THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
11. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

❤ SELAMAT MEMBACA ❤


Indah POV


Aku menekuri laptop di


dalam kamarku. Tak lupa cemilan keripik kentang dan kopi menemaniku untuk


mengerjakan persiapan skripsiku. Upil ikut menemaniku. Ia juga berkutat dengan


laptopnya.


“In, sudah bisa mengajukan


seminar proposal?” Tanya Upil. Ia mengalihkan perhatian dari laptop di


hadapannya. Ia meraih kantung keripik kentangku dan mengambil isinya.


“Kemarin sebelum


berangkat KKN sudah sempat mendaftar di bagian akademik. Tetapi nggak bisa


cepat, Pil. Mahasiswa angkatan kita berebut mau cepat-cepat seminar proposal. Jadi


sepertinya bisa dijadwalkan di semester genap nanti.” Kataku lagi. Sebelum


berangkat KKN aku berkeinginan mempercepat skripsiku dengan mengajukan jadwal


seminar proposal. Harapanku, setelah aku selesai KKN, seminar proposal bisa


dilaksanakan. Namun ternyata aku kalah cepat dengan mahasiswa yang lain. Alhasil,


aku harus menunggu.


“Oh, begitu ya. Harus cepat-cepat


daftar ya? Aku kemarin terlalu bersemangat untuk mengikuti KKN sehingga nggak


kepikiran untuk mendaftarkan seminar proposal. Wah, bisa dapat jadwal


belakangan aku, In.” Upil menggaruk-garuk rambut pendeknya. Kacamatanya terlihat


melorot karena sejak tadi menunduk menatap layar laptop di depannya.


“Yang penting daftar


dulu Pil, setelah dosen pembimbingmu setuju. Semoga saja dapat giliran lebih


cepat.” Aku tetap menyemangati Upil. Kalau bisa bersamaan seminar proposalnya,


tentu saja penelitiannya juga bisa dalam waktu yang berdekatan. Aku akan senang


jika ada temannya mengerjakan penelitian. Bisa membuatku lebih bersemangat.


“Dosen pembimbingku


baru satu yang setuju, yang satunya belum.” Katanya lagi.


“Ayo semangat. Kalau


kamu rajin konsultasi, pasti dosennya makin sering memeriksa proposalmu. Jadi ada


kesempatan lebih cepat disetujui. Siapa sih dosen yang belum menyetujui?”


Tanyaku.


“Pak Wiseso.”


“Wah, kamu dapat dosen


pak Wiseso? Hu....aku pengen.” Ungkapku. Aku ini termasuk pengagum rahasia pak


Wiseso. Beliau dosen muda yang terlihat smart dengan wajah tampan dan gayanya


yang menyenangkan, tidak kaku seperti dosen pada umumnya. Dan lagi ia selalu


ramah kepada siapapun.


“Ih, kalau beliau


dosenmu, sudah pasti kamu nongkrongin dia terus di ruangannya. Kayaknya ngak


mungkin deh skripsinya mau cepat. Pasti kamu penginnya berlama-lama konsultasi


dengan dia. Tahu aku ini, pikiran kamu bagaimana. Dasar genit kamu, In.” Upil


meledekku dengan tepat. Iya sih, kalau beliau jadi dosen pembimbingku, aku


tidak yakin ingin cepat-cepat menyelesaikan skripsiku.


“Eh, bagaimana


hubunganmu dengan Ben? Kamu sudah bertemu dengan dia?” Upil mengalihkan


pembicaraannya.


“Besok aku mau ketemu


dia, Pil. Mau minta putus saja.” Kataku dengan yakin.


“Kenapa? Kamu sudah


yakin? Nanti nangis-nangis.” Katanya.


“Enggak ya. Aku nggak

__ADS_1


akan nangis nangis. Sudah capek aku mendengar tentang kelakuannya selingkuh


sana sini. Terus aku juga tidak yakin dengan hubungan ini. Karena aku sudah


mati rasa.” Bagaimanapun aku harus mengakhiri hubunganku dengan Ben. Aku ini


perempuan yang hendak menikah.


“Besok aku temani deh


ke kampus. Takut kamunya pingsan.” Kata Upil menggodaku.


Aku tidak menjawab. Tetapi


mengalihkan kembali pandanganku ke arah laptop. Pikiranku beralih kepada Kenan,


bukan Ben.


Ih, mulai mikir-mikir


calon suami nih.


***


Kenan POV


Dua hari ini aku


habiskan bekerja di cafe. Kegiatan rutinku, di akhir minggu pasti aku sempatkan


untuk mengurus cafeku. Walaupun ada Ferry di sana, aku pasti selalu membantunya


di akhir minggu. Cafeku ini mempunyai empat orang pegawai, satu orang sebagai


chef, satu orang sebagai barista merangkap kasir, dan dua orang pramusaji. Jika


hari Jumat sampai dengan Minggu, pelanggan yang datang pasti banyak.


Syukurlah, cafe yang


aku bangun beberapa bulan yang lalu ini mendapatkan apresiasi yang baik dari para


pelanggan. Mereka puas dengan menu yang kami sajikan, suasana cafe yang unik,


dan juga pelayanan yang baik.


Sebelumnya Papi tidak


terlalu mendukung keputusanku untuk merintis usaha sebuah cafe di kota tempatku


menempuh pendidikan. Papi ingin aku menyelesaikan kuliah dengan cepat dan


membantunya kelak untuk bekerja di perusahaannya. Tetapi ketika aku


menyampaikan kepada papi bahwa bisnis baruku ini bisa juga menjadi tempatku


kusampaikan kepada Papi tentang konsep cafeku yang terbilang unik, yaitu


mengadopsi dari film Harry Potter. Papi terlihat sangat senang karena akhirnya


salah satu anaknya tertarik dengan bidang bisnis.


