THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
53. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Terburu-buru langkah


kami istriku menuruni tangga dengan membawa seprai putih kami yang kotor karena


kegiatan kami tadi. Aku sendiri mencangklong tas ransel hitam yang berisi


peralatan mandi dan pakaian ganti untuk berenang.


“Non, kok ganti?


Kemarin sore baru saja Bibik ganti.” Kudengar Bik Janet keheranan melihat Indah


yang tergesa-gesa memasukkan seprei ke dalam tabung mesin cuci.


“Anu Bik, kotor karena


ketumpahan shampi tadi.” Jawab Indah. Ia meringis menatapku. Bibirku berkedut


menahan tawa karena melihat rona merah di wajahnya.


“Ya ampun, kok bisa sih


Non? Tadi berantemnya pakai shampo ya?”


“Ih, Bibik kepo deh.”


Indah segera berlalu dari Bik Janet menghindari pertanyaannya. Ia tergesa


mengekoriku, mengikuti langkah panjang kakiku.


“Huft.” Indah


menghempaskan nafas lega ketika sampai di dalam mobil. “Kepo banget Bik Janet.


Kamu juga sih aneh-aneh, lain kali siapkan tissue, biar nggak belepotan seperti


tadi.” Seringainya ke arahku.


“Eh, apa? Lain kali?


Nanti lagi, ya Yang, setelah renang.” Aku menoleh ke arahnya sebelum


menghidupkan mesin mobil.


Indah mengedikkan


bahunya, “Besok ya. Hari ini nggak ada ronde kedua.” Ia melengos menatap ke


samping. Pandanganku kualihkan ke depan dan segera menjalankan mobil.


Pengalaman pertama


tadi, sungguh berkesan. Membuatku tak bisa berhenti tersenyum.


***


Indah POV


Aku melayangkan


pandangan ke luar jendela mobil. Sekuat hati kualihkan kilasan adegan film biru


yang baru saja kami buat. Namun, susah sekali untuk dihilangkan. Pengalaman


pertama bagiku, dan aku menjadi bintangnya. Bagaimana bisa lupa? Pengalaman


yang sungguh mendebarkan. Rasanya tak berani aku menatap Kenan. Tahu kan, kalau


kerja jantung ini tidak dapat kukontrol? Sekarang masih saja berdebar-debar.


Apa Kenan mendengar kehebohan jantungku ya?


Eh, bisa-bisanya dia


asyik menikmati lagu. Kepalanya bergoyang-goyang seirama dengan lagu yang


diputar. Bisa ya begitu?


“Sayang, kenapa kamu


melihat ke luar terus? Apa pemandangan di luar lebih menarik daripada aku ya?”


“Uh, apa?” Aku


tersentak. Namun tetap saja aku tidak berani menatapnya. Arah pandanganku


melayang ke depan, ke jalan raya, ke kendaraan di depan kami, atau apapun


selain Kenan.


“Kenapa sih?” Tangan


kirinya terulur memegang tangan kananku. Rasa hangat menjalar ke seluruh


tubuhku. Ditambah lagi dengan gerakan ibu jarinya yang mengusap punggung


tanganku dengan lembut. Sentuhan itu seperti mengalirkan sengatan listrik


sampai ke wajahku yang terasa panas.


“Eh, wajahmu merah


sekali. Kamu sakit?” Kenan melambatkan laju mobilnya hendak menghentikan mobil


di pinggir jalan. Ia mencari tempat yang tepat.


“Aku nggak apa-apa.


Nggak usah berhenti.” Kataku lagi.


“Kamu yakin?” Kepalanya


menoleh miring dan menyuguhkan dagu belahnya yang semakin nyata.


Seksi level sembilan.


Aku menggeleng cepat.


Lalu mobil kembali melaju dengan kecepatan 40 km/jam.


***


Author POV


“Ini mau ke mana ya? Nggak


ke kolam renang di Karang Malang, Bi?” Indah menatap Kenan dengan bingung.


Kenan memilih arah yang berlawanan dengan Karang Malang.

__ADS_1


“Tenang saja. Kamu akan


senang.”


Setelah melalui jalan


lingkar Utara, mobil berbelok melewati dua buah kampus milik universitas swasta


yang berada di kota ini. Kenan masih menjalankan mobilnya, sementara Indah


makin tidak tenang. Duduknya gelisah. Ia berganti posisi duduk beberapa kali.


“Sayang, tenang saja. Aku


nggak akan membawa kamu ke tempat menakutkan kok. Kamu terlihat khawatir


begitu.”


Sepuluh menit kemudian


mereka sampai di sebuah waterpark yang masih baru. Kenan memarkirkan mobil di


sebuah tempat parkir. Banyak mobil berjajar rapi di sana. Saat weekend seperti


ini merupakan kesempatan untuk menikmati liburan bagi semua orang, setelah


berkutat dengan kegiatannya. Tentu saja tempat wisata seperti ini akan ramai


dikunjungi, tak terkecuali Jogja Bay.


Beberapa saat kemudian


petugas waterpark mendatangi mereka berdua dengan mobil wisata. Mereka


menjemput para tamu dari tempat parkir dengan sebuah mobil khusus. Tak lama


kemudian sampailah mereka di depan pintu masuk waterpark.



Nuansa ala Film Pirates


of Caribean terlihat kental dari luar. Beberapa spot meniru latar scene yang


diambil dari film tersebut.


“Tempat apa ini Bi?”


Indah ternganga. Ia tidak pernah berwisata ke tempat seperti ini. Bersama ketiga


sahabatnya, mereka lebih sering menghabiskan waktu dari tempat kuliner yang


satu ke tempat kuliner yang lain.


