
Lama nggak update nih because of things that happened in my life jadi baru hari ini bisa update. Selamat membaca ya, semoga suka.
Kenan POV
Duk duk duk duk. Aku
mendengar Indah berlari-lari menuju ke dalam kamar kami. Ia mendapatiku yang
masih berada di dalam kamar dengan tubuh hanya dibalut handuk karena baru saja
kuselesaikan ritual mandi pagiku. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya terlihat
pias.
“Ken, ada Mas Danu di
bawah.”
“Mas Danu?” Aku
berpikir keras dan mengingat-ingat, siapakah Mas Danu yang dibicarakan Indah
ini?
“Dia... dia dosen
pembimbingku.” Oh iya, aku baru mengingatnya. Indah pernah menceritakan bahwa
dosennya yang masih muda itu pernah menjadi tetangganya dulu. Dan yang paling
kuingat, pengakuan Indah bahwa dosen muda itu pernah menyatakan perasaan
sukanya kepada Indah.
“Ngapain?” Kataku
dengan menyelidik.
“Nggak tahu.” Ia
mengedikkan bahunya. Kemudian kulihat ia berjalan mondar-mandir di depanku.
Kuraih bahunya sehingga
ia menghentikan aksinya mondar-mandir. “Kenapa dia tahu, kamu rumahnya di sini?”
“Dia tetangga kita,
Ken. Tetangga sebelah. Anaknya Pak Prasetyo.” Ucap Indah kemudian.
Aku menangkupkan kedua
tanganku di wajah. Tak mengira bahwa dosen muda itu adalah tetangga kami.
“Kamu jangan keluar
dulu ya Ken, sampai dia pulang.” Katanya lagi. Apa maksudnya coba?
“Kenapa? Mau
menyembunyikan aku karena malu punya suami seperti aku?” kataku dengan kecewa.
“Bu... bukan itu.
Tolonglah, Kenan. Sekali ini. Aku belum siap mengakui kalau aku sudah menikah.
Bagaimana nanti dengan nilaiku?”
“Sayang, kalau kita
berdua menutupi pernikahan ini, akan semakin banyak yang salah paham.
Kesalahpahaman itu bisa menyebabkan sakit hati.” Aku kecewa dengan cara
berpikir Indah saat ini. Apakah kaku ini tidak pantas untuknya? Semalam ia
bilang bahagia bersamaku. Tapi pagi ini perkataannya membuat perasaanku
tercabik. Aku memutar tubuhku mengambil pakaian dari dalam lemari. Kupilih
kemeja putih dengan motif kotak-kotak merah dan celana jeans berwarna hitam.
Ketika aku memakai pakaianku, Indah sudah tidak ada di dalam kamar. Tampaknya
ia pergi dengan diam-diam. Ah, biar saja.
Kutatap penampilanku di
depan cermin sembari menyisir rambut. Kurasa penampilanku sudah sangat pantas
untuk memulai hari ini.
Langkah kakiku terhenti
di tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu rumah kami. Aku melihat
dosen muda itu melangkah keluar melewati pintu ruang tamu. Terlihat Indah
segera menutup pintu dan memutar tubuhnya. Ia berjengit ketika menemukanku yang
sudah berdiri di tangga.
Langkahku kuteruskan
menuruni tangga dan menghampiri Indah. “Mau ke kampus hari ini?”
“Enggak. Hari ini aku
mengetik dari rumah saja.”
“Ya sudah.” Aku
melangkah menuju meja makan. Pagi ini Bik Janet menyediakan nasi goreng seafood.
“Ayo sarapan, sayang.” Aku mengajak Indah yang masih berdiri mematung di ruang
tamu. Hari ini kubiasakan diri untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Dari
__ADS_1
meja makan, kulihat Bik Janet yang tersenyum geli ketika mendengarku memanggil
Indah dengan sebutan sayang. Pasti nanti dia akan cerita kepada mami. Perlu
diketahui, Bik Janet berada di sini selain membantu pekerjaan kami, dia pasti
mendapat tugas sebagai mata-mata mami. Ada banyak skenario mami untuk aku dan
Indah. Bik Janet di sini tingkatannya adalah asisten sutradara, yaitu
asistennya mami.
Indah telah duduk di
hadapanku. Ia mengambilkan nasi goreng ke dalam piring dan meletakkannya di
hadapanku. Lalu ia mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri. Kami
menghabiskan nasi goreng dalam hening.
“Mas Danu tadi ada
perlu apa?”
“Ehm... dia menawarkan
untuk berangkat bersama ke kampus dan juga akan memberikan beberapa jurnal yang
akan kuperlukan kelak untuk menambah wawasanku dalam melakukan penelitian.”
“Nggak usah diterima
ajakannya berangkat ke kampus, kecuali aku nggak bisa mengantarmu.”
“Iya Ken. Nggak usah
khawatir, aku masih punya Omer juga.” Ia tersenyum kepadaku. “Terima kasih ya,
nggak keluar dari kamar sampai Mas Danu pergi.”
“Nggak gratis ya.”
Kataku menggodanya. Alisnya terangkat dan saling bertautan.
“Maksudnya?”
“Bayar dengan ini.”
Kataku menempelkan jari telunjuk di bibirku.
“Ih, mesum deh.”
Katanya dengan terkekeh.
Aku menyesap kopiku
sampai habis dan bersiap hendak berangkat. “Nanti aku pulang malam ya, mau ke
cafe.” Indah mengangguk cepat.
dan mengalungkan kedua tangannya di leherku. See ? Yang ia lakukan membuatku
menjadi pria tak lagi, jantungku mendadak hendak melompat keluar. Ia
menarik wajahku agar mendekatinya dan mencium lembut bibir bawahku. Wow,
mendadak sekali. Seperti tahu bulat, digoreng dadakan. “Selamat belajar dan
selamat bekerja, suamiku.” Bisiknya ketika mengakhiri ciuman kami. Oh God, aku bahagia.
