Tiba-tiba Menjadi Pengasuh!?

Tiba-tiba Menjadi Pengasuh!?
Eps. 49 Masa Lalu (4) Rencana Merlin


__ADS_3

"Apa yang kamu mohonkan?" Kata Ken.


"Eum... Rahasia! Hahaha.. Yang pasti aku sangat berterima kasih pada mu Ken dan juga ibu" Kata Merlin.


"Aku juga berterima kasih padamu karena telah kembali bersama ku" Ujar Ken. Ia mulai mendekati tubuhnya pada Merlin. Bibir mereka saling menempel. Merlin bisa merasakan hembusan nafas hangat milik Ken.


"Aku mencintaimu, Merlin!"


"Aku juga mencintaimu Ken"


...****************...


PSSHTT... SRAKK!


"Ugh!" Dari kejauhan seseorang melempar panah tepat di dada Ken.


"Hah!? Ken! KEN!" Merlin sangat terkejut. Ia melihat di sekelilingnya. Tempat itu sangat sunyi. Tidak ada tanda-tanda orang yang menyusup ke arah rumahnya.


"Mer- Lin! Cepat pergi!" Kata Ken. Darah mulai bercucuran dimana-mana. Ternyata panah itu bukan panah biasa. Ada lambang kerajaan tepat di ujung panah tersebut. Merlin teringat sesuatu, setiap panah yang dimiliki oleh para prajurit istana sudah tercampur oleh racun.


"TIDAK! KEN! Ayo kita kembali bersama-sama!" Kata Merlin.


"Tidak Merlin, cepat selamatkan ibu dan pergi dari sini!"


Merlin mengikuti arahan dari Ken. Ia menuju ke dalam dan menghampiri Risha.


"Ibu!"


"Merlin! Makan dulu! Di mana Ken?" Tanya Risha.


"Ibu, kita harus melarikan diri terlebih dahulu!"


"Ada apa ini!"


Terdengar hentakan kuda yang berlari kencang ke arah rumah. Risha melihat dari jendela. Setelah melihat itu mereka berdua berlari melewati pintu belakang.


"Tapi dimana Ken!" Kata Risha mengulang kembali pertanyaannya.


"Ken sudah... " Air mata Merlin mulai berjatuhan.


"Jangan bilang..." Kata Risha. Ia menghentikan langkahnya.


"Ibu! Kita harus pergi dari sini!"


"Merlin sayang, pergilah nak! Ibu akan menghampiri Ken. Ibu tidak bisa jauh dari dia!"


"A- Apa? Tapi Ken menyuruh ku untuk menyelamatkan ibu! Ibu kumohon"


"Kalau begitu ibu akan menyelamatkan mu nak, pergilah! Aku akan memancing mereka ke arah sana!" Risha berlari ke arah rumah.


Merlin hanya bisa terdiam. Ia tidak tau harus berbuat apa. Para kawanan orang itu mengejar Risha ke arah berlawanan.


Merlin pun kembali berlari menjauhi kawanan tersebut. Ia mulai merasa sakit di bagian perutnya. Ia tersungkur karena tak dapat menahan rasa sakit.


Merlin melihat sebuah gubuk tua. Karena kelelahan ia berhenti dan beristirahat di sana. Air matanya kembali membasahi wajahnya. Ia merasa semua ini karena ulahnya. Kini Merlin merasa sangat hampa. Tak ada lagi orang yang ia cintai di sekelilingnya.


Setelah kejadian itu, Merlin memutuskan untuk tinggal di tengah-tengah kota. Dengan berbekal uang yang sedikit ia menyewa rumah yang kecil namun masih layak untuk di tinggali.


Dengan perut besar itu Merlin juga bekerja keras untuk masa depan dirinya dan juga bayinya. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Merlin melahirkan seorang anak laki-laki.


Senyum lebar mengembang di bibirnya. Namun ada rasa kebencian pada Austin.


Suatu hari dengan berani Merlin membawa anaknya ke istana. Sudah waktunya Austin dan juga orang-orang sekitarnya mengetahui perbuatannya.

__ADS_1


Ia telah sampai di sebuah gerbang. Tempat pertama kali ia menginjakkan kaki di istana.


"Siapa kamu? Mau apa kamu datang ke istana?" tanya pengawal yang berada di depan gerbang.


"Aku ingin bertemu yang mulia raja! Beri tau padanya, Merlin datang membawa anak laki-lakinya!" Kata Merlin dengan tegas.


Kedua pengawal itu terheran-heran dengan perkataan Merlin.


Luke berlari ke ruangan Austin dengan terburu-buru.


BRAAKK!


Sontak Austin menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan keras.


"Ada apa!? Lancang sekali kau tidak mengetuk--"


"Maaf yang mulia, Hosh... Hosh... Ada seorang wanita.... membawa anak... Hosh... Dia..."


"Katakan dengan benar!" Kata Austin.


"Di- Dia Merlin katanya membawa anak yang mulia" Kata Luke dengan nada cepat.


"Hn, bawa dia ke sini tanpa sepengetahuan siapapun!" Perintah Austin.


...****************...


"Sudah berapa lama kita tidak bertemu, Merlin?" Kata Austin setelah Merlin datang sambil menggendong anaknya. Mata Austin tertuju pada anak tersebut.


"Apa anda tidak bertanya tentang anak ini?" Kata Merlin.


"Haruskan aku bertanya?"


"Apa anda tidak ingin menggendong anak anda sendiri?"


"Anakku? Apa aku tidak salah dengar? Mungkin itu anak dari orang lain yang tergoda juga padamu"


"Bahwa apa huh? Bahwa aku telah bermain dengan mu dan melahirkan anak tersebut? Hahaha! Kau gila ya! Apa ada orang yang percaya hal tersebut? Justru kamu yang akan dalam posisi bahaya."


