
🌴 SELAMAT MEMBACA 🌴
Di sebuah kost putri, Karang
Malang Blok A 29.
Indah POV :
Lama sekali aku tidak
melakukan perawatan wajah. Kini saatnya me time. Aku berjingkrak-jingkrak
seirama dengan musik yang terdengar di dalam kamarku. Kugoyangkan pinggulku ke
kiri dan ke kanan, juga tangan dan kakiku bergerak seirama lagu. Mangkuk yang
sudah kuisi dengan masker telah kuaduk-aduk. Aku menghentikan tarianku dan
mulai mengoleskan masker di wajahku. Masker putih ini menutupi seluruh wajahku.
Sejuk rasanya. Sejak dua bulan yang lalu aku tidak melakukan ritual seperti
ini, karena tidak mungkin melakukannya pada saat KKN di desa. Apa nanti kata
teman-temanku. Bisa habis aku dikerjai mereka. Apa kabar yah teman-teman KKN
ku?
Ternyata tinggal selama
dua bulan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak aku kenal, membuat kami
merasa dekat. Rasanya kami semua jadi bagian dalam satu keluarga. Untung saja
tidak banyak pertengkaran yang terjadi dalam kelompok kami. Pertengkaran kecil
bisa diselesaikan dengan baik. Aku merasa mereka mempunyai sifat yang
menyenangkan. Ini baru satu hari berlalu, tetapi rasanya aku sudah kangen
dengan mereka.
Tok ... tok ... tok....
Suara ketukan di pintu
mengagetkan aku.
“Siapa ya?” jawabku
dengan suara yang keras, namun dengan sedikit membuka mulut.
“Mbak Indah....” Kata
suara dari luar. Suara seorang laki-laki. Aku mengernyitkan kedua alisku.
Rasanya suaranya tidak asing. Oh ya, ini kan suaranya Tino, adik kelasku di
kampus. Pasti dia mencari Upil.
Aku membuka pintu kamar
dan mendapati lelaki hitam manis itu berdiri tegak di depanku.
“AAAA... YA AMPUN !!!”
katanya dengan tatapan terkejut melihat ke arahku. Ditutupnya mulutnya dengan
kedua tangannya dan menyisakan dua matanya yang melotot. Rasanya bola mata itu
akan keluar jika lebih lama lagi melotot.
Aku baru sadar. Tentu
saja Tino kaget melihatku karena aku masih menggunakan masker putih. Pasti
wajahku seperti topeng. Bahkan mungkin lelaki di depanku ini tidak mengetahui
siapa aku.
“Ede epe Tine?” (ada
apa Tino) tanyaku dengan sedikit membuka mulut. Sayang kan kalau maskerku ini
pecah, bisa diulang lagi dari awal deh.
“Ini Mbak Indah kan?”
Tino bertanya kepadaku dengan tatapan tidak yakin. Kedua mulutnya tidak lagi
ditutup dengan tangannya.
Aku mengangguk cepat.
Aku berusaha meminimalkan diri agar tidak berbicara terlalu banyak. Demi
maskerku ini.
“Aku nyari Mbak Luthvi.
Di kamarnya nggak ada. Aku telepon, tapi ponselnya tertinggal di kamar. Apa
Mbak Luthvi ada di sini Mbak?” Tanyanya lagi.
Aku menggelengkan
kepala. Aku harap ia tidak lagi bertanya mencam-macam kepadaku. Aku tidak dapat
menahan mulut ini untuk melengkungkan senyum di wajahku. Aku paling tidak bisa
untuk tidak tersenyum ramah kepada orang yang aku kenal. Begitu juga dengan
__ADS_1
Tino, aku ingin sekali tersenyum ramah menyapa wajah manisnya.
“Meef, ekeu legi nggek
bise ngemeng benyek. Legi meskeren.” (Maaf, aku lagi nggak bisa ngomong banyak.
Lagi maskeran) Ternyata ada bahasa khusus yang digunakan yah, kalau orang
sedang maskeran hehe....
Tino mengangguk dengan
tersenyum geli melihat ke arah wajahku. Pasti dia ingin meledek aku seperti
biasanya. Aku harus menghentikannya sebelum maskerku rusak. “Jengen ejek
ngemeng ye.” (Jangan ajak ngomong ya). Aku melambaikan tanganku di depan
wajahku. Aku bisa merasakan aura wajah Tino yang menahan tawanya.
Untung saja aku melihat
kelebatan tubuh Upil memasuki halaman kost. Aku kemudian menujuk ke arahnya.
Tino mengikuti arah jari telunjukku dan menemukan sosok kakak yang sedang
dicarinya.
“Ya sudah mbak. Mbak
Luthvinya sudah datang. Maaf mengganggu ya Mbak Indah.” Katanya berpamitan dan
segera menghampiri kakaknya.
Aku segera menutup
pintu kamar dan menyelesaikan acara me time yang sempat terganggu.
***
Di sebuah kost putra, Jl.
Gayamsari No. 50
Kenan POV :
Pagi ini aku terbangun
di antara kedua sahabatku, Adi dan Tino. Sejak semalam mereka berada di kostku.
Biasalah, kami menghabiskan waktu dengan bermain game. Perutku sudah lapar
minta diisi, sementara Adi dan Tino belum juga bangun dari tidurnya. Mereka
tidur di lantai beralaskan kasur lipat dan terbungkus selimut tebal. Terpaan AC
di ruangan ini memang terasa semakin dingin jika pagi hari seperti ini. Pantas
Aku beranjak dari
tempat tidur, bermaksud membersihkan diri. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku
keluar dari kamar mandi. Terlihat kedua temanku sudah mulai menggeliat-geliat. Tampaknya
mereka akan segera terbangun.
