THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
34. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Indah POV


Aku pulang ke rumah


dalam kondisi capek karena setelah menyelesaikan urusan di kampus, aku memberi


les privat kepada murid-muridku. Matahari sore semakin turun ke arah Barat.


Cahayanya semakin meredup. Namun udara di sekitarku masih terasa panas. Karena


sepanjang hari tadi cuaca cerah, matahari memancarkan sinarnya dengan maksimal.


Tas dan berkasku


kulempar ke atas sofa yang berada di ruang keluarga. Rasanya sungguh panas. Aku


ingin merasakan sedikit angin sepoi-sepoi. Aku pun melangkahkan kaki keluar


dari dalam rumah. Dari sudut teras kulihat Bik Janet sedang mengintip di


sela-sela dinding roaster yang membatasi halaman rumah kami dengan halaman


tetangga. Menurut perkiraanku, rumah Mas Danu berada di sebelah kami. Berarti


Bik Janet sedang mengintip ke halaman rumah Mas Danu. Ngintip apaan sih Bik,


serius amat?


Aku berjalan


menghampiri Bik Janet. Kukejutkan dia dengan menepuk bahunya. “Eh ayam...


ayam... ayam....” Lihatlah penyakit latah Bik Janet. Penyakit latah ini bisa


membuat seseorang lelah kalau ia sering terkejut. Aku juga sering ngerjain Bik


Janet, pura-pura membuatnya kaget, sampai dia kelelahan dan minta tolong untuk


berhenti. Masih untung kata-kata yang digunakan Bik Janet cukup sopan ‘ayam


ayam’, coba kalau lihat orang lain yang berpenyakit latah. Mereka mengeluarkan


kata-kata yang tidak sopan. Eh, tapi kalau bahasanya tidak sopan, bisa disensor


Manggatoon ya.


“Si Non mah ngagetin


Bibik aja. Kirain Bibik siapa.” Katanya ketika membuka bekapan mulutnya. Kini


bibirnya komat kamit tanpa keluar suara sedikitpun. Sebenarnya mau ngomong apa


sih Bik Janet ini?


“Hayo, ngintip siapa


Bik?” Kataku kepo. Aku menepuk-nepuk pundak Bik Janet dengan kuat.


Tangan Bik Janet


menarik bahuku agar mengikutinya, “Sini Non. Itu lihat deh, kalo sore-sore


gini, cowok-cowok di kost sebelah pada keluar Non. Pada nyuci motor, gitaran,


ngobrol. Rame Non. Lumayan untuk cuci mata. Ganteng-ganteng lho Non. Ada surga


KW di rumah sebelah.” Ia kembali terkikik geli. Aku jadi penasaran juga,


seperti apa surga KW versi Bik Janet.


“Ih, anak gadis nggak


boleh ngitip begituan. Nanti bintitan lho kalo pengen.” Kataku menggoda Bik


Janet.


“Sini deh Non. Lihat,

__ADS_1


itu yang paling ganteng.” Bik Janet menarik tanganku. Ia kemudian mengajakku


untuk ikut mengintip dari celah-celah roaster. “Yang itu Non, yang paling


ganteng. Yang berdiri di depan pintu itu, yang pakai kaos biru dan celana


pendek hitam itu.” Bik Janet menunjuk seorang pria berkacamata sedikit


berjanggut dan berkumis. Yah, ternyata benar, mas Danu tinggal di sebelah


rumahku. Dan Mas Danu juga yang dibilang paling ganteng oleh Bik Janet.


Jangan-jangan setiap sore, Bik Janet ngintip di tembok ini. Haduh, kurang


kerjaan banget si Bibik.


“Oh, selera Bibik


berubah? Yang kulitnya coklat matanya gede gitu juga mau? Kirain, sejenis Lee


Min Ho aja selera Bibik.” Kataku masih dengan aksi mengintip. Kalau dilihat


orang, memalukan sekali posisiku ini, mengintip ke rumah sebelah bersama Bik


Janet.


“Si Non ini. Kalau


orang ganteng mah, bibik nggak pilih-pilih.” Iya terkikik geli dengan ucapannya


sendiri. Dasar Bik Janet, kelamaan jablay jadi begini dah.


Aku hanya sebentar


menemani Bik Janet. Melihat Mas Danu membuatku teringat tentang kesiapanku


untuk seminar esok hari. Aku segera masuk kembali dan menghempaskan tubuhku ke


sofa. Kuambil beberapa berkas dari dalam tasku. Aku mulai membaca beberapa


catatan yang aku anggap penting untuk presentasi esok hari. Aku pun tenggelam


sekarang. Kalau aku langsung ke atas, pasti aku akan bertemu dengan Kenan.


