
🌺SELAMAT MEMBACA🌺
🌺Pertemuan Pertama :
Sepuluh tahun yang lalu....
Seorang wanita cantik yang tampak awet muda di usianya yang menginjak 37 tahun, mendatangi kamar anak
lelakinya. Helena, nama wanita itu. Dengan sabar dibujuknya sang anak yang sejak siang mengurung diri di dalam kamar. “Ken, kamu ikut main dong. Semua main di luar, kamu jangan ngumpet terus di kamar. Apa kamu lagi bertelur? Nggak keluar-keluar, takut telurnya diambil orang? Kelakuanmu seperti ayam deh, Ken.”
Anak lelaki yang berumur 9 tahun itu, yang bernama Ken tidak menengok ke arah maminya. Ia masih asyik dengan peralatan game di dalam kamarnya. “Ngapain sih Mi, aku harus keluar. Itu kan cewek semua. Masa aku main sama anak cewek?”
“Ya terus, kamu mau mengurung diri terus di kamar?” Mami Helena mengendus kesal.
“Lebih baik main game deh Mi, daripada main sama cewek – cewek.”
“Hemmmm.... ya sudah.” Tak berhasil membujuk anaknya, ia keluar dari kamar anak lelakinya. Tapi ia berbalik kembali, tidak jadi meninggalkan kamar itu karena dilihatnya seorang anak perempuan datang menghampirinya.
“Tante permisi, Indah mau ke kamar mandi. Di mana ya tante?”
“Itu, pintunya di sebelah kanan.”
“Iya tante.” Jawab Indah kemudian beranjak menuju kamar mandi kecil di samping kamar Ken.
Mendengar suara anak perempuan, Ken mengalihkan pandangannya dari peralatan gamenya. “Siapa itu Mi?”
“Indah, anaknya Om Hendra dan Tante Ayunda.”
“Hemmm.” Ken menyahut dan kembali menatap peralatan gamenya.
Helena pun meninggalkan kamar Ken untuk kembali ke ruang tamu, menemani suami dan tamunya, Hendra dan Ayu, sahabatnya sejak SMA.
Suara langkah kaki kembali mengganggu Ken yang sedang berkonsentrasi dengan permainannya. Dialihkannya pandangan ke arah pintu, dilihatnya seorang anak berjalan keluar kamar mandi hendak melewati kamarnya. Anak perempuan itu menengok ke arah Ken, dan tersenyum sopan, menyapa Ken. “Hai,” katanya.
“Hai, kakak jelek.” Kata Ken sekenanya dari dalam kamar.
“Huh.... menyebalkan. Anak kecil yang tidak sopan.” Indah bergumam dengan lirih. Ia pun mengabaikan anak lelaki yang terlihat menyebalkan itu. Ia pun berlari kecil meninggalkan anak lelaki itu menuju ruang tamu. Di sana ada Adelia, temannya yang lebih tua 1 tahun, dan Jenny adiknya yang masih duduk di TK kecil.
🌺Pertemuan kedua:
Lima tahun yang lalu ....
Adelia dan Indah sedang mengobrol berdua di kamar Adelia. Tampaknya pembicaraan mereka berdua sangat
menarik dan seru. Kedua remaja itu kini duduk di bangku SMA. Keduanya akrab karena bersekolah di tempat yang sama, walaupun Adelia merupakan kakak kelas dari Indah.
“Aku mau lanjut kuliah di Eropa, In. Kita nggak bisa ngerumpi bareng seperti ini. Uh, padahal asyik banget ngobrol bareng kamu. Kamu sendiri mau lanjut di mana?”
“Belum tahu. Tapi sepertinya aku tertarik ke kota sebelah, banyak perguruan tinggi negeri yang menarik minatku. Yang jelas, tidak perlu jauh dari ayah dan bunda. Maklum dong, anak tunggal nggak boleh jauh-jauh dari orang tua. Adel, aku pasti kesepian kalau nggak ada kamu. Tahun ini kamu berangkat ya?”
“He em. Tapi kita masih bisa lho, video call.”
“Inget deh, beda waktu, Del.”
“Iya juga. Tapi pokoknya aku nggak mau kehilangan kamu sebagai sahabat aku. Bagaimanapun kita keep in touch. Oke?”
“Oke.”
__ADS_1
“Mbak..... Mbak Adel. Pinjam uang dong. Besok aku kembalikan. Aku belum sempat ambil di ATM.” Suara
Ken yang tiba-tiba mengagetkan kedua gadis remaja itu. Anak lelaki itu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci itu.
