
🌲 SELAMAT MEMBACA 🌲
Seperti biasa, pagi ini
Indah bertugas untuk memasak dengan Lena. Pembagian tugas selama KKN ini, mereka bertugas memasak
bergantian, dua orang dua orang. Hari ini mereka berdua berencana memasak tahu
tempe bacem, ikan asin sambal hijau, tumis sawi, dan kerupuk. Selama berada di
tempat KKN ini mereka memang mengolah masakan dari bahan baku yang ada. Jadi
menu yang dihidangkan seputar tahu, tempe, telur, ikan asin, kerupuk, dan
sayur-sayuran lokal. Tak apalah, sesekali mereka belajar hidup dengan menerima keadaan.
Mengkonsumsi makanan
lokal juga sehat. Selain itu tentunya sehat di kantong juga. Apalagi jika dapat mengolah bahan makanan itu
dengan baik. Nilai gizi yang terkandung dalam makanan tidak berkurang.
Kurang dari satu jam,
makanan yang diolah oleh keduanya telah selesai dimasak. Makanan itu kemudian
diletakkan ke dalam piring dan mangkuk saji dan dimasukkan ke dalam lemari.
Nanti siang biasanya mereka bersantap siang bersama menjelang pukul 12.
“Aduh....” Tiba-tiba
saja Indah menjatuhkan piring kosong dari tangannya. Suara piring yang beradu
dengan lantai keramik, membuat Lena kaget. Piring itu pecah berantakan di dekat
kaki Indah.
“In, kamu nggak apa-apa
kan?” Lena segera menghampiri Indah dan membantunya membersihkan pecahan piring.
“Nggak papa Len. Hanya
tiba-tiba saja, peganganku terlepas.” Indah berjongkok membereskan pecahan
piring. “Aku rasanya deg-degan, Len. Jantungku berdebar-debar.” Indah mengusap
dadanya.
Lena menatap Indah, “Kamu sakit In?”
“Enggak juga. Aku
sehat-sehat saja. Hanya jantungku yang tiba-tiba berdebar cepat.”
“Mungkin kamu lelah.
Atau semalam kurang tidur. Ya sudah, nanti istirahat saja di kamar.” Lena
menenangkan Indah. Ia mengusap lengan temannya dengan rasa khawatir.
Tak berapa lama
kemudian ponsel yang berada dalam saku celana Indah bergetar. Ia merogoh
kantung celananya dan melihat layar ponselnya. Sejenak ia tertegun melihat nama
Tante Helena tertera di sana. Tumben, tante menelepon, jangan-jangan ada
sangkut pautnya dengan Kenan. Tiba-tiba saja Indah kepikiran Kenan.
“Hallo tante.”
....
“Baik tan.”
....
“Pulang? Maksud tante?”
....
Indah tidak lagi
berdiri dengan tegak. Tubuhnya menyeder di dinding dapur dan kemudian merosot.
Ia pingsan. Untung ada Lena di sebelahnya yang sigap menangkap tubuhnya.
***
“Huhuhuhu....” Indah
masih terisak di pelukan Helena. Tubuhnya seolah tidak bertenaga. Ia tak mampu
__ADS_1
menyangga duduknya dengan tegak. Tulang-tulangnya serasa tak mampu ditegakkan.
Empat jam yang lalu
Indah sampai di rumah sakit ini. Ia tidak sempat bertemu dengan Ayahnya.
Ayahnya telah lebih dahulu meninggal. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa
ayahnya meninggal di tempat kejadian kecelakaan, ketika truk yang membawa
potongan kayu terguling menabrak mobil yang dikendarai ayahnya. Sementara
bundanya, ia masih sempat berbicara kepada Bundanya sebelum akhirnya bunda
menghembuskan nafas yang terakhir.
“Ayah, Bunda... hiks...
hiks....” Isak Indah.
“Sayang. Sabar nak.”
Helena memeluk Indah dan mengusap punggungnya dengan lembut. Ia merasakan
kesedihan Indah.
“Ayah dan Bunda
meninggalkan aku sendirian, tante.” Deraian air mata kembali membasahi pipinya.
“Nak, Indah sekarang
punya mami Helena. Kita keluarga, sayang. Ada mami, papi, Adelia, Kenan, dan
Jenny. Kami semua sekarang keluargamu. Kita hadapi ini semua bersama ya
sayang.” Helena kembali mengeratkan pelukannya, memberikan kekuatan kepada
gadis kecil di hadapannya.
***
Indah POV :
Hari ini adalah saat
yang paling menyedihkan dalam hidupku. Ayah dan Bunda meninggalkan aku
sendirian di dunia ini. Tidak ada saudara karena aku adalah anak tunggal.
takut menghadapinya. Selama ini aku sangat bergantung kepada Ayah dan Bunda.
