THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
8. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲


Seperti biasa, pagi ini


Indah bertugas untuk memasak dengan Lena. Pembagian tugas  selama KKN ini, mereka bertugas memasak


bergantian, dua orang dua orang. Hari ini mereka berdua berencana memasak tahu


tempe bacem, ikan asin sambal hijau, tumis sawi, dan kerupuk. Selama berada di


tempat KKN ini mereka memang mengolah masakan dari bahan baku yang ada. Jadi


menu yang dihidangkan seputar tahu, tempe, telur, ikan asin, kerupuk, dan


sayur-sayuran lokal. Tak apalah, sesekali mereka belajar hidup  dengan menerima keadaan.


Mengkonsumsi makanan


lokal juga sehat. Selain itu tentunya  sehat di kantong juga. Apalagi jika dapat mengolah bahan makanan itu


dengan baik. Nilai gizi yang terkandung dalam makanan tidak berkurang.


Kurang dari satu jam,


makanan yang diolah oleh keduanya telah selesai dimasak. Makanan itu kemudian


diletakkan ke dalam piring dan mangkuk saji dan dimasukkan ke dalam lemari.


Nanti siang biasanya mereka bersantap siang bersama menjelang pukul 12.


“Aduh....” Tiba-tiba


saja Indah menjatuhkan piring kosong dari tangannya. Suara piring yang beradu


dengan lantai keramik, membuat Lena kaget. Piring itu pecah berantakan di dekat


kaki Indah.


“In, kamu nggak apa-apa


kan?” Lena segera menghampiri Indah dan membantunya membersihkan pecahan piring.


“Nggak papa Len. Hanya


tiba-tiba saja, peganganku terlepas.” Indah berjongkok membereskan pecahan


piring. “Aku rasanya deg-degan, Len. Jantungku berdebar-debar.” Indah mengusap


dadanya.


Lena menatap Indah, “Kamu sakit In?”


“Enggak juga. Aku


sehat-sehat saja. Hanya jantungku yang tiba-tiba berdebar cepat.”


“Mungkin kamu lelah.


Atau semalam kurang tidur. Ya sudah, nanti istirahat saja di kamar.” Lena


menenangkan Indah. Ia mengusap lengan temannya dengan rasa khawatir.


Tak berapa lama


kemudian ponsel yang berada dalam saku celana Indah bergetar. Ia merogoh


kantung celananya dan melihat layar ponselnya. Sejenak ia tertegun melihat nama


Tante Helena tertera di sana. Tumben, tante menelepon, jangan-jangan ada


sangkut pautnya dengan Kenan. Tiba-tiba saja Indah kepikiran Kenan.


“Hallo tante.”


....


“Baik tan.”


....


“Pulang? Maksud tante?”


....


Indah tidak lagi


berdiri dengan tegak. Tubuhnya menyeder di dinding dapur dan kemudian merosot.


Ia pingsan. Untung ada Lena di sebelahnya yang sigap menangkap tubuhnya.


***


“Huhuhuhu....” Indah


masih terisak di pelukan Helena. Tubuhnya seolah tidak bertenaga. Ia tak mampu

__ADS_1


menyangga duduknya dengan tegak. Tulang-tulangnya serasa tak mampu ditegakkan.


Empat jam yang lalu


Indah sampai di rumah sakit ini. Ia tidak sempat bertemu dengan Ayahnya.


Ayahnya telah lebih dahulu meninggal. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa


ayahnya meninggal di tempat kejadian kecelakaan, ketika truk yang membawa


potongan kayu terguling menabrak mobil yang dikendarai ayahnya. Sementara


bundanya, ia masih sempat berbicara kepada Bundanya sebelum akhirnya bunda


menghembuskan nafas yang terakhir.


“Ayah, Bunda... hiks...


hiks....” Isak Indah.


“Sayang. Sabar nak.”


Helena memeluk Indah dan mengusap punggungnya dengan lembut. Ia merasakan


kesedihan Indah.


“Ayah dan Bunda


meninggalkan aku sendirian, tante.” Deraian air mata kembali membasahi pipinya.


“Nak, Indah sekarang


punya mami Helena. Kita keluarga, sayang. Ada mami, papi, Adelia, Kenan, dan


Jenny. Kami semua sekarang keluargamu. Kita hadapi ini semua bersama ya


sayang.” Helena kembali mengeratkan pelukannya, memberikan kekuatan kepada


gadis kecil di hadapannya.


***


Indah POV :


Hari ini adalah saat


yang paling menyedihkan dalam hidupku. Ayah dan Bunda meninggalkan aku


sendirian di dunia ini. Tidak ada saudara karena aku adalah anak tunggal.


takut menghadapinya. Selama ini aku sangat bergantung kepada Ayah dan Bunda.


