THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
42. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

Karena kemarin pikiran terpecah dengan kerjaan kantor, tadinya hanya mau klik "draft" ternyata yang diklik "kirim review". Jadi terkirim sampai 4 episode. Hehe, nggak apa-apa deh, bonus untuk yang baca. Sebagai ganti karena nggak rutin mengirimnya. Semoga suka ya. Jangan lupa, tinggalkan jejak, like, komen, vote, dan favorit.


SELAMAT MEMBACA


INDAH POV


Kami duduk berdampingan


di sisi ranjang. Tiba-tiba saja aku meras kerinduan yang luar biasa kepada


orang tuaku. Beberapa bulan ini aku tidak lagi dapat melihat mereka, bahkan


tidak dapat lagi mendengarkan suaranya. Bagaimana aku memupus rindu ini? Terkadang


rasanya menyesakkan dada. “Ken, aku kangen dengan ayah bunda.” Kataku.


“Besok kita ke makam


mereka ya... jangan sedih.” Kenan mengusap punggungku dengan tangannya yang


lebar.


“Kenan, kamu nggak akan


meninggalkan aku kan?” aku merasa sangat khawatir. Bagiku, aku bukanlah sosok


sempurna yang dapat memaku Kenan untuk tetap berada di tempatnya. Aku banyak


kekurangan. Bahkan aku lebih tua daripada Kenan.


“Siapa yang mau


ninggalin kamu?  Kita akan bersama, menua


bersama, dan menghabiskan waktu bersama untuk waktu yang sangat lama.” Aku


mengerjapkan mata mendengar ucapan yang membahagiakan hatiku.


“Aku takut, kamu pergi


dariku. Kamu kan masih sangat muda, Ken.”


“Umur hanya sebatas


angka, sayang. Itu tidak berarti apapun bagiku.”


“Tapi aku banyak


kekurangannya, Kenan.”


“Hush... jangan pernah


berkata begitu. You are the one that I


love. You are amazing just the way you are. Nggak usah jadi orang lain. Aku


suka kamu apa adanya.”


Entah siapa yang


memulai, tanpa sadar aku telah berada di pangkuan Kenan yang duduk di tepi


ranjang. Bibir kami saling bertautan dan tanganku sudah terkait di lehernya. Sementara


kedua tangan Kenan memeluk erat pinggangku.


Nafas kami sama-sama


memburu dengan suhu tubuh yang perlahan naik. Kepalaku semakin pusing kurasakan


karena tautan lidah kami. Begini ternyata rasanya. Pantas saja banyak orang


kecanduan. Bagaimana ya, tidak bisa digambarkan.


Perlahan Kenan


mengakhiri tautan lidah kami. Sebenarnya aku merasa sedikit kecewa dan


kehilangan. Namun, segera terganti karena merasakan sentuhan tangan Kenan di


pahaku yang terbuka karena posisiku yang duduk mengangkang di pangkuannya.

__ADS_1


Rambut-rambut halus di permukaan kulitku sontak meremang menerima sentuhan


Kenan.


Ia tersenyum. Pandangan


matanya mengunciku sehingga aku tak bisa mengalihkan pandangan. Bibir tebalnya


yang seksi terlihat lembab dan memerah karena aktivitas kami tadi. Bibir Kenan


berwarna terang, bersemu pink karena ia tidak pernah merokok. Melihat bibirnya


yang penuh itu, menggoda ku untuk menariknya lagi mendekatiku. Aku seperti


orang yang selalu merasa dahaga dan ingin dipuaskan dengan bibirnya.


Jangan tanya lagi kerja


jantungku. Berdetak lebih cepat dan mengalirkan hawa panas ke seluruh tubuh.


Ditambah lagi perasaan ingin meledak. Perutku terasa mulas, entah karena efek


sakit perut atau karena ada kupu-kupu yang beterbangan. Aku tidak bisa


menggambarkan perasaan baru yang aku alami ini. Dan yang lebih aneh lagi, di


bawah perutku, sesuatu di dalam sana berkedut. Mungkin efek perutku yang mulas


ini ya. Tapi baru kali ini aku merasakannya.


