
Kemudian tempat itu kini berganti menjadi serba putih.
Setelah melihat itu semua Mira paham dengan keadaan Olivia sebenarnya. Ia menjadi pengasuh karena bibinya yang mengetahui Olivia sewaktu-waktu akan di bunuh juga dengan Merlin.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" gumam Mira.
TRAAAKK
"Hah? Bunyi apa itu?" Mira melihat sekelilingnya. Tidak ada yang aneh dari tempat yang ia pijak. Ia pun melangkahkan kakinya. Bunyi itu muncul kembali.
TRAAAKK
Sampai ia menyadari bahwa tempat itu mulai memperlihatkan keretakan yang ada di bawah kakinya.
"Astaga! Bagaimana ini? Tempat ini akan hancur?" Mira berjalan pelan lalu berlari sekuat tenaga menghindari retakan tersebut.
Tetapi seakan-akan retakan itu mengikuti Mira sampai membelah tempat tersebut.
"AAAA!"
...****************...
Mira terjatuh dari pijakannya. Seketika ia di kelilingi gelembung mulai dari terkecil hingga terbesar. Kecepatannya semakin melambat. Ia menjadi melayang dan terbang ke mana-mana.
Mira melihat satu persatu gelembung tersebut. Seperti ada pergerakan di dalam sana. Ia mendekati salah satu gelembung yang ada di dekatnya.
Matanya terbelalak dan terkejut. Di dalam gelembung itu terdapat memori kehidupan Olivia yang terdapat jiwa Miranda.
Ada banyak sekali kenangan yang telah ia buat. Mira menikmati gelembung satu dengan yang lainnya. Senyum tipis melukis di bibirnya.
Setelah sampai di ujung, terdapat beberapa gelembung yang tidak ada memori sama sekali di dalamnya.
"Loh, kenapa ini tidak ada?" Mira melihat lagi dengan seksama.
"Ah... Sepertinya aku tau. Kalau begitu aku kembali! Tunggu aku Zack!" Kata Mira. Ia berlari tanpa arah, sampai akhirnya ia lelah karena tak kunjung menemukan jalan keluar.
"Hosh.... Hosh... Bagaimana ini? Hosh... ZACK! DI MANA KAMU!" Mira teriak sekuat tenaga. Tetapi di sana hanya ia seorang.
"Sepertinya tidak harapan kembali.. AAWW! Cahaya apa ini?" Muncul cahaya putih yang menyilaukan mata datang ke arahnya.
Sebuah tangan bercahaya putih keluar dari sana. Mira tampak bingung dengan cahaya itu.
"Kalau memang pilihan mu untuk kembali, ikutlah aku" Kata cahaya putih itu.
Dengan ragu, Mira pun mengulurkan tangannya kepada tangan bercahaya itu. Tiba-tiba muncul cahaya lain di sebelahnya mengulurkan tangannya.
"Atau jika kau mau melihat masa lalu, ikutlah dengan ku"
__ADS_1
Mira sangat bingung dengan kedua pilihan tersebut. Dia ingin kembali tapi di sisi lain dia juga penasaran masa lalu siapa yang akan ia lihat.
"Aku... Aku akan memilih mu" Kata Mira.
"Baiklah"
Tubuhnya seakan tertarik ke dalam sana. Hingga ia tidak dapat melihat apa-apa.
...****************...
Terdengar suara keramaian tak jauh dari ia berada. Ia telah berada di sebuah masa lalu seseorang yang tidak ia ketahui.
Sembari berjalan ia melihat sekelilingnya. Hampir suasana di sana mirip dengan kota di mana Olivia tinggal.
"Hei, kau lihat dia. Sangat cantik sekali bukan?"
"Mana? Wahh iya! Benar! Bagaimana bisa dia secantik itu!"
"Kamu mau ke mana? Mau aku temani?"
"Ahh... Aku ingin pergi mencuci pakaian di sumur" kata gadis yang di bicarakan oleh banyak orang. Gadis itu memiliki kulit yang sangat bersih dengan rambut pirang yang panjang terurai.
"Kasihan sekali! Ayo dengan ku saja!"
"Tidak, tidak perlu. Aku bisa sendiri!" Gadis itu berusaha menghindari para pria yang dari tadi mendekati dirinya.
"Hei! Kau sombong sekali! Kau itu memang sangat cantik tapi tidak dengan hati mu! Mau di tolong saja tidak suka" Kata seorang pria yang justru membentak gadis itu.
Gadis itu hanya terdiam sesaat dan melanjutkan perjalanannya. Mira yang melihat adegan tersebut mengikuti gadis tersebut. Ia juga tidak dapat menolongnya karena tidak ada siapapun yang melihatnya.
Setelah mengikuti gadis itu tidak ada pergerakan aneh padanya. Ia hanya fokus pada cucian nya yang menumpuk. Setelah selesai ia melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
"Ya ampun! Kenapa kau lama sekali!? Kau tau tidak banyak sekali orang-orang membicarakan mu! Aku sangat malu sekali!" Kata ibu tua yang tengah berdiri di sebuah rumah besar itu. Di sampingnya terdapat tulisan 'Panti Asuhan'.
