THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
12. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

❤ SELAMAT MEMBACA ❤


Helena menceramahi


putranya dengan tatapan melotot melalui video call.


“Dengar ya Ken. Mami


nggak mau kamu salah pergaulan. Untuk apa malam-malam begini ada perempuan di


kamar kamu?”


“Iya Mi.”


“Jam berapa ini coba?


Kenapa dia sampai ada di kamar kamu?”


“Maaf Mi. Tadi dia mau


pinjam buku Statistik.”


“Itu alasan dia atau


alasan kamu? Jangan cari-cari pembenaran. Mami nggak mau anak mami nantinya


malah menghamili anak orang sebelum menikah.”


“Astaga Mami. Nggak


mungkin....”


“Kamu juga jangan lemah


begitu. Kalau kamu rasa itu salah, sudah sepantasnya kamu tidak


membiarkan perempuan itu masuk ke dalam kamarmu.”


“Iya Mi.”


Kenan tidak lagi


berdebat dengan Helena. Ia hanya mengiyakan apa yang dikatakan maminya,


daripada ceramahnya semakin panjang.


***


Kenan POV


Hari masih pagi, belum


jam lima pagi. Telingaku masih berdengung karena Mami terlalu lama menceramahiku


tadi malam. Mungkin hampir satu jam aku diceramahi Mami. Bella pun segera


meninggalkan kamar kostku karena melihat Mami yang melotot ke arahnya. Ia


segera berlari meninggalkanku tanpa berkata sepatah kata pun.


Aku segera mengambil


pakaian trainingku dan berganti pakaian. Sepatu yang bisa aku gunakan untuk


berlari, kupakaikan di kakiku. Aku hendak berlari pagi saja saat ini. Semoga

__ADS_1


saja suasana hatiku menjadi lebih baik. Rutinitasku setiap minggu, sejak hari


Senin sampai dengan Jumat, aku rutin berlari pagi, kecuali ada kegiatan lain


yang tidak bisa kutinggalkan. Lari pagi kulakukan sekitar satu jam. Kemudian


aku kembali ke kost, membersihkan diri dan bersiap ke kampus. Aku berniat mencari


sarapan ketika dalam perjalanan menuju kampus. Atau jika ingin berangkat lebih


pagi, sembari berlari pagi, aku membeli nasi gudeg, nasi trancam, nasi uduk,


ataupun nasi kuning, menu yang sering aku temui di pagi hari di sekitar kostku.


Aku lega mak lampir itu


tidak mendatangiku pagi ini. Lebih baik aku segera meninggalkan kost sepagi


mungkin, sebelum mak lampir itu datang menghampiriku.


***


Indah POV


Pagi hari di sebuah


cafe yang letaknya sekitar 2 km dari kampusku. Aku duduk berhadapan dengan Ben.


Hari ini aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Ben.


Pada awal pertemuan,


aku menejelaskan kepada Ben. Bahwa komunikasi kami kurang baik akhir – akhir


ini. Juga aku sering mendengar berita tentang perselingkuhannya. Sehingga aku


“Ben, aku minta


hubungan kita diakhiri saja.” Kataku lagi menegaskan. Ia terlihat sangat tidak


terima.


“Sayang, aku


tidak ingin kita putus. Titik.” Kata Ben dengan keras.


“Ben, dengar. Aku juga


punya batas kesabaran. Aku tanya sekarang, apa kamu selingkuh di belakangku?”


tanyaku.


“Kamu tahu dari mana?”


Tuh kan. Dia tidak akan


pernah mengakuinya. Dan tidak ada permintaan maaf. Apa aku harus memergoki


sendiri perselingkuhannya?


“Tidak perlu kamu tahu.


Aku tanya sekali lagi, apa kamu berselingkuh?”


“Mana buktinya?”

__ADS_1


“Aku tidak perlu bukti,


Ben. Aku bisa mengetahuinya. Untuk apa hubungan ini dipertahankan kalau hanya


untuk saling menyakiti?”


“Sayang, aku tidak


ingin putus denganmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Ucapnya lagi.


“Aku tidak bisa


mempercayaimu lagi.”


“Indah, beri aku


kesempatan lagi.” Katanya dengan gusar. Kulihat matanya berkilat menahan


emosinya. Aku takut dia akan bertindak kasar kepadaku.


“Ben, rasa


percayaku kepadamu sudah hilang. Dalam sebuah hubungan, perlu dilandasi rasa


saling percaya bukan?” aku menahan emosiku sebaik mungkin. Aku tidak ingin


marah-marah di tempat umum, memalukan sekali.


“Tolong pikirkan lagi


keputusanmu, sayang.”


“Tidak Ben. Sudah


cukup. Selama ini aku hanya diam. Bukan berarti aku tidak tahu. Aku hanya


menunggu kamu untuk menyesal dan meminta maaf. Tapi ternyata kamu mengulanginya


terus menerus. Cukup sampai di sini hubungan kita, Ben.” Aku segera melangkahkan


kakiku meninggalkan dirinya yang duduk mematung menghadap meja. Aku harus


segera pergi darinya. Aku tidak ingin Ben melemahkanku dengan sikap manis


seperti sebelumnya. Biasanya dia akan bersikap manis dan romantis sehingga aku


kembali luluh dan melanjutkan hubungan kami. Tetapi kali ini sudah cukup. Aku


ingin menghentikannya. Dan dengarlah yang dia katakan tadi. Tidak ada kata


maaf. Dia hanya tidak ingin putus dariku.


Aku keluar dari cafe


dan menghampiri motor maticku. Kujalankan motor ke arah kampus. Masih ada satu


pekerjaan lagi yang akan kuselesaikan di kampus.


Selesai sudah satu


urusanku dengan Ben. Sedih, sudah pasti. Kehilangan, sudah pasti. Satu tahun


hubungan kami pasti meninggalkan kesan yang mendalam.


***

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2