
SELAMAT MEMBACA
Author POV
Siang ini di kantin
Fakultas Sastra yang ramai, tampak para mahasiswa bersantap siang. Mungkin
karena menunya yang beraneka ragam dan tempatnya yang sejuk , kantin ini
menjadi populer. Bisa dibilang kantin paling ramai di universitas ini. Tampak
pula Indah, Upil dan Arif meramaikan suasana kantin. Sudah cukup lama mereka
tidak makan siang di kantin ini. Sejak semester akhir ini mereka jarang
berkumpul makan siang. Masing-masing mempunyai kesibukan berbeda-beda.
“In, pusing deh aku
lihat kamu. Dari tadi cemberut, diajak ngomong melengos, kakinya
dihentak-hentak terus. Kamu kenapa sih?” Arif sejak tadi mengamati tingkah
sahabatnya yang ceria ini tidak seperti biasanya. Sepertinya ada sesuatu yang
hendak meledak di sana.
“Nggak papa kok. Hatiku
aja lagi nggak enak karena belum siap untuk seminar besok.” Indah berupaya
tidak menceritakan kegundahan hatinya. Sementara itu tampaknya Arif tidak
setuju dengan apa yang dikatakan Indah.
“Kayaknya kamu lagi
berantem deh sama suami.” Upil berkata dengan lirih, namun masih bisa didengar
oleh Indah. Mendengar itu, Indah menundukkan kepalanya. Ia tidak berkata
apa-apa, tetapi tampaknya kedua sahabatnya tahu bahwa ada masalah yang dialami
Indah. Pikirannya melayang mengingat peristiwa hari ini, mulai dari Kak Ros
yang bertamu pagi-pagi, mas Danu yang ternyata tetangga di samping rumahnya, dan
yang terakhir Bella yang menyatakan cintanya kepada Kenan.
“Kalau nggak mau cerita
juga nggak apa-apa, tapi plis wajahnya jangan ditekuk begitu. Jelek tahu?” Arif
merangkul bahu Indah.
“Rif, aku cantik
nggak?” Arif sontak melihat wajah sahabatnya itu. Ia tidak yakin dengan
pertanyaannya. Apakah maksudnya jebakan atau apa.
“Ya cantik lah. Kamu
kan cewek. Masa ganteng.” Arif menjawab senetral mungkin.
“Cantik mana aku sama
Upil?” Mendengar pertanyaan itu, Arif tersedak. Sementara Upil memukul bahu
Indah dengan sendok kotor di tangannya.
“Heh, jelas cantik
akulah. Aku ini sebelas dua belas sama Selena Gomez, tahu?” Upil
mengibas-ngibaskan rambutnya, serasa Selena Gomez yang berambut sebahu itu.
Padahal rambut Upil kan pendek, potongan model cowok gitu.
“Upil... sendoknya
kotor tahu. Bajuku kotor.” Kata Indah lalu ia membalas dengan memukul bahu Upil
dengan sendok kotornya.
Melihat kedua
sahabatnya itu, Arif terkekeh geli. “Terus aja berantemnya. Nanti aku wasitin.”
“Aku seksi nggak sih?”
__ADS_1
Tanya Indah lagi. Kali ini Arif dan Upil saling berpandangan. Mereka berdua
sangat heran, tidak biasa-biasanya Indah memperhatikan penampilannya seperti
itu. Biasanya Indah terlalu cuek utnuk memperdulikan kecantikan dan tubuhnya.
“Ini yang salah
pikiranmu, nduk. Bukannya kamu nggak cantik atau nggak seksi. Tapi pikiranmu
yang harus dibenerin.” Arif lalu duduk menghadap Indah sehingga kedua lututnya
menempel di kaki kanan Indah. “Kamu kenapa?”
Indah menggeleng, tidak
menjawab pertanyaan Arif.
“Mbak... Mbak
Luthvia... ada di sini rupanya. Ikutan gabung dong.” Suara bariton terdengar
memanggil nama Upil dengan keras. Ketiga sahabat itu menoleh ke arah sumber
suara. Adik Upil yang bernama Tino, juga dengan kedua sahabatnya datang
menghampiri mereka. Sebenarnya hanya Tino yang ngotot ingin bergabung karena
dilihatnya Indah sedang berada di sana. Penyakit bucinnya Tino kepada Indah
belum juga sembuh, walaupun ia sudah mengetahui bahwa pujaan hatinya itu telah
menikah. Dengan sedikit berat hati Adi dan Kenan bergabung dengan mereka.
Melihat Indah di sana
yang menatap wajah Kenan dengan raut muka masam, Kenan mengerti agaknya Indah
sedang tidak enak hati kepadanya, mengingat pertemuan terakhir dengannya tadi,
yang menangkap basah percakapannya dengan Bella. Maka segera saja Kenan mengambil
tempat duduk di bangku yang diduduki Indah dan Arif. Jadi Indah kini duduk di
antara Kenan dan Arif. Sementara Tino merasa jengkel dengan Kenan karena
mengambil kesempatan duduk di samping Indah. Tetapi ia bisa apa, hanya
mengendus kesal.
belum?” Upil bertanya kepada adiknya.
“Sudah mbak. Kami
ngganggu nggak ikut gabung di sini?” Tanya Tino.
