THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
51. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Author POV


Tanpa malu-malu Indah


menghabiskan es krim yang dibawa Kenan. Ia melupakan fakta bahwa beberapa jam


yang lalu suara teriakannya menggelegar. Mungkin juga tenaganya telah terkuras


habis sehingga tergoda dengan semangkuk es krim.


Kenan menarik kursi


yang terletak di depan meja rias. Kini ia duduk bersisian dengan Indah.


Keduanya menghadap ke jendela kaca yang besar di sisi selatan kamar mereka.


“Aku ini cewek murahan


banget, ya Bi. Baru juga dikasih semangkuk es krim, sudah lumer ke mana-mana.”


Indah berkata ketika suapan es krim yang terakhir telah masuk ke dalam


mulutnya.


“Nggak apa-apa.


Murahannya sama aku aja, jangan sama yang lain. Capek kan, teriak-teriak hampir


dua jam?” Kenan tersenyum lembut melihat kemarahan di wajah Indah telah lumer


bersamaan dengan es krim yang disantapnya.


“Aku ini anak tunggal,


Bi. Jadi terbiasa untuk menyimpan segalanya seorang diri. Terbiasa untuk


mengatasi segala sesuatu sendiri, dengan caraku. Bahkan aku tidak terbiasa


bercerita kepada orang lain. Kehadiran kamu di hidupku itu sesuatu yang baru,


Bi. Jadi tidak bisa segampang itu untuk berterus terang kepadamu.”


“Ya, kita sama-sama


belajar, sayang. Beberapa minggu yang lalu kamu bilang cinta sama aku, tapi


hari ini kamu mau pergi ninggalin aku.”


“Maaf, aku terbawa


emosi.” Sorot mata Indah memendarkan penyesalan.


“Ya sudah. Itu sudah


berlalu. Kamu sangat berarti bagiku, sayang.” Tatapan Kenan menyapu wajah Indah


yang sedikit merona.


“Iya, aku tahu.


Ternyata kamu sebucin itu sama aku.” Mereka saling bertukar senyum.


“Tadi kamu mau ke mana


sih?” Kenan melirik ke arah koper yang masih berantakan di sudut kamar. “Nanti


bereskan dulu ya, sebelum turun. Kalau belum beres, nggak dapat jatah sarapan.”


Lanjutnya.


“Ih, ternyata kamu


kejam, Bi.” Indah mencubit lengan Kenan dengan gemas. “Aku tadi berpikir mau


kost lagi di tempat Upil. Katanya hari ini ada kamar kost yang kosong.”


“Otakmu sekali-kali


memang harus diinstal ulang supaya nggak gampang hang.” Kenan menyentil dahi


Indah dengan jari tengahnya. Walaupun pelan, tetapi tetap saja meninggalkan


sedikit rasa nyeri di dahi Indah.


“Aw....” Indah meringis


dan mengusap keningnya.


“Aku tunggu di bawah.


Kita sarapan bersama. Nggak usah mandi dulu. Kita kencan hari ini, di kolam


renang.” Kenan menaikkan alisnya sembari tersenyum menggoda ke arah istrinya.


Indah menanggapinya dengan rona merah si wajah dan bibir yang terbuka membentuk

__ADS_1


huruf ‘o’.


***


“Bi, mana Bik Janet?”


Indah keluar dari dapur karena tidak mendapati asisten rumah tangganya itu di


sana.


“Aku suruh ke pasar.


Takutnya kamu malu ketemu Bik Janet karena kelakuan konyolmu tadi.” Kenan


terkekeh melihat bibir istrinya yang cemberut. “Sudah, nggak usah marah lagi.


Ayo sarapan. Ini sudah siang lho, hampir jam delapan. Belum pernah kita sarapan


sangat terlambat seperti ini. Kalau bukan karena ....”


“Ish, iya Bi. Nggak


usah diungkit-ungkit lagi deh.” Indah mencebik lagi.


“Aku ungkit terus biar


kamu kapok.” Kenan kembali terkekeh.


Menghadapi suaminya


yang terkekeh dengan geli, seolah tak henti untuk menggodanya. Ia pun


mengerakkan tubuhnya dengan malas-malasan lalu menghempaskan pantatnya di


kursi.


“Tadi Ferry ke sini ya


Bi?” Indah mengalihkan perhatian suaminya.


“Kamu tahu, tadi Ferry


ke sini?” Dahi Kenan berkerut heran.


“Iya, tadi aku keluar


ke balkon karena berpikir mau turun lewat balkon. Tapi nggak jadi karena melihat


ada Ferry datang.”


mendengar pengakuan istrinya. “Serius, tadi kamu terpikir untuk turun lewat


balkon?”