Ia pernah mendengar


nama waterpark ini ketika pertama kali buka. Namun ia tidak pernah membayangkan


akan mengunjungi tampat ini.


Kenan tidak menjawab


pertanyaan Indah. Tangannya dengan santai menggandeng tangan istrinya agar


mengikutinya menaiki tangga menuju ke loket masuk.



Indah berdecak kagum


mengarahkannya ke sebuah rak dengan locker berkunci.


“Sayang, pakaiannya mau


diganti nggak?” Kenan memeluk pinggang istrinya.


“Eh, iya.” Sontak Indah


kaget dengan kecupan di tengkuknya.


Setelah berganti


pakaian, keduanya meletakkan tas ransel hitam itu ke dalam locker dan


menguncinya.


“Mau main apa dulu?”


Tanya Kenan. Ia berjalan sembari merangkul pundak istrinya menuju ke sebuah


wahana.


“Pemanasan dulu, Bi.


Kita ke sana, sungai mengalir itu.” Indah menunjuk ke sebuah tempat yang


bernama Donte Wild River. Merupakan sungai buatan yang arusnya mengalir dengan


tenang. Sepanjang aliran sungai, kita akan dimanjakan dengan suara kicauan


burung, hembusan air, dan ketenangan air yang mengalir. Kenan mengambil sebuah


ban renang besar yang bisa diisi oleh dua orang.


Mereka berdua menaiki


ban tersebut dan membiarkan arus sungai membawa mereka. Sepanjang aliran sungai


itu, keduanya saling berbincang dan tertawa.


Kehadiran kedua orang


yang sedang dimabuk asmara itu, tampaknya menarik perhatian pengunjung. Beberapa


pasang mata mengamati keduanya dengan tersenyum-senyum.


Sementara bagi


gerombolan cewek-cewek genit yang baru saja mulai meletakkan ban renangnya di air,


melihat Kenan dengan pandangan memuja. Tubuh atletis gelap yang hanya ditutupi


oleh celana renang setengah paha, merupakan pelengkap keindahan.


“Oh my God... Oh my God


... Oh my God. Seksi banget cowoknya.” Begitulah kira-kira ungkapan kekaguman


mereka.



Selesai menikmati

__ADS_1


ketenangan di sungai, keduanya berlari-lari dengan membawa ban besar berwarna


kuning itu menuju ke South Beach. Di pantai buatan ini, akan ada ombak buatan


bak gelombang tsunami yang bisa datang sewaktu-waktu.  Indah merasakan bahwa tarikan ombak di tepi


pantai terasa jauh lebih kuar dibandingkan ketika berada di tengah. Terlihat dari


tubuhnya yang tumbang terseret ombak ketika tsunami datang. Kenan terkekeh


melihat Indah yang tergulung ombak buatan itu.



 


“Hubby, ayo kita coba


wahana yang itu.” Indah menunjuk sebuah waterboom dengan warna putih dan merah.


Mereka menyebut wahana tersebut dengan Volcano Coaster.


“Yakin berani?” Kenan


menatap istrinya dengan tidak yakin. Sementara yang ditatap mengangguk dengan


mantap.


“Baiklah.” Kenan


menuruti keinginan istrinya.


Berdua mereka mencoba


meluncur di wahana itu. Walaupun berani, tetap saja Indah merasa berdebar. Perutnya


pun terasa melilit. Namun ia tidak mengurungkan niatnya.


Mereka berdua menaiki


anak tangga yang cukup tinggi untuk sampai di puncak. Di atas ada dua orang


pengawas yang membantu pengunjung. Keduanya diminta untuk duduk di ban besar


itu dengan posisi Indah di depan dan Kenan di belakang. Petugas membantu


membenarkan letak posisi kaki dan tangan agar tidak mengganggu ketika mereka


berdua meluncur.


“Siap?” tanya petugas.


Keduanya mengangguk.


Hap.... tangan petugas


mendorong ban kuning berpenumpang itu, dan meluncurlah Kenan dan Indah dengan


cepat. Mereka terguncang-guncang mengikuti alur. Sesekali keduanya berteriak


dan tertawa senang.


Lalu...byur... keduanya


sampai di muara sungai tenang, dengan wajah cerah.


 



***


Hari telah sore. Matahari


mulai beranjak ke peraduan. Mata Indah mulai berat.


“Are you happy?” Tanya


Kenan yang duduk di sampingnya.


Mereka berdua duduk di


pelataran pintu keluar waterpark.


“He em. I’m happy.


Thank you, hubby.” Jawab Indah dengan senyum penuh di bibirnya. Ia pun


meletakkan kepalanya di bahu suaminya.


Moment itu terganggu


dengan deringan ponsel dari dalam tas Indah.


Melihat nama penelepon,


Indah tertegun sejenak sebelum mengangkatnya. Ia menatap Kenan. Wajah Kenan


penuh tanda tanya.


“Hallo....”


“Eh, ibu. Apa kabar bu?”


“Belum. Belum dengar


kabar, bu.”


“Sudah lama aku....”


“Iya... iya....”


“Apa? Kenapa bu?” Wajah


Indah berubah pias dengan kening berkerut. Tangannya mencekal lengan Kenan


dengan erat.


“Ben... Ben...


bagaimana bu?”


“Di di mana?”


Dengan gugup Indah


menutup ponselnya. Ia melayangkan pandangannya kepada Kenan. Wajahnya menyiratkan


kekhawatiran.


“Bi, ibunya Ben


mengabariku bahwa Ben di rumah sakit, masuk ICU.” Indah berbicara dengan

__ADS_1


menghadap Kenan. Jemarinya tangan indah saling bertautan dan meremas, khawatir.


__ADS_2