
SELAMAT MEMBACA
Author POV
“Den Kenan, Non Indah
kenapa? Teriak-teriak dari kamar.” Bik Janet mendekati Kenan dan bertanya.
Tentu saja Bik Janet terkejut dengan keributan di pagi hari ini. Majikannya
bukan orang yang senang membuat suara berisik di rumah. Apalagi bertengkar.
Namun pagi ini sungguh berbeda. Dimulai ketika pukul empat pagi, Bik Janet
dikejutkan dengan suara telepon dari Indah yang memintanya membuka pintu
gerbang. Biasanya pukul lima Bik Janet baru membuka gembok yang mengunci pintu
gerbang.
“Apa Non Indah dikunci
di dalam kamar, Den?” Tanya Bik Janet lagi dengan keheranan.
Sementara itu, Kenan
menjawab dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, mengisyaratkan bahwa ia tak
ingin mengucapkan sepatah katapun. Lalu pria itu berjalam masuk menuju kamar
tamu. Namun sebelum masuk, ia berbalik dan menatap tajam kepada Bik Janet.
“Jangan buka pintu kamar atas, Bik.” Ucap Kenan dengan nada ancaman.
Bik Janet berjengit
mendengar ucapan Kenan terutama karena kilatan gelap di mata besarnya. Ia merasa
takut dengan nada suara yang baru saja didengarnya. Kenan adalah sosok pria
yang sabar. Ia mengenalnya sejak Kenan beranjak remaja. Belum pernah ia melihat
majikannya itu marah.
Pagi hari yang
seharusnya tenang, berubah menjadi sangat bising karena suara teriakan-teriakan
dari lantai atas. Indah tidak juga berhenti berteriak. Belum lagi suara
gedoran-gedoran di pintu kamar.
Sekarang pukul setengah
tujuh pagi. Biasanya majikan Bik Janet sudah duduk di ruang makan dan menyantap
makanan yang disediakan Bik Janet. Namun tidak dengan pagi ini.
Bik Janet berjalan
mondar-mandir. Ia takut mengetuk pintu kamar tamu. Dengan deg degan, ia
memberanikan diri mengetuk pintu kamar. “Den... Den Kenan. Ada tamu.”
Lama tak ada jawaban.
Bik Janet mengulangi ketukan dan panggilannya. Setelah lima menit, suara kenop
pintu dibuka. “Ada siapa Bik?” Kenan keluar dengan rambut acak-acakan dan mata
yang memerah.
“Anu Den. Mas Ferry
sudah menunggu di teras.”
“Oh, iya. Makasih ya
Bik.” Kenan masuk kembali ke dalam kamar. Ia mencuci wajahnya di wastafel dan
mengeringkannya dengan sebuah handuk. Lalu ia menyikat giginya.
Bik Janet menarik nafas
lega karena Kenan tidak lagi terlihat marah. Hanya wajahnya saja yang terlihat
sayu dan tidak bersemangat.
Sementara itu di kamar
atas, suara gedoran dan teriakan telah berhenti sekitar setengah jam yang lalu.
Agaknya Indah lelah. Mungkin juga ia merasa tindakannya menggedor pintu dan
__ADS_1
berteriak-teriak sia-sia karena tidak membuahkan hasil.
Lima menit kemudian
Kenan telah duduk di samping Ferry dan terlibat pembicaraan serius dengan
Ferry. Terlihat sekali bahwa ada permasalahan yang terjadi.
Ferry membetulkan
kacamata yang bertengger di hidungnya dengan tangan kanannya. Sekali lagi ia
melirik ke arah bosnya yang terlihat acak-acakan.
“Nggak apa-apa Ken.
Tiga hari ini cafe tutup. Aku sudah handle semuanya. Nggak usah khawatir.”
“Jangan bilang nggak
bikin kamu pusing, Fer.” Kenan dan Ferry beradu tatap.
Mulut Ferry kembali
mengeluarkan kata-kata menenangkan. “Tapi aku bisa atasi semuanya kok. Semua
keterangan ke polisi, satu arah, lewat aku semua. Dan karyawan kita jauh dari
kecurigaan polisi. Kita punya rekaman CCTV-nya kok. Semua bisa dijelaskan.
Hanya masalah waktu, sebelum pelakunya ditangkap. Aku yakin, nggak ada
hubungannya dengan karyawan kita.”
“Panggilan dari
Polres?” Tanya Kenan.
“Aku yang datang tadi,
sebelum ke sini. Sekali lagi nggak usah khawatir.”
