
SELAMAT MEMBACA
Indah POV
Aku pulang ke rumah
dalam kondisi capek karena setelah menyelesaikan urusan di kampus, aku memberi
les privat kepada murid-muridku. Matahari sore semakin turun ke arah Barat.
Cahayanya semakin meredup. Namun udara di sekitarku masih terasa panas. Karena
sepanjang hari tadi cuaca cerah, matahari memancarkan sinarnya dengan maksimal.
Tas dan berkasku
kulempar ke atas sofa yang berada di ruang keluarga. Rasanya sungguh panas. Aku
ingin merasakan sedikit angin sepoi-sepoi. Aku pun melangkahkan kaki keluar
dari dalam rumah. Dari sudut teras kulihat Bik Janet sedang mengintip di
sela-sela dinding roaster yang membatasi halaman rumah kami dengan halaman
tetangga. Menurut perkiraanku, rumah Mas Danu berada di sebelah kami. Berarti
Bik Janet sedang mengintip ke halaman rumah Mas Danu. Ngintip apaan sih Bik,
serius amat?
Aku berjalan
menghampiri Bik Janet. Kukejutkan dia dengan menepuk bahunya. “Eh ayam...
ayam... ayam....” Lihatlah penyakit latah Bik Janet. Penyakit latah ini bisa
membuat seseorang lelah kalau ia sering terkejut. Aku juga sering ngerjain Bik
Janet, pura-pura membuatnya kaget, sampai dia kelelahan dan minta tolong untuk
berhenti. Masih untung kata-kata yang digunakan Bik Janet cukup sopan ‘ayam
ayam’, coba kalau lihat orang lain yang berpenyakit latah. Mereka mengeluarkan
kata-kata yang tidak sopan. Eh, tapi kalau bahasanya tidak sopan, bisa disensor
Manggatoon ya.
“Si Non mah ngagetin
Bibik aja. Kirain Bibik siapa.” Katanya ketika membuka bekapan mulutnya. Kini
bibirnya komat kamit tanpa keluar suara sedikitpun. Sebenarnya mau ngomong apa
sih Bik Janet ini?
“Hayo, ngintip siapa
Bik?” Kataku kepo. Aku menepuk-nepuk pundak Bik Janet dengan kuat.
Tangan Bik Janet
menarik bahuku agar mengikutinya, “Sini Non. Itu lihat deh, kalo sore-sore
gini, cowok-cowok di kost sebelah pada keluar Non. Pada nyuci motor, gitaran,
ngobrol. Rame Non. Lumayan untuk cuci mata. Ganteng-ganteng lho Non. Ada surga
KW di rumah sebelah.” Ia kembali terkikik geli. Aku jadi penasaran juga,
seperti apa surga KW versi Bik Janet.
“Ih, anak gadis nggak
boleh ngitip begituan. Nanti bintitan lho kalo pengen.” Kataku menggoda Bik
Janet.
“Sini deh Non. Lihat,
__ADS_1
itu yang paling ganteng.” Bik Janet menarik tanganku. Ia kemudian mengajakku
untuk ikut mengintip dari celah-celah roaster. “Yang itu Non, yang paling
ganteng. Yang berdiri di depan pintu itu, yang pakai kaos biru dan celana
pendek hitam itu.” Bik Janet menunjuk seorang pria berkacamata sedikit
berjanggut dan berkumis. Yah, ternyata benar, mas Danu tinggal di sebelah
rumahku. Dan Mas Danu juga yang dibilang paling ganteng oleh Bik Janet.
Jangan-jangan setiap sore, Bik Janet ngintip di tembok ini. Haduh, kurang
kerjaan banget si Bibik.
“Oh, selera Bibik
berubah? Yang kulitnya coklat matanya gede gitu juga mau? Kirain, sejenis Lee
Min Ho aja selera Bibik.” Kataku masih dengan aksi mengintip. Kalau dilihat
orang, memalukan sekali posisiku ini, mengintip ke rumah sebelah bersama Bik
Janet.
“Si Non ini. Kalau
orang ganteng mah, bibik nggak pilih-pilih.” Iya terkikik geli dengan ucapannya
sendiri. Dasar Bik Janet, kelamaan jablay jadi begini dah.
Aku hanya sebentar
menemani Bik Janet. Melihat Mas Danu membuatku teringat tentang kesiapanku
untuk seminar esok hari. Aku segera masuk kembali dan menghempaskan tubuhku ke
sofa. Kuambil beberapa berkas dari dalam tasku. Aku mulai membaca beberapa
catatan yang aku anggap penting untuk presentasi esok hari. Aku pun tenggelam
sekarang. Kalau aku langsung ke atas, pasti aku akan bertemu dengan Kenan.