Mereka memanjakanku dan selalu berusaha membuatku bahagia. Aku tidak bisa


membayangkan menghadapi hari-hariku tanpa Ayah dan Bunda. Bagaimana jika kau


menghadapi masalah? Bagaimana jika aku menghadapi kesulitan? Kepada siapa aku


nanti akan meminta bantuan?


Bahagia? Aku belum


sempat memberikan arti bahagia untuk mereka. Tuhan tidak memberiku kesempatan.


Bahkan sekolahku juga belum selesai. Ayah, Bunda, kenapa tidak menungguku


sebentar lagi?


Kesempatan? Sebenarnya


banyak kesempatan untuk membahagiakan mereka. Tetapi aku tidak sadar dengan


kesempatan itu. Untuk sekedar melakukan hal kecil yang dapat membuat mereka


bahagia. Kini, tidak ada kesempatan itu sama sekali.


Menyesal. Itulah yang


ada dalam benakku sekarang.


Ternyata inilah rasanya


kehilangan yang sangat menyedihkan.


Bunda sempat berbicara


sedikit kepadaku dan tante Helena sebelum melepaskan nafasnya yang terakhir. Ia


menitipkan aku kepada tante Helena. Dan yang paling aku ingat adalah


permintaannya untuk menjadikan aku sebagai menantu tante Helena, yaitu menjadi


istri dari Kenan. Aku tidak lagi kaget, karena Bunda pernah membicarakan hal


ini kepadaku.

__ADS_1


Tante Helena masih


memelukku yang menangis sesegukan. Ia berusaha menghiburku. Dan juga tante


menerimaku sebagai anaknya. Tentu saja sebagai calon menantunya. Pikiranku


masih kalut. Aku tidak mampu memikirkan apa-apa. Dan tiba-tiba semuanya menjadi


gelap.


“Indah... Indah...


Indah...” Aku mendengar suara-suara memanggilku. Tetapi aku ingin tidur saja.


Aku ingin dipeluk mimpi yang bisa membahagiakanku. Kemudian semuanya menjadi


gelap dan dingin.


***


Kenan POV :


Aku melihat tubuh


kecilnya merosot, menjadi tak bertenaga di hadapan mami. Indah pingsan lagi.


Entah sudah berapa kali Indah pingsan karena mengalami hal yang paling


menyedihkan dalam hidupnya. Sepanjang hari ini aku hanya melihatnya menangis


dan pingsan.


Aku tidak dekat dengan


Indah, hanya sebatas tahu. Tapi hari ini aku merasakan nyeri di dada melihatnya


menangis di pelukan mami. Rasanya aku ingin menggantikan mami, memeluknya dan


memberikan kekuatan. Aku ingin merengkuhnya dan mengatakan semuanya akan


baik-baik saja.


Tiba-tiba hal aneh ini


berputar di dalam kepalaku. Kenapa aku jadi ingin sekali melindunginya? Aku


rasa ucapan Mami tempo hari tentang rencana perjodohan itu telah mulai


mempengaruhi pemikiranku, membuatku melihat Indah sebagai sosok yang lain. Sosok


wanita yang ingin aku lindungi.


Tuhan, berikan aku


kesempatan untuk menjaganya.


***


Seminggu lamanya Indah


izin tidak mengikuti kegiatan KKN. ia masih berada di kampung halamannya.


Setelah mengirim doa di hari yang ketujuh ia baru berencana untuk kembali ke


lokasi KKN. Teman-teman KKN sempat melayat ke rumahnya, juga ketiga sahabatnya


yaitu Tengklik, Upil, dan Arif. Namun yang mengherankan, Ben sama sekali tidak


menampakkan batang hidungnya. Tapi sudahlah, toh kehadiran teman-temannya


memberikan kekuatan dan penghiburan bagi Indah.


Kini Indah sendirian di


dalam rumahnya. Ia masih menikmati aroma rumahnya lekat-lekat karena esok ia


harus meninggalkan rumah ini. Besok ia harus kembali ke lokasi KKN. Walaupun Helena


bersikeras agar Indah tinggal di rumahnya, namun Indah masih ingin mengingat


kenangan bersama ayah bundanya di kediamannya.


Indah masih belum bisa


membereskan pakaian orang tuanya. Biarlah ia menyimpan semuanya sebagai


kenangan. Karena hanya itulah yang tersisa. Bahkan pakaian itu masih menyisakan


aroma tubuh kedua orang tuanya, menurut Indah. Suatu saat nanti, jika ia telah


siap, pasti ia akan membereskan semuanya.


🌲🌲🌲🌲🌲


Mbak Indahnya lagi sedih, minta ditemani.

__ADS_1



__ADS_2