THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
36. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


INDAH POV


“Kenan, aku dengar kok


kamu ngomong apa tadi di Skybar.” Aku memiringkan tubuhku sehingga menghadap ke


arah Kenan yang kini terbaring di sampingku. Kenan belum tidur. Aku tahu dari


caranya bernafas, sangat tidak teratur dan sesekali tubuhnya bergerak-gerak


tidak nyaman. Ia masih tidak mendengarkanku. Matanya pura-pura terpejam.


Mungkin ia malu dengan pengakuannya tadi. Tidak tahu saja dirinya bahwa aku pun


berdebar mendengar pengakuannya.


“Ken... Kenan....”


Jari-jari tanganku menelusuri hidungnya yang besar tetapi mancung.Ia masih saja memejamkan


matanya. Mungkin ia menghindari percakapan denganku. Kupencet saja hidungnya,


agar tidak mengabaikanku.


“In, kamu ganggu orang


tidur.” Katanya. Matanya membulat menatapku.


“Ya sudah, aku nggak


jadi ngomong.” Kuputar tubuhku memunggunginya. Tidak tahu dia kalau aku masih


dag dig dug dengan pengakuan cintanya tadi. Pengakuan cinta yang malu-malu.


Tidak ada siaran ulang katanya tadi hehe.


Aku merasakan


pergerakan di belakangku. Tubuhku tiba-tiba menegang karena Kenan memeluk


pinggangku dari belakang. Rasanya bulu-bulu halus di kulitku berdiri, menerima


sentuhannya yang terasa bagai aliran listrik. “Mau ngomong apa, Indah?”


suaranya lembut di telingaku. Hembusan nafasnya bisa kurasakan dari belakang


cuping telingaku. Aku merinding. Tapi aku masih tidak membalikkan tubuhku.


Mungkin Kenan malu jika wajahku berada di hadapannya. Jadi kubiarkan saja


posisi ini.


“Aku dengar, tadi kamu


ngomong apa.”Ucapku perlahan.


“Oh. Yang mana?”


“Yang tadi itu. Kamu


bilang I love you.” Kataku lagi. Kenan terdiam. Benar kan, dia malu


mengakuinya. Tidak mungkin aku salah dengar tadi, tapi berat sekali untuk


mengulang ucapan itu. Suasana masih hening di antara kami. Hanya hembusan nafas


kami yang terdengar.


“Iya. Aku bilang itu.”


Akhirnya pengakuannya keluar. Walaupun ia tidak mengulangi tiga kata ajaib itu.


“Terus, jawabannya apa?” Tanyanya.


Aku membalikkan tubuhku


menghadapnya. Suasana di kamar kami cukup temaram sehingga aku tidak melihat


perubahan warna wajahnya. “Itu bukan kalimat pertanyaan, Kenan. Aku harus jawab


apa? Itu pernyataan.” Kataku lagi.


Ia menarik tangannya


yang melingkar di pinggangku. Tangannya baralih menggaruk tengkuknya. Bingung


ya, mau bilang apa? “Kalimat tanya ya? Ehm... Do you love me?” Katanya


kemudian.


Matanya terpejam. “Eh,


kenapa merem?” tanyaku.

__ADS_1


“Takut dengan


jawabannya. Takut ditolak.” Katanya lagi. Aku pun terkekeh mendengarnya.


“Ya ampun, bagaimana


bisa aku menolak suamiku sendiri?”


“Jadi aku diterima?”


Kenan membuka matanya dan menatapku lekat.


“Apa sih ini? Bukan


diterima dan nggak diterima, Kenan. Kita bukan pacaran.” Aku heran dengan


pikiran Kenan. Apakah kami seperti orang yang menyatakan perasaan seperti orang


yang sedang pacaran? Aneh deh.


“Kamu mau bilang nggak


cinta aku kan?” Perkataannya terdengar mengandung kekecewaan. Aku terdiam


sejenak. Bagaimana aku harus menjawabnya. Aku belum mencintainya, tetapi aku


sangat menyukainya.


“Kamu pesimis begitu


Ken. Apa aku terlihat tidak menyukaimu?” Aku menangkup wajahnya agar menghadap


ke arahku. Tidak enak rasanya sedari tadi ia berbicara tetapi tidak menghadap


kepadaku. Begitu malunya kamu Kenan? Aku teruskan lagi ucapanku, “Ibaratnya


tanaman ya, di sini sudah tumbuh benih-benih cinta yang kamu tanam. Kalau kamu


rajin merawatnya, ia akan tumbuh subur dan semakin besar.” Kataku sembari


memegang dada.


Ia menatapku lekat. Kulihat


matanya menyipit karena senyuman lebar di bibirnya. Kamu lucu sekali, suami


brondongku.


“Terima kasih Indah. I


berkali-kali. Akhirnya kata-kata ajaib itu terucap lagi dari bibirnya. Tidak


perlu kuragukan lagi ya, perasaannya untukku.


