THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
50. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Author POV


“Den Kenan, Non Indah


kenapa? Teriak-teriak dari kamar.” Bik Janet mendekati Kenan dan bertanya.


Tentu saja Bik Janet terkejut dengan keributan di pagi hari ini. Majikannya


bukan orang yang senang membuat suara berisik di rumah. Apalagi bertengkar.


Namun pagi ini sungguh berbeda. Dimulai ketika pukul empat pagi, Bik Janet


dikejutkan dengan suara telepon dari Indah yang memintanya membuka pintu


gerbang. Biasanya pukul lima Bik Janet baru membuka gembok yang mengunci pintu


gerbang.


“Apa Non Indah dikunci


di dalam kamar, Den?” Tanya Bik Janet lagi dengan keheranan.


Sementara itu, Kenan


menjawab dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, mengisyaratkan bahwa ia tak


ingin mengucapkan sepatah katapun. Lalu pria itu berjalam masuk menuju kamar


tamu. Namun sebelum masuk, ia berbalik dan menatap tajam kepada Bik Janet.


“Jangan buka pintu kamar atas, Bik.” Ucap Kenan dengan nada ancaman.


Bik Janet berjengit


mendengar ucapan Kenan terutama karena kilatan gelap di mata besarnya. Ia merasa


takut dengan nada suara yang baru saja didengarnya. Kenan adalah sosok pria


yang sabar. Ia mengenalnya sejak Kenan beranjak remaja. Belum pernah ia melihat


majikannya itu marah.


Pagi hari yang


seharusnya tenang, berubah menjadi sangat bising karena suara teriakan-teriakan


dari lantai atas. Indah tidak juga berhenti berteriak. Belum lagi suara


gedoran-gedoran di pintu kamar.


Sekarang pukul setengah


tujuh pagi. Biasanya majikan Bik Janet sudah duduk di ruang makan dan menyantap


makanan yang disediakan Bik Janet. Namun tidak dengan pagi ini.


Bik Janet berjalan


mondar-mandir. Ia takut mengetuk pintu kamar tamu. Dengan deg degan, ia


memberanikan diri mengetuk pintu kamar. “Den... Den Kenan. Ada tamu.”


Lama tak ada jawaban.


Bik Janet mengulangi ketukan dan panggilannya. Setelah lima menit, suara kenop


pintu dibuka. “Ada siapa Bik?” Kenan keluar dengan rambut acak-acakan dan mata


yang memerah.


“Anu Den. Mas Ferry


sudah menunggu di teras.”


“Oh, iya. Makasih ya


Bik.” Kenan masuk kembali ke dalam kamar. Ia mencuci wajahnya di wastafel dan


mengeringkannya dengan sebuah handuk. Lalu ia menyikat giginya.


Bik Janet menarik nafas


lega karena Kenan tidak lagi terlihat marah. Hanya wajahnya saja yang terlihat


sayu dan tidak bersemangat.


Sementara itu di kamar


atas, suara gedoran dan teriakan telah berhenti sekitar setengah jam yang lalu.


Agaknya Indah lelah. Mungkin juga ia merasa tindakannya menggedor pintu dan

__ADS_1


berteriak-teriak sia-sia karena tidak membuahkan hasil.


Lima menit kemudian


Kenan telah duduk di samping Ferry dan terlibat pembicaraan serius dengan


Ferry. Terlihat sekali bahwa ada permasalahan yang terjadi.


Ferry membetulkan


kacamata yang bertengger di hidungnya dengan tangan kanannya. Sekali lagi ia


melirik ke arah bosnya yang terlihat acak-acakan.


“Nggak apa-apa Ken.


Tiga hari ini cafe tutup. Aku sudah handle semuanya. Nggak usah khawatir.”


“Jangan bilang nggak


bikin kamu pusing, Fer.” Kenan dan Ferry beradu tatap.


Mulut Ferry kembali


mengeluarkan kata-kata menenangkan. “Tapi aku bisa atasi semuanya kok. Semua


keterangan ke polisi, satu arah, lewat aku semua. Dan karyawan kita jauh dari


kecurigaan polisi. Kita punya rekaman CCTV-nya kok. Semua bisa dijelaskan.


Hanya masalah waktu, sebelum pelakunya ditangkap. Aku yakin, nggak ada


hubungannya dengan karyawan kita.”


“Panggilan dari


Polres?” Tanya Kenan.


“Aku yang datang tadi,


sebelum ke sini. Sekali lagi nggak usah khawatir.”


