THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
52. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Indah POV


“Sudah, aku saja yang


bawa piringnya ke belakang.” Aku menumpuk piring kotor di atas meja makan.


Kenan tidak menjawab perkataanku. Kurasa ia sekarang sedang berdiri di


belakangku.


Sebentar, hawa hangat


semakin mendekat. Pasti ini ulah brondong kesayanganku ini.


Aku tersentak karena


tiba-tiba saja kedua tangan Kenan memelukku dari belakang. Kedua tangan itu


bertaut di depan perutku. Perasaan mulas di perut semakin nyata kurasakan.


Hembusan nafasnya di


sekitar telingaku membuat kerja jantung semakin cepat.


Tanganku masih terhenti


memegang dua buah piring kosong yang tergeletak di atas meja. Bagaimana mungkin


aku bisa bergerak, kalau jemari Kenan semakin nakal bergerak. Bahkan kini


tangan kokohnya bermain menggelitik perutku. Efeknya, aliran listrik dari


sentuhannya membuatku melemas, tak mampu bergerak.


“Hubby, sudah ih. Geli banget.”


Aku memegang kedua tangannya dan memintanya menghentikan aksi menggelitik


perutku.


“Geli ya?” Ia membeo.


Satu tangannya diangkat


dari perutku. Kini tangan itu menyibak helaian rambutku yang menutupi tengkuk. “Rambutnya


ngganggu.” Katanya lagi.


Aku hendak mengangkat


piring, tetapi tidak jadi lagi karena punggungku tiba-tiba saja menegang


merasakan hembusan nafasnya di tengkukku. “Kalau begini geli nggak?” Suara


seraknya terdengar. Ia menelusuri tengkukku dengan bibirnya, lalu turun ke


bahuku yang sedikit terbuka. Rasa geli, sedikit nyeri, dan nikmat bercampur seperti candu.


“Ehm...” suara itu


lolos dari mulutku.


“Geli?” Tanyanya. Sejenak


ia berhenti.


“Enggak.” Aku


memejamkan mata dan menggeleng lemah. “Enak.” Seringaiku. Iya, memang seenak


itu, sepertinya bagian tubuhku yang lain juga iri ingin disentuh dengan bibirnya.


Ia terkekeh geli


mendengar jawabanku dan kembali mengeksplor tengkuk dan pundakku dengan bibir


tebalnya.


“Sudah Bi. Katanya


takut kepergok Bik Janet.” Aku menjauhkan diri dengan sedikit menunduk sehingga


terlepas dari bibir Kenan. Kakiku tidak mau berkompromi. Jika berlangsung lebih


lama lagi, aku sangat yakin, kedua kaki ini tidak akan sanggup menopang berat


tubuhku. Tulang kakiku serasa rapuh sekali.


“Baby, aku tunggu di


atas.” Tubuhnya bergerak menjauhiku.


***


“Bik Janet sudah


pulang?” Kenan bertanya tepat ketika aku melangkah memasuki kamar.


“Sudah. Diantar mamang


siomay depan kompleks.” Kataku dengan tersenyum membayangkan kedekatan mereka


tadi. “Kali ini hubungan mereka serius Bi. Bik Janet pernah curhat. Katanya keluarga


Lee Min Ho kawe itu mau datang ke rumah Bik Janet, mau melamar.”


“Syukurlah. Kalau


penilaian kamu terhadap Lee Min Ho kawe itu bagaimana?” Tanya Kenan dengan


tatapan serius. Ia masih berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka. Namun

__ADS_1


kepalanya memutar ke arahku.


Aku mendekatkan diri di


sampingnya. “Sepertinya orangnya baik. Aku pernah ngobrol sama pacarnya Bibik. Dia


serius.”


“Tinggalnya di mana?”


tangan Kenan meraih pinggangku dan menari tubuhku menempel ke dadanya. Sontak tubuhku


menabrak dada bidangnya.


“Di sekitar perumahan


kita. Tetapi bukan di dalam kompleks.” Ucapku dengan nada sedikit gemetar. Percaya


atau tidak, aku merasakan setiap sentuhannya mengalirkan arus listrik yang


semakin hari semakin kuat. Membuat kerja jantungku lebih berat. “Kamu mau


ngapain?” ucapku lagi.


Ia memegang pinggangku


dan memutar tubuhku menghadap ke lemari sehingga posisiku kini memunggunginya. “Persiapkan


pakaian untuk berenang, sayang. Atau kamu mau melakukan yang lain?” Jari


telunjuknya menepuk dahiku. Tampaknya pikiran kotor memang sedang bercokol di


kepalaku.


Dengan gugup aku


mencari pakaian renang untukku dan Kenan. Wajahku ini memang tidak dapat


menyembunyikan pikiran kotor di kepalaku. Aku melirik Kenan yang telah duduk di


tepi ranjang sembari tersenyum mengejekku. Ah, pasti wajahku ini merona merah


karena kata-katanya tadi.


“Sayang, kamu


mengemaskan sekali pagi ini.” Ia mengedipkan sebelah matanya. Dan itu membuat


jantungku hampir saja terloncat keluar. Aku memegang dadaku yang bergemuruh.


Aku memalingkan wajah


dari tatapannya. Kalau pandang-pandangan begini terus, aku tidak akan selesai


mempersiapkan pakaian renang. Kuambil celana renang Kenan yang terlipat rapi di


rak teratas. Baju renangku juga berada di rak teratas, di sampingnya. Kenan


meletakkan pakaian olah raga kami di dalam satu rak di tempat teratas karena


Pandanganku beralih ke


rak lain tempat pakaian Kenan diletakkan. Kuambil satu stel pakaian luar dan


pakaian dalam untuk berganti. Lalu kuambil juga pakaian gantiku.