“Hei... bangun. Kalian mau
sarapan nggak?” Kataku menyapa keduanya. Adi mengerjapkan matanya, sementara
Tino langsung terbangun dan duduk mendengar kata sarapan.
“Ayo, kita cari
sarapan. Perutku lapar.” Kata Tino. Ia mengucek-ngucek kedua matanya.
“Mandi dulu, Bro. Nggak
malu apa kalau nanti ada cewek yang lihat?” Kataku menatap mereka berdua. Aku
segera berjalan ke arah lemari pakaian. Kuambil pakaian santai dan segera
kukenakan sembari menunggu keduanya selesai membersihkan diri. Tapi mana mungkin
cepat yah, karena kulihat mereka berdua masih berada di depan pintu kamar
mandi. Mereka berebut untuk mandi terlebih dahulu. Dan tidak ada yang mengalah.
“Di, kamu mandi di
kamar mandi luar saja. Supaya lebih cepat.” Kataku menegur mereka. Kalau tidak
diberi pilihan seperti itu, aku khawatir mereka akan bergulat di depan pintu
kamar mandi.
Adi memberengut kesal. Ia
segera menyambar handuk dari gantungan handuk dan berjalan keluar kamar.
Kulihat Tino segera masuk ke kamar mandi.
Kami segera menuju
warung makan langganan kami yang menyediakan soto ayam. Makan soto ayam di pagi
hari tentu sangat menyegarkan. Kali ini kami menumpang mobilnya Adi. Suasana
warung soto ramai seperti biasanya. Namun tidak perlu antri karena membuat soto
tidak perlu waktu yang terlalu lama. Bahan-bahan telah disiapkan di
__ADS_1
mangkuk-mangkuk, lalu ketika pelanggan datang, penjual akan segera menuangkan
kuah soto yang panas ke dalam mangkuk. Mangkuk pun segera dihidangkan di
hadapan pembeli. Itulah yang aku senangi dari pelayanan di warung soto ini,
cepat dan tepat. Pelanggan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk
menunggu. Kami bertiga segera menghabiskan tiga mangkuk soto dan tiga piring
nasi yang dihadapan kami, dilengkapi dengan sepiring kerupuk putih.
Rencananya setelah sarapan,
kami akan mengambil oleh-oleh makanan di kost kakaknya Tino. Katanya ada
oleh-oleh dari tempat KKN.
Ketika tiba di kost
kakaknya Tino, aku dan Adi menunggunya di dalam mobil. Kost putri ini terdiri
dari dua lantai, berbentuk huruf U. Ada lebih dari lima belas kamar di kost
itu. Tino berjalan menghampiri sebuah kamar di lantai satu. Mungkin itu kamar
kakaknya. Ia terlihat beberapa kali mengetuk, namun pintu tidak juga dibuka. Tak
lama kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Namun tampaknya
teleponnya tidak diangkat. Ia kemudian menghampiri pintu kamar di sebelahnya.
Aku dan Adi terkejut melihat
seseorang perempuan bercelana pendek, kaus tanpa lengan dan rambut diikat ke
atas keluar dari kamar. Yang membuat kami terkejut adalah wajahnya yang tidak
tampak karena ditutupi oleh cat putih yang menutupi seluruh wajahnya kecuali
mata, lubang hidung, dan bibir mungilnya. Cat putih apa itu? Aneh-aneh saja
kelakuan para perempuan ini. Kulihat Tino juga terkejut karena kedua tangannya
menutup mulutnya. Setelah berbicara sejenak dengan perempuan bercat putih itu,
Tino menengok ke arah pagar kost. Terlihat Mbak Lutvia, yang datang berjalan
menuju kost.
Oh, jadi Mbak Luthvia
ini kakaknya Tino. Pantas saja Tino tahu segala sesuatu tentang Indah. Mbak
Luthvia itu sahabatnya Indah.
Setelah menunggu
sekitar sepuluh menit, Tino keluar dari kamar kost Mbak Luthvia dan menghampiri
kamdi di mobil.
“Oh, jadi Mbak Luthvia
itu kakakmu? Pantas saja kamu tahu tentang Mbak Indah.” Adi berkata kepada Tino
yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Iya, aku adiknya Mbak
Luthvia. Eh, senang deh. Sudah ketemu dengan Mbak Indah.” Kata Tino. Binar bahagia
terlihat dari pancaran matanya.
“Mana Mbak Indah?
Jangan-jangan kamu hanya lihat jemurannya lagi.” Adi terkekeh membayangkan foto
jemuran yang ada di ponsel Tino.
“Itu tadi, cewek yang
di samping kamar Mbak Luthvia. Itu kan Mbak Indah.” Kata Tino terkiki. Pasti ia
membayangkan pertemuannya dengan Indah tadi.
“Yang pakai topeng
putih itu?” Tanya Adi lagi.
“Iya.”
“Astaga naga....” Aku
dan Adi berucap hampir bersamaan. Ternyata perempuan dengan cat putih itu Indah
Nathalie.
***
🌴🌴🌴🌴🌴
👨 Makan yuk.
Dedek Kenan ngajak makan.
👱 Lho, katanya tadi makan soto?
👨 Yah, ini kan khusus ngajak kamu makan. Nggak mungkin kan, aku ajak kamu makan soto ayam doang?
👱 😊😊
__ADS_1