THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
6. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴


Lokasi KKN Luthvia, sahabat Indah, tidak terlalu jauh dari kampus. Hanya dibutuhkan waktu setengah jam. Jalan yang dilalui juga tidak sulit. Mungkin ini lokasi yang paling mudah dijangkau diantara lokasi yang lain. Kelompok Luthvia terdiri dari tujuh orang,


tiga orang perempuan, dan 4 orang laki-laki. Ben yang merupakan pacar Indah, satu lokasi dengan Luthvia.


Awalnya Luthvia tidak serius ketika menawarkan diri menjadi pengawas khusus untuk Ben. Ia hanya meledek sahabatnya itu agar lebih tenang karena ada dirinya di sekitar Ben.


Namun dalam waktu seminggu ini sebetulnya Luthvia mencium ada sesuatu kejanggalan


dengan perlakuan Ben kepada salah satu mahasiswi. Maka Luthvia selalu memasang


telinga dan mata. Ia adalah orang yang peka dengan keadaan, sehingga ia dapat


mencium jika terjadi sesuatu yang tidak beres di sekitarnya. Hehe...seperti kucing kamu, Luth....


Luthvia menyelesaikan laporan mingguannya di dalam rumah yang merupakan posko KKNnya. Ia mengerjakannya di ruang tamu. Hari ini ia berjaga di posko bersama dua orang teman wanitanya.


Ia merasa haus dan segera beranjak berdiri. Ia bermaksud menuju dapur. Seketika


langkahnya terhenti karena melihat Bennedict sedang berduaan dengan seorang


perempuan yang merupakan teman sekelompok mereka.


Sedang apa Ben di sini? Bukannya tadi dia pamit mau pergi ke rumah pemilik kandang sapi di seberang? Katanya ingin bersiap-siap untuk acara penyuluhan besok. Padahal dua temannya yang lain sudah berangkat. Jangan-jangan modus nih.


Luthvia tidak jadi melangkah ke dapur. Ia mengintip dari balik tirai yang memisahkan antara dapur dan ruang tamu. Ia mengamati apa yang dilakukan Ben.


Dilihatnya Ben yang semakin mendekati perempuan itu. Kini keduanya hampir tidak berjarak. Perempuan itu menyender ke dinding karena didesak oleh Ben. Terlihat keduanya berbisik-bisik. Bisikan yang mesra. Luthvia berusaha menajamkan pendengarannya, tapi ia tidak menangkap satu kata pun. Lalu dilihatnya tangan kiri Ben bergerilya di tubuh bagian belakang perempuan itu, dan tangan kanannnya memegang tengkuk perempuan itu. Tak lama kemudian, mereka berciuman dengan rakus. Tidak hanya berhenti sampai di situ, beberapa bagian pakaian yang dikenakan perempuan itu disingkap oleh Ben. Tampaknya Ben sudah terbiasa urusan sibak-menyibak pakaian


seperti itu. Ia luwes sekali melakukannya. Luthvia sigap, diambilnya beberapa


gambar sebagai bukti. Dahlia, nama perempuan itu. Dahlia adalah salah satu


mahasiswi KKN di kelompok mereka. Ia merupakan mahasiswi tingkat empat Jurusan


Teknik Arsitek.

__ADS_1


Cukup lama Luthvia mengamati kedua orang itu. Walaupun sebenarnya jantungnya serasa ingin copot. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena melihat adegan panas secara live.


Sebelumnya ia hanya melihat adengan panas seperti itu di bioskop, ataupun di laptop, tapi sekarang ia melihatnya secara langsung. Jadi pingin....


Ia pasti akan menyampaikan info penting ini kepada sahabatnya, Indah. Kali ini ia baru punya bukti tentang perselingkuhan Ben. Sudah sejak lama ia mengetahui bahwa Ben


berselingkuh dari Indah. Tapi ia tidak pernah melihatnya secara nyata. Ia hanya


mendengar kata orang. Indah juga tidak terlalu peduli dengan rumor di


sekitarnya yang mengatakan bahwa Ben seringkali berselingkuh. Indah sangat


percaya kepada pacarnya itu. Entahlah, terlalu percaya atau ia tidak peka karena perlakuan – perlakuan manis yang selalu diberikan Ben kepada Indah. Atau mungkin juga Indah yang terlalu cinta kepada Ben.


Lutvhvia tidak ingin sahabatnya itu lebih disakiti oleh Ben. Ia ingin Indah mendapatkan pacar yang setia.


***


“Ben, aku mau ngomong.” Kata Luthvia ketika hari telah malam. Kebetulan suasana di posko cukup sepi. Dua orang perwakilan dari mereka menghadiri acara kenduri di rumah pak RT yang baru saja menyunatkan anaknya. Lebih baik yang datang ke rumah pak RT perwakilan saja. Kasihan pak RT kalau semuanya datang. Jatah konsumsinya jadi berat dong, kalau semua datang.


