
"Apa saya bisa tinggal di sini sementara? Anda boleh memperkerjakan saya di bagian dapur atau bersih-bersih. Saya tidak ada tempat tinggal lagi tuan" Kata Merlin.
"Ah... Ba-- Baiklah" Kata Arden sembari melepaskan tangannya dan sedikit menjaga jarak.
"Kamu dan anak mu bisa tinggal di sini" Kata Arden
"Terima kasih banyak tuan. Saya akan bekerja keras untuk anda!"
Dan begitulah Merlin dan Blair dapat tinggal di sana dengan berbagai rencana yang sudah di rancang oleh Merlin.
...****************...
Tiap malam Merlin selalu keluar tanpa sepengetahuan orang-orang di rumah Arden. Untuk dapat memikat Arden ia perlu bertemu dengan seorang penyihir yang dapat membuatkan ramuan untuknya.
Ia telah sampai di rumah tua milik penyihir tersebut yang jaraknya tidak begitu jauh dari kediaman Arden. Sehingga ia bisa kembali dengan cepat.
"Permisi, nyonya.." Kata Merlin. Ia sedikit ragu karena tempatnya begitu menyeramkan baginya.
"Hmm... Apa yang kau cari?" Kata penyihir.
"Aa- Aku ingin mencari ramuan untuk memikat lelaki"
Penyihir tersebut terheran-heran dan melihat Merlin dari atas hingga bawah.
"Ku akui kau sangat cantik, apa ada lelaki yang tidak terpikat padamu?"
"Ah.. itu sepertinya iya"
"Kasihan sekali, baiklah aku akan mencarinya!"
Selagi penyihir mencari ramuan, Merlin tertuju pada sebuah buku berwarna hitam yang terbuka. Di dalamnya seperti ada ukiran yang jarang ia lihat.
"Sepertinya aku kehabisan ramuan itu, akhir-akhir ini banyak sekali para lelaki mencarinya di sini" Kata penyihir itu.
"Apa tidak bisa di buat lagi?"
"Hmm... Bisa kalau kamu mau menunggu selama dua tahun"
"Apa?! Dua tahun!"
"Untuk mencari bahan-bahannya sangat susah! Kalau boleh ku sarankan, pakai ramuan kejujuran saja"
"Untuk apa ramuan itu? Aku tidak membutuhkannya!" Kata Merlin.
"Kau coba saja, mungkin dia hanya memendam perasaan saja padamu!"
Akhirnya dengan ragu Merlin memutuskan membeli ramuan kejujuran.
"Baiklah aku akan membeli saja. Oh iya nyonya penyihir, buku apa itu? Sepertinya banyak sekali gambar-gambar aneh?" Tanya Merlin.
"Ini? Itu bukan gambar yang aneh, melainkan sebuah gambar di mana kamu bisa mendapatkan kekuatan yang besar. Dasar kau ini!"
"Kekuatan yang besar?" Gumam Merlin.
"Bagaimana caranya?" Kata Merlin antusias.
"Sepertinya kau terpikat pada sihir hitam rupanya... Hahaha... Tapi ada sesuatu hal agar kau bisa terkontrak pada sihir hitam ini..."
Merlin merasa terpancing dengan perkataan sang penyihir. Matanya mulai berbinar-binar.
"Bagaimana? Kau mau melakukannya..." Kata sang penyihir.
...****************...
Merlin telah kembali sebelum matahari terbit. Dengan cepat ia masuk kembali ke rumah Arden melewati pintu belakang untuk sampai ke kamarnya.
"Kita akan lihat saja nanti bagaimana ramuan ini bekerja..." Kata Merlin.
Pagi harinya, semua orang yang ada di sana mulai bekerja seperti biasanya. Sama halnya dengan Arden yang sudah duduk di ruang kerjanya.
TOK... TOK..
"Masuk!"
CEKLEK!
__ADS_1
Merlin datang membawakan minuman untuk Arden tak lupa juga dengan ramuan yang telah ia campurkan.
"Selamat pagi tuan!" Ucap Merlin.
"Selamat pagi Merlin, kau membawakan kopi ku?" Tanya Arden.
"Iya tuan, silahkan di minum"
"Terima kasih!"
Setelah meletakkan gelasnya, Merlin mulai membersihkan sebagian ruang kerja Arden.
