THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
31. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Indah POV


Aku tergopoh-gopoh


menuruni tangga. Pagi ini rasanya sangat terburu-buru karena kami bangun lebih


siang dari biasanya. “Bik, Kenan ke mana?” Tanyaku kepada Bik Janet. Aku


menghampiri Bik Janet yang sedang membereskan piring kotor bekas sarapan aku


dan Kenan. Aku tidak mendapati Kenan di meja makan. Biasanya ia masih duduk


menungguku di meja makan sambil membaca koran pagi. Tetapi kini aku tidak


mendapatinya.


“Ada di teras depan,


Non. Ada tamu.” Kata Bik Janet dengan tersenyum-senyum. Tampaknya senyum Bik


Janet ini menyimpan sesuatu. Aku jadi curiga.


“Siapa Bik?” Tanyaku


dengan rasa ingin tahu yang meledak. Ini masih sangat pagi lho. Jarang ada tamu


yang bertandang sepagi ini, kecuali terpaksa.


“Itu Non. Kak Ros.”


Kata Bik Janet lagi.


“Kak Ros? Kakaknya Ipin


Upin, Bik?” Tanyaku dengan keheranan. Rasanya aku asing mendengar namanya


kecuali di dalam film anak-anak.


“Bukan Non. Itu Kak Ros


yang kost di depan rumah.” Jawab Bik Janet.


Deg... jantungku


berdetak lebih cepat. Mau apa penghuni kost di depan rumah itu datang menemui


Kenan? Pasti ada maksud kan? Penghuni Kost di depan rumah kan perempuan semua


yah. Haduh, bagaimana ini ? Bagaimana juga Kenan bisa kenal dengan salah satu


penghuni kost itu? Bukannya setiap keluar jogging aku yang mengawal ya?


Sabar In... pagi ini kamu harus sabar. Batinku menenangkan diri.


Ceklek, aku membuka


pintu rumah kami dari dalam. Kulihat Kenan sedang mengobrol dengan seorang


cewek seksi, berambut cokelat, bulu mata tebal seperti anti badai, alis yang


dipoles cetar, dan pakaiannnya itu lho, kurang bahan mungkin. Kaus lengan


pendek hitam yang ketat dengan potongan mini memperlihatkan pusar, ditutup


rompi putih dan celana jeans hitam ketat sedikit di atas lutut. Astaga, pasti


betah Kenan didatangi cewek seksi macam artis begitu. Aku sendiri mana mungkin


bisa mempertontonkan pusarku lagi setelah peristiwa tersiram air kopi panas


tempo hari.  Tuh, lihat... Kenan


menanggapi obrolan cewek itu dengan asyik. Sepertinya ia juga tidak menyadari


bahwa aku sudah berdiri di depan pintu.


“Ehem....” Aku sengaja


membuat suara agar pembicaraan mereka teralih. Kulihat Kenan sedikit berjengit


menatapku. “Ken, aku berangkat duluan. Mau sama Omer.” Akhirnya itulah yang


keluar dari mulutku. Aku tak sudi beramah tamah dengan wanita seksi yang duduk


di dekat Kenan, walaupun dia tetanggaku ya. Tapi maaf saja, aku tidak kenal.


Mungkin memang kenalannya Kenan.


“In, nanti dulu. Bareng

__ADS_1


aku saja kenapa?” Tanya Kenan. Masih dengan sikap duduknya ia berucap. Cih,


tidak ada keinginan untuk bangkit dan mencegahku berangkat dulu ya? Baiklah,


sepertinya aku berangkat sendiri sajalah. Kenan masih nyaman bersama tamu


seksinya.


“Enggaklah. Aku


berangkat dulu. Takut terlambat. Pak Wiseso galak, nggak boleh telat.” Jawabku


ketus. Aku segera berlalu dari hadapannya. Dalam hati aku ingin menjawab, ‘ayo


berangkat Ken, tinggalin mbak seksi di depan kamu.’


“Ya sudah, hati-hati.” Katanya


lagi. Tuh, lihat... baru juga didatangi cewek seksi, lupa deh sama aku. Kenapa


nggak ditahan sih. Bilang nanti sebentar lagi atau apa gitu yang menahanku


untuk berlalu. Ah, Kenan menyebalkan sekali. Kuhentakkan kakiku dengan jengkel


ketika sampai di dalam garasi. Sudahlah, lebih baik kujanlankan saja Omer ini.


***


Kenan POV


“Hai Kenan.” Suara


seorang wanita yang aku kenal menyapaku ketika aku berada di garasi mobil. Aku


menoleh dan melihatnya, kak Ros. Seorang wanita supel yang sering bertandang ke


cafeku, bukan hanya sebagai tamu biasa, tetapi spesial.


“Hai Kak Ros. Kok bisa


ada di sini?” Mataku membulat melihat penampilannya yang super seksi seperti


biasanya. Ini masih pagi hari. Tidak mungkin jika dia sengaja mengunjungiku di


rumah sepagi ini bukan? Biasanya urusan pekerjaan akan kuurus di kantor. Kak


Ros juga bukan orang yang terbiasa mendatangi tampat tinggalku.