“Enggak kok. Kami hanya
makan siang biasa. Nggak lagi rapat.” Jawab Arif. “Hanya lagi curhat-curhat
karena ada yang lagi galau.” Lanjut Arif lagi. Upil terkekeh mendengar
penuturan Arif. Sementara Indah mengerucutkan mulutnya.
Kemudian mereka
terlibat dalam percakapan yang seru kecuali Indah dan Kenan tentunya. Kenan
sedikit menggeser duduknya semakin mendekati Indah, tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dengan perlahan Kenan meraih telapak tangan kiri Indah yang berada di bawah
meja. Ia menggenggam dengan telapak tangan kanannya. Indah sedikit berjengit
menerima sentuhan itu. Semula Indah ingin melepaskan diri, namun Kenan
menahannya. Ia pun mengusap lembut jemari Indah dengan ibu jarinya. Menerima
sentuhan Kenan membuat Indah sedikit bergetar. Ia merasakan sentuhan Kenan
menyalurkan aliran listrik yang menyengat hatinya. Ia menjadi serba salah.
Kemudian yang terdengar adalah suara cegukan dari mulut Indah.
Duh, mulut ini nggak bisa diajak kerja sama. Malu-maluin aja. Semoga
saja nggak ada yang tahu dengan perbuatan Kenan. Batin Indah cemas.
“Nih, minum yang
banyak. Cegukan itu karena kurang minum.” Arif mengangsurkan segelas air putih
__ADS_1
di depan Indah. Ia pun segera menegak habis segelas air putih itu. Cegukannya
hilang, berganti dengan desiran halus di hatinya. Ia melirik Kenan yang
terlihat tenang menyendokkan ketoprak ke dalam mulutnya menggunakan tangan
kiri.
“We need to talk
later.” Bisik Kenan selirih mungkin. Ia ingin hanya Indah yang mendengar apa
yang dikatakannya. Suasana yang tidak mengenakan ini ingin segera diakhiri oleh
Kenan. Ia tidak mau kesalahpahaman akan semakin menjadi-jadi di antara mereka.
Apabila kesalahpahaman tidak segera diselesaikan, mereka berdua akan saling
menyakiti.
“Aku sibuk, lagi
konsentrasi seminar, besok jadwalnya. Setelah seminar aja.” Indah melirik
Kenan, berbicara pelan tanpa membuka mulutnya. Mendengar jawaban dari Indah,
Kenan menghela nafas berat. Ia kemudian melepaskan genggamannya dari telapak
tangan Indah. Kini, Indah merasa kehilangan sentuhan itu, ia kecewa. Semudah
itu hatinya mendamba sentuhan dari Kenan. Desiran halus di hatinya menghilang
dan hatinya menjadi sepi seperti tadi ketika Kenan belum hadir di sampingnya.
“Eh, kalian jadi akrab.
Kalau mau ngomong, nggak usah bisik-bisik begitu, In. Ini karena ketumpahan
kopi panas, jadi kalian akrab ya? Jangan baper Ken, udah punya suami dia.” Upil
mengedipkan sebelah matanya kepada Indah. Kini wajah Indah terlihat memerah. Ia
tidak dapat menutupi rasa malunya karena ketahuan berbisik-bisik kepada Kenan.
Sementara Kenan tetap menyantap makanannya dengan tenang, terlihat tidak
terpengaruh.
“Sebenarnya kamu harus
tanggung jawab Ken. Sampai bekas lukanya Indah sembuh, tanpa bekas. Dia
uring-uringan lho dari tadi. Ngerasa nggak cantik dan nggak seksi lagi
gara-gara tumpahan kopi panas itu.” Tiba-tiba Upil melontarkan ucapan yang
membuat Indah jengkel. Ia memutar matanya kemudian melotot ke arah Upil.
“Oh, benar begitu, mbak
Indah? Dengan senang hati saya akan bertanggung jawab.” Kenan memutar kepalanya
ke kanan, sedikit menggeser tubuhnya sehingga menghadap Indah. Ia menatap ke
arah Indah kemudian mengedipkan sebelah matanya. “Mau saya antar ke dokter
lagi, mbak? Dokter kulit atau ke dokter kecantikan? Mau langsung bedah plastik
juga saya nggak keberatan. Apapun untuk mbak Indah. Asal mbak Indah senang.”
Kenan kembali meneruskan dengan pandangan menggoda Indah. Semua mata tertuju
kepada Indah. Bahkan Arif terlihat sekali heran dengan kata-kata Kenan yang
berani menggoda Indah, seniornya di kampus. “Tolong, kamu jangan nempel-nempel
lagi sama cowok sebelahmu itu.” Kenan berkata lirih lagi. Ia sangat tidak suka
melihat kedekatan Arif dan Indah.
“Kamunya juga gampang ditempel
sama cewek-cewek.” Indah membalas dengan sengit, namun tetap dengan suara
lirih.
“Nah kan, kalian ini
bisik-bisik lagi. Curiga aku dengan obrolan kalian.” Upil kembali menatap Indah
dan Kenan dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Tolong, aku ingin menenggelamkan diri ke dalam kolam dengan air dingin.
Indah semakin merasa kepanasan dalam pembicaraan ini.