Jantungku, bekerja


lebih cepat, bertalu-talu tidak menentu.


“In, boleh cium ya,


sayang.” Hem... minta izin dia. Aku pun menganggukkan kepala.


Apa katanya, sayang?


Boleh ya, aku pingsan sekarang. Satu kata itu mengandung hipnotis.


Kulihat tatapannya yang


lembut kepadaku. Lalu ia bergerak. Sejujurnya aku semakin berdebar membayangkan


apa yang akan dilakukan Kenan. Malam ini, pasti kami akan berciuman untuk yang


pertama kali.


Wajahnya mendekat. Perlahan


jarak antara kami terkikis. Bibirnya menyentuh bibirku. Dengan lembut ia


mengecup bibir bawahku, berpindah ke bibir atas. Lalu lidahnya mulai bermain.


Dan dengan perlahan ia menautkan bibirnya padaku bergantian. Lidahnya menyeruak masuk ke


dalam mulutku. Tautan bibir itu membuatku memejamkan mata dan menikmatinya.


Ciumannya kurasakan semakin dalam dan bergairah. Aku pun membalasnya.


Ya ampun, tanpa sadar


aku mengeluarkan suara-suara aneh. Tidak dapat kutahan. Kenan pun


demikian.


Ternyata sentuhan dan


tautan bibir Kenan membuatku semakin mendambakan sentuhan bibirnya di kulitku.

__ADS_1


Aku semakin haus akan sentuhannya.


Kenan menarik dirinya


dan melepaskan tautan bibir kami. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Aku pun


menghirup oksigen dalam-dalam. Tiba-tiba aku merasa kehilangan, kehilangan


bibirnya. Aku mencari-cari bibirnya. Apakah ia akan berhenti sampai di sini?


Tak lama kemudian,


Kenan mengecup bibirku kembali, kemudian menggigit bibir bawahku. Lidahnya


kembali masuk dan membelit lidahku. Tanpa sadar tanganku telah bergerak meremas


rambut belakangnya.


Aku mendengar Kenan


kembali mengerang. Kening kami saling menempel. “I love you so much, Indah


sayang.” Katanya sambil tersenyum, kemudian mengecup bibirku kembali dengan


singkat, mengakhiri ciuman panas kami.


Akankah ciuman kami


berlanjut? Aku penasaran dengan lanjutannya, seperti apakah rasanya?


“Sayang, aku tidak mau


melakukannya sampai kamu benar-benar mencintaiku dan menginginkannya. Aku


ingin kita melakukannya karena saling mencintai. Aku akan menunggu, sampai


waktu yang tepat, sampai rasa cinta itu tumbuh subur di hatimu. Kamu setuju?”


Aku tahu apa yang ia


maksud dengan ‘tidak mau melakukannya’ sampai cintaku tumbuh subur katanya. Aku


terharu mendengarnya. Ia pria yang sangat sabar menghadapiku. Sabar ya Kenan,


tunas cinta ini akan tumbuh subur di dalam hatiku. Kita akan melakukannya pada


saat yang tepat. Aku menganggukan kepalaku dengan cepat.


“Apa kamu bahagia


menikah denganku?”


“I’m happy, Kenan.” Aku


meyakinkannya. Sepanjang pernikahan kami, semua yang ia lakukan hanya untuk


membahagiakanku. Aku teringat ketika ia merawatku dengan sabar saat aku sakit


di hari pernikahan kami. Ia menjagaku dengan baik.


Aku sangat bersyukur


mendapatkan suami sebaik Kenan. Sosok yang sangat baik walaupun berumur sangat


muda, belum dua puluh tahun. Beruntungnya diriku.


“Ini mau diperiksa ke


dokter?” Tanyanya dengan membuka kaus tanktopku, menunjuk perutku yang ada


bekas luka bakar. “Kamu merasa nggak seksi karena ada ini? Kamu merasa nggak


bisa lagi pamer perut seperti Kak Ros, jadi cemburu dengan Kak Ros?” terus


terang, itulah yang ada di pikiranku kemarin. Tapi tidak lagi, setelah


pengakuan cinta Kenan.


“Nggak apa-apa kalau


kamu nggak keberatan lihatnya nanti.” Kataku dengan gelengan kepala.


“Kamu tetap cantik dan


seksi, sayang.” Ia mencium bekas luka bakar di perutku dengan lembut. Oh,


perutku terasa mulas karena ada kupu-kupu beterbangan di sana.


Malam ini kami lewati dengan saling berpelukan erat


dan mengulangi tautan bibir kami sampai lidahku terasa kebas. Entah pukul


berapa kami akhirnya tertidur.


***

__ADS_1


Bahasanya sudah diperhalus. Semoga saja lolos review. Sudah 3 hari belum lolos review juga.


__ADS_2