
SELAMAT MEMBACA
Kenan POV
Seperti malam malam
yang sebelumnya, kamar ini diterangi sebuah lampu tidur, membuat penerangan
yang temaram, membuat kantuk lebih cepat datang. Menatap ke langit-langit
kamar, sambil merenung. Terasa semakin sepi dan suara-suara jangkrik di luar
mengganggu pendengaranku. Ini adalah malam ketiga Indah tidak ber malam di
rumah. Ia menginap di kost Upil. Ia tidak berbohong, kemarin aku mengeceknya ke
sana tanpa sepengetahuannya.
Sikapku yang
menghindarinya akhir-akhir ini kurasa menjadi pemicu Indah bermalam di tempat
lain. Aku memang sengaja berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Akan
lebih lega jika di saat aku pulang, mendapatinya telah tertidur di dalam kamar,
daripada ia masih terjaga.
Indah bersikap sedikit
agresif jika masih terjaga ketika aku pulang. Ia memakai pakaian seksi yang
dulu pernah aku belikan. Lalu ia mulai menggodaku. Itu yang membuat aku tidak
sanggup. Kepalaku cenut-cenut melihatnya. Semakin lama aku tidak dapat
membendung keinginanku. Sementara aku belum pernah mendapatkan jatahku sebagai
suami.
Jujur aku merasa ada
sesuatu yang tidak beres. Kurasa jika memaksakannya akan menjadi siksaan bagi
Indah. Ingin sekali mengajaknya memeriksakan diri, tetapi aku khawatir jika
nanti malah semakin melukainya.
Rasa penasaran itu
menyeretku untuk googling di internet,
juga bertemu dengan dokter kenalanku yang merupakan temannya mbak Adel. Semakin
hari, aku meyakini apa yang kuhadapi bersama Indah. Namun aku tidak tahu,
bagaimana harus mengatakan kepadanya. It
will hurt her.
Biarlah ia lebih fokus
mengerjakan skripsinya terlebih dahulu. Nanti setelah ia menyelesaikan
semuanya, aku akan mencoba membicarakannya baik-baik dan mencari jalan
keluarnya bersama. Jika saat ini dibahas, akan mengganggu Indah.
***
“Mau ke mana sayang?”
Pagi sekali, jam dinding belum menunjukkan pukul 5 pagi, aku terbangun karena
ada suara berisik. Rasa kantukkku teabaikan karena mendapati Indah menumpuk
pakaian di dalam koper. Koper terlihat penuh. Indah menggunakan celana panjang
dan kaus oblong yang tidak jelas warnanya karena penerangan yang temaram di
dalam kamarku. Nampaknya Indah datang pagi sekali dan langsung membereskan
pakaiannya.
Ia menatapku dengan
tatapan tajam. Kedua tangannya diletakkan di pinggang, menghadapku dengan
berkacak pinggang. “Kamu masih perduli, aku mau pergi ke mana? Beberapa hari
terakhir ini kamu sengaja menghindariku kan?”
Aku tak mampu berucap.
Tenggorokanku rasanya sangat kering dan lidahku mendadak kaku tidak bisa
__ADS_1
mengeluarkan sepatah katapun.
Dengan cepat aku
beranjak dari tempat tidur. Aku berdiri menatap ke arahnya.
Indah membungkuk,
meneruskan merapikan pakaiannya di dalam koper.
Dengan perlahan aku
mendekatinya, tanpa bersuara. Aku tak mau Indah kaget dengan gerakanku dan
akhirnya malah mempercepat kepergiannya.
“Sayang...” Kucoba
menyentuh bahunya.
Tangan Indah menepisku
kasar. “Nggak usah pengang-pegang. Kamu jijik kan sama aku? Kamu nggak mau lagi
kan aku sentuh-sentuh. Kamu sengaja kan menhindari sentuhanku?”
Entah apa yang sedang
dipikirkan Indah. Pasti negatif thinking (nethink) lagi.
Kalau selama ini aku
menghindarinya, bukan karena dia, tetapi lebih karena aku takut menyakitinya
dan tidak tahu bagaimana cara mengatakan kepadanya. Kenapa Indah jadi salah
paham begini sih? Perasaanku jadi nggak enak.
“Sayang, aku nggak
menghindari kamu kok. Aku hanya capek. Sini, aku peluk.” Kucoba mencairkan
suasana pagi ini yang terasa panas dan menyesakkan.
“Nggak mau. Kamu nggak
butuh aku. Kamu jijik sama aku.” Indah kini merosot duduk berselonjor di lantai
di samping koper yang masih berantakan. Cahaya yang temaram di kamar kami
“Indah.” Aku ikut duduk
di lantai mensejajarkan tubuhku dengan dirinya di bawah. “Sayang, aku nggak
jijik sama kamu. Siapa yang bilang sih? Aku sayang sama kamu.” Kurengkuh
tubuhnya ke dalam pelukanku.
