THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
5. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲


Kenan POV :


Aku makan siang di dalam kantor di cafeku. Tidak ada Ferry yang biasa menemaniku. Hari ini dia masuk malam hari karena siang ini ada keperluan keluarga katanya. Makanan yang


aku kunyah ini seperti tidak ada rasanya. Nasi putih nan wangi dan aroma iga bakar yang berada di piringku tidak dapat menggugah seleraku. Tapi aku tidak ingin jatuh sakit. Aku harus menyantap makanan ini walaupun tidak ada rasanya.


Ternyata di kala pikiran sedang kacau, indera perasa pun jadi kacau. Aku tidak dapat lagi membedakan rasa manis, asin, pedas di lidahku. Semua terasa hambar. Kini seporsi makanan di piring telah pindah ke perutku dengan susah payah. Aku masih memikirkan tentang pembicaraanku dengan Mami.


Bagaimana mungkin aku bisa berkonsentrasi? Berkas yang ada di hadapanku ini tidak dapat aku mengerti.


Aku membacanya berulang kali. Namun pikiranku kembali melayang. Kini bukan


perkataan Mami yang merasuk di otakku. Namun sosok Indah Nathalia kini


menari-nari di otakku.


Baiklah Ken, lebih baik kamu beristirahat dulu, barang setengah jam. Lalu kamu mulai lagi bekerja. Aku menenangkan diri dengan membaringkan diri di atas sofa. Semalam aku sudah mempelajari materi Praktikum Fisika hari ini. Aku rasa tidak perlu mempelajarinya lagi. Dengan kemampuanku, aku yakin dapat mengerjakan soal-soal pretest hari ini. Kusetel alarm ponselku agar berbunyi setengah jam kemudian.


***


Pukul 14.50 di Ruang


Praktikum Fisika, Fakultas MIPA.


Kenan telah sampai di Laboratorium Fisika dan mengambil jas praktikum dari dalam tasnya. Tak lupa ia mengambil pula buku panduan, form laporan, dan juga alat tulis. Kemudian dimasukkannya tas itu ke dalam loker. Para mahasiswa telah berkumpul di dalam ruangan. Ia segera mengenakan jas praktikumnya dan masuk ke dalam laboratorium.


Ia mengambil tempat duduk di sebuah kursi kosong di samping Bella. Bukannya ia


sengaja memilih tempat itu, tetapi tampaknya kursi itu memang telah disiapkan oleh Bella. Kursi yang lain telah diduduki oleh mahasiswa yang lain. Kenan sedikit kesal karena ia tidak datang lebih awal. Ternyata ia mahasiswa terakhir yang datang. Dengan sedikit malas dihempaskan pantatnya pada kursi kayu yang keras itu. Aw, ia lupa bahwa itu kursi kayu , rasanya sakit.


***


Kenan POV :


Angkatan kami dibagi menjadi beberapa ruangan dan setiap ruangan diawasi oleh seorang asisten praktikum. Asisten praktikum biasanya adalah mahasiswa tingkat atas, yaitu tingkat tiga atu empat. Seperti kali ini, yang menjadi asisten praktikum kami


adalah mahasiswa Fakultas Mipa Jurusan Fisika, tingkat tiga, mas Agus namanya.


Sebelum memulai, ia mengecek kehadiran kami.


“Hai Kenan. Kita ketemu lagi. Kali ini kita satu kelompok. Praktikumnya berdua-dua.” Bisik Bella ke telingaku. Aku menanggapinya dengan mengendus. Rasanya malas berurusan dengan makhluk agresif ini. Tapi bagaimana lagi? Nomor Induk Mahasiswanya (NIM) kebetulan berurutan dengan Bella. Jadi mau tidak mau beberapa praktikum mengharuskan aku untuk bersamanya.


“Assalammualaikum ...


selamat siang. Hari ini kita bertemu kembali pada tatap muka yang ketiga. Bagi


yang belummengumpulkan laporan minggu lalu, silakan meletakkan laporan di meja


saya.” Beberapa mahasiswa terlihat maju untuk mengumpulkan laporan di meja

__ADS_1


asisten. Setelah semua kembali ke tempat masing-masing, Mas Agus kembali


memimpin kelas kami.


“Baiklah kita mulai dengan pretest. Saya berharap anda sudah mempelajari materi sebelum sampai di sini sehingga lebih siap. Silakan kerjakan lembar kerja pretest anda dimulai dari sekarang. Waktu yang disediakan 15 menit.” Mas Agus memberikan aba-aba


kepada kami.


Aku mulai mengerjakan soal pretest yang berjumlah 20 soal. Kulihat Bella yang duduk di sebelahku terlihat gelisah. Ia mengubahubah posisi duduknya. Lalu ia berbisik di telingaku. “Ken, aku pinjam tipe ex nya yah.” Tanpa menunggu jawabanku, ia


mengambil tipe ex yang berada di sebelah kiriku. Tubuhnya maju di depanku,


tangan kirinya berusaha menggapai tipe ex. Rasanya ia sengaja menempelkan


kepalanya agar menyentuh pipiku. Dan tiba-tiba tangan kanannya memegang tangan


kananku. Aku bergidik dan segera menarik tanganku dari genggamannya.


Maksudnya apa coba?


Hanya mau mengambil tipe ex, pakai pegang-pegang tanganku. Padahal di sebelah


kanannya, kulihat ada tipe ex milik Adi yang labih mudah dijangkau olehnya.