Tangan Kenan lembut


menelusuri pahaku yang terbuka. Sementara matanya tidak lepas memandangku


dengan lekat. Segera saja kupegang dada ini dengan kedua tanganku, takut jika


tiba-tiba jantung ini melompat keluar.


Tangan kanan Kenan


beralih menggenggam tanganku yang berada di dada. “Kenapa dipegangin, sayang?”


loncat.” Kataku dengan meringis.


Kenan terkekeh dan


kembali meletakkan tangan kanannya di pahaku. Untuk mengurangi kegugupanku, aku


kembali menelusuri dadanya dan membentuk pola-pola abstrak. Lalu aku mulai


menulis-nulis sesuatu di sana.


M I N E. Empat huruf


kutuliskan di dada bidang Kenan yang terasa keras. Tentu saja ini adalah hasil


dari olahraga rutin yang dilakukannya selama ini.


“I’m yours.” Katanya dengan suara serak.


“Tadi mami ngomong apa?


Kamu kelihatan serius ngobrol dengan mami.” Lanjutnya lagi. Semakin hari aku


merasakan Kenan tidak lagi irit bicara kepadaku. Semakin banyak yang diucapkan


kepadaku. Juga semakin banyak rasa ingin tahunya tentang aku.


“Urusan wanita.”


“Aku nggak boleh tahu?”


Tanyanya lagi dengan wajah penasaran.


Aku menggelengkan


kepala dengan memberikan senyum tipis.


Ia terdiam meneruskan


aktivitasnya bergerak membelai pahaku.

__ADS_1


Sedikit gemetar, aku


mulai menuliskan kata-kata ajaib.


I  L O V E  Y O U. Tiga kata kutuliskan di dadanya. Sontak ia menghentikan


pergerakan tangannya di pahaku.


“Bisa diulang, sayang?”


Aku menggelengkan


kepala, menelusuri lehernya dengan jariku dan mengecup ujung dagunya yang


sedikit ditumbuhi bulu halus. Kemudian aku beranjak berdiri dari pangkuannya.


“Jangan menggoda terus


kabur gitu dong, sayang.” Katanya kemudian. Ia menangkap pergelanganku dan


mendudukkanku kembali di pangkuannya. Namun kali ini dalam posisi miring, sehingga


sisi kanan tubuhku yang berada di hadapannya.


“Tanggung jawab dong.


Kamu nulis apa tadi? Can you say it, babe?”


Wajahku memanas


mendengar pertanyaannya. Aku pun kembali menulis tiga kata ajaib itu di


dadanya, tanpa berniat untuk mengucapkannya.


Ia tersenyum menatapku,


“I love you more, babe.” Ucapnya. Kemudian


sebuah kecupan singkat mendarat di dahiku.


“Sepertinya aku mau


keluar sebentar In.” Aku menatapnya heran. Apakah pengakuan cintaku tadi


mengganggunya? Apakah ia tidak suka dengan pengakuanku? Atau aku berbuat salah?


“Kenapa?” tanyaku


dengan nada kecewa yang tidak dapat aku tutupi.


“Nggak sanggup aku


lama-lama di sini. Rasanya aku ingin menerkam kamu sekarang juga.” Aku heran


dengan jawabannya.


Maksudnya apa sih?


“Aku nggak bisa menahan


lagi, sayang. Lebih baik aku keluar sebentar, menenangkan diri.”


Menahan apa sih maksudnya? Menenangkan diri kenapa? Bikin aku bingung


aja.


“Maksud kamu apa Ken?


Kamu sakit?”


“Bukan sayang, aku


ingin ena-ena sama kamu.” Jarinya menyentil dahiku sedikit keras. “Makanya


jangan menggodaku, sayang.”


Heran deh, yang menggoda duluan siapa coba? Apa dia nggak sadar, sedari


tadi menggodaku habis-habisan, membuat jantung anak perawan mau loncat keluar. Eh,


anak perawan, memang aku masih perawan kan?

__ADS_1


__ADS_2