THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
10. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴


Di sebuah kost putri, Karang


Malang Blok A  29.


Indah POV :


Lama sekali aku tidak


melakukan perawatan wajah. Kini saatnya me time. Aku berjingkrak-jingkrak


seirama dengan musik yang terdengar di dalam kamarku. Kugoyangkan pinggulku ke


kiri dan ke kanan, juga tangan dan kakiku bergerak seirama lagu. Mangkuk yang


sudah kuisi dengan masker telah kuaduk-aduk. Aku menghentikan tarianku dan


mulai mengoleskan masker di wajahku. Masker putih ini menutupi seluruh wajahku.


Sejuk rasanya. Sejak dua bulan yang lalu aku tidak melakukan ritual seperti


ini, karena tidak mungkin melakukannya pada saat KKN di desa. Apa nanti kata


teman-temanku. Bisa habis aku dikerjai mereka. Apa kabar yah teman-teman KKN


ku?


Ternyata tinggal selama


dua bulan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak aku kenal, membuat kami


merasa dekat. Rasanya kami semua jadi bagian dalam satu keluarga. Untung saja


tidak banyak pertengkaran yang terjadi dalam kelompok kami. Pertengkaran kecil


bisa diselesaikan dengan baik. Aku merasa mereka mempunyai sifat yang


menyenangkan. Ini baru satu hari berlalu, tetapi rasanya aku sudah kangen


dengan mereka.


Tok ... tok ... tok....


Suara ketukan di pintu


mengagetkan aku.


“Siapa ya?” jawabku


dengan suara yang keras, namun dengan sedikit membuka mulut.


“Mbak Indah....” Kata


suara dari luar. Suara seorang laki-laki. Aku mengernyitkan kedua alisku.


Rasanya suaranya tidak asing. Oh ya, ini kan suaranya Tino, adik kelasku di


kampus. Pasti dia mencari Upil.


Aku membuka pintu kamar


dan mendapati lelaki hitam manis itu berdiri tegak di depanku.


“AAAA... YA AMPUN !!!”


katanya dengan tatapan terkejut melihat ke arahku. Ditutupnya mulutnya dengan


kedua tangannya dan menyisakan dua matanya yang melotot. Rasanya bola mata itu


akan keluar jika lebih lama lagi melotot.


Aku baru sadar. Tentu


saja Tino kaget melihatku karena aku masih menggunakan masker putih. Pasti


wajahku seperti topeng. Bahkan mungkin lelaki di depanku ini tidak mengetahui


siapa aku.


“Ede epe Tine?” (ada


apa Tino) tanyaku dengan sedikit membuka mulut. Sayang kan kalau maskerku ini


pecah, bisa diulang lagi dari awal deh.


“Ini Mbak Indah kan?”


Tino bertanya kepadaku dengan tatapan tidak yakin. Kedua mulutnya tidak lagi


ditutup dengan tangannya.


Aku mengangguk cepat.


Aku berusaha meminimalkan diri agar tidak berbicara terlalu banyak. Demi


maskerku ini.


“Aku nyari Mbak Luthvi.


Di kamarnya nggak ada. Aku telepon, tapi ponselnya tertinggal di kamar. Apa


Mbak Luthvi ada di sini Mbak?” Tanyanya lagi.


Aku menggelengkan


kepala. Aku harap ia tidak lagi bertanya mencam-macam kepadaku. Aku tidak dapat


menahan mulut ini untuk melengkungkan senyum di wajahku. Aku paling tidak bisa


untuk tidak tersenyum ramah kepada orang yang aku kenal. Begitu juga dengan

__ADS_1


Tino, aku ingin sekali tersenyum ramah menyapa wajah manisnya.


“Meef, ekeu legi nggek


bise ngemeng benyek. Legi meskeren.” (Maaf, aku lagi nggak bisa ngomong banyak.


Lagi maskeran) Ternyata ada bahasa khusus yang digunakan yah, kalau orang


sedang maskeran hehe....


Tino mengangguk dengan


tersenyum geli melihat ke arah wajahku. Pasti dia ingin meledek aku seperti


biasanya. Aku harus menghentikannya sebelum maskerku rusak. “Jengen ejek


ngemeng ye.” (Jangan ajak ngomong ya). Aku melambaikan tanganku di depan


wajahku. Aku bisa merasakan aura wajah Tino yang menahan tawanya.


Untung saja aku melihat


kelebatan tubuh Upil memasuki halaman kost. Aku kemudian menujuk ke arahnya.


Tino mengikuti arah jari telunjukku dan menemukan sosok kakak yang sedang


dicarinya.


“Ya sudah mbak. Mbak


Luthvinya sudah datang. Maaf mengganggu ya Mbak Indah.” Katanya berpamitan dan


segera menghampiri kakaknya.


Aku segera menutup


pintu kamar dan menyelesaikan acara me time yang sempat terganggu.


***


Di sebuah kost putra, Jl.


Gayamsari No. 50


Kenan POV :


Pagi ini aku terbangun


di antara kedua sahabatku, Adi dan Tino. Sejak semalam mereka berada di kostku.


Biasalah, kami menghabiskan waktu dengan bermain game. Perutku sudah lapar


minta diisi, sementara Adi dan Tino belum juga bangun dari tidurnya. Mereka


tidur di lantai beralaskan kasur lipat dan terbungkus selimut tebal. Terpaan AC


di ruangan ini memang terasa semakin dingin jika pagi hari seperti ini. Pantas


Aku beranjak dari


tempat tidur, bermaksud membersihkan diri. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku


keluar dari kamar mandi. Terlihat kedua temanku sudah mulai menggeliat-geliat. Tampaknya


mereka akan segera terbangun.


