengambil isinya.
“Kemarin sebelum
berangkat KKN sudah sempat mendaftar di bagian akademik. Tetapi nggak bisa
cepat, Pil. Mahasiswa angkatan kita berebut mau cepat-cepat seminar proposal. Jadi
sepertinya bisa dijadwalkan di semester genap nanti.” Kataku lagi. Sebelum
berangkat KKN aku berkeinginan mempercepat skripsiku dengan mengajukan jadwal
seminar proposal. Harapanku, setelah aku selesai KKN, seminar proposal bisa
dilaksanakan. Namun ternyata aku kalah cepat dengan mahasiswa yang lain. Alhasil,
aku harus menunggu.
“Oh, begitu ya. Harus cepat-cepat
daftar ya? Aku kemarin terlalu bersemangat untuk mengikuti KKN sehingga nggak
kepikiran untuk mendaftarkan seminar proposal. Wah, bisa dapat jadwal
belakangan aku, In.” Upil menggaruk-garuk rambut pendeknya. Kacamatanya terlihat
melorot karena sejak tadi menunduk menatap layar laptop di depannya.
“Yang penting daftar
dulu Pil, setelah dosen pembimbingmu setuju. Semoga saja dapat giliran lebih
cepat.” Aku tetap menyemangati Upil. Kalau bisa bersamaan seminar proposalnya,
tentu saja penelitiannya juga bisa dalam waktu yang berdekatan. Aku akan senang
jika ada temannya mengerjakan penelitian. Bisa membuatku lebih bersemangat.
“Dosen pembimbingku
baru satu yang setuju, yang satunya belum.” Katanya lagi.
“Ayo semangat. Kalau
kamu rajin konsultasi, pasti dosennya makin sering memeriksa proposalmu. Jadi ada
kesempatan lebih cepat disetujui. Siapa sih dosen yang belum menyetujui?”
Tanyaku.
“Pak Wiseso.”
“Wah, kamu dapat dosen
pak Wiseso? Hu....aku pengen.” Ungkapku. Aku ini termasuk pengagum rahasia pak
Wiseso. Beliau dosen muda yang terlihat smart dengan wajah tampan dan gayanya
yang menyenangkan, tidak kaku seperti dosen pada umumnya. Dan lagi ia selalu
ramah kepada siapapun.
“Ih, kalau beliau
dosenmu, sudah pasti kamu nongkrongin dia terus di ruangannya. Kayaknya ngak
mungkin deh skripsinya mau cepat. Pasti kamu penginnya berlama-lama konsultasi
dengan dia. Tahu aku ini, pikiran kamu bagaimana. Dasar genit kamu, In.” Upil
meledekku dengan tepat. Iya sih, kalau beliau jadi dosen pembimbingku, aku
tidak yakin ingin cepat-cepat menyelesaikan skripsiku.
“Eh, bagaimana
hubunganmu dengan Ben? Kamu sudah bertemu dengan dia?” Upil mengalihkan
pembicaraannya.
“Besok aku mau ketemu
dia, Pil. Mau minta putus saja.” Kataku dengan yakin.
“Kenapa? Kamu sudah
yakin? Nanti nangis-nangis.” Katanya.
“Enggak ya. Aku nggak
__ADS_1
akan nangis nangis. Sudah capek aku mendengar tentang kelakuannya selingkuh
sana sini. Terus aku juga tidak yakin dengan hubungan ini. Karena aku sudah
mati rasa.” Bagaimanapun aku harus mengakhiri hubunganku dengan Ben. Aku ini
perempuan yang hendak menikah.
“Besok aku temani deh
ke kampus. Takut kamunya pingsan.” Kata Upil menggodaku.
Aku tidak menjawab. Tetapi
mengalihkan kembali pandanganku ke arah laptop. Pikiranku beralih kepada Kenan,
bukan Ben.
Ih, mulai mikir-mikir
calon suami nih.
***
Kenan POV
Dua hari ini aku
habiskan bekerja di cafe. Kegiatan rutinku, di akhir minggu pasti aku sempatkan
untuk mengurus cafeku. Walaupun ada Ferry di sana, aku pasti selalu membantunya
di akhir minggu. Cafeku ini mempunyai empat orang pegawai, satu orang sebagai
chef, satu orang sebagai barista merangkap kasir, dan dua orang pramusaji. Jika
hari Jumat sampai dengan Minggu, pelanggan yang datang pasti banyak.
Syukurlah, cafe yang
aku bangun beberapa bulan yang lalu ini mendapatkan apresiasi yang baik dari para
pelanggan. Mereka puas dengan menu yang kami sajikan, suasana cafe yang unik,
dan juga pelayanan yang baik.
Sebelumnya Papi tidak
terlalu mendukung keputusanku untuk merintis usaha sebuah cafe di kota tempatku
menempuh pendidikan. Papi ingin aku menyelesaikan kuliah dengan cepat dan
membantunya kelak untuk bekerja di perusahaannya. Tetapi ketika aku
menyampaikan kepada papi bahwa bisnis baruku ini bisa juga menjadi tempatku
kusampaikan kepada Papi tentang konsep cafeku yang terbilang unik, yaitu
mengadopsi dari film Harry Potter. Papi terlihat sangat senang karena akhirnya
salah satu anaknya tertarik dengan bidang bisnis.