“Semoga saja nggak
berimbas terlalu jauh dengan cafe kita, Fer.”
Ferry menghela nafas.
“Pasti berpengaruh, tetapi kalau kita mengadakan event tertentu yang menyedot
“Terus bagaimana dengan
korban yang terkena sajam itu? Masih hidup kan?”
“Iya, di Rumah sakit
Umum Daerah. Sudah membaik. Sudah lewat masa kritisnya. Orang tua korban juga
sudah datang kok.”
Kenan menanggapinya
dengan mengangguk-angguk.
Semalam, dua jam sebelum
kedatangan Indah, Kenan mendapat kabar tak mengenakkan dari Ferry. Ferry
mendapati seseorang tak dikenal tergeletak di depan cafenya. Saat itu ia
bermalam di cafe. Ia terbangun karena dikejutkan dengan suara berisik. Segera
saja ia meninggalkan kamarnya dan keluar. Ada dua orang pemuda yang berteriak
minta tolong. Ternyata kedua orang pemuda itu mendapati seorang korban luka
parah yang tergeletak di tempat parkir Cafe Hogwarts. Ferry mendatangi kedua
pemuda itu. Akhirnya mereka bertiga menghubungi ambulans dan polisi. Tak lama
kemudian, polisi datang, lalu mobil ambulans. Saat itulah ia menghubungi Kenan.
***
Indah POV
Kurang ajar Kenan. Ia
malah mengunciku di dalam kamar. Bik Janet juga tidak mau membukakan pintu.
Pasti ia diancam Kenan. Awas saja kalau pintu ini sudah dibuka.
__ADS_1
Ceklek... suara kunci
terbuka. Tak lama kemudian kenop pintu dibuka dari luar.
“Sayang....” Suara
berat Kenan menyapaku.
Eh, apa yang ia bawa?
Semangkuk es krim?
“Sayang, udahan ya
marahannya.” Ia mengambil sejumput rambutku yang menutupi wajah dan
menyelipkannya di telinga. Lalu tangan kanannya mengulurkan semangkuk es krim.
Ah, sebegini lemahnya
aku kalau berhadapan dengan es krim.
Dengan cepat kuambil
mangkuk es dari tangan Kenan. Lalu aku duduk di kursi yang terletak di sudut
ruangan, yang berada di samping jendela kaca.
“Sayang, jangan pernah
berpikir untuk pergi ya. Kita menikah untuk seumur hidup, bukan pernikahan yang
main-main. Kamu mau kan kita bekerja sama agar pernikahan kita baik-baik saja?”
Kenan berdiri menjulang di sampingku. Aku menganggukan kepala sembari
menyendokkan es krim ke dalam mulutku.
“Maaf kalau caraku
menghindari kamu justru membuat kamu menjadi sedih. Aku tidak bermaksud itu.
Aku sayang sama kamu, In.” Ia membelai kepalaku dengan lembut. Dan air mata ini
kembali meleleh.
Ish, murahan banget deh aku ini. Baru dapat semangkuk es krim
dan kata-kata lembut, hatiku seketika meleleh.
“Maaf.” Kini Kenan
berlutut di hadapanku sehingga wajah kami agak sejajar.
Aku menatapnya. Matanya
bulatnya yang sorotnya terlihat sayu, rambutnya yang acak-acakan.
Mangkuk es krim yang
berada di tanganku, kuletakkan di meja kecil di sampingku. Tanganku kubuka
lebar. Segera saja Kenan memelukku. Pelukan yang hangat dan aku merasakan
aliran rasa cinta yang besar dari setiap hembusan nafasnya. Berlebihan nggak
sih, perasaanku ini.
“Aku juga minta maaf,
Bi.” Kataku dengan suara berat. Dan tangisku pecah di bahunya.
“Kita bicarakan
sama-sama yah, setiap ada yang mengganggu perasaan kamu atau aku. Kita berusaha
untuk terbuka yah, jangan disimpan sendiri. Mencoba untuk saling percaya,
berbagi cerita dan berbagi perasaan. Agar kita bisa menjalani pernikahan ini
dengan baik. I love you, sayang.”
“I love you, more.”
Jawabku di sela isakanku.
“Benar ya? You love
me.” Aku mengangguk dengan kuat.
“Jangan tinggalin aku
dong, sayang. Aku nggak kuat. Tiga hari kamu di kostnya mbak Luthvia, sudah
__ADS_1
bikin aku tersiksa. Jangan ditambah lagi.” Ucapannya disertai dengan usapan
lembut di punggungku.