“Ada apa Pil? Kelihatannya serius banget kamu.” Ben menanggapi Luthvia. Ia jadi ikut ikutan gank empat sekawan, memanggil Luthvia dengan sebutan Upil.


Melihat gambar itu, Benterkesiap. Ia tidak menduga aksinya akan diketahui oleh sahabat pacarnya. Ia sangat ceroboh, tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melakukan perbuatan itu tadi siang.


“Hmmmm.” Ben menarik nafas. “Kamu mau melaporkan foto itu ke Indah?”


Mendapat pertanyaan seperti itu, Luthvia tiba-tiba mendapat ide. “Tergantung," Jawabnya.


“Maksudmu?”


“Tergantung perlakuan kamu kepadaku.”


“Kamu ngancam?”


“Hem...terserah kamu mau mengartikannya seperti apa.” Luthvia menaikkan kedua bahunya.


“Lagian ya Pil, teman kamu itu, walaupun sudah setahun pacaran sama aku, tapi dia sok suci banget dia. Aku nggak bisa ngapa-ngapain dia. Padahal tahu sendiri kan, dia manjanya seperti apa kalau di dekatku. Tapi, jangankan berciuman, tanganku aja harus

__ADS_1


hati-hati bergerak. Aku harus nahan sekuat tenaga supaya  tangan ini nggak kemana-mana. Jadi aku juga harus cari pelampiasanlah.”


“Kalau kamu pegangnya yang normal-normal aja, nggak mungkin deh dia nolak. Iya kan? Kamunya aja yang mesum kali.” Luthvia menjawab dengan jengkel. Ia tahulah sampai level mana pemikiran mesum Ben. Ia pasti ingin pegang-pegang yang tidak-tidak.


“Huh....” Ben mengendus.


“Kamu cinta nggak sih, sama Indah? Kamu pingin nggak sih membahagiakan Indah?”


“Cinta. Aku cinta banget sama dia. Tapi aku juga butuh penyaluran Pil. Dia jaim banget kalau sama aku. Mana tahan aku.”


“Dasar mesum kamu.” Cih, cinta katanya? Mana ada cinta yang tega selingkuh gitu? Mikir deh Ben.


“Stop. Tidak usah membahas yang lain deh. Cukup. Bahas yang ini aja. Mau kamu bagaimana?” Ben mencoba agar pembicaraan tidak jadi melebar ke mana-mana.


“Tentang foto ini?”


“Iya. Apa lagi? Aku nggak mau foto itu sampai ke Indah. Kamu tersangkanya kalau sampai dia tahu.” Ben menujuk jari telunjuknya ke arah Luthvia.


“Ada biaya tutup mulutnya juga, Ben.” Luthvia tersenyum licik.


“Katakan.”


“Sepatu sneakers re*bok, aku yang pilih. Dan kalau aku memergoki sekali lagi. Aku pastikan foto itu jatuh di tangan Indah. Tidak peduli dengan sepatu yang kamu kasih.” Jawab Luthvia dengan licik. Ia pun meninggalkan Ben yang mematung di ruang tamu.


***


Syukurin deh kamu Ben. Dasar omes (otak mesum). Mau disogok pakai apa juga, Luthvia pasti akan memberitahu Indah. Indah itu sahabatnya Luthvia. Dia pasti mau lihat sahabatnya bahagia. Nggak mungkinlah, dengan sepatu seharga segitu dia diam saja. Tapi nggak apa-apa sekali kali ambil untung dari si Omes itu. Luthvia merasa gila,


memanfaatkan kesempatan ini. Huh, dasar mulut nakal hihi. Luthvia menepuk mulutnya yang menyunggingkan senyum.


Oh ya, di dalam kamar sudah ada Dahlia, teman satu kamarnya, yang jadi teman selingkuhan Ben. Kira-kira Dahlia tahu nggak ya, kalau Omes itu sudah punya pacar?


Tapi mungkin ya. Perempuan mana yang akan menolak kalau didekati oleh Ben? Gantengnya kebangetan, populer, dan tajir juga. Pasti Dahlia juga senang didekati Ben. Terlepas dari keseriusan Ben. Mungkin juga mereka hanya having fun.


Dasar manusia, tidak cukup dengan satu kebahagiaan. Semua ingin diraih. Apa memang sifat dasar manusia seperti itu ya? Serakah.


Luthvia sendiri masih berpikir keras, bagaimana caranya menyampaikan kepada Indah tanpa harus memberikan foto itu sebagai bukti. Ben tadi hanya bilang supaya foto itu jangan sampai dilihat Indah bukan?

__ADS_1


Hanya foto...dicatat.... Dasar Luthvia licik juga.


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2