Mereka memanjakanku dan selalu berusaha membuatku bahagia. Aku tidak bisa
membayangkan menghadapi hari-hariku tanpa Ayah dan Bunda. Bagaimana jika kau
menghadapi masalah? Bagaimana jika aku menghadapi kesulitan? Kepada siapa aku
nanti akan meminta bantuan?
Bahagia? Aku belum
sempat memberikan arti bahagia untuk mereka. Tuhan tidak memberiku kesempatan.
Bahkan sekolahku juga belum selesai. Ayah, Bunda, kenapa tidak menungguku
sebentar lagi?
Kesempatan? Sebenarnya
banyak kesempatan untuk membahagiakan mereka. Tetapi aku tidak sadar dengan
kesempatan itu. Untuk sekedar melakukan hal kecil yang dapat membuat mereka
bahagia. Kini, tidak ada kesempatan itu sama sekali.
Menyesal. Itulah yang
ada dalam benakku sekarang.
Ternyata inilah rasanya
kehilangan yang sangat menyedihkan.
Bunda sempat berbicara
sedikit kepadaku dan tante Helena sebelum melepaskan nafasnya yang terakhir. Ia
menitipkan aku kepada tante Helena. Dan yang paling aku ingat adalah
permintaannya untuk menjadikan aku sebagai menantu tante Helena, yaitu menjadi
istri dari Kenan. Aku tidak lagi kaget, karena Bunda pernah membicarakan hal
ini kepadaku.
__ADS_1
Tante Helena masih
memelukku yang menangis sesegukan. Ia berusaha menghiburku. Dan juga tante
menerimaku sebagai anaknya. Tentu saja sebagai calon menantunya. Pikiranku
masih kalut. Aku tidak mampu memikirkan apa-apa. Dan tiba-tiba semuanya menjadi
gelap.
“Indah... Indah...
Indah...” Aku mendengar suara-suara memanggilku. Tetapi aku ingin tidur saja.
Aku ingin dipeluk mimpi yang bisa membahagiakanku. Kemudian semuanya menjadi
gelap dan dingin.
***
Kenan POV :
Aku melihat tubuh
kecilnya merosot, menjadi tak bertenaga di hadapan mami. Indah pingsan lagi.
Entah sudah berapa kali Indah pingsan karena mengalami hal yang paling
menyedihkan dalam hidupnya. Sepanjang hari ini aku hanya melihatnya menangis
dan pingsan.
Aku tidak dekat dengan
Indah, hanya sebatas tahu. Tapi hari ini aku merasakan nyeri di dada melihatnya
menangis di pelukan mami. Rasanya aku ingin menggantikan mami, memeluknya dan
memberikan kekuatan. Aku ingin merengkuhnya dan mengatakan semuanya akan
baik-baik saja.
Tiba-tiba hal aneh ini
berputar di dalam kepalaku. Kenapa aku jadi ingin sekali melindunginya? Aku
rasa ucapan Mami tempo hari tentang rencana perjodohan itu telah mulai
mempengaruhi pemikiranku, membuatku melihat Indah sebagai sosok yang lain. Sosok
wanita yang ingin aku lindungi.
Tuhan, berikan aku
kesempatan untuk menjaganya.
***
Seminggu lamanya Indah
izin tidak mengikuti kegiatan KKN. ia masih berada di kampung halamannya.
Setelah mengirim doa di hari yang ketujuh ia baru berencana untuk kembali ke
lokasi KKN. Teman-teman KKN sempat melayat ke rumahnya, juga ketiga sahabatnya
yaitu Tengklik, Upil, dan Arif. Namun yang mengherankan, Ben sama sekali tidak
menampakkan batang hidungnya. Tapi sudahlah, toh kehadiran teman-temannya
memberikan kekuatan dan penghiburan bagi Indah.
Kini Indah sendirian di
dalam rumahnya. Ia masih menikmati aroma rumahnya lekat-lekat karena esok ia
harus meninggalkan rumah ini. Besok ia harus kembali ke lokasi KKN. Walaupun Helena
bersikeras agar Indah tinggal di rumahnya, namun Indah masih ingin mengingat
kenangan bersama ayah bundanya di kediamannya.
Indah masih belum bisa
membereskan pakaian orang tuanya. Biarlah ia menyimpan semuanya sebagai
kenangan. Karena hanya itulah yang tersisa. Bahkan pakaian itu masih menyisakan
aroma tubuh kedua orang tuanya, menurut Indah. Suatu saat nanti, jika ia telah
siap, pasti ia akan membereskan semuanya.
🌲🌲🌲🌲🌲
Mbak Indahnya lagi sedih, minta ditemani.
__ADS_1