“Semoga saja nggak


berimbas terlalu jauh dengan cafe kita, Fer.”


Ferry menghela nafas.


“Pasti berpengaruh, tetapi kalau kita mengadakan event tertentu yang menyedot


“Terus bagaimana dengan


korban yang terkena sajam itu? Masih hidup kan?”


“Iya, di Rumah sakit


Umum Daerah. Sudah membaik. Sudah lewat masa kritisnya. Orang tua korban juga


sudah datang kok.”


Kenan menanggapinya


dengan mengangguk-angguk.


Semalam, dua jam sebelum


kedatangan Indah, Kenan mendapat kabar tak mengenakkan dari Ferry. Ferry


mendapati seseorang tak dikenal tergeletak di depan cafenya. Saat itu ia


bermalam di cafe. Ia terbangun karena dikejutkan dengan suara berisik. Segera


saja ia meninggalkan kamarnya dan keluar. Ada dua orang pemuda yang berteriak


minta tolong. Ternyata kedua orang pemuda itu mendapati seorang korban luka


parah yang tergeletak di tempat parkir Cafe Hogwarts. Ferry mendatangi kedua


pemuda itu. Akhirnya mereka bertiga menghubungi ambulans dan polisi. Tak lama


kemudian, polisi datang, lalu mobil ambulans. Saat itulah ia menghubungi Kenan.


***


 


Indah POV


Kurang ajar Kenan. Ia


malah mengunciku di dalam kamar. Bik Janet juga tidak mau membukakan pintu.


Pasti ia diancam Kenan. Awas saja kalau pintu ini sudah dibuka.

__ADS_1


Ceklek... suara kunci


terbuka. Tak lama kemudian kenop pintu dibuka dari luar.


“Sayang....” Suara


berat Kenan menyapaku.


Eh, apa yang ia bawa?


Semangkuk es krim?


“Sayang, udahan ya


marahannya.” Ia mengambil sejumput rambutku yang menutupi wajah dan


menyelipkannya di telinga. Lalu tangan kanannya mengulurkan semangkuk es krim.


Ah, sebegini lemahnya


aku kalau berhadapan dengan es krim.


Dengan cepat kuambil


mangkuk es dari tangan Kenan. Lalu aku duduk di kursi yang terletak di sudut


ruangan, yang berada di samping jendela kaca.


“Sayang, jangan pernah


berpikir untuk pergi ya. Kita menikah untuk seumur hidup, bukan pernikahan yang


main-main. Kamu mau kan kita bekerja sama agar pernikahan kita baik-baik saja?”


Kenan berdiri menjulang di sampingku. Aku menganggukan kepala sembari


menyendokkan es krim ke dalam mulutku.


“Maaf kalau caraku


menghindari kamu justru membuat kamu menjadi sedih. Aku tidak bermaksud itu.


Aku sayang sama kamu, In.” Ia membelai kepalaku dengan lembut. Dan air mata ini


kembali meleleh.


Ish, murahan banget deh aku ini. Baru dapat semangkuk es krim


dan kata-kata lembut, hatiku seketika meleleh.


“Maaf.” Kini Kenan


berlutut di hadapanku sehingga wajah kami agak sejajar.


Aku menatapnya. Matanya


bulatnya yang sorotnya terlihat sayu, rambutnya yang acak-acakan.


Mangkuk es krim yang


berada di tanganku, kuletakkan di meja kecil di sampingku. Tanganku kubuka


lebar. Segera saja Kenan memelukku. Pelukan yang hangat dan aku merasakan


aliran rasa cinta yang besar dari setiap hembusan nafasnya. Berlebihan nggak


sih, perasaanku ini.


“Aku juga minta maaf,


Bi.” Kataku dengan suara berat. Dan tangisku pecah di bahunya.


“Kita bicarakan


sama-sama yah, setiap ada yang mengganggu perasaan kamu atau aku. Kita berusaha


untuk terbuka yah, jangan disimpan sendiri. Mencoba untuk saling percaya,


berbagi cerita dan berbagi perasaan. Agar kita bisa menjalani pernikahan ini


dengan baik. I love you, sayang.”


“I love you, more.”


Jawabku di sela isakanku.


“Benar ya? You love


me.” Aku mengangguk dengan kuat.


“Jangan tinggalin aku


dong, sayang. Aku nggak kuat. Tiga hari kamu di kostnya mbak Luthvia, sudah

__ADS_1


bikin aku tersiksa. Jangan ditambah lagi.” Ucapannya disertai dengan usapan


lembut di punggungku.


__ADS_2