
"Aku sangat lelah hari ini, maukah kamu menemaniku disini?" Ucap Arden.
"tentu saja tuan, saya akan menemani anda kapanpun anda membutuhkan" ucap Merlin. Saat itu pintu yang masih setengah terbuka memperlihatkan Blair yang tengah melihat ibunya.
Merlin melihat Blair. Seketika itu ia tersenyum kepada Blair dan menempelkan jari telunjuk dibibir nya.
"Sstt...." Merlin menyuruh Blair untuk menutup pintu dan lekas pergi dari sana. Blair hanya bisa menuruti perintah ibunya.
Merlin pun membawa Arden ke ranjang dan mereka menghabiskan waktunya semalaman.
...****************...
Matahari mulai menampakkan cahayanya. Arden masih tertidur pulas di samping Merlin.
"Ohh... Ternyata sayangku masih belum bangun juga... Olivia maafkan aku sepertinya ayahmu tidak akan datang menjemputmu" Gumam Merlin dengan senyumnya yang licik.
Namun, seseorang datang mengetuk pintu kamar Arden.
TOK... TOK...
"Hah? Siapa itu pagi-pagi sudah mengetuk pintu Arden?" Gumam Merlin. Ia beranjak dari ranjang dan mendekati pintu.
"Ini saya tuan!" Kata asisten Arden yang bernama Devon.
Ini kan suara tuan Devon? Pasti dia mau mengingatkan jadwal Arden! Aku harus mencegahnya! Batin Merlin.
Merlin memegang lehernya dan muncul sinar hitam dari tangannya.
"Ada apa kau kemari?" Kata Merlin yang suaranya langsung berubah seperti Arden.
"Sebentar lagi Anda harus menjemput nona Olivia, tuan" Kata Devon.
"Hmm... Uhuk! Uhuk! Sepertinya aku agak tidak enak badan Devon. Bisakah kau yang pergi menggantikan ku?"
"Anda sakit? Apa perlu saya panggilkan tabib?"
"Ah.. Tidak perlu, jika aku beristirahat sebentar aku mulai membaik! Tolong katakan pada Olivia maafkan ayah karena tidak bisa menjemput nya..."
"Baiklah tuan, saya akan segera siap-siap untuk menjemput nona Olivia"
"Terima kasih Devon!"
Merlin mendengar dari balik pintu suara langkah kaki Devon mulai menjauh.
"Eung... Merlin?" Rintih Arden.
Merlin menoleh ke arahnya dan menghampiri Arden yang masih berselimut.
"Iya tuan, ada apa?" Kata Merlin lembut. Suaranya kembali seperti semula.
"Kupikir kamu meninggalkanku"
"Tentu tidak tuan, tapi saya merasa tidak enak pada anda" ucap Merlin.
"Apa yang kau katakan? Kenapa tidak enak padaku?" Ucap Arden sembari memeluk Merlin di sampingnya. Matanya masih terasa berat untuk terbuka.
"Ah... Itu karena mana ada saya seorang pembantu disini berada di kamar anda semalaman. Bagaimana jika ada orang yang salah paham?" Kata Merlin.
"Ohh... Jadi itu yang kamu khawatirkan... Kalau begitu jadilah istriku! Dengan begitu tidak ada lagi yang menggangu atau salah paham dengan kita" Kata Arden. Merlin tersenyum lebar dan memegang wajah Arden.
"Benarkah tuan? Saya senang sekali mendengarnya!"
"Aku akan mengatakannya pada Olivia, dia juga membutuhkan sosok ibu seperti mu... Oh tidak! Olivia!? Aku- Aku harus menjemputnya... Ukh!" Arden baru tersadar akan putrinya. Namun ketika hendak bangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit.
"Ada apa tuan?"
"Kepalaku terasa... sakit sekali!"
"Kalau begitu minta yang lain saja untuk menjemput nona Olivia. Jika anda memaksakan diri, bisa jadi akan sangat berbahaya!"
"Tapi ini sudah telat, aku belum memberitahu Devon--"
"Ah, sepertinya anda lupa, tadi anda sempat terbangun dan meminta tuan Devon menjemput nona Olivia" Kata Merlin.
"Be-- Benarkah? Aku tidak ingat" ucap Arden yang berusaha mengingat.
"Mungkin karena anda terlalu lelah, coba katakan saja padanya, saya mendengarnya sendiri tuan"
"Uhh... Baiklah, aku akan beristirahat sebentar lagi" Kata Arden.
