
Setelah kejadian membeli pie susu yang membuat Via hampir tersipu malu seharian, mereka lanjutkan liburannya dengan menjaga Lucinda.
Menjaga Lucinda memang hal yang cukup mudah asalkan bersama dengan orang yang membuatnya nyaman.
Namun ditengah-tengah mereka sedang berjalan-jalan menyusuri jembatan, Via mulai ingin mencari kamar mandi.
"Eum... Duke! Sepertinya saya harus pergi sebentar, ada hal darurat yang harus saya lakukan!" Kata Via seperti menahan sesuatu.
"Ba-Baiklah"
"Ini tolong jaga Lucinda, saya akan segera kembali!" Kata Via berlari setelah memberikan Lucinda pada Zack.
"Oh tidak! Jangan lagi" Gumam Zack. Ia melihat wajah Lucinda. Ia memang lucu namun raut wajahnya berubah seketika melihat Zack.
"Oke Lucinda! Jangan... Jangan menangis yaa... Ku mohon, nanti aku akan membelikan sesuatu yang enak" Lucinda hanya terdiam sambil menatap Zack. Ia mulai ancang-ancang untuk...
"HUAAAA!!" orang-orang yang berlalu lalang melihat ke arah mereka.
"Hei! Sudah ku bilang jangan menangis!"
"HUAAA!" Justru tangisan Lucinda semakin memekikkan telinga.
"Huft... Apa yang harus aku lakukan..." Gumam Zack. Seseorang melewati mereka dan berhenti tepat di depan mereka.
"Wah siapa ini? Sepertinya anda pembeli yang tadi?" Kata orang itu. Zack melihat ke arah orang tersebut. Ia tidak mengenali sama sekali. Namun seketika ia teringat lelaki yang ada di depannya sewaktu mengantri pie susu.
"Ah.. I-Iyaa"
"Kasihan sekali anakmu menangis, ibunya ke mana?" Tanyanya. Zack hampir keceplosan mengatakan ibunya sedang sakit. Karena sebelumnya mereka berbohong bahwa mereka adalah pasangan suami-istri.
"Aa... Itu... Istri ku sedang ada urusan sebentar, jadi... aku yang menjaganya" Kata Zack gugup.
Pertama kali aku gugup berhadapan dengan orang. Batin Zack.
"Aku mengerti maksudmu, aku juga seorang ayah, biasanya anak laki-laki atau perempuan memang paling dekat dengan ibunya. Tapi aku punya trik untuk anakmu bisa dekat dengan mu..."
"Bagaimana caranya?" Kata Zack yang mulai tertarik arah pembicaraannya.
"Pertama-tama anda sebaiknya mengontrol wajah anda. Jangan terlalu memasang wajah serius di depan anak"
"Maksudnya aku harus senyum?"
"Tepat sekali! Setelah itu anda gendong dia dan peluk dia dengan hangat. Salurkan rasa cinta anda padanya agar dia selalu tenang di sisi anda"
Setelah orang itu menjelaskan, Zack mulai mengikuti langkah-langkah tadi. Dengan perlahan ia menggendong Lucinda dan memeluknya dengan lembut.
Oke Zack! Kau juga seorang ayah pasti sangat mudah untuk memberikan rasa cinta pada Lucinda. Batin Zack.
Lucinda sempat berhenti menangis.
"Wahh... Anda cepat sekali menenangkan--"
"HUAAA!!" Lucinda kembali menangis.
"Arghhh!"
"Sabar tuan! Memang sebagai sosok ayah tidak mudah. Anda harus coba lagi!"
"Baiklah!" Zack mengulang lagi perbuatan tadi. Ia mulai mengingat kenangan waktu Lea dan Leo sewaktu masih bayi.
__ADS_1
Tunggu? Aku tau kenapa Lucinda masih menangis? Itu pasti karena cinta yang aku berikan hanyalah palsu. Mengingat Lea dan Leo dulu, aku tidak pernah sama sekali merawat mereka. Justru aku menyuruh pelayan lain untuk menjaganya. Ternyata aku memang belum bisa menjadi ayah yang baik... Maafkan aku Lea... Leo... Batin Zack.
Ia teringat kejadian dulu. Ada rasa bersalah di hatinya. Mulai saat itu ia ingin sekali merubah masa lalu yang ia lakukan pada anak-anaknya. Namun itu tidak bisa.
"Tuan! Lihatlah, dia berhenti menangis! Saya yakin anda pasti bisa!"
"Be-benarkah?" Zack melihat Lucinda. Memang benar ia tidak menangis lagi. Lucinda juga menatap Zack dan tertawa setelah itu.
"Apa.... Apa aku berhasil?"
"Iya tuan,"
"Terima kasih banyak sudah membantu ku! Aku tidak tau bagaimana bisa membalas itu semua" kata Zack.
