THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
37. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

Lama nggak update nih because of things that happened in my life jadi baru hari ini bisa update. Selamat membaca ya, semoga suka.


Kenan POV


Duk duk duk duk. Aku


mendengar Indah berlari-lari menuju ke dalam kamar kami. Ia mendapatiku yang


masih berada di dalam kamar dengan tubuh hanya dibalut handuk karena baru saja


kuselesaikan ritual mandi pagiku. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya terlihat


pias.


“Ken, ada Mas Danu di


bawah.”


“Mas Danu?” Aku


berpikir keras dan mengingat-ingat, siapakah Mas Danu yang dibicarakan Indah


ini?


“Dia... dia dosen


pembimbingku.” Oh iya, aku baru mengingatnya. Indah pernah menceritakan bahwa


dosennya yang masih muda itu pernah menjadi tetangganya dulu. Dan yang paling


kuingat, pengakuan Indah bahwa dosen muda itu pernah menyatakan perasaan


sukanya kepada Indah.


“Ngapain?” Kataku


dengan menyelidik.


“Nggak tahu.” Ia


mengedikkan bahunya. Kemudian kulihat ia berjalan mondar-mandir di depanku.


Kuraih bahunya sehingga


ia menghentikan aksinya mondar-mandir. “Kenapa dia tahu, kamu rumahnya di sini?”


“Dia tetangga kita,


Ken. Tetangga sebelah. Anaknya Pak Prasetyo.” Ucap Indah kemudian.


Aku menangkupkan kedua


tanganku di wajah. Tak mengira bahwa dosen muda itu adalah tetangga kami.


“Kamu jangan keluar


dulu ya Ken, sampai dia pulang.” Katanya lagi. Apa maksudnya coba?


“Kenapa? Mau


menyembunyikan aku karena malu punya suami seperti aku?” kataku dengan kecewa.


“Bu... bukan itu.


Tolonglah, Kenan. Sekali ini. Aku belum siap mengakui kalau aku sudah menikah.


Bagaimana nanti dengan nilaiku?”


“Sayang, kalau kita


berdua menutupi pernikahan ini, akan semakin banyak yang salah paham.


Kesalahpahaman itu bisa menyebabkan sakit hati.” Aku kecewa dengan cara


berpikir Indah saat ini. Apakah kaku ini tidak pantas untuknya? Semalam ia


bilang bahagia bersamaku. Tapi pagi ini perkataannya membuat perasaanku


tercabik. Aku memutar tubuhku mengambil pakaian dari dalam lemari. Kupilih


kemeja putih dengan motif kotak-kotak merah dan celana jeans berwarna hitam.


Ketika aku memakai pakaianku, Indah sudah tidak ada di dalam kamar. Tampaknya


ia pergi dengan diam-diam. Ah, biar saja.


Kutatap penampilanku di


depan cermin sembari menyisir rambut. Kurasa penampilanku sudah sangat pantas


untuk memulai hari ini.


Langkah kakiku terhenti


di tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu rumah kami. Aku melihat


dosen muda itu melangkah keluar melewati pintu ruang tamu. Terlihat Indah


segera menutup pintu dan memutar tubuhnya. Ia berjengit ketika menemukanku yang


sudah berdiri di tangga.


Langkahku kuteruskan


menuruni tangga dan menghampiri Indah. “Mau ke kampus hari ini?”


“Enggak. Hari ini aku


mengetik dari rumah saja.”


“Ya sudah.” Aku


melangkah menuju meja makan. Pagi ini Bik Janet menyediakan nasi goreng seafood.


“Ayo sarapan, sayang.” Aku mengajak Indah yang masih berdiri mematung di ruang


tamu. Hari ini kubiasakan diri untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Dari

__ADS_1


meja makan, kulihat Bik Janet yang tersenyum geli ketika mendengarku memanggil


Indah dengan sebutan sayang. Pasti nanti dia akan cerita kepada mami. Perlu


diketahui, Bik Janet berada di sini selain membantu pekerjaan kami, dia pasti


mendapat tugas sebagai mata-mata mami. Ada banyak skenario mami untuk aku dan


Indah. Bik Janet di sini tingkatannya adalah asisten sutradara, yaitu


asistennya mami.


Indah telah duduk di


hadapanku. Ia mengambilkan nasi goreng ke dalam piring dan meletakkannya di


hadapanku. Lalu ia mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri. Kami


menghabiskan nasi goreng dalam hening.


“Mas Danu tadi ada


perlu apa?”


“Ehm... dia menawarkan


untuk berangkat bersama ke kampus dan juga akan memberikan beberapa jurnal yang


akan kuperlukan kelak untuk menambah wawasanku dalam melakukan penelitian.”


“Nggak usah diterima


ajakannya berangkat ke kampus, kecuali aku nggak bisa mengantarmu.”


“Iya Ken. Nggak usah


khawatir, aku masih punya Omer juga.” Ia tersenyum kepadaku. “Terima kasih ya,


nggak keluar dari kamar sampai Mas Danu pergi.”


“Nggak gratis ya.”


Kataku menggodanya. Alisnya terangkat dan saling bertautan.


“Maksudnya?”


“Bayar dengan ini.”


Kataku menempelkan jari telunjuk di bibirku.


“Ih, mesum deh.”


Katanya dengan terkekeh.


Aku menyesap kopiku


sampai habis dan bersiap hendak berangkat. “Nanti aku pulang malam ya, mau ke


cafe.” Indah mengangguk cepat.


dan mengalungkan kedua tangannya di leherku. See ? Yang ia lakukan membuatku


menjadi pria tak lagi, jantungku mendadak hendak melompat keluar. Ia


menarik wajahku agar mendekatinya dan mencium lembut bibir bawahku. Wow,


mendadak sekali. Seperti tahu bulat, digoreng dadakan. “Selamat belajar dan


selamat bekerja, suamiku.” Bisiknya ketika mengakhiri ciuman kami.  Oh God, aku bahagia.