“Kenan, kita


Ternyata benar dugaanku, kamu tinggal di sini.” Katanya lagi.


“Kak Ros tinggal di


mana?” Tanyaku ragu. Kutinggalkan mobil yang hendak aku nyalakan. Aku berjalan


menghampiri wanita cantik ini.


“Di depan. Di kost


depan.” Ia menegaskan tinggal di kost putri di depan rumahku. Ternyata dunia


ini sempit. Walaupun berada di tempat baru, aku menemui orang yang telah


kukenali.


Tidak enak rasanya


berbicara di depan pagar, maka aku mempersilahkannya untuk mampir ke rumahku.


“Mampir, kak. Kita ngobrol di teras.” Aku membukakan pintu gerbang agar Kak Ros


dapat masuk. Ia pun melangkahkan kakinya menuju teras rumahku. Kami kemudian


larut dalam obrolan panjang mengenai pekerjaan kami. Kak Ros ini orang yang


supel dan mudah bergaul. Berbicara dengannya cukup nyaman dan tidak terasa


entah berapa lama kami mengobrol di depan teras. Pembicaraan kami terhenti


ketika Indah membuka pintu dan mengagetkan kami.


“Ehem....” Suara Indah


mengejutkanku dan Kak Ros. Seketika kami menghentikan obrolan. “Ken, aku


berangkat duluan. Mau sama Omer.” Indah berbicara dengan menatap lurus ke


arahku. Ia tidak melihat ke arah Kak Ros. Sepertinya ia sengaja ingin segera


berlalu dari hadapanku. Kulihat gerak tubuhnya gelisah.

__ADS_1


“In, nanti dulu. Bareng


aku saja kenapa?” Aku mencoba untuk menghentikannya. Bukankah tadi ia sendiri


yang memintaku agar pergi bersama ke kampus. Waktu kuliah kami juga bersamaan.


“Enggaklah. Aku


berangkat dulu. Takut terlambat. Pak Wiseso galak, nggak boleh telat.” Ia


menjawab lagi. Kali ini tanpa melihatku. Kembali kulihat gerak tubuhnya yang


tidak nyaman.


“Hati-hati.” Akhirnya


itu kata yang keluar dari mulutku. Aku sedikit bingung dengan sikap Indah


biasanya kami saling mengucapkan perpisahan pagi dengan saling bersalaman.


Apakah memang Indah benar terburu-buru karena kuliah Pak Wiseso pagi ini?


Tak lama kemudian


terdengar suara Omer. Kemudian Indah keluar dari garasi dengan jaket merah


marun dan helm merah marunnya. Sarung tangannya bahkan berwarna merah marun.


Indah mungkin senang mengoleksi barang-barang berwarna merah marun. Penampilan


serba merah seperti itu membuat ia mudah dikenali di kampus sebagai wanita


merah. Aku sering mendengar para lelaki membicarakannya, membicarakan istriku


yang cukup populer di kampus.


“Itu siapa Kenan?


Adikmu ya? Teman-teman kostku jadi rajin jogging lho sekarang. Katanya karena


ada kamu yang sering jogging pagi bersama itu... siapa tadi namanya, Indah ya?”


Pertanyaan Kak Ros mengagetkanku. Sebenarnya tidak masalah bagiku untuk


mengatakan hal yang sebenarnya tentang Indah. Tetapi sepertinya Indah belum


siap mengumumkan bahwa kami berdua pasangan suami istri. Tapi kali ini biarlah


Kak Ros tahu tentang kami. Karena kami juga sering bekerja bersama. Dan Ferry


yang sering bertemu dengan Kak Ros juga sudah tahu tentang Indah.


“Sebenarnya Indah itu


istriku, kak. Kami menikah beberapa minggu yang lalu.” Kataku. Aku menunggu


reaksi Kak Ros.


“Oh....” Kak Ros segera


mengatupkan mulutnya yang sebelumnya membulat membentuk huruf O. “Kenapa kamu


nggak ngabarin aku Ken? Kamu nggak ngundang-ngundang ya? Ih, jahat kamu. Aku


nggak dianggap deh.” Ia mencercaku dan menunjukkan kekesalannya. Aku tidak


terkejut dengan reaksinya. Beberapa kenalanku yang lain juga bersikap seperti


ini karena merasa diabaikan tidak mengetahui tentang kabar pernikahanku.


“Maaf kak. Acara


keluarga saja karena di kampung halaman orang tua kami. Jadi kami nggak


mengundang siapa-siapa.” Kataku lagi.


“Selamat lho ya. Semoga


bahagia selalu kalian berdua. Aku jadi iri, kapan aku menikah. Padahal umurku


lebih tua dari kamu.”


“Minta dinikahilah Kak,


sama Bang Andri itu. Nggak capek apa pacaran bertahun-tahun.” Aku


memanas-manasi Kak Ros. “Biar nanti aku bilang ke Bang Andri.”


Percakapan kami tidak


berlangsung lebih lama karena aku akan berangkat ke kampus untuk kuliah. Kak

__ADS_1


Ros pun melanjutkan kegiatannya, yaitu menunggu dijemput Bang Andri kekasihnya.


***


__ADS_2