Sejenak ia mengalihkan perhatianku. Hem... dia berhasil menggangguku. Seharusnya


aku tidak terganggu olehnya. Kutekuni kembali soal-soal di depanku.


Tiba-tiba pluk... suara terjatuh di sampingku. Bella segera membungkuk. Ternyata penanya terjatuh. Dan apa lagi ini? Ia menggunakan paha kananku sebagai tumpuannya ketika mencari pena di bawah meja. Astaga, perempuan ini tidak punya malu rupanya. Aku hanya diam, mengendus dengan jengkel.


sengaja pegang kamu.” Katanya lagi. Wajahnya menampilkan senyum tanpa rasa


bersalah. Aku tidak menjawab dan membiarkan apa yang dilakukannya.


Lima belas menit telah berlalu. Hasil pretest kami dikumpulkan. Aku masih waspada dengan gerak-gerik Bella. Kira-kira apa lagi yang akan dilakukannya?


Selanjutnya praktikum menggunakan bandul matematis. Kegiatan dilakukan selama sekitar setengah jam untuk mengambil data-data yang diperlukan. Setelah data-data terkumpul, kami mendengarkan penjelasan dari Mas Agus. Bella tidak lagi melakukan pergerakan yang menyebalkan. Aku sedikit bernapas lega.


“Cih, enak bener, digr*pe - gr*pe perempuan cantik.” Adi menyikut lenganku ketika kami telah keluar dari laboratorium fisika. Di dalam ruangan tadi, Adi memang memandangku


sembari tersenyum – senyum. Ia melihat Bella yang pura-pura tidak sengaja menyentuh tubuhku. Melihat tampangku yang cemberut, tampaknya ia sudah tidak sabar ingin meledekku.


“Maksudnya? Tolong yah, bukan it....” Ucapanku terhenti karena Bella berlari ke arahku.


“Ken...boleh bareng nggak pulangnya? Kamu kan kostnya searah denganku. Mobilku masih di bengkel nih. Dan sekarang hujan, jadi boleh ya, aku bareng kamu. Plis.” Bella kembali


merayuku dengan wajah memelasnya. Sebenarnya aku masih jengkel dengan sikapnya tadi. Tapi kasihan juga jika melihatnya harus kehujanan karena menunggu angkutan umum. Apalagi sekarang sudah sore. Tapi aku harus punya siasat lain.


“Oke. Ayo Di...kamu juga ikut aku.” Kataku dengan mengedipkan mata ke arah Adi. Aku memberi kode kepadanya agar ia menuruti keinginanku.


“Sssttt, apaan Ken? Aku kan bawa mobil juga?” Bisiknya di telingaku.

__ADS_1


“Nanti aku antar lagi ke kampus, ngambil mobil kamu.” Aku kembali berbisik.


“Eh, iya Bel. Aku lagi nggak bawa mobil, mau numpang aja sama Ken. Sama seperti kamu.” Syukurlah, agaknya akting Adi kali ini cukup meyakinkan. Kulihat Bella memberikan tatapan tak senang kepada Adi. Hem... begini lebih menyenangkan.


Aku mengendarai mobil


menuju ke kost Bella. Tidak masalah bagiku kalau harus kembali lagi ke  kampus daripada harus berduaan bersama Bella


di dalam mobil. Kulirik Bella yang duduk di kursi penumpang di belakangku.


Wajahnya masih ditekuk.


Tak lama  kemudian kami sampai di depan kost Bella. Ia turun setelah mengucapkan terima kasih kepadaku. Hanya kata terima kasih yang ia ucapkan selama di dalam mobil. Mulutnya terkunci rapat tidak mengatakan


apapun tadi. Pasti Bella jengkel sekali karena aku mengajak Adi.


“Hahaha...kenapa juga


dihindari Ken? Sudah jelas-jelas cewek itu berharap banget. Dia cantik, seksi,


apanya coba yang kurang? Terima-terima aja, lagi Ken. Rejeki tahu?” Adi segera


membuka mulutnya yang terkunci sejak tadi.


“Hem... mak lampir.” Kataku dengan kesal.


“Dih...mak lampir. Kamu normal enggak sih Ken? Cewek cantik gitu dibilang mak lampir. Apakah Kenan termasuk cowok normal?” Kata Adi lagi.


“Seenaknya aja. Ya normallah. Hanya saja cewek itu terlalu agresif.” Kataku lagi.


“Gimana nggak agresiflah, Ken... kamunya pasif kayak gitu. Kalau nggak diajak bicara duluan, nggak bakalan ngomong. Iya nggak?”


“Omongan apa itu?”


Kataku dengan kesal.


“ Jadi bukan tipe cewek seperti itu ya? Terus mau cari yang bagaimana?”


“Cari yang klik di hati.”


“Cie...yang klik di hati.”


“Nanti kita main PS yuk. Di kostku. Ajak juga Tino.”


“Nggak kerja Ken?”


“Tadi sudah mampir ke cafe. Malam ini aku nggak perlu ke sana lagi.”


“Yup, nanti Tino aku hampiri. Tino sudah seminggu ini suntuk. Pasti gara –gara nggak ketemu mbak Indah yang lagi KKN. Gila tuh anak, sampai tahu lokasi KKN nya Mbak Indah. Bentar lagi keknya dia bakal nyusulin ke sana.” Cerocos Adi lagi.


Indah, aku jadi teringat. Perkataan Mami terngiang-ngiang kembali di kepalaku. Aku dijodohkan dengan Indah.

__ADS_1


***


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2