
SELAMAT MEMBACA
Indah POV
“Sudah, aku saja yang
bawa piringnya ke belakang.” Aku menumpuk piring kotor di atas meja makan.
Kenan tidak menjawab perkataanku. Kurasa ia sekarang sedang berdiri di
belakangku.
Sebentar, hawa hangat
semakin mendekat. Pasti ini ulah brondong kesayanganku ini.
Aku tersentak karena
tiba-tiba saja kedua tangan Kenan memelukku dari belakang. Kedua tangan itu
bertaut di depan perutku. Perasaan mulas di perut semakin nyata kurasakan.
Hembusan nafasnya di
sekitar telingaku membuat kerja jantung semakin cepat.
Tanganku masih terhenti
memegang dua buah piring kosong yang tergeletak di atas meja. Bagaimana mungkin
aku bisa bergerak, kalau jemari Kenan semakin nakal bergerak. Bahkan kini
tangan kokohnya bermain menggelitik perutku. Efeknya, aliran listrik dari
sentuhannya membuatku melemas, tak mampu bergerak.
“Hubby, sudah ih. Geli banget.”
Aku memegang kedua tangannya dan memintanya menghentikan aksi menggelitik
perutku.
“Geli ya?” Ia membeo.
Satu tangannya diangkat
dari perutku. Kini tangan itu menyibak helaian rambutku yang menutupi tengkuk. “Rambutnya
ngganggu.” Katanya lagi.
Aku hendak mengangkat
piring, tetapi tidak jadi lagi karena punggungku tiba-tiba saja menegang
merasakan hembusan nafasnya di tengkukku. “Kalau begini geli nggak?” Suara
seraknya terdengar. Ia menelusuri tengkukku dengan bibirnya, lalu turun ke
bahuku yang sedikit terbuka. Rasa geli, sedikit nyeri, dan nikmat bercampur seperti candu.
“Ehm...” suara itu
lolos dari mulutku.
“Geli?” Tanyanya. Sejenak
ia berhenti.
“Enggak.” Aku
memejamkan mata dan menggeleng lemah. “Enak.” Seringaiku. Iya, memang seenak
itu, sepertinya bagian tubuhku yang lain juga iri ingin disentuh dengan bibirnya.
Ia terkekeh geli
mendengar jawabanku dan kembali mengeksplor tengkuk dan pundakku dengan bibir
tebalnya.
“Sudah Bi. Katanya
takut kepergok Bik Janet.” Aku menjauhkan diri dengan sedikit menunduk sehingga
terlepas dari bibir Kenan. Kakiku tidak mau berkompromi. Jika berlangsung lebih
lama lagi, aku sangat yakin, kedua kaki ini tidak akan sanggup menopang berat
tubuhku. Tulang kakiku serasa rapuh sekali.
“Baby, aku tunggu di
atas.” Tubuhnya bergerak menjauhiku.
***
“Bik Janet sudah
pulang?” Kenan bertanya tepat ketika aku melangkah memasuki kamar.
“Sudah. Diantar mamang
siomay depan kompleks.” Kataku dengan tersenyum membayangkan kedekatan mereka
tadi. “Kali ini hubungan mereka serius Bi. Bik Janet pernah curhat. Katanya keluarga
Lee Min Ho kawe itu mau datang ke rumah Bik Janet, mau melamar.”
“Syukurlah. Kalau
penilaian kamu terhadap Lee Min Ho kawe itu bagaimana?” Tanya Kenan dengan
tatapan serius. Ia masih berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka. Namun
__ADS_1
kepalanya memutar ke arahku.
Aku mendekatkan diri di
sampingnya. “Sepertinya orangnya baik. Aku pernah ngobrol sama pacarnya Bibik. Dia
serius.”
“Tinggalnya di mana?”
tangan Kenan meraih pinggangku dan menari tubuhku menempel ke dadanya. Sontak tubuhku
menabrak dada bidangnya.
“Di sekitar perumahan
kita. Tetapi bukan di dalam kompleks.” Ucapku dengan nada sedikit gemetar. Percaya
atau tidak, aku merasakan setiap sentuhannya mengalirkan arus listrik yang
semakin hari semakin kuat. Membuat kerja jantungku lebih berat. “Kamu mau
ngapain?” ucapku lagi.
Ia memegang pinggangku
dan memutar tubuhku menghadap ke lemari sehingga posisiku kini memunggunginya. “Persiapkan
pakaian untuk berenang, sayang. Atau kamu mau melakukan yang lain?” Jari
telunjuknya menepuk dahiku. Tampaknya pikiran kotor memang sedang bercokol di
kepalaku.
Dengan gugup aku
mencari pakaian renang untukku dan Kenan. Wajahku ini memang tidak dapat
menyembunyikan pikiran kotor di kepalaku. Aku melirik Kenan yang telah duduk di
tepi ranjang sembari tersenyum mengejekku. Ah, pasti wajahku ini merona merah
karena kata-katanya tadi.
“Sayang, kamu
mengemaskan sekali pagi ini.” Ia mengedipkan sebelah matanya. Dan itu membuat
jantungku hampir saja terloncat keluar. Aku memegang dadaku yang bergemuruh.
Aku memalingkan wajah
dari tatapannya. Kalau pandang-pandangan begini terus, aku tidak akan selesai
mempersiapkan pakaian renang. Kuambil celana renang Kenan yang terlipat rapi di
rak teratas. Baju renangku juga berada di rak teratas, di sampingnya. Kenan
meletakkan pakaian olah raga kami di dalam satu rak di tempat teratas karena
Pandanganku beralih ke
rak lain tempat pakaian Kenan diletakkan. Kuambil satu stel pakaian luar dan
pakaian dalam untuk berganti. Lalu kuambil juga pakaian gantiku.