"Tidak apa tuan, anggap saja ini sebagai permintaan maaf karena tidak melihat anda di belakangku. Kalau begitu aku permisi dulu!" Lelaki itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Seharusnya aku yang meminta maaf... Tapi tak apalah, aku harap semua ayah di dunia ini bisa menjadi ayah yang baik dan tidak seperti ku dulu" Gumam Zack.
"Ha... haa" Lucinda tertawa kecil dan menyentuh wajah Zack.
"Kau mulai berani ya menyentuh wajah ku?"
"Huft... Akhirnya lega juga! Aku harus bergegas, mereka pasti menunggu lama!" Via yang sudah selesai langsung berlari kecil menuju ke tempat Zack dan Lucinda.
Namun kekhawatiran itu berganti setelah melihat Zack dan Lucinda menjadi lebih dekat.
"Sepertinya saya terlalu khawatir dengan kalian?" Kata Via setelah melihat Zack dan Lucinda.
"Ah... Sudah selesai?" Tanya Zack
"Ahaha... Iya Duke, maaf menunggu lama, baiklah mari kita lanjutkan lagi jalan-jalan nya! Ayo Lucinda!" Kata Via. Ia hendak mengambil Lucinda dari pangkuan Zack, namun Lucinda seperti menolak.
"Eh? Kenapa tidak mau? Wah, sepertinya Lucinda ingin bersama Duke ya?" Via tertawaan melihat tingkah Lucinda.
"Sepertinya dia menyukaiku?" Kata Zack.
"haha... Benar sekali!"
"Kau tidak merasa terganggu jika ada yang menyukai ku?"
"Kalau itu Lucinda, kenapa saya harus terganggu?"
"Hmm... Berarti kalau orang lain--"
"Ayo Duke kita lanjutkan saja jalan-jalannya!" Via sengaja mempercepat langkahnya karena terlalu malu apa yang baru saja ia katakan.
"Hei! Aku belum selesai berbicara!" Zack dan Lucinda juga bergegas mengikuti Via.
...****************...
Mereka bertiga kembali mengitari taman yang indah itu. Sambil berpegangan tangan, mereka merasa dunia hanya milik mereka semata.
Tiba-tiba ada kerumunan orang di satu tempat yang berada di pojokan. Dengan penasaran mereka menghampiri tempat tersebut.
"Ada apa ya di sana?" Kata Via.
"Ayo kita lihat!"
Setelah berada di kerumunan itu, mereka melihat ada lima orang pelukis jalanan. Ya! Pekerjaan mereka melukis para wisatawan yang jauh-jauh datang kemari.
__ADS_1
"Wahh.. Lukisannya cantik sekali! Sama seperti aslinya" Kata Via terkagum-kagum.
"Bagaimana jika kita minta juga untuk di lukis?" Ucap Zack.
"Boleh Duke!"
Ada salah satu pelukis yang telah menyelesaikan lukisannya. Zack langsung segera menghampiri orang itu.
"Permisi tuan, apa anda bisa melukis kami?" Tanya Zack.
"Tentu saja tuan! Silahkan duduk di depan sana!" Ujar pelukis itu.
Via langsung duduk di sebuah kursi yang di belakangnya terdapat pemandangan yang sangat indah.
"Sayang sekali Lucinda nya tertidur. Apa kita bangunkan saja?"
"Jangan! Biarkan saja dia tertidur" Kata Zack. Sebelum duduk di samping Via, ia menghampiri terlebih dahulu pada sang pelukis.
"Apa aku bisa meminta sesuatu pada anda?" Tanya Zack.
"Hoho... Tentu saja tuan, apa itu?"
"..."
Setelah selesai berurusan dengan pelukisnya, Zack menghampiri Via dan duduk di sebelahnya.
"Apa yang anda katakan Duke?"
"Tidak ada. Lihat ke arah sana!"
Mereka berdua tersenyum ke arah sang pelukis.
Beberapa saat kemudian akhirnya lukisan tersebut berhasil di selesaikan dengan sangat indah.
"Terima kasih tuan, nyonya! Semoga kalian hidup bersama-sama sampai tua nanti!" ujar pelukis.
Via dan Zack hanya tersenyum simpul mendengarnya.
"Wah... Hasilnya sangat memuaskan!" Pekik Via.
"Tapi kenapa wajah Lucinda tidak kelihatan?" sambungnya.
"Aaa... Mungkin itu karena wajahnya tertutup tadi... Tapi bagus juga kan?" Kata Zack.
Sebelumnya ia meminta pada pelukis untuk menutupi wajah Lucinda. Itu bertujuan karena Zack hanya ingin dilukis berdua saja dengan Via.
"Iya bagus."
"Ini untukmu!" Kata Zack sembari menyodorkan lukisan itu padanya.
"Benarkah?"
Zack mengangguk dan tersenyum melihat Via begitu senang.
"Saya akan menyimpannya dengan baik!"
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