***
KENAN POV
Ini sudah larut malam,
pukul 11. Indah telah tertidur di pelukanku sejak satu jam yang lalu. Sayang
sekali, aku harus terbangun karena mendengar ponselku berbunyi. Tino yang
menghubungiku, katanya ia dan Adi sudah berada di depan rumah. Mereka berdua
ingin bermain PS seperti biasanya. Cukup lama, sebulan lebih kami tidak melakukan
permainan itu. Apalagi alasannya kalau bukan karena pernikahanku. Mana mungkin
aku meninggalkan Indah untuk bermalam di kost Adi atau Tino. Tanpa kehadiranku,
Adi dan Tino masih sering bermain bersama. Malam ini mereka berdua
mendatangiku, tanpa mengabariku terlebih dahulu.
Panik yang kurasakan,
bagaimana jika mereka memergoki Indah berada di rumah ini. Sementara aku tidak
sampai hati membangunkan Indah yang telah terlelap. Segera saja aku bangkit
dengan sangat perlahan, agar Indah tidak terganggu dengan pergerakanku.
“Dasar dodol!!! Mau
datang nggak bilang-bilang. Ini sudah malam, bro.” Itu sapaan pertamaku ketika
membukakan pintu untuk Adi dan Tino. Mereka berdua nyengir memperlihatkan
giginya bak iklan senyum pasta gigi, tanpa rasa bersalah.
“Kangen kita nih.”
Mereka berdua segera masuk tanpa kupersilahkan. Dan dengan santainya
mempersiapkan peralatan bermain yang tersedia di ruang keluarga. Adi dan Tino
duduk bersisian dengan memegang joystick.
“Mau minum apa?”
__ADS_1
Walaupun masih merasa jengkel, aku tidak tega juga membiarkan kedua sahabatku
ini tanpa pelayanan yang baik. Bik Janet tidak terbangun karena ulah kami. Maka
aku berjalan menuju dapur hendak mempersiapkan minuman untuk mereka.
“Aku teh, Ken.” Ucap
Adi tanpa melihatku. “Kopi, Ken.” Tino berucap kemudian.
Segera saja kumasak air
dan menyiapkan minuman untuk mereka. Kulihat di atas meja makan aja cemilan
keripik singkong dan stick keju di dalam toples. Cukuplah untuk menyumpal mulut
ceriwis mereka berdua. Setelah menyiapkan suguhan, aku pun bergabung dengan
mereka. Tentu saja kedua anak kost itu tersenyum bahagia menerima suguhan
gratis ini. Dasar dodol...!
Waktu menunjukkan pukul
12 ketika ada kejadian tak terduga itu....
“Kenan, kamu ke mana?
Aku takut, nggak bisa tidur.” Suara wanita itu mengejutkan kami. Sontak kami
bertiga menolah ke arah tangga.
Astaga, dengan pakaian
kaus tanktop dan celana pendek yang sangat pendek, Indah menuruni tangga,
mencari keberadaanku. Selama ini Indah tidak pernah tidur sendiri di kamar
atas. Ia selalu menunggu kedatanganku jika ingin tidur. Kalau aku tidak berada
di rumah, ia memilih tidur di kamar tamu, di lantai satu. Katanya horor kalau
tidur di kamar atas sendirian.
“Lho, Mbak Indah?”
Kedua sahabatku menatap Indah, lalu berganti menatapku dengan penuh tanda
tanya. Jangan lupakan mulut mereka yang terbuka membentuk huruf O.
Adi dan Tino melotot
melihat tampilan Indah. Ini tidak bagus. Dan yang paling aku takutkan adalah
wajah mereka yang penuh tanya. Aku segera bangkit dan menghampiri Indah yang
berdiri dengan tatap mata penuh kebingungan.
“Mbak Indah kenapa bisa
ada di sini?” Tino menatap ke arahku, kemudian menatap ke arah Adi. Mereka
berdua menatap horor ke arah kami.
“Kamu mau nyunat Kenan,
No? Aku bantuin deh. Sepertinya memang dia perlu disunat lagi.” Adi menatap ke
arahku dengan tatapan ancaman. Aku tahu seberapa jengkelnya mereka karena aku
merahasiakan pernikahan ini.
“Sayang....” Segera
saja aku berdiri merangkul Indah dan membimbingnya kembali ke kamar kami.
Sebisa mungkin tubuh Indah kututupi dengan tubuhku. Aku tidak mau ya, tatapan
lapar kedua sahabatku terhadap Indah.
Aku menutup pintu kamar
dan duduk di tepi ranjang. “Teman-temanmu datang Ken?”
“Iya. Dadakan. Waktu
telepon tadi, mereka berdua sudah berada di depan rumah.” Aku menyugar
rambutku.
“Ngapain?”
“Main PS. Sudah lama
mereka ingin main PS ke sini.”
“Oh, nggak apa-apa. Aku
nggak keberatan sama sekali.”
“Bukan itu In. Kalau
aku bilang ke mereka bahwa kita sudah menikah?”
“Aku nggak keberatan,
Ken. Mungkin memang sudah waktunya.” Indah menatapku tanpa ragu.
“Harusnya aku
memberitahu mereka berdua sejak awal.” Ucapku lirih. Tak tahu harus bagaimana
menjelaskan kepada Tino.
Dengan ragu aku keluar dari kamar dan menuju ke bawah.
***
__ADS_1