
SELAMAT MEMBACA
Di dalam mobil lagu dari
Band Armada menemani perjalanan Indah dan Kenan. Mobil mereka membelah kota
menyusuri jalan di sore ini. Kendaraan yang lalu lalang tidak padat sehingga
memudahkan mereka menuju ke tempat tujuan.
“Ken, Bik Janet itu
pecinta drakor ya?”
“Hem mungkin.”
“Hehe...tadi matanya
sampai merah begitu karena sedih nonton drakor. Kayaknya bisa nemenin aku deh
kalo nonton. Aku juga suka.” Indah berbicara sendiri tanpa mengharapkan jawaban
dari Kenan. Yang ia tahu, Kenan adalah seorang yang sangat irit berbicara.
Indah melihat jalan di
sekelillingnya. Rasanya ini bukan jalan menuju supermaket terdekat. “Lho,
katanya mau ke supermaket, kok mampir ke Hogwarts Cafe? Kita mau makan dulu?
Enggak kan? Bik Janet sudah masak untuk nanti malam. Eh, tapi ini kan cafe yang
lagi hits itu?” Indah mengajukan pertanyaan beruntun kepada Kenan.
“Satu-satu tanyanya,
In. Aku ngajak kamu ke sini, mau ngasih tau. Kalau pulang kuliah, aku biasanya
kerja di sini.”
“Ha? Kamu nyambi kerja
di sini? Kok aku baru tau sih?”
“Kamu nggak pernah
nanya. Cafe ini milikku.”
“Hah?” Indah ternganga
memandang suaminya dengan takjub.
Kenan turun dari mobil
dan membukakan pintu mobil untuk Indah.
“Hi.... pake dibukain
segala pintunya. Kenan, kamu sekarang jadi sopan begini.”
Kenan tidak menjawab.
Ia menggandeng tangan Indah dan mengajak Indah masuk ke dalam cafe. Cafe ini
desain dan arsitekturnya mengadopsi dari film Harry Potter. Di beberapa sudut
menyajikan suasana ala-ala asrama Hogwarts yang ada di film Harry Potter. Bahkan
menu makanannya menggunakan ramuan ala-ala Hogwarts. Indah terpesona melihat
tempat yang instagramable ini. Tangannya sudah gatal ingin mengambil gambar,
ber-selfie ria di tempat ini.
“Selamat sore bos.”
“Sore. Ferry ada?”
“Ada di kantor, bos.”
“Aku mau ketemu Ferry.”
Kenan membimbing Indah
mengikutinya ke dalam kantor. Sementara pegawai cafe tadi yang bernama Dindin
mengamati bosnya dengan heran. Sebelumnya tidak pernah bos muda itu datang
dengan seorang wanita. Baru kali ini dilihatnya si bos datang bersama seorang
wanita. Dan wanita itu cantik dengan senyum ramah.
Seorang lelaki tinggi
berkaca mata sedang duduk di depan meja kerjanya, memeriksa beberapa berkas di
mejanya. Lelaki itu adalah Ferry, manajer cafe milik Kenan.
“Hai Ken.” Ferry
menyapa Ken yang datang ke ruangannya. Ia menatap ke arah wanita yang digandeng
oleh Ken. Seorang wanita cantik semampai dengan bola mata indah dan senyum
ramah.
“Perkenalkan, ini
Indah. Indah, ini Ferry.”
“Hai Fer...” Indah menyodorkan
tangannya untuk berjabat tangan. Ferry pun membalas jabat tangan Indah.
“Hai Indah.” Kata
Ferry.
Indah melihat
sekeliling ruang kantor yang didominasi warna putih dan hitam. Aroma khas
laki-laki tercium di dalam ruangan. Tentu saja aroma Ferry yang selalu wangi
dan modis. “Ken, aku lihat-lihat dulu di luar ya? Boleh kan aku foto-foto di
__ADS_1
luar?”
“Iya, tidak apa-apa.
Kalau kamu mau sesuatu, pesan saja.”
