THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
33. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Author POV


Siang ini di kantin


Fakultas Sastra yang ramai, tampak para mahasiswa bersantap siang. Mungkin


karena menunya yang beraneka ragam dan tempatnya yang sejuk , kantin ini


menjadi populer. Bisa dibilang kantin paling ramai di universitas ini. Tampak


pula Indah, Upil dan Arif meramaikan suasana kantin. Sudah cukup lama mereka


tidak makan siang di kantin ini. Sejak semester akhir ini mereka jarang


berkumpul makan siang. Masing-masing mempunyai kesibukan berbeda-beda.


“In, pusing deh aku


lihat kamu. Dari tadi cemberut, diajak ngomong melengos, kakinya


dihentak-hentak terus. Kamu kenapa sih?” Arif sejak tadi mengamati tingkah


sahabatnya yang ceria ini tidak seperti biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang


hendak meledak di sana.


“Nggak papa kok. Hatiku


aja lagi nggak enak karena belum siap untuk seminar besok.” Indah berupaya


tidak menceritakan kegundahan hatinya. Sementara itu tampaknya Arif tidak


setuju dengan apa yang dikatakan Indah.


“Kayaknya kamu lagi


berantem deh sama suami.” Upil berkata dengan lirih, namun masih bisa didengar


oleh Indah. Mendengar itu, Indah menundukkan kepalanya. Ia tidak berkata


apa-apa, tetapi tampaknya kedua sahabatnya tahu bahwa ada masalah yang dialami


Indah. Pikirannya melayang mengingat peristiwa hari ini, mulai dari Kak Ros


yang bertamu pagi-pagi, mas Danu yang ternyata tetangga di samping rumahnya, dan


yang terakhir Bella yang menyatakan cintanya kepada Kenan.


“Kalau nggak mau cerita


juga nggak apa-apa, tapi plis wajahnya jangan ditekuk begitu. Jelek tahu?” Arif


merangkul bahu Indah.


“Rif, aku cantik


nggak?” Arif sontak melihat wajah sahabatnya itu. Ia tidak yakin dengan


pertanyaannya. Apakah maksudnya jebakan atau apa.


“Ya cantik lah. Kamu


kan cewek. Masa ganteng.” Arif menjawab senetral mungkin.


“Cantik mana aku sama


Upil?” Mendengar pertanyaan itu, Arif tersedak. Sementara Upil memukul bahu


Indah dengan sendok kotor di tangannya.


“Heh, jelas cantik


akulah. Aku ini sebelas dua belas sama Selena Gomez, tahu?” Upil


mengibas-ngibaskan rambutnya, serasa Selena Gomez yang berambut sebahu itu.


Padahal rambut Upil kan pendek, potongan model cowok gitu.


“Upil... sendoknya


kotor tahu. Bajuku kotor.” Kata Indah lalu ia membalas dengan memukul bahu Upil


dengan sendok kotornya.


Melihat kedua


sahabatnya itu, Arif terkekeh geli. “Terus aja berantemnya. Nanti aku wasitin.”


“Aku seksi nggak sih?”

__ADS_1


Tanya Indah lagi. Kali ini Arif dan Upil saling berpandangan. Mereka berdua


sangat heran, tidak biasa-biasanya Indah memperhatikan penampilannya seperti


itu. Biasanya Indah terlalu cuek utnuk memperdulikan kecantikan dan tubuhnya.


“Ini yang salah


pikiranmu, nduk. Bukannya kamu nggak cantik atau nggak seksi. Tapi pikiranmu


yang harus dibenerin.” Arif lalu duduk menghadap Indah sehingga kedua lututnya


menempel di kaki kanan Indah. “Kamu kenapa?”


Indah menggeleng, tidak


menjawab pertanyaan Arif.


“Mbak... Mbak


Luthvia... ada di sini rupanya. Ikutan gabung dong.” Suara bariton terdengar


memanggil nama Upil dengan keras. Ketiga sahabat itu menoleh ke arah sumber


suara. Adik Upil yang bernama Tino, juga dengan kedua sahabatnya datang


menghampiri mereka. Sebenarnya hanya Tino yang ngotot ingin bergabung karena


dilihatnya Indah sedang berada di sana. Penyakit bucinnya Tino kepada Indah


belum juga sembuh, walaupun ia sudah mengetahui bahwa pujaan hatinya itu telah


menikah. Dengan sedikit berat hati Adi dan Kenan bergabung dengan mereka.


Melihat Indah di sana


yang menatap wajah Kenan dengan raut muka masam, Kenan mengerti agaknya Indah


sedang tidak enak hati kepadanya, mengingat pertemuan terakhir dengannya tadi,


yang menangkap basah percakapannya dengan Bella. Maka segera saja Kenan mengambil


tempat duduk di bangku yang diduduki Indah dan Arif. Jadi Indah kini duduk di


antara Kenan dan Arif. Sementara Tino merasa jengkel dengan Kenan karena


mengambil kesempatan duduk di samping Indah. Tetapi ia bisa apa, hanya


mengendus kesal.


belum?” Upil bertanya kepada adiknya.


“Sudah mbak. Kami


ngganggu nggak ikut gabung di sini?” Tanya Tino.


