
Karena kemarin pikiran terpecah dengan kerjaan kantor, tadinya hanya mau klik "draft" ternyata yang diklik "kirim review". Jadi terkirim sampai 4 episode. Hehe, nggak apa-apa deh, bonus untuk yang baca. Sebagai ganti karena nggak rutin mengirimnya. Semoga suka ya. Jangan lupa, tinggalkan jejak, like, komen, vote, dan favorit.
SELAMAT MEMBACA
INDAH POV
Kami duduk berdampingan
di sisi ranjang. Tiba-tiba saja aku meras kerinduan yang luar biasa kepada
orang tuaku. Beberapa bulan ini aku tidak lagi dapat melihat mereka, bahkan
tidak dapat lagi mendengarkan suaranya. Bagaimana aku memupus rindu ini? Terkadang
rasanya menyesakkan dada. “Ken, aku kangen dengan ayah bunda.” Kataku.
“Besok kita ke makam
mereka ya... jangan sedih.” Kenan mengusap punggungku dengan tangannya yang
lebar.
“Kenan, kamu nggak akan
meninggalkan aku kan?” aku merasa sangat khawatir. Bagiku, aku bukanlah sosok
sempurna yang dapat memaku Kenan untuk tetap berada di tempatnya. Aku banyak
kekurangan. Bahkan aku lebih tua daripada Kenan.
“Siapa yang mau
ninggalin kamu? Kita akan bersama, menua
bersama, dan menghabiskan waktu bersama untuk waktu yang sangat lama.” Aku
mengerjapkan mata mendengar ucapan yang membahagiakan hatiku.
“Aku takut, kamu pergi
dariku. Kamu kan masih sangat muda, Ken.”
“Umur hanya sebatas
angka, sayang. Itu tidak berarti apapun bagiku.”
“Tapi aku banyak
kekurangannya, Kenan.”
“Hush... jangan pernah
berkata begitu. You are the one that I
love. You are amazing just the way you are. Nggak usah jadi orang lain. Aku
suka kamu apa adanya.”
Entah siapa yang
memulai, tanpa sadar aku telah berada di pangkuan Kenan yang duduk di tepi
ranjang. Bibir kami saling bertautan dan tanganku sudah terkait di lehernya. Sementara
kedua tangan Kenan memeluk erat pinggangku.
Nafas kami sama-sama
memburu dengan suhu tubuh yang perlahan naik. Kepalaku semakin pusing kurasakan
karena tautan lidah kami. Begini ternyata rasanya. Pantas saja banyak orang
kecanduan. Bagaimana ya, tidak bisa digambarkan.
Perlahan Kenan
mengakhiri tautan lidah kami. Sebenarnya aku merasa sedikit kecewa dan
kehilangan. Namun, segera terganti karena merasakan sentuhan tangan Kenan di
pahaku yang terbuka karena posisiku yang duduk mengangkang di pangkuannya.
__ADS_1
Rambut-rambut halus di permukaan kulitku sontak meremang menerima sentuhan
Kenan.
Ia tersenyum. Pandangan
matanya mengunciku sehingga aku tak bisa mengalihkan pandangan. Bibir tebalnya
yang seksi terlihat lembab dan memerah karena aktivitas kami tadi. Bibir Kenan
berwarna terang, bersemu pink karena ia tidak pernah merokok. Melihat bibirnya
yang penuh itu, menggoda ku untuk menariknya lagi mendekatiku. Aku seperti
orang yang selalu merasa dahaga dan ingin dipuaskan dengan bibirnya.
Jangan tanya lagi kerja
jantungku. Berdetak lebih cepat dan mengalirkan hawa panas ke seluruh tubuh.
Ditambah lagi perasaan ingin meledak. Perutku terasa mulas, entah karena efek
sakit perut atau karena ada kupu-kupu yang beterbangan. Aku tidak bisa
menggambarkan perasaan baru yang aku alami ini. Dan yang lebih aneh lagi, di
bawah perutku, sesuatu di dalam sana berkedut. Mungkin efek perutku yang mulas
ini ya. Tapi baru kali ini aku merasakannya.