Biasanya Arden selalu mengatakan semuanya itu enak walaupun sebenarnya tidak enak. Tapi kita lihat saja nanti apakah benar ia akan jujur dengan kopi asin itu? Batin Merlin.
"Srupp... Mmm!"
"Ada apa tuan? Apa kopi buatan saya enak di lidah Anda?" Kata Merlin yang melihat wajah Arden berubah.
"Ah.. Tidak kok... Kopinya ena-- Kopinya sangat asin! Ups! Maksudku kopinya ena-- kopinya tidak enak!" Arden terkejut dengan apa yang ia katakan. Muncul perasaan tidak enak pada Merlin karena mengatakan kopi buatannya tidak enak.
"Be- Benarkah?! Apa jangan-jangan saya menaruh garam tadi? Maafkan saya tuan!"
"Ah... Tidak apa-apa kok!"
"Saya akan mengganti yang baru!" Buru-buru Merlin mengambil kopi tersebut dan keluar dari sana.
"Apa yang terjadi padaku? Tapi rasa kopinya tidak enak sih" Gumam Arden.
Beberapa saat kemudian, Merlin datang membawakan kopi baru yang ia buat.
"Sekali lagi maafkan saya tuan" Kata Merlin.
"Iya tidak apa-apa. Sruupp... Hmm... Enak!" Kata Arden.
"Syukurlah, eum... tuan apa saya boleh bertanya pada anda?" Kata Merlin.
"Ya tentu saja! Katakanlah"
"Setelah saya ke sini saya belum pernah melihat putri anda, di mana dia sekarang?"
"Baik tuan akan saya siapkan. Saya minta maaf lagi tuan, ingin bertanya satu hal lagi"
"Silahkan!"
"Sudah lama saya ingin mengatakan ini, apa anda ingat waktu pertama kali kita bertemu di kedai. Kira-kira apa kesan anda tentang saya? Saya menanyakan hal ini karena banyak orang-orang merendahkan saya. Saya jadi khawatir membuat anda kerepotan karena saya." Kata Merlin. Arden terdiam sejenak mengingat waktu pertemuan dengan Merlin.
"Benarkah? menurutku kamu orangnya baik dan juga sangat cantik. Tidak ada orang yang tidak menyukaimu, bahkan aku pernah terpikat waktu kita pertama bertemu..." Arden terdiam setelah mengatakan itu. Ia memikirkan kembali kata-kata barusan.
"Apa maksud anda, tuan menyukai saya?" Tanya Merlin yang membuat Arden salah tingkah.
"Bu- Bukan, maksudku ya ku akui kamu sangat cantik, jadi aku sempat terpikat sebentar... Ma-- Maaf!" Kata Arden. Ia merasa ada yang salah pada dirinya. Ia lebih terbuka dari pada sebelumnya.
Astaga! Apa yang ku katakan barusan? Pasti Merlin merasa tidak enak padaku! Batin Arden.
"Saya paham tuan, karena saya juga menyukai anda ketika kita pertama bertemu. Tapi saya sadar batasan saya sendiri, anda sudah memiliki istri saat itu. Maafkan saya tuan karena sampai sekarang masih menyimpan perasaan saya pada anda..." Kata Merlin sembari membungkukkan badannya.
Ternyata dia juga terpikat karena kecantikan ku! Dia memang pandai menyembunyikan isi hatinya. Batin Merlin.
"Ukh... Tidak apa-apa, bisakah kau pergi keluar dulu?" Ucap Arden yang merasa terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Merlin.
"Tuan? Baiklah" Merlin pergi keluar dari ruang kerja Arden.
Dia pasti sangat kepikiran dengan perkataan ku tadi. Tinggal satu rencana lagi agar aku bisa menjadi bagian dari keluarga bangsawan. Batin Merlin.
...****************...
Setelah makan malam, Arden kembali ke ruang kerjanya. Seharian penuh ia tidak bisa meninggalkan ruang kerjanya karena ada banyak tugas yang harus ia kerjakan.
"Huft... Kenapa aku jadi kepikiran dengan Merlin?" Gumam Arden.
"Ohiya, sedari tadi aku tidak melihat Merlin, apa dia marah padaku karena telah menyuruhnya keluar? Oh astaga... " Arden kembali mengerjakan tugasnya.
Beberapa saat kemudian, Merlin datang membawakan gelas berisikan teh hijau untuk Arden.
