
Hai.... I'm back...
SELAMAT MEMBACA
Kenan POV
Pukul sepuluh malam aku
tiba di rumah. Bik Janet membukakan pintu untukku. “Indah sudah tidur Bik?”
Tanyaku kepada Bik Janet.
“Sudah tidur, Den. Tapi
di depan TV. Kayaknya nggak berani tidur di atas karena Den Kenan belum
pulang.” Bik Janet segera mengunci pintu gerbang.
Aku masuk ke dalam
rumah. Ketika sampai di ruang keluarga, kulihat Indah yang tertidur di sofa
dengan kepala menyender miring di sandaran sofa. Dia selalu menungguku pulang.
Pukul berapa pun aku pulang, ia selalu begini. Mungkin benar yang dikatakan Bik
Janet, Indah tidak berani berada di atas sendirian. Dugaan itu berdasarkan dari
apa yang aku lihat. Laptopnya tergeletak di meja dan ada kertas berserakan di
bawah meja. Berarti sejak tadi ia tidak mengerjakan tugas di ruang kerja,
tetapi mengerjakannya di bawah.
“Sudah makan, Den?
Kalau mau makan, Bibik siapkan.” Tanya Bik Janet ketika akan melewatiku.
“Nggak usah Bik. Sudah
lama Indah tidur di sini?”
“Non Indah sudah hampir
satu jam tertidur di sini, Den.”
“Ya sudah Bik. Nanti
aku bangunkan Indah.”
“Bibik ke belakang
dulu, Den.” Aku menjawab dengan menganggukan kepala ke arah Bik Janet. Aku
cukup bersyukur karena Bik Janet bersedia mengikuti kami untuk pindah ke sini.
Dengan begitu ia dapat menemani Indah di rumah. Mengingat aku masih sibuk
dengan kuliah dan pekerjaanku.
Kudekati Indah, aku
berjongkok di depannya. Kurapikan sedikit anak rambutnya dan menyelipkan
beberapahelai rambutnya di samping telinga. Apakah pakaian dalam yang Indah kenakan sama dengan yang tadi
sore? Aku kembali memijit pelipisku, berusaha menghalau pikiran aneh ini dari
kepalaku. Aku harus bisa menahan diri.
“In, pindah ke atas
yuk....” Aku menggenggam salah satu telapak tangannya.
Indah sedikit
menggeliat. Ia tidak tampak bangun atau mengubah posisinya. Aku berpikir
sejenak, bagaimana cara membangunkannya. Tiba-tiba saja muncul ide di kepalaku.
Aku berjalan menuju dapur kuambil gelas yang telah kuisi dengan air.
Kulangkahkan kakiku kembali mendekati Indah. Lalu kuteteskan sedikit air ke
pipi Indah.
Kulihat Indah
menggeliat, kemudian mulai membuka matanya. Segera saja aku letakkan gelas di
atas meja. Aku takut nanti reaksinya marah karena aku meneteskana air ke
wajahnya. Ia terlihat mengerjapkan matanya kemudian menatap ke arahku.
Tampaknya masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang dilihatnya.
“Kenan?” Tanyanya
dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
__ADS_1
“Iya. Ayo pindah ke
atas.” Kataku lagi.
Ia bangkit untuk duduk.
Sejenak digerak-gerakkan kepala dan tangannya lalu dibereskannya kertas-kertas
yang berserakan di bawah meja. Aku membantunya dengan menutup laptop dan
membawanya.
“Kok pipiku basah ya?”
Tanyanya dengan heran. Ia mengusap pipinya.
“Ngiler kali In.”
Jawabku asal.
“Ih, enak aja. Baunya
bukan iler kok.” Katanya mengelak. Aku segera mengalihkan perhatiannya, tidak
ingin ia bertanya lebih jauh tentang air di pipinya. Bisa marah dia.
“Cepat ke atas.” Ajakku
lagi. Aku berjalan mendahuluinya menuju ke anak tangga. Indah beranjak
mematikan lampu ruang keluarga dan mengikuti langkahku menuju ke lantai atas.
“Kalau sudah ngantuk
itu tidur duluan di kamar. Kalau tidur di bawah seperti tadi, badanmu bisa
sakit.” Kataku ketika telah berada di dalam kamar.
“Nggak berani aku kalau
kamu nggak ada. Horor.” Jawabnya dengan menaikkan kedua bahunya. Ia kemudian
menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Mau mandi dulu Ken?”
“Iya.” Aku perlu
menenangkan diri dengan air dingin, mengurangi hawa panas dari dalam tubuhku
yang siap meledak. Bayangannya tanpa busana yang terlihat jelas di layar ponsel
“Hem. Aku tidur dulu.”
Katanya. Kemudian ia bergelung di balik selimut. Ada sedikit kemajuan, kami
tidur tidak lagi dihalangi dengan tumpukan guling setelah peristiwa Indah
memelukku di atas tempat tidur.