“Eh, nggak kok. Aku
hanya mau lihat-lihat saja. Masih kenyang.”
Indah berjalan keluar
dari kantor ingin menikmati suasana cafe.
Kenan duduk di sebuah
kursi yang bersisian dengan Ferry. “Aku mau mengecek supplier yang kemarin.”
“Oh, yang supplier
ayam? Sudah aku bereskan. Mereka minta maaf dengan kesalahan pengiriman
kemarin. Tampaknya tertukar dengan restoran lain, jadi ukurannya berbeda. Ini
berkasnya.”
“Fer, sepertinya kita
perlu menambah karyawan baru. Terkadang kalau malam hari mereka kewalahan.
Tambah satu orang saja mungkin cukup. Terutama, shift sore harus lebih banyak
yang bekerja.”
“Baik. Nanti aku
carikan. Ada kriteria khusus darimu mungkin? Atau sama saja seperti yang
sudah-sudah?”
“Sama saja seperti yang
sudah-sudah.”
“Ngomong-ngomong, siapa
cewek cantik itu?”
“Oh, dia... dia ...
istriku.” Kenan agak ragu-ragu menyebut kata istri di depan Ferry.
“Ha...? Sejak kapan
Ken? Kamu nggak ngasih kabar. Bukannya kemarin itu kamu liburan semester?”
“Iya, sekalian menikah.
Panjang ceritanya. Lain kali aku ceritakan. Tapi tolong dirahasiakan dulu.”
“Kenapa dirahasiakan?
By the way, Selamat ya Ken.”
“Terima kasih.”
“Mamiku dan Bundanya
bersahabat sejak SMA. Jadi kami sudah lama saling kenal.”
“Oh, mungkin ini
perjodohan ya?”
“Hem... begitulah.”
“Kalau aku, nggak nolak
dijodohin sama yang bening kayak gitu, Ken.”
Kenan melotot ke arah
Ferry. Tiba-tiba ingin menonjok matanya. “Awas kamu Fer....”
“Haha...bercanda, Ken.
Posesif banget. Baru juga seminggu.”
“Jangan macam-macam
kamu. Harap dijaga yah matanya.” Ken tahu rekam jejak Ferry temannya ini. Cukup
handal di bidang percintaan, walaupun sekarang jones (jomblo ngenes).
“Iya bos.” Ferrry
terkekeh melihat reaksi Ken.
***
Hari telah agak gelap
ketika mereka keluar dari Cafe Hogwarts milik Ken. Ketika membuka pintu cafe,
udara dingin menyapa. Indah bergidik menahan terpaan angin dingin. Kedua
tangannya dilipat menyilang di dadanya untuk menghalau cuaca dingin. Sekilas
Ken melihat Indah yang kedinginan. Tentu saja blouse tipis tanpa lengan dan
celana sepanjang tiga perempat itu tidak sanggup menghalau terpaan angin
dingin. Ken ingin sekali memeluk wanita di sampingnya ini, untuk memberikan
kehangatan. Namun ia takut jika Indah tidak mau menerimanya. Ia tidak ingin
jika nantinya Indah akan merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Akhirnya
ditariknya tangan Indah untuk mengikutinya berlari ke arah mobil.
“Ayo cepat. Cuacanya
semakin dingin. Sepertinya akan turun hujan.” Ken berbicara menghilangkan rasa
canggungnya.
__ADS_1
Indah mengikuti Ken
yang berlari ke arah mobil.
“Ken, ada yang tidak
aku ketahui lagi tentang pekerjaan dan kuliahmu? Aku merasa tidak tahu apa-apa tentang
kamu. Seperti tentang cafe ini yang baru kuketahui hari ini.”
“Apa yang ingin kamu
ketahui? Aku rasa kita bisa mulai saling bercerita, mengenal satu sama lain.”
Kenan merasa senang mendengar keingintahuan dari Indah. Semoga saja mereka
berdua bisa mulai saling mengenal.
“Sudah berapa lama kamu
mengelola cafe ini?”