Kulirik Kenan yang
masih duduk di tepi ranjang. Matanya masih intens menatapku. Senyumnya juga
masih menghiasi wajahnya. Aku deg-degan begini ya.
“Tas yang mau dipakai
mana Bi?” Tanyaku. Ia tidak menjawab. Kepalanya mengedik memberi isyarat agar
aku mendekatinya.
Ketika telah berada di
hadapannya, ia menarik pinggangku. Kini aku duduk di sebelahnya dengan kaki
lurus melewati atas kakinya yang tertekuk ke lanti. Satu tangan masih merangkul pinggangku. Tanganku
bergerak refleks mengalung di lehernya.
“I love you, sayang. Nanti
aja cari tasnya.” Katanya. Aku menangkap kilatan gelap dari tatapannya. Jenis tatapan
yang sudah sangat aku kenal, akan membawa kegiatan kami seperti apa.
Berbeda dengan kegiatan
kami sebelumnya, Kenan tidak lagi berusaha bersatu dengan
tubuhku. Namun kami melakukan hal gila yang belum pernah kami lakukan
sebelumnya. Kami melakukan kegiatan yang antimainstream yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Karena kami pun pasangan yang antimainstream.
“Jangan bilang kamu
belum pernah melihatnya di film biru, sayang.” Kenan berlutut di hadapanku polos, sama sepertiku. Aku duduk menghadapnya dengan tubuh gemetar. Aku
tidak pernah ya, melihat miliknya sedekat ini.
Lalu dengan sabar Kenan
membimbingku melakukannya. Yah, walaupun tangan ini bergetar hebat. Tapi melihat
Kenan menikmati apa yang kulakukan, membuatku bahagia. Matanya terpejam menikmati setiap gerakanku. Kedua
__ADS_1
tangannya membelai kepalaku yang berada di bawahnya.
Ini hal tergila yang
pernah kami lakukan. Namun aku melakukannya dengan senang hati karena diriku
yang belum sanggup memberikan apa yang dibutuhkan suamiku. Hanya cara ini yang
bisa kulakukan.
Tak lama kemudian, Kenan
melepaskan diri dariku, tubuh Kenan bergetar dan menggigil. “Aahhh...” suara
itu terlepas dari bibirnya. Ia pun jatuh tengkurap di sisiku dengan. Dan seprai putih berpola abstrak di bawah kami, kini kotor. Ini merupakan puncak
kebahagiaan yang pertama kali dirasakan oleh suamiku dengan bantuanku. Aku bahagia hanya dengan melihatnya.
Ia membalikkan
tubuhnya, tangannya menggapai ingin mencapaiku. Aku mendekat dan memeluk
tubuhnya, “I love you, sayang.” Bibirnya mengecupi
dahiku berkali-kali.
“Kamu luar biasa,
sayang.” Imbuhnya.
“Kamu yang enak, akunya
bagaimana?” aku mencebikkan bibir.
“Eh, itu yang mau aku
bicarakan. Sebetulnya beberapa bulan lagi setelah kamu selesai skripsinya.” Kenan
membelai punggungku dengan jemari kokohnya.
“Ngomong aja sekarang.”
“Kamu siap?” Tanyanya. Aku
melihat ada nada khawatir dari ucapannya.
“Aku mau kita periksa
ke dokter spesialis kandungan.”
“Ada yang salah
denganku?” Tanyaku. Perutku menjadi mual mendengarnya.
“Kita belum tahu apa
yang terjadi. Hanya dugaanku. Ada klinik yang menangani tentang ini, tetapi di
Bandung. Maka dari itu, aku pikir setelah skripsimu selesai baru kita fokus ke
sana.” Mendengar perkataannya, aku yakin, selama ini Kenan telah mencari
informasi ke berbagai pihak. Sementara aku sebagai orang yang bermasalah,
justru tidak dilibatkan.
“Kenapa kamu nggak
cerita, sebenarnya ada apa dengan aku?” aku menggulingkan tubuh ke samping,
turun dari pelukannya.
Tangan Kenan meraih
kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Ia mencium punggung tanganku. “Sayang,
aku menyayangimu sebagaimana dirimu. Apapun itu, aku menerimanya.”
“Lalu kenapa dengan
aku?” Tanyaku dengan rasa penasaran yang mencapai ubun-ubun.
“Dugaan... ini baru
dugaanku lho ya. V4g1nismus.” Jawabnya pelan. Lalu tangannya merengkuhku ke
dalam pelukannya.
Kepalaku berdenyut nyeri. Jenis penyakit apa itu?
***
Cerita ini saya
selipkan agar pembaca tahu tentang v4g*nismus. Bahwa penyakit ini ada, bukan
hanya masalah psikis yang berasal dari pikiran semata. Penyakit ini harus
disembuhkan dengan cara yang tepat. Ada baiknya, kita yang mengetahui bahwa
penyakit ini nyata, tidak menyudutkan si penderita. Ada banyak lho, yang
mengalami ini. Bisa saudara, teman atau kerabat kita. Tetapi biasanya penderita
atau pasangannya tidak menyadarinya atau tidak mengetahui apa sebenarnya yang
terjadi. Dan itu bisa menjadi siksaan bagi si penderita jika tidak segera
diobati. Kasihan kan?
Beberapa kalimat terpaksa dihapus karena terkena sensor pihak MT. Bahkan nama penyakitnya pun harus disamarkan.
__ADS_1
Berenang yuk....