***
Indah POV
Tadi aku sangat
mengantuk ketika tertidur di bawah. Bahkan rasanya sulit sekali membuka mata
ini ketika Kenan membangunkanku. Tapi sekarang, ketika telah berada di dalam
kamar, rasa kantuk itu menghilang. Belum lagi aku mendengar suara-suara wanita
menangis dari depan rumah kami. Apa Kenan tidak mendengarnya ya?
Kuputar tubuhku
menghadap ke arah Kenan. Sepertinya ia juga belum tertidur. Biasanya nafas
teratur yang dikeluarkan jika telah terbenam ke alam mimpi. Kulihat ia masih
bergerak-gerak gelisah. Apa mungkin ia juga mendengar suara-suara itu?
Aku mendengar ada suara
perempuan menangis. Tidak terlalu jelas, seperti terbawa angin. Jadi hanya
sayup-sayup aku menangkap suara itu di telingaku ,”Hiks...hiks... mas. Hiks...
hiks... mas.” Itulah suara yang aku dengar. Kurasakan bulu kudukku berdiri dan
jantungku seperti dipompa dengan cepat. Perasaan takut bercampur gelisah
menguasaiku. Seketika pendingin ruangan ini tidak lagi terasa menyejukkan. Rasanya
jantungku lebih berdebar dibandingkan ketika menghadapi razia polisi di jalan
raya. Kalau razia polisi, yang aku hadapi hal yang nyata. Kalau suara-suara
ini, aku tidak yakin dengan apa yang akan aku hadapi. Pikiranku jadi
menerka-nerka, suara manusiakah atau suara bukan manusia? Membayangkan hal ini
__ADS_1
membuat perasaanku semakin tidak menentu.
Akhirnya kuputuskan
untuk berbicara dengan Kenan. Aku ingin ditemani dengan suara Kenan, bukan
dengan suar-suara menakutkan itu. Paling tidak, mungkin suara Kenan bisa
mengalihkan pikiranku.
“Ken... sudah tidur
belum?” Tanyaku.
“Hem....” Begitulah
jawaban Kenan. Walaupun jawabannya singkat, tapi entah kenapa cukup membuat aku
tenang. Berarti ia masih terjaga dan ikut sadar menemaniku.
“Ken....” Kataku lagi.
Aku masih ingin mendengar suaranya lagi. Bisa mengalihkanku dari ketakutan.
“Iya. Kenapa?” Katanya
lagi.
“Nggak bisa tidur.”
Ungkapku. Aku menatap ke matanya yang mulai membuka dan menatapku lekat.
Sepertinya ia juga belum tertidur. Karena matanya langsung membulat dengan
sempurna.
“Kenapa?” Tanyanya
sekali lagi.
“Kamu dengar nggak Ken,
ada suara wanita menangis ‘Hiks...hiks... mas. Hiks... hiks... mas’ begitu.”
Aku mendekatkan diri ke tubuh Kenan. Sisa-sisa aroma parfume bercampur dengan
sabun mandi menguar dari tubuhnya.
“Masa sih? Aku nggak
dengar apapun. Apa kamu mau dipeluk, supaya nggak takut?” Deg, pertanyaan yang
membuatku malu. Mestinya tidak perlu juga diungkapkan pertanyaan polosmu itu,
Kenan. Cukup peluk aku saja dan berikan kekuatan untuk menghalau rasa takut
itu. Kalau menunggu jawabanku, bagaimana aku harus menjawabnya. Bisa malu aku.
Kenan lalu menggeser
tubuhnya mengurangi jarak di antara kami. Kemudian tanpa menunggu jawabanku, ia
meluruskan lengan kirinya di bawah ceruk leherku dan merengkuh bahuku sehingga
kini kepalaku menempel di dadanya.
Oh God, aku merasa
terlindungi. Kini ada rasa lain di dadaku. Rasa berdesir yang halus. Ini rasa
yang belum pernah aku rasakan ketika berdekatan dengan Kenan. Baru malam ini
aku merasakannya. Seperti desiran yang pernah aku rasakan ketika berdekatan
dengan Ben. Apakah aku sudah jatuh cinta dengan Kenan?
Aku dapat merasakan
detak jantung Kenan dan detak jantungku sendiri. Sepertinya kami sama-sama
berdebar mengalami kedekatan seperti saat ini. Aku bukan wanita polos yang
tidak peka merasakan perubahan deru nafas pada pria. Ben juga sering seperti
ini jika aku dekat dengannya apalagi jika suasana cukup mendukung. Kali ini pun
Kenan menunjukkan sikap yang sama, didukung dengan keberadaan kami yang hanya
berdua, di dalam kamar, dan sejuk. Ditambah lagi status kami saat ini adalah
suami istri.
Tetapi semua itu tidak
dapat aku pikirkan lebih jauh karena ternyata aroma tubuh Kenan membuatku
mengantuk, melupakan debaran indah di dadaku. Tak lama kemudian aku pun telah
terbang ke alam mimpi.
***
__ADS_1