THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
29. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

Hai.... I'm back...


 


SELAMAT MEMBACA


Kenan POV


Pukul sepuluh malam aku


tiba di rumah. Bik Janet membukakan pintu untukku. “Indah sudah tidur Bik?”


Tanyaku kepada Bik Janet.


“Sudah tidur, Den. Tapi


di depan TV. Kayaknya nggak berani tidur di atas karena Den Kenan belum


pulang.” Bik Janet segera mengunci pintu gerbang.


Aku masuk ke dalam


rumah. Ketika sampai di ruang keluarga, kulihat Indah yang tertidur di sofa


dengan kepala menyender miring di sandaran sofa. Dia selalu menungguku pulang.


Pukul berapa pun aku pulang, ia selalu begini. Mungkin benar yang dikatakan Bik


Janet, Indah tidak berani berada di atas sendirian. Dugaan itu berdasarkan dari


apa yang aku lihat. Laptopnya tergeletak di meja dan ada kertas berserakan di


bawah meja. Berarti sejak tadi ia tidak mengerjakan tugas di ruang kerja,


tetapi mengerjakannya di bawah.


“Sudah makan, Den?


Kalau mau makan, Bibik siapkan.” Tanya Bik Janet ketika akan melewatiku.


“Nggak usah Bik. Sudah


lama Indah tidur di sini?”


“Non Indah sudah hampir


satu jam tertidur di sini, Den.”


“Ya sudah Bik. Nanti


aku bangunkan Indah.”


“Bibik ke belakang


dulu, Den.” Aku menjawab dengan menganggukan kepala ke arah Bik Janet. Aku


cukup bersyukur karena Bik Janet bersedia mengikuti kami untuk pindah ke sini.


Dengan begitu ia dapat menemani Indah di rumah. Mengingat aku masih sibuk


dengan kuliah dan pekerjaanku.


Kudekati Indah, aku


berjongkok di depannya. Kurapikan sedikit anak rambutnya dan menyelipkan


beberapahelai rambutnya di samping telinga. Apakah pakaian dalam  yang Indah kenakan sama dengan yang tadi


sore? Aku kembali memijit pelipisku, berusaha menghalau pikiran aneh ini dari


kepalaku. Aku harus bisa menahan diri.


“In, pindah ke atas


yuk....” Aku menggenggam salah satu telapak tangannya.


Indah sedikit


menggeliat. Ia tidak tampak bangun atau mengubah posisinya. Aku berpikir


sejenak, bagaimana cara membangunkannya. Tiba-tiba saja muncul ide di kepalaku.


Aku berjalan menuju dapur kuambil gelas yang telah kuisi dengan air.


Kulangkahkan kakiku kembali mendekati Indah. Lalu kuteteskan sedikit air ke


pipi Indah.


Kulihat Indah


menggeliat, kemudian mulai membuka matanya. Segera saja aku letakkan gelas di


atas meja. Aku takut nanti reaksinya marah karena aku meneteskana air ke


wajahnya. Ia terlihat mengerjapkan matanya kemudian menatap ke arahku.


Tampaknya masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang dilihatnya.


“Kenan?” Tanyanya


dengan suara serak, khas orang bangun tidur.

__ADS_1


“Iya. Ayo pindah ke


atas.” Kataku lagi.


Ia bangkit untuk duduk.


Sejenak digerak-gerakkan kepala dan tangannya lalu dibereskannya kertas-kertas


yang berserakan di bawah meja. Aku membantunya dengan menutup laptop dan


membawanya.


“Kok pipiku basah ya?”


Tanyanya dengan heran. Ia mengusap pipinya.


“Ngiler kali In.”


Jawabku asal.


“Ih, enak aja. Baunya


bukan iler kok.” Katanya mengelak. Aku segera mengalihkan perhatiannya, tidak


ingin ia bertanya lebih jauh tentang air di pipinya. Bisa marah dia.


“Cepat ke atas.” Ajakku


lagi. Aku berjalan mendahuluinya menuju ke anak tangga. Indah beranjak


mematikan lampu ruang keluarga dan mengikuti langkahku menuju ke lantai atas.


“Kalau sudah ngantuk


itu tidur duluan di kamar. Kalau tidur di bawah seperti tadi, badanmu bisa


sakit.” Kataku ketika telah berada di dalam kamar.


“Nggak berani aku kalau


kamu nggak ada. Horor.” Jawabnya dengan menaikkan kedua bahunya. Ia kemudian


menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Mau mandi dulu Ken?”


“Iya.” Aku perlu


menenangkan diri dengan air dingin, mengurangi hawa panas dari dalam tubuhku


yang siap meledak. Bayangannya tanpa busana yang terlihat jelas di layar ponsel


“Hem. Aku tidur dulu.”


Katanya. Kemudian ia bergelung di balik selimut. Ada sedikit kemajuan, kami


tidur tidak lagi dihalangi dengan tumpukan guling setelah peristiwa Indah


memelukku di atas tempat tidur.