Adelia terkesiap menyadari adikknya telah berada di dalam kamar. “Ih, kamu....ngagetin aja. Ketok dulu sebelum masuk. Ini kamar cewek lho Ken. Apalagi ada teman aku di sini. Harusnya kamu nggak masuk kamar tiba-tiba gitu.”
“Maaf Mbak.” Ken langsung mengucapkan mantra yang menghentikan omelan kakaknya. Kalau saja kata maaf belum diucapkan, pasti Adelia akan lebih mengomel.
“Mau apa tadi?” Tanya Adelia. Ia terlalu fokus dengan kata-katanya sehingga melupakan perkataan yang disampaikan adiknya sebelumnya.
“Mau pinjam uang, Mbak.” Kata Kenan lagi.
“Untuk apa?” Mata Adelia sedikit melebar.
“Mau keluar, ada ekstrakurikuler basket.”
“Nih.... segini cukup kan?” Adelia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.
“Cukup mbak.” Ken mengalihkan pandangan ke arah Indah yang masih duduk di tepi tempat tidur milik kakaknya.
“Hai Ken.” Sapa Indah canggung. Walaupun Indah sering ke rumah Adelia, tapi ia tidak pernah bertegur sapa dengan Ken yang terlihat seperti tidak bersahabat dengannya.
“Hai Kakak jelek.” Panggilan itu kembali diucapkan Ken, seperti beberapa tahun yang lalu ketika Indah dan Ken bertemu untuk pertama kali.
“Uh, anak kecil nggak sopan banget, kamu masih menyebalkan, Ken.” Gumam Indah dengan jengkel.
“Sudah sana, pergi. Tidak usah ganggu Indah. Besok jangan lupa, uangku dikembalikan, ya.”
“Iya mbakku sayang.” Ken segera meninggalkan Adelia dan Indah.
Adelia menutup pintu dan kembali duduk bersisian di dekat sahabatnya. “Heran yah, adikku itu kalau sama kamu nggak ramah sama sekali. Sekalinya negur, yang kelaur begitu, ‘kakak jelek’. Memangnya kalian pernah ada
“Sepertinya nggak pernah. Tapi dulu dia juga bilang ‘kakak jelek’ ke aku.”
🌺Pertemuan ketiga :
Enam bulan yang lalu ....
Setelah mendaftarkan diri mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kantor Bagian Akademik, Indah berjalan menuju Laboratorium Biokimia. Ia berjalan dengan tergesa-gesa melewati koridor. Ia lupa, telah terlambat beberapa menit untuk membantu dua orang sahabatnya yang sedang melakukan penelitian di Lab.
Bug.... ia menabrak seorang laki-laki yang juga berjalan terburu-buru.
“Eh.... maaf.” Kata Indah. Ia menunduk mengumpulkan bukunya yang berserakan karena terlontar dari dalam tas.
“Hai.... ketemu lagi kakak jelek.” Kata lelaki itu.
Indah mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah menyebalkan itu. Lelaki itu ternyata adiknya Adelia, sahabatnya.
“Uh, anak kecil nggak sopan yang menyebalkan, bertemu kamu lagi. Bisa nggak sih, jangan panggil aku kakak jelek.” Indah berbicara dengan ketus.
“Sepertinya kakak jelek harus bersabar karena kita bakalan sering bertemu.”
“Kamu kuliah di sini juga? Kamu sudah jadi mahasiswa?” Indah yang telah selesai membereskan bukunya
berdiri menatap tajam ke arah Kenan.
“Iya. Baru semester satu.”
__ADS_1
“Awas kalau panggil aku ‘kakak jelek’ lagi. Nggak akan selamat kamu.” Indah melebarkan matanya menatap
dengan pandangan sadis.
“Uh, galaknya si ‘kakak jelek’.” Kata lelaki itu tersenyum nakal.
Indah memutar bola matanya, menandakan ia tidak senang bertemu dengan Kenan. Lalu ia meninggalkan lelaki itu tanpa berbicara lagi.
Kenan tersenyum melihat Indah yang nampak makin cantik di matanya.
Indah POV :
Anak kecil menyebalkan itu satu kampus denganku? Aduh, please deh. Pasti nanti kalau ketemu aku dia panggil ‘kakak jelek’ lagi.
Kenan POV :
Teman mbak Adel itu sekarang semakin cantik. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Ternyata dia satu kampus denganku. Apa kabar Indah? Sudah lama tidak bertemu.
