THE SECRET BRONDONG

THE SECRET BRONDONG
18. THE SECRET BRONDONG


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Di dalam mobil lagu dari


Band Armada menemani perjalanan Indah dan Kenan. Mobil mereka membelah kota


menyusuri jalan di sore ini. Kendaraan yang lalu lalang tidak padat sehingga


memudahkan mereka menuju ke tempat tujuan.


“Ken, Bik Janet itu


pecinta drakor ya?”


“Hem mungkin.”


“Hehe...tadi matanya


sampai merah begitu karena sedih nonton drakor. Kayaknya bisa nemenin aku deh


kalo nonton. Aku juga suka.” Indah berbicara sendiri tanpa mengharapkan jawaban


dari Kenan. Yang ia tahu, Kenan adalah seorang yang sangat irit berbicara.


Indah melihat jalan di


sekelillingnya. Rasanya ini bukan jalan menuju supermaket terdekat. “Lho,


katanya mau ke supermaket, kok mampir ke Hogwarts Cafe? Kita mau makan dulu?


Enggak kan? Bik Janet sudah masak untuk nanti malam. Eh, tapi ini kan cafe yang


lagi hits itu?” Indah mengajukan pertanyaan beruntun kepada Kenan.


“Satu-satu tanyanya,


In. Aku ngajak kamu ke sini, mau ngasih tau. Kalau pulang kuliah, aku biasanya


kerja di sini.”


“Ha? Kamu nyambi kerja


di sini? Kok aku baru tau sih?”


“Kamu nggak pernah


nanya. Cafe ini milikku.”


“Hah?” Indah ternganga


memandang suaminya dengan takjub.


Kenan turun dari mobil


dan membukakan pintu mobil untuk Indah.


“Hi.... pake dibukain


segala pintunya. Kenan, kamu sekarang jadi sopan begini.”


Kenan tidak menjawab.


Ia menggandeng tangan Indah dan mengajak Indah masuk ke dalam cafe. Cafe ini


desain dan arsitekturnya mengadopsi dari film Harry Potter. Di beberapa sudut


menyajikan suasana ala-ala asrama Hogwarts yang ada di film Harry Potter. Bahkan


menu makanannya menggunakan ramuan ala-ala Hogwarts. Indah terpesona melihat


tempat yang instagramable ini. Tangannya sudah gatal ingin mengambil gambar,


ber-selfie ria di tempat ini.


“Selamat sore bos.”


“Sore. Ferry ada?”


“Ada di kantor, bos.”


“Aku mau ketemu Ferry.”


Kenan membimbing Indah


mengikutinya ke dalam kantor. Sementara pegawai cafe tadi yang bernama Dindin


mengamati bosnya dengan heran. Sebelumnya tidak pernah bos muda itu datang


dengan seorang wanita. Baru kali ini dilihatnya si bos datang bersama seorang


wanita. Dan wanita itu cantik dengan senyum ramah.


Seorang lelaki tinggi


berkaca mata sedang duduk di depan meja kerjanya, memeriksa beberapa berkas di


mejanya. Lelaki itu adalah Ferry, manajer cafe milik Kenan.


“Hai Ken.” Ferry


menyapa Ken yang datang ke ruangannya. Ia menatap ke arah wanita yang digandeng


oleh Ken. Seorang wanita cantik semampai dengan bola mata indah dan senyum


ramah.


“Perkenalkan, ini


Indah. Indah, ini Ferry.”


“Hai Fer...” Indah menyodorkan


tangannya untuk berjabat tangan. Ferry pun membalas jabat tangan Indah.


“Hai Indah.” Kata


Ferry.


Indah melihat


sekeliling ruang kantor yang didominasi warna putih dan hitam. Aroma khas


laki-laki tercium di dalam ruangan. Tentu saja aroma Ferry yang selalu wangi


dan modis. “Ken, aku lihat-lihat dulu di luar ya? Boleh kan aku foto-foto di

__ADS_1


luar?”


“Iya, tidak apa-apa.