TOK.. TOK...
__ADS_1
"Ini Merlin tuan!" Katanya dari luar pintu.
"Merlin? Ah iya, silahkan masuk!"
CEKLEK...
Arden terkesima melihat Merlin yang sudah memakai piyama putih dengan syal menutupi pundaknya. Rambutnya dibiarkan terurai lurus membuat kecantikannya semakin memikat.
"Tuan, maafkan saya karena sudah berganti pakaian sebelum melaksanakan perintah tuan tadi pagi. Blair meminta saya menemaninya tidur jadi saya lupa membereskan barang untuk besok" Kata Merlin.
"Ah.... Iya tidak apa-apa, jika kamu mau beristirahat silahkan saja, biar aku saja yang membereskan"
"Tidak tuan, itu adalah tugas saya, lagipula saya belum mengantuk. Ohiya ini ada teh hijau kesukaan anda. Seharian ini pasti anda kelelahan kan di ruang kerja terus?" Kata Merlin dan meletakkan gelas tersebut.
"Baiklah, terima kasih." Arden langsung meminum teh itu yang tanpa sadar sudah Merlin campur dengan ramuan dan juga obat tidur.
"Tidak ada salahnya jika anda beristirahat dulu, bukankah besok anda harus menjemput nona Olivia?"
"Benar juga."
"Kalau begitu saya permisi tuan ke kamar anda"
"Baiklah"
Merlin bergegas ke kamar Arden. Di sana ia dengan sengaja memperlambat kerjaannya. Karena sebentar lagi Arden akan mengantuk dan pergi ke kamarnya.
Dan benar saja, di ruang kerjanya Arden sudah merasa mengantuk.
"Hoaamm... Aku mengantuk sekali. Sebaiknya aku pergi ke kamar saja" Kata Arden. Ia pun meninggalkan ruang kerjanya.
Di kamar sudah ada Merlin yang masih membereskan barang Arden. Ia juga sengaja melepaskan syalnya dan membiarkan bagian dadanya terlihat sedikit.
CEKLEK...
"Hah!?"
"Ah... Mer- Merlin!? Maaf aku pikir kau sudah kembali. Wahh... Kau sangat cantik sekali" Kata Arden.
"Astaga, apa yang ku katakan tadi?" Gumam Arden.
Merlin tersenyum senang ramuan kejujurannya sangat membantu dirinya.
"Maaf tuan, saya sambil membereskan kembali pakaian anda di dalam lemari. Apa anda akan beristirahat sekarang?"
"Ah iya, rencananya aku agak sedikit begadang, tapi ternyata aku sudah agak mengantuk. Tapi tidak apa-apa kau bisa melanjutka-- Hoaam!"
Merlin mendekati Arden dan memegang tangannya.
"Tuan, jangan di paksakan. Mari saya antar ke ranjang anda."
"Ah... terima kasih, selain cantik kau juga sangat perhatian Merlin" Ucap Arden. Ia sudah kehilangan setengah sadarnya.
"Benarkah tuan? Terima kasih anda memuji saya"
Arden meraih tangan Merlin dan menahannya. Ia mengelus wajah Merlin dengan lembut.
"Semenjak ada kamu, aku jadi lebih terbuka dengan perasaan ini" Ucap Arden. Ia benar-benar di kuasai oleh ramuan kejujuran itu.
"Kalau begitu mulai sekarang jangan di tahan lagi tuan. Karena ada saya yang selalu menemani tuan" Merlin tersenyum licik. Ia mengelus lembut dada Arden. Kini Ia telah berhasil membuat Arden menjadi miliknya.
"Aku sangat lelah hari ini, maukah kamu menemaniku disini?" Ucap Arden.
"tentu saja tuan, saya akan menemani anda kapanpun anda membutuhkan" ucap Merlin. Saat itu pintu yang masih setengah terbuka memperlihatkan Blair yang tengah melihat ibunya.
Merlin melihat Blair. Seketika itu ia tersenyum kepada Blair dan menempelkan jari telunjuk dibibir nya.
"Sstt...." Merlin menyuruh Blair untuk menutup pintu dan lekas pergi dari sana. Blair hanya bisa menuruti perintah ibunya.
Merlin pun membawa Arden ke ranjang dan mereka menghabiskan waktunya semalaman.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1