Kulihat tadi mobilnya telah terparkir rapi di dalam garasi, berarti ia telah


berada di rumah sebelum aku sampai di rumah. Nanti sajalah aku ke atas.


Sekalian mandi dan mengajak Kenan makan malam.


Tak lama kemudian Bik


Janet masuk dan berjalan menuju dapur. Mungkin ia sudah cukup puas mengagumi


cowok-cowok tampan di kost sebelah. Paling jeli Bik Janet ini kalau lihat cowok


tampan. Bahkan tukang somay tampan pun dia tahu. Bukan main mata Bik Janet ini.


Kenan POV


Sejak jam empat sore


aku telah tiba di rumah. Hari ini sengaja aku tidak bekerja di cafe karena


mengerjakan tugas kuliah yang cukup banyak. Aku pun menyelesaikan tugas demi


tugas di ruang kerja di lantai dua. Sekitar jam lima sore, aku mendengar suara


motor Indah. Berarti dia sudah pulang. Lebih baik aku tunggu saja dia di atas


sembari bersiap untuk berolah raga. Aku segera berganti pakaian olahraga.


Lama kutunggu, Indah


tidak juga muncul di atas. Aku ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman di


antara kami. Semakin cepat semakin baik agar tidak berlarut-larut.


Kemudian kulangkahkan

__ADS_1


kakiku ke pintu yang berada di ruang olah raga yang menuju ke arah balkon. Aku


keluar dan berdiri di balkon. Nah itu, kulihat Indah dan Bik Janet sedang


berada di depan garasi. Apa yang mereka lakukan? Astaga, mereka berdua


mengintip ke rumah sebelah. Aku memincingkan mata, mencoba melihat apa yang


mereka perhatikan di sana. Astaga dragon, itu kost cowok dan mereka sedang


melihat cowok-cowok yang melakukan berbagai kegiatan di sana. Sejak kapan kedua


wanita di rumahku ini suka melakukan kegiatan mengintip ke kost sebelah?


Indah... ternyata kamu sama saja dengan yang lain. Dasar dodol.... aku


mengumpat dalam hati.


Apakah aku tidak lebih


seksi dan tidak lebih tampan dari para cowok di sebelah? Kurasa aku tidak


terkalahkan. Lihat Indah, siapa yang lebih seksi kali ini. Kuamati aset yang kupunyai


dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Kurasa sangat bagus dan tidak kalah


dibandingkan dengan para cowok di rumah sebelah. Apanya yang kurang dariku?


Aku melepaskan kausku


dan berjalan menuju alat treadmill. Aku segera melakukan treadmill dengan lebih


bersemangat. Biar nanti Indah melihat tubuhku yang jauh lebih seksi daripada


cowok-cowok di sebelah. Ini hasil olahraga setiap hari, membuat tubuhku


terlihat atletis. Hampir setiap pagi aku jogging di sekeliling kompleks.


Baru-baru ini saja aku melakukan olah raga di dalam rumah, setelah alat-alat


olah raga ini kubeli. Ini atas saran Indah yang tampaknya tidak terlalu suka


melihatku jogging di sekeliling kompleks. Kurasa tidak ada yang mengalahkanku


jika dibandingkan dengan para cowok di sebelah rumah.


Biasanya aku


menggunakan headset untuk mendengarkan lagu. Tapi untuk kali ini aku tidak


menutup telingaku. Aku ingin mendengar suara langkah kaki yang menuju ke atas. Hampir


setengah jam aku menggunakan treadmill ini. Tapi tidak ada tanda-tanda Indah


menuju ke atas. Sementara tubuhku sudah mulai berpeluh. Aku menajamkan indera


pendengaranku sepertinya ada yang menaiki tangga. Tapi jika diperhatikan bukan


suara langkah kaki Indah. Irama langkah kaki Indah tidak seperti itu. Tinggal


bersama Indah selama ini membuatku sangat mengenal Indah, dari irama


berjalannya, intonasi suaranya, tubuhnya, bahkan sampai aroma tubuhnya pun aku


sangat mengetahuinya.


Tiba-tiba... “EH


AMPUN... AYAM... AYAM... AYAM... TOLONG... BIBIK NGGAK LIHAT.”


Dasar dodol,


bukannya Indah yang melihat, malah Bik Janet yang berteriak histeris. Ahk....


***



Apa Bik Janet bisa tahan, kalau tampilannya seperti ini? Masa yang begini dibilang ayam, sih Bik?

__ADS_1


__ADS_2