“Hei... bangun. Kalian mau


sarapan nggak?” Kataku menyapa keduanya. Adi mengerjapkan matanya, sementara


Tino langsung terbangun dan duduk mendengar kata sarapan.


“Ayo, kita cari


sarapan. Perutku lapar.” Kata Tino. Ia mengucek-ngucek kedua matanya.


“Mandi dulu, Bro. Nggak


malu apa kalau nanti ada cewek yang lihat?” Kataku menatap mereka berdua. Aku


segera berjalan ke arah lemari pakaian. Kuambil pakaian santai dan segera


kukenakan sembari menunggu keduanya selesai membersihkan diri. Tapi mana mungkin


cepat yah, karena kulihat mereka berdua masih berada di depan pintu kamar


mandi. Mereka berebut untuk mandi terlebih dahulu. Dan tidak ada yang mengalah.


“Di, kamu mandi di


kamar mandi luar saja. Supaya lebih cepat.” Kataku menegur mereka. Kalau tidak


diberi pilihan seperti itu, aku khawatir mereka akan bergulat di depan pintu


kamar mandi.


Adi memberengut kesal. Ia


segera menyambar handuk dari gantungan handuk dan berjalan keluar kamar.


Kulihat Tino segera masuk ke kamar mandi.


Kami segera menuju


warung makan langganan kami yang menyediakan soto ayam. Makan soto ayam di pagi


hari tentu sangat menyegarkan. Kali ini kami menumpang mobilnya Adi. Suasana


warung soto ramai seperti biasanya. Namun tidak perlu antri karena membuat soto


tidak perlu waktu yang terlalu lama. Bahan-bahan telah disiapkan di

__ADS_1


mangkuk-mangkuk, lalu ketika pelanggan datang, penjual akan segera menuangkan


kuah soto yang panas ke dalam mangkuk. Mangkuk pun segera dihidangkan di


hadapan pembeli. Itulah yang aku senangi dari pelayanan di warung soto ini,


cepat dan tepat. Pelanggan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk


menunggu. Kami bertiga segera menghabiskan tiga mangkuk soto dan tiga piring


nasi yang dihadapan kami, dilengkapi dengan sepiring kerupuk putih.


Rencananya setelah sarapan,


kami akan mengambil oleh-oleh makanan di kost kakaknya Tino. Katanya ada


oleh-oleh dari tempat KKN.


Ketika tiba di kost


kakaknya Tino, aku dan Adi menunggunya di dalam mobil. Kost putri ini terdiri


dari dua lantai, berbentuk huruf U. Ada lebih dari lima belas kamar di kost


itu. Tino berjalan menghampiri sebuah kamar di lantai satu. Mungkin itu kamar


kakaknya. Ia terlihat beberapa kali mengetuk, namun pintu tidak juga dibuka. Tak


lama kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Namun tampaknya


teleponnya tidak diangkat. Ia kemudian menghampiri pintu kamar di sebelahnya.


Aku dan Adi terkejut melihat


seseorang perempuan bercelana pendek, kaus tanpa lengan dan rambut diikat ke


atas keluar dari kamar. Yang membuat kami terkejut adalah wajahnya yang tidak


tampak karena ditutupi oleh cat putih yang menutupi seluruh wajahnya kecuali


mata, lubang hidung, dan bibir mungilnya. Cat putih apa itu? Aneh-aneh saja


kelakuan para perempuan ini. Kulihat Tino juga terkejut karena kedua tangannya


menutup mulutnya. Setelah berbicara sejenak dengan perempuan bercat putih itu,


Tino menengok ke arah pagar kost. Terlihat Mbak Lutvia, yang datang berjalan


menuju kost.


Oh, jadi Mbak Luthvia


ini kakaknya Tino. Pantas saja Tino tahu segala sesuatu tentang Indah. Mbak


Luthvia itu sahabatnya Indah.


Setelah menunggu


sekitar sepuluh menit, Tino keluar dari kamar kost Mbak Luthvia dan menghampiri


kamdi di mobil.


“Oh, jadi Mbak Luthvia


itu kakakmu? Pantas saja kamu tahu tentang Mbak Indah.” Adi berkata kepada Tino


yang baru saja masuk ke dalam mobil.


“Iya, aku adiknya Mbak


Luthvia. Eh, senang deh. Sudah ketemu dengan Mbak Indah.” Kata Tino. Binar bahagia


terlihat dari pancaran matanya.


“Mana Mbak Indah?


Jangan-jangan kamu hanya lihat jemurannya lagi.” Adi terkekeh membayangkan foto


jemuran yang ada di ponsel Tino.


“Itu tadi, cewek yang


di samping kamar Mbak Luthvia. Itu kan Mbak Indah.” Kata Tino terkiki. Pasti ia


membayangkan pertemuannya dengan Indah tadi.


“Yang pakai topeng


putih itu?” Tanya Adi lagi.


“Iya.”


“Astaga naga....” Aku


dan Adi berucap hampir bersamaan. Ternyata perempuan dengan cat putih itu Indah


Nathalie.


***


🌴🌴🌴🌴🌴


👨 Makan yuk.


Dedek Kenan ngajak makan.


👱 Lho, katanya tadi makan soto?


👨 Yah, ini kan khusus ngajak kamu makan. Nggak mungkin kan, aku ajak kamu makan soto ayam doang?


👱 😊😊

__ADS_1



__ADS_2