
SELAMAT MEMBACA
INDAH POV
“Kenan, aku dengar kok
kamu ngomong apa tadi di Skybar.” Aku memiringkan tubuhku sehingga menghadap ke
arah Kenan yang kini terbaring di sampingku. Kenan belum tidur. Aku tahu dari
caranya bernafas, sangat tidak teratur dan sesekali tubuhnya bergerak-gerak
tidak nyaman. Ia masih tidak mendengarkanku. Matanya pura-pura terpejam.
Mungkin ia malu dengan pengakuannya tadi. Tidak tahu saja dirinya bahwa aku pun
berdebar mendengar pengakuannya.
“Ken... Kenan....”
Jari-jari tanganku menelusuri hidungnya yang besar tetapi mancung.Ia masih saja memejamkan
matanya. Mungkin ia menghindari percakapan denganku. Kupencet saja hidungnya,
agar tidak mengabaikanku.
“In, kamu ganggu orang
tidur.” Katanya. Matanya membulat menatapku.
“Ya sudah, aku nggak
jadi ngomong.” Kuputar tubuhku memunggunginya. Tidak tahu dia kalau aku masih
dag dig dug dengan pengakuan cintanya tadi. Pengakuan cinta yang malu-malu.
Tidak ada siaran ulang katanya tadi hehe.
Aku merasakan
pergerakan di belakangku. Tubuhku tiba-tiba menegang karena Kenan memeluk
pinggangku dari belakang. Rasanya bulu-bulu halus di kulitku berdiri, menerima
sentuhannya yang terasa bagai aliran listrik. “Mau ngomong apa, Indah?”
suaranya lembut di telingaku. Hembusan nafasnya bisa kurasakan dari belakang
cuping telingaku. Aku merinding. Tapi aku masih tidak membalikkan tubuhku.
Mungkin Kenan malu jika wajahku berada di hadapannya. Jadi kubiarkan saja
posisi ini.
“Aku dengar, tadi kamu
ngomong apa.”Ucapku perlahan.
“Oh. Yang mana?”
“Yang tadi itu. Kamu
bilang I love you.” Kataku lagi. Kenan terdiam. Benar kan, dia malu
mengakuinya. Tidak mungkin aku salah dengar tadi, tapi berat sekali untuk
mengulang ucapan itu. Suasana masih hening di antara kami. Hanya hembusan nafas
kami yang terdengar.
“Iya. Aku bilang itu.”
Akhirnya pengakuannya keluar. Walaupun ia tidak mengulangi tiga kata ajaib itu.
“Terus, jawabannya apa?” Tanyanya.
Aku membalikkan tubuhku
menghadapnya. Suasana di kamar kami cukup temaram sehingga aku tidak melihat
perubahan warna wajahnya. “Itu bukan kalimat pertanyaan, Kenan. Aku harus jawab
apa? Itu pernyataan.” Kataku lagi.
Ia menarik tangannya
yang melingkar di pinggangku. Tangannya baralih menggaruk tengkuknya. Bingung
ya, mau bilang apa? “Kalimat tanya ya? Ehm... Do you love me?” Katanya
kemudian.
Matanya terpejam. “Eh,
kenapa merem?” tanyaku.
__ADS_1
“Takut dengan
jawabannya. Takut ditolak.” Katanya lagi. Aku pun terkekeh mendengarnya.
“Ya ampun, bagaimana
bisa aku menolak suamiku sendiri?”
“Jadi aku diterima?”
Kenan membuka matanya dan menatapku lekat.
“Apa sih ini? Bukan
diterima dan nggak diterima, Kenan. Kita bukan pacaran.” Aku heran dengan
pikiran Kenan. Apakah kami seperti orang yang menyatakan perasaan seperti orang
yang sedang pacaran? Aneh deh.
“Kamu mau bilang nggak
cinta aku kan?” Perkataannya terdengar mengandung kekecewaan. Aku terdiam
sejenak. Bagaimana aku harus menjawabnya. Aku belum mencintainya, tetapi aku
sangat menyukainya.
“Kamu pesimis begitu
Ken. Apa aku terlihat tidak menyukaimu?” Aku menangkup wajahnya agar menghadap
ke arahku. Tidak enak rasanya sedari tadi ia berbicara tetapi tidak menghadap
kepadaku. Begitu malunya kamu Kenan? Aku teruskan lagi ucapanku, “Ibaratnya
tanaman ya, di sini sudah tumbuh benih-benih cinta yang kamu tanam. Kalau kamu
rajin merawatnya, ia akan tumbuh subur dan semakin besar.” Kataku sembari
memegang dada.
Ia menatapku lekat. Kulihat
matanya menyipit karena senyuman lebar di bibirnya. Kamu lucu sekali, suami
brondongku.
“Terima kasih Indah. I
berkali-kali. Akhirnya kata-kata ajaib itu terucap lagi dari bibirnya. Tidak
perlu kuragukan lagi ya, perasaannya untukku.
