
SELAMAT MEMBACA
Kenan POV
Terburu-buru langkah
kami istriku menuruni tangga dengan membawa seprai putih kami yang kotor karena
kegiatan kami tadi. Aku sendiri mencangklong tas ransel hitam yang berisi
peralatan mandi dan pakaian ganti untuk berenang.
“Non, kok ganti?
Kemarin sore baru saja Bibik ganti.” Kudengar Bik Janet keheranan melihat Indah
yang tergesa-gesa memasukkan seprei ke dalam tabung mesin cuci.
“Anu Bik, kotor karena
ketumpahan shampi tadi.” Jawab Indah. Ia meringis menatapku. Bibirku berkedut
menahan tawa karena melihat rona merah di wajahnya.
“Ya ampun, kok bisa sih
Non? Tadi berantemnya pakai shampo ya?”
“Ih, Bibik kepo deh.”
Indah segera berlalu dari Bik Janet menghindari pertanyaannya. Ia tergesa
mengekoriku, mengikuti langkah panjang kakiku.
“Huft.” Indah
menghempaskan nafas lega ketika sampai di dalam mobil. “Kepo banget Bik Janet.
Kamu juga sih aneh-aneh, lain kali siapkan tissue, biar nggak belepotan seperti
tadi.” Seringainya ke arahku.
“Eh, apa? Lain kali?
Nanti lagi, ya Yang, setelah renang.” Aku menoleh ke arahnya sebelum
menghidupkan mesin mobil.
Indah mengedikkan
bahunya, “Besok ya. Hari ini nggak ada ronde kedua.” Ia melengos menatap ke
samping. Pandanganku kualihkan ke depan dan segera menjalankan mobil.
Pengalaman pertama
tadi, sungguh berkesan. Membuatku tak bisa berhenti tersenyum.
***
Indah POV
Aku melayangkan
pandangan ke luar jendela mobil. Sekuat hati kualihkan kilasan adegan film biru
yang baru saja kami buat. Namun, susah sekali untuk dihilangkan. Pengalaman
pertama bagiku, dan aku menjadi bintangnya. Bagaimana bisa lupa? Pengalaman
yang sungguh mendebarkan. Rasanya tak berani aku menatap Kenan. Tahu kan, kalau
kerja jantung ini tidak dapat kukontrol? Sekarang masih saja berdebar-debar.
Apa Kenan mendengar kehebohan jantungku ya?
Eh, bisa-bisanya dia
asyik menikmati lagu. Kepalanya bergoyang-goyang seirama dengan lagu yang
diputar. Bisa ya begitu?
“Sayang, kenapa kamu
melihat ke luar terus? Apa pemandangan di luar lebih menarik daripada aku ya?”
“Uh, apa?” Aku
tersentak. Namun tetap saja aku tidak berani menatapnya. Arah pandanganku
melayang ke depan, ke jalan raya, ke kendaraan di depan kami, atau apapun
selain Kenan.
“Kenapa sih?” Tangan
kirinya terulur memegang tangan kananku. Rasa hangat menjalar ke seluruh
tubuhku. Ditambah lagi dengan gerakan ibu jarinya yang mengusap punggung
tanganku dengan lembut. Sentuhan itu seperti mengalirkan sengatan listrik
sampai ke wajahku yang terasa panas.
“Eh, wajahmu merah
sekali. Kamu sakit?” Kenan melambatkan laju mobilnya hendak menghentikan mobil
di pinggir jalan. Ia mencari tempat yang tepat.
“Aku nggak apa-apa.
Nggak usah berhenti.” Kataku lagi.
“Kamu yakin?” Kepalanya
menoleh miring dan menyuguhkan dagu belahnya yang semakin nyata.
Seksi level sembilan.
Aku menggeleng cepat.
Lalu mobil kembali melaju dengan kecepatan 40 km/jam.
***
Author POV
“Ini mau ke mana ya? Nggak
ke kolam renang di Karang Malang, Bi?” Indah menatap Kenan dengan bingung.
Kenan memilih arah yang berlawanan dengan Karang Malang.
__ADS_1
“Tenang saja. Kamu akan
senang.”
Setelah melalui jalan
lingkar Utara, mobil berbelok melewati dua buah kampus milik universitas swasta
yang berada di kota ini. Kenan masih menjalankan mobilnya, sementara Indah
makin tidak tenang. Duduknya gelisah. Ia berganti posisi duduk beberapa kali.
“Sayang, tenang saja. Aku
nggak akan membawa kamu ke tempat menakutkan kok. Kamu terlihat khawatir
begitu.”
Sepuluh menit kemudian
mereka sampai di sebuah waterpark yang masih baru. Kenan memarkirkan mobil di
sebuah tempat parkir. Banyak mobil berjajar rapi di sana. Saat weekend seperti
ini merupakan kesempatan untuk menikmati liburan bagi semua orang, setelah
berkutat dengan kegiatannya. Tentu saja tempat wisata seperti ini akan ramai
dikunjungi, tak terkecuali Jogja Bay.
Beberapa saat kemudian
petugas waterpark mendatangi mereka berdua dengan mobil wisata. Mereka
menjemput para tamu dari tempat parkir dengan sebuah mobil khusus. Tak lama
kemudian sampailah mereka di depan pintu masuk waterpark.
Nuansa ala Film Pirates
of Caribean terlihat kental dari luar. Beberapa spot meniru latar scene yang
diambil dari film tersebut.
“Tempat apa ini Bi?”
Indah ternganga. Ia tidak pernah berwisata ke tempat seperti ini. Bersama ketiga
sahabatnya, mereka lebih sering menghabiskan waktu dari tempat kuliner yang
satu ke tempat kuliner yang lain.
