
🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲
Indah POV
Pukul delapan pagi aku
telah sampai di kampus tercinta. Setelah aku memarkirkan motorku di tempat
parkir motor, aku berencana menuju ke ruang dosen pembimbingku, yaitu mas Danu.
Kusapa pak Seno satpam penjaga di pos parkir motor. Seperti biasa aku beramah
tamah sebentar dengan pak Seno. Pak Seno ini sering membantuku jika aku
kesulitan memarkirkan motor di tempat yang sempit. Atau ia mengeluarkan motorku
yang terjepit di antara motor-motor yang lain. Kadang kalau Omer mogok, ia juga
turut membantuku. Kenal hampir selama empat tahun dengannya menyenangkan. Pak
Seno, lelaki berumur sekitar 40 tahun itu juga seorang pribadi yang ramah. Aku
juga tidak sungkan bercerita kepadanya jika banyak pikiran di kepalaku.
Kususuri jalan
meninggalkan tempat parkir motor. Aku melalui halaman kampus. Kutemui mobil
Kenan telah terparkir di sana. Pasti saat ini dia sedang mengikuti kuliah. Tadi
Kenan bercerita kepadaku ada kuliah jam 8 pagi. Lalu kulangkahkan kaki menuju
ruang mas Danu.
Pintu ruangan ini tidak
berubah banyak. Lama aku tidak melewati ruang dosen ini sejak mas Danu pergi
mengikuti tugas belajar. Di depan pintu ada petugas administrasi yang membantu
dosen. Di dalam ruangan itu ada 4 buah pintu. Di setiap pintu tertulis nama
dosen. Aku bertanya kepada bu Trika, petugas administrasi tersebut. Aku menyapanya
dengan senyum ramah, “Selamat pagi bu. Bapak Danu ada?”
“Selamat pagi mbak
Indah. Pak Danu ada di dalam, tetapi masih ada tamu. Tunggu sebentar ya mbak.
Tamunya mahasiswa juga yang konsultasi.” Kata bu Trika kepadaku. Ibu Trika
ini mengenalku karena aku seringkali berurusan dengannya akhir-akhir ini. Tentu
saja, mahasiswa yang hendak mengerjakan tugas akhir harus rajin berurusan
dengan administrasi kampus. Supaya tidak ada langkah yang terlewatkan dan juga
supaya persyaratan dapat dilengkapi.
Tak lama kemudian,
pintu ruangan mas Danu terbuka dan keluarlah seorang mahasiswa dari sana.
Mahasiswa seangkatanku, Yudis. Sejenak ia menyapaku kemudian pergi utnuk
melanjutkan aktivitasnya.
Tok...tok...
Aku mengetuk pintu
ruangan mas Danu dengan ragu.
“Masuk.” Sebuah suara
bariton menyuruhku masuk. Aduh, aku jadi tegang begini.
Aku membuka pintu dan
melongok sebentar ke ruangannya. Kusapa dengan senyumku yang aku usahakan
semanis mungkin. Sehingga bisa membuat mas Danu terpesona. Siapa tahu urusanku
jadi lancar.
“Selamat pagi pak.”
“Oh, kamu Indah.
Silahkan duduk.” Mas Danu masih mengingatku. Ya iyalah, mana mungkin dia lupa
dengan paras cantik yang pernah ditaksirnya. Ih, aku jadi ke-ge-er-an sendiri.
Aku segera menghempaskan pantatku di kursi hitam yang tersedia di depan
kursinya. Ia menatap lekat ke arahku. Aku pun jadi canggung.
“Panggil mas saja
seperti biasanya, Indah. Kita tidak sedang di dalam kelas. Apa kabar?”
“Baik mas.” Aku
menjawabnya. Lagi-lagi dengan sunggingan senyum. Aku tidak bisa yah, berbicara
dengan orang lain tanpa menghadiahkan senyum manisku. Kata orang senyumku
paling manis. Kecuali kalau sedang dalam kondisi be te, senyumku jadi
menghilang ditelan bumi.
Mas Danu yang aku lihat
sekarang sedikit berubah dibandingkan dua tahun yang lalu. Pria berkacamata itu
terlihat lebih dewasa dengan bulu-bulu halus jenggot, kumis dan brewoknya.
Tidak dibiarkan panjang, tapi tumbuh dengan rapi dan tipis. Kalau saja dia
__ADS_1
berada di depan kelas, aku yakin mahasiswi banyak yang duduk di deretan depan
untuk mengagumi ketampanannya.
“Jadi Indah, saya
menggantikan pak Kamiso menjadi pembimbingmu. Mana lembar konsultasi dan
skripsimu?” Tanya mas Danu. Kali ini ia menyunggingkan senyum. Setelah tadi
menampilkan air muka serius. Aku jadi lega. Hilang sudah kecanggunganku.
Aku mengangsurkan
lembar konsultasi dan berkas skripsiku. “Pak Kamiso sudah menyetujui, mas.
Beliau meminta saya untuk melakukan seminar. Jadi sudah saya daftarkan ke
bagian akademik sebelum berangkat KKN kemarin dan jadwalnya minggu depan.” Ia
memeriksa catatan-catatan yang diberikan pak Kamiso di lembar konsultasiku.
Lalu membuka berkas skripsiku. Cukup lama ia memeriksanya.
“Baiklah Indah, Tidak
ada catatan dari saya untuk berkas ini. Kamu bisa membuat bahan untuk
presentasi. Kalau sudah siap, beri saya print outnya ya. Juga jangan lupa untuk
mengingatkan saya tentang jadwal seminarnya.”
“Baik mas.”
