
SELAMAT MEMBACA
Author POV
Tanpa malu-malu Indah
menghabiskan es krim yang dibawa Kenan. Ia melupakan fakta bahwa beberapa jam
yang lalu suara teriakannya menggelegar. Mungkin juga tenaganya telah terkuras
habis sehingga tergoda dengan semangkuk es krim.
Kenan menarik kursi
yang terletak di depan meja rias. Kini ia duduk bersisian dengan Indah.
Keduanya menghadap ke jendela kaca yang besar di sisi selatan kamar mereka.
“Aku ini cewek murahan
banget, ya Bi. Baru juga dikasih semangkuk es krim, sudah lumer ke mana-mana.”
Indah berkata ketika suapan es krim yang terakhir telah masuk ke dalam
mulutnya.
“Nggak apa-apa.
Murahannya sama aku aja, jangan sama yang lain. Capek kan, teriak-teriak hampir
dua jam?” Kenan tersenyum lembut melihat kemarahan di wajah Indah telah lumer
bersamaan dengan es krim yang disantapnya.
“Aku ini anak tunggal,
Bi. Jadi terbiasa untuk menyimpan segalanya seorang diri. Terbiasa untuk
mengatasi segala sesuatu sendiri, dengan caraku. Bahkan aku tidak terbiasa
bercerita kepada orang lain. Kehadiran kamu di hidupku itu sesuatu yang baru,
Bi. Jadi tidak bisa segampang itu untuk berterus terang kepadamu.”
“Ya, kita sama-sama
belajar, sayang. Beberapa minggu yang lalu kamu bilang cinta sama aku, tapi
hari ini kamu mau pergi ninggalin aku.”
“Maaf, aku terbawa
emosi.” Sorot mata Indah memendarkan penyesalan.
“Ya sudah. Itu sudah
berlalu. Kamu sangat berarti bagiku, sayang.” Tatapan Kenan menyapu wajah Indah
yang sedikit merona.
“Iya, aku tahu.
Ternyata kamu sebucin itu sama aku.” Mereka saling bertukar senyum.
“Tadi kamu mau ke mana
sih?” Kenan melirik ke arah koper yang masih berantakan di sudut kamar. “Nanti
bereskan dulu ya, sebelum turun. Kalau belum beres, nggak dapat jatah sarapan.”
Lanjutnya.
“Ih, ternyata kamu
kejam, Bi.” Indah mencubit lengan Kenan dengan gemas. “Aku tadi berpikir mau
kost lagi di tempat Upil. Katanya hari ini ada kamar kost yang kosong.”
“Otakmu sekali-kali
memang harus diinstal ulang supaya nggak gampang hang.” Kenan menyentil dahi
Indah dengan jari tengahnya. Walaupun pelan, tetapi tetap saja meninggalkan
sedikit rasa nyeri di dahi Indah.
“Aw....” Indah meringis
dan mengusap keningnya.
“Aku tunggu di bawah.
Kita sarapan bersama. Nggak usah mandi dulu. Kita kencan hari ini, di kolam
renang.” Kenan menaikkan alisnya sembari tersenyum menggoda ke arah istrinya.
Indah menanggapinya dengan rona merah si wajah dan bibir yang terbuka membentuk
__ADS_1
huruf ‘o’.
***
“Bi, mana Bik Janet?”
Indah keluar dari dapur karena tidak mendapati asisten rumah tangganya itu di
sana.
“Aku suruh ke pasar.
Takutnya kamu malu ketemu Bik Janet karena kelakuan konyolmu tadi.” Kenan
terkekeh melihat bibir istrinya yang cemberut. “Sudah, nggak usah marah lagi.
Ayo sarapan. Ini sudah siang lho, hampir jam delapan. Belum pernah kita sarapan
sangat terlambat seperti ini. Kalau bukan karena ....”
“Ish, iya Bi. Nggak
usah diungkit-ungkit lagi deh.” Indah mencebik lagi.
“Aku ungkit terus biar
kamu kapok.” Kenan kembali terkekeh.
Menghadapi suaminya
yang terkekeh dengan geli, seolah tak henti untuk menggodanya. Ia pun
mengerakkan tubuhnya dengan malas-malasan lalu menghempaskan pantatnya di
kursi.
“Tadi Ferry ke sini ya
Bi?” Indah mengalihkan perhatian suaminya.
“Kamu tahu, tadi Ferry
ke sini?” Dahi Kenan berkerut heran.