Ia pernah mendengar
nama waterpark ini ketika pertama kali buka. Namun ia tidak pernah membayangkan
akan mengunjungi tampat ini.
Kenan tidak menjawab
pertanyaan Indah. Tangannya dengan santai menggandeng tangan istrinya agar
mengikutinya menaiki tangga menuju ke loket masuk.
Indah berdecak kagum
mengarahkannya ke sebuah rak dengan locker berkunci.
“Sayang, pakaiannya mau
diganti nggak?” Kenan memeluk pinggang istrinya.
“Eh, iya.” Sontak Indah
kaget dengan kecupan di tengkuknya.
Setelah berganti
pakaian, keduanya meletakkan tas ransel hitam itu ke dalam locker dan
menguncinya.
“Mau main apa dulu?”
Tanya Kenan. Ia berjalan sembari merangkul pundak istrinya menuju ke sebuah
wahana.
“Pemanasan dulu, Bi.
Kita ke sana, sungai mengalir itu.” Indah menunjuk ke sebuah tempat yang
bernama Donte Wild River. Merupakan sungai buatan yang arusnya mengalir dengan
tenang. Sepanjang aliran sungai, kita akan dimanjakan dengan suara kicauan
burung, hembusan air, dan ketenangan air yang mengalir. Kenan mengambil sebuah
ban renang besar yang bisa diisi oleh dua orang.
Mereka berdua menaiki
ban tersebut dan membiarkan arus sungai membawa mereka. Sepanjang aliran sungai
itu, keduanya saling berbincang dan tertawa.
Kehadiran kedua orang
yang sedang dimabuk asmara itu, tampaknya menarik perhatian pengunjung. Beberapa
pasang mata mengamati keduanya dengan tersenyum-senyum.
Sementara bagi
gerombolan cewek-cewek genit yang baru saja mulai meletakkan ban renangnya di air,
melihat Kenan dengan pandangan memuja. Tubuh atletis gelap yang hanya ditutupi
oleh celana renang setengah paha, merupakan pelengkap keindahan.
“Oh my God... Oh my God
... Oh my God. Seksi banget cowoknya.” Begitulah kira-kira ungkapan kekaguman
mereka.
Selesai menikmati
__ADS_1
ketenangan di sungai, keduanya berlari-lari dengan membawa ban besar berwarna
kuning itu menuju ke South Beach. Di pantai buatan ini, akan ada ombak buatan
bak gelombang tsunami yang bisa datang sewaktu-waktu. Indah merasakan bahwa tarikan ombak di tepi
pantai terasa jauh lebih kuar dibandingkan ketika berada di tengah. Terlihat dari
tubuhnya yang tumbang terseret ombak ketika tsunami datang. Kenan terkekeh
melihat Indah yang tergulung ombak buatan itu.
“Hubby, ayo kita coba
wahana yang itu.” Indah menunjuk sebuah waterboom dengan warna putih dan merah.
Mereka menyebut wahana tersebut dengan Volcano Coaster.
“Yakin berani?” Kenan
menatap istrinya dengan tidak yakin. Sementara yang ditatap mengangguk dengan
mantap.
“Baiklah.” Kenan
menuruti keinginan istrinya.
Berdua mereka mencoba
meluncur di wahana itu. Walaupun berani, tetap saja Indah merasa berdebar. Perutnya
pun terasa melilit. Namun ia tidak mengurungkan niatnya.
Mereka berdua menaiki
anak tangga yang cukup tinggi untuk sampai di puncak. Di atas ada dua orang
pengawas yang membantu pengunjung. Keduanya diminta untuk duduk di ban besar
itu dengan posisi Indah di depan dan Kenan di belakang. Petugas membantu
membenarkan letak posisi kaki dan tangan agar tidak mengganggu ketika mereka
berdua meluncur.
“Siap?” tanya petugas.
Keduanya mengangguk.
Hap.... tangan petugas
mendorong ban kuning berpenumpang itu, dan meluncurlah Kenan dan Indah dengan
cepat. Mereka terguncang-guncang mengikuti alur. Sesekali keduanya berteriak
dan tertawa senang.
Lalu...byur... keduanya
sampai di muara sungai tenang, dengan wajah cerah.
***
Hari telah sore. Matahari
mulai beranjak ke peraduan. Mata Indah mulai berat.
“Are you happy?” Tanya
Kenan yang duduk di sampingnya.
Mereka berdua duduk di
pelataran pintu keluar waterpark.
“He em. I’m happy.
Thank you, hubby.” Jawab Indah dengan senyum penuh di bibirnya. Ia pun
meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
Moment itu terganggu
dengan deringan ponsel dari dalam tas Indah.
Melihat nama penelepon,
Indah tertegun sejenak sebelum mengangkatnya. Ia menatap Kenan. Wajah Kenan
penuh tanda tanya.
“Hallo....”
“Eh, ibu. Apa kabar bu?”
“Belum. Belum dengar
kabar, bu.”
“Sudah lama aku....”
“Iya... iya....”
“Apa? Kenapa bu?” Wajah
Indah berubah pias dengan kening berkerut. Tangannya mencekal lengan Kenan
dengan erat.
“Ben... Ben...
bagaimana bu?”
“Di di mana?”
Dengan gugup Indah
menutup ponselnya. Ia melayangkan pandangannya kepada Kenan. Wajahnya menyiratkan
kekhawatiran.
“Bi, ibunya Ben
mengabariku bahwa Ben di rumah sakit, masuk ICU.” Indah berbicara dengan
__ADS_1
menghadap Kenan. Jemarinya tangan indah saling bertautan dan meremas, khawatir.