“In, bagaimana kabar
orang tuamu? Sudah lama saya tidak berkunjung ke sana.”
“Ehm... mereka sudah
dipanggil Yang Kuasa, mas. Tiga bulan yang lalu mereka kecelakaan.”
“Oh, maaf Indah. Saya
tidak tahu tentang kabar itu. Saya turut berduka cita. Kamu yang kuat ya.”
“Iya mas. Terima kasih.
Saya sudah ikhlas.”
“Kalau ada kesulitan,
tidak usah ragu untuk bercerita atau meminta bantuan saya. Nomor teleponmu
masih sama seperti yang dulu kan?”
“Iya mas, terima kasih
atas perhatian mas Danu. Telepon saya masih sama.”
“Kamu masih menyimpan
nomor telepon saya?”
kabari tentang kesiapan seminarnya. Terima kasih untuk hari ini, mas. Saya
mohon diri.”
“Baik Indah. Sekali
lagi, yang kuat yah. Dan tetap semangat.” Ia turut berdiri ketika aku berdiri.
Kemudian ia menepuk-nepuk pundakku sembari mengiringku ke pintu. Sekali lagi
aku mengangguk ke arahnya sebelum memutarkan badan ini menjauh dari hadapannya.
Aku juga berpamitan kepada bu Trika.
“Bu, saya permisi
dulu.”
“Iya, mbak Indah.”
Jawab bu Trika.
Aku berjalan
meninggalkan ruangan dosen dengan menunduk. Tujuanku selanjutnya adalah ke
perpustakaan. Tiba-tiba saja duk... kepalaku membentur sesuatu yang empuk. Dan
wangi parfum yang itu mengingatkanku akan seseorang.
“Aduh,” Aku mengusap
dahiku dan mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang ada di depanku.
“Indah.” Sapanya. Ia
menatapku lekat dengan bibir yang siap berbicara lanjut.
“Ben.” Kataku terkejut.
Aku tidak siap bertemu dengannya hari ini. Apalagi peristiwa yang mengagetkanku
ketika bertemu dengannya di supermarket tempo hari masih membayangiku.
“Indah, aku mau bicara.
Sebentar saja.” Katanya dengan tatapan datar.
Sudah Indah, ini sudah
berakhir. Tidak perlu diperpanjang lagi. Tidak usah mengikuti kemauannya. Bisa
saja hatimu kembali mejadi lemah. Dialog itu terlintas di kepalaku seperti news
sticker di televisi.
__ADS_1
“Maaf Ben, tidak bisa.
Aku ada perlu.” Aku menolaknya.
“Indah.” Kali ini ia
memegang tangan kananku dan hendak menarikku. Aku berusaha menepis tangannya.
“In... Indah.” Suara
yang lain memanggilku. Aku memutar kepalaku dan melihat kedatangan Kenan. Aku
segera menepiskan pegangan Ben dengan kuat. Ben yang tidak menduga reaksiku,
akhirnya melepaskan pegangannya.
“Maaf, aku ada perlu
dengan Kenan.” Kataku lagi. Aku segera memutar tubuhku menuju ke arah Kenan.
Aku mengamit lengannya dan mengajaknya segera pergi dari hadapan Ben. Aku tidak
jadi melangkah menuju perpustakaan. Langkahku justru menjauhi perpustakaan.
“Mau ke mana?” Kata Ken
karena mengikutiku yang berjalan tanpa tujuan.
“Ke mana aja, yang
penting menjauh dari Ben.” Kataku lagi.
Kenan menunjuk bangku
kayu yang terletak di bawah pohon. “Kita ke sana saja, kalau nggak ada tujuan
yang jelas.” Kali ini ia yang merangkul pundakku agar mengikutinya ke bangku
kayu itu.
Kami duduk
berdampingan. Kenan masih diam. Aku tahu, dia pasti menungguku bercerita.
“Kelasmu sudah
selesai?” Tanyaku.
“Sudah.”
“Kenapa kamu tiba-tiba
ada di sana?” Tanyaku karena heran dengan kehadirannya yang tiba-tiba ada di
sana. Di saat aku membutuhkannya.
“Lewat saja. Kebetulan
aku melihat istriku digandeng orang.” Katanya. Tangan kanannya mengusap
wajahnya.
“Bukan digandeng ya.
Aku ditarik dia. Katanya ada yang mau dibicarakan. Aku menolak, tapi dia terus
memaksa.”
“Lancar konsultasinya?”
Tanyanya lagi. Ia tidak meneruskan pembicaraan mengenai Ben. Ia tahu, aku tidak
suka membicarakannya.
“Lancar. Nanti malam
aku mau buat materi presentasinya.”
“Nanti aku bantu. Tapi
aku pulangnya agak malam ya Ind, sekitar jam tujuh atau delapan karena setelah
praktikum nanti aku ke cafe dulu.”
“Iya nggak papa.”
“Kamar di atas, yang
berdampingan dengan kamar kita sudah aku tata sehingga bisa kamu pakai untuk
bekerja atau belajar.”
“Ow... aku senang, jadi
tidak perlu naik turun. Eh, kamu masih ada kelas lagi?”
“Masih, hari ini sampai
jam 2 ada kuliah.”
“Ya sudah sana. Kuliah
gih. Biar cepat wisuda.” Aku menepuk lengannya.
“Nggak papa aku
tinggal?”
“I’m fine.” Aku berkata
untuk meyakinkannya. Ia pun berdiri dan pergi meninggalkanku. Masih kudengar
sayup sayup ia berteriak, “Kalau ada apa-apa call me.” Sembari melambaikan
tangannya. Aku membalas lambaian tangannya.
***
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1
"Call me, baby..." he said ❤❤