
SELAMAT MEMBACA
Indah POV
Aku tergopoh-gopoh
menuruni tangga. Pagi ini rasanya sangat terburu-buru karena kami bangun lebih
siang dari biasanya. “Bik, Kenan ke mana?” Tanyaku kepada Bik Janet. Aku
menghampiri Bik Janet yang sedang membereskan piring kotor bekas sarapan aku
dan Kenan. Aku tidak mendapati Kenan di meja makan. Biasanya ia masih duduk
menungguku di meja makan sambil membaca koran pagi. Tetapi kini aku tidak
mendapatinya.
“Ada di teras depan,
Non. Ada tamu.” Kata Bik Janet dengan tersenyum-senyum. Tampaknya senyum Bik
Janet ini menyimpan sesuatu. Aku jadi curiga.
“Siapa Bik?” Tanyaku
dengan rasa ingin tahu yang meledak. Ini masih sangat pagi lho. Jarang ada tamu
yang bertandang sepagi ini, kecuali terpaksa.
“Itu Non. Kak Ros.”
Kata Bik Janet lagi.
“Kak Ros? Kakaknya Ipin
Upin, Bik?” Tanyaku dengan keheranan. Rasanya aku asing mendengar namanya
kecuali di dalam film anak-anak.
“Bukan Non. Itu Kak Ros
yang kost di depan rumah.” Jawab Bik Janet.
Deg... jantungku
berdetak lebih cepat. Mau apa penghuni kost di depan rumah itu datang menemui
Kenan? Pasti ada maksud kan? Penghuni Kost di depan rumah kan perempuan semua
yah. Haduh, bagaimana ini ? Bagaimana juga Kenan bisa kenal dengan salah satu
penghuni kost itu? Bukannya setiap keluar jogging aku yang mengawal ya?
Sabar In... pagi ini kamu harus sabar. Batinku menenangkan diri.
Ceklek, aku membuka
pintu rumah kami dari dalam. Kulihat Kenan sedang mengobrol dengan seorang
cewek seksi, berambut cokelat, bulu mata tebal seperti anti badai, alis yang
dipoles cetar, dan pakaiannnya itu lho, kurang bahan mungkin. Kaus lengan
pendek hitam yang ketat dengan potongan mini memperlihatkan pusar, ditutup
rompi putih dan celana jeans hitam ketat sedikit di atas lutut. Astaga, pasti
betah Kenan didatangi cewek seksi macam artis begitu. Aku sendiri mana mungkin
bisa mempertontonkan pusarku lagi setelah peristiwa tersiram air kopi panas
tempo hari. Tuh, lihat... Kenan
menanggapi obrolan cewek itu dengan asyik. Sepertinya ia juga tidak menyadari
bahwa aku sudah berdiri di depan pintu.
“Ehem....” Aku sengaja
membuat suara agar pembicaraan mereka teralih. Kulihat Kenan sedikit berjengit
menatapku. “Ken, aku berangkat duluan. Mau sama Omer.” Akhirnya itulah yang
keluar dari mulutku. Aku tak sudi beramah tamah dengan wanita seksi yang duduk
di dekat Kenan, walaupun dia tetanggaku ya. Tapi maaf saja, aku tidak kenal.
Mungkin memang kenalannya Kenan.
“In, nanti dulu. Bareng
__ADS_1
aku saja kenapa?” Tanya Kenan. Masih dengan sikap duduknya ia berucap. Cih,
tidak ada keinginan untuk bangkit dan mencegahku berangkat dulu ya? Baiklah,
sepertinya aku berangkat sendiri sajalah. Kenan masih nyaman bersama tamu
seksinya.
“Enggaklah. Aku
berangkat dulu. Takut terlambat. Pak Wiseso galak, nggak boleh telat.” Jawabku
ketus. Aku segera berlalu dari hadapannya. Dalam hati aku ingin menjawab, ‘ayo
berangkat Ken, tinggalin mbak seksi di depan kamu.’
“Ya sudah, hati-hati.” Katanya
lagi. Tuh, lihat... baru juga didatangi cewek seksi, lupa deh sama aku. Kenapa
nggak ditahan sih. Bilang nanti sebentar lagi atau apa gitu yang menahanku
untuk berlalu. Ah, Kenan menyebalkan sekali. Kuhentakkan kakiku dengan jengkel
ketika sampai di dalam garasi. Sudahlah, lebih baik kujanlankan saja Omer ini.
***
Kenan POV
“Hai Kenan.” Suara
seorang wanita yang aku kenal menyapaku ketika aku berada di garasi mobil. Aku
menoleh dan melihatnya, kak Ros. Seorang wanita supel yang sering bertandang ke
cafeku, bukan hanya sebagai tamu biasa, tetapi spesial.
“Hai Kak Ros. Kok bisa
ada di sini?” Mataku membulat melihat penampilannya yang super seksi seperti
biasanya. Ini masih pagi hari. Tidak mungkin jika dia sengaja mengunjungiku di
rumah sepagi ini bukan? Biasanya urusan pekerjaan akan kuurus di kantor. Kak
Ros juga bukan orang yang terbiasa mendatangi tampat tinggalku.