🌺Pertemuan keempat :
Sebulan sebelum hari pernikahan, ponsel Indah berbunyi. Nomor asing tertera di layarnya. Indah semula ragu hendak menerima telepon tersebut. Namun ia akhirnya mengangkatnya setelah panggilan yang ketiga.
“Hallo.”
“Hallo... Indah. Ini Kenan.” Deg... ada desiran halus di dada Indah mendengar nama itu. Nama yang disebut bundanya akan menjadi pendamping hidupnya. Bunda sempat membicarakan tentang perjodohannya dengan Kenan beberapa hari sebelumnya, sebelum Bunda menghembuskan nafas terakhirnya.
“Iya. Ada apa Ken?”
“Dua minggu lagi kamu diminta pulang oleh mami. Kita akan melakukan fitting baju pengantin.”
“Iya.” Sedetik...dua detik...hening ... sampai pada detik kelima belas Indah bertanya lagi. “Ada lagi Ken?”
“Tidak ada.” Suara telepon ditutup. Tidak ada lagi sapaan ‘kakak jelek’, yang ada kecanggungan di antara mereka. Padahal mereka berbicara di telepon. Bagaimana nanti jika mereka berdua bertemu langsung.
Indah menatap layar ponselnya lagi. Disimpannya nomor Ken di dalam kontaknya. Ia diam terduduk di bawah pohon beringin di halaman kampusnya.
Seminggu yang lalu ....
Setelah pengikraran janji setia beberapa jam yang lalu, Indah Nathalia dan Kenan Restu Smith kini telah resmi menjadi suami istri. Malam ini keduanya berada di ballroom sebuah hotel, tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan mereka. Kerabat dekat keluarga Smith dan keluarga Indah telah hadir. Tamu-tamu undangan adalah kenalan keluarga orang tua Kenan. Tidak ada satu orang pun teman Indah maupun Kenan. Keduanya masih menyembunyikan pernikahan mereka.
Tamu-tamu undangan yang merupakan kolega keluarga Smith heran dengan pernikahan anak kedua mereka. Karena keduanya dinilai masih terlalu muda. Keduanya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Timbullah kasak kusuk di antara mereka. Cerita-cerita tak sedap betebaran dengan liar. Mulai dari pengantin wanita yang hamil duluan, pasangan itu kedapatan berbuat mesum, sampai kabar bahwa pernikahan itu adalah transaksi bisnis keluarga Smith.
Indah dan Kenan terlihat serasi bagaikan pangeran dan puteri sebuah kerajaan. Keduanya dipilihkan tema oleh mami dari Kenan, princess dan negeri dongeng, tentu saja dengan dekorasi yang serupa. Dekorasi yang mewah ini dipilih oleh Helena, maminya Kenan karena sangat senang mendapatkan menantu seperti Indah. Ia sudah sangat akrab dengan Indah karena merupakan sahabat dari Adelia, anak tertuanya.
Sebetulnya, hari ini bukan pertemuan keempat. Ini adalah pertemuan kelima. Pertemuan keempat adalah ketika
mereka berdua melakukan fitting baju pengantin dua minggu sebelumnya. Tapi sepertinya bukan terhitung pertemuan karena Indah terlebih dahulu datang ke butik, dan ketika ia hendak meninggalkan butik, Ken datang. Mereka pun tidak sempat untuk bertegur sapa.
Bagaimana bisa seorang Indah Nathalia kini telah bersuami. Suami yang lebih muda tiga tahun. Hanya empat kali mereka bertemu dan pada pertemuan kelima, status keduanya berubah menjadi suami istri.
Indah tampak sangat lelah bersalaman dengan tamu. Hal ini juga karena kondisi badannya yang kurang sehat beberapa hari ini. Ia merasakan sakit di kepalanya. Badannya terasa lemas, juga merasa sedikit mual. Kadang ia merasakan menggigil kedinginan walaupun keadaan di ballroom itu terasa hangat karena banyaknya orang yang
hadir. Akhirnya setengah jam sebelum acara berakhir, kaki jenjang indah tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya. Ia jatuh pingsan di samping Kenan, suami barunya.
Tatapan para tamu undangan semakin aneh, terlihat kepo, dengan bibir nyinyir dan raut wajah julid.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Hai readers, jangan lupa beri like, komen, favorit, dan vote. Kalau banyak, author lanjut ceritanya nih.