
SELAMAT MEMBACA
INDAH POV
"Kamu kali ini yang traktir kami." Arif melajukan motornya menuju Rumah Makan Ayam Goreng Nitnit yang terkenal enak itu.
Aku dibonceng Arif karena tidak bersama Omer. Tadi pagi Kenan mengantarku ke kampus sebelum pergi ke Perpustakaan Daerah. Nanti sore ia berjanji akan menjemputku.
Kini motornya telah berada di tempat parkir yang hampir terisi penuh. Aku menjejakkan kaki di lantai berpaving, turun dari motornya. Kemudian kuulurkan helm yang tadi kupakai ke arah Arif. "Tumben bawa helm dua. Curiga aku." Aneh kan, bawa helm cadangan di motornya seolah ada yang bersiap untuk dibonceng.
"Mau jemput calon istri." Jawabnya dengan senyum miring.
"Cie, cerita dong." Aku penasaran. Dengan gemas kusenggol-senggol lengannya. Rasanya sangat tidak sabar untuk mendengar ceritanya.
"Eh, jangan menghindar ya. Hari ini khusus kamu yang cerita tentang pernikahanmu. Karena kamu yang harus traktir kami." Jarinya menyentil hidungku.
"Aw... nggak apa apa deh, aku yang traktir, tapi kamu yang cerita." Kataku lagi, masih berusaha memancingnya bercerita.
"No." Ia menarik lenganku dan memaksaku mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah makan. Kami menuju ke meja yang terletak di pojok ruangan di lantai dua. Dengan susah payah aku mengikuti langkah lebarnya.
Kami duduk berhadapan. "Mau pesan apa?" tanyaku.
"Nanti aja deh, nunggu Tengklik dan Upil datang. Nggak lama lagi. Tadi hanya tinggal menunggu Tengklik selesai bimbingan dengan dosen." Arif menerangkan kepadaku.
"Eh, ngomong-ngomong, pacarnya Tengklik siapa sih? Kenapa nggak dikenalin ke kita-kita?" Tanyaku.
"Ngaca Inem. Kamu sendiri juga nggak cerita cerita ke kami. Kenapa?"
Aku mengedikkan bahu, sedikit tersadar dengan ucapan Arif. "Aku takut aja, netijen bakal bully aku karena menikah dengan Kenan. Aku kan nggak siap punya haters." Jawabku. Memang itulah yang aku rasakan. Aku tidak berani menghadapinya. "Kenan itu banyak fansnya." Lanjutku.
Arif menyipitkan matanya dan tersenyum. "Aku siap jadi tukang pukul haters-mu."
Aku tertawa mendengar kesanggupannya dan memukul bahunya.
"Hai... hallo friends...." Tengklik dan Upil yang baru saja sampai, menghampiri kami. Aku segera menyambut Tengklik yang sudah lama tidak kujumpai. Kami berpelukan dan cipika cipiki. Sahabatku yang satu ini jarang kami temui akhir-akhir ini, tepatnya ketika ia berpacaran dengan seseorang. Tampaknya pacarnya tidak terlalu suka bersosialisasi dengan kami.
"Beda ya, Tengklik dicium cium. Aku dicuekin." Upil memasang wajah cemberut.
"Eleuh eleuh... cemburu. Mau cipika cipiki sama aku setiap hari? Nggak bosen?" Tanyaku sembari mencebik.
"Haha... males sih kalo kamu yg nyium, Nem. Kalo Christ Evans, mau deh." Kata Upil dengan mencibir.
__ADS_1
Kami duduk berempat, saling berhadapan. Pesanan yang kami tunggu pun sudah datang. Segera saja kami mulai menyantap menu spesial rumah makan ini, yaitu ayam goreng kalasan.
Aku merasa senang berada bersama keempat sahabatku ini. Persahabatan kami cukup langgeng dan kami saling mengerti.
Tiba saatnya bagiku untuk bercerita tentang pernikahanku kepada sahabatku.
Aku bercerita sejak awal mengenal Kenan, termasuk persabatanku dengan Adelia kakaknya Kenan. Selanjutnya mami Kenan dan Bundaku yang sangat ingin menjodohkan kami. Kami ternyata kuliah di kampus yang sama, beberapa kali kami bertemu. Sampai akhirnya kecelakaan kedua orang tuaku yang membuat kami segera melangsungkan pernikahan kami.
"Inem, di antara kita berempat, baru kamu yang menikah. Cerita dong tentang pengalaman kamu selama menikah, walaupun baru hitungan bulan." Tengklik menatapku dengan tatapan kepo.
