THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
21. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲


Indah POV


Pukul delapan pagi aku


telah sampai di kampus tercinta. Setelah aku memarkirkan motorku di tempat


parkir motor, aku berencana menuju ke ruang dosen pembimbingku, yaitu mas Danu.


Kusapa pak Seno satpam penjaga di pos parkir motor. Seperti biasa aku beramah


tamah sebentar dengan pak Seno. Pak Seno ini sering membantuku jika aku


kesulitan memarkirkan motor di tempat yang sempit. Atau ia mengeluarkan motorku


yang terjepit di antara motor-motor yang lain. Kadang kalau Omer mogok, ia juga


turut membantuku. Kenal hampir selama empat tahun dengannya menyenangkan. Pak


Seno, lelaki berumur sekitar 40 tahun itu juga seorang pribadi yang ramah. Aku


juga tidak sungkan bercerita kepadanya jika banyak pikiran di kepalaku.


Kususuri jalan


meninggalkan tempat parkir motor. Aku melalui halaman kampus. Kutemui mobil


Kenan telah terparkir di sana. Pasti saat ini dia sedang mengikuti kuliah. Tadi


Kenan bercerita kepadaku ada kuliah jam 8 pagi. Lalu kulangkahkan kaki menuju


ruang mas Danu.


Pintu ruangan ini tidak


berubah banyak. Lama aku tidak melewati ruang dosen ini sejak mas Danu pergi


mengikuti tugas belajar. Di depan pintu ada petugas administrasi yang membantu


dosen. Di dalam ruangan itu ada 4 buah pintu. Di setiap pintu tertulis nama


dosen. Aku bertanya kepada bu Trika, petugas administrasi tersebut. Aku menyapanya


dengan senyum ramah, “Selamat pagi bu. Bapak Danu ada?”


“Selamat pagi mbak


Indah. Pak Danu ada di dalam, tetapi masih ada tamu. Tunggu sebentar ya mbak.


Tamunya mahasiswa juga yang  konsultasi.” Kata bu Trika kepadaku. Ibu Trika


ini mengenalku karena aku seringkali berurusan dengannya akhir-akhir ini. Tentu


saja, mahasiswa yang hendak mengerjakan tugas akhir harus rajin berurusan


dengan administrasi kampus. Supaya tidak ada langkah yang terlewatkan dan juga


supaya persyaratan dapat dilengkapi.


Tak lama kemudian,


pintu ruangan mas Danu terbuka dan keluarlah seorang mahasiswa dari sana.


Mahasiswa seangkatanku, Yudis. Sejenak ia menyapaku kemudian pergi utnuk


melanjutkan aktivitasnya.


Tok...tok...


Aku mengetuk pintu


ruangan mas Danu dengan ragu.


“Masuk.” Sebuah suara


bariton menyuruhku masuk. Aduh, aku jadi tegang begini.


Aku membuka pintu dan


melongok sebentar ke ruangannya. Kusapa dengan senyumku yang aku usahakan


semanis mungkin. Sehingga bisa membuat mas Danu terpesona. Siapa tahu urusanku


jadi lancar.


“Selamat pagi pak.”


“Oh, kamu Indah.


Silahkan duduk.” Mas Danu masih mengingatku. Ya iyalah, mana mungkin dia lupa


dengan paras cantik yang pernah ditaksirnya. Ih, aku jadi ke-ge-er-an sendiri.


Aku segera menghempaskan pantatku di kursi hitam yang tersedia di depan


kursinya. Ia menatap lekat ke arahku. Aku pun jadi canggung.


“Panggil mas saja


seperti biasanya, Indah. Kita tidak sedang di dalam kelas. Apa kabar?”


“Baik mas.” Aku


menjawabnya. Lagi-lagi dengan sunggingan senyum. Aku tidak bisa yah, berbicara


dengan orang lain tanpa menghadiahkan senyum manisku. Kata orang senyumku


paling manis. Kecuali kalau sedang dalam kondisi be te, senyumku jadi


menghilang ditelan bumi.


Mas Danu yang aku lihat


sekarang sedikit berubah dibandingkan dua tahun yang lalu. Pria berkacamata itu


terlihat lebih dewasa dengan bulu-bulu halus jenggot, kumis dan brewoknya.


Tidak dibiarkan panjang, tapi tumbuh dengan rapi dan tipis. Kalau saja dia

__ADS_1


berada di depan kelas, aku yakin mahasiswi banyak yang duduk di deretan depan


untuk mengagumi ketampanannya.


“Jadi Indah, saya


menggantikan pak Kamiso menjadi pembimbingmu. Mana lembar konsultasi dan


skripsimu?” Tanya mas Danu. Kali ini ia menyunggingkan senyum. Setelah tadi


menampilkan air muka serius. Aku jadi lega. Hilang sudah kecanggunganku.


Aku mengangsurkan


lembar konsultasi dan berkas skripsiku. “Pak Kamiso sudah menyetujui, mas.


Beliau meminta saya untuk melakukan seminar. Jadi sudah saya daftarkan ke


bagian akademik sebelum berangkat KKN kemarin dan jadwalnya minggu depan.” Ia


memeriksa catatan-catatan yang diberikan pak Kamiso di lembar konsultasiku.


Lalu membuka berkas skripsiku. Cukup lama ia memeriksanya.


“Baiklah Indah, Tidak


ada catatan dari saya untuk berkas ini. Kamu bisa membuat bahan untuk


presentasi. Kalau sudah siap, beri saya print outnya ya. Juga jangan lupa untuk


mengingatkan saya tentang jadwal seminarnya.”


“Baik mas.”