"Baik tuan..."
...****************...
__ADS_1
Terlihat seorang gadis kecil tengah menunggu seseorang di tangga rumah. Ia melihat ke kanan dan ke kiri namun tak ada juga yang datang.
"Olivia, tunggu di dalam saja. Ayahmu pasti menjemputmu" Kata bibi Olivia yang bernama Alice.
"Bibi Alice? Tidak apa, aku akan menunggu di sini saja" Kata Olivia bersikukuh.
"Huft..." Alice hanya bisa menghela nafas. Sudah berapa lama Olivia menunggu di luar.
"Tuan Devon? Apa yang kau lakukan ke sini?" Tanya Alice pada Devon yang baru saja sampai pada malam hari.
"Saya di beri perintah untuk menjemput nona Olivia oleh tuan Arden" Jelasnya.
Alice terdiam sebentar. "Bukannya Arden yang akan menjemput Olivia? Dia bahkan menunggunya diluar sampai malam!" Kata Alice yang sedikit kesal.
"Maafkan saya nona Alice, tapi tuan Arden sedang tidak enak badan"
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu? Olivia sedang tidur. Kembalilah kalian besok pagi"
"Baik nona Alice"
Mereka berdua kembali ke ruangan masing-masing. Namun tanpa di sadari Olivia mendengar percakapan mereka. Hal itu membuatnya merasa sedih.
Keesokkan paginya, Olivia tengah bersiap untuk pulang bersama Devon. Ia dapat memaklumi ayahnya yang sedang sakit.
"Ugh! Bibi Alice dimana sih? Padahal aku sudah mau berangkat!" Gerutu Olivia.
Selang beberapa menit, Alice datang dengan sebuah tas besar di tangannya.
"Bibi? Kenapa lama sekali?!"
"Maaf sayang, bibi baru saja berkemas"
"Apa? Bibi mau kemana?"
"Tentu saja bibi ikut bersamamu ke sana"
"Wahh! Benarkah! Yeayy"
"Bibi akan mengantarmu dan mungkin akan seminggu di sana"
Mereka pun menaiki kereta kuda yang telah dibawa oleh Devon untuk kembali ke rumah Arden.
...****************...
"iya... Iya... Bibi mau bertemu dengan teman dulu ya"
Olivia langsung keluar dari kereta dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Alice masih bertemu teman yang bekerja di rumah Arden.
"Hai Ria!" sapa Alice.
"Alice, lama tidak bertemu!" Kata Ria.
"Kau tampak cantik ya akhir-akhir ini" Goda Alice.
"Haha... Kau ini bisa saja! Ohiya, kau tau dengar-dengar tuan Arden akan menikah lagi?"
"Apa? Dari mana kau tau?"
"Aku dengar dari para pekerja yang lain, ada juga dari mereka melihat wanitanya. Katanya sangat cantik sekali!"
...****************...
Olivia tengah berlari di koridor. Dari kejauhan ia melihat sang ayahnya berdiri di dekat pintu.
"Ayah!"
Arden sontak menoleh dan tersenyum melihat putrinya telah kembali. Namun langkah Olivia kembali terhenti ketika melihat seorang wanita cantik dan anak laki-laki di hadapannya.
"Olivia! Maafkan ayah karena tidak bisa menjemput mu"
"Ah tidak apa ayah. Tapi siapa mereka?" Tanya Olivia.
"Nah, Olivia ayah akan menikahi wanita ini. Besok lusa adalah acara pernikahan kami" kata Arden.
"Benar sayang, kau juga bisa memanggilku ibu mulai sekarang" Kata Merlin tersenyum.
"Aku adalah kakak mu, nama ku Blair" ucap Blair yang berada di samping ibunya.
Olivia hanya tersenyum dan mengangguk menerima keputusan sang ayah untuk menikah lagi.
Alice yang juga masuk ke dalam setelah mendengar dari temannya. Ia melihat Olivia yang masih tercengang melihat Merlin dan Blair.
...****************...
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Menikah lagi padahal belum lama istrimu meninggalkan kalian?! Huh!?" Kata Alice pada Arden di ruang kerjanya.
"Bukan begitu Alice, aku juga masih merasa sedih. Tapi aku harus memikirkan Olivia, dia pasti membutuhkan sosok ibu pengganti untuk menemaninya" Jelas Arden.
