THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
40. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


INDAH POV


Keberadaan kami berdua


di dalam kamar rumah sakit, melambungkan ingatanku pada peristiwa sebulan yang


lalu. Pada saat itu kami juga berada di rumah sakit, hanya bedanya aku yang


menjadi pasien. Sekarang berganti Kenan yang terbaring lemah di atas tempat


tidur.


Aku tidak mempersiapkan


apa-apa ketika berangkat tadi sehingga terkejut ketika dokter meminta Kenan


agar rawat inap. Jujur saja aku juga khawatir dengan keadaannya yang


terus-menerus memuntahkan isi perutnya. Kalau dihitung, mungkin sampai sepuluh


kali Kenan memuntahkan isi perutnya dalam dua jam ini. Bahkan sekarang hanya


cairan bening yang keluar dari mulutnya. Aku rasa tidak ada lagi sisa makanan


yang berada di perutnya.


Mas Danu dengan


sigapnya menawarkan lagi pertolongannya untuk mengambilkan pakaian ganti


untukku dan Kenan. Ada rasa tidak enak dalam hatiku. Tentu saja rasa tidak enak


itu karena perasaan bersalah karena tidak bercerita tentang hubungan kami. Maka


aku tidak mau lebih merepotkannya lagi. Lebih baik aku menelepon Bik Janet agar


mempersiapkan pakaian kami, dan memesan jasa kurir secara online untuk


mengantarkannya ke rumah sakit. Mas Danu tidak menanyakan tentang hubunganku


dengan Kenan. Ia lebih memperhatikan pemeriksaan terhadap Kenan. Kini ia telah


pulang dan kiriman pakaian dari kurir pun telah aku terima.


Aku melihat Kenan


dengan rasa khawatir. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Titik – titik keringat


menyembul dari dahinya. Namun setidaknya aku bersyukur karena hampir satu jam


ini Kenan tidak mengeluarkan isi perutnya. Sekarang ia sudah tertidur.


Perlahan aku duduk di


sisi tempat tidur, menghadapnya. Kuhapus bulir-bulir keringat di wajahnya


dengan tissue. Saat aku memandang wajahnya, ada rasa berdebar di hatiku. Dua


hari kepergiannya membuatku merasakan sayang, rindu, dan takut kehilangan yang


amat sangat. Kini bahkan kedekatanku dengannya menimbulkan percikan-percikan di


dadaku. Aku rasa telah jatuh cinta kepada lelaki tampan di hadapanku ini.


Tubuhnya bergerak


pelan. Matanya terbuka perlahan-lahan. Pandangannya langsung ditujukan


kepadaku, memakuku di tempat.


“Sayang, maaf aku


merepotkanmu.” Kalimat pertama yang diucapkannya dengan sorot mata sayu.


“Hei... Sama sekali


tidak merepotkan. Pastikan cepat sembuh saja. Okay? I will be here.” Kugenggam tangannya yang tidak ditusuk jarum


infus.


“Thank you.” Senyumnya mengembang. “Untung saja kegiatan kamu di

__ADS_1


laboratorium sudah selesai, In. Kalau belum selesai, Bik Janet yang nungguin


aku, bersama ayamnya.” Ia terkekeh geli. Aku pun ikut tertawa membayangkan


kelatahan Bik Janet.


“Bagaimana perutmu?


Sudah tidak mual kan?” ia menjawabnya dengan gelengan yang lemah. Tentu saja ia


sangat lemah karena makanan di perutnya sudah keluar semua. “Bagaimana dengan


teman-temanmu yang ikut makan nasi bungkus tadi sore?”


“Mereka baik-baik saja


karena hanya aku yang memilih menu ikan tongkol. Sudah lama aku nggak makan


ikan tongkol, kangen dengan rasanya yang khas. Jadi aku membayangkan rasanya


yang enak.”


“Kamu nggak merasa aneh


ketika makan ikannya? Biasanya rasanya beda lho, antara ikan yang segar dengan


yang tidak segar.”


“Ehm sebenarnya agak


aneh, lidahku seperti digigit banyak semut, tapi tertutupi dengan bumbu yang


enak, jadi aku makan sampai habis. Sumpah, bumbunya enak banget.”


“Sudah berapa lama sih,


kamu nggak makan ikan tongkol, sampai kangen banget begitu.”


“Hmmm... setahun


mungkin. Tapi nggak sebesar rasa kangen aku ke kamu, yang baru dua hari nggak


ketemu.”


ngomong ikan tongkol lho.” Jawabku lagi. Tolong, ada kupu-kupu beterbangan lagi


di perutku. Bibirku berkedut menahan senyuman.


Aku beranjak berdiri


hendak mengambil biskuit. Cacing dalam perutku mulai memberontak. Sebaiknya aku


menawarkan makanan kepada Kenan. Mungkin ia menginginkan sesuatu.


“Kamu lapar? Mau makan


sesuatu? Di sini ada buah, biskuit, dan roti.” Aku menunjuk ke arah makanan


yang ada di hadapanku.


“Aku mau roti, sayang.


Lapar sekali rasanya.” Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Wajarlah Kenan merasa


lapar. Selama ini, kalau berada di ruang kerja, ia pasti membawa berbagai macam


makanan untuk dimakan. Kenan sebetulnya termasuk orang yang gampang merasa


lapar. Aku mengambil sebungkus roti isi yang sempat kubeli di depan rumah


sakit. Aku mengambil tepi roti sedikit dan kusodorkan ke mulut Kenan. Kami


sama-sama terdiam sampai roti yang aku pegang berpindah seluruhnya ke perut


Kenan. Wah, pasiennya lahap ternyata.


Kenan memegang ponsel


dengan tangan kirinya. Ia menerima telepon dari Mami. Dari suaranya, aku bisa


merasakan kehawatiran Mami. “Mami nggak usah khawatir. Aku nggak apa-apa. Indah


merawatku dengan baik.”

__ADS_1


“....”


“Karena makan ikan


tongkol, Mi.”


“....”


“Iya, sementara aku


nggak akan makan ikan tongkol lagi.”


“....”


“Nggak usah Mi. Kami


aja yang pulang minggu depan.”


“....”


“Baik. Indah


sehat-sehat saja.”


“....”


“Di kamar VIP, Mi.”


“....”


“Iya, kami berdua saja.


Bik Janet tunggu rumah.”


“....”


“Mi, apaan sih? Bahasnya


yang begituan. Aku juga tahu, ini di rumah sakit.” Kenan melirik ke arahku,


bibir seksinya dibasahi dengan lidahnya. Penasaran apa yang sedang dibicarakan


mereka.


“....”


“Ya nggak mungkin juga,


Mami.”


“....”


“Iya, bye Mami.”


 


Kenan meletakkan


ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tatapannya menunduk


seperti hendak menghindari mataku.


Aku mendekat dan duduk


di sampingnya. “Mami bilang apa?”


“Mami nggak aku


perbolehkan ke sini. Aku bilang kamu sudah merawatku dengan baik. Sebagai


gantinya mingu depan kita pulang.” Ucapnya dengan menunduk. Duh Kenan, kamu


sweet banget sih kalau malu-malu begitu. Kuperkirakan belum semuanya ia


ceritakan.


“Terus, apa lagi?”


“Katanya nggak boleh


ena-ena di rumah sakit, takutnya kepergok orang.” Kini ia menatapku dengan


senyum miringnya. Aku menaggapinya dengan meringis.

__ADS_1


Tahu begitu, aku nggak akan nanya yah.


__ADS_2