
"Begitu rupanya, sejak kapan kau berhenti minum? Apa setelah kedatangan wanita itu?" Sindir Hans.
"Apa maksudmu? Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Via!"
"Benarkah? Hahaha! Huft... Aku selalu saja terlambat satu langkah dengan mu. Kau tau Zack aku pernah berpikir ingin mengambil Via dari mu?"
Mendengar hal itu Zack sangat kesal tetapi ia hanya memilih untuk diam.
"Yah, tapi seperti yang aku bilang tadi, aku terlambat satu langkah oleh mu. Jagalah dia! Kalau sampai dia terjadi sesuatu... aku tidak akan tinggal diam Zack! Mau minum? Tenanglah... Itu bukan alkohol kok" Kata Hans. Akhirnya Zack terima ajakan dari Hans.
...****************...
Tak terasa malam pun tiba. Hans dan Zack baru saja menyelesaikan minum-minum nya. Ternyata Hans yang tidak sengaja mengambil minuman alkohol itu, menjadikan ia mabuk berat.
"Heii.... Astaga, kepalaku... Hahahha" Tingkah laku Hans mulai tidak karuan.
"Kenapa kau.... Tidak... Mabuk... Huh?"
"Kau menipuku?" Kata Zack dingin.
"Sudah aku bilang... Ini... Aku.... Tidak sengaja... Mengambil tadi.... Uuuu..."
"Mungkin karena aku memiliki sihir penyembuh jadi tidak ada efeknya"
"Itu tidak adil... Kalau gitu... Via akan... Menjadi milikku..."
BRUAKK!!
Sontak Zack memukul meja. Hans sangat terkejut dan justru tertawa.
"Kau mudah... Sekali... Terpancing... Hahaha"
"Sudah cukup! Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Kau bilang setelah ini kita akan berjaga, Bagaimana kalau kamu mabuk seperti ini?"
"Cepat sembuhkan akuuuu"
"Hishh... Merepotkan!" Dengan hati yang berat, Zack menyembuhkan Hans dari tingkah gilanya.
...****************...
Hans dan Zack mengawal Ratu yang hendak pergi ke ruangan Raja.
"Eum... Aku mencium bau alkohol. Apa kalian baru saja minum?" Tanya Ratu.
"Benar Yang mulia"
"Hei Zack, kenapa kau jujur sekali?"
Ratu tertawa mendengar tingkah mereka berdua.
"Baiklah, terima kasih telah mengantarkan aku. Padahal tadi tidak perlu repot-repot" Kata ratu yang telah sampai di ruangan raja.
"Tidak apa yang mulia, sudah sepantasnya kami menjaga anda" Ucap Hans.
"Hahaha... Kalian pergilah, aku akan masuk!"
Hans dan Zack kembali berjalan di lorong. Rencananya mereka akan pergi ke ruangan di mana Via dan si kembar berada.
"Huft... Melihat keadaan tenang seperti ini, justru membuatku sangat khawatir..."Kata Hans di sela-sela perjalanan.
"Hmm... Berpikir baik sa--"
"AAAAHHH!"
__ADS_1
Hans dan Zack terkejut mendengar suara yang di hasilkan Ratu. Mereka langsung pergi ke ruangan raja. Tempat di mana ratu berada.
Di ruangan tersebut tidak ada lampu sama sekali. Hanya cahaya bulan purnama yang menerangi ruangan itu. Sang Ratu terduduk lemah di lantai.
Tepat di hadapannya, sang Raja duduk di kursi dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Bagaimana tidak, Raja yang mereka hormati itu telah terbunuh. Terlihat sebuah belati kecil tertempel di tubuhnya.
Banyak darah berceceran di mana-mana. Sepertinya sebelum sang raja tertusuk belati itu, mereka sempat beradu di situ.
Sang Ratu masih tak kuasa menahan pedihnya kehilangan suami yang ia cintai. Terdengar suara gemuruh dari luar.
Hans mengecek kondisi luar dari arah jendela. Terlihat beberapa pengawal istana berjalan memasuki istana. Di arah yang berlawanan, ada sekolompok orang-orang berpakaian hitam juga sedang menuju istana.
"Zack, sepertinya kau harus cepat membawa ratu ke tempat aman"
Zack dengan cepat menggendong ratu dan berlari ke sebuah ruangan.
...****************...
Di tempat Via berada. Mereka mulai mengambil posisi untuk tidur. Tapi sebelum tidur Lea dan Leo menceritakan banyak hal selama ia belajar di akademi.
"Intinya seperti itu Via! Aku sangat kesal kalah dengan dia, padahal dengan si sombong itu aku bisa mengalahkannya!" Pekik Lea yang kesal ketika ia beradu ber pedang di akademi nya.
"Hahah... Itu berarti kamu harus berlatih lagi. Lagipula lawan mu itu senior kalian kan, kalau si sombong itu sama seperti kalian?" Kata Via.