Kulirik Kenan yang


masih duduk di tepi ranjang. Matanya masih intens menatapku. Senyumnya juga


masih menghiasi wajahnya. Aku deg-degan begini ya.


“Tas yang mau dipakai


mana Bi?” Tanyaku. Ia tidak menjawab. Kepalanya mengedik memberi isyarat agar


aku mendekatinya.


Ketika telah berada di


hadapannya, ia menarik pinggangku. Kini aku duduk di sebelahnya dengan kaki


lurus melewati atas kakinya yang tertekuk ke lanti. Satu tangan masih merangkul pinggangku. Tanganku


bergerak refleks mengalung di lehernya.


“I love you, sayang. Nanti


aja cari tasnya.” Katanya. Aku menangkap kilatan gelap dari tatapannya. Jenis tatapan


yang sudah sangat aku kenal, akan membawa kegiatan kami seperti apa.


Berbeda dengan kegiatan


kami sebelumnya, Kenan tidak lagi berusaha bersatu dengan


tubuhku. Namun kami melakukan hal gila yang belum pernah kami lakukan


sebelumnya. Kami melakukan kegiatan yang antimainstream yang tidak pernah aku


bayangkan sebelumnya. Karena kami pun pasangan yang antimainstream.


“Jangan bilang kamu


belum pernah melihatnya di film biru, sayang.” Kenan berlutut di hadapanku polos, sama sepertiku. Aku duduk menghadapnya dengan tubuh gemetar. Aku


tidak pernah ya, melihat miliknya sedekat ini.


Lalu dengan sabar Kenan


membimbingku melakukannya. Yah, walaupun tangan ini bergetar hebat. Tapi melihat


Kenan menikmati apa yang kulakukan, membuatku bahagia. Matanya terpejam menikmati setiap gerakanku. Kedua

__ADS_1


tangannya membelai kepalaku yang berada di bawahnya.


Ini hal tergila yang


pernah kami lakukan. Namun aku melakukannya dengan senang hati karena diriku


yang belum sanggup memberikan apa yang dibutuhkan suamiku. Hanya cara ini yang


bisa kulakukan.


Tak lama kemudian, Kenan


melepaskan diri dariku, tubuh Kenan bergetar dan menggigil. “Aahhh...” suara


itu terlepas dari bibirnya. Ia pun jatuh tengkurap di sisiku dengan. Dan seprai putih berpola abstrak di bawah kami, kini kotor. Ini merupakan puncak


kebahagiaan yang pertama kali dirasakan oleh suamiku dengan bantuanku. Aku bahagia hanya dengan melihatnya.


Ia membalikkan


tubuhnya, tangannya menggapai ingin mencapaiku. Aku mendekat dan memeluk


tubuhnya, “I love you, sayang.” Bibirnya mengecupi


dahiku berkali-kali.


“Kamu luar biasa,


sayang.” Imbuhnya.


“Kamu yang enak, akunya


bagaimana?” aku mencebikkan bibir.


“Eh, itu yang mau aku


bicarakan. Sebetulnya beberapa bulan lagi setelah kamu selesai skripsinya.” Kenan


membelai punggungku dengan jemari kokohnya.


“Ngomong aja sekarang.”


“Kamu siap?” Tanyanya. Aku


melihat ada nada khawatir dari ucapannya.


“Aku mau kita periksa


ke dokter spesialis kandungan.”


“Ada yang salah


denganku?” Tanyaku. Perutku menjadi mual mendengarnya.


“Kita belum tahu apa


yang terjadi. Hanya dugaanku. Ada klinik yang menangani tentang ini, tetapi di


Bandung. Maka dari itu, aku pikir setelah skripsimu selesai baru kita fokus ke


sana.” Mendengar perkataannya, aku yakin, selama ini Kenan telah mencari


informasi ke berbagai pihak. Sementara aku sebagai orang yang bermasalah,


justru tidak dilibatkan.


“Kenapa kamu nggak


cerita, sebenarnya ada apa dengan aku?” aku menggulingkan tubuh ke samping,


turun dari pelukannya.


Tangan Kenan meraih


kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Ia mencium punggung tanganku. “Sayang,


aku menyayangimu sebagaimana dirimu. Apapun itu, aku menerimanya.”


“Lalu kenapa dengan


aku?” Tanyaku dengan rasa penasaran yang mencapai ubun-ubun.


“Dugaan... ini baru


dugaanku lho ya. V4g1nismus.” Jawabnya pelan. Lalu tangannya merengkuhku ke


dalam pelukannya.


Kepalaku berdenyut nyeri. Jenis penyakit apa itu?


***


Cerita ini saya


selipkan agar pembaca tahu tentang v4g*nismus. Bahwa penyakit ini ada, bukan


hanya masalah psikis yang berasal dari pikiran semata. Penyakit ini harus


disembuhkan dengan cara yang tepat. Ada baiknya, kita yang mengetahui bahwa


penyakit ini nyata, tidak menyudutkan si penderita. Ada banyak lho, yang


mengalami ini. Bisa saudara, teman atau kerabat kita. Tetapi biasanya penderita


atau pasangannya tidak menyadarinya atau tidak mengetahui apa sebenarnya yang


terjadi. Dan itu bisa menjadi siksaan bagi si penderita jika tidak segera


diobati. Kasihan kan?


Beberapa kalimat terpaksa dihapus karena terkena sensor pihak MT. Bahkan nama penyakitnya pun harus disamarkan.


__ADS_1


Berenang yuk....


__ADS_2