"Baiklah, jika itu mau mu. Tapi ada satu hal yang juga harus kau lakukan!"
"Apa itu?"
"Biarkan aku tinggal di sini"
"Baik, aku tidak keberatan sama sekali" Ucap Arden.
...****************...
Sesi pernikahan berjalan dengan lancar walaupun ada juga orang-orang berpikiran aneh pada mereka.
Sial, kenapa wanita itu tiba-tiba tinggal di sini? Rencana ku akan terhambat gara-gara dia! Padahal dia juga punya rumah sendiri! Kalau aku punya kekuasaan di sini pasti aku sudah mengusir dia dari rumah ini! Batin Merlin.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" Kata Alice ketika mereka berada di luar rumah.
"Ah.. Tidak Alice. Aku permisi dulu" Kata Merlin. Ia langsung pergi meninggalkan Alice di sana.
Wanita itu sangat mencurigakan. Batin Alice.
Sudah hampir dua tahun pernikahan mereka. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Merlin karena banyak orang yang memperhatikannya.
Suatu hari, Merlin merasa tidak enak badan sampai-sampai tubuhnya hampir terjatuh. Untung saja Arden dengan sigap menahan tubuh Merlin.
"Ada apa sayang!?" Kata Arden.
"Aku sedikit pusing saja" Kata Merlin.
"Kalau begitu akan ku panggilkan tabib untuk mu"
Arden membawa Merlin ke kamar sembari menunggu tabib datang. Setelah tabib datang ia mulai memeriksa kondisi Merlin.
"Apa bulan ini nyonya telah datang bulan?" tanya tabib.
"Eum.. Ku rasa belum ada"
"Berarti tidak salah lagi, anda sedang mengandung. Selamat untuk tuan dan nyonya Chase" Kata tabib.
"Wah, benarkah?" Kata Arden yang sangat senang.
Alice yang juga berada di sana melihat raut wajah Merlin yang berbeda dari Arden. Ia lebih menunjukkan wajah terkejutnya.
Sialan! Kenapa aku harus hamil anak Arden? Akan lebih susah mengatur strategi selanjutnya! Ishh! Batin Merlin.
"Selamat Merlin, aku turut senang sekali. Tapi kenapa wajah mu tidak menunjukkan kesenangan?" Kata Alice.
Arden kembali melihat wajah istrinya. "Ah iya, apa kau tidak suka sayang?" Tanya Arden.
"Hah? Tentu tidak sayang, aku- Aku sangat senang sekali... Aku hanya kepikiran kita sudah memiliki Blair dan Olivia, aku khawatir banyak hal yang harus di urus nanti... " Kata Merlin.
"Tidak perlu risaukan itu sayang, kau hanya perlu memikirkan anak kita saja, ya?" Kata Arden.
Merlin hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Seketika itu mereka semua dan beserta isinya hilang bagai debu tertiup angin.
Mira yang melihat masa lalu Merlin dari awal hingga akhir itu tercengang ketika semuanya telah lenyap.
"Apa sudah berakhir? Tapi ini belum semuanya!" Pekik Mira pada diri sendiri.
Ia kembali di sebuah tempat tak berujung berwarna serba putih. Ia terus berjalan tanpa tujuan sekarang.
"Aku mengerti sekarang, dalam masalah ini Olivia membutuhkan ku. Pasti sangat berat bagi dia menghadapi semua ini. Apalagi orang-orang yang ia sayangi perlahan tiada karena kesalahan Merlin...."
"Bukan hanya Merlin, Austin si raja itu juga sangat terlibat dalam masalah ini. Merlin itu sebenarnya juga gadis biasa yang sangat baik, namun karena Austin yang memulai dulu makanya Merlin menjadi seperti itu..."
"Tapi kenapa dalam cerita aslinya Stella juga meninggal? Apa Merlin juga dalang dari semua ini? Atau ada orang lain? Hmm... Aku harus segera kembali! Mereka pasti menung-- gu... Aaaaa!!"
Tempat itu seketika lenyap secara perlahan sehingga Mira terjatuh dari sana. Tubuhnya masih melayang dengan kecepatan tinggi.
"Huft... Kenapa dari tadi aku jatuh terus sih..." Gumam Mira.
Kali ini ia hanya pasrah ke mana ia akan di bawa. Apakah dia akan kembali ataukah melihat masa lalu lagi dari seseorang?
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1