***


KENAN POV


Ini sudah larut malam,


pukul 11. Indah telah tertidur di pelukanku sejak satu jam yang lalu. Sayang


sekali, aku harus terbangun karena mendengar ponselku berbunyi. Tino yang


menghubungiku, katanya ia dan Adi sudah berada di depan rumah. Mereka berdua


ingin bermain PS seperti biasanya. Cukup lama, sebulan lebih kami tidak melakukan


permainan itu. Apalagi alasannya kalau bukan karena pernikahanku. Mana mungkin


aku meninggalkan Indah untuk bermalam di kost Adi atau Tino. Tanpa kehadiranku,


Adi dan Tino masih sering bermain bersama. Malam ini mereka berdua


mendatangiku, tanpa mengabariku terlebih dahulu.


Panik yang kurasakan,


bagaimana jika mereka memergoki Indah berada di rumah ini. Sementara aku tidak


sampai hati membangunkan Indah yang telah terlelap. Segera saja aku bangkit


dengan sangat perlahan, agar Indah tidak terganggu dengan pergerakanku.


“Dasar dodol!!! Mau


datang nggak bilang-bilang. Ini sudah malam, bro.” Itu sapaan pertamaku ketika


membukakan pintu untuk Adi dan Tino. Mereka berdua nyengir memperlihatkan


giginya bak iklan senyum pasta gigi, tanpa rasa bersalah.


“Kangen kita nih.”


Mereka berdua segera masuk tanpa kupersilahkan. Dan dengan santainya


mempersiapkan peralatan bermain yang tersedia di ruang keluarga. Adi dan Tino


duduk bersisian dengan memegang joystick.


“Mau minum apa?”

__ADS_1


Walaupun masih merasa jengkel, aku tidak tega juga membiarkan kedua sahabatku


ini tanpa pelayanan yang baik. Bik Janet tidak terbangun karena ulah kami. Maka


aku berjalan menuju dapur hendak mempersiapkan minuman untuk mereka.


“Aku teh, Ken.” Ucap


Adi tanpa melihatku. “Kopi, Ken.” Tino berucap kemudian.


Segera saja kumasak air


dan menyiapkan minuman untuk mereka. Kulihat di atas meja makan aja cemilan


keripik singkong dan stick keju di dalam toples. Cukuplah untuk menyumpal mulut


ceriwis mereka berdua. Setelah menyiapkan suguhan, aku pun bergabung dengan


mereka. Tentu saja kedua anak kost itu tersenyum bahagia menerima suguhan


gratis ini. Dasar dodol...!


Waktu menunjukkan pukul


12 ketika ada kejadian tak terduga itu....


“Kenan, kamu ke mana?


Aku takut, nggak bisa tidur.” Suara wanita itu mengejutkan kami. Sontak kami


bertiga menolah ke arah tangga.


Astaga, dengan pakaian


kaus tanktop dan celana pendek yang sangat pendek, Indah menuruni tangga,


mencari keberadaanku. Selama ini Indah tidak pernah tidur sendiri di kamar


atas. Ia selalu menunggu kedatanganku jika ingin tidur. Kalau aku tidak berada


di rumah, ia memilih tidur di kamar tamu, di lantai satu. Katanya horor kalau


tidur di kamar atas sendirian.


“Lho, Mbak Indah?”


Kedua sahabatku menatap Indah, lalu berganti menatapku dengan penuh tanda


tanya. Jangan lupakan mulut mereka yang terbuka membentuk huruf O.


Adi dan Tino melotot


melihat tampilan Indah. Ini tidak bagus. Dan yang paling aku takutkan adalah


wajah mereka yang penuh tanya. Aku segera bangkit dan menghampiri Indah yang


berdiri dengan tatap mata penuh kebingungan.


“Mbak Indah kenapa bisa


ada di sini?” Tino menatap ke arahku, kemudian menatap ke arah Adi. Mereka


berdua menatap horor ke arah kami.


“Kamu mau nyunat Kenan,


No? Aku bantuin deh. Sepertinya memang dia perlu disunat lagi.” Adi menatap ke


arahku dengan tatapan ancaman. Aku tahu seberapa jengkelnya mereka karena aku


merahasiakan pernikahan ini.


“Sayang....” Segera


saja aku berdiri merangkul Indah dan membimbingnya kembali ke kamar kami.


Sebisa mungkin tubuh Indah kututupi dengan tubuhku. Aku tidak mau ya, tatapan


lapar kedua sahabatku terhadap Indah.


Aku menutup pintu kamar


dan duduk di tepi ranjang. “Teman-temanmu datang Ken?”


“Iya. Dadakan. Waktu


telepon tadi, mereka berdua sudah berada di depan rumah.” Aku menyugar


rambutku.


“Ngapain?”


“Main PS. Sudah lama


mereka ingin main PS ke sini.”


“Oh, nggak apa-apa. Aku


nggak keberatan sama sekali.”


“Bukan itu In. Kalau


aku bilang ke mereka bahwa kita sudah menikah?”


“Aku nggak keberatan,


Ken. Mungkin memang sudah waktunya.” Indah menatapku tanpa ragu.


“Harusnya aku


memberitahu mereka berdua sejak awal.” Ucapku lirih. Tak tahu harus bagaimana


menjelaskan kepada Tino.


Dengan ragu aku keluar dari kamar dan menuju ke bawah.


***

__ADS_1


__ADS_2