“In, bagaimana kabar


orang tuamu? Sudah lama saya tidak berkunjung ke sana.”


“Ehm... mereka sudah


dipanggil Yang Kuasa, mas. Tiga bulan yang lalu mereka kecelakaan.”


“Oh, maaf Indah. Saya


tidak tahu tentang kabar itu. Saya turut berduka cita. Kamu yang kuat ya.”


“Iya mas. Terima kasih.


Saya sudah ikhlas.”


“Kalau ada kesulitan,


tidak usah ragu untuk bercerita atau meminta bantuan saya. Nomor teleponmu


masih sama seperti yang dulu kan?”


“Iya mas, terima kasih


atas perhatian mas Danu. Telepon saya masih sama.”


“Kamu masih menyimpan


nomor telepon saya?”


kabari tentang kesiapan seminarnya. Terima kasih untuk hari ini, mas. Saya


mohon diri.”


“Baik Indah. Sekali


lagi, yang kuat yah. Dan tetap semangat.” Ia turut berdiri ketika aku berdiri.


Kemudian ia menepuk-nepuk pundakku sembari mengiringku ke pintu. Sekali lagi


aku mengangguk ke arahnya sebelum memutarkan badan ini menjauh dari hadapannya.


Aku juga berpamitan kepada bu Trika.


“Bu, saya permisi


dulu.”


“Iya, mbak Indah.”


Jawab bu Trika.


Aku berjalan


meninggalkan ruangan dosen dengan menunduk. Tujuanku selanjutnya adalah ke


perpustakaan. Tiba-tiba saja duk... kepalaku membentur sesuatu yang empuk. Dan


wangi parfum yang itu mengingatkanku akan seseorang.


“Aduh,” Aku mengusap


dahiku dan mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang ada di depanku.


“Indah.” Sapanya. Ia


menatapku lekat dengan bibir yang siap berbicara lanjut.


“Ben.” Kataku terkejut.


Aku tidak siap bertemu dengannya hari ini. Apalagi peristiwa yang mengagetkanku


ketika bertemu dengannya di supermarket tempo hari masih membayangiku.


“Indah, aku mau bicara.


Sebentar saja.” Katanya dengan tatapan datar.


Sudah Indah, ini sudah


berakhir. Tidak perlu diperpanjang lagi. Tidak usah mengikuti kemauannya. Bisa


saja hatimu kembali mejadi lemah. Dialog itu terlintas di kepalaku seperti news


sticker di televisi.

__ADS_1


“Maaf Ben, tidak bisa.


Aku ada perlu.” Aku menolaknya.


“Indah.” Kali ini ia


memegang tangan kananku dan hendak menarikku. Aku berusaha menepis tangannya.


“In... Indah.” Suara


yang lain memanggilku. Aku memutar kepalaku dan melihat kedatangan Kenan. Aku


segera menepiskan pegangan Ben dengan kuat. Ben yang tidak menduga reaksiku,


akhirnya melepaskan pegangannya.


“Maaf, aku ada perlu


dengan Kenan.” Kataku lagi. Aku segera memutar tubuhku menuju ke arah Kenan.


Aku mengamit lengannya dan mengajaknya segera pergi dari hadapan Ben. Aku tidak


jadi melangkah menuju perpustakaan. Langkahku justru menjauhi perpustakaan.


“Mau ke mana?” Kata Ken


karena mengikutiku yang berjalan tanpa tujuan.


“Ke mana aja, yang


penting menjauh dari Ben.” Kataku lagi.


Kenan menunjuk bangku


kayu yang terletak di bawah pohon. “Kita ke sana saja, kalau nggak ada tujuan


yang jelas.” Kali ini ia yang merangkul pundakku agar mengikutinya ke bangku


kayu itu.


Kami duduk


berdampingan. Kenan masih diam. Aku tahu, dia pasti menungguku bercerita.


“Kelasmu sudah


selesai?” Tanyaku.


“Sudah.”


“Kenapa kamu tiba-tiba


ada di sana?” Tanyaku karena heran dengan kehadirannya yang tiba-tiba ada di


sana. Di saat aku membutuhkannya.


“Lewat saja. Kebetulan


aku melihat istriku digandeng orang.” Katanya. Tangan kanannya mengusap


wajahnya.


“Bukan digandeng ya.


Aku ditarik dia. Katanya ada yang mau dibicarakan. Aku menolak, tapi dia terus


memaksa.”


“Lancar konsultasinya?”


Tanyanya lagi. Ia tidak meneruskan pembicaraan mengenai Ben. Ia tahu, aku tidak


suka membicarakannya.


“Lancar. Nanti malam


aku mau buat materi presentasinya.”


“Nanti aku bantu. Tapi


aku pulangnya agak malam ya Ind, sekitar jam tujuh atau delapan karena setelah


praktikum nanti aku ke cafe dulu.”


“Iya nggak papa.”


“Kamar di atas, yang


berdampingan dengan kamar kita sudah aku tata sehingga bisa kamu pakai untuk


bekerja atau belajar.”


“Ow... aku senang, jadi


tidak perlu naik turun. Eh, kamu masih ada kelas lagi?”


“Masih, hari ini sampai


jam 2 ada kuliah.”


“Ya sudah sana. Kuliah


gih. Biar cepat wisuda.” Aku menepuk lengannya.


“Nggak papa aku


tinggal?”


“I’m fine.” Aku berkata


untuk meyakinkannya. Ia pun berdiri dan pergi meninggalkanku. Masih kudengar


sayup sayup ia berteriak, “Kalau ada apa-apa call me.” Sembari melambaikan


tangannya. Aku membalas lambaian tangannya.


***


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


"Call me, baby..." he said ❤❤



__ADS_2