Mbak Adelia kakakku,


tidak menurun sifat papi. Ia lebih seperti mami, tertarik dengan bidang seni. Untuk


itu, ia melanjutkan kuliahnya di Perancis dan akhirnya malah menikah dengan


orang Perancis. Jadi tidak mungkin Mbak Adel akan kembali ke sini untuk


meneruskan usaha Papi. Dia akan menetap di Perancis untuk jangka waktu yang


lama atau bahkan untuk selamanya.


Hari Minggu ini, aku


hendak pulang ke kost. Aku tidak mengunggu sampai cafe tutup. Ini baru pukul


sembilan malam. Biasanya cafe tutup pukul 11 malam. Aku berpamitan kepada Ferry


dan keluar dari cafe. Kulangkahkan kakiku menuju mobilku. Aku melajukan mobilku


malam ini membelah jalan raya menuju kostku yang jaraknya sekitar 5 km dari


cafe.


Tidak butuh waktu lama,


aku telah sampai di kostku. Aku pun masuk ke dalam kamar kost dan membersihkan


diri. Rasanya segar sekali setelah dua hari ini bekerja keras di cafe. Bekerja ini


membuatku bersemangat menjalani hidupku. Tidak hanya kuliah dan praktikum,


seperti kebanyakan teman kuliahku.


“KENAAAANNNN...


KENAAAANNNN....” Aku mendengar suara yang tidak asing lagi. Ini mak lampir


datang malam-malam ke kostku mau apa ya? Terkadang aku tidak tega juga


menjulukinya mak lampir. Rasanya terlalu keji. Tidak sesuai dengan tampang


cantiknya yang terlihat lembut. Namun terkadang kemanjaannya dan pemaksaannya

__ADS_1


membuat aku sangat jengkel. Ia tahu titik kelemahanku, yaitu mudah merasa


kasihan.


Kulangkahkan kakiku


menuju pintu. Sengaja kubuka pintu hanya sedikit dan kulongokkan kepalaku


sedikit.


“Ada apa Bella?”


Sapaku.


“Ken, aku masuk ya. Sebentar


saja.” Katanya dengan wajah memelas. Wajah yang membuatku jatuh kasihan.


“Jadi begini Ken. Besok


itu kita diminta mengumpulkan tugas statistik, tetapi aku kehilangan buku


panduan statistik. Jadi aku belum mengerjakan tugas. Boleh aku pinjam buku


statistikmu? Besok pagi-pagi sekali aku kembalikan ke sini.” Kata Bella.


Ini modus atau gimana


ya? Aku merasa kasihan juga kalau dia belum mengerjakan tugas Statistik. Tidak masalah


kalau aku meminjamkan buku. Tetapi untuk apa juga dia besok pagi-pagi ke sini


ingin mengembalikan buku? Pasti nanti ujung-ujungnya dia minta berangkat ke


kampus bersamaku.


“Sebentar, aku ambilkan


bukunya. Besok pagi tidak usah kamu bawa kesini bukunya. Cukup serahkan di


kampus saja sebelum kuliah dimulai.” Aku memutar tubuhku dan menuju meja


belajarku. Kucari buku yang dimaksud. Aku masih mendengarnya berbicara.


“Tapi aku nggak enak


Ken kalau bukunya lama-lama di tempatku. Besok pagi kuantar ke sini ya?”


Katanya lagi.


“Nggak usah. Aku ada


acara besok pagi-pagi sekali. Ketemu di kampus saja. Ini bukunya.” Aku


menyerahkan sebuah buku bersampul hijau di hadapannya. Wajahnya terlihat kecewa


menatapku. Ya, lebih baikk kukecewakan dari sekarang. Aku tidak ingin memberi


harapan palsu. Aku bukan orang yang tidak peka. Bella menunjukkan


ketertarikannya kepadaku. Dan aku tidak ingin mengecewakannya lebih jauh.


Tiba-tiba ponselku


berdering. Aku melihat ponsel yang berada di atas meja. Ternyata mami yang


menelepon video call.


“Hallo Mi.”


“Hallo anak Mami yang


ganteng. Segar sekali. Baru mandi?”


“Iya Mi. Baru pulang


dari cafe, terus mandi.” Aku segera mengambil posisi duduk menghadap meja


belajar. Tiba-tiba mata Mami menyipit, melihat ke arah lain.


Astaga, aku lupa dengan kehadiran Bella. Ternyata Mami


melihat sosok Bella yang sudah berpindah posisi berada di belakangku. Bahkan


posisi kepala Bella mendekat ke arah kepalaku, karena ingin tahu siapa yang meneleponku. Dengan spontan aku mendorong


bahu Bella menjauh dariku. Aku memberi isyarat agar Bella segera pergi.


“KENAAANNNNN...” Teriak


Mami.


“Tenang Mi, aku bisa


jelaskan.” Aku melihat Mami dengan wajah pias. Aku sudah membayangkan omelan


apa yang bakal aku terima dari Mami karena memergokiku bersama seorang


perempuan di dalam kamar. Apalagi ini sudah cukup malam.


Maafkan aku, Mami.


***


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Mami mau ngomong apa, dedek Ken mengangguk-angguk aja deh, kayak burung kutilang.



__ADS_2