Jantungku, bekerja
lebih cepat, bertalu-talu tidak menentu.
“In, boleh cium ya,
sayang.” Hem... minta izin dia. Aku pun menganggukkan kepala.
Apa katanya, sayang?
Boleh ya, aku pingsan sekarang. Satu kata itu mengandung hipnotis.
Kulihat tatapannya yang
lembut kepadaku. Lalu ia bergerak. Sejujurnya aku semakin berdebar membayangkan
apa yang akan dilakukan Kenan. Malam ini, pasti kami akan berciuman untuk yang
pertama kali.
Wajahnya mendekat. Perlahan
jarak antara kami terkikis. Bibirnya menyentuh bibirku. Dengan lembut ia
mengecup bibir bawahku, berpindah ke bibir atas. Lalu lidahnya mulai bermain.
Dan dengan perlahan ia menautkan bibirnya padaku bergantian. Lidahnya menyeruak masuk ke
dalam mulutku. Tautan bibir itu membuatku memejamkan mata dan menikmatinya.
Ciumannya kurasakan semakin dalam dan bergairah. Aku pun membalasnya.
Ya ampun, tanpa sadar
aku mengeluarkan suara-suara aneh. Tidak dapat kutahan. Kenan pun
demikian.
Ternyata sentuhan dan
tautan bibir Kenan membuatku semakin mendambakan sentuhan bibirnya di kulitku.
__ADS_1
Aku semakin haus akan sentuhannya.
Kenan menarik dirinya
dan melepaskan tautan bibir kami. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Aku pun
menghirup oksigen dalam-dalam. Tiba-tiba aku merasa kehilangan, kehilangan
bibirnya. Aku mencari-cari bibirnya. Apakah ia akan berhenti sampai di sini?
Tak lama kemudian,
Kenan mengecup bibirku kembali, kemudian menggigit bibir bawahku. Lidahnya
kembali masuk dan membelit lidahku. Tanpa sadar tanganku telah bergerak meremas
rambut belakangnya.
Aku mendengar Kenan
kembali mengerang. Kening kami saling menempel. “I love you so much, Indah
sayang.” Katanya sambil tersenyum, kemudian mengecup bibirku kembali dengan
singkat, mengakhiri ciuman panas kami.
Akankah ciuman kami
berlanjut? Aku penasaran dengan lanjutannya, seperti apakah rasanya?
“Sayang, aku tidak mau
melakukannya sampai kamu benar-benar mencintaiku dan menginginkannya. Aku
ingin kita melakukannya karena saling mencintai. Aku akan menunggu, sampai
waktu yang tepat, sampai rasa cinta itu tumbuh subur di hatimu. Kamu setuju?”
Aku tahu apa yang ia
maksud dengan ‘tidak mau melakukannya’ sampai cintaku tumbuh subur katanya. Aku
terharu mendengarnya. Ia pria yang sangat sabar menghadapiku. Sabar ya Kenan,
tunas cinta ini akan tumbuh subur di dalam hatiku. Kita akan melakukannya pada
saat yang tepat. Aku menganggukan kepalaku dengan cepat.
“Apa kamu bahagia
menikah denganku?”
“I’m happy, Kenan.” Aku
meyakinkannya. Sepanjang pernikahan kami, semua yang ia lakukan hanya untuk
membahagiakanku. Aku teringat ketika ia merawatku dengan sabar saat aku sakit
di hari pernikahan kami. Ia menjagaku dengan baik.
Aku sangat bersyukur
mendapatkan suami sebaik Kenan. Sosok yang sangat baik walaupun berumur sangat
muda, belum dua puluh tahun. Beruntungnya diriku.
“Ini mau diperiksa ke
dokter?” Tanyanya dengan membuka kaus tanktopku, menunjuk perutku yang ada
bekas luka bakar. “Kamu merasa nggak seksi karena ada ini? Kamu merasa nggak
bisa lagi pamer perut seperti Kak Ros, jadi cemburu dengan Kak Ros?” terus
terang, itulah yang ada di pikiranku kemarin. Tapi tidak lagi, setelah
pengakuan cinta Kenan.
“Nggak apa-apa kalau
kamu nggak keberatan lihatnya nanti.” Kataku dengan gelengan kepala.
“Kamu tetap cantik dan
seksi, sayang.” Ia mencium bekas luka bakar di perutku dengan lembut. Oh,
perutku terasa mulas karena ada kupu-kupu beterbangan di sana.
Malam ini kami lewati dengan saling berpelukan erat
dan mengulangi tautan bibir kami sampai lidahku terasa kebas. Entah pukul
berapa kami akhirnya tertidur.
***
__ADS_1
Bahasanya sudah diperhalus. Semoga saja lolos review. Sudah 3 hari belum lolos review juga.