"Iya Via dia sama seperti kami, tapi sombong nya minta ampun deh..."
Via tertawa mendengar yang masih kesal dengan beberapa anak di akademi nya.
"Kalau kamu bagaimana Leo?" Tanya Lea.
"Hm.. Biasa saja, tidak ada yang istimewa. Aku hanya berteman dengan baik dan menunggu seseorang yang melaporkan kepadaku tentang kamu! Kamu selalu saja membuat masalah!" Kata Leo yang menggoda adiknya.
"Apa?! Aku tidak membuat masalah... Mereka itu yang mula-- "
DUGGH... DUGGH...
"Suara apa itu?" tanya Lea.
"Entahlah, sepertinya berasal dari luar" Via lalu beranjak dari ranjang dan pergi melihat ke arah jendela.
BRUAKKK!
"Aahhh!" Pekik Lea dan Leo.
"Duke, Ada apa? hah?! Yang mulia?"
Zack langsung merebahkan Ratu di ranjang.
"Papa, apa yang terjadi?"
"Tadi kami mendengar kegaduhan juga di luar"
"Dengarkan aku baik-baik! Kalian harus tetap di sini menjaga Ratu. Sepertinya perang kali ini akan di mulai!" kata Zack.
"Yang mulia raja di mana?" Kata Via tiba-tiba. Zack sejenak terdiam.
"Beliau sudah... Meninggal"
Mereka bertiga terkejut mendengar hal itu. Pemimpin mereka telah mati meninggalkan semuanya. Walaupun sudah ada putra mahkota tetapi ia masih tahap pemulihan.
"Aku yakin mereka pasti akan mengincar nyawa putra mahkota selanjutnya, Lea! Leo! Gunakan sihir kalian untuk melindungi semuanya!"
"Baik papa!"
__ADS_1
Zack kembali pergi untuk menghampiri Hans. Via memegang lembut tangan sang Ratu. Via dapat merasakan kesedihan yang di alami Ratu saat ini.
...****************...
WUSHH.... WUSH...
Angin kencang mengibarkan tirai-tirai jendela di sana. Suasana itu sangatlah hening. Seseorang telah masuk ke kamar itu melewati balkon.
Ia berjalan perlahan mendekati sebuah ranjang yang di atasnya terdapat pewaris tahta berikutnya.
Ini pasti mudah saja bagiku untuk membunuhnya. Batin orang tersebut.
Dengan berbekalkan belati kecil dengan cairan yang menetas di sana, ia mulai mengangkat tangannya dan siap-siap menusuk tubuhnya.
Hahah... rasakan!
DUAGHH!
"Akhh!"
Orang itu terlempar jauh. Ia melihat ke arah ranjang tersebut tetapi tidak ada orang di sana.
"Hn... Kau pikir kau cukup cerdik untuk membunuh ku?" Orang itu mencari-cari di mana suara itu berasal. Tanpa ia sadari sebuah belati yang ia pegang kini sudah berada di hadapannya.
"Akh!"
"Apa ada kata-kata terakhir?"
"Hm.. Apa ya? Apa perlu ku katakan bahwa ayah mu sudah mati?"
"Apa!? Berani sekali kau!!"
WUSHH..
Ketika Alex ingin menancapkan belati itu pada Blair, ia langsung menghilang dan berpindah tempat.
"Tenanglah wahai keponakan ku, karena kondisi mu lemah, aku yang akan menjadi raja selanjutnya... Hahahaha!" Seketika Blair menghilang setelah mengatakan hal itu.
Alex menjatuhkan belati itu. Ia masih tidak percaya mendengar perihal ayahnya dari mulut busuk Blair. Alex langsung keluar dari kamar dan pergi mencari ayahnya.
KLANG! KLANG! DUAARR! WUSHHHH!
Suara ricuh mulai terdengar dari aula tengah. Hans dan Zack beraksi menumpas para prajurit istana yang telah di kendalikan oleh seseorang.
"Hei Zack! Kau masih bertahan?" Ucap Hans di sela-sela pertarungannya.
"Tentu saja!"
"Tapi ini banyak sekali! Mereka seperti melakukan kloning di setiap orangnya"
"Tidak masalah buat ku!"
Alex terus berlari mendengar suara pertarungan di dalam sebuah aula. Di mana aula itu merupakan tempat singgasana Raja, Ratu, dan juga putra mahkota.
CEKLEK...
Alex melihat Hans dan Zack bertarung melawan para prajurit istana. Dan di kursi itu terlihat seseorang telah memakai mahkota kerajaan.
Siapa lagi kalau bukan Blair yang memang menginginkan tahta tersebut. Blair tersenyum menikmati pertunjukan yang ada di hadapannya.
Apa yang terjadi? Kenapa mereka melawan para prajurit istana? dan lagi kenapa bajingan itu bisa duduk di tempat Raja?! Batin Alex.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