“Sejak awal semester
satu.”
Beberapa percakapan
menemani mereka berdua sebelum sampai di sebuah supermarket yang terdekat
dengan kediaman mereka. Setelah mobil diparkirkan, keduanya berjalan memasuki
supermarket tersebut.
***
Indah POV
Aku mengambil sebuah troli. Kukeluarkan selembar kertas dari tas
kecilku. Kubaca catatan yang ditulis oleh Bik Janet. Kenan bergerak ke
mendekatiku. Ia ikut membaca catatan yang kupegang. Ia kemudian mengambil alih troli
yang kupegang. Kami melangkah menuju rak berisi daging dan ikan. Aku
menyebutkan jenis daging dan banyaknya sesuai dengan yang tertulis di catatan.
Pelayan memenuhi pesanan kami. Kemudian kami berali ke rak sayuran dan mengambil
beberapa macam sayuran di sana. Tidak lupa juga kami mampir di persediaan bumbu
masak.Kenan mendorong troli itu dengan gagah. Seperti yang sering kulihat di
drama-drama korea itu bukan? Sang pria mendorong keranjang belanjaan wanitanya.
Baru kali ini aku merasakannya, tetapi bukan dengan pacar yang aku cintai,
melainkan berdua dengan suamiku yang belum begitu aku kenali.
Selanjutnya kami berjalan ke arah sudut untuk mengambil sabun cuci
pakaian dan sabun cuci piring.
Letaknya yang agak ke sudut membuatku tidak leluasa membiarkan Ken
membawa troli. Akhirnya kuputuskan aku saja yang mengambil barang-barang itu.
Namun saat aku sampai di sana glek...aku menemukan pemandangan yang memuakkan.
Sepasang anak muda sedang berciuman.
Cih, apa mereka tidak tahu tempat? Kenapa di tempat umum seperti ini
mereka berani berciuman? Aku mengambil barang-barang yang kami perlukan dengan
terburu-buru dan sepelan mungkin. Semoga saja mereka berdua tidak menyadari
kehadiranku. Namun...bruk...aku menjatuhkan sederetan pengharum pakaian. Tentu
saja kedua menusia itu menengok ke arahku dengan jengkel. Tetapi...deg...siapa
dia? Wajah pria tampan itu menatapku. Sejanak aku terkunci pada tatapannya yang
tajam. Kenapa pula tatapan itu menembus sampai ke jantungku seolah mengorek-ngorek
lukaku?
Ah, dia Ben...Bennedict sialan, mantan pacarku. Kenapa juga harus
bertemu lagi di sini? Aku segera melarikan diri. Jantungku berdetak tidak
karuan. Tidak mempedulikan barang-barang yang berjatuhan karena ulahku. Aku
segera menghampiri Ken. Tanpa sadar kugigit-gigit bibir bawahku, kebiasaan yang
sering kulakukan ketika aku merasa tidak nyaman.
Bagaimana dengan mereka berdua? Aku tidak mau tahu. Sungguh, aku ingin
segera berlari dari sini.
“In, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Ken menatapku dengan
khawatir.
“Tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat mencari barang-barang yang kita
butuhkan, Ken. Ini sudah malam. Aku ingin segera makan di rumah.”
“Baiklah. Tapi kenapa wajahmu menjadi pucat?” Ken memegang dahiku. Aku
hanya menggeleng lemah. Ia tidak lagi bertanya. Dijalankannya troli menuju
beberapa rak yang lain. Aku mengikuti di belakangnya dengan menempel di
punggungnya. Walaupun aku khawatir, Ken akan mendengar degup jantungku. Tapi
aku ingin mencari sedikit ketenangan dari punggungnya yang lebar, yang dapat
menyembunyikan seluruh diriku. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan Ben. Hatiku
sakit. Ken tidak lagi menanyaiku. Ia hanya fokus pada barang belanjaannya,
tidak menghiraukan tindakan anehku yang terlalu menempel di belakangnya.
__ADS_1
***