“Bukannya beberapa hari
ini kamu sengaja menghindariku? Kamu nggak tertarik lagi sama aku kan? Perempuan
yang lebih tua dari kamu. Aku nggak bisa bikin kamu bahagia kan?” suaranya
semakin serak dan bahunya mulai terguncang – guncang.
“Sayang, aku bahagianya
hanya sama kamu. Jangan bicara umur lagi. Perbedaan umur bukan lagi masalah
untuk kita. Kita sudah melalui itu. Kita sudah menikah. Berarti fase perbedaan
umur itu sudah tidak relevan lagi kita bicarakan, Indah.”
“Lalu, kenapa kamu
menghindariku? Jangan bohong. Aku tahu, kamu sengaja menghindariku.”
“Iya, aku sengaja
menghindar. Tapi bukan karena kamu. Ini karena aku. Kamu sedang sibuk
mengerjakan tugas akhir. Aku hanya ingin kamu lebih konsentrasi ke sana.”
“Kamu tahu, cara kamu
menghindari aku membuat hatiku sakit. Aku merasa ditolak.”
“Bu... bukan begitu
maksudku.”
“Aku tahu, aku yang
bermasalah dalam hubungan kita. Tapi kamu sengaja menghindariku. Jadi nggak
__ADS_1
salah dong, aku menduga dengan pikiran negatif.” Punggung tangannya digunaKan
untuk menghapus air mata yang mulai mengalir. “Sakit, Ken. Sakit. Aku nggak
punya siapa-siapa, tempatku untuk bercerita. Aku sadar, aku yang bermasalah.
Dan kamu, bukannya mendukung aku, tetapi malah sengaja menghindariku. Lalu
kepada siapa aku mau bercerita? Kamu tahu rasanya di sini sakit.” Imbuhnya lagi
sembari memegang dadanya.
“Kamu kecewa kan sama
aku? Iya. Kamu nggak suka kan sama aku? Iya. Kamu nggak mau ketemu aku kan?
Iya.” Ia bermonolog sendiri, dengan pikiran negatifnya yang sama sekali tidak
kuduga. Perempuan punya cara pikirnya sendiri ternyata.
“Sayang, aku nggak
bermaksud....” ucapanku terputus karena Indah mendorong tubuhku menjauhinya.
Dan pelukanku terlepas. Ia kembali menyibukkan diri dengan tumpukan pakaian di dlam
koper.
“Sana, kamu tidur
lagi.” Usirnya dengan mengibaskan tangannya ke depan wajahku.
“Kamu mau ke mana?”
Tanyaku sedikit keras.
“Nggak usah pura-pura
perduli deh. Yang penting aku mau memenuhi keinginan kamu yang sengaja
menghindari aku.” Ia mengedikkan bahunya tanpa melihat ke arahku.
“Jadi kamu mau pergi
dariku?” Aku menarik nafas panjang, mencoba meredakan emosi yang berkecamuk di
dalam dadaku.
“Iya. Biar kamu nggak
perlu susah-susah lagi menghindari aku.”
Sejak kami mengucapkan
janji suci pernikahan, tidak pernah terbersit dalam benakku untuk meninggalkan
istriku. Kini aku tercengang dengan keinginan gilanya. Mau pergi dariku
katanya. Astaga, jantungku rasanya mau meledak. Benarkah ini yang dipikirkan
Indah? Wanita yang mengatakan mencintaiku beberapa minggu yang lalu? Kepalaku
semakin pusing menghadapinya.
“Kamu ngomong apa sih?
Aku nggak ngerti. Aku nggak mau kamu pergi. Kamu tetap di sini. Titik. Jangan
coba-coba pergi.” Kini aku benar-benar marah. Segera saja aku keluar dari
kamar, menghindarinya di saat emosiku tidak stabil seperti ini. Aku takut jika
akan keluar kata-kata yang tidak pantas di saat emosiku sedang membubung
tinggi. Aku tidak mau menyesal kemudian karena kata-kata yang keluar dari
mulutku tidak terkontrol.
Tidak lupa kukunci
kamar dari luar.
Ini hari apa sih?
Kenapa jadi runyam begini?
DOK DOK DOK.... “KENAN...
BUKA PINTUNYA. KENAN... BUKA.... !!!”
Teriakan Indah menggema ke seluruh isi rumah. Kurasa tetangga
juga akan mendengar suaranya yang membahana. Biar saja. Semoga saja kami tidak
didatangi pak RT karena mengganggu kenyamanan komplek. Kurasa Indah akan
__ADS_1
berhenti berteriak