Kalau kamu mau sesuatu, pesan saja.”


“Eh, nggak kok. Aku


hanya mau lihat-lihat saja. Masih kenyang.”


Indah berjalan keluar


dari kantor ingin menikmati suasana cafe.


Kenan duduk di sebuah


kursi yang bersisian dengan Ferry. “Aku mau mengecek supplier yang kemarin.”


“Oh, yang supplier


ayam? Sudah aku bereskan. Mereka minta maaf dengan kesalahan pengiriman


kemarin. Tampaknya tertukar dengan restoran lain, jadi ukurannya berbeda. Ini


berkasnya.”


“Fer, sepertinya kita


perlu menambah karyawan baru. Terkadang kalau malam hari mereka kewalahan.


Tambah satu orang saja mungkin cukup. Terutama, shift sore harus lebih banyak


yang bekerja.”


“Baik. Nanti aku


carikan. Ada kriteria khusus darimu mungkin? Atau sama saja seperti yang


sudah-sudah?”


“Sama saja seperti yang


sudah-sudah.”


“Ngomong-ngomong, siapa


cewek cantik itu?”


“Oh, dia... dia ...


istriku.” Kenan agak ragu-ragu menyebut kata istri di depan Ferry.


“Ha...? Sejak kapan


Ken? Kamu nggak ngasih kabar. Bukannya kemarin itu kamu liburan semester?”


“Iya, sekalian menikah.


Panjang ceritanya. Lain kali aku ceritakan. Tapi tolong dirahasiakan dulu.”


“Kenapa dirahasiakan?


By the way, Selamat ya Ken.”


“Terima kasih.”


“Mamiku dan Bundanya


bersahabat sejak SMA. Jadi kami sudah lama saling kenal.”


“Oh, mungkin ini


perjodohan ya?”


“Hem... begitulah.”


“Kalau aku, nggak nolak


dijodohin sama yang bening kayak gitu, Ken.”


Kenan melotot ke arah


Ferry. Tiba-tiba ingin menonjok matanya. “Awas kamu Fer....”


“Haha...bercanda, Ken.


Posesif banget. Baru juga seminggu.”


“Jangan macam-macam


kamu. Harap dijaga yah matanya.” Ken tahu rekam jejak Ferry temannya ini. Cukup


handal di bidang percintaan, walaupun sekarang jones (jomblo ngenes).


“Iya bos.” Ferrry


terkekeh melihat reaksi Ken.


***


Hari telah agak gelap


ketika mereka keluar dari Cafe Hogwarts milik Ken. Ketika membuka pintu cafe,


udara dingin menyapa. Indah bergidik menahan terpaan angin dingin. Kedua


tangannya dilipat menyilang di dadanya untuk menghalau cuaca dingin. Sekilas


Ken melihat Indah yang kedinginan. Tentu saja blouse tipis tanpa lengan dan


celana sepanjang tiga perempat itu tidak sanggup menghalau terpaan angin


dingin. Ken ingin sekali memeluk wanita di sampingnya ini, untuk memberikan


kehangatan. Namun ia takut jika Indah tidak mau menerimanya. Ia tidak ingin


jika nantinya Indah akan merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Akhirnya


ditariknya tangan Indah untuk mengikutinya berlari ke arah mobil.


“Ayo cepat. Cuacanya


semakin dingin. Sepertinya akan turun hujan.” Ken berbicara menghilangkan rasa


canggungnya.

__ADS_1


Indah mengikuti Ken


yang berlari ke arah mobil.


“Ken, ada yang tidak


aku ketahui lagi tentang pekerjaan dan kuliahmu? Aku merasa tidak tahu apa-apa tentang


kamu. Seperti tentang cafe ini yang baru kuketahui hari ini.”


“Apa yang ingin kamu


ketahui? Aku rasa kita bisa mulai saling bercerita, mengenal satu sama lain.”


Kenan merasa senang mendengar keingintahuan dari Indah. Semoga saja mereka


berdua bisa mulai saling mengenal.