“Kenan, kita
Ternyata benar dugaanku, kamu tinggal di sini.” Katanya lagi.
“Kak Ros tinggal di
mana?” Tanyaku ragu. Kutinggalkan mobil yang hendak aku nyalakan. Aku berjalan
menghampiri wanita cantik ini.
“Di depan. Di kost
depan.” Ia menegaskan tinggal di kost putri di depan rumahku. Ternyata dunia
ini sempit. Walaupun berada di tempat baru, aku menemui orang yang telah
kukenali.
Tidak enak rasanya
berbicara di depan pagar, maka aku mempersilahkannya untuk mampir ke rumahku.
“Mampir, kak. Kita ngobrol di teras.” Aku membukakan pintu gerbang agar Kak Ros
dapat masuk. Ia pun melangkahkan kakinya menuju teras rumahku. Kami kemudian
larut dalam obrolan panjang mengenai pekerjaan kami. Kak Ros ini orang yang
supel dan mudah bergaul. Berbicara dengannya cukup nyaman dan tidak terasa
entah berapa lama kami mengobrol di depan teras. Pembicaraan kami terhenti
ketika Indah membuka pintu dan mengagetkan kami.
“Ehem....” Suara Indah
mengejutkanku dan Kak Ros. Seketika kami menghentikan obrolan. “Ken, aku
berangkat duluan. Mau sama Omer.” Indah berbicara dengan menatap lurus ke
arahku. Ia tidak melihat ke arah Kak Ros. Sepertinya ia sengaja ingin segera
berlalu dari hadapanku. Kulihat gerak tubuhnya gelisah.
__ADS_1
“In, nanti dulu. Bareng
aku saja kenapa?” Aku mencoba untuk menghentikannya. Bukankah tadi ia sendiri
yang memintaku agar pergi bersama ke kampus. Waktu kuliah kami juga bersamaan.
“Enggaklah. Aku
berangkat dulu. Takut terlambat. Pak Wiseso galak, nggak boleh telat.” Ia
menjawab lagi. Kali ini tanpa melihatku. Kembali kulihat gerak tubuhnya yang
tidak nyaman.
“Hati-hati.” Akhirnya
itu kata yang keluar dari mulutku. Aku sedikit bingung dengan sikap Indah
biasanya kami saling mengucapkan perpisahan pagi dengan saling bersalaman.
Apakah memang Indah benar terburu-buru karena kuliah Pak Wiseso pagi ini?
Tak lama kemudian
terdengar suara Omer. Kemudian Indah keluar dari garasi dengan jaket merah
marun dan helm merah marunnya. Sarung tangannya bahkan berwarna merah marun.
Indah mungkin senang mengoleksi barang-barang berwarna merah marun. Penampilan
serba merah seperti itu membuat ia mudah dikenali di kampus sebagai wanita
merah. Aku sering mendengar para lelaki membicarakannya, membicarakan istriku
yang cukup populer di kampus.
“Itu siapa Kenan?
Adikmu ya? Teman-teman kostku jadi rajin jogging lho sekarang. Katanya karena
ada kamu yang sering jogging pagi bersama itu... siapa tadi namanya, Indah ya?”
Pertanyaan Kak Ros mengagetkanku. Sebenarnya tidak masalah bagiku untuk
mengatakan hal yang sebenarnya tentang Indah. Tetapi sepertinya Indah belum
siap mengumumkan bahwa kami berdua pasangan suami istri. Tapi kali ini biarlah
Kak Ros tahu tentang kami. Karena kami juga sering bekerja bersama. Dan Ferry
yang sering bertemu dengan Kak Ros juga sudah tahu tentang Indah.
“Sebenarnya Indah itu
istriku, kak. Kami menikah beberapa minggu yang lalu.” Kataku. Aku menunggu
reaksi Kak Ros.
“Oh....” Kak Ros segera
mengatupkan mulutnya yang sebelumnya membulat membentuk huruf O. “Kenapa kamu
nggak ngabarin aku Ken? Kamu nggak ngundang-ngundang ya? Ih, jahat kamu. Aku
nggak dianggap deh.” Ia mencercaku dan menunjukkan kekesalannya. Aku tidak
terkejut dengan reaksinya. Beberapa kenalanku yang lain juga bersikap seperti
ini karena merasa diabaikan tidak mengetahui tentang kabar pernikahanku.
“Maaf kak. Acara
keluarga saja karena di kampung halaman orang tua kami. Jadi kami nggak
mengundang siapa-siapa.” Kataku lagi.
“Selamat lho ya. Semoga
bahagia selalu kalian berdua. Aku jadi iri, kapan aku menikah. Padahal umurku
lebih tua dari kamu.”
“Minta dinikahilah Kak,
sama Bang Andri itu. Nggak capek apa pacaran bertahun-tahun.” Aku
memanas-manasi Kak Ros. “Biar nanti aku bilang ke Bang Andri.”
Percakapan kami tidak
berlangsung lebih lama karena aku akan berangkat ke kampus untuk kuliah. Kak
__ADS_1
Ros pun melanjutkan kegiatannya, yaitu menunggu dijemput Bang Andri kekasihnya.
***