“Iya.” Indah mengangguk


cepat.


“Astaga....” Kenan


tidak sadar mulutnya ternganga selama beberapa detik sebelum akhirnya menguasai


dirinya kembali.


“Ada apa Ferry ke sini?


Pasti ada hal penting kan? Nggak biasanya Ferry datang ke sini pagi-pagi.”


Kenan memijat


pelipisnya teringat akan kejadian yang menimpa cafenya. Wajahnya tertunduk. “Cafe


tutup beberapa hari, In. Karena tadi pagi ditemukan seorang sengan luka tusukan


di tempat parkir cafe.”


“Hah...?” Kali ini


Indah yang terkejut dengan mulut menganga. “Terus bagaimana?” Tanyanya lagi.


“Korbannya sudah dibawa


ke Rumah Sakit. Katanya sudah melalui masa kritis. Semoga saja segera pulih.


Ferry juga sudah memberi keterangan kepada pihak kepolisian. Rekaman CCTV yang


dekat dengan tempat kejadian juga sudah dibawa sebagai barang bukti. Polisi


sedang menyelidikinya. Doakan saja segera selesai sehingga cafe dapat segera


dibuka kembali.” Terlihat sekali raut kegusaran terpancar di wajahnya.


“Aku merinding


mendengarnya, Bi.” Indah bergidik ngeri.


"Nggak usah terlalu

__ADS_1


dipikirkan. Sekarang makan yang banyak, supaya nanti berenangnya bisa lama.”


Kenan kembali menambahkan secentong nasi ke dalam piringnya. Ia menghalau


pikiran-pikiran buruk yang melintas di kepalanya sejak tadi pagi.


“Kamu nggak apa-apa,


kalau kita nanti berenang? Nggak ngurusin cafe?” Tanya Indah.


“Hari ini tidak perlu


diurus karena cafenya tutup, sayang. Urusan lainnya sudah ditangani Ferry


dengan baik. Lagipula lebih penting memberi perhatian kepada istriku ini


daripada cafe.” Kedua alis Kenan terangkat. Bibir seksinya melengkungkan senyum


sehingga menampilkan dagu belah yang menarik.


Bagi Indah, wajah Kenan


yang sangat Indonesia itu, lebih tepatnya sangat Jawa itu, sangat manis,


semanis gula aren.


“Mulai deh... gombal


lagi.”


“Karena aku sebucin ini


sama kamu, sayang.” Kata Kenan lagi dengan mata berkedip-kedip.


“Ya ampun. Norak deh.”


Indah melemparkan dua buah kerupuk unyil ke wajah Kenan.


“Hayo, jangan ajak


perang kerupuk deh.” Kenan membalas, dengan mengembalikan kerupuk yang mengenai


wajahnya.


“Lebih baik perang


mulut saja.” Dengan gerakan tidak terduga, Kenan mendekat ke arah Indah dan


mendaratkan bibirnya di tempat yang tepat.


“Curi start kamu ya.”


Indah tidak dapat menutupi rasa malunya. Pipinya terasa panas. Ciuman dari


suaminya membuat detak jantung di dada Indah tidak beraturan dan nafasnya


tersengal-sengal. Kenan kembali meneruskan aktivitas bibirnya. Jemarinya yang


nakal mulai menggulung kaus istrinya ke atas, sementara tangan yang lain


bergerak membuka kancing celana. Serta merta gerakan tangan itu membangkitkan


rasa mulas di perut Indah.


“In, kalau sudah


selesai sarapannya, kita lanjut ke atas yah. Aku nggak mau Bik Janet memergoki


kita.” Kenan melepas pagutan bibirnya dan kembali menekuri sarapannya seperti


tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Bahkan ia menambahkan dua sendok lauk


ke atas piringnya.


Sementara Indah masih


bersusah payah meredakan deru nafasnya yang memburu. Wajahnya masih memerah,


bahkan tangannya masih gemetar ketika memegang sendok dan garpu. Lalu ia


membenahi bajunya yang sedikit terangkat dan juga kancing celananya yang


terbuka karena jemari nakal suaminya yang nakal. Jangankan meneruskan makan,


untuk minum pun rasanya sangat susah.Efek sentuhan suaminya ternyata sedasyat


ini ya.


Jangan sampai Bik Janet


melihat aku seberantakan ini. Gumam Indah di dalam hatinya.


***


Aku tunggu di atas, sayang ❤❤


__ADS_1


__ADS_2