
DUG... DUG... DUG...
Terdengar suara langkah kaki itu seperti menuju ke arah tempat Via berada. Via terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat dua orang pengawal sembari membuka kunci sel itu.
KLAKK...
"Silahkan keluar!" Titah salah satu pengawal.
"Ada apa ini? Apa pelakunya telah di temukan?" Kata Via yang terheran-heran.
"Anda akan tau nanti setelah keluar dari sini"
Akhirnya Via keluar dari sel. Ia melihat sekelilingnya seperti mencari seseorang.
Dimana Zack? Apa dia berhasil mendapatkan pelakunya? Batin Via.
Setelah menaiki tangga yang cukup panjang itu, di hadapannya terdapat pria yang tengah menunggunya.
"Via! Kamu baik-baik saja?" kata pria itu dan memeluk Via dengan erat.
DEG!
Astaga! Hans memelukku!? Batin Via.
Setelah melepas pelukannya, Via hanya tertegun melihat Hans yang ada di hadapannya.
"Aku khawatir sekali padamu! Setelah mendengar kamu ada masalah, aku langsung kemari" Kata Hans dengan nafas yang tidak beraturan. Sepertinya ia berlari dari pintu depan menuju kemari.
"Ah... I.. iya pangeran" Kata Via kikuk.
"Ayo, sebaiknya kita ke ruangan yang lebih nyaman, pasti perasaan mu tidak karuan" Kata Hans sembari memakaikan mantelnya pada Via.
...****************...
Via hanya mengikuti Hans sampai ke ruangan. Di tengah perjalanan tampak Zack berlari ke arahnya.
"Hosh... Hosh.. Vi... Via?" Kata Zack. Ia menatap Via dan menatap Hans bergantian.
"Ah, anda rupanya? Kalau begitu biar aku--" Kata Zack yang belum selesai berbicara.
"Duke! Anda... Hosh... cepat sekali... Larinya" Pekik Dion yang menyusul Zack.
"Ada apa?" Tanya Zack.
"Ada kekacauan di aula tengah! Anda harus bergegas"
"Sepertinya kau sangat sibuk Zack, Via biar aku saja yang menjaganya" Setelah mengatakan itu Hans membawa Via pergi. Via hanya menatap Zack dan tersenyum menandakan bahwa ia baik-baik saja.
Cukup lama Zack memerhatikan mereka berdua dari belakang. Ia langsung bergegas menghadap Raja.
...****************...
"Yang mulia! Bagaimana nasib kita semua jika tidak ada penerus tahta kerajaan ini!" Kata para menteri.
"Benar yang mulia! Seperti kata tabib, racun yang putra mahkota konsumsi sangat berbahaya sekali!"
__ADS_1
"DIAM! Kalian pikir putra mahkota akan mati secepat itu!? Memang racun itu berbahaya sekali jika di konsumsi berlebihan, tapi ia hanya mengonsumsi sedikit, aku yakin putra mahkota akan pulih kembali. Tidak bisakah kalian bersabar huh!?" Pekik Sang raja yang marah atas pernyataan dari para bangsawan dan menteri itu.
"Yang mulia, maaf menyela. Saya tidak meragukan seperti yang di katakan yang mulia, hanya saja kita perlu pengganti sementara selama putra mahkota berada di kondisi seperti ini" Kata salah satu bangsawan.
"Kalau memang ada pengganti seperti itu, ia harus lah keturunan kerajaan!" Kata sang raja.
"Benar sekali yang mulia, saya sangat mengetahui hal itu. Tapi apa anda tau, bahwa ada keluarga kerajaan yang saya temui beberapa hari lalu" Kata pria itu.
Sang raja dan ratu yang ada di sebelahnya terdiam seketika. Begitu juga dengan orang-orang di sana. Bagaimana tidak, Alex hanyalah putra tunggal tidak ada lagi anggota kerajaan.
Kalau pun ada itu hanya keluarga dari pihak ratu yang di jadikan keluarga kerajaan tapi mereka tidak memiliki darah yang kuat.
Pria tadi membuka pintu. Muncullah seorang wanita dan seorang pemuda dengan tegap nya menghadap sang raja.
Tepat di belakang dua orang itu, Zack baru saja datang dan memasuki aula.
Itu... Bukannya ibu dan kakak nya Via? Ada apa mereka bisa sampai ke tempat ini? Batin Zack.
"Siapa mereka!?" Kata Raja.
"Salam kami kepada Yang mulia Raja, Yang mulia Ratu" Hormat mereka.
"Anak ini yang saya maksud, ia memiliki darah kerajaan yang kuat" Kata pria tadi.
"Bagaimana kamu bisa membuktikan--" Kata raja.