***


Indah POV


Tadi aku sangat


mengantuk ketika tertidur di bawah. Bahkan rasanya sulit sekali membuka mata


ini ketika Kenan membangunkanku. Tapi sekarang, ketika telah berada di dalam


kamar, rasa kantuk itu menghilang. Belum lagi aku mendengar suara-suara wanita


menangis dari depan rumah kami. Apa Kenan tidak mendengarnya ya?


Kuputar tubuhku


menghadap ke arah Kenan. Sepertinya ia juga belum tertidur. Biasanya nafas


teratur yang dikeluarkan jika telah terbenam ke alam mimpi. Kulihat ia masih


bergerak-gerak gelisah. Apa mungkin ia juga mendengar suara-suara itu?


Aku mendengar ada suara


perempuan menangis. Tidak terlalu jelas, seperti terbawa angin. Jadi hanya


sayup-sayup aku menangkap suara itu di telingaku ,”Hiks...hiks... mas. Hiks...


hiks... mas.” Itulah suara yang aku dengar. Kurasakan bulu kudukku berdiri dan


jantungku seperti dipompa dengan cepat. Perasaan takut bercampur gelisah


menguasaiku. Seketika pendingin ruangan ini tidak lagi terasa menyejukkan. Rasanya


jantungku lebih berdebar dibandingkan ketika menghadapi razia polisi di jalan


raya. Kalau razia polisi, yang aku hadapi hal yang nyata. Kalau suara-suara


ini, aku tidak yakin dengan apa yang akan aku hadapi. Pikiranku jadi


menerka-nerka, suara manusiakah atau suara bukan manusia? Membayangkan hal ini

__ADS_1


membuat perasaanku semakin tidak menentu.


Akhirnya kuputuskan


untuk berbicara dengan Kenan. Aku ingin ditemani dengan suara Kenan, bukan


dengan suar-suara menakutkan itu. Paling tidak, mungkin suara Kenan bisa


mengalihkan pikiranku.


“Ken... sudah tidur


belum?” Tanyaku.


“Hem....” Begitulah


jawaban Kenan. Walaupun jawabannya singkat, tapi entah kenapa cukup membuat aku


tenang. Berarti ia masih terjaga dan ikut sadar menemaniku.


“Ken....” Kataku lagi.


Aku masih ingin mendengar suaranya lagi. Bisa mengalihkanku dari ketakutan.


“Iya. Kenapa?” Katanya


lagi.


“Nggak bisa tidur.”


Ungkapku. Aku menatap ke matanya yang mulai membuka dan menatapku lekat.


Sepertinya ia juga belum tertidur. Karena matanya langsung membulat dengan


sempurna.


“Kenapa?” Tanyanya


sekali lagi.


“Kamu dengar nggak Ken,


ada suara wanita menangis ‘Hiks...hiks... mas. Hiks... hiks... mas’ begitu.”


Aku mendekatkan diri ke tubuh Kenan. Sisa-sisa aroma parfume bercampur dengan


sabun mandi menguar dari tubuhnya.


“Masa sih? Aku nggak


dengar apapun. Apa kamu mau dipeluk, supaya nggak takut?” Deg, pertanyaan yang


membuatku malu. Mestinya tidak perlu juga diungkapkan pertanyaan polosmu itu,


Kenan. Cukup peluk aku saja dan berikan kekuatan untuk menghalau rasa takut


itu. Kalau menunggu jawabanku, bagaimana aku harus menjawabnya. Bisa malu aku.


Kenan lalu menggeser


tubuhnya mengurangi jarak di antara kami. Kemudian tanpa menunggu jawabanku, ia


meluruskan lengan kirinya di bawah ceruk leherku dan merengkuh bahuku sehingga


kini kepalaku menempel di dadanya.


Oh God, aku merasa


terlindungi. Kini ada rasa lain di dadaku. Rasa berdesir yang halus. Ini rasa


yang belum pernah aku rasakan ketika berdekatan dengan Kenan. Baru malam ini


aku merasakannya. Seperti desiran yang pernah aku rasakan ketika berdekatan


dengan Ben. Apakah aku sudah jatuh cinta dengan Kenan?


Aku dapat merasakan


detak jantung Kenan dan detak jantungku sendiri. Sepertinya kami sama-sama


berdebar mengalami kedekatan seperti saat ini. Aku bukan wanita polos yang


tidak peka merasakan perubahan deru nafas pada pria. Ben juga sering seperti


ini jika aku dekat dengannya apalagi jika suasana cukup mendukung. Kali ini pun


Kenan menunjukkan sikap yang sama, didukung dengan keberadaan kami yang hanya


berdua, di dalam kamar, dan sejuk. Ditambah lagi status kami saat ini adalah


suami istri.


Tetapi semua itu tidak


dapat aku pikirkan lebih jauh karena ternyata aroma tubuh Kenan membuatku


mengantuk, melupakan debaran indah di dadaku. Tak lama kemudian aku pun telah


terbang ke alam mimpi.


***

__ADS_1


__ADS_2