Mbak Adelia kakakku,
tidak menurun sifat papi. Ia lebih seperti mami, tertarik dengan bidang seni. Untuk
itu, ia melanjutkan kuliahnya di Perancis dan akhirnya malah menikah dengan
orang Perancis. Jadi tidak mungkin Mbak Adel akan kembali ke sini untuk
meneruskan usaha Papi. Dia akan menetap di Perancis untuk jangka waktu yang
lama atau bahkan untuk selamanya.
Hari Minggu ini, aku
hendak pulang ke kost. Aku tidak mengunggu sampai cafe tutup. Ini baru pukul
sembilan malam. Biasanya cafe tutup pukul 11 malam. Aku berpamitan kepada Ferry
dan keluar dari cafe. Kulangkahkan kakiku menuju mobilku. Aku melajukan mobilku
malam ini membelah jalan raya menuju kostku yang jaraknya sekitar 5 km dari
cafe.
Tidak butuh waktu lama,
aku telah sampai di kostku. Aku pun masuk ke dalam kamar kost dan membersihkan
diri. Rasanya segar sekali setelah dua hari ini bekerja keras di cafe. Bekerja ini
membuatku bersemangat menjalani hidupku. Tidak hanya kuliah dan praktikum,
seperti kebanyakan teman kuliahku.
“KENAAAANNNN...
KENAAAANNNN....” Aku mendengar suara yang tidak asing lagi. Ini mak lampir
datang malam-malam ke kostku mau apa ya? Terkadang aku tidak tega juga
menjulukinya mak lampir. Rasanya terlalu keji. Tidak sesuai dengan tampang
cantiknya yang terlihat lembut. Namun terkadang kemanjaannya dan pemaksaannya
__ADS_1
membuat aku sangat jengkel. Ia tahu titik kelemahanku, yaitu mudah merasa
kasihan.
Kulangkahkan kakiku
menuju pintu. Sengaja kubuka pintu hanya sedikit dan kulongokkan kepalaku
sedikit.
“Ada apa Bella?”
Sapaku.
“Ken, aku masuk ya. Sebentar
saja.” Katanya dengan wajah memelas. Wajah yang membuatku jatuh kasihan.
“Jadi begini Ken. Besok
itu kita diminta mengumpulkan tugas statistik, tetapi aku kehilangan buku
panduan statistik. Jadi aku belum mengerjakan tugas. Boleh aku pinjam buku
statistikmu? Besok pagi-pagi sekali aku kembalikan ke sini.” Kata Bella.
Ini modus atau gimana
ya? Aku merasa kasihan juga kalau dia belum mengerjakan tugas Statistik. Tidak masalah
kalau aku meminjamkan buku. Tetapi untuk apa juga dia besok pagi-pagi ke sini
ingin mengembalikan buku? Pasti nanti ujung-ujungnya dia minta berangkat ke
kampus bersamaku.
“Sebentar, aku ambilkan
bukunya. Besok pagi tidak usah kamu bawa kesini bukunya. Cukup serahkan di
kampus saja sebelum kuliah dimulai.” Aku memutar tubuhku dan menuju meja
belajarku. Kucari buku yang dimaksud. Aku masih mendengarnya berbicara.
“Tapi aku nggak enak
Ken kalau bukunya lama-lama di tempatku. Besok pagi kuantar ke sini ya?”
Katanya lagi.
“Nggak usah. Aku ada
acara besok pagi-pagi sekali. Ketemu di kampus saja. Ini bukunya.” Aku
menyerahkan sebuah buku bersampul hijau di hadapannya. Wajahnya terlihat kecewa
menatapku. Ya, lebih baikk kukecewakan dari sekarang. Aku tidak ingin memberi
harapan palsu. Aku bukan orang yang tidak peka. Bella menunjukkan
ketertarikannya kepadaku. Dan aku tidak ingin mengecewakannya lebih jauh.
Tiba-tiba ponselku
berdering. Aku melihat ponsel yang berada di atas meja. Ternyata mami yang
menelepon video call.
“Hallo Mi.”
“Hallo anak Mami yang
ganteng. Segar sekali. Baru mandi?”
“Iya Mi. Baru pulang
dari cafe, terus mandi.” Aku segera mengambil posisi duduk menghadap meja
belajar. Tiba-tiba mata Mami menyipit, melihat ke arah lain.
Astaga, aku lupa dengan kehadiran Bella. Ternyata Mami
melihat sosok Bella yang sudah berpindah posisi berada di belakangku. Bahkan
posisi kepala Bella mendekat ke arah kepalaku, karena ingin tahu siapa yang meneleponku. Dengan spontan aku mendorong
bahu Bella menjauh dariku. Aku memberi isyarat agar Bella segera pergi.
“KENAAANNNNN...” Teriak
Mami.
“Tenang Mi, aku bisa
jelaskan.” Aku melihat Mami dengan wajah pias. Aku sudah membayangkan omelan
apa yang bakal aku terima dari Mami karena memergokiku bersama seorang
perempuan di dalam kamar. Apalagi ini sudah cukup malam.
Maafkan aku, Mami.
***
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Mami mau ngomong apa, dedek Ken mengangguk-angguk aja deh, kayak burung kutilang.