
❤ SELAMAT MEMBACA ❤
Helena menceramahi
putranya dengan tatapan melotot melalui video call.
“Dengar ya Ken. Mami
nggak mau kamu salah pergaulan. Untuk apa malam-malam begini ada perempuan di
kamar kamu?”
“Iya Mi.”
“Jam berapa ini coba?
Kenapa dia sampai ada di kamar kamu?”
“Maaf Mi. Tadi dia mau
pinjam buku Statistik.”
“Itu alasan dia atau
alasan kamu? Jangan cari-cari pembenaran. Mami nggak mau anak mami nantinya
malah menghamili anak orang sebelum menikah.”
“Astaga Mami. Nggak
mungkin....”
“Kamu juga jangan lemah
begitu. Kalau kamu rasa itu salah, sudah sepantasnya kamu tidak
membiarkan perempuan itu masuk ke dalam kamarmu.”
“Iya Mi.”
Kenan tidak lagi
berdebat dengan Helena. Ia hanya mengiyakan apa yang dikatakan maminya,
daripada ceramahnya semakin panjang.
***
Kenan POV
Hari masih pagi, belum
jam lima pagi. Telingaku masih berdengung karena Mami terlalu lama menceramahiku
tadi malam. Mungkin hampir satu jam aku diceramahi Mami. Bella pun segera
meninggalkan kamar kostku karena melihat Mami yang melotot ke arahnya. Ia
segera berlari meninggalkanku tanpa berkata sepatah kata pun.
Aku segera mengambil
pakaian trainingku dan berganti pakaian. Sepatu yang bisa aku gunakan untuk
berlari, kupakaikan di kakiku. Aku hendak berlari pagi saja saat ini. Semoga
__ADS_1
saja suasana hatiku menjadi lebih baik. Rutinitasku setiap minggu, sejak hari
Senin sampai dengan Jumat, aku rutin berlari pagi, kecuali ada kegiatan lain
yang tidak bisa kutinggalkan. Lari pagi kulakukan sekitar satu jam. Kemudian
aku kembali ke kost, membersihkan diri dan bersiap ke kampus. Aku berniat mencari
sarapan ketika dalam perjalanan menuju kampus. Atau jika ingin berangkat lebih
pagi, sembari berlari pagi, aku membeli nasi gudeg, nasi trancam, nasi uduk,
ataupun nasi kuning, menu yang sering aku temui di pagi hari di sekitar kostku.
Aku lega mak lampir itu
tidak mendatangiku pagi ini. Lebih baik aku segera meninggalkan kost sepagi
mungkin, sebelum mak lampir itu datang menghampiriku.
***
Indah POV
Pagi hari di sebuah
cafe yang letaknya sekitar 2 km dari kampusku. Aku duduk berhadapan dengan Ben.
Hari ini aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Ben.
Pada awal pertemuan,
aku menejelaskan kepada Ben. Bahwa komunikasi kami kurang baik akhir – akhir
ini. Juga aku sering mendengar berita tentang perselingkuhannya. Sehingga aku
“Ben, aku minta
hubungan kita diakhiri saja.” Kataku lagi menegaskan. Ia terlihat sangat tidak
terima.
“Sayang, aku
tidak ingin kita putus. Titik.” Kata Ben dengan keras.
“Ben, dengar. Aku juga
punya batas kesabaran. Aku tanya sekarang, apa kamu selingkuh di belakangku?”
tanyaku.
“Kamu tahu dari mana?”
Tuh kan. Dia tidak akan
pernah mengakuinya. Dan tidak ada permintaan maaf. Apa aku harus memergoki
sendiri perselingkuhannya?
“Tidak perlu kamu tahu.
Aku tanya sekali lagi, apa kamu berselingkuh?”
“Mana buktinya?”
__ADS_1
“Aku tidak perlu bukti,
Ben. Aku bisa mengetahuinya. Untuk apa hubungan ini dipertahankan kalau hanya
untuk saling menyakiti?”
“Sayang, aku tidak
ingin putus denganmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Ucapnya lagi.
“Aku tidak bisa
mempercayaimu lagi.”
“Indah, beri aku
kesempatan lagi.” Katanya dengan gusar. Kulihat matanya berkilat menahan
emosinya. Aku takut dia akan bertindak kasar kepadaku.
“Ben, rasa
percayaku kepadamu sudah hilang. Dalam sebuah hubungan, perlu dilandasi rasa
saling percaya bukan?” aku menahan emosiku sebaik mungkin. Aku tidak ingin
marah-marah di tempat umum, memalukan sekali.
“Tolong pikirkan lagi
keputusanmu, sayang.”
“Tidak Ben. Sudah
cukup. Selama ini aku hanya diam. Bukan berarti aku tidak tahu. Aku hanya
menunggu kamu untuk menyesal dan meminta maaf. Tapi ternyata kamu mengulanginya
terus menerus. Cukup sampai di sini hubungan kita, Ben.” Aku segera melangkahkan
kakiku meninggalkan dirinya yang duduk mematung menghadap meja. Aku harus
segera pergi darinya. Aku tidak ingin Ben melemahkanku dengan sikap manis
seperti sebelumnya. Biasanya dia akan bersikap manis dan romantis sehingga aku
kembali luluh dan melanjutkan hubungan kami. Tetapi kali ini sudah cukup. Aku
ingin menghentikannya. Dan dengarlah yang dia katakan tadi. Tidak ada kata
maaf. Dia hanya tidak ingin putus dariku.
Aku keluar dari cafe
dan menghampiri motor maticku. Kujalankan motor ke arah kampus. Masih ada satu
pekerjaan lagi yang akan kuselesaikan di kampus.
Selesai sudah satu
urusanku dengan Ben. Sedih, sudah pasti. Kehilangan, sudah pasti. Satu tahun
hubungan kami pasti meninggalkan kesan yang mendalam.
***
__ADS_1
❤❤❤❤❤