Kulihat tadi mobilnya telah terparkir rapi di dalam garasi, berarti ia telah
berada di rumah sebelum aku sampai di rumah. Nanti sajalah aku ke atas.
Sekalian mandi dan mengajak Kenan makan malam.
Tak lama kemudian Bik
Janet masuk dan berjalan menuju dapur. Mungkin ia sudah cukup puas mengagumi
cowok-cowok tampan di kost sebelah. Paling jeli Bik Janet ini kalau lihat cowok
tampan. Bahkan tukang somay tampan pun dia tahu. Bukan main mata Bik Janet ini.
Kenan POV
Sejak jam empat sore
aku telah tiba di rumah. Hari ini sengaja aku tidak bekerja di cafe karena
mengerjakan tugas kuliah yang cukup banyak. Aku pun menyelesaikan tugas demi
tugas di ruang kerja di lantai dua. Sekitar jam lima sore, aku mendengar suara
motor Indah. Berarti dia sudah pulang. Lebih baik aku tunggu saja dia di atas
sembari bersiap untuk berolah raga. Aku segera berganti pakaian olahraga.
Lama kutunggu, Indah
tidak juga muncul di atas. Aku ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman di
antara kami. Semakin cepat semakin baik agar tidak berlarut-larut.
Kemudian kulangkahkan
__ADS_1
kakiku ke pintu yang berada di ruang olah raga yang menuju ke arah balkon. Aku
keluar dan berdiri di balkon. Nah itu, kulihat Indah dan Bik Janet sedang
berada di depan garasi. Apa yang mereka lakukan? Astaga, mereka berdua
mengintip ke rumah sebelah. Aku memincingkan mata, mencoba melihat apa yang
mereka perhatikan di sana. Astaga dragon, itu kost cowok dan mereka sedang
melihat cowok-cowok yang melakukan berbagai kegiatan di sana. Sejak kapan kedua
wanita di rumahku ini suka melakukan kegiatan mengintip ke kost sebelah?
Indah... ternyata kamu sama saja dengan yang lain. Dasar dodol.... aku
mengumpat dalam hati.
Apakah aku tidak lebih
seksi dan tidak lebih tampan dari para cowok di sebelah? Kurasa aku tidak
terkalahkan. Lihat Indah, siapa yang lebih seksi kali ini. Kuamati aset yang kupunyai
dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Kurasa sangat bagus dan tidak kalah
dibandingkan dengan para cowok di rumah sebelah. Apanya yang kurang dariku?
Aku melepaskan kausku
dan berjalan menuju alat treadmill. Aku segera melakukan treadmill dengan lebih
bersemangat. Biar nanti Indah melihat tubuhku yang jauh lebih seksi daripada
cowok-cowok di sebelah. Ini hasil olahraga setiap hari, membuat tubuhku
terlihat atletis. Hampir setiap pagi aku jogging di sekeliling kompleks.
Baru-baru ini saja aku melakukan olah raga di dalam rumah, setelah alat-alat
olah raga ini kubeli. Ini atas saran Indah yang tampaknya tidak terlalu suka
melihatku jogging di sekeliling kompleks. Kurasa tidak ada yang mengalahkanku
jika dibandingkan dengan para cowok di sebelah rumah.
Biasanya aku
menggunakan headset untuk mendengarkan lagu. Tapi untuk kali ini aku tidak
menutup telingaku. Aku ingin mendengar suara langkah kaki yang menuju ke atas. Hampir
setengah jam aku menggunakan treadmill ini. Tapi tidak ada tanda-tanda Indah
menuju ke atas. Sementara tubuhku sudah mulai berpeluh. Aku menajamkan indera
pendengaranku sepertinya ada yang menaiki tangga. Tapi jika diperhatikan bukan
suara langkah kaki Indah. Irama langkah kaki Indah tidak seperti itu. Tinggal
bersama Indah selama ini membuatku sangat mengenal Indah, dari irama
berjalannya, intonasi suaranya, tubuhnya, bahkan sampai aroma tubuhnya pun aku
sangat mengetahuinya.
Tiba-tiba... “EH
AMPUN... AYAM... AYAM... AYAM... TOLONG... BIBIK NGGAK LIHAT.”
Dasar dodol,
bukannya Indah yang melihat, malah Bik Janet yang berteriak histeris. Ahk....
***
Apa Bik Janet bisa tahan, kalau tampilannya seperti ini? Masa yang begini dibilang ayam, sih Bik?
__ADS_1