"Maafkan aku madam. Tapi orang-orang itu menggangu ku" Kata gadis itu.
"Sudahlah, ayo masuk: Ada hal penting yang harus kau lakukan!"
Di dalam rumah tersebut banyak sekali anak-anak kecil yang sedang bermain. Di antara mereka hanya gadis itu saja yang berusia paling tua.
"Merlin, Istana kerajaan sedang mencari pembantu di sana aku mendaftarkan mu jadi besok kau harus pergi!" Ucap ibu tua itu.
Tunggu?! Merlin!? Apa jangan-jangan ini masa lalu Merlin? batin Mira.
"Tapi madam anda belum meminta persetujuan dari ku?" Kata Merlin.
"Dengar Merlin! Umur mu sudah 15 tahun. Di luar sana banyak yang sudah bisa bekerja mandiri. Kau pun juga sama. Kau tidak lihat akhir-akhir ini banyak sekali orang yang membuang anaknya di sini, aku sudah tidak sanggup merawat sebanyak itu lagi. Jadi kumohon kau pergi mencari kehidupan mu sendiri" Kata madam.
__ADS_1
"Uhh... Baiklah" Merlin keluar dari ruangan tersebut. Ia berjalan ke arah kamarnya sambil membereskan barang-barang yang hendak ia bawa besok.
Susana berganti menjadi keesokan harinya. Tepatnya Madam mengantarkan Merlin ke istana.
"Kau dengar apa yang ku bilang kan? Sekarang pangeran berusia 20 tahun dan belum menikah. Kau bisa menggunakan wajah mu untuk menarik perhatiannya!" Madam mengatakan hal itu pada Merlin. Ia merasa kurang nyaman atas perkataannya.
"Terima kasih madam karena telah merawat ku selama ini" kata Merlin yang akan meninggalkan panti asuhan selamanya.
"Ya... Ya... Kalau kau sukses nanti dan menjadi ratu jangan lupa panti asuhan ku ya!"madam itu pun pergi meninggalkan Merlin.
Di sinilah kehidupan Merlin akan berubah. Kesehariannya adalah menjadi pembantu istana. Walaupun ia berada di istana, banyak juga orang-orang yang membicarakan kecantikannya sedangkan para wanita sangat iri padanya. Karena terbiasa Merlin hanya fokus bekerja tanpa mendengar ocehan mereka.
Sudah dua bulan ia bekerja di sana. Ada hasrat ia ingin bertemu pangeran Claude yang sering dijuluki pangeran tampan sejagat raya. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Karena ia bertemu dengan seorang pria pandai besi istana.
Baginya pria itu sangat tampan dan baik. Ia sering dipanggil Ken. Setiap sore mereka selalu bertemu di taman istana. Mereka saling bertukar cerita, makan bersama dan lain-lain.
Suatu hari semua petugas berkumpul menjadi satu di halaman istana. Sang raja bernama Austin yang pada saat itu masih bertahta.
Ia berencana membuat sebuah pesta tahunan yang biasanya di selenggarakan di istana. Selagi merencanakan dengan asisten istana, mata Austin tertuju pada Merlin.
Ia tampak seperti berbeda dari para gadis seumuran nya karena wajah yang sangat cantik itu.
"Aku tidak tau kau merekrut gadis itu. Apa dia dari kalangan bangsawan?" Tanya Austin.
Asisten itu menoleh dan melihat orang yang di tunjuk Raja.
"Dia ya, benar yang mulia. Dia dan pembantu lainnya sudah dua bulan yang lalu di sini. Tidak, dia hanya gadis biasa dari panti asuhan" Kata asisten itu.
"Hmm... Begitu"
Waktu terus berjalan, acara yang akan di laksanakan itu akan dilakukan besok lusa. Tapi para pekerja mulai bekerja keras menyiapkannya.
Sang Raja yang setiap waktu mengontrol para pekerja. Melihat ada yang tidak bekerja, ia langsung akan memberi hukuman atau pergi dari tempat itu.
Melihat Merlin yang tak jauh darinya. Ia sangat rajin. Tidak ada pekerjaan yang lewatkan sedikit pun. Austin melewati ke arahnya. Hembusan angin membuat rambut merlin berterbangan dan tanpa sengaja menyentuh wajah Austin.
Semerbak wangi dari rambut tersebut bisa di rasakan oleh Austin. Langkahnya sempat terhenti. Merlin seketika berbalik dan terkejut akan kehadiran Austin.
"Ah... Maaf yang mulia! Rambut saya... Mengenai wajah anda" Kata Merlin gugup.
"Tidak apa" Austin melanjutkan perjalanannya lagi.
"Huft... Untung kau selamat Merlin! Kalau tidak... Kehk!" Ujar teman sebayanya.
Raut wajah Merlin seperti kesakitan. Ia tau maksud dari temannya itu. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