
SELAMAT MEMBACA
INDAH POV
Keberadaan kami berdua
di dalam kamar rumah sakit, melambungkan ingatanku pada peristiwa sebulan yang
lalu. Pada saat itu kami juga berada di rumah sakit, hanya bedanya aku yang
menjadi pasien. Sekarang berganti Kenan yang terbaring lemah di atas tempat
tidur.
Aku tidak mempersiapkan
apa-apa ketika berangkat tadi sehingga terkejut ketika dokter meminta Kenan
agar rawat inap. Jujur saja aku juga khawatir dengan keadaannya yang
terus-menerus memuntahkan isi perutnya. Kalau dihitung, mungkin sampai sepuluh
kali Kenan memuntahkan isi perutnya dalam dua jam ini. Bahkan sekarang hanya
cairan bening yang keluar dari mulutnya. Aku rasa tidak ada lagi sisa makanan
yang berada di perutnya.
Mas Danu dengan
sigapnya menawarkan lagi pertolongannya untuk mengambilkan pakaian ganti
untukku dan Kenan. Ada rasa tidak enak dalam hatiku. Tentu saja rasa tidak enak
itu karena perasaan bersalah karena tidak bercerita tentang hubungan kami. Maka
aku tidak mau lebih merepotkannya lagi. Lebih baik aku menelepon Bik Janet agar
mempersiapkan pakaian kami, dan memesan jasa kurir secara online untuk
mengantarkannya ke rumah sakit. Mas Danu tidak menanyakan tentang hubunganku
dengan Kenan. Ia lebih memperhatikan pemeriksaan terhadap Kenan. Kini ia telah
pulang dan kiriman pakaian dari kurir pun telah aku terima.
Aku melihat Kenan
dengan rasa khawatir. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Titik – titik keringat
menyembul dari dahinya. Namun setidaknya aku bersyukur karena hampir satu jam
ini Kenan tidak mengeluarkan isi perutnya. Sekarang ia sudah tertidur.
Perlahan aku duduk di
sisi tempat tidur, menghadapnya. Kuhapus bulir-bulir keringat di wajahnya
dengan tissue. Saat aku memandang wajahnya, ada rasa berdebar di hatiku. Dua
hari kepergiannya membuatku merasakan sayang, rindu, dan takut kehilangan yang
amat sangat. Kini bahkan kedekatanku dengannya menimbulkan percikan-percikan di
dadaku. Aku rasa telah jatuh cinta kepada lelaki tampan di hadapanku ini.
Tubuhnya bergerak
pelan. Matanya terbuka perlahan-lahan. Pandangannya langsung ditujukan
kepadaku, memakuku di tempat.
“Sayang, maaf aku
merepotkanmu.” Kalimat pertama yang diucapkannya dengan sorot mata sayu.
“Hei... Sama sekali
tidak merepotkan. Pastikan cepat sembuh saja. Okay? I will be here.” Kugenggam tangannya yang tidak ditusuk jarum
infus.
“Thank you.” Senyumnya mengembang. “Untung saja kegiatan kamu di
__ADS_1
laboratorium sudah selesai, In. Kalau belum selesai, Bik Janet yang nungguin
aku, bersama ayamnya.” Ia terkekeh geli. Aku pun ikut tertawa membayangkan
kelatahan Bik Janet.
“Bagaimana perutmu?
Sudah tidak mual kan?” ia menjawabnya dengan gelengan yang lemah. Tentu saja ia
sangat lemah karena makanan di perutnya sudah keluar semua. “Bagaimana dengan
teman-temanmu yang ikut makan nasi bungkus tadi sore?”
“Mereka baik-baik saja
karena hanya aku yang memilih menu ikan tongkol. Sudah lama aku nggak makan
ikan tongkol, kangen dengan rasanya yang khas. Jadi aku membayangkan rasanya
yang enak.”
“Kamu nggak merasa aneh
ketika makan ikannya? Biasanya rasanya beda lho, antara ikan yang segar dengan
yang tidak segar.”
“Ehm sebenarnya agak
aneh, lidahku seperti digigit banyak semut, tapi tertutupi dengan bumbu yang
enak, jadi aku makan sampai habis. Sumpah, bumbunya enak banget.”
“Sudah berapa lama sih,
kamu nggak makan ikan tongkol, sampai kangen banget begitu.”
“Hmmm... setahun
mungkin. Tapi nggak sebesar rasa kangen aku ke kamu, yang baru dua hari nggak
ketemu.”
ngomong ikan tongkol lho.” Jawabku lagi. Tolong, ada kupu-kupu beterbangan lagi
di perutku. Bibirku berkedut menahan senyuman.
Aku beranjak berdiri
hendak mengambil biskuit. Cacing dalam perutku mulai memberontak. Sebaiknya aku
menawarkan makanan kepada Kenan. Mungkin ia menginginkan sesuatu.
“Kamu lapar? Mau makan
sesuatu? Di sini ada buah, biskuit, dan roti.” Aku menunjuk ke arah makanan
yang ada di hadapanku.
“Aku mau roti, sayang.
Lapar sekali rasanya.” Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Wajarlah Kenan merasa
lapar. Selama ini, kalau berada di ruang kerja, ia pasti membawa berbagai macam
makanan untuk dimakan. Kenan sebetulnya termasuk orang yang gampang merasa
lapar. Aku mengambil sebungkus roti isi yang sempat kubeli di depan rumah
sakit. Aku mengambil tepi roti sedikit dan kusodorkan ke mulut Kenan. Kami
sama-sama terdiam sampai roti yang aku pegang berpindah seluruhnya ke perut
Kenan. Wah, pasiennya lahap ternyata.
Kenan memegang ponsel
dengan tangan kirinya. Ia menerima telepon dari Mami. Dari suaranya, aku bisa
merasakan kehawatiran Mami. “Mami nggak usah khawatir. Aku nggak apa-apa. Indah
merawatku dengan baik.”
__ADS_1
“....”
“Karena makan ikan
tongkol, Mi.”
“....”
“Iya, sementara aku
nggak akan makan ikan tongkol lagi.”
“....”
“Nggak usah Mi. Kami
aja yang pulang minggu depan.”
“....”
“Baik. Indah
sehat-sehat saja.”
“....”
“Di kamar VIP, Mi.”
“....”
“Iya, kami berdua saja.
Bik Janet tunggu rumah.”
“....”
“Mi, apaan sih? Bahasnya
yang begituan. Aku juga tahu, ini di rumah sakit.” Kenan melirik ke arahku,
bibir seksinya dibasahi dengan lidahnya. Penasaran apa yang sedang dibicarakan
mereka.
“....”
“Ya nggak mungkin juga,
Mami.”
“....”
“Iya, bye Mami.”
Kenan meletakkan
ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tatapannya menunduk
seperti hendak menghindari mataku.
Aku mendekat dan duduk
di sampingnya. “Mami bilang apa?”
“Mami nggak aku
perbolehkan ke sini. Aku bilang kamu sudah merawatku dengan baik. Sebagai
gantinya mingu depan kita pulang.” Ucapnya dengan menunduk. Duh Kenan, kamu
sweet banget sih kalau malu-malu begitu. Kuperkirakan belum semuanya ia
ceritakan.
“Terus, apa lagi?”
“Katanya nggak boleh
ena-ena di rumah sakit, takutnya kepergok orang.” Kini ia menatapku dengan
senyum miringnya. Aku menaggapinya dengan meringis.
__ADS_1
Tahu begitu, aku nggak akan nanya yah.