“Sudah berapa lama kamu


mengelola cafe ini?”


“Sejak awal semester


satu.”


Beberapa percakapan


menemani mereka berdua sebelum sampai di sebuah supermarket yang terdekat


dengan kediaman mereka. Setelah mobil diparkirkan, keduanya berjalan memasuki


supermarket tersebut.


***


Indah POV


Aku mengambil sebuah troli. Kukeluarkan selembar kertas dari tas


kecilku. Kubaca catatan yang ditulis oleh Bik Janet. Kenan bergerak ke


mendekatiku. Ia ikut membaca catatan yang kupegang. Ia kemudian mengambil alih troli


yang kupegang. Kami melangkah menuju rak berisi daging dan ikan. Aku


menyebutkan jenis daging dan banyaknya sesuai dengan yang tertulis di catatan.


Pelayan memenuhi pesanan kami. Kemudian kami berali ke rak sayuran dan mengambil


beberapa macam sayuran di sana. Tidak lupa juga kami mampir di persediaan bumbu


masak.Kenan mendorong troli itu dengan gagah. Seperti yang sering kulihat di


drama-drama korea itu bukan? Sang pria mendorong keranjang belanjaan wanitanya.


Baru kali ini aku merasakannya, tetapi bukan dengan pacar yang aku cintai,


melainkan berdua dengan suamiku yang belum begitu aku kenali.


Selanjutnya kami berjalan ke arah sudut untuk mengambil sabun cuci


pakaian dan sabun cuci piring.


Letaknya yang agak ke sudut membuatku tidak leluasa membiarkan Ken


membawa troli. Akhirnya kuputuskan aku saja yang mengambil barang-barang itu.


Namun saat aku sampai di sana glek...aku menemukan pemandangan yang memuakkan.


Sepasang anak muda sedang berciuman.


Cih, apa mereka tidak tahu tempat? Kenapa di tempat umum seperti ini


mereka berani berciuman? Aku mengambil barang-barang yang kami perlukan dengan


terburu-buru dan sepelan mungkin. Semoga saja mereka berdua tidak menyadari


kehadiranku. Namun...bruk...aku menjatuhkan sederetan pengharum pakaian. Tentu


saja kedua menusia itu menengok ke arahku dengan jengkel. Tetapi...deg...siapa


dia? Wajah pria tampan itu menatapku. Sejanak aku terkunci pada tatapannya yang


tajam. Kenapa pula tatapan itu menembus sampai ke jantungku seolah mengorek-ngorek


lukaku?


Ah, dia Ben...Bennedict sialan, mantan pacarku. Kenapa juga harus


bertemu lagi di sini? Aku segera melarikan diri. Jantungku berdetak tidak


karuan. Tidak mempedulikan barang-barang yang berjatuhan karena ulahku. Aku


segera menghampiri Ken. Tanpa sadar kugigit-gigit bibir bawahku, kebiasaan yang


sering kulakukan ketika aku merasa tidak nyaman.


Bagaimana dengan mereka berdua? Aku tidak mau tahu. Sungguh, aku ingin


segera berlari dari sini.


“In, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Ken menatapku dengan


khawatir.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat mencari barang-barang yang kita


butuhkan, Ken. Ini sudah malam. Aku ingin segera makan di rumah.”


“Baiklah. Tapi kenapa wajahmu menjadi pucat?” Ken memegang dahiku. Aku


hanya menggeleng lemah. Ia tidak lagi bertanya. Dijalankannya troli menuju


beberapa rak yang lain. Aku mengikuti di belakangnya dengan menempel di


punggungnya. Walaupun aku khawatir, Ken akan mendengar degup jantungku. Tapi


aku ingin mencari sedikit ketenangan dari punggungnya yang lebar, yang dapat


menyembunyikan seluruh diriku. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan Ben. Hatiku


sakit. Ken tidak lagi menanyaiku. Ia hanya fokus pada barang belanjaannya,


tidak menghiraukan tindakan anehku yang terlalu menempel di belakangnya.

__ADS_1


***


__ADS_2