Blair membuka sebagian bajunya. Di tubuhnya terdapat tanda lahir di mana Alex juga memiliki nya sama seperti raja sekarang.
"Tanda itu?!" Kata Sang Ratu terkejut.
"Umur saya sekarang sudah 31 tahun yang mulia" Kata Blair.
Yang mulia ratu sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, Alex yang sekarang berumur 25 tahun. Selisih mereka hanya berjarak 6 tahun.
Sang ratu langsung pergi keluar aula tersebut. Raja sangat panik karena hal ini.
"Ratu! Istriku!" Pekik raja. Tapi hal itu tidak di gubris oleh ratu. Sama halnya dengan Zack, ia di lewati begitu saja.
Zack mengejar Ratu yang berlari sangat kencang.
"Yang mulia! Tunggu saya!" Kata Zack.
Ratu terus berlari dengan raut wajah tidak mengenakkan.
Sampailah sang ratu berhenti di sebuah jendela besar. Di mana jendela itu mengarah pada taman-taman yang ada di istana.
"Yang mulia..." Kata Zack yang ikut berdiri di samping ratu.
"Panggil aku seperti biasanya saja Zack" Kata ratu.
"Huft... Bibi, aku tau bibi sedih, tapi raja pasti memiliki alasan" Kata Zack.
"Haha... Untuk apa aku sedih, sang raja pasti berhak jika ingin menikah lagi..." Kata ratu yang tertawa kecil itu. Zack hanya terheran saja melihat sang bibi malah tersenyum.
"... Dan aku harus selalu siap jika ada seorang wanita yang ia cintai lagi, tapi harusnya tidak seperti itu, anak itu berumur 30 tahun, itu berarti sebelum pernikahan kami... Dia.. Dia... telah melakukan-- Arghh!"
__ADS_1
Huft... Ku pikir bibi ku sudah gila Karena tadi senyum sendiri. Batin Zack.
"Ah... Benar juga" Kata Zack.
Kalau memang Blair anak raja, itu berarti dia lahir sebelum Alex dilahirkan. Batin Zack.
Dari kejauhan sang raja tengah berlari menghampiri ratu yang bersama Zack.
"Istriku! Kenapa tiba-tiba kau pergi begitu saja? jangan salah paham! Dia... Dia bukan anak ku! Aku bersungguh-sungguh" Pekik raja ketika melihat sang ratu mengabaikan tatapannya.
"Lalu itu anak siapa? Kenapa dia mengaku kalau dia anggota kerajaan?!" Kata Ratu.
Apa lebih baik aku pergi dari sini? Tidak enak melihat suami-istri bertengkar di sini... Batin Zack.
Zack mulai melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.
"Dia anak dari raja terdahulu! " Kata Raja. Sontak Ratu dan Zack terkejut mendengar hal itu.
"Apa? Raja terdahulu?" gumam Zack.
"Berarti dia anak ayahanda?" Kata Ratu. Raja membalasnya dengan anggukan.
Bagaimana bisa ini terjadi? Batin Zack.
...****************...
"Via kami meminta maaf karena telah menuduh mu yang meracuni putra mahkota" Kata Ratu pada Via di ruangan milik Ratu.
"Ah... Tidak apa-apa yang mulia" Kata Via.
"Jadi sebagai permintaan maaf ku, ujian terakhir mu aku nyatakan lulus. Dan sekarang kamu bisa memiliki nama belakang yang kau inginkan." Kata Ratu. Tentu saja hal itu membuat Via sangat senang.
"Be... Benarkah yang mulia?"
"Benar Via. Untuk nama belakang mu, sebelumnya ada satu keluarga yang telah aku jumpai. Mereka tidak masalah mengangkat mu sebagai anak mereka nantinya. Itu akan memudahkan mu bergaul di kalangan atas."
"Siapa namanya yang mulia?"
"Kebetulan dia seorang Duke yang bernama Colantz, Alaric Colantz" Kata Ratu.
Via sempat terdiam mendengar nama itu. Sepertinya tak asing baginya. Ia memikirkan sejenak.
Tunggu, itu bukannya salah satu keluarga Hans? Kalau aku memakai nama itu apa aku menjadi keluarganya? Batin Via.
"Bagaimana Via, kau mau memilikinya? Olivia Colantz? Wah sangat cocok sekali dengan mu!" Puji Ratu.
"Maaf Ratu apa itu berarti hubungan saya dengan keluarga Chase tidak akan ada lagi?" Tanya Via memastikan.
"Tentu saja! Pilihan ada di tangan mu. Kamu bisa memikirkannya baik-baik"
...****************...
Terima kasih telah membaca novel ini 😊
Jangan lupa like, vote, dan favorit yaa
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