"Cerita apa ya? Ehm... .menikah itu proses adaptasi dengan orang lain seumur hidup. Di dalam proses itu, banyak yang akan dilalui. Susah, senang, bahagia, dan sedih." Jawabku.
"Kalau malam pertamanya gimana In?" Tanya Upil dengan wajah sok polosnya.
Uhuk... pertanyaannya membuatku tersedak. Bukan hanya itu, kurasa wajahku memanas hanya karena pertanyaan itu.
Mau malam pertama bagaimana? Saling jatuh cinta saja, baru terjadi.
"Nggak ya, nggak akan aku ceritakan. Nggak surprise lagi untuk kalian jika suatu saat nanti kalian mengalaminya. Lagi pula, kalau aku cerita, rasanya menelanjangi diri sendiri di depan kalian. Ogah ah." Jawabku.
"Nggak seru jawabannya. Sedikit aja lho, In." Tengklik menimpali Upil.
"Ye, kalian nggak malu, ada laki laki di sini?" Tanyaku kepada Upil dan Tengklik.
"Dasar Upil... mau bukti apa?" Arif melotot ke arahnya dengan berpura-pura garang.
"NO...." Serempak kami bertiga tidak setuju.
"Hahah...." Arif terkekeh geli. Lagian ya, entah kenapa, Arif ini selalu nyempil di antara kami bertiga yang cewek - cewek.
"Friends, dengar ya... Arif sudah punya calon istri lho...." Aku mendentingkan sendok di gelas es teh.
"Oh ya?" Tanya Upil tidak percaya. "Benar Rif?"
"Huh... si Inem ini bikin gagal rencanaku saja. Aku mau pamer tiba tiba di hadapan kalian dengan mengenalkannya."
"Ya, pupus deh, rencana mau saudaraan sama kamu, mau ngenalin kamu sama sepupuku." Upil terlihat menyesal.
"Ogah, sodaraan sama kamu, Pil. Banyak susahnya di aku." Arif melambaikan tangannya, memberi isyarat penolakan.
"Hahah... awas kualat ya." Tangan Upil mendorong kepala Arif. Sementara Arif membalasnya dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Sudah, nggak usah berantem." Leraiku. "Selama janur kuning belum melengkung, belum tentu jodoh, Pil." Tambahku.
"Eh, kamu berharap aku putus gitu?" Arif menoyor kepalaku.
"Nah, ngaku dia. Sudah jadian ternyata. Kalau begitu, berikutnya Arif yang traktir kita." Ucapku.
"YES..." Upil dan Tengklik serempak bersorak.
Aku menghentikan obrolanku karena perhatianku teralih dengan suara ponsel di tasku. Ponsel berwarna abu abu itu kuambil dari saku tas depan. Tertera nama 'my bro' di sana. Sebutanku untuk suami tercinta.
"Hallo..."
"Lagi makan di Rumah Makan Nitnit."
"Iya, masih lama."
"Kutunggu yah."
Ponsel kumasukkan kembali ke dalam saku tas.
"Ehm, ditelepon suami?" Tanya Upil.
"Iya. Dia sedang menuju ke sini. Mau makan di sini juga." Jawabku.
"Inem, serius ini mau tanya. Sakit nggak pas pertama kali?" Upil tiba tiba mendekat dan berbisik kepadaku.
"Tau ah. Rasain sendiri." Aku mengedikkan bahu.
Aku mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk yang menghubungkan lantai 2 dan lantai satu. Kulihat lelaki tampan yang kutunggu.
Kenan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna krem, celana kain berwarna hitam. Rambutnya disisir rapi ke belakang seperti biasanya. Aku sudah membayangkan aroma harumnya walaupun belum sampai di dekatku. Aroma dua parfum yang selalu disemprot ke tubuhnya membuat perpaduan wangi yang unik dan memanjakan hidungku.
Ketiga temanku terdiam melihat kedatangan brondong tampan ini. Aku terpaku di tempat, speechless.
Tanpa ragu, Kenan mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di sampingku. Kemudian ia duduk dan menatap datar kami berempat bergantian.
Aku putuskan untuk memperkenalkan suamiku secara resmi. 😄
"Friends, ini perkenalan resmi ya." Aku menggeser dudukku mendekati Kenan, sampai sisi kaki kiriku menempel di sisi kaki kanannya. "Perkenalkan suamiku, Kenan Restu Smith. Kenan, mereka ini sahabatku sejak awal kuliah, Upil, Tengklik, dan Arif."
Huft, akhirnya selesai juga backstreetnya. Ternyata backstreet itu melelahkan, teman.
__ADS_1
Ini penampakan Kenan ketika memasuki Rumah Makan Ayam Goreng Nitnit...