THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
49. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Seperti malam malam


yang sebelumnya, kamar ini diterangi sebuah lampu tidur, membuat penerangan


yang temaram, membuat kantuk lebih cepat datang. Menatap ke langit-langit


kamar, sambil merenung. Terasa semakin sepi dan suara-suara jangkrik di luar


mengganggu pendengaranku. Ini adalah malam ketiga Indah tidak ber malam di


rumah. Ia menginap di kost Upil. Ia tidak berbohong, kemarin aku mengeceknya ke


sana tanpa sepengetahuannya.


Sikapku yang


menghindarinya akhir-akhir ini kurasa menjadi pemicu Indah bermalam di tempat


lain. Aku memang sengaja berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Akan


lebih lega jika di saat aku pulang, mendapatinya telah tertidur di dalam kamar,


daripada ia masih terjaga.


Indah bersikap sedikit


agresif jika masih terjaga ketika aku pulang. Ia memakai pakaian seksi yang


dulu pernah aku belikan. Lalu ia mulai menggodaku. Itu yang membuat aku tidak


sanggup. Kepalaku cenut-cenut melihatnya. Semakin lama aku tidak dapat


membendung keinginanku. Sementara aku belum pernah mendapatkan jatahku sebagai


suami.


Jujur aku merasa ada


sesuatu yang tidak beres. Kurasa jika memaksakannya akan menjadi siksaan bagi


Indah. Ingin sekali mengajaknya memeriksakan diri, tetapi aku khawatir jika


nanti malah semakin melukainya.


Rasa penasaran itu


menyeretku untuk  googling di internet,


juga bertemu dengan dokter kenalanku yang merupakan temannya mbak Adel. Semakin


hari, aku meyakini apa yang kuhadapi bersama Indah. Namun aku tidak tahu,


bagaimana harus mengatakan kepadanya. It


will hurt her.


Biarlah ia lebih fokus


mengerjakan skripsinya terlebih dahulu. Nanti setelah ia menyelesaikan


semuanya, aku akan mencoba membicarakannya baik-baik dan mencari jalan


keluarnya bersama. Jika saat ini dibahas, akan mengganggu Indah.


***


“Mau ke mana sayang?”


Pagi sekali, jam dinding belum menunjukkan pukul 5 pagi, aku terbangun karena


ada suara berisik. Rasa kantukkku teabaikan karena mendapati Indah menumpuk


pakaian di dalam koper. Koper terlihat penuh. Indah menggunakan celana panjang


dan kaus oblong yang tidak jelas warnanya karena penerangan yang temaram di


dalam kamarku. Nampaknya Indah datang pagi sekali dan langsung membereskan


pakaiannya.


Ia menatapku dengan


tatapan tajam. Kedua tangannya diletakkan di pinggang, menghadapku dengan


berkacak pinggang. “Kamu masih perduli, aku mau pergi ke mana? Beberapa hari


terakhir ini kamu sengaja menghindariku kan?”


Aku tak mampu berucap.


Tenggorokanku rasanya sangat kering dan lidahku mendadak kaku tidak bisa

__ADS_1


mengeluarkan sepatah katapun.


Dengan cepat aku


beranjak dari tempat tidur. Aku berdiri menatap ke arahnya.


Indah membungkuk,


meneruskan merapikan pakaiannya di dalam koper.


Dengan perlahan aku


mendekatinya, tanpa bersuara. Aku tak mau Indah kaget dengan gerakanku dan


akhirnya malah mempercepat kepergiannya.


“Sayang...” Kucoba


menyentuh bahunya.


Tangan Indah menepisku


kasar. “Nggak usah pengang-pegang. Kamu jijik kan sama aku? Kamu nggak mau lagi


kan aku sentuh-sentuh. Kamu sengaja kan menhindari sentuhanku?”


Entah apa yang sedang


dipikirkan Indah. Pasti negatif thinking (nethink) lagi.


Kalau selama ini aku


menghindarinya, bukan karena dia, tetapi lebih karena aku takut menyakitinya


dan tidak tahu bagaimana cara mengatakan kepadanya. Kenapa Indah jadi salah


paham begini sih? Perasaanku jadi nggak enak.


“Sayang, aku nggak


menghindari kamu kok. Aku hanya capek. Sini, aku peluk.” Kucoba mencairkan


suasana pagi ini yang terasa panas dan menyesakkan.


“Nggak mau. Kamu nggak


butuh aku. Kamu jijik sama aku.” Indah kini merosot duduk berselonjor di lantai


di samping koper yang masih berantakan. Cahaya yang temaram di kamar kami


“Indah.” Aku ikut duduk


di lantai mensejajarkan tubuhku dengan dirinya di bawah. “Sayang, aku nggak


jijik sama kamu. Siapa yang bilang sih? Aku sayang sama kamu.” Kurengkuh


tubuhnya ke dalam pelukanku.