“Iya, tadi aku keluar
ke balkon karena berpikir mau turun lewat balkon. Tapi nggak jadi karena melihat
ada Ferry datang.”
mendengar pengakuan istrinya. “Serius, tadi kamu terpikir untuk turun lewat
balkon?”
“Iya.” Indah mengangguk
cepat.
“Astaga....” Kenan
tidak sadar mulutnya ternganga selama beberapa detik sebelum akhirnya menguasai
dirinya kembali.
“Ada apa Ferry ke sini?
Pasti ada hal penting kan? Nggak biasanya Ferry datang ke sini pagi-pagi.”
Kenan memijat
pelipisnya teringat akan kejadian yang menimpa cafenya. Wajahnya tertunduk. “Cafe
tutup beberapa hari, In. Karena tadi pagi ditemukan seorang sengan luka tusukan
di tempat parkir cafe.”
“Hah...?” Kali ini
Indah yang terkejut dengan mulut menganga. “Terus bagaimana?” Tanyanya lagi.
“Korbannya sudah dibawa
ke Rumah Sakit. Katanya sudah melalui masa kritis. Semoga saja segera pulih.
Ferry juga sudah memberi keterangan kepada pihak kepolisian. Rekaman CCTV yang
dekat dengan tempat kejadian juga sudah dibawa sebagai barang bukti. Polisi
sedang menyelidikinya. Doakan saja segera selesai sehingga cafe dapat segera
dibuka kembali.” Terlihat sekali raut kegusaran terpancar di wajahnya.
“Aku merinding
mendengarnya, Bi.” Indah bergidik ngeri.
"Nggak usah terlalu
__ADS_1
dipikirkan. Sekarang makan yang banyak, supaya nanti berenangnya bisa lama.”
Kenan kembali menambahkan secentong nasi ke dalam piringnya. Ia menghalau
pikiran-pikiran buruk yang melintas di kepalanya sejak tadi pagi.
“Kamu nggak apa-apa,
kalau kita nanti berenang? Nggak ngurusin cafe?” Tanya Indah.
“Hari ini tidak perlu
diurus karena cafenya tutup, sayang. Urusan lainnya sudah ditangani Ferry
dengan baik. Lagipula lebih penting memberi perhatian kepada istriku ini
daripada cafe.” Kedua alis Kenan terangkat. Bibir seksinya melengkungkan senyum
sehingga menampilkan dagu belah yang menarik.
Bagi Indah, wajah Kenan
yang sangat Indonesia itu, lebih tepatnya sangat Jawa itu, sangat manis,
semanis gula aren.
“Mulai deh... gombal
lagi.”
“Karena aku sebucin ini
sama kamu, sayang.” Kata Kenan lagi dengan mata berkedip-kedip.
“Ya ampun. Norak deh.”
Indah melemparkan dua buah kerupuk unyil ke wajah Kenan.
“Hayo, jangan ajak
perang kerupuk deh.” Kenan membalas, dengan mengembalikan kerupuk yang mengenai
wajahnya.
“Lebih baik perang
mulut saja.” Dengan gerakan tidak terduga, Kenan mendekat ke arah Indah dan
mendaratkan bibirnya di tempat yang tepat.
“Curi start kamu ya.”
Indah tidak dapat menutupi rasa malunya. Pipinya terasa panas. Ciuman dari
suaminya membuat detak jantung di dada Indah tidak beraturan dan nafasnya
tersengal-sengal. Kenan kembali meneruskan aktivitas bibirnya. Jemarinya yang
nakal mulai menggulung kaus istrinya ke atas, sementara tangan yang lain
bergerak membuka kancing celana. Serta merta gerakan tangan itu membangkitkan
rasa mulas di perut Indah.
“In, kalau sudah
selesai sarapannya, kita lanjut ke atas yah. Aku nggak mau Bik Janet memergoki
kita.” Kenan melepas pagutan bibirnya dan kembali menekuri sarapannya seperti
tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Bahkan ia menambahkan dua sendok lauk
ke atas piringnya.
Sementara Indah masih
bersusah payah meredakan deru nafasnya yang memburu. Wajahnya masih memerah,
bahkan tangannya masih gemetar ketika memegang sendok dan garpu. Lalu ia
membenahi bajunya yang sedikit terangkat dan juga kancing celananya yang
terbuka karena jemari nakal suaminya yang nakal. Jangankan meneruskan makan,
untuk minum pun rasanya sangat susah.Efek sentuhan suaminya ternyata sedasyat
ini ya.
Jangan sampai Bik Janet
melihat aku seberantakan ini. Gumam Indah di dalam hatinya.
***
Aku tunggu di atas, sayang ❤❤
__ADS_1