Merlin hanya terdiam mendengar hal tersebut.


"Jika kau ingin hidup, lenyap kan anak itu segera..." Kata Austin.


Merlin terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Austin.


Merlin keluar dari istana tersebut. Dengan langkah gontai ia berjalan pulang ke arah rumahnya. Satu hal yang pasti Austin tidak menerima anaknya sendiri. Tapi Merlin tidak berhenti sampai di situ. Ia harus bertahan hidup bersama anaknya.


Empat tahun kemudian, hari bahagia menyelimuti istana. Putra mahkota Claude menikah dengan Irene Effenberg yang langsung di angkat menjadi putri mahkota.


Semua orang di sana, bangsawan maupun tidak berbondong-bondong ke istana. Sangking banyaknya, sebagian orang-orang di sana berada di halaman istana. Dari kejauhan Merlin melihat kebahagiaan dari mereka terutama Austin.


...****************...


Dua tahun kemudian, setelah acara pernikahan putra mahkota dan putri mahkota, Mereka baru dikaruniai seorang anak lelaki yang akan mewarnai kerajaan. Austin merasa sangat tenang, ia tidak perlu khawatir akan pewaris selanjutnya.


Berbeda dengan Merlin, ia justru bekerja keras dan di selingi mengurus Blair yang saat itu berumur 6 tahun.


"Ibu! Malam ini apa kita akan membaca dongeng lagi?" Kata Blair.


Merlin yang tengah sibuk membereskan rumah menoleh ke arah Blair.


"Ah... Maaf sayang, sepertinya beberapa hari ini tidak bisa, kamu akan ibu titipkan ke rumah nenek Sia ya! Ibu ada keperluan" Kata Merlin.


"Yahh" Kata Blair sedih.

__ADS_1


"Ibu janji setelah pekerjaan ibu selesai, kita akan pergi ke pasar malam bagaimana?"


"Yeayy! Asik! Janji ya ibu!" Kata Blair yang kini senang lagi.


Merlin membawa Blair ke rumah nenek Sia yang jaraknya cukup jauh dari kota.


"Aku titipkan Blair di sini sementara ya nek! Sampai keadaan nanti sudah selesai" Kata Merlin.


"Huft.. Berhati-hatilah nak, aku sangat khawatir kamu akan kenapa-napa di sana" Ucap nenek Sia.


"Aku yakin bisa nek, aku sudah cukup lama memendam semua ini"


"Baiklah, kembali sebelum larut malam"


"Baik nek"


Merlin kembali ke rumah. Ia mulai bersiap untuk pergi ke istana. Ia membuka sebuah kotak yang di dalamnya terdapat banyak kertas dan juga pisau kecil yang pernah di buat oleh Ken.


"Terima kasih Ken, sudah membuatkan untukku" Gumam Merlin sembari memeluk pisau kecil itu.


Ia pun bergegas ke istana dengan memakai gaun yang cukup sederhana.


Malam itu merupakan malam yang bahagia lagi bagi keluarga istana. Austin membuat pesta yang meriah atas lahirnya cucu kesayangannya.


Merlin yang sebagai tamu berkunjung ke istana dan melihat Austin tengah berbincang dengan teman-temannya.


Mata Austin tertuju pada seorang gadis yang sangat tidak asing baginya. Gadis itu pun pergi.


"Aku permisi, silahkan nikmati hidangannya" Kata Austin dan berlalu pergi mengikuti gadis tersebut.


Sampailah ia di sebuah taman istana. Hanya ada dia yang berada di sana. Tidak ada seseorang hanya ada dia di sana. Sampai seseorang mengelus pundaknya dengan lembut. Austin menoleh ke arahnya.


"Selamat malam yang mulia! Selamat atas lahirnya penerus kerajaan" Kata Merlin.


"Wah... Siapa ini? Akhirnya kau kembali." Kata Austin.


"Anda benar yang mulia, hidup ku merasa terbebani karena anak itu. Tapi sekarang lihatlah, aku merasa lebih damai dari biasanya"


"Sepertinya kau sudah melenyapkan anak itu. Mau apa kamu sekarang?" Kata Austin.


Merlin memegang tangan Austin dengan pelan dan mengajaknya ke sebuah gazebo milik istana. Mereka benar-benar hanya berdua saja di luar.


"Menurut anda?" Kata Merlin.


"Kau ingin kembali lagi menjadi bawahan ku?" Tebak Austin. Merlin mengangguk pelan.


"Tidak semudah itu Merlin"


"Sangat disayangkan, tapi tidak apa yang mulia, aku akan kembali ke rumah saja" Kata Merlin dengan raut wajah sedih.


"Dimana wajah cantik mu tadi? Tersenyumlah! Sudah 6 tahun kau masih memiliki wajah cantik seperti ini" Kata Austin. Merlin merasa tersanjung mendengar hal itu.


"Apa anda tidak merasa lelah? Aku sangat lelah karena berdesakan dengan para bangsawan" Kata Merlin.


"Istana kami menerima penginapan bagi bangsawan, tapi jika kau mau aku bisa meminta pelayan memberikan satu kamar untuk mu"


"Benarkah? Terima kasih yang mulia, aku merasa terbantu,"


"Jangan katakan nama mu adalah Merlin, kau bisa mengganti dengan nama lain dan katakan kau berasal dari daerah yang cukup jauh"


"Baik yang mulia!" Austin pergi untuk meminta pelayan menyiapkan sebuah kamar. Merlin tersenyum puas. Ia berhasil untuk dapat tinggal di istana.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊


Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋


__ADS_2