“Enggak kok. Kami hanya


makan siang biasa. Nggak lagi rapat.” Jawab Arif. “Hanya lagi curhat-curhat


karena ada yang lagi galau.” Lanjut Arif lagi. Upil terkekeh mendengar


penuturan Arif. Sementara Indah mengerucutkan mulutnya.


Kemudian mereka


terlibat dalam percakapan yang seru kecuali Indah dan Kenan tentunya. Kenan


sedikit menggeser duduknya semakin mendekati Indah, tanpa menimbulkan kecurigaan.


Dengan perlahan Kenan meraih telapak tangan kiri Indah yang berada di bawah


meja. Ia menggenggam dengan telapak tangan kanannya. Indah sedikit berjengit


menerima sentuhan itu. Semula Indah ingin melepaskan diri, namun Kenan


menahannya. Ia pun mengusap lembut jemari Indah dengan ibu jarinya. Menerima


sentuhan Kenan membuat Indah sedikit bergetar. Ia merasakan sentuhan Kenan


menyalurkan aliran listrik yang menyengat hatinya. Ia menjadi serba salah.


Kemudian yang terdengar adalah suara cegukan dari mulut Indah.


Duh, mulut ini nggak bisa diajak kerja sama. Malu-maluin aja. Semoga


saja nggak ada yang tahu dengan perbuatan Kenan. Batin Indah cemas.


“Nih, minum yang


banyak. Cegukan itu karena kurang minum.” Arif mengangsurkan segelas air putih

__ADS_1


di depan Indah. Ia pun segera menegak habis segelas air putih itu. Cegukannya


hilang, berganti dengan desiran halus di hatinya. Ia melirik Kenan yang


terlihat tenang menyendokkan ketoprak ke dalam mulutnya menggunakan tangan


kiri.


“We need to talk


later.” Bisik Kenan selirih mungkin. Ia ingin hanya Indah yang mendengar apa


yang dikatakannya. Suasana yang tidak mengenakan ini ingin segera diakhiri oleh


Kenan. Ia tidak mau kesalahpahaman akan semakin menjadi-jadi di antara mereka.


Apabila kesalahpahaman tidak segera diselesaikan, mereka berdua akan saling


menyakiti.


“Aku sibuk, lagi


konsentrasi seminar, besok jadwalnya. Setelah seminar aja.” Indah melirik


Kenan, berbicara pelan tanpa membuka mulutnya. Mendengar jawaban dari Indah,


Kenan menghela nafas berat. Ia kemudian melepaskan genggamannya dari telapak


tangan Indah. Kini, Indah merasa kehilangan sentuhan itu, ia kecewa. Semudah


itu hatinya mendamba sentuhan dari Kenan. Desiran halus di hatinya menghilang


dan hatinya menjadi sepi seperti tadi ketika Kenan belum hadir di sampingnya.


“Eh, kalian jadi akrab.


Kalau mau ngomong, nggak usah bisik-bisik begitu, In. Ini karena ketumpahan


kopi panas, jadi kalian akrab ya? Jangan baper Ken, udah punya suami dia.” Upil


mengedipkan sebelah matanya kepada Indah. Kini wajah Indah terlihat memerah. Ia


tidak dapat menutupi rasa malunya karena ketahuan berbisik-bisik kepada Kenan.


Sementara Kenan tetap menyantap makanannya dengan tenang, terlihat tidak


terpengaruh.


“Sebenarnya kamu harus


tanggung jawab Ken. Sampai bekas lukanya Indah sembuh, tanpa bekas. Dia


uring-uringan lho dari tadi. Ngerasa nggak cantik dan nggak seksi lagi


gara-gara tumpahan kopi panas itu.” Tiba-tiba Upil melontarkan ucapan yang


membuat Indah jengkel. Ia memutar matanya kemudian melotot ke arah Upil.


“Oh, benar begitu, mbak


Indah? Dengan senang hati saya akan bertanggung jawab.” Kenan memutar kepalanya


ke kanan, sedikit menggeser tubuhnya sehingga menghadap Indah. Ia menatap ke


arah Indah kemudian mengedipkan sebelah matanya. “Mau saya antar ke dokter


lagi, mbak? Dokter kulit atau ke dokter kecantikan? Mau langsung bedah plastik


juga saya nggak keberatan. Apapun untuk mbak Indah. Asal mbak Indah senang.”


Kenan kembali meneruskan dengan pandangan menggoda Indah. Semua mata tertuju


kepada Indah. Bahkan Arif terlihat sekali heran dengan kata-kata Kenan yang


berani menggoda Indah, seniornya di kampus. “Tolong, kamu jangan nempel-nempel


lagi sama cowok sebelahmu itu.” Kenan berkata lirih lagi. Ia sangat tidak suka


melihat kedekatan Arif dan Indah.


“Kamunya juga gampang ditempel


sama cewek-cewek.” Indah membalas dengan sengit, namun tetap dengan suara


lirih.


“Nah kan, kalian ini


bisik-bisik lagi. Curiga aku dengan obrolan kalian.” Upil kembali menatap Indah


dan Kenan dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


Tolong, aku ingin menenggelamkan diri ke dalam kolam dengan air dingin.


Indah semakin merasa kepanasan dalam pembicaraan ini.


__ADS_2