“Bukannya beberapa hari


ini kamu sengaja menghindariku? Kamu nggak tertarik lagi sama aku kan? Perempuan


yang lebih tua dari kamu. Aku nggak bisa bikin kamu bahagia kan?” suaranya


semakin serak dan bahunya mulai terguncang – guncang.


“Sayang, aku bahagianya


hanya sama kamu. Jangan bicara umur lagi. Perbedaan umur bukan lagi masalah


untuk kita. Kita sudah melalui itu. Kita sudah menikah. Berarti fase perbedaan


umur itu sudah tidak relevan lagi kita bicarakan, Indah.”


“Lalu, kenapa kamu


menghindariku? Jangan bohong. Aku tahu, kamu sengaja menghindariku.”


“Iya, aku sengaja


menghindar. Tapi bukan karena kamu. Ini karena aku. Kamu sedang sibuk


mengerjakan tugas akhir. Aku hanya ingin kamu lebih konsentrasi ke sana.”


“Kamu tahu, cara kamu


menghindari aku membuat hatiku sakit. Aku merasa ditolak.”


“Bu... bukan begitu


maksudku.”


“Aku tahu, aku yang


bermasalah dalam hubungan kita. Tapi kamu sengaja menghindariku. Jadi nggak

__ADS_1


salah dong, aku menduga dengan pikiran negatif.” Punggung tangannya digunaKan


untuk menghapus air mata yang mulai mengalir. “Sakit, Ken. Sakit. Aku nggak


punya siapa-siapa, tempatku untuk bercerita. Aku sadar, aku yang bermasalah.


Dan kamu, bukannya mendukung aku, tetapi malah sengaja menghindariku. Lalu


kepada siapa aku mau bercerita? Kamu tahu rasanya di sini sakit.” Imbuhnya lagi


sembari memegang dadanya.


“Kamu kecewa kan sama


aku? Iya. Kamu nggak suka kan sama aku? Iya. Kamu nggak mau ketemu aku kan?


Iya.” Ia bermonolog sendiri, dengan pikiran negatifnya yang sama sekali tidak


kuduga. Perempuan punya cara pikirnya sendiri ternyata.


“Sayang, aku nggak


bermaksud....” ucapanku terputus karena Indah mendorong tubuhku menjauhinya.


Dan pelukanku terlepas. Ia kembali menyibukkan diri dengan tumpukan pakaian di dlam


koper.


“Sana, kamu tidur


lagi.” Usirnya dengan mengibaskan tangannya ke depan wajahku.


“Kamu mau ke mana?”


Tanyaku sedikit keras.


“Nggak usah pura-pura


perduli deh. Yang penting aku mau memenuhi keinginan kamu yang sengaja


menghindari aku.” Ia mengedikkan bahunya tanpa melihat ke arahku.


“Jadi kamu mau pergi


dariku?” Aku menarik nafas panjang, mencoba meredakan emosi yang berkecamuk di


dalam dadaku.


“Iya. Biar kamu nggak


perlu susah-susah lagi menghindari aku.”


Sejak kami mengucapkan


janji suci pernikahan, tidak pernah terbersit dalam benakku untuk meninggalkan


istriku. Kini aku tercengang dengan keinginan gilanya. Mau pergi dariku


katanya. Astaga, jantungku rasanya mau meledak. Benarkah ini yang dipikirkan


Indah? Wanita yang mengatakan mencintaiku beberapa minggu yang lalu? Kepalaku


semakin pusing menghadapinya.


“Kamu ngomong apa sih?


Aku nggak ngerti. Aku nggak mau kamu pergi. Kamu tetap di sini. Titik. Jangan


coba-coba pergi.” Kini aku benar-benar marah. Segera saja aku keluar dari


kamar, menghindarinya di saat emosiku tidak stabil seperti ini. Aku takut jika


akan keluar kata-kata yang tidak pantas di saat emosiku sedang membubung


tinggi. Aku tidak mau menyesal kemudian karena kata-kata yang keluar dari


mulutku tidak terkontrol.


Tidak lupa kukunci


kamar dari luar.


Ini hari apa sih?


Kenapa jadi runyam begini?


DOK DOK DOK.... “KENAN...


BUKA PINTUNYA. KENAN... BUKA.... !!!”


Teriakan Indah menggema ke seluruh isi rumah. Kurasa tetangga


juga akan mendengar suaranya yang membahana. Biar saja. Semoga saja kami tidak


didatangi pak RT karena mengganggu kenyamanan komplek. Kurasa Indah akan

__ADS_1


berhenti berteriak


__ADS_2