Tangan Kenan lembut
menelusuri pahaku yang terbuka. Sementara matanya tidak lepas memandangku
dengan lekat. Segera saja kupegang dada ini dengan kedua tanganku, takut jika
tiba-tiba jantung ini melompat keluar.
Tangan kanan Kenan
beralih menggenggam tanganku yang berada di dada. “Kenapa dipegangin, sayang?”
loncat.” Kataku dengan meringis.
Kenan terkekeh dan
kembali meletakkan tangan kanannya di pahaku. Untuk mengurangi kegugupanku, aku
kembali menelusuri dadanya dan membentuk pola-pola abstrak. Lalu aku mulai
menulis-nulis sesuatu di sana.
M I N E. Empat huruf
kutuliskan di dada bidang Kenan yang terasa keras. Tentu saja ini adalah hasil
dari olahraga rutin yang dilakukannya selama ini.
“I’m yours.” Katanya dengan suara serak.
“Tadi mami ngomong apa?
Kamu kelihatan serius ngobrol dengan mami.” Lanjutnya lagi. Semakin hari aku
merasakan Kenan tidak lagi irit bicara kepadaku. Semakin banyak yang diucapkan
kepadaku. Juga semakin banyak rasa ingin tahunya tentang aku.
“Urusan wanita.”
“Aku nggak boleh tahu?”
Tanyanya lagi dengan wajah penasaran.
Aku menggelengkan
kepala dengan memberikan senyum tipis.
Ia terdiam meneruskan
aktivitasnya bergerak membelai pahaku.
__ADS_1
Sedikit gemetar, aku
mulai menuliskan kata-kata ajaib.
I L O V E Y O U. Tiga kata kutuliskan di dadanya. Sontak ia menghentikan
pergerakan tangannya di pahaku.
“Bisa diulang, sayang?”
Aku menggelengkan
kepala, menelusuri lehernya dengan jariku dan mengecup ujung dagunya yang
sedikit ditumbuhi bulu halus. Kemudian aku beranjak berdiri dari pangkuannya.
“Jangan menggoda terus
kabur gitu dong, sayang.” Katanya kemudian. Ia menangkap pergelanganku dan
mendudukkanku kembali di pangkuannya. Namun kali ini dalam posisi miring, sehingga
sisi kanan tubuhku yang berada di hadapannya.
“Tanggung jawab dong.
Kamu nulis apa tadi? Can you say it, babe?”
Wajahku memanas
mendengar pertanyaannya. Aku pun kembali menulis tiga kata ajaib itu di
dadanya, tanpa berniat untuk mengucapkannya.
Ia tersenyum menatapku,
“I love you more, babe.” Ucapnya. Kemudian
sebuah kecupan singkat mendarat di dahiku.
“Sepertinya aku mau
keluar sebentar In.” Aku menatapnya heran. Apakah pengakuan cintaku tadi
mengganggunya? Apakah ia tidak suka dengan pengakuanku? Atau aku berbuat salah?
“Kenapa?” tanyaku
dengan nada kecewa yang tidak dapat aku tutupi.
“Nggak sanggup aku
lama-lama di sini. Rasanya aku ingin menerkam kamu sekarang juga.” Aku heran
dengan jawabannya.
Maksudnya apa sih?
“Aku nggak bisa menahan
lagi, sayang. Lebih baik aku keluar sebentar, menenangkan diri.”
Menahan apa sih maksudnya? Menenangkan diri kenapa? Bikin aku bingung
aja.
“Maksud kamu apa Ken?
Kamu sakit?”
“Bukan sayang, aku
ingin ena-ena sama kamu.” Jarinya menyentil dahiku sedikit keras. “Makanya
jangan menggodaku, sayang.”
Heran deh, yang menggoda duluan siapa coba? Apa dia nggak sadar, sedari
tadi menggodaku habis-habisan, membuat jantung anak perawan mau loncat keluar. Eh,
anak perawan, memang aku masih perawan kan?
__ADS_1